Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN IBU POST PARTUM NORMAL

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Pengertian Persalinan adalah proses fisiologis yang akan dialami wanita untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang hidup dari uterus, sedangkan pasca persalinan adalah waktu penyembuhan untuk kembali kepada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru mulai dari selesai persalinan sampai kira-kira 6 minggu, tetapi alat genital baru pulih 3 bulan setelah persalinan. Masa nifas atau puerperium dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira selama 6 minggu. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologis,yaitu: 1. Perubahan fisik 2. Involusi uterus dan pengeluaran lokhia 3. Laktasi /pengeluaran ASI 4. Perubahan psikis

2.1.2 Fisiologi Pasca Persalinan Pada jam pertama setelah melahirkan, ibu akan segera beradaptasi yang mencakup semua fungsi tubuh. Pasca persalinan meliputi 3 periode yakni : a) Imediate post-partum period 24 jam yang pertama setelah melahirkan. b) Early post-partum period Hari kedua sampai tujuh setelah melahirkan. c) Last post-partum period Minggu kedua sampai ke enam setelah melahirkan. 2.1.3 Perubahan Fisilogi pada Masa Nifas Pada masa nifas ini akan terjadi perubahan fisiologi, yaitu: a. Alat genitalia Alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil atau sering disebut involusi, selain itu juga perubahan-perubahan penting lain, yakni hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi karena lactogenik hormone dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar mammae. b. Fundus uteri Setelah janin lahir fundus uteri kira-kira setinggi pusat, segera setelah plasenta lahir, TFU kurang lebih 2 jari di bawah pusat. Pada hari ke-5 post partum uterus kurang lebih setinggi 7 cm di atas symfisis pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi di atas symfisis. Dinding uterus sendiri kurang lebih 5 cm, sedangkan pada bekas implantasi plasenta lebih tipis dari bagian lain. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan Penanganan suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah persalinan. Otot-otot uterus berkontraksi setelah post partum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. c. Serviks Segera setelah post partum bentuk servik agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan servik uteri tidak berkontraksi,

sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan servik uteri terbentuk semacam cincin. d. Ligamen Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama kehamilan dan partus, setelah jalan lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh kandungannya turun setelah melahirkan karena ligamenta, fasia, jaringan alat penunjang genetalia menjadi menjadi agak kendor. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia tersebut, juga otot-otot dinding perut dan dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu.Pada 2 hari post partum sudah dapat diberikan fisioterapi. Keuntungan lain ialah dicegahnya pula stasis darah yang dapat mengakibatkan trombosis masa nifas. 2.1.4 Adaptasi Pada Masa Post- Partum (Nifas) A. Adaptasi Fisik 1. Tanda-tanda vital TPRS pada hari pertama (24 jam) post-partum sangatlah rendah dan suhu sangatlah meningkat sebagai akibat pemakaian tenaga saat melahirkan maupun karena terjadinya perubahan hormonal tetapi bila suhu diatas 38oC dan selama 2 hari dalam 10 hari pertama post-partum perlu dipikirkan kemungkinan adanya infusi kemih, endo nutitis, dan lainnya. Pembengkakan buah dada pada hari kedua dan ketiga post-partum dapat menyebabkan kenaikan suhu walaupun tidak selalu. 2. Adaptasi kardiosvaskuler a. Tekanan Darah Tekanan darah post-partum tidak stabil penurunan tekanan darah sampai 20 mmHg ini dapat terjadi pada saat ibu berubah posisi berbaring duduk keadaan sementara sebagai kompensasi kardiovasculer terhadap penurunan dalam rongga pinggul dan pendarahan. b. Denyut Nadi Denyut nadi berkisar antara 70 85 kali / menit berkeringat dan menggigil merupakan manifestasi pengeluaran cairan berlebihan dan sisa-sisa pembakaran melalui kulit sering terjadi terutama pada malam hari dan hal ini mengakibatkan rasa nyaman. c. Komponen Darah HB, HT, dan eritrosit akan kembali mendeteksi seperti keadaan semula sebelum melahirkan. 3. Adaptasi sistem perkemihan Selama proses perasalinan kandung kemih mengalami trauma dapat mengakibatkan edema dan menghilangkan sensitifitas terhadap tekanan cairan. Pembuluh ini dapat menyebabkan tekanan tidak sempurna dan berlebihan. Penimbunan cairan dalam jaringan selama kehamilan dikeluarkan melalui divresis biasanya dimulai dalam 12 jam post-partum. 4. Adaptasi Sistem Endoktrin Pada umumnya produksi air susu ibu baru dimulai hari kedua sampai tiga post-partum. Tetapi paling baik itu air susu ibu pertama bagi si bayi sebab untuk memberi kekebalan tubuh bagi anak. Buah dada tampak membesar, keras, dan nyeri bila disentuh. 5. Adaptasi masculos keletal Otot dinding abdomen teregang secara bertahap selama kehamilan mengakibatkan hilangnya kekenyalan otot, keadaan initerlihat jelas post-partum dinding abdomen nampak lembek dan kendor.

6. Adaptasi organ reproduksi a. Involusi Involusi uretri terjadi segera post-partum melahirkan dan berlangsung cepat setelah plasenta lahir, uterus berkontraksi dengan kuat, tinggi tundus uteri 2 jari dibawah pusat. Pada hari kelima post-partum tinggi uterus 7 cm, keatas simpleks atau simpleks pusat. Lochea adalah sekret berasal dari kavum uretri dan vagina dalam nifas. b. Lorchea Menurut tingkatnya pengeluaran lochea dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : c. Lochea Nebra Hari pertama dari tiga post-partum warna merah terang normal dan bau amis. d. Lochea Alba Hari keempat sampai sembilan post-partum warna merah kecoklatan normal dan bau amis. e. Lochea Alba Hari kesepuluh sampai dua minggu warna coklat keputihan dan tidak berbau. 7. Perubahan vagina Akibat trauma persalinan menyebabkan adanya edema dan luka pada dinding vagina, rugae mendatar dan akan kembali pada minggu ketiga. 8. Adaptasi perubahan berat badan 5 tahun persalinan selesai berat badan menurun sebanyak 4 5 kg tergantung berat badan janin. Post-partum berat badan menurun 2,5 kg dan pada akhir nifas berat badan kembali normal. B. Adaptasi Psikologis Adaptasi psikologi ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua post-partum secara bertahap menurut Reva Rubin terdiri dari tiga fase yaitu : 1. Fase take in Fase ini berlangsung dari hari pertama sampai kedua post-partum fokus perhatian terutama pada kebutuhan sendiri. 2. Fase taking hold Bergerak dari rasa tergantung menjadi tak tergantung, muncul keinginan untuk fokus meluas pada bayinya mulai antusias, mulai perawatan bayi. 3. Fase letting go Terjadi pada setelah 10 hari post-partum sampai minggu keenam setelah kelahiran, tentang penyesuaian dengan anggota baru dan fisik ibu mampu untuk menerima tanggung jawab normal. 2.1.5 Penatalaksanaan Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu, yaitu: 1. Kebersihan Diri a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sanun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ubu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar. c. sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain

dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika. d. sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. e. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka. 2. Istirahat a. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan b. Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kagiatan rumah tangga biasa secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur. c. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam berbagai hal : 1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi 2. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan 3. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. 3. Latihan a. Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasakan lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya b. menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. c. Jelaskan bahwa latuhan-latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat membantu mempercepat mengembalikan otot-otot perut dsan panggul kembali normal, seperti: 1). Tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai lima. Rileks dan ulangi 10 kali. 2). Ubtuk memperkuat otot vagina, berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot pantat dan dan panggul tahan sampai 5 kali hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebsnyak 5 kali. 3). Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan latihan sebanyak 30 kali. 4. Gizi Ibu menyusui harus: a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari b. makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup c. minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui) d. Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin e. minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bias memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya. 5. Perawatan Payudara a. menjaga payudara tetap bersih dan kering b. Mengenakan BH yang menyokong payudara c. Apabila putting susus lecet oleskan colostrums atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali seleswai menyusui. Menyusu tetap dilakukan

dari putting susu yang tidak lecet. d. Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok. e. Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan: 1). Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hanagat selama 5 menit. 2). Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju putting. 3). Keluarkan ASI sebagian dari nagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak. 4). Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluakan dengan tangan. 5). Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. 6). Payudara dikeringkan. 6. Hubungan Perkawinan atau Rumah Tangga Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan. 7. Keluarga Berencana Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat mem,Bantu merencanakan keluarganyadengan mengajarkan kepada mereka cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertamakembali untukmencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini adalah 2 % kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu telah haid lagi. Pada ibu nifas juga ter jadi perubahan psikologi, seperti: a. Taking in : focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri, pengalaman waktu melahirkan diceritakannya, kelelahan membuat ibu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur,. b. Taking hold : ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggungjawab merawat bayi, perasaan sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jadi komunikasi kurang hati-hati, ibu butuh dukungan untuk merawat diri dan bayinya. c. Letting go : ibu sudah mulai menerima tanggung jawab akan peran barunya, ibu sudah menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya, keinginan untuk merawat bayinya sudah meningkat pada fase ini. 3.1 Konsep Asuhan Keperawatan 3.1.1 Pengkajian Pengkajian pada pasien post partum dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru. Pengkajiannya meliputi ;

1. Identitas pasien ( nama, umur, jenis kelamin, agama, suku/bangsa, pendidikan dan pekerjaan ). 2. Riwayat obstetri (haid pertama kali/frekuensi, jumlah, keluhan saat haid, riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya). 3. Riwayat kehamilan (hari pertama haid terakhir, keluhan yang diderita, imunisasi). 4. Riwayat kesehatan masa lalu (penyakit yang pernah diderita, seperti hepatitis, diabetes melitus dan hipertensi). 5. Riwayat kesehatan sekarang (alasan datang ke klinik bersalin, keluhan saat ini, pengobatan dan tindakan yang dilakukan) 6. Riwayat kesehatan keluarga (adakah keluarga pasien yang menderita penyakit seperti hepatitis, diabetes melitus/ paru-paru atau hipertensi). 7. Riwayat psikologis (perasaan dan harapan pasien sehubungan dengan persalinannya/ proses adaptasi menjadi orang tua, konsep diri terutama peran sebagai orang tua). 8. Riwayat sosial ekonomi (lingkungan tempat tinggal pasien dengan anggota keluarga atau masyarakat sekitarnya, status ekonomi/latar belakang budaya dan gaya hidup). 3.1.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan pada pasien Post Partum Normal diantaranya adalah : 1. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan adanya luka episiotomi. 2. Potensial infeksi sehubungan dengan adanya episiotomi. 3. Perubahan istirahat (tidur) sehubungan dengan ketidaksesuaian pola tidur ibu dan bayi. 4. Potensial gangguan eliminasi konstipasi sehubungan dengan perasaan takut jahitan akan terbuka dan rasa nyeri. 3.1.3 Rencana Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada perinium sehubungan dengan dampak dan adanya luka episiotomi. Tujuan : Rasa nyaman dapat diminimalkan. Kriteria hasil : - Secara verbal pasien mengatakan rasa nyeri berkurang - Ekspresi wajah rileks atau tenang - Pasien mampu menerapkan intervensi khusus untuk mengatasi ketidaknyamanan. Rencana tindakan: 1. Kaji tingkat kenyamanan, adanya keluhan ketidaknyamanan, lokasi, durasi dan frekuensi nyeri 2. Kaji perinium dan penyembuhan luka episiolomi edema, kemerahan, eksudat atau adanya jahitan yang lepas. 3. Gunakan ice pach dan dikompreskan di perinium terutama 24 jam setelah melahirkan. 4. Anjurkan mandi rendam sitz bath air hangat 38C - 40C selama 20 menit 3 4 kali setiap hari, hal ini dilakukan 24 jam post partum 5. Ajarkan dan anjurkan untuk menggunakan teknik relaksasi, tarik nafas dalam-dalam. 6. Monitor tanda-tanda vital setiap 6 jam 2. Perubahan istirahat tidur, sehubungan dengan ketidaksesuaian pola tidur ibu dan bayi. Tujuan : Pola istirahat dapat kembali normal Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengatakan dapat istirahat dengan cukup. Rencana tindakan:

1. Kaji tingkat kelelahan pasien dan kebutuhan istirahatnya. 2. Anjurkan agar pasien dapat mengatur waktu istirahat dan perawatan bayi. 3. Informasikan bahwa jika ibu terlalu lelah akan berpengaruh pada volume air susu. 4. Libatkan keluarga dalam perawatan bayi agar ibu dapat beristirahat dengan cukup. 5. Kaji faktor lain yang dapat mempengaruhi istirahat ibu. 3. Kurang kemampuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri dan bayi sehubungan dengan terganggunya mobilitas. Tujuan : Pasien mampu merawat diri dan bayinya. Kriteria hasil : Respon verbal pasien menjawab pertanyaan tentang perawatan post partum serta menunjukkan kemampuan perawatan diri dan bayi. Rencana tindakan: 1. Kaji kemampuan pasien dalam perawatan diri dan bayi. 2. Kaji penyebab ketidakmampuan perawatan diri dan bayinya. 3. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan tingkat kemampuannya. 4. Libatkan keluarga untuk membantu agar ibu dapat memenuhi kebutuhan diri dan bayinya. 4. Potensi infeksi/ sehubungan dengan adanya luka episiotomi Tujuan : Mengatasi kemimgkinan terjadinya infeksi. Kriteria hasil : - Infeksi tidak terjadi - Suhu tubuh normal - Lochea normal Rencana tindakan: 1. Kaji riwayat perinatal, KPD, partus, lama pendarahan atau bagian placenta tertinggal. 2. Monitor suhu tubuh dan nadi tiap 8 jam serta keadaan tubuh menggigil atau tidak, nafsu makan dan kondisi tubuh. 3. Kaji luka episiotomi tiap 8 jam dan monitor lochea baik volume, warna serta baunya. 4. Anjurkan kepada pasien untuk melakukan perawatan perineal setelah buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK), ganti pembalut jika kotor. 5. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan TKTP yang tingggi kandungan vitamin C, Fe. 5. Potensial gangguan eliminasi konstipasi ( takut jahitan terbuka dan rasa nyeri). Tujuan : Tidak terjadi gangguan eliminasi buang air besar Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengatakan dapat buang air besar secara normal tanpa keluhan. Rencana tindakan : 1. Kaji bising usus, diastoris Rectie 2. Kaji adanya haemoroid 3. Anjurkan unhik mengkonsumsi makanan yang tinggi serat dan meningkatkan volume air yang diminum. 4. Anjurkan pasien meningkatkan aktintas atau latihan. 3.1.4 Implementasi Menurut Doenges (2000) implementasi adalah perawat mengimplementasikan intervensiintervensi yang terdapat dalam rencana perawatan.

3.1.5 Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan tahap penilaian keberhasilan asuhan keperawatan. Adapun hasil yang diharapkan pada pasien post partum spontan perinium adalah : 1. Gangguan rasa nyaman dan nyeri pada pasien dapat diminimalkan. 2. Tidak terjadi infeksi 3. Tidak terjadi gangguan eliminasi 4. Pasien mengerti tentang perawatan diri dan bayi serta siap merawat bayi di rumah Evaluasi didasarkan pada kemajuan pasien dalam mencapai hasil akhir yang ditetapkan yaitu meliputi ; kesejahteraan fisik ibu dan bayi akan dipertahankan.