Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH LAPORAN KASUS CONGESTIVE HEART FAILURE ET CAUSA HYPERTENSIVE HEART DISEASE + HYPERTENSION STAGE II

Oleh: dr. Indah Permata

Pembimbing: dr. Imran, SpPD

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAHAT 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Allah Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Congestive Heart Failure et causa Hypertensive Heart Disease + Hypertension Stage II. Di kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Imran, SpPD selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian laporan kasus ini. Penulisan juga mengucapan terima kasih kepada teman sejawat dokter lainnya dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Demikianlah penulisan laporan ini, semoga bermanfaat, amin.

Lahat, 8 April 2012

Penulis

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Judul

Congestive Heart Failure et causa Hypertensive Heart Disease + Hypertension Stage II


Oleh:

dr. Indah Permata

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Program Dokter Internship di Rumah Sakit Umum Daerah Lahat periode 6 Februari 2012 5 Februari 2013.

Lahat, April 2012

dr. Imran, SpPD

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Jantung merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Jantung memiliki dua atrium, yaitu atrium kanan dan atrium kiri, yang membentuk ruang atas jantung, dan dua ventrikel, yaitu ventrikel kiri dan ventrikel kanan, yang membentuk ruang yang lebih rendah pada jantung.1 Salah satu fungsi jantung adalah untuk memompakan darah baik ke paru maupun ke seluruh tubuh. Bagian jantung yang berfungsi untuk memompakan darah ke paru-paru adalah ventrikel kanan, sedangkan bagian jantung yang berfungsi untuk memompakan darah ke seluruh tubuh adalah ventrikel kiri. Gagal jantung kongestif terjadi ketika ada kerusakan dalam aksi pemompaan ini, baik pada ventrikel kiri, ventrikel kanan, atau keduanya, yang menyebabkan darah berkumpul di arteri paru, pembuluh darah, atau keduanya. Bendungan ini menyebabkan kemacetan di paru-paru (cairan terbendung di paru-paru), penurunan output jantung, peningkatan beban jantung, penurunan efisiensi kontraksi otot jantung, penurunan stroke volume, peningkatan denyut jantung, dan hipertrofi. Kompensasi ini dapat menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung dan penurunan suplai darah ke seluruh tubuh.2 Kompensasi terhadap gagal jantung kongestif tersebut merupakan alasan kedatangan penderita ke rumah sakit. Berdasarkan data Medicare di Amerika Serikat dan data Scottish di Eropa, gagal jantung merupakan penyebab rawat inap yang paling banyak di rumah sakit.3 Data lain menyebutkan bahwa sekitar 5 juta warga Amerika mengalami gagal jantung, dan terjadi penambahan 550.000 penderita gagal jantung setiap tahunnya.4 Selain insidensi yang tinggi, angka kematian pada gagal jantung kongestif juga tidak sedikit. Salah satunya, gagal jantung kongestif dapat menyebabkan edema paru yang memiliki angka kematian 12% di rumah sakit.3 Data lain menunjukkan bahwa angka kematian akibat gagal jantung adalah sekitar 10% setelah 1 tahun dan sekitar setengah dari penderita gagal jantung mengalami kematian dalam waktu 5 tahun setelah didiagnosis.4

Tingginya insidensi dan angka kematian pada gagal jantung kongestif sesuai dengan data tersebut menunjukkan bahwa kasus gagal jantung kongestif memerlukan perhatian lebih di kalangan masyarakat. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai gagal jantung kongestif ini. Itulah sebabnya, kasus ini perlu diangkat untuk dipelajari.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1 Identifikasi Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama MRS : Ny. A : 80 tahun : Perempuan : Kota Agung : Ibu Rumah Tangga : Islam : 20 Maret 2012

2.2 Anamnesis (Auto dan Alloanamnesis) Keluhan Utama Sesak napas yang makin menghebat sejak 6 jam SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit 1 bulan SMRS os mengeluh sesak napas, sesak dipengaruhi aktifitas bila berjalan 50 m, sesak tidak dipengaruhi posisi dan cuaca. Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (+) timbul bersamaan dengan sesak napas setelah beraktifitas, batuk (+), dahak (-), demam (-), mual (-), muntah (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. 1 minggu SMRS os mengeluh sesak napas ketika beraktifitas berjalan jauh 10 meter, sesak berkurang bila os istirahat, os juga sering terbangun di malam hari karena sesak dan sesak berkurang bila os duduk, sesak dipengaruhi cuaca (-), batuk (+), dahak (-), demam (-). Os juga mengeluh perutnya membesar, mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), sembab pada kelopak mata di pagi hari (-), bengkak pada kaki (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. 6 jam SMRS os mengeluh sesak napas hebat, sesak dipengaruhi posisi (os lebih nyaman jika duduk), sesak tidak dipengaruhi aktifitas dan cuaca. Batuk (+), dahak (-) demam (-). Os juga mengeluh perutnya semakin membesar, mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), sembab pada mata (-), bengkak pada kaki (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. Kemudian os berobat ke RSUD Lahat.

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkal Riwayat darah tinggi sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu, kontrol tidak teratur Riwayat sakit jantung sebelumnya disangkal Riwayat kencing manis disangkal Riwayat penyakit pernapasan (asthma) disangkal Riwayat sakit ginjal disangkal

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkal

2.3 Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Temperatur RR Berat Badan Tinggi Badan IMT Lingkar Perut : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 160/100 mmHg : 118 x/m regular, isi dan tegangan cukup : 36.7 C di axilla : 38 x/m, tipe thoracoabdominal : 54 kg : 155 cm : 54/(1.55)2 = 26,47 (Over Weight) : 89 cm

Keadaan Spesifik Kulit Warna sawo matang, efloresensi tidak ada, scar tidak ada, pigmentasi dalam batas normal, ikterus pada kulit tidak ada, temperatur kulit normal, keringat umum tidak ada, keringat setempat tidak ada, pucat pada telapak tangan dan kaki tidak ada, sianosis tidak ada, lapisan lemak cukup.

Kelenjar Getah Bening Kelenjar getah bening submandibular, leher, axilla, dan inguinal tidak ada pembesaran, nyeri tekan tidak ada.

Kepala Bentuk bulat, simetris, rambut rontok ada, deformitas tidak ada, perdarahan temporal tidak ada, dan nyeri tekan tidak ada.

Mata Eksopthalmus dan Endopthalmus tidak ada, edema palpebra tidak ada, conjungtiva palpebra kedua mata pucat tidak ada, sklera ikterik tidak ada, pupil isokor, refleks cahaya baik, penglihatan kabur pada kedua mata tidak ada, gerakan bola mata ke segala arah dan simetris, lapangan penglihatan baik.

Hidung Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang perabaan baik. Selaput lendir dalam batas normal. Tidak ditemukan adanya penyumbatan dan perdarahan. Pernapasan cuping hidung tidak ada.

Telinga Tophi tidak ada, pada liang telinga tidak ada kelainan, nyeri tekan proc.mastoideus tidak ada, selaput pendengaran tidak ada kelainan, pendengaran baik.

Mulut Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah tidak ada, atrofi papil tidak ada, gusi berdarah tidak ada, stomatitis tidak ada, rhagaden tidak ada, bau pernapasan yang khas tidak ada.

Leher Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, JVP (5+2) cm H2O, hipertrofi m.sternocleidomastoideus tidak dijumpai .

Dada Bentuk thorax`normal simetris kanan dan kiri, sela iga tidak melebar, retraksi dinding thorax tidak ada, ginekomastia tidak ada, tidak ditemukan venectasis dan spider nevi.

Paru-paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Statis, dinamis simetris kanan dan kiri : Stemfremitus kanan = kiri : Sonor di kedua lapangan paru : Vesikuler (+) normal, ronkhi basah halus (+) di kedua basal paru, wheezing (-)

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis tidak teraba : Batas atas jantung ICS II, kanan 1 jari lateral linea parasternalis dextra, kiri linea axillaris anterior sinistra Auskultasi : HR: 118x/m, BJ I dan II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi : Cembung : Lemas, Nyeri Tekan (-) Hepar dan Lien sulit dinilai, Undulasi (+) Perkusi Auskultasi : Shifting Dullness (+) : Bising Usus (+) Normal

Ekstremitas Atas Kedua ekstremitas atas tampak pucat tidak ada, palmar eritema tidak ada, nyeri otot dan sendi tidak ada, gerakan kesegala arah, kekuatan +5, refleks fisiologis normal, refleks patologis tidak ada, jari tabuh tidak ada, eutoni, eutropi, tremor tidak ada, edema ada pada kedua lengan dan tangan tidak ada.

Ekstremitas Bawah Kedua ekstremitas bawah tidak tampak pucat, nyeri otot dan sendi tidak ada, kekuatan +5, refleks fisiologis normal, refleks patologis tidak ada, eutoni, eutrophi, varices tidak dijumpai, jaringan parut ada, pigmentasi dalam batas normal, jari tabuh tidak ada, turgor cukup, edema pretibial minimal ada.

Alat Kelamin Tidak diperiksa

2.4 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Hematologi (21 Maret 2012) Hb Leukosit Trombosit : 12 g/dl (normal : 12 16 g/dl) : 4000 / mm3 (normal : 4000-10000/mm3) : 152.000/mm3 (normal : 150.000-500.000/mm3)

Kimia Klinik (21 Maret 2012) BSS Ureum Creatinin : 90 mg/dl : 35 mg/dl (normal : 15-39 mg/dl) : 0.9 mg/dl (normal : 0.6-1.0 mg/dl)

Urinalisa (21 Maret 2012) Sedimen : sel epitel Leukosit Eritrosit Protein Glukosa : negatif : negatif : (+) : 2-4/ LPB (N : 0-5/LPB) : 0-1/LPB (N : 0-1/LPB)

10

Elektrokardiograf (21 Maret 2012)

EKG: irama sinus, axis normal, HR 115-120x/m, Gel P normal, PR int 0,12 dtk, QRS komp 0,04 dtk, R/S di v1 < 1, Sv1+Rv5v6<35, ST-T change (-) Kesan : Low voltage

11

Rontgen Thorax PA (20 Maret 2012)

1. Kondisi foto baik 2. Simetris kanan = kiri 3. Trakhea di tengah 4. Tulang-tulang baik 5. Sela iga tidak melebar 6. CTR > 50% 7. Sudut costophrenicus kanan tumpul, kiri sulit dinilai 8. Diafragma tenting kanan (-), kiri sulit dinilai 9. Parenkim paru : corakan vaskuler meningkat Kesan : Kardiomegali dan kongesti vena pulmo

12

2.5 Resume 1 bulan SMRS os mengeluh sesak napas, sesak dipengaruhi aktifitas bila berjalan 50 m, sesak tidak dipengaruhi posisi dan cuaca. Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (+) timbul bersamaan dengan sesak napas setelah beraktifitas, batuk (+), dahak (-), demam (-), mual (-), muntah (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. 1 minggu SMRS os mengeluh sesak napas ketika beraktifitas berjalan jauh 10 meter, sesak berkurang bila os istirahat, os juga sering terbangun di malam hari karena sesak dan sesak berkurang bila os duduk, sesak dipengaruhi cuaca (-), batuk (+), dahak (-), demam (-). Os juga mengeluh perutnya membesar, mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), sembab pada kelopak mata di pagi hari (-), bengkak pada kaki (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. 6 jam SMRS os mengeluh sesak napas hebat, sesak dipengaruhi posisi, sesak tidak dipengaruhi aktifitas dan cuaca. Batuk (+), dahak (-) demam (-). Os juga mengeluh perutnya semakin membesar, mual (-), muntah (-), sembab pada mata (-), bengkak pada kaki (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. Kemudian os berobat ke RSUD Lahat. Os menyangkal pernah menderita penyakit dengan keluhan yang sama. Os mengaku ada riwayat darah tinggi namun tidak kontrol teratur. Os menyangkal adanya riwayat kencing manis. Os juga menyangkal adanya penyakit dengan gejala yang sama dalam keluarganya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa keadaan umum tampak sakit sedang, tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 118 x/m irreguler isi dan tegangan cukup, frekuensi pernapasan 38 x/m, suhu 36.7C. Pada pemeriksaan paru ditemukan adanya ronkhi basah halus di kedua basal paru dan pada pemeriksaan jantung didapatkan batas jantung membesar yaitu batas jantung kanan 1 jari lateral LPS dekstra, kiri pada linea axillaris anterior sinistra.. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan pada inspeksi tampak cembung, pada palpasi ditemukan adanya undulasi, hepar dan lien sulit dinilai, pada perkusi ditemukan adanya shifting dullness. Pada pemeriksaan ekstremitas tampak adanya edema pretibial minimal.

13

Skor Farmingham untuk pasien ini : Kriteria Mayor Paroxysmal nocturnal dyspneu Distensi vena leher Ronkhi paru Kardiomegali Edema paru akut Gallop S3 Peninggian tekanan vena jugularis Refluks hepatojugular (+) (-) (+) (+) (+) (-) (+) (-)

Kriteria Minor Edema ekstremitas Batuk malam hari Dispneu deffort Hepatomegali Efusi pleura Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal Takikardi (>120 x/menit) (+) (+) (+) (-) (-) (-) (-)

2.6 Diagnosa Sementara CHF e.c HHD + Hipertensi stage II

2.7 Diagnosa Banding CHF e.c ASHD + Hipertensi stage II

2.8 Penatalaksanaan Non Farmakologis Istirahat duduk Diet Jantung II O2 3 L/menit Kateter urin

14

Farmakologis IVFD RL gtt X/menit mikro Injeksi Furosemid 1 x 20 mg (iv) Digoxin 2 x 0.125 mg Aspilet 1 x 80 mg Captopril 2 x 12.5 mg Laxadine syr 3 x 1 c

2.9 Rencana Pemeriksaan Echocardiograhy Kimia klinik : Kolesterol total, kolesterol HDL, kolesterol LDL, trigliserida, protein total, albumin, globulin, Na, K.

2.10 Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia : dubia ad malam

FOLLOW UP 21 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sensorium Tekanan Darah Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur Compos Mentis 140/80 mmHg 98 x/m reguler 28x / m 36.8C Sesak napas

Keadaan Spesifik Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

Leher

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-)

Thorax

Cor :

15

HR : 98x/m reguler, M (-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) di kedua basal paru, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (+), Shifting dullness (+), Abdomen hepar dan lien sulit dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Edema pretibial (+) minimal Ekstremitas A : P : CHF e.c ASHD + HHD + Hipertensi stage I Istirahat duduk

- O2 3L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt X/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

22 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sensorium Tekanan Darah Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur Compos Mentis 140/80 mmHg 86 x/m reguler 28x / m 36.6C Sesak napas

Keadaan Spesifik Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

16

Leher Thorax

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-) Cor : HR : 86x/m reguler, M (-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) di kedua basal paru, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (+), Shifting dullness (+), Abdomen hepar dan lien tidak dapat dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Ekstremitas A : P :

Edema pretibial (+) minimal CHF e.c ASHD + HHD + Hipertensi stage I Istirahat duduk O2 2L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt X/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

23 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sensorium Tekanan Darah Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur Compos Mentis 130/80 mmHg 80 x/m reguler 26x /m 36.6C Sesak napas berkurang

Keadaan Spesifik

17

Kepala

Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

Leher Thorax

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-) Cor : HR : 80x/m reguler, M(-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) di kedua basal paru, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (+), Shifting dullness (+), Abdomen hepar dan lien tidak dapat dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Ekstremitas A : P :

Edema pretibial (+) minimal CHF e.c ASHD + HHD Istirahat duduk O2 2L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt X/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

24 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sensorium Tekanan Darah Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur Compos Mentis 130/80 mmHg 84 x/m reguler 24 x/m 36.6C Sesak napas (-)

18

Keadaan Spesifik Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

Leher Thorax

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-) Cor : HR : 84x/m reguler, M (-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) di kedua basal paru, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (+), Shifting dullness (+), Abdomen hepar dan lien tidak dapat dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Ekstremitas A :

Edema pretibial (-) CHF e.c ASHD + HHD Edema perbaikan

P :

Istirahat duduk O2 2L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt XV/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

25 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sensorium Tekanan Darah Compos Mentis 130/80 mmHg Sesak napas (-)

19

Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur

80 x/m reguler 24x / m 36.6C

Keadaan Spesifik Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

Leher Thorax

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-) Cor : HR : 80x/m reguler, M (-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) minimal, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (-), Shifting dullness (+), hepar Abdomen dan lien tidak dapat dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Ekstremitas A : P :

Edema pretibial (-) CHF e.c ASHD + HHD perbaikan Istirahat duduk O2 2L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt XV/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

26 Maret 2012 S : O : Keadaan Umum Sesak napas (-)

20

Sensorium Tekanan Darah Nadi Frekuensi Pernapasan Temperatur

Compos Mentis 130/70 mmHg 70 x/m reguler 26 x/m 36.5C

Keadaan Spesifik Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik (-)

Leher Thorax

JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-) Cor : HR : 70x/m reguler, M (-), G(-) Pulmo : Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+) minimal, Wheezing (-)

Cembung, undulasi (-), Shifting dullness (+), hepar Abdomen dan lien tidak dapat dinilai, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Edema pretibial (-) Ekstremitas A : P : CHF e.c ASHD + HHD perbaikan Istirahat duduk O2 2L/menit Diet Jantung II IVFD RL gtt XV/menit mikro Furosemid 1 x 1 amp Digoxin 2x 0.125 mg Aspilet 1x 80 mg Captopril 2x 12.5 mg Laxadine syr 3x 1 c

21

BAB III ANALISA KASUS

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak bisa memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Gagal jantung terbagi menjadi gagal jantung kiri, gagal jantung kanan dan gagal jantung kongestif, yakni gabungan gagal jantung kiri dan kanan. Gagal jantung kiri ditandai oleh dispneu deffort, kelelahan, orthopnea, paroksismal nokturnal dispnea, batuk, pembesaran jantung, irama derap, bunyi derap S3 dan S4, pernapasan cheyne stokes, takikardi, ronki dan kongesti vena pulmonalis. Gagal jantung kanan ditandai oleh adanya kelelahan, pitting edema, ascites, peningkatan tekanan vena jugularis, hepatomegali, pembesaran jantung kanan, irama derap atrium kanan, murmur dan bunyi P2 mengeras, sedangkan gagal jantung

kongestif terjadi manifestasi gejala gabungan keduanya. Diagnosis gagal jantung kongestif ditegakkan jika terdapat 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor kriteria framingham, ditambah dengan pemeriksaan penunjang. Kriteria framingham terbagi menjadi kriteria mayor dan kriteria minor. Yang termasuk kriteria mayor yakni: dispneu nokturnal paroksismal atau orthopneu, peningkatan tekanan vena jugularis, ronki basah tidak nyaring, kardiomegali, edema paru akut, irama derap S3, peningkatan vena > 16 cm H2O dan refluks hepatojugular. Sedangkan yang termasuk kriteria minor yakni: edema pergelangan kaki, batuk pada malam hari, dispneu deffort, pleura, kapasitas vital berkurang hepatomegali, efusi

menjadi 1/3 maksimum dan takikardi

(>120x/menit). Sedangkan pada pemeriksaan penunjang, dari hasil pemeriksaan foto rontgen toraks dapat mengarah ke kardiomegali dengan corakan bronkovaskuler yang meningkat. Pada pasien ini, dari hasil anamnesis didapatkan adanya sesak nafas, sesak dipengaruhi oleh aktifitas, pasien juga sering terbangun pada malam hari karena sesak, selain itu pasien juga lebih nyaman jika berada dalam posisi duduk. Tidak adanya keluhan-keluhan lain seperti sakit kepala, mual, muntah, bengkak pada

22

kelopak mata mendukung bahwa sesak yang dialami oleh pasien berhubungan dengan jantung bukan dari organ yang lain. Selain itu, pasien juga mengeluhkan adanya perut yang membesar. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan adanya peningkatan tekanan vena jugularis, ronki basah halus pada kedua basal paru, adanya pelebaran batas jantung, serta adanya ascites. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosis gagal jantung kongestif, karena kriteria framingham sudah terpenuhi. Terapi yang diberikan adalah furosemid 1x 20 mg, pemberian diuretika ini bertujuan untuk mengurangi ascites yang ada pada pasien ini dengan mengurangi beban awal jantung tanpa mengurangi curah jantung. Selain itu, juga diberikan digoksin 2x 0,125 mg untuk memperbaiki kontraktilitas jantung. Aspilet 80 mg diberikan sebagai antiagregasitrombus, untuk mencegah terjadinya tromboemboli. Sedangkan captopril 2x 12,5 mg diberikan untuk menurunkan tekanan darahnya, karena pasien ini juga menderita hipertensi.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Ghanie A. Gagal jantung kronik. In: Sudoyo AW, et al, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1, edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI, 2006; p1511-4. 2. O'Brien, Terrence. Congestive Heart Failure. South Carolina: Medical University of South Carolina: 2006. Available from URL:

http://www.emedicinehealth.com/congestive_heart_failure/article_em.htm 3. Bazo A. Congestive Heat Failure. 2010. Available from URL:

http://www.scribd.com/doc/15419488/Congestive-Heart-FailureAB 4. Kulick D. Congestive Heart Failure. 2010. Available from URL:

http://www.medicinenet.com/congestive_heart_failure/article.htm 5. Behavioural Modification. In: Management of chronic heart failure: A national clinical guideline. Edinburgh: Scottish Intercollegiate Guidelines Network: 2007. p; 10-13. 6. Hunt, Sharon Ann. ACC/AHA 2005 Guideline Update for Diagnosis and Management of Chronic Heart Failure in The Adult. American College of Cardiology and American Heart Association: 2005. p; 154-235.

24