Anda di halaman 1dari 12

Pasar Modal

SEKURITAS DERIVATIF

Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa memahami pengertian dan instrumen sekuritas derivatif. 2. Mahasiswa memahami pengertian dan karakteristik opsi. 3. Mahasiswa memahami mempengaruhi nilai opsi. factor-faktor yang

4. Mahasiswa mampu memilah keuntungan dan kerugian bermain opsi.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

166

Pasar Modal

Pengertian dan Instrumen Sekuritas Derivatif Pengertian Keputusan investasi sebuah reksa dana dibuat oleh sebuah Tim Pengelola Investasi, yang sedikitnya terdiri dari dua fund manager berlisensi. Dalam menjalankan tugasnya, tim ini secara terus-menerus menganalisis dan mencari instrumen investasi yang dapat memberikan hasil terbaik. Dalam hal ini tim mendapat dukungan dari para analis investasi yang diperkerjakan oleh perusahaan tersebut. Para Analis ini yang mencari peluang investasi dengan serangkaian riset. Salah satu persoalan yang dihadapi perusahaan sekuritas dalam mengelola aset reksa dana adalah: memilih jenis instrumen yang akan dibeli, berapa banyak dan kapan. Dalam hal ini perusahaan akan mengemas dan memelihara seperangkat instrumen investasi untuk mengoptimalkan hasil. Cara mengemas dan memelihara portofolio ini disebut manajemen portofolio, yang sering dikatakan sebagai perpaduan antara ilmu dan seni. Ada pun pengertian Sekuritas derivatif adalah sebuah sekuritas yang nilainya tergantung pada aset lain yang lebih elementer atau aset yang mendasarinya (underlying asset).Sembel & Fardiansyah (2002:1). Instrumen keuangan derivatif bisa diartikan sebagai instrumen keuangan yang nilainya tergantung dari (diturunkan, derive from) nilai aset yang menjadi dasarnya (underlying asset). Aset dasar yang berhubungan dengan derivatif bisa merupakan saham, boligasi, valas, komoditas, indeks harga saham, serta aset lainnya. Nilai dari sekuritas derivatif tergantung pada nilai aset dasarnya. Secara matematis, jika Y adalah nilai dari derivatif dan X adalah nilai aset dasarnya, maka Y = f (X), Y merupakan fungsi dari X. Instrumen 1. Forward Instrumen forward merupakan instrumen keuangan derivatif yang paling tua. Kontrak forward bisa dibedakan dengan kontrak spot. Contoh kontrak dan kurs spot sering kita jumpai pada valuta asing. Forward bisa dipakai untuk manajemen risiko. Lebih spesifik lagi, forward bisa dipakai untuk hedging (lindung nilai). Jika posisi spot dan forward digabungkan, maka kita akan memperoleh posisi gabungan sebagai berikut ini. Posisi gabungan menunjukkan bahwa kerugian dari posisi spot akan dikompensasi oleh keuntungan dari posisi forward. Sebaliknya, jika posisi spot memperoleh keuntungan, posisi forward mengalami kerugian.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

167

Pasar Modal

2. Futures Ada beberapa features forward yang bisa diperbaiki agar diperoleh instrumen keuangan derivatif yang lebih baik. Pertama, dalam forward, potensi kerugian (dan juga keuntungan) akan diakumulasi sampai jatuh tempo. Kedua, instrumen forward mempunyai fleksiblitas (variasi) yang cukup tinggi. Variasi tersebut mencakup, sebagai contoh, besarnya nilai kontrak, waktu jatuh tempo. Fleksibilitas semacam itu menguntungkan di satu sisi (karena bisa mengakomodasi kebutuhan yang berbeda-beda), dilain pihak, fleksibilitas semacam itu tidak menguntungkan. Fleksibilitas semacam itu cenderung menghambat likuiditas. Instrumen keuangan futures didesain untuk meminimalkan dua kelemahan tersebut. Secara spesifik, instrument keuangan futures diperdagangkan oleh Bursa Keuangan, dengan menggunakan features yang standar, dan menggunakan mekanisme marking to market untuk meminimalkan akumulasi kerugian. Perbedaan antara forward dengan futures terletak pada mekanisme perdagangan, sedangkan struktur pay-off antara keduanya pada dasarnya sama. Barangkali ada perbedaan kecil karena aliran kas yang diterima oleh forward diterima pada saat jatuh tempo, sedangkan pada futures, aliran kas bisa terjadi sebelum jatuh tempo. Futures bisa digunakan untuk perlindungan nilai, sama seperti forward. Berbeda dengan forward, futures bisa menghindari akumulasi kerugian pada akhir periode. Pedagang yang tidak mempunyai modal yang cukup kuat dan mempunyai posisi yang merugikan, bisa keluar dari kontrak futures sebelum jatuh tempo. Pada forward, karena tidak ada mekanisme marking to market, akumulasi kerugian pada akhir periode bisa terjadi dan bisa membuat perusahaan yang membeli futures mengalami kebangkrutan

3. OPSI Opsi adalah kontrak yang memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang kontrak itu untuk membeli (call options) atau menjual (put options) suatu asset tertentu dengan harga tertentu (strike price/exercise price) dalam jangka waktu tertentu. Sebagai ilustrasi, misal kita membeli opsi call dollar dengan harga eksekusi Rp9.000/$. Jika harga kurs Rp/$ menjadi Rp10.000, kita akan mengeksekusi opsi kita. Hal tersebut berarti kita bisa membeli satu dolar AS dengan harga Rp9.000 melalui kontrak opsi tersebut. Karena harga di pasar adalah Rp10.000, kita bisa membeli dolar AS dengan harga yang lebih murah dari harga pasar Pada kenyataannya,

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

168

Pasar Modal

pembeli opsi akan membayar fee (disebut juga sebagai premi atau harga opsi) tertentu kepada penjual opsi. Misal opsi call di atas mempunyai harga atau premi sebesar Rp200. Jika kurs Rp/$ menjadi Rp10.000, pembeli opsi memperoleh untung bersih sebesar Rp1.800 ((Rp10.000 Rp9.000) Rp200). Sebaliknya, penjual opsi memperoleh kerugian sebesar Rp1.800. Jika kurs turun menjadi Rp8.000, pembeli opsi tidak mengeksekusi haknya, dan membiarkan kontrak opsi berakhir. Karena itu, opsi sering dikatakan sebagai zero-sum game, yaitu permainan yang kalau dijumlah akan menjadi nol. Dalam hal ini, apabila kerugian dan keuntungan pembeli dan penjual opsi dijumlahkan, menghasilkan angka nol 4. Swap Swap merupakan pertukaran aliran kas antara dua pihak. Swap bisa dipakai untuk restrukturisasi aset sedemikian rupa sehingga manajemen risiko bisa dilakukan (risiko bisa berkurang). Swap bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga bisa diperoleh banyak variasi dalam swap. Sebagai contoh, swap bisa dikembangkan untuk pertukaran aliran kas yang melibatkan beberapa periode. Swap juga bisa dikembangkan untuk pertukaran aliran kas yang melibatkan mata uang yang berbeda. Swap hutang-saham juga bisa dilakukan. Pengertian dan Karakteristik Opsi Salah satu instrumen derivative yang diperkenalkan oleh BEJ adalah opsi. Opsi adalah kontrak yang memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang kontrak itu untuk membeli (call options) atau menjual (put options) suatu aset tertentu dengan harga tertentu (strike price/exercise price atau harga patokan / tebus) dalam jangka waktu tertentu. Kalau underlying asetnya adalah saham, maka opsi tersebut dapat diistilahkan sebagai opsi saham. Karena dalam hal opsi, bisa saja underlying asetnya adalah indeks harga saham, nilai mata uang atau futures. Kontrak Opsi Saham dapat diperjualbelikan, namun yang dapat diperjual belikan hanyalah hak jual maupun hak beli. Call (put) options adalah kontrak yang memberikan hak (bukan suatu kewajiban) kepada pemiliknya untuk membeli atau (menjual) sejumlah aset dasar dengan harga patokan tertentu sebelum ataupun saat kontrak jatuh tempo.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

169

Pasar Modal

Terdapat dua macam opsi yang biasa diperdagangkan yaitu call option dan put option. Opsi akan menjadi tidak berharga dan berguna setelah lewat waktu jatuh temponya. Opsi call memberikan pemiliknya hak untuk membeli suatu aset (biasanya saham) pada harga yang telah ditentukan dalam periode waktu yang telah ditentukan pula. Pembeli opsi call berharap harga saham akan meningkat sebelum opsi jatuh tempo, sehingga mereka dapat membeli saham (dengan cara mengeksekusi opsi) sesuai dengan jumlah yang tertera pada kontrak opsi kemudian menjual secepatnya sejumlah saham tersebut di pasar dan mendapatkan keuntungan. Opsi put memberikan pemiliknya hak untuk menjual suatu aset (biasanya saham) pada harga yang telah ditentukan dalam periode yang telah ditentukan pula. Pembeli opsi put berharap harga saham akan turun sebelum opsi jatuh tempo, sehingga mereka bisa menjual pada harga yang lebih tinggi daripada harga yang ada di pasar saat itu dan menghasilkan keuntungan yang cepat. Opsi adalah instrumen yang dapat diaplikasikan pada saat pembentukan portofolio atau strategi perdagangan. Opsi dapat digunakan untuk mengambil lebih banyak risiko bagi risk taker atau untuk mengurangi risiko bagi risk avert. Namun sebelum memasuki pasar opsi, investor harus mendapatkan pemahaman yang baik tentang bagaimana cara kerja opsi (strike price, expiry, volatilitas atau beta) dan bagaimana harga suatu opsi ditentukan. Setelah itu, baru mulai dapat memikirkan strategi opsi yang akan dilakukan. Opsi adalah produk turunan atau derivatif sekuritas yang mendapatkan nilai dari saham yang mendasarinya. Konsep penting yang harus diingat adalah perbedaan antara pemegang opsi (option holder) dengan penulis opsi (writing option). Pemegang opsi memiliki hak untuk memilih, untuk membeli saham pada harga yang telah ditentukan dalam periode waktu yang telah ditentukan pula. Sementara penulis opsi memiliki kewajiban untuk memenuhi pilihan dari pemegang opsi. Ilustrasi Opsi
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2005/0610/eur1.html

Berikut merupakan ilustrasi bermain opsi, misalnya harga saham Telkom di bursa adalah Rp 5.000 per saham. Kalau Anda membeli call options untuk saham Telkom dengan harga tebus Rp 5.100 dan jatuh tempo tiga bulan dari sekarang, maka tiga bulan lagi Anda punya hak (bukan kewajiban) untuk membeli saham Telkom dari penjual opsinya seharga Rp 5.100 per saham.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

170

Pasar Modal

Jika tiga bulan telah berlalu dan harga saham Telkom saat itu ternyata menjadi Rp 5.200 per saham, maka Anda boleh menggunakan hak Anda (istilahnya Anda exercise opsi Anda) membeli saham Telkom dengan harga Rp 5.100 per saham. Kemudian, kalau mau, Anda bisa segera menjualnya di pasar dengan harga Rp 5.200 per saham, sehingga Anda untung Rp 100 per saham. Namun, jika ternyata harga saham Telkom setelah tiga bulan bukannya Rp 5.200 melainkan Rp 4.800, Anda tidak perlu exercise call options Anda. Soalnya, Anda bisa beli saham lebih murah dari Rp 5.100 per saham di pasar. Dalam kasus terakhir, Anda biarkan saja kontrak call options Anda berakhir tanpa Anda gunakan, sehingga Anda cuma rugi sebesar harga yang Anda bayar untuk beli kontrak itu (harga ini disebut sebagai premi dari opsi). Dengan demikian, kalau Anda punya call options saham Telkom, bila harga jatuh kerugian Anda terbatas sebesar premi dari opsi, sedangkan kalau harga naik potensi laba Anda tak terbatas. Yang perlu diperhatikan, dalam sebuah call, jika harga dari aset dasarnya lebih rendah dari exercise price-nya, akan lebih menguntungkan bagi pemilik hak untuk membeli aset dasarnya di pasar daripada meng-exercise opsi tersebut. Dalam kondisi seperti ini nilai dari opsi tersebut adalah sama dengan nol. Sebaliknya, jika harga dari aset dasarnya lebih tinggi dari harga tebusnya, nilai dari call tersebut akan positif sehingga call tersebut lebih menguntungkan jika di-exercise. Sementara jika put harga aset dasarnya lebih tinggi dari harga tebusnya, akan lebih menguntungkan bagi pemilik hak untuk menjual aset dasarnya di pasar daripada meng- exercis put tersebut. Dalam kondisi seperti ini, nilai opsi tersebut juga sama dengan nol. Sebaliknya, jika harga aset dasarnya lebih rendah dari harga tebusnya, nilai opsi tersebut akan positif, sehingga put tersebut lebih menguntungkan jika di-exercise. Sarana Lindung Nilai Dalam berinvestasi, para pemodal dapat memanfaatkan instrumen Kontrak Opsi Saham sebagai sarana lindung nilai bila harga cenderung menurun. Dengan memanfaatkan KOS maka potensi kerugian dapat diminimalisir. Untuk jelasnya, ikuti illustrasi berikut ini: Bapak Saleh telah membeli saham PT. XYZ pada harga Rp 2.000. Melihat perkembangan pasar saat ini, Pak Saleh merasa khawatir dengan investasi saham PT. XYZ akan mengalami penurunan juga. Untuk mengurangi
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

171

Pasar Modal

kekhawatiran, Pak Saleh bisa memanfaatkan Kontrak Opsi Saham sebagai sarana lindung nilai, dalam hal ini adalah pembelian put option. Bila Pak Saleh membeli put option dengan underlying aset adalah saham PT. XYZ dengan harga tebus (strike price) Rp 1.500 dengan prime sebesar Rp 100, maka bila terjadi penurunan harga saham PT. XYZ menjadi Rp 1.000 maka Pak saleh dapat menjual saham PT.XYZ di harga strike price Rp 1.500. Seandainya Pak Saleh tidak memanfaatkan sarana lindung nilai yang diberikan oleh kontrak Opsi saham, kerungian yang harus ditanggung adalah Rp 1.000, dimana harga beli Rp 2.000 dan harga jualnya adalah Rp 1.000. Tapi bila Pak Saleh memanfaatkan KOS dengan put option, maka kerugian terkendali hanya sebesar Rp 600, yaitu dana pembelian put option sebesar Rp 100 ditambah harga beli saham Rp 2.000 dikurangi dengan harga strike price Rp 1.500. Dari illustrasi di atas, pemodal dapat mengendalikan kerugian karena ketidak- stablian pasar dengan memanfaatkan instrumen kontrak opsi saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai opsi Ada beberapa factor yang mempengaruhi nilai opsi, antara lain: Opsi Call Cisco nilainya bergantung pada baik atau buruknya perdagangan saham Cisco di Nasdaq. Yang paling menentukan harga opsi (premium) adalah harga dan volatilitas saham yang mendasarinya. Faktor lainnya yang mempengaruhi harga opsi adalah strike price dari opsi, yaitu harga yang telah ditentukan sebelumnya saat opsi dieksekusi. Misalnya, "CSCO September 20 Call" memberikan pemiliknya berupa hak untuk membeli saham Cisco dengan harga US$20 per saham sebelum hari Jumat ketiga di bulan September. Nilai strike price yang lebih rendah pada opsi call dapat membuat nilai opsi meningkat. Karena strike price yang lebih rendah membuat kita dapat membeli saham CSCO pada harga yang lebih rendah. Sementara itu, waktu jatuh tempo (expiration date) memainkan peran yang penting karena semakin lama suatu opsi diperdagangkan maka opsi tersebut semakin bernilai. Semakin lama jangka waktunya semakin terbuka kesempatan untuk menghasilkan uang dari peningkatan nilai saham. Untuk opsi yang jangka waktunya lebih panjang, harga opsi yang ditetapkan juga lebih tinggi. Selain resiko, expiry dan strike price, faktor lainnya yang juga menentukan harga opsi adalah adanya insider trading dan hukum penawaran dan permintaan yang terjadi di pasar.
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

172

Pasar Modal

Setiap opsi saham dibentuk oleh nama saham yang mendasarinya. _ Strike price/exercise price: harga saham yang telah ditentukan pada suatu opsi. _ Expiration date/maturity date: tanggal jatuh tempo opsi untuk dieksekusi. _ The premium: harga yang dibayarkan untuk opsi, ditambah komisi broker. Tipe Opsi Pasar opsi dunia saat ini memperdagangkan dua tipe opsi a.l. American Option (atau American style) option yakni kontrak opsi yang dapat dieksekusi kapan pun antara tanggal pembelian sampai dengan tanggal jatuh tempo (expiration date) dan European option (atau European style). European option yakni kontrak opsi yang hanya dapat dieksekusi pada saat tanggal jatuh tempo. Kebanyakan opsi yang dijual adalah American Option dan banyak direkomendasikan karena fleksibilitasnya untuk diperdagangkan selama periode kontrak. Keuntungan dan kerugian Opsi Opsi dapat menjadi sangat berisiko, tetapi jika digunakan dengan cara yang benar opsi dapat menjadi alat huntuk hedging yang dapat melindungi kita dari koreksi harga saham yang telah kita miliki atau dengan kata lain mengurangi resiko. Opsi memiliki beberapa keuntungan. Pertama, meningkatkan leverage dalam suatu saham saat anda berspekulasi. Kedua, dengan membeli opsi untuk 100 saham akan jauh lebih murah biayanya dibandingkan dengan membeli 100 saham. Ketiga, jika menggunakan opsi yang tepat, dapat berguna sebagai alat hedging terhadap posisi yang sedang kita miliki. Ada pun kerugian Opsi. Pertama, opsi sangat rumit dan leverage-nya tinggi. Jika menggunakan opsi untuk berspekulasi mereka memerlukan pengamatan yang ketat dan toleransi risiko yang tinggi. Kedua, opsi memerlukan pengetahuan yang lebih dari sekedar pengetahuan dasar tentang pasar modal. Ketiga, ada kecenderungan untuk mengalami kerugian yang lebih besar jika mengambil berbagaI posisi sebagai "writing option".

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

173

Pasar Modal

Artikel : Mainan Baru bagi Investor Kakap


Eva Martha Rahayu SWA 05/XX/4 -17 MARET 2004

KOS memberikan peluang bagi investor menangguk untung lebih besar dibanding saham. Namun, instrumen ini hanya cocok untuk investor kakap yang mau ambil risiko. Bagaimana cara mainnya?
Ada instrumen investasi baru bagi investor di Tanah Air: Kontrak Opsi Saham (KOS). Apa itu? Sebagai ilustrasi, KOS tak beda dari sistem ijon yang dilakukan para tengkulak atau orang yang menjual kembali transaksi rumah dalam masa inden. Artinya: yang diperdagangkan adalah hak jual atau hak belinya, bukan barang riilnya. Secara teoretis, KOS berarti efek yang memuat hak jual (put option) atau hak beli (call option) atas saham induk dalam jumlah dan harga pelaksanaan (strike/exercise price) tertentu serta berlaku pada periode tertentu. Masa kontrak (maturity) bisa satu atau tiga bulan. Pihak pembeli disebut taker dan penjual diistilahkan dengan writer. Harga opsi yang diperjualbelikan namanya premi (premium). "Meski masa kontrak perdagangan KOS satu dan tiga bulan, investor bisa keluar masuk setiap saat," kata M.S. Sembiring, Direktur Bursa Efek Jakarta (BEJ). KOS mengacu ke American Style, sehingga opsi bisa dilelang dalam beberapa kali transaksi hingga datang masa kontrak dieksekusi. Sebagaimana layaknya saham, KOS adalah surat berharga yang juga dapat diperdagangkan. Namun, di sini yang ditransaksikan hanyalah hak jual atau hak belinya. "Jadi, bukan saham induk. Akan tetapi, potensi meraih gain nyaris sama dengan transaksi saham inti," tambah Sofyan Rambey, Executive Vice President Derivative Mandiri Sekuritas. Bila Anda bingung, begini gambarannya. Contoh: petani X (writer) menjual 10 juta (contract size) butir durian seharga Rp 5 ribu/butir (strike price) kepada pembeli Y (taker) pada bulan Februari sebelum panen tiba. Karena barang belum ada dan supaya X tidak menjual kepada orang lain, maka Y wajib membayar uang panjar Rp 5 juta (premi) kepada X untuk ikatan. Lama perjanjian disepakati tiga bulan (Maret-April-Mei). Terlepas dari isi perjanjian itu, dalam perkembangannya, harga durian di pasar (spot price) bergejolak. Jika panen berhasil, durian berlimpah, harga jatuh, misalnya Rp 3 ribu/butir. Sebaliknya, saat panen buruk, persediaan durian terbatas, sehingga harga naik Rp 6 ribu/butir. Pertanyaannya: kalau harga pasar durian tiba-tiba turun (bearish), apakah Y perlu membeli/mengeksekusi haknya (call option)? Tidak. Sebab, jika dibeli, Y akan rugi lebih besar karena harus mengeluarkan uang Rp 50 miliar (Rp 5 ribu x 10 juta butir). Padahal, jika mengacu pada harga pasar saat itu, ia hanya bayar Rp 30 miliar (Rp 3 ribu x 10 juta butir). Sementara itu, jika tidak dibeli, paling-paling Y hanya kehilangan uang panjar Rp 5 juta. Sebaliknya kalau harga pasar durian naik (bullish), pasti transaksi itu segera direalisasi Y, karena untung besar di depan mata. Lihatlah harga pasar durian menjadi Rp 6 ribu/butir, tapi Y cukup bayar Rp 5 ribu/butir
Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

174

Pasar Modal

sebagaimana kesepakatan awal. Jumlah untungnya Rp 9,995 miliar. Hasil ini diperoleh dari Rp 6 ribu-Rp 5 ribu x 10 juta = Rp 10 miliar - Rp 5 juta (karena premi dianggap uang hilang). Contoh di atas baru bicara soal call option. Lalu bagaimana dengan put option? Orang membeli put option dengan harapan harga turun. Berapa pun harga turun tidak masalah, karena ia bisa menjual lagi di level tertentu. Sebagai contoh, seorang fund manager Z --untuk menjaga Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana saham yang dikelolanya-- dan ia khawatir jika terjadi penurunan saham yang dibeli akibat pasar bearish, lalu melakukan hedging dengan membeli put option dari KOS dengan posisi long put. Dengan demikian, Z punya hak untuk menjual saham yang dimiliki pada harga tertentu. Katakanlah, hari ini saham Telkom di pasar spot Rp 7.300. Z menetapkan batas toleransi penurunan maksimal 10%. Jadi, ketika besok harga Telkom turun menjadi Rp 6.600 tidak masalah karena ia telah melakukan risk management untuk melindungi portofolio investasinya. Berkaitan dengan jenis KOS, Sembiring menjelaskan, rencananya ada lima opsi saham induk yang ditransaksikan KOS: yakni saham Telkom (TLKM), Astra International (ASII), HM Sampoerna (HMSP), Indofood (INDF), dan BCA (BBCA). Kelima saham bluechips ini dipilih karena kinerjanya terbagus mewakili masing-masing sektor industrinya. Kriterianya: telah listing di bursa minimal 12 bulan, transaksi harian minimum dua ribu frekuensi dalam sebulan, volatilitas harga minimal 10 per bulan, dan harga saham minim Rp 500. Kelak, akan dikembangkan menjadi 40 saham yang bisa dijadikan pilihan transaksi KOS. Menurut Sofyan, dibanding saham, KOS menyimpan beberapa kelebihan, antara lain fleksibilitas dalam hal pengambilan posisi (strategi trading) dan elemen leverage. Artinya, sebelum ada KOS, tiap investor hanya memiliki satu ekspektasi. Bila pasar ekspektasinya bullish, ambil posisi beli. Sebaliknya, jika ekspektasi pasar bearish, ambil posisi jual atau melikuidasi semua asetnya. Keunggulan KOS yang lain: diversifikasi portofolio, penambahan pendapatan, dan spekulasi. Hendry Kuswari, Deputy Head Future & Option Department Mega Capital, memperkuat opini Sofyan. "Dengan KOS, potensi return bisa dua arah, yaitu ketika harga saham naik atau turun tetap berpeluang ada untung," jelasnya. Sebab, investor bisa membeli hak jual (put option) saat pasar bearish. Sementara itu, di pasar spot saham cuma satu arah dengan ekspektasi harga naik. Akibatnya, jika harga saham turun, investor saham hanya bisa diam (hold), cut loss atau jual rugi. Itulah sebabnya Hendry senang atas kehadiran KOS. "Apalagi, potensi capital gain di KOS bisa ratusan persen, bahkan ribuan persen," tutur Hendry. Namun, tunggu dulu. Jangan mudah tergiur iming-iming gain besar. Sebab, untuk mendapatkan untung besar, investor mesti mewaspadai beberapa hal. Sofyan menyarankan agar investor memahami betul bagaimana karakteristik KOS dan risikonya. Bagaimana pun, harga KOS dipengaruhi harga saham induknya dan variabel pasar. "Lakukan analisis saham dan pasar, baru implementasikan strategi opsi," kata Sofyan. Sembiring membenarkan, di samping aspek manfaat, investor harus berhati-hati dengan dua risiko KOS. Yang pertama risiko pasar yang

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

175

Pasar Modal

disebabkan fluktuasi harga saham acuan yang tak dapat diprediksi. Yang kedua risiko likuiditas. Ini diakibatkan oleh keterbatasan jumlah pihak yang melakukan perdagangan KOS di bursa. Tingginya risiko KOS, belum meratanya edukasi pasar, serta desain produk yang dianggap kurang market friendly membuat investor ritel belum tertarik memilih KOS. Widia Adrianto, Kepala Cabang Samuel Sekuritas di kampus Universitas Bina Nusantara, mengakui hal itu. Kliennya lebih suka bermain saham lantaran praktis dan cocok untuk investor pemula. "Permainan KOS lebih tepat bagi investor yang sudah advanced," ungkap Widia. Apalagi, lanjut Sofyan, KOS memiliki kelemahan soal besaran contract size (100 ribu saham) yang akan sangat berpengaruh terhadap modal investasi dan kewajiban pemenuhan margin (minimal 10% dari premi atau harga saham induk). Ini bakal memberatkan investor berkantung cekak. Jika satu kontrak opsi (100 ribu saham), maka besaran satu kontrak opsi setara dengan 200 lot saham (1 lot=500 saham). Bandingkan 100 ribu:500 atau 200:1. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat besaran kontrak opsi setara dengan kontrak saham, yaitu samasama 100 lembar atau 1:1 (one to one). "Apakah investor kecil punya dana sebesar itu untuk mengakses pasar opsi," tanya Sofyan sengit. Kekhawatiran lain adalah kemungkinan adanya sementara pihak yang beranggapan bahwa trading KOS tidak beda dengan judi (gambling). Terlepas dari apakah investor itu spekulan, bertujuan hedging --baik pemula maupun yang sudah berpengalaman di bursa, pada gilirannya perdagangan KOS diharapkan memberikan manfaat untuk peningkatan likuiditas transaksi saham di pasar spot. Alhasil, kelak diharapkan terwujud harga pasar yang wajar. Tambahan lagi, dengan KOS, prinsip manajemen risiko dapat diimplementasi lebih prudent, karena tersedia instrumen lindung nilai. Boks: Membandingkan Profit/Loss Saham dan KOS Salah satu kelebihan KOS, sebagaimana instrumen derivatif lain, adalah leverage. Artinya: dengan dana lebih kecil, investor dapat melipatgandakan tingkat keuntungan --tentunya dibarengi risiko lebih tinggi pula. Contoh: investor B memiliki dana Rp 80 juta dan berekspektasi bullish atas saham Telkom. Maka, ada dua pilihan investasi. Yang pertama membeli saham Telkom di pasar spot dengan harga saat ini Rp 8 ribu. Yang kedua membeli kontrak call option atas saham BMUN ini di strike price Rp 8 ribu, tapi preminya Rp 200 (harga premi ditentukan penjual dan pembeli). Alternatif dua transaksi itu membawa konsekuensi masing-masing. Yang pertama strategi membeli saham Telkom pada harga Rp 8 ribu, maka perolehan unit saham yang didapat 20 lot (10 ribu lembar saham). Lantas berapa potensi profit saham B tadi jika tiba-tiba di pasar spot harga saham Telkom naik Rp 8.500? Hitungannya: (Rp 8.500-Rp8.000) x 20 lot x 500 lembar = Rp 5 juta. Jika dipersentase hasil gain-nya: 6,25%. Sebaliknya, jika saham Telkom turun ke level Rp 7.500, kerugian yang diderita B Rp 5 juta.

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

176

Pasar Modal

Yang kedua strategi beli call option Telkom dengan strike Rp 8 ribu, tapi preminya hanya Rp 200. Maka, perolehan unit yang didapat empat kontrak (400 ribu lembar saham). Perhitungannya: Rp 80 juta : (Rp 200 x 100 ribu) = 4 kontrak. Berapa potensi profit jika harga saham perusahaan pelat merah ini naik menjadi Rp 8.500? Hitungannya: (Rp 8.500-Rp8.000) x 4 x 100 ribu = 200 juta. Jadi, dengan modal Rp 80 juta, B memeroleh keuntungan 250%. Di lain pihak, potensi loss jika harga saham Telkom turun menjadi Rp 7.500 adalah maksimal sebesar premi yang dibayar, yakni Rp 80 juta (100%). Dari ilustrasi itu, tampak bahwa elemen leverage akan memberikan potensi keuntungan bermain opsi jauh lebih besar ketimbang saham induk. Pun, disertai potensi rugi yang tidak kalah besarnya. Riset : Asep Rohimat

Pasar Modal dan Manajemen Portofolio @Syarif

177