Anda di halaman 1dari 7

Perencanaan Keuangan pada Perusahaan Bank Syariah

Definisi Perencanaan Keuangan Untuk mencapai suatu tujuan atau hasil, sebuah perusahaan atau seseorang harus mempunyai suatu perencanaan. Di dalam bidang keuangan misalnya, untuk mencapai tujuan keuangan itu diperlukan adanya perencanaan keuangan. Dimana perencanaan keuangan adalah proses pencapaian tujuan hidup/tujuan keuangan seseorang atau perusahaan melalui manajemen keuangan secara terencana. Menurut Lawrence J. Gitman (2006), Financial Planning adalah Planning that begins with a long term, or strategic, financial plans that it turn guide the formulation of short term, or operating, plans and budgets. Berdasarkan pendapat Lawrence tersebut, perencanaan keuangan dibagi atas dua macam, yaitu: 1. Perencanaan Keuangan Jangka Panjang (Strategis) Perencanaan keuangan jangka panjang adalah gambaran besar aktivitas keuangan yang direncanakan oleh perusahaan dan dampak yang dapat diantisipasi akibat aktivitas tersebut dalam periode 2 sampai 10 tahun. Untuk mencapainya menajemen mempertimbangkan faktor-faktor risiko yang dapat membahayakan kondisi usaha bank. Bank tidak boleh mengabaikan praktik-praktik dan prinsip-prinsip perbankan yang sehat. 2. Perencanaan Keuangan Jangka Pendek (Operasional) Perencanaan keuangan jangka pendek adalah gambaran spesifik dari aktivitas keuangan jangka pendek yang dilakukan oleh perusahaan dan dampak dari aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Jadi, perencanaan keuangan merupakan suatu bagian penting dalam keuangan perusahaan. Dimana manajer merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan tersebut, karena seorang manajer harus dapat merencanakan dan mengambil langkah-langkah agar perusahaan mencapai tujuannya.

Perbedaan Perencanaan Keuangan antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah Pada dasarnya, perbedaan perencanaan keuangan antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada penggunaan instrumen dan unsur-unsur keuangan yang ada didalamnya. Dimana pada prinsipnya bank syariah memiliki nilai dan prinsip syariah. Sesuai dengan apa yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, yakni terbebas dari unsur MAGHRIB (Maisir, Gharar, dan Riba). Perlakuan Perencanaan Keuangan pada Bank Syariah Pada dasarnya perencanaan keuangan di bank syariah merupakan bagian dari manajemen keuangan bank secara umum. Dimana, pada perencanaan keuangan bank syariah terdapat asas dan prinsip syariah dalam perlakuan pada arus kas, manajemen sumber dana, manajemen penggunaan dana. 1. Arus Kas Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas serta kas. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa arus kas merupakan jumlah kas yang mengalir masuk dan keluar dari suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dengan kata lain, arus kas adalah perubahan yang terjadi dalam jumlah kas perusahaan selama suatu periode tertentu. Arus kas perusahaan tercermin dalam laporan perubahan posisi keuangan yang berbasis kas yaitu laporan arus kas. Informasi yang diberikan berupa informasi penerimaan kas dan pengeluaran kas suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Laporan arus kas dibuat untuk mengetahui sumber kas yang diperoleh dan pengalokasian kas selama satu periode kegiatan perusahaan. Tujuan utama dari laporan arus kas adalah memberikan informasi yang relevan mengenai pemasukan dan pengeluaran kas perusahaan baik rutin maupun tidak rutin selama satu periode. Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan berarti perusahaan mempunyai resiko yang lebih kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya. Tetapi hal ini tidak berarti perusahaan harus mempertahankan persediaan kas dalam jumlah yang besar karena semakin besar kas maka semakin banyak uang yang menganggur.

Perusahaan yang mampu menghasilkan kas yang cukup dari aktivitas operasinya kemungkinan besar memiliki kondisi keuangan yang sehat karena tidak tergantung pada sumber pembiayaan dari luar perusahaan. Perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat akan mampu bertahan hidup dan memenuhi kewajiban kewajiban pada saat jatuh tempo. 2. Manajemen Sumber Dana Sumber dana yang terlihat pada sisi pasiva neraca atau yang disebut dengan manajemen pasiva (liability management) adalah suatu proses dimana bank berusaha mengembangkan sumber-sumber dana yang nontradisional melalui pinjaman di pasar uang atau dengan menerbitkan instrumen utang untuk digunakan secara menguntukan terutama untuk memenuhi alokasi yang produktif. Pemilihan sumber dana akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung. Keberhasilan bank dalam menghimpun dana atau mobilisasi dana sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:1 a. Kepercayaan masyarakat pada suatu bank akan memengaruhi kemampuan bank dalam menghimpun dana masyarakat, yang terlihat dari kinerja, kapabilitas, integritas serta kredibilitas manajemen bank, b. Ekspektasi, yaitu prakiraan pendapatan yang akan diterima nasabah dibandingkan dengan alternatif investasi lainnya dengan tingkat risiko yg sama. c. Keamanan, yaitu jaminan oleh bank atas dana nasabah d. Ketepatan waktu pengembalian simpanan nasabah harus selalu tepat waktu e. Pelayanan yang cepat, akurat, dan fleksibel f. Pengelolaan dana bank yang hati-hati Secara garis besar, sumber dana dapat diperoleh dari:2 a. Dana Masyarakat (Dana Pihak Ketiga) Dana pihak ketiga adalah dana yang diperoleh dari masyarakat dalam mata uang rupiah maupun dalam valuta asing. Pada sebagian besar atau setiap bank, dana masyarakat ini umumnya merupakan dana
1 2

Veithzal Rivai. Bank and Financial Intitution Management. (Jakarta: Rajawali Pres, 2007) hal. 412 Muhammad. Manajemen Dana Bank Syariah. (Yogyakarta: Ekonisia, 2005)

terbesar yang dimiliki. Dimana hal ini sesuai dengan fungsi bank yaitu sebagai penghimpun dana. Berdasarkan prinsip tersebut Bank syariah dapat menarik Dana Pihak Ketiga (DPK) atau masyarakat dalam bentuk:3 Titipan (wadiah) simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan. Menurut Sri Nurhayati dan Wasilah (2008), wadiah adalah akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang/barang kepada pihak yang menerima titipan dengan catatan kapanpun titipan diambil pihak penerima titipan wajib menyerahkan kembali uang/barang titipan tersebut dan yang dititipi menjadi penjamin pengembalian barang titipan. Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed account untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah mutlaqah) di mana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan porofolio yang didanai dengan modal tersebut. Investasi khusus (special investment account/mudharabah muqayyadah) di mana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee. Jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil resiko atas investasi

b. Kewajiban Segera Lainnya Semua kewajiban bank (dalam rupiah dan atau valuta asing), baik segera maupun yang dapat ditangguhkan kepada pihak ketiga bukan bank, yang tidak dapat dimasukkan ke dalam Dana Pihak ke-III, dana pihak ke-II, dana pihak ke-I4. Yang termasuk di dalam kewajiban segera ini adalah kewajiban kepada pihak ketiga bukan bank yang dapat ditagih pemiliknya dan harus segera dibayar. Seperti kewajiban kepada Bank Indonesia, kewajiban kepada bank lain, surat berharga yang diterbitkan, dll.

3 4

Zainul Arifin. Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah. (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2009) Op cit, Veithzal Rivai

c. Dana Pinjaman (Dana Pihak Kedua) Dana yang diperoleh dari pihak luar bank (dalam rupiah dan atau valuta asing) yang biasa disebut dengan dana pihak kedua yaitu dana yang berasal dari pihak yang memberikan pinjaman kepada bank.5 Dana pinjaman ini diterima dari bank lain (dalam dan atau luar negeri), Bank Indonesia, lembaga keuangan (dalam dan atau luar negeri), serta pihak lain dengan kewajiban pembayaran kembali berdasarkan persyaratan perjanjian pinjaman. d. Dana Sendiri (Dana Pihak Kesatu) Dana pihak kesatu berasal dari pemilik ataupun pemegang saham. Pada dasarnya, setiap bank akan selalu berusaha untuk meningkatkan jumlah dana sendiri. Kemampuan setiiap bank untuk meningkatkan modal akan tercermin dari besarnya CAR (Capital Adequacy Ratio) bank tersebut. Hal ini merupakan suatu ukuran tingkat kemampuan dan kesehatan suatu bank, yang kemudian akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank. 3. Manajemen Penggunaan Dana Pada dasarnya penggunaan dana dibagi menjadi dua macam, yaitu: a. Aktiva yang Tidak Menghasilkan (non earning assets) Merupakan penempatan dana oleh bank dalam aset yang tidak menghasilkan keuntungan secara finansial, akan tetapi penempatan itu harus dilakukan untuk memenuhi kewajiban kepada nasabah. Terdiri dari: Primary Reserve : Kas, saldo Giro di BI (GWM) Penanaman dalam Aktiva Tetap : Aktiva tetap dan Inventaris Kantor, Persediaan barang cetakan

b. Aktiva yang Menghasilkan (earning assets) Merupakan penempatan dana oleh bank dalam aset yang menghasilkan pendapatan untuk menutup biaya-2 yang dikeluarkan oleh
5

Op cit, Veithzal Rivai

bank. Dari aktiva inilah bank mengharapkan adanya selisih (margin) keuntungan dari kegiatan funding dan lending. Terdiri dari: Secondary reserve (earning reserve) : SBPU, SBI, commercial paper dll.. Pinjaman yg diberikan (kredit) Investasi dana jangka panjang (Penyertaan) o Untuk memperoleh keuntungan o Dalam rangka penyelamatan kredit dari usaha bermasalah o Perluasan usaha dll.

Kesimpulan Perencanaan keuangan merupakan suatu proses pencapaian tujuan keuangan seseorang ataupun perusahaan melalui menajemen keuangan yang sudah terencana. Perencanaan keuangan terbagi dalam dua bagian yaitu perencanaan keuangan jangka panjang dan perencanaan keuangan jangka pendek. Pada dasarnya perencanaan keuangan di bank syariah dengan bank konvensional itu sama. Namun di dalam bank syariah, terdapat prinsip dan asas syariah di dalam perencanaan keuangan tersebut. Perlakuan perencaan di bank syariah terdapat dalam tiga bagian yaitu arus kas, manajemen sumber dana, dan manajemen penggunaan dana.