Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PENGARUH PERSEPSI KUALITAS, NILAI EMOTIONAL, DAN KESELARASAN CITRA DIRI DIRI TERHADAP MINAT PEMBELIAN ULANG

PADA HYPERMART BEKASI


Oleh Nama : Christian Wiradendi Wolor NIM : 24090178/F
METODOLOGI PENELITIAN Manajemen Konsentrasi Pemasaran

IBII INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA INDONESIA Jl. Yos Sudarso Kav. 87, Jakarta Utara 14350 2011/2012

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pada saat sekarang ini dengan bertambah majunnya suatu teknologi komunikasi dan informasi maka sekarang pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai alternative dalam hal pemilihan produk yang ingin dibelinnya. Terlepas dari itu semua perusahaan juga mempunyai suatu syarat agar dapat sukses dalam suatu persaingan yaitu berusaha untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan itu sendiri. Selain itu, mempertahankan pelanggan jauh lebih murah dibandingkan perusahaan harus mencari pelanggan yang baru karena akan menambah biaya yang dikeluarkan. Pelanggan merupakan asset yang mempunyai peranan penting dalam

menentukan keberhasilan perusahaan dan tujuan umum dari hubungan pemasaran adalah untuk membangun dan mempertahankan pelanggan yang dapat menguntungkan perusahaan (Zeithaml dan Bitner, 1996). Oleh Karena itu, mengingat pelanggan mampu menciptakan suatu potensi untuk meningkatkan potensi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang maka upaya untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan merupakan prioritas utama perusahaan. Minat beli ulang yang tinggi mencerminkan tingkat kepuasan konsumen terlebih lagi ketika memutuskan untuk membeli suatu produk. Keputusan untuk membeli suatu produk timbul setelah konsumen mencoba produk tersebut dan kemudian timbul rasa suka atau tidak suka terhadap produk yang kita beli tersebut. Rasa suka terhadap produk dapat diambil bila konsumen mempunyai persepsi bahwa produk yang mereka rasa dan pilih adalah produk yang berkualitas baik dan tentunya dapat memenuhi keinginan dan harapan konsumen. Dengan kata lain produk tersebut mempunyai nilai yang tinggi di mata konsumen. Tingginya minat membeli ini akan membawa dampak yang positif terhadap keberhasilan produk di pasar.

Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor persepsi kualitas. Zeithaml (1988) mengidentifikasikan persepsi kualitas sebagai komponen dari nilai merek dimana persepsi kualitas yang mengarahkan konsumen untuk memilih merek tinggi akan

tersebut dibandingkan dengan oleh konsumen berpengaruh

merek pesaing.

Persepsi kualitas

yang dirasakan

terhadap kesediaan konsumen tersebut untuk membeli sebuah produk (Chapman dan Wahlers, 1999). Persepsi kualitas jasa dengan lima dimensi kualitas jasa berhubungan positif terhadap minat beli ulang pelanggan (Li dan Lee, 2001). Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985, 1988) mengemukakan bahwa terdapat hubungan positif secara langsung antara persepsi kualitas dengan minat beli ulang.

Faktor lainnya yang mempengaruhi proses pembelian ulang adalah nilai emosional dan keselarasan citra diri. Nilai emosional menurut Janele (2000) nilai ekonomi atau perasaan yang bernilai moneter yang muncul ketika pelanggan mendapatkan pengalaman positif atas produk dan jasa yang dipakai. Nilai emosional itu sendiri sebanyak kualitas atau dimensi lain dari organisasi itu sendiri dapat membuat atau merusak bisnis yang kita jalankan. Masyarakat saat ini dapat dengan cepat bergerak dari ekonomi jasa kepada ekonomi pengalaman. Akibatnya, saat ini konsumen bukan hanya menginginkan produk dan jasa dengan kualitas terbaik, mereka juga menginginkan pengalaman positif, emosi yang menyentuh, dan mudah diingat. Keselarasan citra diri juga turut juga berperaan dalam proses pembelian ulang karena menyangkut akan konsep dan citra diri konsumen tersebut dalam mengkonsumsi produk atau jasa yang dibelinnya.

Objek yang mau diteliti pada penilitian ini adalah Hypermart . Hypermart (Matahari Food Business) merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan PT Matahari Putra Prima Tbk. Sepanjang 2011, PT Matahari Putra Prima Tbk mendapatkan omzet penjualan Rp 13,8 triliun ini meningkat 15% dibandingkan penjualan tahun 2010 yang senilai Rp 12 triliun. Pada tahun 2011, Matahari sudah membuka 39 gerai Hypermart di seluruh Indonesia dan 47 gerai pada tahun 2010 (www.google.com, 2012). Menurut Economic Review 2012, terdapat tiga hypermarket yang menguasai 88,59 persen omzet domestik, yaitu Hypermart menguasai 22,1 persen, Carrefour menguasai hampir 50 persen, dan Giant (Hero Group) dengan pangsa 18,5 persen.

Tabel 1.1 Omzet Toko Modern Terbesar di Indonesia dalam US$ Juta

Merek Toko Carrefour Ramayana Matahari Hypermart Giant

Format Toko Hipermarket Departement Store Departement Store Hipermarket Hipermarke

Tahun 2011 789 530 472 385 357

Sumber: Majalah Ritel Asia 2012 dalam www.bisnis.com

Pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa Hypermart menduduki peringkat keempat omzet toko modern terbesar di Indonesia yaitu sebesar US$ 385 juta dan peringkat kedua dalam format toko hypermarket pada tahun 2011. Pada tahun 2009, omzet penjualan Hypermart mencapai Rp 4.455 miliar, pada tahun 2010 mencapai Rp 5.662 miliar dan pada tahun 2011 mencapai Rp 6.490 miliar (www.matahari.co.id, 2012). Selama periode Januari-Februari 2011.Penjualan Hypermart sendiri diperkirakan mencapai Rp 1,087 triliun. Dari keterangan di atas dapat kita lihat bahwa omzet Hypermart mengalami

peningkatan penjualan dari tahun ke tahun yang menandakan bahwa Hypermart tidak kalah bersaing dengan hypermarket lainnya dan Hypermart tetap menjadi pilihan utama konsumen dalam berbelanja dan melakukan pembelian ulang baik karena harga yang murah, barang yang ditawarkan maupun lingkungan dalam toko. Dengan motto low price and more yang berarti harga murah dan masih banyak keuntungan lainnya. Tentunya Hypermart mengharapkan jumlah konsumen yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Dengan adanya kenaikan omzet dari tahun ke tahun secara signifikan menandakan juga adannya kepuasan dan adanya keinginan terhadap pembelian ulang di Hypermat itu sendiri.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka ingin dilakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Persepsi, Nilai Emotional, dan Keselarasan citra diri terhadap Minat Pembelian ulang pada Hypermart Bekasi.

1.1 Identifikasi Masalah Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka masalah masalah yang dapat di identifikasi adalah : 1. Apakah Persepsi kualitas sesorang atas suatu produk berpengaruh terhadap Minat Pembelian Ulang pada Hypermart Bekasi ? 2. Apakah Nilai Emotional berpengaruh terhadap terhadap Minat Pembelian Ulang pada Hypermart Bekasi ? 3. Apakah Keselarasan citra diri berpengaruh terhadap terhadap Minat Pembelian Ulang pada Hypermart Bekasi ? 4. Apakah Menghindarkan diri dari kesamaan, Pilihan tidak populer, dan Pilihan yang kreatif berpengaruh terhadap pengaruh persepsi ? 5. Apakah pilihan yang tidak populer mempengaruhi nilai emotional ?

1.2 Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, penulis membatasi penelitian pada pengaruh persepsi, nilai emotional, dan kesluruhan terhadap Minat Beli Ulang pada Hypermart Bekasi berdasarkan data Bulan Januari 2009 sampai dengan Februari 2012. 1. Apakah Persepsi kualitas sesorang atas suatu produk berpengaruh terhadap Minat Pembelian pada Hypermart Bekasi ? 2. Apakah Nilai Emottional berpengaruh terhadap terhadap Minat Pembelian pada Hypermart Bekasi ? 3. Apakah Keselarasan citra diri berpengaruh terhadap terhadap Minat Pembelian Ulang pada Hypermart Bekasi ?

1.4 Batasan Penelitian Agar tujuan pembahasan ini menjadi lebih terarah untuk mencapai sasaran yang diinginkan, maka penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1) Aspek Objek : Hypermart Bekasi 2) Aspek Waktu : Rabu, 28 Maret 2012

1.5 Perumusan Masalah

Dengan melihat batasan masalah diatas, maka dapat dibuat suatu rumusan masalah yang akan dianalisa dan diteliti sehingga dapat memperoleh hasil yang jelas dan tepat. Rumusan masalah tersebut adalah:
Apakah Persepsi, Nilai emotional, dan Keselarasan citra diri berpengaruh terhadap Minat Pembelian Ulang pada Hypermart Bekasi.

1.6 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.6.1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang ada maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel-variabel yang berpengaruh terhadap persepsi kualitas nilai emosional, dan keseluruhan nilai berkaitan dengan minat beli ulang dari konsumen serta memberikan solusi atas permasalahan yang dirumuskan pada penelitian ini sebagai berikut :
1. Menganalisis pengaruh Persepsi Kualitas terhadap Minat Pembelian ulang 2. Menganalisis pengaruh Nilai Emosional terhadap Minat Pembelian ulang 3. Menganalisis pengaruh Keselarasan citra diri terhadap Minat Pembelian ulang 4. Menganalisis pengaruh Persepsi Kualitas, Nilai emosional, dan Keselarasan citra

diri terhadap Minat Pembelian ulang

1.6.2. Manfaat Penelitian

a. Bagi perusahaan Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh dari variabel-variabel yang dapat mempengaruhi perilaku minat beli ulang dari konsumen serta memberikan

solusi berupa saran terhadap pengelolaan variabel-variabel tersebut.

b. Bagi masyarakat Memberikan pengetahuan terhadap masyarakat terutama bagi mereka yang ingin berkecimpung didalam dunia bisnis dan berkaitan dengan usaha

mempertahankan merek serta mempertahankan keberadaan pelanggan.

c. Bagi pendidikan Memberikan kontribusi bagi kalangan akademis mengenai pentingnya

pengelolaan terhadap variabel-variabel yang dapat mempengaruhi minat beli ulang dari konsumen melalui persepsi kualitas, Nilai emosional, dan Keselarasan citra diri.

Bab II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN


2.1. Kajian Teori

2.1.1. Pembelian Ulang

Minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Terdapat perbedaan antara

pembelian aktual dan minat pembelian. Bila pembelian aktual adalah pembelian yang benar-benar dilakukan oleh konsumen, maka minat pembelian adalah niat untuk melakukan pembelian pada kesempatan mendatang. Menurut (James, Roger, Paul, 1995) Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Minat beli ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan

mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu. James, Roger, dan Paul juga mendeskripsikan bahwa dalam minat pembelian ulang dibagi menjadi dua kategori yaitu (1) baik produk maupun merk dan (2) kelas produk saja (misalnnya, ada niat untuk membeli coklat tanpa memperhatikan merk apa). Pada kategori yang pertama merupakan hasil keterlibatan yang tinggi dari konsumen. Konsumen bersedia meluangkan waktunnya untuk berbelanja dan membeli produk. Pada kategori yang kedua dimana adannya pembelian dimana pilhan merk dibuat di tempat penjualan.

Menurut (Hawkins, Best, dan Coney, 1998) pembelian ulang dimana adannya pembelian keberlanjutan dengan merk yang sama. Arnold (2002) mengatakan bahwa banyak perusahaan dan marketer menjadi tertarik untuk bagaimana carannya agar tercipta suatu adannya pembelian ulang.

Menurut Keller (1998), minat konsumen adalah seberapa besar konsumen membeli suatu merek

kemungkinan

atau seberapa besar kemungkinan konsumen

untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya.

Konsumen dimanapun

dan

kapanpun

akan

dihadapkan

dengan

sebuah

keputusan pembelian untuk melakukan transaksi pembelian. Dimana konsumen akan membandingkan atau mempertimbangkan satu barang dengan barang yang lainnya

untuk mereka konsumsi. Beberapa faktor yang membentuk minat beli konsumen (Kotler,2005) yaitu :

1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. 2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.

Seorang konsumen

tidak

dengan

sendirinya memiliki

keputusan

dalam

pembelian barang atau jasa. Terlebih dahulu konsumen mencari informasi dari orang terdekat atau orang yang benar-benar dipercaya untuk membantunya dalam

pengambilan keputusan.

Konsumen yang merasa puas dan menjadi pelanggan yang berkomitmen juga dapat menjadi sumber rekomendasi positif (positive word-of-mouth) bagi konsumen lainnya terhadap merek tersebut (Hawkins, Best, dan Coney, 1998; Athanassopoulos, Gounaris, dan Stathakopoulos). Sehingga pelanggan yang berkomitmen sangat

berperan dalam pengembangan suatu merek. Proses evaluasi konsumen sangat menentukan tingkat motivasi pembelian ulang terhadap suatu merek. Motivasi tersebut akan menimbulkan keinginan pembelian ulang untuk memenuhi setiap kebutuhannya atau meningkatkan jumlah pembeliannya, dan menghasilkan komitmen untuk

menggunakan kembali merek tersebut dimana keinginan itu berkaitan dengan psikologi konsumen (Hawkins, Best, dan Coney, 1998).

2.1.2. Persepsi Kualitas

Persepsi didefinisikan

kualitas

(perceived

quality)

menurut

Aaker

(1991) kualitas

dapat atau

sebagai

persepsi

pelanggan

terhadap

keseluruhan

keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Aaker (1991) menegaskan satu hal yang harus selalu diingat, yaitu

bahwa persepsi kualitas merupakan persepsi para pelanggan, oleh sebab itu persepsi kualitas tidak dapat ditetapkan secara obyektif. Selain itu, persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan

memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa. Kanuk (2008) juga mengatakan bahwa para konsumen seringkali menilai kualitas produk atau jasa tertentu atas dasar berbagai macam isyarat informasi yang mereka hubungkan dengan produk. Isyarat itu berupa isyarat intrinsik yaitu berupa karakteristik fisik misalkan ukuran, rasa, warna dan isyrat ekstrinsik yang berupa misalkan seperti harga, kemasan, iklan. Kanuk mengatakan bahwa berbagai isyarat tersebut memberikan dasar bagi persepsi kualitas produk maupun jasa.

Persepsi Kualitas menurut Arnold (2002) Penilaian kualitatif konsumen tentang keungulan keseluruhan entitas dalam pemberikan manfaat yang diinginkan. Maka dapat disimpulkan bahwa persepsi kualitas adalah Persepsi pelanggan akan suatu produk berdasarkan isyrata informasi dalam pemberian manfaat tertentu. Persepsi kualitas yang tinggi menunjukkan bahwa melalui penggunaan dalam jangka

waktu yang panjang, konsumen memperoleh diferensiasi dan superioritas dari merek tersebut. Persepsi kualitas yang dirasakan oleh konsumen berpengaruh terhadap kesediaan konsumen tersebut untuk membeli sebuah produk. Ini berarti bahwa semakin tinggi nilai yang dirasakan oleh konsumen, maka akan semakin tinggi pula kesediaan konsumen tersebut untuk akhirnya membeli.

Persepsi kualitas tentu saja mencerminkan perasaan pelanggan yang tidak nampak dan secara menyeluruh mengenai suatu merek tertentu. Akan tetapi, biasanya persepsi kualitas dalam didasarkan pada dimensi-dimensi yang termasuk

karakteristik produk tersebut

dimana merek dikaitkan dengan hal-hal

seperti keandalan dan kinerja. Lima dimensi kualitas jasa (Zeithaml, 2000) yang dipergunakan untuk memahami harapan dan persepsi konsumen terhadap kualitas jasa tersebut adalah :

1. Keandalan (Reliability) Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan terpercaya. 2. Ketanggapan (Responsiveness) Kemauan perusahaan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. 3. Keyakinan (Assurance) Pengetahuan dan keramahtamahan para karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan. 4. Empati (Empathy) Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan. 5. Berujud (Tangibles) Penampilan fasilitas fisik (interior dan eksterior), peralatan, karyawan, dan media komunikasi.

2.1.3. Nilai Emosional

Nilai Emosional menurut Kanuk (2008) mengatakan bahwa respon terhadap keadaan tertentu dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan pembelian atau bisa dikatakan bahwa perasaan akan suatu produk atau merk tertentu. Dalam kaitannya dengan emosional ketika seorang konsumen mengambil apa yang pada dasarnya merupakan keputusan pembelian emosional, hanya sedikit perhatian yang diberikan untuk mencari informasi yang diberikan. Nilai Emosional menurut (Hawkins, Best, dan Coney, 1998) sebagai suatu yang kuat, perasaan yang relative tidak dapat dikontrol yang memberi dampak terhadap perilaku. Emosi erat kaitannya akan pengalaman kita dalam menggunakan suatu produk tertentu. Hawkins didalam bukunnya mengatakan bahwa emosi itu sendiri termasuk didalamnnya adalah perasaan subjektif. Perasaan subjektif seperti ini mempunyai komponen spesifik seperti sedih,gembira, dll. Selain itu emosi membawa perasaan rasa suka atau tidak suka terhadap sesuatu, maka dari itu banyak dari produsen berusaha untuk menciptakan keterkaitan atau emosi yang kuat akan produk yang dijualnnya terhadap konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut. Aspek emosional merek memiliki nilai tertentu dalam masyarakat di mana orang sangat sadar akan statusnya misalnnya dengan membeli suatu mobil ferarri yang berarti gagah atau jantan (Batra, 1996). Maka dapat disimpulkan bahwa nilai emosional adalah respon yang sangat kuat terhadap suatu objek dan memberi dampak terhadap perilaku dalam pengambilan keputusan pembeliaan.

2.1.4. Keselarasan citra diri

Keselaran citra diri dibentuk melalui citra diri kita yang sebenarnnya dan citra diri yang idel atau yang diinginkan oleh kita. Menurut menurut (Hawkins, Best, dan Coney, 1998) citra diri yang sebenarnnya adalah bagaimana kita melihat diri kita itu seperti apa dan bagimana orang melihat saya itu seperti apa, lalu citra diri yang ideal itu adalah bagaimana saya ingin melihat diri saya yang ideal atau tampak bagus di mata saya dan bagaimana saya ingin orang melihat saya yang ideal atau tampak bagus dimata orang tersebut. Kanuk (2008) menambahkan bahwa seseorang akan membeli produk yang sesuai dengan citra diri yang ideal maupun citra diri yang sebenarnnya. Sebagai contoh, atas beberapa produk rumah tangga sehari-hari, konsumen mungkin dipandu oleh citra diri yang actual. Kemudian misalkan dengan produk pemutih yang kita akan dibeli dapat membuat kulit menjadi lebih indah dan cantik, konsumen mungkin dipandu oleh citra diri yang diharapkan bahwa ia ingin kulitnnya menjadi lebih indah dan cantik. Jadi, secara singkat menurut Arnold (2002) bahwa konsumen secara individu menggunakan produk atau merk untuk menyampaikan sesuatu tentang dirinnya sendiri, dan konsep diri diperkuat sebagai respon yang positifdari orang lain yang mendukung perilaku konsumen mereka. Ini yang disebut dengan keselarasan citra diri. Konsumen akan mengevaluasi produk yang membuat adanya peningkatan diri bagi dirinnya sendiri, oleh karena itu pemasar berusaha untuk membangun peningkatan diri didalam komunikasi pemasarannya.

2.2 Kerangka Teori 2.2.1. Hubungan antara Persepsi Kualitas dengan Pembelian Ulang

Kanuk (2008) mengemukakan

bahwa

terdapat

hubungan secara langsung

antara persepsi kualitas dengan minat beli ulang. Persepsi kualitas yang dirasakan oleh konsumen akan berpengaruh terhadap kesediaan konsumen tersebut untuk membeli sebuah produk. Ini berarti bahwa semakin tinggi nilai yang dirasakan oleh

konsumen, maka akan semakin tinggi pula kesediaan konsumen tersebut untuk akhirnya membeli. Kanuk juga menambahkan bahwa konsumen akan membandingkan antara produk yang dipilih dengan harapan konsumen tersebut. Jika produk yang dipih tersebut sesuai dengan harapan dan penilaian suatu produk atas persepsi kualitas produk tersebut sesuai dengan harapan konsumen yang biasannya melihat dari sisi pengalaman, isyarat informasi yang mereka hubungkan dengan produk, dll maka akan terjadi suatu minat dalam pembelian ulang. Menurut Arnold (2002) minat membeli dipengaruhi oleh nilai dari produk yang dievaluasi. Dengan adanya persepsi kualitas yang tinggi maka pelanggan akan memiliki minat untuk melakukan pembelian kembali 2.2.2. Hubungan antara Nilai Emosional dengan Pembelian Ulang

Seorang konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek kualitas dari merek tertentu, tapi juga dapat membeli sebuah merek jika memenuhi kebutuhan emosional mereka juga. Nilai emosional terhadap merek yang berhubungan dengan perasaan positif (misalnya rasa kebahagiaan dan kesenangan) menggunakan merek, hal itulah yang meningkatkan niat konsumen untuk membeli kembali merek yang konsumen beli

sebelumnya (Hawkins, Best, dan Coney, 1998). Kanuk (2008) mengatakan bahwa produk yang dibeli konsumen ketika produk tersebut memberika kepuasan secara emosional akan meningkatkan minat untuk melakukan pembeliaan kembali. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa niat beli konsumen terhadap sebuah merek akan

meningkat dengan meningkatnya nilai emosional mereka terhadap merek.

2.2.3. Hubungan antara Keselarasan citra diri dengan Pembelian Ulang

Hawkins, Best, dan Coney ( 1998) terdapat hubungan anatar keselarasan diri dengan minat pembelian kembali. Ketika konsumen menemukan sesuatu yang yang sesuai dengan konsep diri dan konsep diri ideal yang mengakibatkan keselrasan citra diri, maka akan tercipta suatu minat akan pembelian tersebut. Kanuk (2002) mengatakan bahwa konsumen berusaha untuk memelihara atau bahkan meningkatkan citra diri mereka dan mejadi suatu keselarasan yang mereka yakini sesuai dengan diri mereka sendiri dan meghindari produk yang tidak sesuai, dengan adannya hubungan tersebut maka wajar ketika konsumen menggunakan produk yang sesuai dengan diri mereka sendiri. Ketika sudah tercapai kesesuain terciptannya suatu minat pembelian kembali akan produk yang sudah ia gunakan.

2.2.4. Hubungan antara Kelarasan citra diri dengan persepsi Kualitas

Hawkins, Best, dan Coney ( 1998) mengatakan terdapat hubungan antara keselarasan citra diri dengan persepsi kualitas dimana ketika seseorang sudah terikat dengan suatu produk yang menandakan bahwa produk tersebut sesuai dengan citra dari konsumen tersebut, maka kemudian persepsi kualiatas akan produk tersebut akan muncul sebagai suatu persepsi positif dimana kualitas yang ada didalam produk tersebut akan dapat menunjukan diri konsumen itu sendiri.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Keselarasan citra diri

Pembelian Ulang Persepsi Kualitas

Nilai emosional

2.3 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis penelitiannya adalah: Ha 1 : Persepsi kualitas berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang Ha 2 : Nilai emotional berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang Ha 3 : Keselarasan citra diri berpengaruh positif terhadap minat pembelian ulang Ha 4 : Keselarasan citra diri berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas