BIODIESEL DARI MIKROALGA LAUT : POTENSI DAN TANTANGAN

Oleh Asep Bayu1)

ABTRACT BIODIESEL FROM MARINE MICROALGAE : POTENCY AND CHALLENGE. Biodiesel is produced currently from terrestrial plants oil such as a palm and castor oil. However, enhancement biodiesel production from terrestrial plants was limited by land. Marine microalgae having potency to become a new biodiesel feedstocks because it has high productivity growth and lipid content. Moreover, microalgae mass culture did not require large land for growth. The higher marine microalgae biodiversity and geography potency in Indonesia is a challenge and opportunity to evolved biodiesel from marine microalgae.

PENDAHULUAN Indonesia saat ini telah mengalami krisis dalam aspek ketahanan energi nasional khususnya bahan bakar minyak (BBM). Hal tersebut terkait dengan masih rendahnya kemampuan dan kemandirian pemerintah dalam menjamin ketersediaan BBM. Pada tahun 2006, konsumsi BBM nasional mencapai lebih dari 51,66% dan transportasi merupakan sektor yang paling konsumtif dibandingkan sektor ekonomi pembangunan lainnya (DIRJEN MIGAS-ESDM, 2006). Disisi lain, produktivitas sumur-sumur penghasil BBM yang ada cenderung menurun produktivitas setiap tahunnya. Jika pada dekade tahun 1970-1998 produksi BBM dapat mencapai 1,3-1,5 juta barel per hari, namun pada periode bulan JanuariJuli 2006 kapasitas produksinya hanya mencapai 1,070 juta barel per hari (HAMBALI et al., 2008; TIMNAS PENGEMBANGAN BBN, 2008). Bahkan mulai tahun 2009, Indonesia telah resmi keluar dari organisasi negara penghasil minyak (OPEC) dikarenakan kapasitas

1)

Bidang Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta 1

679 2.889 11.580 Sektor 17.107 Minyak Bakar 277.95 TSCF 132 juta ton Catatan : Data dengan huruf tebal menunjukkan konsumsi paling besar Berdasarkan beberapa jenis BBM yang ada. 2008..388.produksinya saat ini hanya mencapai 981 ribu barel per hari. cadangan minyak bumi Indonesia saat ini hanya cukup untuk 18 . Pertumbuhan industri dan transportasi yang meningkat setiap tahunnya menyebabkan penggunaan energi tersebut juga semakin tinggi. solar merupakan jenis BBM yang paling tinggi tingkat penggunaannya (Tabel 2).9 miliar barel 9.8 TSCF 19.098. Oleh karena itu.363 Sumber Energi Minyak Bumi Gas Batu Bara Sumber Daya Cadangan Produksi Rasio Cad/Prod 23 tahun 62 tahun 146 tahun 86.221 - - 898. maka diperlukan pencarian jenis bahan bakar 2 .471.237 11.535.139 12.139 27.471. 2008) Jenis BBM (liter thn-1) Minyak Tanah Transportasi Industri Pembangkit Listrik Rumah Tangga Total 90.023 2.233.310. Konsumsi Bahan Bakar Minyak dan Cadangan Sumber Energi Fosil di Indonesia (HAMBALI et al. Tabel 1.798 16.3 miliar ton 2. untuk mendukung ketahanan energi nasional (security of supply) khususnya dalam pemenuhan dan penyediaan BBM jenis solar. Selain itu.984 Premium Solar Minyak Diesel 70.324.282 17.879 811.784 4.23 tahun kedepan (Tabel 1).686. Hal ini dikarenakan solar banyak digunakan oleh sektor transportasi maupun industri yang merupakan dua sektor penting dalam menyokong pembangunan ekonomi Indonesia.108.7 TSCF 58 miliar ton 185.1 miliar barel 387 juta barel 384.270 7.204 8.078. TIMNAS PENGEMBANGAN BBN.

Namun pada umumnya katalis basa lebih banyak digunakan dikarenakan proses reaksinya memberikan kelimpahan FAME yang tinggi dalam waktu yang relatif singkat (LOTERO et al. BIODIESEL DARI MIKROALGA LAUT Biodiesel/Biosolar adalah bahan bakar yang mengandung senyawa metil ester asam lemak (Fatty Acid Methyl Esters. 2008). Pengubahan senyawa trigliserida tersebut ditujukan agar sifat fisika dan kimia dari biodiesel sama dengan minyak solar (Tabel 2).. 2006). ataupun dalam bentuk murni seluruhnya senyawa FAME (B100). 2006) . Saat ini bahan bakar alternatif yang potensil untuk mensuplai bahkan menggantikan minyak solar adalah biodiesel / biosolar. 3 .. basa ataupun enzim (Gambar 1). Biodiesel diperoleh dari pengubahan minyak (trigliserida) dan asam lemak menjadi FAME melalui proeses transesterifikasi (HAMBALI et al.alternatif lain sebagai pengganti solar. kedua senyawa tersebut dipanaskan dengan senyawa monoalkohol (biasanya metanol ataupun etanol) menggunakan katalis asam. Dalam reaksi tersebut. PERTAMINA telah memasarkan biodiesel yang berupa campuran 95% minyak solar dengan 5% senyawa FAME atau yang lebih dikenal sebagai Biosolar B5 (PRIHANDANA et al.. Di Indonesia sendiri. penggunaan biodiesel murni (B100) belum dapat digunakan secara langsung pada mesin kendaraan. FAME) dengan karakteristik yang menyerupai minyak solar (HAMBALI et al. Namun saat ini. 2006). Biodiesel dapat berupa campuran antara senyawa FAME dengan minyak diesel/solar konvensional pada perbandingan tertentu (BXX)..

6 . 1998) Tabel 2.0 Max 18 Min 100 Max 100 Max 0. 2006) No Parameter 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Viskositas Kinematik.. 400C (cSt) Titik Kabut (0C) Titik Nyala (0C) Kandungan Sulfur (%-w) Kandungan Air (%-v) Kadar Abu (%-w) Bilangan Setana Bilangan asam (mg KOH g-1) Bilangan iod (mg I2 g-1) Petrosolar 1. Reaksi transesterifikasi trigliserida dan asam lemak dengan alkohol (SCHUCHARDTA. Sedangkan dalam transesterifikasi in situ.05 Max 0. senyawa FAME diperoleh langsung dari biomassa mikroalga tanpa melalui tahapan ekstraksi 4 .5.3 – 6. et al.8 Max 115 Pembuatan biodiesel dari mikroalga laut dapat dilakukan dengan dua metode yaitu transesterifikasi ek situ maupun in situ (CHRISTIE. Karakteristik Fisika-Kimia Biodiesel dan Minyak Solar (DIRJEN MIGAS-ESDM. 2003).05 Max 0. Dalam tranesterifikasi ek situ dilakukan proses ekstraksi minyak/lipid terlebih dahulu dari biomassa mikroalga dan dilanjutkan dengan proses sintesis senyawa FAME.02 Min 51 Max 0.6 Biodiesel (SNI-04-7182-2006) 2.01 42 0.5 Max 0.O H 2C O C O C O C R1 katalis CH 3OH H 3CO O C O C O C R1 H 2C OH HC O R2 H 3CO R2 HC OH H 2C O R3 H 3CO R3 H 2C OH Trigliserida O katalis R O H C Asam lemak CH 3OH R C OCH3 O Gambar 1.8 18 70 Max 0.

Sedangkan katalis asam meskipun reaksi berlangsung lambat tidak terkendala pada tingkat asam dari bahan dasar minyak. Ekstraksi minyak dilakukan menggunakan pelarut kimia non polar biasanya adalah campuran metanol dengan kloroform. 2003) Transesterifikasi ek situ melibatkan 4 tahap yaitu ekstraksi minyak dari biomassa. Konsep pembuatan biodiesel dari mikroalga baik secara transesterifikasi ek situ maupun in situ (CHRISTIE. Pelarut yang dihasilkan dapat 5 . Selanjutnya minyak disintesis/direaksikan dengan metanol menggunakan katalis asam (H2SO4 1%) maupun katalis basa (NaOH). Setelah proses reaksi selesai dilakukan tahapan purifikasi yang meliputi penetralan. purifikasi (pencucian. Transesterifikasi in situ Biomassa Kering Esktraksi Pelarut Lipid Transesterifikasi ek situ Dua Fasa Esktraksi Fasa Air Biodiesel karakterisasi FAME evaporasi Organik netralisasi pencucian Fasa Organik Gambar 2. sintesis. Namun penggunaan katalis basa hanya diperbolehkan untuk bahan dasar minyak dengan kandungan asam yang rendah dikarenakan dapat menyebabkan terbentuknya emulsi sabun yang sulit dipisahkan pada produk. netralisasi dan evaporasi) serta karakterisasi FAME. Katalis basa umumnya sering dipilih karena proses reaksinya yang cepat dengan hasil produk yang tinggi. pencucian menggunakan aquades dan juga penguapan (evaporasi) pelarut sehingga diperoleh ekstrak FAME. Secara keseluruhan tahapan pembuatan biodiesel dari mikroalga dapat dilihat pada Gambar 2.minyak dari biomassa mikroalga.

. minyak berada dalam biji buah yang terlindungi oleh suatu lapisan keras (kernel) sehingga harus dilakukan proses ekstraksi terlebih dahulu (HAMBALI et al. Adanya minyak dalam ekstrak lipid yang diperoleh ditunjukkan dengan warna kuning keemasan (B) (BAYU et al. Dalam hal ini reaksi in situ lebih menguntungkan baik dari segi waktu maupun biaya yang dikeluarkan. 2006). dilakukan karakterisasi untuk mengetahui karakteristik FAME yang dihasilkan sebagai biodiesel. Pada sawit dan jarak. Berbeda dengan reaksi transesterifikasi ek situ. Tahapan dan pereaksi yang digunakan sama seperti dalam reaksi ek situ. 2009) 6 . A B Gambar 3.dalam reaksi in situ tidak dilakukan proses ekstraksi minyak tetapi langsung ke tahap proses sintesis FAME dari biomassa mikroalga. Setelah reaksi selesai dilakukan purifikasi dan pencucian produk serta karakterisasi FAME sebagai biodiesel. Dalam transesterifikasi in situ hanya terdiri atas 3 tahapan yaitu sintesis. Tahap terakhir. Hal ini dimungkinkan karena minyak mikroalga berada dalam biomassa yang tak terlindungi oleh suatu lapisan keras seperti biji atau kayu.. purifikasi dan karakteriasasi.digunakan kembali untuk tahapan ekstraksi. Perbandingan senyawa FAME (kiri) dengan Minyak (kanan) yang diperoleh dari biomassa mikroalga laut jenis Chaetoceros gracilis (A).

Namun sayangnya penggunaan lahan marginal hanya cocok untuk beberapa jenis tanaman seperti jarak pagar. Terjadinya isu kompetisi antara masalah energi dengan masalah pangan. HIDAYAT. Pemenuhan suplai bahan baku tersebut terkendala pada ketersediaan lahan sebagai tempat tumbuhnya tanaman penghasil minyak. dan kedelai. 2007. Sedangkan pengkonversian hutan menjadi perkebunan secara besar-besaran dapat mengancam kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan yang hidup di dalamnya (REPUBLIKA. kelapa. 2006). kedelai. 2009). Penggunaan bahan baku tersebut sebagai sumber biodiesel dikhawatirkan mengganggu ketersediaan pasokan minyak sebagai salah satu sumber pangan. kelapa sawit. 2008. Hal tersebut dapat menyebabkan kenaikan harga bahan pangan yang 7 . 2008). sehingga secara ekologis hal ini juga dapat menurunkan keberadaan dan biodiversitas plasma nutfah yang ada. Keterbatasan lahan yang tersedia biasanya diatasi dengan cara penggunaan lahan-lahan marginal ataupun pembukaan areal hutan.POTENSI MIKROALGA LAUT SEBAGAI PENGHASIL BIODIESEL Pada umumnya bahan baku biodiesel adalah minyak dari tanaman darat khususnya tanaman pangan antara lain jarak pagar. Kepastian dalam hal jumlah bahan baku yang dibutuhkan belum dapat terjamin.. KNUDSON. Namun pengembangan biodiesel dalam skala besar dari bahan baku di atas memiliki dua kendala utama yaitu : 1. Kontinuitas penggunaan dan pengembangan biodiesel memerlukan kontinuitas suplai bahan baku minyak dalam jumlah besar. 2.. Beberapa penelitian juga menyebutkan limbah minyak goreng bekas juga dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel (LOTERO et al. 2007. Saat ini sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari minyak tanaman pangan (edible oil) yaitu kelapa sawit. kelapa. bunga matahari dan jagung (CHISTI. HAMBALI et al.

2008). 3. Hal tersebut disebabkan luasnya laut yang ada di belahan bumi.7 juta km2 (HUTABARAT. karena mikroalgae hanya membutuhkan ketersediaan air sebagai media tumbuh mikroalgae. Oleh karena itu pengembangan mikroalgae laut sebagai bahan baku biodiesel sangat prospektif bagi negara-negara kepulauan yang memiliki luas laut teritorial tinggi yaitu Indonesia. organisme unseluler tersebut mampu melakukan proses fotosintesis yang mengubah energi matahari menjadi energi kimia yang disimpan dalam bentuk senyawa lipid. proses budidaya mikroalga dalam fotobioreactor memungkin penggunaan lahan yang sangat efisien (LI et al. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroalgae laut dapat menjadi sumber alternatif baru sebagai penghasil bahan baku biodiesel.1 juta km2 dan wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZZEI) seluas 2. Berikut ini beberapa potensi keunggulan mikroalga laut dibandingkan mikroalgae perairan tawar ataupun tanaman darat lainnya. dibandingkan dengan air tawar yang digunakan sebagai media tumbuh pengembangan mikroalga air darat..8 juta km2. Bahkan. 2. Keanekaragaman mikroalgae laut sangat tinggi. Tingginya keragaman minkroalgae tersebut memungkinkan kita untuk mendapatkan mikroalgae potensial yang menghasilkan minyak dalam jumlah besar. Indonesia dengan luas wilayah laut sekitar 5. Ketersediaan air laut sebagai media tumbuh sangat melimpah.tinggi sehingga dapat berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian dan menimbulkan permasalahan baru lainnya. senyawa lipid pada sel mikroalga sebagian besar tersusun atas senyawa trigliserida/minyak. Berikut ini beberapa keunggulan yang dimiliki mikroalga laut : 1. 2008) dipastikan memiliki keanekaragaman 8 . Sama seperti tanaman darat lainnya. Uniknya. Tidak menuntut ketersediaan lahan budidaya yang besar. yang terdiri dari wilayah laut teritorial seluas 3.

Tabel 3. Neochloris oleoabundans Nitzschia sp. PATIL. Keragaman mikroalga laut Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 100 spesies (DKP. CHISTI (2008) menyebutkan bahwa biaya produksi biodiesel dari mikroalga dapat mencapai $2. Monallanthus salina Nannochloris sp. 2008). Nannochloropsis sp. 2008. 2008). Isochrysis sp.mikroalgae laut yang besar. Minyak yang terkandung umumnya berkisar antara 20-50% namun beberapa spesies seperti Nannochloropsis sp. Harga tersebut tidak kompetitif dibandingkan dengan produksi biodiesel berbasis sawit yang 9 . KAWAROE 2008) Sumber Tanaman Darat Bahan Baku Jagung Jarak Pagar Kelapa Sawit Mikroalgae Chlorella sp. Kandungan minyak pada beberapa spesies tanaman darat dan mikroalga (CHISTI. dapat mencapai 68% berat kering (Tabel ). Kandungan minyak mikroalgae laut cukup tinggi dibandingkan sumber bahan baku minyak lainnya. Minyak merupakan komponen utama penyusun lipid mikroalga (CHISTI. Kandungan Minyak (%-w) 25–75 30-35% 45–54% 28–32 25–33 >20 20–35 31–68 35–54 45–47 TANTANGAN DAN KENDALA PENGEMBANGAN BIODIESEL DARI MIKROALGA LAUT Permasalahan utama pengembangan biodiesel berbasis mikroalga adalah biaya produksinya yang relatif masih tinggi dibandingkan biodiesel dari sawit dan jarak.8/L. 2008. 4.

Dalam teknik pasca panen. kandungan lipid. Penerapan konsep biorefinery yang menghasilkan sedikit limbah juga dapat dikaitkan dengan konsep pembangunan bersih (Clean Development Mechanism (CDM)) sesuai dengan isi dari aturan Protokol Kyoto (MUDIYARSO. Selain itu pengembangan fotobioreaktor juga harus dioptimalkan karena dari segi keekonomian tampaknya lebih menguntungkan dibandingkan sistem kolam terbuka.. Jika harga jual petrodiesel adalah $0.hanya sebesar $0. Biorefinery merupakan suatu proses produksi berbagai produk kimiawi dan biofuel dari suatu biomassa menggunakan perpaduan proses biologis (bioprocessing) dengan teknologi ramah lingkungan yang menghasilkan sedikit limbah (zerowaste) (LI et al. Hal tersebut dapat terealisasi jika dibantu dengan penggunaan teknik rekayasa genetika pada sel mikroalga.52/L. 10 . strategi pengembangan biodiesel dapat dijalankan bersama dengan pengembangan konsep biorefinery.48/L. 2008).49/L maka agar lebih kompetitif harga jual biodiesel tidak lebih dari $0. Untuk menekan biaya tersebut dapat dilakukan beberapa langkah strategis terkait dengan dua aspek utama yaitu budidaya dan pasca panen mikroalga. 2008). Teknik budidaya ditujukan untuk mendapatkan strain mikroalga yang potensial baik dalam segi produktivitas pertumbuhan. luaran produk dari suatu mikroalga tidak hanya biodiesel tetapi juga produk-produk lain yang memiliki nilai ekonomi seperti pupuk dan beberapa jenis biofuel lainnya. Dalam hal ini. Hal tersebut dapat mengundang pihak asing khususnya negara-negara maju untuk berinvestasi dan memberikan dana untuk pembangunan proyek ramah lingkungan tersebut. dan resistensi terhadap perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim.

Uji Toksisitas Transesterifikasi Biofotolisis Gasifikasi Reaksi Termal Fermentasi Anaerobik Fermentasi Aerobik Obat Nutraceuticals Biodiesel Biohidrogen Biosyngas Biooil Biometana Bioetanol Ekstraksi Fraksi Polar Fraksi Lipid Trigliserida Gambar 4. 2007) 11 . Konsep biorefinery dari biomassa mikroalga berbasis zero waste (ANTONI et al.Sumber – N&P Photobioreactor CO2 Cahaya Matahari Kolam Terbuka Air Mineral BIOMASSA MIKROALGA Pupuk Alami Biomassa Residual Pakan Alami Bahan Bakar Biobriket Senyawa Bioaktif Protein Isolasi. Uji Toksisitas & Uji Klinis Isolasi. Elusidasi..

504 dan panjang garis pantai sebesar 95. H. R. Bali. 1-10 12 . IPB-ICC.PENUTUP Indonesia sebagai suatu negara kepualauan dengan jumlah pulau sebanyak 17. A. 2008.181 km memiliki peluang dan tantangan yang besar untuk mengembangkan biodiesel dari mikroalga laut (HUTABARAT. V. KUSDIANA 2008.. Biofuels from Microbes.T. Profil Daerah Tertinggal. 2006. 2008). Ketersediaan air laut yang melimpah. Disampaikan pada Pertemuan Koordinasi Perencanaan dan Pendayagunaan Sumberdaya Manusia Kesehatan Nasional. 2007. hal. Pengembangan aplikasi produksi biodiesel yang diintegrasikan dan diterapkan sebagai sumber energi terutama listrik berbahan bakar biodiesel dapat dilakukan pada kawasan-kawasan pesisir yang termasuk desa tertinggal dan memiliki potensi wilayah untuk pengembangan tersebut. dan D. 2006). merupakan suatu potensi unggul untuk mengembangkan produksi biodiesel dari mikroalga laut (KAWAROE. BACHRUDIN. ZVERLOV and W. 2008). Seminar Agroindustri. DAFTAR PUSTAKA ANTONI.. V. D. 15 Juni 2006. 14-37 BACHRUDIN. Dalam hal ini pemerintah bersama dengan para pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengaplikasikan konsep tersebut untuk membangun kawasan pesisir sebagai salah satu bagian dari kebijakan pemerintah dalam pengembangan desa tertinggal menjadi Desa Mandiri Energi (DME) (ARIATI & KUSDIANA. SCHWARZ. Arah pengembangan industri biodiesel. hal. Appl Microbiol Biotechnol 77: 23–35 ARIATI. 13 Desember 2008. keaneka ragaman mikroalga yang tinggi serta intensitas penyinaran matahari yang mencapai ± 12 jam per hari.

IHSANUR. HENDROKO. diakses tanggal 12 November 2008. 1-37 HIDAYAT. Research Report. Jakarta. Y. 2009. 205-225 DIRJEN MIGAS-ESDM. dan R. hal. 2006. 26 September 2006.. S. S. PURNAMA. S. M. PRAWITASARI. M. T.... 2007. pp. W. A. J. PRAKOSO dan W. Jarak pagar tanaman penghasil biodiesel. S. hal.H. hal. Exploration of Indonesia’s Biodiesel Producing Microalgae as Sustainable Energy Source. 116 13 . TJITROSEMITO. Penebar Swadaya. G. T. SURYANI. HANFIE. hal. Jakarta. Alcoa Foundation’s Conservation and sustainability Fellowship Program. 3 DKP. W.id. I. IPB-ICC. pp. www. MUDJALIPAH. Pengaruh jenis media kultur dan waktu panen terhadap kandungan lipid mikroalga laut Chaetoceros gracilis.BAYU. 46-72 HAMBALI. Biodiesel From Microalgae. P. REKSOWARDOJO. PATTIWIRI. SOERAWIDJAJA.dkp. Lipid Analysis: Isolation. HAMBALI. H. 2003. Agromedia Pustaka. E. 29 Oktober 2008. Biotechnology Advances. Teknologi Bioenergi. Jakarta. PANGGABEAN. dan D. T. 14 (2): 61-65 CHISTI. T. Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Biodiesel Sebagai Bahan Bakar Lain Yang Dipasarkan di Dalam Negeri. 25: 294-306 CHRISTIE. A. Jurnal Ilmu Kelautan. HARIYADI. 2008. 6-25 HUTABARAT. 2008. Surat Keputusan Dirjen Minyak. RIVAI. H. DADANG. A. Seminar Bioteknologi Kelautan.go. Bahan Bakar Bernama Mikroalga. 2008. E. Peran Sumberdaya Manusia Dalam Mengantisipasi IPTEK Kelautan dan Perikanan. N.W. MURNIASIH. 2008. L. NOERDJITO. Barnes and Associates. 3rd ed. TAMBUNAN. Separation and Stuctural Analysis of Lipids. M. A. 2006. SURYADARMA. K.

guardian. SUWANNAKARN. K. TRANH. Kebutuhan Biofuel Eropa Ancam Hutan Indonesia. D. Y. 1998. U. 2006.. N. C. dan M. Hlm. E. Wu. 2008. R. J. 24 : 815-820. LOTERO. PRIHANDANA. LAN and N. Biotechnol. NURAMIN. K. GOODWIN. Q. Jakarta : 1-20 14 . 2007. Protokol Kyoto : Implikasinya Bagi Negara Berkembang. Penebar Swadaya. HENDROKO. IPB-ICC. Chem. hal 1-32 KNUDSON. 2006. 2009. Soc. CALERO. Biofuels from Microalgae. 13 Desember 2008. Jakarta.. 1-40 PATIL. Agromedia Pustaka. GLISEROD. International Journal of Molecular Sciences 9: 11881195. hal. M.co. LOPEZ. and H.KAWAROE. 2008. BBN (Bahan Bakar Nabati) : Bahan Bakar Alternatif Dari Tumbuhan Sebagai Pengganti Minyak Bumi Dan Gas. 19 : 41-82 MUDIYARSO. The catalysis of biodiesel synthesis. V. Menghasilkan Biodiesel Murah . http://www. D. 2008. SERCHELIA. VARGAS.. Mikroalga Sebagai Biodiesel Yang Prospektif di Indonesia. Seminar Agroindustri. tanggal 20 Januari 2007 SCHUCHARDTA. D. Mengatasi Polusi dan Kelangkaan BBM. Towards Sustainable Production of Biofuels from Microalgae. 9 (1): 199-210 TIM NASIONAL PENGEMBANGAN BBN. 2-30 REPUBLIKA. Q. Prog. Jakarta.. The Royal. hal.. 2008. and R. Kompas. T. R. R. Biocatalysis and Bioreactor Design. Y. The Cost of The Biofuel Boom on Indonesia’s Forests. LIU and D. BRUCE. Of Chem. R. A. Soc. G. M. HORSMAN.uk diakses tanggal 27 Januari 2009. 2008. 22. M. Transesterification of Vegetable Oils: a Review. J. Braz. LI. E.

kultur massal mikroalga tidak menuntut ketersediaan lahan dalam jumlah besar untuk pertumbuhannya. 15 . namun pengembangan biodiesel berbasis tanaman-tanaman darat terkendala pada ketersediaan lahan yang semakin berkurang. Biodiesel pada umumnya diperoleh dari tanaman penghasil minyak yaitu sawit dan jarak.Abstrak Biodiesel dari mikroalga laut : Suatu Potensi dan Tantangan Untuk Indonesia. merupakan suatu keunggulan dan tantangan untuk mengembangkan biodiesel dari mikroalga laut. Selain itu. Tingginya keragaman mikroalga laut serta potensi geografis yang dimiliki Indonesia. Mikroalga laut adalah salah satu sumber daya laut yang berpotensi menjadi sumber biodiesel alternatif baru dikarenakan produktivitas pertumbuhan dan kandungan lipid/minyaknya yang tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful