Anda di halaman 1dari 10

Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Kondisi Medis

Gambaran Umum 3 Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis atau yang sering disebut dengan istilah psikosomatis baru digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman, Johann Christian Heinroth dan psikiater Inggris, John Charles Bucknill.

Pengertian 1 Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.

Etiologi 1 1. Stres umum Tomas Holmes dan Richard Rahe menyusun Social Readjustment Rating scale Berisi 43 kejadian hidup dan bobot stresnya masing-masing Skor lebih dari 200 dalam setahun meningkatkan insidensi gang psikosomatik

2. Stres psikis spesifik Stres spesifik atau tipe kepribadian untuk masing-masing gangguan psikosomatis Kepribadian tipe A (Flanders Dunbar) : susah diatur, agresif, mudah tersiggung, dan rentan terhadap penyakit jantung. Kepribadian tipe B (Franz Alexander) : terdapatnya konflik bawah sadar yang membuat kecemasan yang diperantarai sistem saraf otonom sehingga menghasilkan gangguan yang spesifik. 3. stres psikis non spesifik kronik Teori ini menyatakan bahwa stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang mengarah ke gangguan fisik.

Seseorang yang mengalami kecemasan atau depresi yang kronik lebih rentan untuk mengalami gangguan psikosomatis.

Kriteria diagnostik 1,3 1. Terdapat suatu kondisi medis umum 2. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dalam salah satu cara berikut: Faktor psikologis telah mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum, dalam hal perkembangan atau keterlambatan penyembuhan. Faktor psikologis mempengaruhi terapi/pengobatan dari kondisi medis umum. Faktor psikologis menyumbang risiko kesehatan tambahan bagi individu. Respon fisiologis yang berhubungan dengan mengeksaserbasi gejala kondisi medis umum stres mencetuskan atau

Jenis-jenis gangguan Psikosomatis, penyebab, dan terapi 1,3 1. Gangguan Gastrointestinal a. Ulkus Peptikum Penyebab : teori spesifik Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan ketergantungan yang kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik. Konflik bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis. Reaksi dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada orang yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat terjadi Terapi : Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien. Dapat juga dilakukan biofeedback dan terapi relaksasi. b. Kolitis Ulseratif Penyebab : teori spesifik Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu, hiperintelektual, malumalu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan

Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik pada kolitis ulseratif yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban (biasanya tidak patuh) sampai kepada inti ketergantungan. Ketergantungan yang mengalami frustasi menstimulasi perasaan agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan. Menghasilkan pemulihan melalui diare. Terapi : psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif. c. Obesitas Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak. Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan), khususnya pada makan pesta pora. Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan penilaian berlebihan terhadap makanan. Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal yang buruk dalam asupan makanan. Terapi : dukungan emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet. 2. Gangguan Kardiovaskular a. Penyakit arteri koroner Tipe kepribadian. Flanders Dunbar: pasien penyakit koroner berkepribadian agresifkompulsif, cendenung bekerja dengan waktu panjang, dan untuk meningkatkan kekuasaan. Meyer Fiedman dan Ray Rosenman: kepriibadian tipe A dan B. Kepribadian tipe A berhubungan kuat dengan penyakit jantung koroner. Orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai tujuan dengan cara permusuhan yang kompetitif, memiliki peningkatan jumlah lipoprotein densitas rendah, kolesterol serum, trigliserida, dan 17- hidroksikolestenol. Kepribadian tipe B: santai, kurang agresif, kurang aktif berjuang mencapai tujuannya. Terapi : untuk menghilangkan ketegangan psikis, digunakan psikotropika. Psikoterapi supportif untuk menghilangkan stres psikis, kompulsif, dan ketegangan. b. Hipertensi Esensial Tipe kepribadian. Orang hipertensif tampak dari luar menyeriangkan, patuh, dan kompulsif; walaupun kemarahan mereka tidak diekspresikan secara terbuka, memiliki banyak kekerasan yang terhalangi.

Predisposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terjadi stres kronis pada kepribadian kompulsif yang telah merepresi dan menekan kekerasan. Terapi: Psikoterapi suportif dan teknik perilaku (contoh: biofeedback, meditasi, terapi relaksasi). c. Gagal jantung kongestif Faktor psikologis, seperti stres dan konflik emosional nonspesifik, seringkali bermakna dalam mulainya atau eksaserbasi gangguan. Terapi : psikoterapi suportif. d. Sinkop Vasomotor (Vasodepresor) Menurut Franz Alexander, rasa khawatir atau takut menghambat impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. Dengan demikian menampung darah di anggota gerak bawah, dari vasodilatasi pembuluh darah di dalam tungkai. Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pengisian ventrikel, penurunan pasokan darah ke otak, dan akibatnya hipoksia otak dan kehilangan kesadaran. Terapi: Psikoterapi harus digunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau trauma yang berhubungan dengan sinkop. e. Aritmia jantung Aritmia yang potensial membahayakan hidup kadang-kadang terjadi bersama dengan luapan emosional. Juga berhubungan dengan trauma emosional seperti takikardi sinus, perubahan gelombang ST dan gelombang T, peningkatan katekolamin plasma, dan konsentrasi asam lemak bebas. Stres emosional tidak spesifik, dan penjelasan kepribadian yang berhubungan dengan gangguan. Terapi: psikoterapi. f. Fenomena Raynaud Kontraksi arteniolar seringkali disebabkan oleh stres ekstemal. Terapi: dapat diobati dengan psikoterapi suportif, relaksasi progresif, atau biofeedback dengan melindungi tubuh dari dingin dan menggunakan sedatif ringan. 3. Gangguan Pernafasan a. Asma bronkialis Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan kronis berkombinasi untuk menimbulkan penyakit.

Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik yang telah diidentifikasi. Alexander mengajukan faktor konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan, serangan asthma terjadi, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didaptkan, serangan asma terjadi. Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu (disebut parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan: individual, kelompok, perilaku(desensitisasi sistematik), dan hipnotik. b. Hay Fever Faktor psikologis yang kuat berkombinasi dengan elemen alergi. Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan. c. Sindroma Hiperventilasi Differential diagnosis pada psikiatrik adalah serangan kecemasan, panik, skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan fobik atau obsesif. Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan dengan gejala tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan oleh hiperventilasi, sehingga pasien secana sadar menghindani pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah kantong dapat menghentikan serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan. d. Tuberkulosis Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan stres akutdan kronis. Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi dayatahan pasien terhadap penyakit. Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara menyeluruh, tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi psikiatrik dan neunologis dan besar kemungkinannya mengalami stress. Terapi : Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi psikososial yang rumit.

4. Gangguan Endokrin a. Hipertiroidisme Pertimbangan psikosomatik. Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali disentai dengan onset hipertiroidisme. Teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien hipertiroid memiliki penlekatan yang tidak lazim dan ketergantungan pada onangtua, biasanya kepada ibu. Mereka menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu. Sebagai anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut. Terapi: psikoterapi suportif. b. Diabetes Melitus Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres emosional, yang mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi. Faktor psikologis yang tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan perasaan fnustnasi, kesepian, dan kesedihan. Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya. Jika mengalami depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii makan atau ininum benlebihan yang merusak diri sendini, sehingga diabetes menjadi tidak terkendali. Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama dalam penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus mendorong pasien diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal mungkin, dengan menyadari bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat ditangani. c. Gangguan Endokrin Wanita Sindroma pramenstruasi Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi. Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam patogenesis gangguan. Penderltaan Menopause (Menopause Distress) Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti harga diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan rentan terhadap kesulitan selama menopause.

Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan sosial dan simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause Terapi: gangguan psikologis harus dipeniksa dan diobati tenutama oleh tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai. Psikoterapi harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti ketuaan dan reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk menenima menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk mengembangkan aktivitas, ininat, dan kepuasaan baru. Psikoterapi juga harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung keluarga dan sosial Iainnya jika diperlukan. 5. Gangguan Muskoskeletal a. Artritis Rheumatoid Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid dan penyakit autoimun lain melalui supresi kekebalan. Pasien merasa terkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali memiliki rasa marah yang terepresi karena terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga memperberatkekakuan dan imobilitas mereka. Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan latihan harus terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak menjadi tenikat pada tempat tidur dan kembali ke aktivitas mereka sebelumnya. b. Low Back Pain Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya dimulai pada saat trauma psikologis atau stres. Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional, dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan. Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional pencetus, terapi relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong kembali ke aktivitas mereka segera mungkin. 6. Gangguan Kulit a. Pruritus menyeluruh Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan. Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh adalah kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan perhatian merupakan karakteristik umum pada pasien. Terapi : Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang dibalikkan kepada diri sendiri.

b. Pruritus setempat Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau faktor sisemik umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah besar pasien mengungkapkan bahwa penyimpangan kepribadian seringkali mendahului kondisi dan gangguan emosional seringkali mencetuskan gejala ini. Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani menggosok dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml adalah simbolik dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi. Sebagian besar pasien yang diteliti memberikan riwayat panjang frustrasi seksual, seringkali diperkuat pada saat onset pruritus. c. Hiperhidrosis Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan meningkatnya sekresi keringat. Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan aksiia. Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh, punggung tangan, dan lengan bawah. Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis menyebabkan perubahan kulit sekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi. 7. Psiko-Onkologi Jika pasien mengetahui bahwa mereka menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%). Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada populasi umum.

Diagnosa Banding 2 Gangguan disosiatif (konversi) Gangguan somatoform (somatisasi, hipokondria, nyeri menetap, dll)

Daftar Pustaka 1. Sadock BJ & Sadock VA, Psychological Factor Affecting Physical Conditions in th Psychosomatic medicine. Kaplan & Sadock Synopsis of psychiatry 10 ed. Philladelphiam. Lippincot Williams & Wilkins. 2007. P. 813-28. 2. Maslim R. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya 3. dr.Akhmad Fadly Noor,C.Ht,M.NLP. Gangguan Psikomatis. Dapat diunduh di http://www.brain-klinik.blogspot.com/