Anda di halaman 1dari 75

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang selalu tumbuh dan selalu berkembang mulai dari bayi hingga lanjut usia. Seiring dengan bertambahnya usia lansia akan mengalami perubahan baik fisik, mental, psikososial ataupun spiritual. Perubahan pada berbagai aspek tersebut akan menimbulkan masalah baik fisik, psikososial ataupun ekonomi. Pada sebagian lansia karena kondisinya yang tidak memungkinkan masa tua berarti tidak produktif atau tidak berpenghasilan lagi. Lansia bergantung atau menjadi beban anak cucu / anggota keluarga yang lain sehingga kadangkala lansia mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari keluarga yang mengakibatkan lansia ditempatkan di panti sosial. Keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan dan perbaikan kondisi sosial telah mampu meningkatkan usia harapan hidup ( life expectancy) manusia Indonesia. Hal ini tercatat pada tahun 1990 usia harapan hidup rata rata mencapai 59 tahun dan tahun 2000 menjadi 67 tahun untuk laki laki dan 71 tahun untuk perempuan atau rata rata 69 tahun. Berarti terjadi kenaikan rata rata 1,4 % per tahun. Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan 500 juta dengan rata rata 60 tahun dan diperkirakan tahun 2025 akan menjadi 1,2 milyar. Di Indonesia sendiri dari tahun ke tahun jumlah lansia juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 jumlah lansia berjumlah 15,8 juta jiwa. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lansia akan mencapai 28,28 juta jiwa yang kita kenal dengan bom lansia. Perubahan nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik menyebabkan usia lansia kurang mendapat perhatian sehingga sering tersisih dari kehidupan masyarakat dan menjadi terlantar. Dalam masyarakat 1

kita sering dijumpai pengertian dan mitos yang salah kaprah mengenai lansia sehingga banyak merugikan lansia. Dalam masyarakat kita selaku orang timur dengan budaya kekeluargaan yang sangat kental, anak cucu dan sanak saudara dari para lansia pada umumnya sangat tidak keberatan untuk menerima kehadiran dan keberadaan lansia dalam keluarganya. Namun adanya pandangan yang keliru seperti tersebut di atas tak urung bisa mempengaruhi anggota keluarga dalam memperlakukan para lansia sehingga lansia ditempatkan di panti sosial. Selain itu karena alasan kesibukan dan juga tidak ada anggota keluarga yang merawat lansia di rumah maka lansia juga akan ditempatkan di panti sosial. Berkaitan dengan masalah tersebut maka mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi Program Studi Ilmu Keperawatan angkatan I Kelompok A, melaksanakan praktek keperawatan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi sebagai konteks keperawatan gerontik mulai tanggal 09 Agustus sampai dengan 18 Agustus 2012 sehingga bisa memberikan asuhan keperawatan gerontik secara komprehensif.

1.2 Tujuan Kegiatan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien usia lanjut dalam kehidupan di dalam panti secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. 1.2.2 Tujuan Khusus 1) Mahasiswa dapat melakukan pengkajian situasi yang ada dalam suatu panti. 2) Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah kesehatan pada klien lansia yang tinggal dalam lingkungan panti bersifat aktual, potensial maupun resiko. yang timbul baik yang

3) Mahasiswa dapat menetapkan rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada lansia yang tinggal dalam panti sesuai deangan konsep keperawatan gerontik. 4) Mahasiswa dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pada klien lansia. 5) Mahasiswa dapat melakukan evaluasi dari tindakan yang telah dilakukan pada lansia di dalam lingkungan panti.

1.2.3

Manfaat Kegiatan Manfaat dari praktek keperawatan gerontik adalah : 1) Bagi mahasiswa Dapat menerapkan konsep teori / asuhan keperawatan gerontik pada lansia. 2) Bagi lansia di panti a) Lansia mendapatkan pelayanan keperawatan yang komprehensif.

b) Lansia dapat mengenal masalah kesehatannya. c) 3) Lansia mendapatkan penjelasan tentang kesehatannya secara sederhana.

Bagi institusi penyelenggara panti a) Dapat mengembangkan model asuhan keperawatan pada lansia yang tinggal di panti. b) Mendapatkan masukan atau input dari mahasiswa mengenai masalah kesehatan pada lansia serta alternatif penanganannya.

4)

Bagi intitusi penyelenggara pendidikan. Tercapainya tujuan pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pada klien lansia yang tinggal dalam lingkungan panti sekaligus sebagai sarana evaluasi terhadap proses pembelajaran mahasiswa berkaitan dengan praktek klinik keperawatan dalam tahap profesi.

1.2.4

Batasan Masalah 3

Untuk membatasi meluasnya masalah maka kami membahas masalah ini pada proses asuhan keperawatan klien lansia yang bermasalah. 1.2.5 Sistematika penulisan Laporan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan Bab 2 : Tinjauan teori Bab 3 : Pengkajian Bab 4 : Perencanaan Bab 5 : Pelaksanaan Dan Kegiatan Bab 6 : Penutup

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Konsep lansia 2.1 Pengertian Lanjut Usia Proses menua merupakan suatu yang fisiologis, yang akan dialami oleh setiap orang. Batasan orang dikatakan lansia berdasarkan UU No.13 tahun 1998 adalah 60 tahun. Depkes dikutif dari Azis (1994) lebih lanjut membuat penggolongan lansia menjadi 3 (tiga) kelompok yakni: 1. Kelompok lansia dini (55-64 tahun), yakni keompok yang baru memasuki lansia 2. Kelompok lansia (65 tahun keatas) 3. Kelompok lansia resiko tinggi, yakni lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. 2.1 Proses Terjadinya Penuaan Proses terjadinya penuaan dijelaskan dalam beberapa teori penuaan, antara lain : 2.2.1 Biologi a. Teori "Genetic Clock"; Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya

program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil

penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan 5

zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. b. Teori Error Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipotesis "Error Castastrophe" (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori tersebut menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan

berakibat kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan. c. Teori Autoimun Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada permukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya Goldstein(1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan dengan makin bertambahnya prevalensi auto antibodi pada lansia (Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Martono, 1999). Dipihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, sehingga sel-sel patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994 dikutif dari Nuryati, 1994) d. Teori Free Radical Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam tubuh manusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2),

Radikal Hidroksil (OH) dan Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak karena sangat reaktif , sehingga dapat bereaksi dengan DNA, 6

protein, dan asam lemak tak jenuh. Menurut Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono (1999) menyatakan bahwa makin tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas, sehingga poses pengrusakan terus terjadi , kerusakan organel sel makin banyak akhirnya sel mati. e. Wear &Tear Teori Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak. f. Teori kolagen Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan.

2.2.2 Teori Sosiologi a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara langsung. b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya suatu pola prilaku yang meningkatkan stress. c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain. d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan mempercepat proses penuaan.

2.2.3 Teori Psikologis a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang sempurna. b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam perkembangan kehidupan. c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada tingkat maksimumnya. 7

d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas perkembangan sesuai dengan usianya.

2.2.4 Konsep Model Florence Nightingle Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkungan sosial. a. Lingkungan fisik (physical enviroment) Merupakan lingkungan dasar/alami yan berhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan.Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi. b. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment) F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya.

Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman. c. Lingkungan sosial (social environment) Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya. Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungnya individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus. d. Hubungan teori Florence Nightingale dengan beberapa konsep Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan : 1. Individu / manusia Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi penyakit.

2.

Keperawatan Bertujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat melakukan kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan.

3.

Sehat / sakit Fokus pada perbaikan untuk sehat.

4.

Masyarakaat / lingkungan Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu, fokus pada ventilasi, suhu, bau, suara dan cahaya.

e. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan 1. Pengkajian / pengumpulan data Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan (lingkungan fisik, psikis dan sosial). 2. Analisa data Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik, sosial dan mental yang berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan keseluruhan. 3. Masalah Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya : Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan Ventilasi Pembuangan sampah Pencemaran lingkungan Komunikasi sosial, dll

10

4.

Diagnosa keperawatan Berbagai masalah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain: Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan. Penyesuaian terhadap lingkungan. Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan.

5. Upaya

Implementasi dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang

memungkinkan terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi individu. 6. Evaluasi Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu. f. Hubungan teori Florence Nightingale dengan teori-teori lain : 1. Teori adaptasi Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya. Kekuatan dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada dirinya sendiri. Berrhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan tinjauan lingkungan yang dijelaskan Florence N. Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari lingkungannya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau mal adaptif. kehidupan, perrtumbuhan dan perkembangan

11

2.

Teori kebutuhan Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N, sebagai contoh kebutuhan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar, ventilasi dan kebutuhan lingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan air yang bersih. Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam

mempertahankan hidupnya. 3. Teori stress Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan, yang harus ditangani. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir. Stress dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam mencapai keinginan atau kebutuhan. Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individu tidak dapat mengatasi. Florence N, menekankan penempatan pasien dalam lingkungan yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor, misalnya tempat yang gaduh, membangunkan pasien dengan tiba-tiba, ,semuanya itu dipandang sebagai suatu stressor yang negatif. Jumlah dan lamanya stressor juga mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan koping individu. 4. Teori Kejiwaan sosial a. Aktifitas atau kegiatan ( activity theory ) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial 12

Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia

Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia

b.

Kepribadian berlanjut ( continuity theory ) Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.

5.

Teori Pembebasan ( Disengagement theory ) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara bengangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ), yakni 1) kehilangan peran 2) hambatan kontak sosial 3) berkurangnya kontak komitmen

2.2 Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia 1. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan,

kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a.

Sistem pernafasan pada lansia. 1. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal. 13

2. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. 3. Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. 4. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi. 5. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga kejaringan. 6. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 7. Kemampuan batuk yang berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. b. Sistem persyarafan. 1. Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. 2. Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. 3. Mengecilnya syaraf panca indera. 4. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. O2 tidak terangkut semua

Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. 1. Penglihatan a. Kornea lebih berbentuk skeris. 14

b. c. d.

Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.

e. f. g.

Hilangnya daya akomodasi. Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.

2. Pendengaran. a. Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. b. Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. c. Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. 3. Pengecap dan penghidu. a. b. Menurunnya kemampuan pengecap. Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. 4. Peraba. a. b. c. 1. Kemunduran dalam merasakan sakit. Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

15

2.

Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya

kontraksi dan volumenya. 3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg

(mengakibatkan pusing mendadak). 4. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal 170/95 mmHg ). c. Sistem genito urinaria. 1. Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. 2. Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. 3. 65 tahun. 4. 5. Atropi vulva. Vagina, Selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas

16

6.

Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.

d.

Sistem endokrin / metabolik pada lansia. 1. 2. 3. Produksi hampir semua hormon menurun. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH. 4. Menurunnya aktivitas tiriod menurunnya daya pertukaran zat. 5. 6. Menurunnya produksi aldosteron. Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron. 7. Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess). BMR turun dan

e.

Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. 1. Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. 2. Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit. 3. 4. Esofagus melebar. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. 5. Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. 17

6. 7.

Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

f.

Sistem muskuloskeletal. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tulang kehilangan densikusnya rapuh. Resiko terjadi fraktur. Kyphosis. Persendian besar & menjadi kaku. Pada wanita lansia > resiko fraktur. Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas. Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). a. Gerakan volunter gerakan berlawanan. b. Gerakan reflektonik Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. c. Gerakan involunter Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus d. Gerakan sekutu Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.

g.

Perubahan sistem kulit & jaringan ikat. 1. 2. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3. Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.

18

4.

Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.

5.

Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.

6. 7.

Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.

8. kadang

Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang menurun.Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan

metabolisme yang menurun. 9. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. h. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. 1. a. b. c. d. Perubahan sistem reprduksi. selaput lendir vagina menurun/kering. menciutnya ovarium dan uterus. atropi payudara. testis masih dapat memproduksi meskipun adanya

penurunan secara berangsur berangsur. e. dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik. 2. Kegiatan sexual. Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses 19

reproduksi, 2) rohani, Secara rohani tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.

2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa. b. Kesehatan umum c. Tingkat pendidikan d. Keturunan (herediter) e. Lingkungan f. g. h. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman

dan famili i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran

diri dan perubahan konsep diri

20

Perubahan kepribadian yang drastic, keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. Kenangan ( memory ) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) kenangan jangka pendek atau seketika ( 0-10 menit ), kenangan buruk. Intelegentia Quation; 1) tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan, persepsi dan keterampilan psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor waktu. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. 1. Perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. 2. sel-sel otak. 3. 4. 5. dan gambaran diri. Gangguan halusinasi. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi

3. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. ( Murray dan Zentner, 1970 ).

21

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Herediter atau ketuaan genetik. Nutrisi atau makanan. Status kesehatan. Pengalaman hidup. Lingkungan. Stress.

2.4 Proses menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua ( Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan : 1. 2. kebutuhan sehari-hari. 3. Mendapat keluarga dan masyarakat ( Rahardjo, 1996 ). Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah 22 dukungan secara sosial dari Bebas dari penyakit fisik, mental, dan sosial. Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi

berbagai masalah. Hurlock ( 1979 ) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu : 1. 2. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain. Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya. 3. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah. 4. Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak. 5. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisik, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak. Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock ( 1990 ) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonmi atau pendapatan dan peran sosial ( Goldstein, 1992 ).

23

Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia ( Hurlock, 1979 ) di kutip oleh Munandar ( 1994 ) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. keluarga kurang baik. 7. Tempat tinggal yang tidak diinginkan. Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: Minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi. Selalu mengingat kembali masa lalu. Selalu kuatir karena pengangguran. Kurang ada motivasi. Rasa kesendirian karena hubungan dengan

2.5 Permasalahan umum yang terjadi pada lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia antara lain menurut Setiabudi ( 1999 : 40-42 ). Permasalahan umum Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan. 2. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut usia kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati. 3. 4. Lahirnya kelompok masyarakat industry. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia. 5. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan

kesejahteraan lansia. 24

2.6 Permasalahan khusus 1. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial. 2. 3. 4. 5. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. Rendahnya produktifitas kerja lanjut usia. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. 6. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia.

2.7 Penyakit yang sering dijumpai pada lansia Menurut The National Old Peoples Welfare Council, dikemukakan 12 macam taitu 1) depresi mental 2) gangguan pendengaran 3) bronchitis kronis 4) gangguan pada tungkai/sikap berjalan 5) gangguan pada koksa/sendi panggul 6) anemia 7) demensia 8) gangguan penglihtan 9)kecemasan 10) gagal jantung 11) kencing manis,tulang rapuh 12) gangguan pada defekasi.

2.8 Optimalisasi fungsi lanjut usia Setiap orang menginginkan hidup selama mungkin. Hidup kita tidak akan berarti bila tidak disertai dengan kesehatan yang baik dan bahagia. Lajut usia bukan merupakan penyakit. Menurut Setiabudi (1994 ) perilaku yang dianjurkan pada lanjut usia agar tetap sehat dan sejahtera adalah mau menerima keadaan, sabar, optimis, dan meningkatkan rasa percaya diri dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan. Kegiatan diatas lebih baik bila diikuti dengan menjalin hubungan yang teratur dengan keluarga dan sesamanya, olahraga sesuai

25

dengan kondisi untuk menjaga kebugaran fisik, serta mengembangkan hobi sesuai kemampuan yang dimiliki ( Goldstein, 1992 ). Disisi lain agar lanbjut usia tetap sehat bahagia dan sejahtera diperlukan faktor dukungan dari keluarga, masyarakat organisasi maupun pemerintah. Dari sisi peraturan perundang-undangan pemerintah sudah cukup memperhatikan keberadaan lanjut usia. Tetapi tampaknya peraturan tersebut belum dilaksanakan secara koperhensif disegala lini. ( Wirakarta Kusumah, 1994 ) Guna mendukung pelaksanaan peraturan dan atau kebijaksanaan tersebut, masih di perlukan berbagai macam kajian tentang lanjut usia ( Raharjo, 1996 ). Kajian ini menjadi penting karena masalah lanjut usia di masa yang akan datang semakin komplek. Masalah tersebutr di antaranya belum adanya kemandirian pada diri lanjut usia, belum adanya lembaga yang mengayomi para lanjut usia, struktur keluarga yang mengarah ke keluarga inti ( Wirakarta Kusumah, 1994 ). Agar lanjut usia tetap sehat, ada beberapa anjuran untuk hidup sehat seperti tertera pada KMS ( Kartu menuju sehat ) lansia, antara lain : memperkuat ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memeriksakan kesehatan secara teratur, melakukan kegiatan fisik secara benar dan teratur, memperhatikan

keluhan-keluhan kesehatan yang di rasakan, makan dan minum sesuai dengan standar gizi ( Depkes 1998 ).

2.9 Asuhan Keperawatan Pada Klien Usia lanjut 1. Proses Keperawatan Dalam memberi pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap sasaran ( DepKes RI 1993 ) menggunakan proses keperawatan yang merupakan metode ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan dalam keperawatan. Dalam memberi pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap sasaran menggunakan proses keperawatan yang. Proses keperawatan terdiri dari 4 tahapan yaitu : 26

a) Pengkajian 1) Fisik. o Wawancara o Pemeriksaan fisik: meliputi secara inspeksi, perkusi, auskultasi, palpasi. o Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik yaitu dengan sistem tubuh: sistem persyarafan, kardiovaskular, GI tract, genitourinarius, kulit, muskuloskeletal, endokrin. 2) Psikologis. 3) Sosial ekonomi. 4) Spiritual. b) Diagnosa keperawatan a. Fisik / biologis o Gangguan nutrisi: kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh sampai dengan pemasukan yang tidak adekuat. o Gangguan persepsi sensorik: pendengaran, penglihatan sampai dengan hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan. o Kurangnya perawatan diri sampai dengan penurunan miant perawatan diri. o o o Potensial cedera fisik sampai dengan penurunan fungsi tubuh. Gangguan pola tidur sampai dengan kecemasan atau nyeri. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan penyempitan jalan napas atau adanya sekret pada jalan napas. o Gangguan mobilitas fisik sampai dengan kekuatan sendi.

b. Psikososial o Isolasi sosial sampai dengan perasaan curiga.

27

Menarik diri dari lingkungan sampai dengan perasaan tidak mampu.

o o o

Depresi sampai dengan isolasi sosial. Harga diri rendah sampai perasaan ditolak. Koping tidak adekuat sampai dengan ketidak mampuan mengemukakan perasaan secara tepat.

o o o

Cemas sampai dengan sumber keuangan yang terbatas. Spiritual. Reaksi berkabung atau berduka sampai dengan ditinggal pasangan.

Penolakan terhadap proses penuaan sampai dengan ketidak siapan menghadapi kematian.

o o

Marah terhadap tuhan sampai dengan kegagalan yang dialami. Perasaan tidak senang sampai dengan ketidak mampuan melakukan ibadah secara tepat.

c. Rencana keperawatan Meliputi: o Melibatkan klien dan keluarganya dalam perencanaan. o Bekerjasama dengan profesi kesehatan lainnya. o Menentukan priorotas: - Klien mungkin puas dengan situasi demikian. o Bangkitkan perubahan tetapi jangan memaksakan. o Keamanan atau rasa aman, rasa aman adalah utama yang merupakan kebutuhan. o Mencegah timbulnya masalah-masalah. o Menyediakan klien cukup waktu untuk mendapatkan input atau pemasukan. 28

o Menulis semua rencana dan jadwal. d. Perencanaan Tujuan keperawatan lanjut usia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar antara lain: o Pemenuhan kebutuhan nutrisi. o Peningkatan keamanan dan keselamatan. o Memelihara kebersihan diri. o Memelihara keseimbangan istirahat / tidur. o Meningkatnya hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif. 2. Lanjut. a. Agar Usia Lanjut Dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan : 1) Peningkatan derajat kesehatan. 2) Pencegahan penyakit. 3) Pemeliharaan kesehatan. Sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hidup. b. Mempertahankan kesehatan serta Tujuan Umum Asuhan Keperawatan Usia

kemempuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan cara menjalan kan perawatan dan pencegahan. c. Membantu mempertahankan serat

membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia ( life support ). d. Menolong dan merawat klien usia lanjut yang menderita penyakit atau mengalami gangguan tertentu ( baik Kronik maupon akut ).

29

e.

Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa secara dini bila mereka menjumpai suatu kelinan tertentu.

f.

Mencari uapaya semaksimal mungkin agar para klien lansia yang menderita suatu penyakit atau gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang meksimal tanpa perlu pertolongan ( pemeliharaan kemandirian secara maksimal ).

3.

Fokus asuhan keperawatan a. Peningkatan kesehatan ( health promotion ). b. Pencegahan penyakit ( Preventif). c. Mengoptimalkan fungsi mental. d. Mengatasi gangguan kesehatan umum.

4. Fungsi Keperawatan. Fungsi keperawatan pada keperawatan akut, keperawatan waktu lama dan keperawatan di masyarakat berbeda tergantung menurut keperluannya ( Mary Ann Chris & Faith J. Hohloch 1993 ), membaginya dalam : a. Pada keperawatan akut ( acut care ) 1. Melakukan anamnesa penderita, menanyakan riwayat medik, psikosoaial dan riwayat keluarga. 2. 3. Ascessment penderita. Menjelaskan diagnosa dan pengobatan kepada penderita dan keluarga. 4. Bekerja sama dengan penderita, keluarga dan petugas kesehatan lainnya untuk menyusun rencana keperawatan yang baik. 5. 6. Mendorong kemandirian penderita. Mempertahankan hidrasi, ventilasi, makanan dan kenyamanan.

30

7.

Menyampaikan obat dan melakukan pengobatan serta menilai reaksi penderita.

8. 9.

Memberitahukan kepada dokter kemajuan kondisi penderita. Memberikan tindakan darurat bila di perlukan.

10. Merencanakan keluarnya penderita dari rumah sakit dan mengkoordinasikan rujukan kelembaga sosial masyarakat. 11. Memberi advokasi kepada penderita. b. Pada Keperawatan Lama ( long term care ) 1. Melakukan anamnesa penderita menanyakan riwayat medik psikososial dan keluarga. 2. 3. Ascessment penderita. Mengikutsertakan penderita, keluarga dalam menyiapkan dan melaksanakan rencana keperawatan. 4. 5. Menciptakan iklim semangat hidup, bukan sakit. Meyakinkan penderita bahwa ia memperoleh perawatan medik. gigi, dan anggota gerak yang tepat. 6. Mempertahankan hidrasi, ventilasi, gizi dan bekerjasama dalam evaluasi. 7. Menyampaikan obat dan melakukan pengobatan dan latihan rehabilitatif serta menilai reaksi penderita. 8. 9. Memberitahu dokter, perubahan kondisi penderita. Memberikan pertolongan darurat bila diperlukan.

10. Memberikan pelajaran dan nasehat kepada penderita dan keluarga tentang penyakit. 11. Memperkanalkan pelayanan lansia yang di berikan oleh masyarakat. 12. Memberi advokasi pada penderita. c. Keperawatan di masyarakat ( comunity care ) 31

1.

Identifikasi kebutuhan penderita, baik dari segi kesehatan, sosial maupun ekonominya.

2. 3.

Merujuk ke instansi yang dapat memenuhi kebutuhan penderita. Menjelaskan diagnosa serta pengobatan kepada keluarga dan penderita.

4.

Menilai keparahan penderita dan reaksi penderita terhadap pengobatan.

5.

Melakukan kunjungan rumah dan menyuruh penderita agar memanfaatkan klinik guna meningkatkan kesehatannya.

6.

Memberi pelajaran dan nasehat Kepada penderita dan keluarga tentang penyakit.

7. 8.

Melakukan penilaian kemandirian penderita. Memberi advokasi pada penderita.

B. Konsep Panti Sosial Lanjut Usia 1. Batasan Adalah unit pelaksana teknis di bidang pembinaan kesejahteraan sosial lansia yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lansia berupa pemberian penampungan, jaminan hidup, seperti pakaian, pemeliharaan

kesehatan, pengisian waktu luang termasuk rekreasi, bimbingan sosial mental serta agama sehingga mereka dapat menikmati hari tuanya dengan diliputi ketentraman lahir dan batin. 2. Tujuan Tujuan pelayanan UPT adalah tercapainya kwalitas hidup dan kesejahteraan para lansia yang layak dalam tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara berdasarkan nilai-nilai luhur budaya bangsa sehingga mereka dapat menikmati hari tuanya dengan ketentraman lahir dan bathin. Indikator keberhasilan penyelenggaraan Panti Sosial Lanjut Usia : 32

a.

Bagi usia lanjut : 1. Terpenuhinya kebutuhan jasmani lansia yaitu kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kesehatan. 2. Terpenuhinya kebutuhan rohaniah lansia yaitu kebutuhan akan kasih sayang baik dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya dan peningkatan gairah hidup serta kehidupan beragama sehingga lansia dapat menikmati sisa hidupnya. 3. Meningkatnya rasa percaya diri kemandirian semangat hidup dan produktifitas para lansia. 4. Meningkatkan hubungan antara lansia dengan generasi muda yang selaras dan serasi baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat.

b.

Bagi keluarga dan masyarakat : 1. Terlestarikannya dan makin kuatnya nilai sosial budaya masyarakat yang menghargai, menghormati dan membela para lansia sehingga makin meningkatkan jumlah keluarga dan masyarakat yang dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab memelihara dan membahagiakan orang tuannya yang telah lansia serta makin banyaknya keluarga dan masyarakat yang memberikan santunan kepada lansia. 2. Meningkatnya kemauan dan kemempuan keluarga untuk

memperhatikan kebutuhan lansia seperti :Kebutuhan pangan, papan, sandang, rekreasi dan kasih sayang serta tanggap terhadap

permasalahan lansia yang berada dilingkungannya. 3. Meningkatnya jumlah anggota masyarakat yang mampu dan mau menyantuni para lansia. 4. Semakin meningkatnya peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pelayanan kesejahteraan sosial lansia dengan meluasnya

33

penyediaan dan meningkatnya mutu sarana dan fasilitas khusus bagi para lansia.

C. Pelayanan lansia dalam UPT. 1. Sasaran pelayanan : Sasaran pelayanan kesejahteraan sosial lansia melalui Panti Sosial Lanjut Usia adalah : a. Berusia lanjut Berusia 60 tahun ke atas. Tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk kelangsungan hidupnya. Tidak mempunyai keluarga dan atau memiliki kelurga tapi tidak mampu memelihara orang tuanya yang lansia. b. Keluarga, yaitu keluarga yang karena sesuatu hal tidak dapat memelihara orang tua yang telah lansia. c. Masyarakat yaitu masyarakat yang mau dan mampu untuk berpartisipasi dalam pembinaan kesejahteraan sosial lansia. d. Instansi terkait seperti Dep. Agama. Depkes, Depdagri dll. 2. Jenis pelayanan UPT sebagai lembaga pengganti keluarga memberikan peyanan kesejahteraan sosial lansia tidak hanya di tujukan kepada lansia tetapi juga kepada keluarga lansia dan juga masyarakat. Jenis pelayanan yang di berikan meliputi : a. 1) Pelayanan kepada lanjut usia : Pelayanan kebutuhan makan dengan pengaturan menu, kebutuhan gizi lansia. Pemberian makanan oleh petugas panti kepada lansia menurut jadwal yang telah ditetapkan. 2) Pemeliharaan kesehatan dan kebersihan melalui pemeriksaan rutin, pengobatan saat menderita sakit. 34

3)

Pemberian bimbingan rohani berupa bimbingan mental keagamaan dan bimbingan kemasyarakatan oleh petugas panti atau petugas instansi terkait.

4)

Pemberian bimbingan ketrampilan untuk mengisi waktu luang oleh tenaga instruktur di bantu petugas panti.

b. 1)

Pelayanan kepada keluaraga dan masyarakat Pemberian bimbingan dan penyuluhan. Agar keluarga asuh lansia mau menerima kehadiran lansia kedalam lingkungan keluarga dan memberi kesempatam menikmati hari tuanya dengan penuh ketentraman lahir bathin. 2) Pemeberian pelatihan Dalam upaya peningkatan kondisi ekonomi keluarga lansia maka perlu di selenggarakan pelatihan sehingga dapat memenuhi kebutuhan lansia secara layak. 3) Penyajian data dan imformasi Penyajian data dan imformasi mengenai sistem dan mekanisme pelayanan dan panti, kebijaksanaan dan tingkat keberhasilan yang telah di capai UPT.

3. Proses Pelayanan Pelayanan kesejahteraan sosial pada lansia di UPT melalui tiga tahapan, yaitu : tahap pendekatan awal, tahap pelaksanaan dalam panti, dan tahap resosialisasi. a. Tahap pendekatan awal. Untuk memperkenalkan dan mempermudah pelaksanaan

program pelayanan kesejahteraan sosial lansia kepada instansi terkait organisasi soial dan masyarakat dilakukan melalui tiga kegiatan.

35

1) Orientasi dan konsultasi mengenai berbagai hal tentang lansia, dengan instansi terkait, organisasi sosial dan masyarakat untuk mempermudah pelaksanaan program kesejahteraan lansia. 2) Identifikasi terhadap lansia yang akan menerima pelayanan untuk kesediaannya ikut dalam program pelaksanaan kesejahteraan sosial lanjut usia. 3) Seleksi atau penetapan lanjut usia sebagai penerima pelayanan kesejahteraan sosial dalam panti, dilakukan oleh petugas panti. Adapun persyaratan bagi calon penerima pelayanan adalah : Lansia berusia 60 tahun keatas. Lansia tidak lagi memiliki atau tidak di ketahui sanak saudaranya. Lanjut usia yang nyata-nyata tidak diurus sebagai mana layaknya lansia yang lain. b. Lanjut usia yang tidak mau hidup dilingkungan keluarga.

Tahap pelaksanaan pelayanan Tahap mulai di laksanakan kegiatan pemberian pelayanan kesejahteraan sosial usia lanjut oleh UPT. Penerimaan lanju usia yang sudah di tetapkan atau di seleksi menjadi penerima pelayanan panti dengan cara : 1) Pencatatan atau registrasi yaitu pencatatan dalam buku induk, pengisi formulir kesehatan, penerimaan surat keterangan lansia dari instansi terkait. 2) Penelaan dan pengungkapan masalah tentang kondisi, kemauan kemampuan lansia menerima pelayanan disesuaikan dalam

perolehan pelayanan panti.

36

3)

Penempatan pada program pelayanan UPT dengan memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, perawatan kesehatan dan berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luang. Pemberian bimbingan ( fisik mental, sosial serta ketrampilan ) berdasarkan pada : 1) Penelaan kemampuan dan kemauan lansia. 2) Upaya pencegahan serta penyesuaian diri lansia dengan lingkungan fisik dan sosialnya.

c.

Tahap Resosialisasi Yaitu tahap persiapan akhir dari suatu proses pelayanan bagi para lanjut usia yang akan diambil keluarganya seperti : 1. Upaya mempersiapkan lanjut usia kembali kepada keluarga / keluarga asuh. 2. Upaya mempertahankan kondisi lanjut usia setelah berada di luar UPT. 3. Pemberian kepastian berakhirnya pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia dari UPT berdasarkan pertimbangan keradaan / kondisi terakhir lanjut usia.

4. Ketenagaan Kebutuhan tenaga di UPT sebaiknya berimbang antara tenaga pelaksanaan pelayanan dengan penerima pelayanan. Tenaga pelaksana yang memenuhi persyaratan pendidikan sesuai dengan bidang tenaga, secara umum ketenagaan dibagi dalam dua bidang yaitu tenaga administrasi dan tenaga teknis. 5. Peralatan pelayanan Peralatan yang diperlukan oleh lanjut usia meliputi : a. b. Peralatan penginapan. Peralatan makan. 37

c. d. e. f. g. h. 6. Mekanisme pelayanan

Peralatan ketrampilan. Peralatan pembinaan mental spiritual. Peralatan olah raga. Peralatan terapi. Peralatan hiburan. Peralatan pelayanan kesehatan.

a.Hubungan dengan instansi terkait. Masyarakat lanjut usia mencakup aspek fisik psikologis dan sosial, oleh karenanya pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia memerlukan pelayanan secara terpadu dengan beberapa instansi terkait, antara lain : Kerjasama dengan departemen kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi lanjut usia yang memerlukan. Kerjasama dengan departemen agama dalam memberikan pelayanan pendidikan mental agama yang diselenggarakan dengan para petugas kantor agama setempat. Kerjasama dengan departemen perindustrian dalam kerja sama pelaksanaan kegiatan ketrampilan untuk mengisi waktu luang sesuai dengan ketrampilan yang dibutuhkan para lanjut usia. Kerjasama dengan pemerintah daerah setempat dalam hal yang berkaitan dengan pemakaman. b. Hubungan dengan panti lain termasuk pelimpahan Untuk meningkatkan kualitas pelayanan panti maka perlu dijalin hubungan kerja sama dengan panti lain yang antara lain dalam hal : Saling tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan panti-panti, pemberian pelayanan kesejahteraan sosial pada lanjut usia. 38

Melaksanakan reveral pada sosial lain apabila lanjut usia mempunyai kasus-kasus yang membutuhkan penanganan oleh panti sosial lain. Melaksanakan kerja sama dalam pelaksanaan seleksi untuk menjamin hasil yang optimal. Hubungan dalam rangka proses penyaluran dan proses pelayanan.

39

BAB III PENGKAJIAN

3.1 Pengkajian Kelompok Usia Lanjut UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi Langkah pertama dalam kegiatan pelaksanaan praktek keperawatan gerontik di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi adalah menganalisa situasi. Hasil analisa situasi dapat menggambarkan situasi umum tempat praktek yang selanjutnya dapat dijadikan pedoman dalam merencanakan tindakan berikutnya, data yang diperoleh dalam pelaksanaan analisa situasi adalah

indentitas panti, latar belakang pendirian panti, misi, visi dan motto panti, tujuan panti, struktur panti, kapasitas panti, sarana dan prasarana panti, kegiatan dalam panti, hubungan lintas sektoral dan lintas sektor, distribusi pendanaan, data kesehatan yang disajikan dalam bentuk analisa SWOT.

3.1.1 Identitas Panti Nama Panti Alamat Pengelola : UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi : Jl. Raya Jember No. 186 : Pemerintah Daerah Tk I Jawa Timur

3.1.2 Latar Belakang Pendirian Panti Pembangunan nasional bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945, telah menghasilkan kondisi masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usiapun makin bertambah. Dengan bertambahnya jumlah lanjut usia, permasalahan yang dihadapi bertambah pula, meskipun banyak diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, 40

berbangsa dan bernegara namun karena faktor usianya akan banyak menghadapi keterbatasan sehingga memerlukan bantuan untuk peningkatan taraf kesejahteraannya dan penanganan yang profesional agar terpenuhi kebutuhan hidup baik jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan bagi mereka memikirkan menuju lanjut usia sejahtera, tua berguna dan berkualitas sehingga mereka aman, tentram dan sejahtera. Upaya pelayanan kesejahteraan sosial dan rehabilitasi sosial bagi para lanjut usia yang terlantar, telah dilaksanakan melalui UPT Pelayananan Sosial Lanjut Usia Krikilan Banyuwangi yang merupakan UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur sejak 01 Januari 2009 yang dahulunya merupakan UPS Bina Karya Banyuwangi yang mengangani orang gelandangan dan pengemis yang induknya berada di Pasuruan. 3.1.3 Visi, Misi, dan Motto Panti 1) Visi Terwujudnya peningkatan taraf kesejahteraan dan perlindungan sosial bagi lanjut usia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Misi a. Melaksanakan tugas pelayanan dan penyantunan serta

rehabilitasi sosial bagi lanjut usia dalam upaya memenuhi kebutuhan jasmani, rohani dan sosial sehingga di hari tua diliputi dengan rasa kebahagiaan, ketentraman lahir batin. b. Mengembangkan sumber potensi bagi lanjut usia sehingga

dapat berfungsi sosial secara layak. c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan lanjut

usia terlantar. 3) Motto Tua Berguna dan Berkualitas

41

3.1.4 Tujuan 1) Tersedianya pedoman kerja bagi para pengurus dan petugas di lingkungan Panti Sosial Lanjut Usia dalam melaksanakan program pelayanan kesejahteraan lanjut usia 2) Meningkatkan komitmen dan profesionalisme pengurus dan petugas Panti Sosial Lanjut Usia dalam merancang, mengimplementasikan dan mengontrol program pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia. 3) Terwujudnya Pemberian pelayanan sosial yang profesional di Panti Sosial Lanjut Usia. 4) Terciptanya mekanisme kerja yang efektif dan efisien untuk menjamin mutu dan hasil pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia di Panti Sosial Lanjut Usia. 5) Meningkatkan mutu pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia di Panti Sosial Lanjut Usia. 3.1.5 Keberhasilan Untuk merealisasikan tujuan di maksud, maka perlu adanya upaya keberhasilan program kegiatan yang dilaksanakan UPT meliputi : 1) Pendekatan awal meliputi kegiatan Orientasi dan konsultasi Sosialisasi Identifikasi Motivasi dan seleksi

2) Kegiatan penerimaan meliputi : Pemanggilan Penerimaan, meliputi : o Pendaftaran o Bimbingan orientasi

42

o Pemahaman masalah (assesment) 3) Merencanakan program pelayanan Yaitu untuk menetapkan jenis pelayanan yang di butuhkan klien dalam mendapatkan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan Memberikan bimbingan, meliputi : Bimbingan fisik dan kesehatan o Melaksanakan kerja bakti bersama o Melaksanakan senam pagi pada hari jumat o Melaksanakan pemeriksaan kesehatan klien o Melakukan pengobatan bagi klien yang sakit Bimbingan ketrampilan o Pembuatan keset kain o Pembuatan kemoceng o Olahan pangan o Pertanian Bimbingan sosial dan mental Bimbingan lanjut Keberhasilan dari pelaksanaan pelayanan pada UPT Pelayanan Sosial Lnjut Usia Banyuwangi dapat dilihat dari indikator antara lain : Klien lanjut usia dapat menikmati hari tuanya dengan aman, tentram, dan layak Terpenuhinya kebutuhan lanjut usia baik jasmani, rohani serta sosial Meningkatnya peran serta dari masyarakat dan lembaga sosial yang menangani lanjut usia

43

Terlaksananya pelayanan sosial bagi lanjut usia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi sesuai dengan standart yang telah ditentukan. 3.1.6 Struktur Organisasi Struktur organisasi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi sebagai berikut :

KEPALA UPT Drs. PUJI RIYANTO NIP. 19560921 198203 1 004

SUB BAGIAN TATA USAHA EDY MOELYONO, A.Ks, M.Si NIP. 19661101 198901 1002

SEKSI PELAYANAN SOSIAL PURWANTO PRIJATMOJO, S.Sos NIP. 19610402 198401 004

SEKSI BIMBINGAN DAN PEMBINAAN LANJUT SUKARYANTO, SE, MSi NIP. 19640625 199403 1 008

Ketenagaan : Jumlah tenaga yang ada di panti ada 23 pegawai dengan perincian sebagai berikut : 1. Tenaga organik ( PNS ) 17 orang terdiri dari : a. b. Pejabat Eselon III Pejabat Eselon IV : 1 orang : 3 orang 44

c. d. e. 2.

Pejabat fungsional Staf Satpol PP

: 0 orang : 10 orang : 3 orang

Tenaga non PNS ada 4 orang terdiri dari : a. b. c. Pesuruh kantor Tukang kebun : 1 orang : 1 orang

Pembimbing/pengasuh: 2 orang

3.

Tenaga outsourcing : a. Perawat : 2 orang

Jumlah hunian yang berada di wisma berdasarkan jenis kelamin Jumlah Hunian Laki-laki Nama Wisma Wisma Sri tanjung 0 Wisma Sayu Wiwit 22 Wisma Minak Jinggo I 7 Wisma Minak Jinggo II 2 Ruang Perawatan Khusus 1 Total hunian 32 Berdasarkan hasil pendataan pada tanggal 09 Agustus 2012 Perempuan 12 4 3 8 11 38

3.1.7

Sarana dan Prasarana Panti

1) Bangunan perumahan Bangunan panti merupakan bangunan permanen dengan dinding tembok, lantai keramik, atap genting, ventilasi dan pencahayaan cukup, yang terdiri dari : a. Wisma sebanyak b. Kantor c. Aula d. Musholla e. Ruang keterampilan f. Ruang poliklinik : 3 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah

45

g. Gudang h. Pos Penjagaan i. Ruang perawatan khusus j. Rumah pembimbing k. Garasi l. Dapur

: 1 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah : 1 buah

(Sumber data sekunder UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia 2012). 2) Sarana Air bersih Sumber air bersih dari sumur tandon 3) Jamban Jamban sejumlah 20 buah, Hampir Keseluruhan jamban masih baik, jamban ada yang menggunakan kloset jongkok dan kloset duduk 4) Sarana Pembuangan air limbah Pengelolaan pembuangan air limbah menggunakan SPAL tertutup dengan septik tank menjadi satu dengan jamban. 5) Sarana Ibadah Sarana ibadah berupa masjid 6) Model tempat tidur Tempat tidur tinggi kurang lebih 30 cm, panjang 1,5 m, lebar 1 m tanpa pengaman atau pembatas tempat tidur 7) Lampu penerangan Lampu penerangan cukup.

8) Lantai Kondisi lantai baik, kebersihan perlu dijaga untuk mencegah resiko cedera. 9) Kamar mandi dan WC

46

Kondisi kamar mandi dan WC kotor dan perlu ditambahkan pegangan tangan untuk menuju kamar mandi. 10) Ruang keterampilan Menjadi satu dengan aula. 11) Tempat Olah Raga Olah raga dilaksanakan di depan Kantor Panti, pelaksanaan senam lansia dimulai pukul 07.00 07.30 WIB. Setiap hari jumat 12) Ruang makan Ruang makan bersama sudah ada, beberapa lansia ada yang makan di ruang makan atau di kamarnya 13) Transportasi Mobil phanter Sepeda motor : 1 buah : 3 buah

47

3.1.8 Kegiatan dalam Panti Jadwal kegiatan lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi adalah sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama M. Imron Hasan tamami Slamet suhermanto Jatim Ummu azizah Jamaati Imam TS Swaibatun Ansori Materi Bimbingan sumber daya manusia Bimbingan sosial Pembinaan Sosial Rabu Bimbingan Mental Ketrampilan keset kain Ketrampilan kemucing Senin Ketrampilan pertanian/perkebunan Ketrampilan olahan pangan Bimbingan spiritual Sabtu Selasa Rabu 15.00-16.00 16.00-17.00 13.00-14.00 14.00-15.00 18.00-19.00 19.00-20.00 Kamis Jumat Hari Senin Selasa 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-11.00 18.00-19.00 19.00-20.00 09.00-10.00 10.00-11.00 I II 13.00-14.00 14.00-15.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-11.00 18.00-19.00 19.00-20.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 15.00-16.00 16.00-17.00 13.00-14.00 14.00-15.00 18.00-19.00 19.00-20.00 Minggu III 13.00-14.00 14.00-15.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-11.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 15.00-16.00 16.00-17.00 13.00-14.00 14.00-15.00 18.00-19.00 19.00-20.00 IV 13.00-14.00 14.00-15.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-11.00 18.00-19.00 19.00-20.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 15.00-16.00 16.00-17.00 13.00-14.00 14.00-15.00 18.00-19.00 19.00-20.00 V 13.00-14.00 14.00-15.00 18.00-19.00 19.00-20.00 09.00-10.00 10.00-11.00 08.00-09.00 09.00-10.00 Jumlah jam 8 jam 8 jam 12 jam 8 jam 8 jam 8 jam

8 jam 8 jam 8 jam

48

10

Sarman

Bantu diri

Selasa Kamis Sabtu

07.00-08.00 08.00-09.00 08.00-09.00 09.00-10.00 09.00-10.00 10.00-11.00

07.00-08.00 08.00-09.00 08.00-09.00 09.00-10.00 09.00-10.00 10.00-11.00

07.00-08.00 08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-11.00

07.00-08.00 08.00-09.00 08.00-09.00 09.00-10.00 09.00-10.00 10.00-11.00

08.00-09.00 09.00-10.00

24 jam

Catatan : Disesuaikan dengan hari kalender setiap bulannya

49

2) Jadwal kegiatan pengurus panti a. Perhari Perawatan pada lansia, pemenuhan kebutuhan lansia, kegiatan rutin administrasi dan bimbingan sosial b. Perminggu

Olah raga dan rapat koordinasi c. Bulanan

Rapat bulanan d. Tahunan

Rapat tahunan

3.1.9

Distribusi pendanaan Distribusi pendanaan di tanggung oleh pemerintah propinsi jawa

timur. Biaya dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur sebesar Rp. 15.000,untuk makan satu orang serta kebutuhan lainnya belum terhitung pajak.

3.1.10 Data kesehatan pertahun 1) Jumlah kematian Pada tahun 2009 Pada tahun 2010 Pada tahun 2011 : 3 orang : 3 orang : 13 orang : 3 orang

Pada tahun 2012, bulan Januari 09 Agustus 2012

50

2) Jumlah kesakitan Pada bulan Januari Agustus 2012 sebagai berikut : Jenis Penyakit Rheumatik Hipertensi Diare Katarak Asma Jumlah 3) Jumlah 14 orang 11 orang 10 orang 4 orang 1 orang 40 orang

Masalah yang berhubungan dengan kesehatan klien dipanti Pola kebiasaan klien yang salah misalnya merokok. Kebersihan diri yang kurang Istirahat klien yang tidak teratur Klien yang cenderung sulit untuk dinasehati /diberitahu Keterbatasan penyediaan obat

3.1.11 Urutan 5 penyakit terbanyak pada lanjut usia mulai Januari s/d 09 Agustus 2012: 1) Rheumatik 2) Hipertensi 3) Diare 4) Katarak 5) Asma 6) Dermatitis 7) Stroke 8) Epilepsi

3.1.12 Tempat pelayanan kesehatan dan perawatan 1) Rumah sakit

51

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Bekerja sama dengan Rumah Sakit Rustida Krikilan apabila ada pasien yang membutuhkan perawatan yang lebih lanjut. 2) Puskesmas UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia juga bekerjasama dengan Puskesmas setempat sebagai rujukan lansia yang sakit dengan pemeriksaan kesehatan serta pengobatan dan perawatan kesehatan secara rutin. 3) Panti Terdapat tenaga keperawatan lulusan D3 Keperawatan yang memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan

3.1.13 Bentuk pelayanan kesehatan Disamping melakukan kegiatan lintas sektoral, UPT pelayanan sosial lanjut usia mengadakan kegiatan pembinaan internal tingkat panti, berupa penyediaan tenaga kesehatan lulusan D3 Keperawatan. Secara Umum kegiatan pelayanan kesehatan bagi lanjut usia meliputi : a. Pemeriksaan kesehatan rutin yang dilaksanakan oleh tenaga

kesehatan setiap pagi yaitu berupa pemeriksaan tekanan darah, nadi, dan temperatur. b. Pencatatan hasil pemeriksaan usia lanjut secara sederhana

meliputi : nama, umur, dan hasil pemeriksaan umum masalah kesehatan fisik (tanda vital, keluhan umum, gejala dan tanda penyakit). c. Pengobatan sederhana bagi lanjut usia yang mengalami sakit

dengan memberikan obat generik esensial dasar untuk mengatasi gejala (obat simptomatik) d. Perawatan bagi lanjut usia yang mengalami sakit dimana

kegiatan yang dilakukan berupa pemantauan umum kondisi kesehatan

52

setelah penyakit. e.

mendapatkan

obat

simptomatik,

berupa perkembangan

Pendidikan kesehatan pada lanjut usia dengan gangguan

kesehatan tertentu. f. Penyelenggaraan rujukan medis bagi lansia, paling tidak

menyelenggarakan rujukan medis ke puskesmas

3.2 Analisa SWOT Dan Rencana Strategi Pemecahan Masalah Pada bab ini akan dibahas dan diuraikan hasil analisa kelompok setelah melihat teori dan membandingkan dengan hasil pengamatan yang dilakukan UPT pelayanana sosial lanjut usia. Dalam menganalisa akan diuraikan secara sistematika mengenai keadaan panti secara umum yang dilanjutkan dengan keadaan ideal yang diharapkan berdasarkan permasalahan yang ada : 3.2.1. Keadaan umum 1) Kondisi geografis panti UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia yang terletak di Jln. Jember no.186 Krikilan Banyuwangi merupakan lokasi yang sangat strategis, karena mudah untuk dicapai seluruh lapisan masyarakat dan lokasinya dekat dengan jalan raya. Luas tanah 8,450 m2, kondisi cuaca kecamatan Glenmore yang sejuk sepanjang tahun, merupakan faktor yang sangat mendukung bagi lansia untuk mempertahankan kenyamanan lansia, mudahnya sumber-sumber pendukung bagi kelangsungan panti, seperti sumber air, sumber listrik, dan transportasi yang memadai akan sangat mendukung dalam operasional panti. 2) Dukungan pemerintah Dukungan pemerintah terhadap keberadaan UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia ini sangat besar, hal ini terlihat dari Perda Pemprov Jawa Timur yang menjadikan panti ini sebagai suatu lembaga sosial yang berada langsung 53

dibawah pemerintah propinsi dengan pertimbangan untuk mempermudah pengembangan terutama yang berhubungan dengan pendanaan dan pengembangan sumber daya manusia. 3) Sumber daya manusia Sumber daya manusia tenaga pengelola panti seluruhnya berjumlah 23 orang, terdiri dari pegawai negeri sebanyak 17 orang dan 6 orang berstatus honorer. 4) Sarana dan prasarana Secara umum sarana dan prasarana di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia sudah cukup, namun perlu peningkatan. Ada beberapa hal yang masih perlu menjadi perhatian khusus yaitu : Belum adanya tempat atau tanah pemakaman Tempat tidur tidak ada pengaman atau pembatas tempat tidur terutama di ruang khusus sehingga mengakibatkan resiko cedera pada lansia. Belum adanya ruang khusus untuk ketrampilan Belum adanya mobil ambulance Tidak adanya besi pegangan di jalan menuju kamar mandi.

5)Lampu penerangan Lampu penerangan yang digunakan sudah cukup terang. namun perlu adanya pengawasan lebih lanjut untuk menindak lanjuti beberapa kamar yang lampunya redup. Hal ini sangat mempengaruhi lansia dimana terjadi penurunan penglihatan yang memungkinkan terjadi resiko cedera. 6)Lantai kamar Lantai kamar klien dan sebagian besar lantai diseluruh ruangan berbahan keramik, dimana pada satu sisi sebenarnya memudahkan perawatannya karena mudah dibersihkan, namun bagi lansia sendiri keadaan lantai

54

berbahan keramik tersebut kurang sesuai karena akan menjadi sangat licin bila tertumpahi air yang akan menimbulkan resiko cidera yang sangat tinggi pada klien lansia. Karena kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih agar kekhawatiran lansia cidera tidak terjadi. 7)Kamar mandi dan WC Kondisi umum kamar mandi dan WC sudah cukup baik, hanya perlu dilakukan pengawasan ketat dari pendamping wisma dan pekerja sosial serta keseluruhan staf untuk menjaga kebersihan dan keamanan bagi lansia pengguna kamar mandi dan WC tersebut. Dimana perlu diadakan pembersihan sesering mungkin, karena tipe dan lantai kamar mandi cepat sekali untuk menjadi licin. 8)Ruang sosialisasi Ruang sosialisasi yang digunakan oleh lansia untuk kegiatan rekreatif serta beberapa kegiatan lain sudah cukup memadai di dukung tempat duduk, meja, serta sound sistem untuk mendukung kegiatan - kegiatan sosialisasi yang rutin di adakan di panti. 9)Tempat sarana olah raga Kegiatan senam lansia yang sering diadakan didepan kantor sudah cukup baik. 10) Ruang makan Ruang makan bagi lansia dimana keseluruhan lansia dapat berkumpul bersama untuk makan sudah ada. Hal ini sangat bagus karena lansia dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama rekannya lebih luas 11) Tempat ibadah Tempat ibadah sudah cukup representatif dan bersih, akan tetapi letaknya jauh dari wisma sehingga pada waktu hujan di khawatirkan jalanan yg cukup licin dapat menimbulkan cidera bagi lansia dan membuat lansia cepat lelah karena jaraknya yang cukup jauh. 55

12) Sumber air minum Sumber air minum berasal dari air sumur lalu di masak, dengan demikian kondisinya sangat layak untuk dikomsumsi. 13) Kebersihan lingkungan kamar Kebersihan lingkungan disekitar panti dan keseluruhan kamar pasien sudah cukup baik hanya saja perlu dilaksanakan pengawasan oleh pendamping wisma karena tidak semua klien lansia mempunyai persepsi yang sama terhadap kualitas kebersihan kamar masing-masing. Dimana sebagian besar aktivitas lansia dilaksanakan didalam kamar dan bila kondisi kebersihan kamar kurang kondusif akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia tertama di ruang khusus. 14) Pendanaan Selama ini anggaran berasal dari sumber dana utama yaitu Pemprov Jawa Timur ditambah dengan bantuan dari beberapa donatur yang sifatnya tidak rutin sehingga dalam pengelolaan dana operasional menjadi sangat berat. 3.2.2 Lansia

1) Populasi lansia Kapasitas UPT Panti Sosial Lanjut Usia Banyuwangi adalah 70 orang dimana saat ini terisi semua. Populasi lansia ini sangat potensial atau rawan terhadap gangguan kesehatan sehingga klien mudah mengalami kesakitan. Mengingat tenaga keperawatan yang tersedia hanya dua orang sehingga kurang dapat melaksanakan perawatan secara komprehensif secara keseluruhan dari penghuni panti. 2) Kegiatan lansia Kegiatan yang dilaksanakan bagi lansia sudah cukup bervariasi dan memberikan manfaat yang sangat positif bagi lansia, seperti kegiatan bimbingan sosial, sumber daya manusia, pembinaan sosial, bimbingan mental, ketrampilan keset kain, ketrampilan kemucing, ketrampilan 56

pertanian/perkebunan, ketrampilan olah pangan dan agama, senam lansia. Adanya kegiatan yang bersifat lintas program dan lintas sektoral yang dirintis oleh pengelola panti merupakan bukti nyata bahwa pola aktivitas yang diberikan bagi lansia bersifat komprehensif namun perlu kiranya pengelola panti lebih aktif menggali potensi kerjasama dengan unit-unit lain guna mendukung program kegiatan yang telah direncanakan oleh panti.

3.2.3 Kebutuhan sehari-hari 1) Makan/minum Secara garis besar kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh lansia sudah memenuhi standar gizi dengan adanya upaya dari pihak pengelola panti untuk membuat variasi menu. Namun beberapa lansia merasa jenuh dengan menu yang disediakan. Dapur umum menyediakan 3 kali makan bagi lansia ditambah dengan 2 kali snack tambahan dengan teh dan kopi. Kebutuhan minum yang

disediakan oleh dapur dengan jumlah yang tidak terbatas sehingga lansia bebas minum dan memungkinkan untuk mencegah masalah yang berkaitan dengan hidrasi. 2) Kebersihan diri Lansia secara umum mandi 2 kali sehari dengan air sumur tandon dengan menggunakan peralatan mandi yang telah disediakan oleh pihak panti, sedangkan di ruang khusus lansia mandi 1 kali sehari. Akan tetapi pihak panti rupanya belum mempertimbangkan penggunaan air hangat untuk mandi bagi lansia karena penggunaan air dingin yang berkepanjangan merupakan suatu precursor terjadinya penurunan integritas kulit dan mempengaruhi fungsi muskuloskeletal dan pernafasan klien. 3) Berpakaian 57

Pihak pengelola panti menyediakan pakaian ganti sehari-hari, pakaian olah raga dan pakaian sembahyang secara rutin serta adanya donatur yang menyumbang pakaian membantu penyediaan kebutuhan sandang bagi lansia. 4) Pola interaksi Dari hasil pengamatan mahasiswa selama melakukan kegiatan praktek terlihat bahwa pola interaksi antara lansia cenderung tertutup. Biasanya masalah pribadi yang dirasakan dipendam sendiri sehingga hal ini jika dibiarkan akan menjadi prekursor timbulnya komplik berkepanjangan dan menggangu hubungan sosial bahkan timbul depresi. Pola komunikasi yang diterapkan pendamping wisma dan pekerja sosial tidak selalu

menggunakan komunikasi 2 arah hal ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang tidak seimbang antara lansia dengan pekerja sosial sehingga menyulitkan dalam menggali permasalahan pribadi yang dimiliki klien. 5) Kebutuhan spiritual Setiap 1 minggu sekali diadakan kegiatan pengajian di masjid UPT Panti Sosial Lanjut Usia.

3.2.4. Analisa kondisi pelayanan kesehatan UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi Adanya pelayanan kesehatan yang ditangani secara khusus merupakan satu keuntungan tersendiri sehingga memungkinkan adanya kepastian pelayanan kesehatan dan sekaligus menjadi indikator kasar adanya jaminan pelayanan kesehatan dipanti. Pihak pengelola panti telah menyediakan suatu fasilitas poliklinik kesehatan serta ketersediaan tenaga keperawatan sebagai pengelola klinik dan bertanggung jawab terhadap kesehatan umum dari penghuni panti secara keseluruhan. Namun jumlah 58

tenaga kesehatan masih kurang mencukupi jika dibandingkan dengan jumlah lansia. Kondisi tersebut diatas merupakan suatu bukti adanya perhatian khusus dari pemerintah khususnya penanggung jawab pengelolaan panti serta pihak pengelola panti sendiri bahwa ada niat yang sangat serius untuk meningkatkan derajat kesehatan penghuni panti. Dari sumber kekuatan yang dimiliki oleh panti tersebut perlu kirannya dipikirkan untuk pengembangan sumber daya manusia yang ada. Kebutuhan akan pengembangan staf khususnya dalam bidang

kesehatan/keperawatan merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Hal ini disebabkan oleh karena para lansia yang ada sangat rentan dan potensial terjadi gangguan kesehatan. Status kesehatan lansia tidak saja dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor keturunan, namun juga perlu diperhatikan faktor perilaku dari lansia tersebut. Faktor perilaku ini meliputi pola aktivitas, pola makan, istirahat serta pola yang lainnya. Oleh sebab itu perlu pengawasan secara ketat terhadap perilaku para lansia sehingga dapat memenuhi syarat kesehatan. Untuk itu perlu kirannya dipikirkan pelatihan bagi pendamping wisma dan pekerja sosial, sehingga pengawasan tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan/perawatan. Tapi lebih ditekankan dan dilakukan secara komprehensif serta terfokus pada permasalahan kesehatan yang ada. Modifikasi lingkungan fisik perlu ada untuk menunjang kesehatan lansia juga merupakan suatu standar bagi panti yang harus segera direalisasikan guna mendukung peningkatan derajat kesehatan lansia.

59

3.2.5. Analisa SWOT Berdasarkan analisa data yang telah dilaksanakan maka kami mencoba membuat analisa SWOT baik (Strength) kekuatan, Weakness (kelemahan), opportunity (sumber peluang) serta threatened (ancaman). Yang dapat dilihat di bawah ini.

Strength (S) Pendirian panti berdasarkan dasar hukum yang kuat;

Weakness (W) Jumlah tenaga perawat yang kurang; Dana pengelolaan panti sangat

Opportunity(O) Angka harapan hidup semakin meningkat; Adanya potensi pengembangan ke arah orientasi profit; Adanya donatur dari luar; Menjadi keperawatan Banyuwangi; Adanya petugas kesehatan; Adanya kerjasama dengan pihak luar panti untuk meningkatkan lahan gerontik praktek di

Threatened (T) Adanya kondisi ekonomi berkepanjangan; Peningkatan akibat moneter; Banyak masyarakat

krisis yang

Memiliki visi dan misi yang jelas; Type panti : Eselon III/UPT; SDM (Sumber Daya Manusia) terdiri dari 17 orang PNS, 4 orang honorer/non PNS dan 2 orang tenaga outsourching;

minim untuk mencukupi kebutuhan panti; Belum ada tenaga profesional dalam bidang kesehatan (SI perawat atau dokter); Kurang adanya interaksi sosial bagi lansia yang memiliki keterbatasan gerak; Mayoritas lansia buta huruf;

pengeluaran krisis

pengaruh

yang

tidak tahu visi, misi panti sehingga yang salah; Mulai bermunculan pendirian muncul persepsi

Adanya jiwa pengabdian yang tinggi dari petugas

Adanya dukungan dari kepala panti

60

dan staf terhadap mahasiswa yang praktek; Adanya kerjasama lintas sektoral dan lintas program; Adanya sarana dan prasarana yang mendukung; Sudah swadana; Adanya sumber dan tempat mulai mencoba klien

Tempat

fasilitas

umum

untuk

mutu pelayanan panti; Adanya kebijakan SDM untuk (Sumber

panti swasta; Lokasi panti yang jauh dari perkotaan sehingga belum

kegiatan lansia yang lokasinya lebih tinggi dari wisma; Ada beberapa lansia (laki-laki dan perempuan ) yang merokok; Lansia di perawatan khusus belum mendapat pelayanan yang optimal; Sosialisasi yang kurang antar

pengembangan Daya Manusia);

banyak yang tahu; Lokasi dekat dengan jalan raya sehingga resiko terjadi kecelakaan lalu lintas tinggi; Tuntutan terhadap panti; dari mutu masyarakat pelayanan

Kerjasama panti dengan instansi lain misalnya puskesmas, rumah sakit dan instansi pendidikan; Adanya lahan kosong yang dapat digunakan untuk pengembangan panti;

penghuni wisma; Sosialisasi petugas panti dengan lansia masih kurang; Belum menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) bagi petugas di ruangan perawatan khusus; Belum adanya peralatan emergency (oksigen, bag Valve Masker /

penampungan air; Tempat tinggal penghuni panti permanent; Adanya fasilitas tempat ibadah, olah raga, keterampilan, ruang pertemuan dan hiburan; Banyak lansia yang masih

Tersedia berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk

penghuni panti.

61

mempunyai kemandirian; Penerangan panti dan lingkungan cukup.

ambubag) Latar belakang lansia sebagian

terlantar; Belum ada petugas gizi yang

mengawasi kualitas dan kuantitas makanan bagi lansia; Jalan dalam panti naik turun dan bertangga; Kamar mandi dan sebagian besar lorong hunian tidak ada pegangan dan licin; Kemauan penghuni panti yang

menurun untuk interaksi social; Sistem pendokumentasi keperawatan yang belum memadai; Letak penyedot udara diatas

62

sehingga tidak mampu mengeluarkan bau yang ada didalam karena sumber bau berada dibawah; Belum ada petugas perawat yang berjaga selama 24 jam; Belum ada peralatan gawat darurat seperti tabung oksigen; Belum adanya tempat/tanah

pemakaman; Kondisi almari klien yang belum mencukupi khusus; Belum ada pengaman tempat tidur terutama di ruang khusus. terutama di ruang

63

Berdasarkan analisa SWOT tersebut diatas tampak beberapa garis besar permasalahan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia yaitu : a. Pelayanan untuk penghuni ruang perawatan khusus perlu ditingkatkan. b. Keadaan sumber daya manusia profesional dibidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan kesehatan lansia yang masih kurang. c. Pendokumentasian tiap lansia sebaiknya ada di masing-masing wisma. d. Adanya resiko injuri (jatuh) pada lansia penghuni panti. e. Interaksi sosial yang kurang antar penghuni panti. f. Interaksi social masih belum tampak antar petugas dengan penghuni panti / lansia.

g. Sistem ventilasi perlu dimodifikasi letaknya.

Analisa Data Masalah Keperawatan Dari hasil pengkajian terhadap 7 klien lansia yang menjadi sasaran asuhan keperawatan mahasiswa Program Pendidikan Ilmu Keperawatan STIKES

Banyuwangi, didapatkan sebagian besar permasalahan adalah : 1) Personal hygine/kebersihan diri; 2) Interaksi Sosial; 3) Risiko Injury atau Cedera; 4) Total Care di Ruang Perawatan Khusus. No Masalah 1. Personal hygine/kebersihan diri Data 1. Sebelum dan sesudah makan 1. tidak mencuci tangan pakai sabun; 2. Pasien yang mengalami total 2. care hanya di mandikan 1 kali dalam sehari; 3. Oral hygine yang kurang. 3. saat mandi Solusi Perlu adanya wastafel/tempat cuci tangan; Perlu adanya penambahan tenaga perawat; Pada petugas

64

seharusnya melakukan oral hygine. 2 Interaksi Sosial 1. Jad wal dan pelaksanaan untuk sosialisasi bagi lansia sudah ada di Panti; 2. Kli en mengikuti kegiatan yang ada di Panti, namun sebatas 2. hanya kemudian selesai mengikuti saat saja kegiatan Interaksi 1. Perlu mengadakan sosialisasi secara untuk kegiatan terus

menerus tidak hanya secara keseluruhan Panti tetapi juga di tiap Wisma; Dalam mengadakan sosialisasi kegiatan perlu

masalah

memperhatikan klien secara individu bagi klien yang Meni ngkatkan pengawasan dan

sosial kembali muncul. 3 Risiko Cedera Injury 1. / Penurunan fungsi system 1. penglihatan, musculoskeletal; 2. Keadaan jalan di Panti yang naik turun dan bertangga; 3. 4. Lantai bila basah akan licin; WC Jongkok belum ada pegangan. 3. 2. system

mengalami masalah ini.

memberikan bantuan dalam klien beraktifitas; Meni ngkatkan peran serta klien lain terutama yang relative sehat; Mem asang pegangan pada jalan menuju kamar mandi; 4. Menj aga kebersihan lantai agar tidak basah, memasang keset yang tidak licin;

65

5.

Mem asang pegangan pada WC, terutama yang WC jongkok.

Total Care pada 1. Klien di

Perawatan

total

terhadap 1. ada petugas

Perlu yang piket

ruang klien belum optimal ( hanya pada jam kerja saja ); 2. Universal Pre Caution bagi petugas yang belum optimal; 2.

Perawatan Khusus.

menjaga di Perawatan khusus selama 24 jam, dengan diatur siftnya; Pengada an dokumentasi

perkembangan klien berada di ruangan dengan petugas

mengisi perkembangan klien secara rutin; 3. an dan Pengada pemakaian alat

pelindung diri bagi petugas yang piket di ruang

Perawatan Khusus, seperti : sepatu karet, kaos tangan, masker, skort, dan Pengadaan Standar Operasional

Prosedur untuk petugas dalam mewaspadai Caution; 4. Diadaka universal Pre

66

n perawatan dekubitus setelah selesai mandi

67

BAB IV PERENCANAAN

Berdasarkan permasalahan yang didapatkan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi, sesuai dengan pengkajian yang sudah dilakukan dengan analisa SWOT maka dibuat perencanaan sebagai berikut : A. PENGORGANISASIAN Pembimbing Lahan : Edy Moelyono, A.Ks.,M.Si Pembimbing Teknis: 1) 2) Ketua Sekretaris Purwanto Prijatmojo, S.Sos Sukaryanto, SE, M.Si

: Achmad Efendi : Saiful Efendi

Bendahara : Ari Kuswanto Anggota :1) Rindi Amanda Sari 2) Purtiningtyas 3) Levi Aprilian Mustika

B. RENCANA STRATEGI : Masalah Rencana jangka pendek Rencana jangka panjang Pelayanan untuk penghuni 1) Membuat jadwal dinas 1) Mengoptimalkan SDM ruang perawatan khusus perlu ditingkatkan di ruang perawatan peralatan yang (Sumber Daya Manusia) yang ada melalui seminar, pelatihan dan pendidikan berkelanjutan; ruang perawatan khusus selama 24 jam dalam khusus; 2) Memberi minimal

dibutuhkan di ruang 2) Membuat jadwal dinas di perawatan khusus; 3) Pengawasan petugas

68

wisma dalam

pada

lansia menjaga

bentuk shif.

kebersihan diri. Tenaga profesional bidang Mengoptimalkan pelayanan yang masih kurang yang ada melalui 1) Seminar 2) Pelatihan Pendokumentasian - masing wisma Resiko Injuri pada lansia tiap Pengisian buku SDM 1) Penambahan pengembangan dengan kebutuhan (1 perawat 10 klien); 2) Pendidikan berkelanjutan. dan sesuai

keperawatan (Sumber Daya Manusia)

lansia harus ada di masing

laporan setiap hari Pengadaan KMS lansia Tersedianya dan prasarana sarana Pengadaan yang pengaman alat alat untuk

menunjang keamanan penataan/modifikasi penghuni panti dalam lingkungan ( pegangan di tiap beraktifitas baik diluar wisma). ataupun wisma di dalam misalnya

tongkat, sandal yang tidak licin, keset; Meningkatkan staf Interaksi kurang panti sosial antar yang panti penga dalam antar melibatkan meningkatkan kualitas wasan dan keterlibatan membantu lansia. Meningkatkan kerjasama penghuni wisma; Sering klien dalam kegiatan bersama di wisma; Sistem ventilasi perlu Sering melakukan Memodifikasi penyedot udara system terapi kelompok; Menyalakan system penyedot udara setiap hari

penghuni

kegiatan yang melibatkan kerjasama kelompok.

dimodifikasi letaknya

69

BAB V PELAKSANAAN

Selama menjalankan praktek klinik keperawatan Gerontik selama 10 hari mahasiswa STIKES Banyuwangi Angkatan I Program Profesi Kelompok A, selain mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal oleh panti mahasiswa juga membuat program beberapa kegiatan antara lain : 1. Pemeriksaan kesehatan Jadwal kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan oleh mahasiswa dilaksanakan pada : Hari/tanggal Tempat Jumlah lansia : Senin, 09 Juli 2012 : Di wisma masing masing lansia : 70 orang

Dalam kegiatan ini mahasiwa melakukan pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengukuran Tekanan darah dan menanyakan keluhan. Evaluasi : Struktur Seluruh anggota dapat melakukan tugasnya dengan baik sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan lancar Proses Kegiatan dilakukan sesuai dengan rencana di wisma masing masing lansia. Hasil Dari hasil pemeriksaan kesehatan sebagain besar klien mengalami hipertensi.

70

2. Terapi Aktifitas Kelompok dan kesenian Kegiatan rekreasi bagi lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Bayuwangi dilaksanakan pada : Hari/tanggal Tempat Jenis kegiatan Jumlah peserta : Rabu, 11 Juli 2012 : Aula UPT Panti Sosial Lanjut Usia : Karaoke : 40 orang ( Tidak semua lansia mengikuti karena ada sebagian lansia yang mengalami penurunan fisik) Semua peserta mengikuti sampai akhir kegiatan dan tampak senang. 3. Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan kesehatan dilaksanakan pada : Hari/tanggal Tempat Topik Jumlah peserta : Rabu, 11 Juli 2012 : Aula UPT Panti Sosial Lanjut Usia : Asma dan TBC : 30 orang

Semua peserta mengikuti sampai akhir kegiatan dan tampak antusias. 4. Olahraga Dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 13 Juli 2012 Pukul 07.00 07.30 WIB melalui senam lansia (terra) yang dipandu oleh penanggung jawab olahraga panti dan mahasiswa.

71

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan Setelah mahasiswa STIKES Banyuwangi Angkatan I Program Profesi Kelompok A, melaksanakan Praktek Klinik Keperawatan Gerontik di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia, maka dapat kami simpulkan sebagai berikut : 1. UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Banyuwangi dalam proses berubah masih

banyak keterbatasan antara lain, SDM, sarana dan prasarana 2. Masih kurang optimalnya perawatan terhadap lansia, terutama yang berada di

ruang Perawatan Khusus 3. Masalah keperawatan yang sebagian besar muncul dari 1 klien yang

diberikan asuhan keperawatan oleh mahasiswa adalah gangguan interaksi sosial dan risiko injury atau cedera 4. Mengingat keterbatasan waktu mahasiswa, hasil dari intervensi untuk

mengatasi masalah yang muncul tidak optimal 5. injury. 6.2 Saran 1. Perlu pengawasan dan perbedaan dalam penatalaksanaan menu terutama untuk lansia yang menderita penyakit tertentu misalnya tekanan Darah Tinggi, Kencing Manis; 2. Sangat perlu ditingkatkan interaksi sosail antara petugas panti dengan lansia, tidak hanya salah satu petugas tapi semua petugas agar lebih mengenal tentang kebutuhan lansia; 3. Komposisi, variasi dan cara penyajian menu tetap perlu perhatian untuk menghindari kebosanan; Masih kurangnya system pengamanan/pegangan besi untuk mencegah resiko

72

4. Perlu ada dokumentasi tentang perkembangan klien di masing masing Wisma yang secara rutin di isi oleh pembina Wisma; 5. Perlu adanya pengaturan petugas yang jaga di ruang Perawatan Khusus selama 24 jam. 6. Perlu adanya Alat Pelindung Diri bagi petugas di ruang Perawatan Khusus agar terhindar dari penyakit yang menular; 7. Pelayanan kesehatan lansia perlu ditingkatkan dengan cara : a. Pelayanan dari Puskesmas perlu diusulkan tidak saja bersifat kuratif, tetapi perlu juga pelayanan yang bersifat promotif dan preventif; b. General Chek Up para lansia dilakukan minimal setiap 6 bulan sekali; c. Pelayanan keperawatan perlu diprioritaskan pada aktivitas kehidupan seharihari (ADL) meliputi : Makan Minum Mandi Ganti pakaian Berdandan Toileting

8. Pelayanan keperawatan terhadap lansia yang mengalami sakit perlu : Observasi tanda vital (Tekanan Darah/Nadi/Pernapasan/Suhu); Kolaborasi tentang terapi dengan Medis / terapi yang didelegasikan; Melaksanakan terapi keperawatan secara mandiri dan kolaboratif; Melaksanakan perawatan diri (Personal Hygiene) bagi lansia. 9. Melaksanakan Health Education tentang perawatan mandiri dan cara hidup sehat bagi lansia baik secara individu maupun kelompok; 10. Untuk menghindari mal function tugas/peran perawat panti perlu diatur jadwal kegiatan rutin dan jam kerja dalam sehari;

73

11. Untuk jangka panjang perlu adanya penambahan fasilitas penunjang kesehatan (pegangan dikamar mandi) untuk kesehatan lansia keseluruhan dan didirikan balai pengobatan lansia yang dapat melayani lansia di Panti dan masyarakat umum disekitar Panti : Perlu ditambahkan tenaga perawat di Panti dengan menghitung ratio : Jumlah lansia dengan perawat yang dibutuhkan ( 1 : 10 ). Perlu diusulkan atau dipertimbangkan tentang alokasi dana / biaya kesehatan yang dianggarkan untuk setiap lansia per hari. Bila memungkinkan diperlukan mencari pihak Sponsor (sebagai Donatur untuk Panti) bila tidak bertentangan dengan etika, visi dan misi Panti. Bimbingan rohani tetap perlu ditingkatkan mencakup semua agama yang dianut oleh setiap lansia dengan berkerjasama dengan Depag (Rohaniawan).

74

DAFTAR PUSTAKA

Annette G. Lueckenotte, 1996. Gerontologic Nursing, Sint louis Mosby Year Book. Inc. Barbara C. Long, 1989. Perawatan Medical Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Sint Louis. Mosby Year Book. Inc. Darmojo, Boedhi dan Martono Hadi. 2000. Buku Ajar Geriatri Usia Lanjut). Jakarta: FKUI. Depkes RI. 1994. Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: PPNI. Depkes RI. 1994. Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Rumah Sakit. Jakarta: PPNI Effendy Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta: EGC Gaffar, La Ode Jumadi. 1997. Pengantar Keperawatan Profesional. Hardywinoto dan Setiabudhi, Tony. 1999. Panduan Gerontologi; Tinjauan dari Berbagai Aspek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Hudak and Gallo, 1994. Keperawatan Kritis, Philadelphia Lippincott Company. Lueckenotte, 1998. Pengkajian Gerontologi. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Lumbantobing. 1995. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta: FKUI. Nugroho, Wahjudi. 1992. Perawatan Lanjut Usia. Jakarta: EGC. Priharjo, Robert. 1995. Praktek Keperawatan Profesional, Konsep Dasar dan Hukum. Jakarta: EGC. Susilo, Madyo Eko dan Bambang Triyanto. 1991. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Semarang: Effhar. Untari, Salinan Penerbit Lansia, UNAIR S Wahjudi Nugroho, 1992. Perawatan Lanjut Usia. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. (Ilmu Kesehatan

75