Anda di halaman 1dari 4

I.Pemeriksaan dan visite sebelum preanestesi A.

Pemeriksaan dan visite preanestesi adalah bagian penting dalam persediaan dan evaluasi setiap pasien yang akan di operasi. Dalam visite ini, informasi penting antara pasien dan dokter anestesi dikongsi. 1. Visite dan pemeriksaan yang benar adalah bersamaan dengan efek

penenang pentobarbital 100mg dalam menurunkan ansietas pasien dan sebagai moral support. 2. Untuk operasi elektif, biasanya dirawat 1 hari sebelum dilakukan operasi. Ini adalah waktu untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Jika pasien mempunyai masalah jantung atau paru yang berat, mungkin harus dirawat lebih dari 1 hari sebelum dilakukan operasi. 3. Operasi rawat sehari biasanya pasien dirawat pagi hari disertai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan 2 hari sebelumnya atau pemeriksaan dilakukan pada awal paginya tergantung operasinya. Berdasarkan The Joint Comission for Accreditation of Hospitals, hasil pemeriksaan laboratorium harus dalam 48jam sebelum operasi. 4. Temubual antara pasien dan dokter anestesi harus dilakukan agar dokter anestesi bias memperoleh informasi tentang status pasien. B. Pemeriksaan dan visite preoperasi membolehkan dr anestesi mempelajari status pasien, disamping menilai status fisikal, luaran,berat dan kondisi keseluruhan pasien. 1. Laporan pasien termasuk riwayat, temuan yang didapat waktu

pemeriksaan preoperasi, hasil laboratorium termasuk pemeriksaan darah, urinalisa,elektrolit dan foto thoraks dada. 2. Pemeriksaan EKG direkomendasi pada pasien yang berusia lebih 35 tahun atau lebih dan untuk pasien yang lebih muda jika ada indikasi. 3. Evaluasi riwayat pasien diakhiri dengan pemeriksaan oleh dr anestesi a. Jika pasien masih dibawah umur, kehadiran ibu bapa adalah perlu. b. Pertanyaan termasuk riwayat operasi dan anestesi sebelumnya, riwayat alergi pada obatan, riwayat hay fever, asma bronkiale, diabetes, hipertensi, diskrasias darah, gangguan psikosis, penyakit jantung, penyakit paru kronik, riwayat masalah anestesi dalam keluarga. c. Pasien akan ditanya tentang kehidupan personal dan gaya hidup sosial.

d. Pasien akan ditanya tentang obat terkini yang dikonsumsi atau diguna seperti insulin, obat hipoglikemik oral, kortikosteroid, nitrogliserin, antikoagulan, digitalis, narkotik,sedative,emfetamin,obat psikotropik lain. e. Jika telah ditentukan untuk melakukan regional anestesi, bagian yang ditentukan untuk dilakukan blockade syaraf, spinal, epidural, anestesi kaudal harus diperiksa dan pemeriksaan neurologis dilakukan. Jika pasien mengkonsumsi antikoagulan, regional anestesi adalah

kontraindikasi. II. langkah lain yang perlu A. Sewaktu visite preanestesi, dr anestesi memeriksa gigi dan menanyakan riwayat kerusakan sewaktu di laringoskopi dan endotrakeal terutama jika gigi pasien bolong atau rusak. B. Gigi palsu dan perangkap gigi yang bias dilepas harus dilepaskan dan disimpan. C. Pasien yang dijadwal untuk operasi harus puasa sejak malamnya sebelum hari operasi. D. Pasien diminta untuk menandatangani inform consent. Jika pasien dibawah umur, informed consent ditandatangani oleh ibubapa atau penjaga. E. Dr anestesi menulis ringkasan tentang riwayat pasien, status pasien, arahan untuk medikasi preanestesi dan permintaan tentang status pasien yang harus dibawa bersama ke kamar operasi. F. Jika diperlukan konsultasi, pasien dikonsulkan ke dr penyakit dalam atau dr anak.

III. Interaksi obat A. Merokok adalah penyebab terjadinya bronchitis kronis. pasien harus berhenti atau mengurangi merokok 2 minggu sebelum operasi untuk mengurangi batuk dan sekresi mukus. B. Kortikosteroids 1. Konsumsi oral dalam dosis kecil tidak berpengaruh. Dosis terapi kortikosteroid akan menurunkan fungsi dan menyebabkan atrofi korteks adrenal.

2. Respon terhadap stress, adrenal tidak akan mensekresi steroid yang mencukupi. 3. Manifestasi penurunan fungsi adrenokorteks adalah hipotensi. 4. Jika pasien telah konsumsi steroid dalam 3 bulan sebelumnya dengan durasi lebih dari 1 minggu, pasien harus disuntik IM kortison 100mg pada waktu sore dan waktu pagi sebelum operasi. Sebagai tambahan, hidrokortison dicairkan dalam 100cc 5% D/W dan didrip lewat IV selama intraoperatif dan postoperative selama 8-10 jam. Tambahan kortison adalaha selama 2-3 hari postoperasi. C. Obat antihipertensi 1. Golongan reserpine adalah antara penyebab kolaps pembuluh darah jantung sewaktu operasi dan postoperasi. 2. Penelitian menunjukkan obat anestesi aman dikasi pada pasien yang teratur menggunakan obat antihipertensi dan operasi terhadap pasien itu tidak ditangguh. 3. Kesan terhadap pembuluh darah jantung adalah lebih parah dari pasien biasa oleh itu harus evaluasi preoperasi dan anestesi yang hati-hati. D. Antibiotik. 1. Konsumsi antibiotic biasanya disertai dengan gangguan respirasi. Dianggap sebagai intrinsically curare-like atau efek sinergis curare 2. Penelitian mendapati blockade neuromuscular didapatkan pada pasien yang menggunakan antibiotik seperti neomisin, streptomisin, kanamisin, polimiksin B, bacitracin,viomisin,gentamisin,kolistin. 3. Ada antibiotik yang dikonsumsi peroral untuk antisepsis usu sebelum operasi abdomen tetapi tidak diabsorpsi di usus. Tetapi jika di injeksi, akan menyebabkan paralisis otot dan apnea. Penting untuk melakukan evaluasi pernafasan pasien setelah postanestesi. E. Levodopa dan parkinsonisme Levodopa(laradopa,dopar) adalah terapi untuk penyakit Parkinson. Obat itu akan mengurangkan kekakuan,tremor,tetapi dalam ilmu anestesi, obat itu akan menyebabkan hipotensi ortostatik dan aritmia. Jika pasien yang mahu dioperasi tetapi masih didalam terapi levodopa, terapi levodopa harus diteruskan sehingga malam sebelum operasi dan diteruskan langsung setelah pascaoperasi. F. Monoamine oxidase inhibitors

1.monoamine oxidase inhibitor adalah terapi untuk penyakit mental yang berhubungan dengan kecemasan dan depresi. 2.terapi monoamine oxidase inhibitors akan menyebabkan peningkatan produksi norepinefrin,dopamine dan 5-hydroxytryptamine yang bisa menimbulkan reaksi yang menyebabkan kematian. Reaksi ini bisa timbul pada pasien yang menerima obat simpatomimetik atau meripiridine atao konsumsi makanan yang mengandung tinggi amine (tiramine) 3.monoamine oxidase inhibitors dengan vasopressor seperti efedrin, dopamine, amfetamin akan menyebabkan peningkatan denyut nadi, nyeri kepala berat, hipertensi. Ada yang berlanjut menjadi mual, muntah,kaku leher,kematian akibat perdarahan intracranial. 4.jika terjadi hipertensi, terapi yang diberikan adalah phentolamine (regitine), trimethaphan (Arfonad) atau nitroprusside(Nipride) 5. monoamine oxidase inhibitors yang bisa menimbulkan reaksi termasuk obat amitriptiline(Elavil),tranylcypromine Pargyline(Eutonyl) G.propanolol Adalah golongan beta adrenergic bloker yang digunakan sebagai terapi untuk aritmia dan menurunkan kerja miokardium pada angina pectoris. Propanolol dihentikan 12 jam sebelum operasi. (Parnate), phenelazine (nardil) dan

IV. Tes Fungsi Paru A. Pasien dengan fasa infeksi paru akut seharusnya tidak dioperasi. Sekurangnya sudah sembuh 1 minggu baru dijadwal ulang tanggal operasi. Anestesi spinal dan general tidak dapat dilakukan pada pasien berikut: 1. Trauma pada permukaan mukosa yang meradang bisa disebabkan oleh alat airway, dan bisa menyebabkan sepsis pada salur napas bawah.