Anda di halaman 1dari 88
1
1

SUMBANGAN PEMIKIRAN DALAM IMPLEMENTASI KETAHANAN NASIONAL PADA KEHIDUPAN BERBANGSA & BERNEGARA (KUMPULAN PAPER SEMESTER PENDEK)

Nama Penyusun :

Indriani Widhianingrum

Devi Verawati Gusman

Kokoh Dwiyan

Mahfud

Nico Prasetyo Nugrahanto

Ahmad Muhajir

Resti

JURUSAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS ILMU KELAUTAN JULI-AGUSTUS

2012

KATA PENGANTAR

Puja dan Puji Syukur hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kasih sayang- Nya dan meluangkan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan buku KEWARGANEGARAAN berjudul "Sumbangan Pemikiran Dalam Implementasi Ketahanan Nasional Pada Kehidupan Berbangsa & Bernegara (kumpulan paper semester pendek)". Penulis juga ucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam penyelesaian buku ini.

Buku tentang Kewarganegaraan ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah

Kewarganegaraan. Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan informasi lebih jauh tentang

Implementasi Aspek-aspek Ketahanan Nasional. Dalam buku ini pun disajikan beberapa upaya

yang bisa dilakukan serta beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia.

Penulis sangat menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis

mengharapkan kritik dan saran baik secara tertulis ataupun secara lisan, khususnya kepada Dosen

pengampu mata kuliah Kewarganegaraan, Koesoemadji, agar penulis bisa mengembangkan ilmu

pengetahuannya, khususnya ilmu Pendidikan Kewarganegaraan.

Semarang, Agustus 2012

Penulis

Kata Pengantar

Daftar isi

Judul I : Eksistensi Kelompok Sparatis Republik Maluku Selatan Dalam Perspektif Ketahanan Nasional

1. Negara Kesatuan Republik Indonesia…………………….…….………8

2. RMS terbentuk karena……………………………………………

……

8

3. RMS di masa sekarang ( Republik Indonesia )……………

……

9

4. RMS di Mata Internasional……………………………………….………10

5. Peta Maluku……………………………………………….………

……

11

6. Lambang Republik Maluku Selatan………………………….…….……11

7. Bentuk NKRI……………………………………………….…….….…….12

8. UUD 1945 Pasal 18, 18a, 18b…………………………

………………12

9. Otonomi daerah…………………………………………………

…….14

10. Indikator Ketahanan Nasional…………………………………

………14

11. Sumber………………………………………………………

……18

Judul II : Stigma (cap buruk) dan Deskriminasi (perlakuan tidak adil) Oleh Masyarakat Terhadap Seorang Anak Penderita Hiv/Aids

A. Latar Belakang…………………………………………………………….19

B. Contoh

Pelanggaran

HAM

terhadap

seorang

anak

penderita

HIV/AIDS……………………………………………………….……….….21

C. Pelanggaran HAM yang terjadi……………………………………….22

D. Upaya-upaya

yang

dilakukan

Pemerintah

dan

masyarakat

dalam

mengatasi

pelangaran

HAM

atas

HIV/AIDS‟……………………………………………………………

Penderita

22

E. Kesimpulan……………………………………………………

27

F. Daftar Pustaka………………………………………………………

……28

Judul III : Implementasi Otonomi Daerah Pada Perijinan Tambang Di Bima Dalam Perspektif Ketahanan Nasional

A. Pendahuluan……………………………………………………….

.29

B. Dampak Kegiatan Penambangan……………………………………..29

C. Perijinan Tambang Dalam Perspektif Otonomi Daerah………

31

D. Perijinan Tambang di pusat…………………………………….

32

E. Perijinan Tambang di daerah……………………….…………

32

F. Contoh Kasus……………………………………………….…………….33

G. Kesimpulan………………………………………………………………

38

H. Daftar Pustaka…………………………………………….…………

39

Judul IV : Pidana Mati Dalam UU Narkotika Tidak Bertentangan Dengan UUD 1945

A. Pendahuluan………………………………………………….…………

40

B. Perumusan Masalah…………………………………….…….……

….42

C. Pembahasan……………………………………………………

………42

D. Penutup………………………………………….……………….……….45

E. Daftar Pustaka……………………………………………………………47

Judul V : Sistem Pemerintahan di Indonesia Sekarang

Bab I

: Pendahuluan……………………………………………….….….48

Bab II : Isi………………………………………………………….………….49

Bab III : Pembahasan………………………………………….…….………

58

Bab IV : Penutup……………………………………………………….……

59

Kesimpulan…………………………………………………………….…….61

Judul VI : Kenaikan Harga Kedelai Membuat Para Produsen Tempe dan Tahu Mogok Produksi

A. Latar Belakang………………………………………………………

62

B. Rumusan Masalah……………………………………………………

63

C. Pembahasan……………………………………………………………

67

D. Penutup……………………………………………………………………68

E. Sumber…………………………………………………………….……

70

Judul VII : Studi Kasus Tentang Kewarganegaraan Ganda

A. Pendahuluan……………………………………………………….…….71

B. Status anak di dalam hukum………………………………………

….71

C. Pengaturan Mengenai Anak Hasil Perkawinan Campuran……

73

D. Pewarganegaraan (naturalisasi)…………………………………

78

E. Kesimpulan……………………………………………………………….81

F. Daftar Pustaka………………………………………………….………

Biografi Penulis

82

EKSISTENSI KELOMPOK SPARATIS REPUBLIK MALUKU SELATAN DALAM PERSPEKTIF KETAHANAN NASIONAL

1. Negara Kesatuan Republik Indonesia

Negara Indonesia adalah negara yang solid terdiri dari berbagai suku dan bangsa, terdiri dari banyak pulau-pulau dan lautan yang luas. Jika kita sebagai warga negara ingin mempertahankan daerah kita dari ganguan bangsa/negara lain, maka kita harus memperkuat ketahanan nasional kita.

lain, maka kita harus memperkuat ketahanan nasional kita. Peta Negara kesatuan Republik Indonesia 2. RMS terbentuk

Peta Negara kesatuan Republik Indonesia

2. RMS terbentuk karena :

a. Meraih kemerdekaan penuh Memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat) dan ingin membentuk negara sendiri di bawah pengaruh Belanda.

b. Ingin Terbentuknya otonomi daerah Dengan adanya sumber daya alam yang melimpah di maluku (pertambangan emas dan nikel) memicu terbentuknya otonomi daerah agar pemerintah pusat (Republik Indonesia) tidak bisa menikmati hati alam daerah maluku di bawah pengaruh Belanda yang mana dulunya negara Belanda merupakan negara yang menjajah indonesia.

c. Krisis politik Pengaruh politik dari negara belanda di maluku menyebabkan politik di maluku tidak berjalan dengan baik. Dimana indonesia memiliki

d. Krisis ekonomi di maluku selatan ( kemiskinan ) Adanya kesenjangan ekonomi antara penganut agama kristen dan muslim yang menyebabkan terjadi krisis ekonomi dimana perekonomian di maluku di kendalikan oleh penganut agama kristen di bawah pengaruh kolonial Belanda.

e. Konflik di ambon ( perkelahian/ konflik komunal ) Timbulnya pertikaian, perkelahian dan pembantaian di picu kecemburuan soal yang berdampak ada kerusuhan yang menyebabkan pertumpahdarahan. Hal ini memicu balas dendam antar kedua penganut agama di berbagai daerah. Konflik ini di prakarsai oleh kristes RMS yang ingin mengadudombakan kedua penganut agama.

f. Permasalahan agama dan antar suku Konflik antara suku (antara Suku Kao yang mayoritas beragama Kristen dan suku

agama yaitu konflik antara

Makian yang semuanya beragama Islam ) ke konflik

kelompok Islam melawan kelompok Kristen. Menurut sumber utama konflik di

Maluku Utara

persaingan kelompok dalam memperebutan kekuasaan di Maluku Utara

(Perseteruan

bukan karena masalah agama, karena sumber utamanya adalah

antara Ternate dan Tidore).

g. Tingkat Keamanan yang rawan Kurangnya keamana di maluku menyebabkan rawannya pertikaian antar suku

agama yang menyebabkan terjadinya pertumpahdarahan

3. RMS di masa sekarang ( Republik Indonesia )

Bertepatan dengan hari ulang tahun kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS), suasana Kota Ambon, Maluku berlangsung normal, jalan-jalan utama di kota tersebut dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat seperti hari biasanya. Sementara warganya juga tetap beraktivitas seperti biasa tanpa terpengaruh dengan HUT RMS.

beraktivitas seperti biasa tanpa terpengaruh dengan HUT RMS. ( sumber : http://beritadaerah.com/news/getContent/61892

( sumber : http://beritadaerah.com/news/getContent/61892 ) (Rabu, 25 April 2012 11:57),

(Berita Daerah-Maluku), Suasana Kota Ambon, Maluku, sejak semalam hingga Rabu (25/4/2012) pagi relatif aman. Tidak ada isu maupun gerakan dari pentolan Republik Maluku Selatan atau RMS yang hendak mengibarkan bendera Benang Raja di hari ulang tahunnya hari ini. Polisi dan anggota TNI juga tidak melakukan penjagaan khusus, hanya patroli biasa saja. Sementara aktivitas warga Ambon pagi ini berjalan normal. Aktivitas pasar dan perkantoran berjalan seperti biasa. Penjagaan di beberapa titik pusat kota juga tidak menonjol. Kepala Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Soeharwiyono, memastikan sejak semalam hingga siang ini belum ada laporan pengibaran bendera RMS. Aparatnya hanya menggelar patroli rutin saja dan tidak melakukan penjagaan khusus.

Warga Kota Ambon sudah tidak peduli lagi dengan RMS dan menganggap RMS telah menjadi bagian kelam masa lalu Kota Ambon dan Maluku pada umumnya. Saat ini masyarakat Maluku khususnya Kota Ambon lebih mengedepankan terjaganya perdamaian di tanah Alifuru untuk memperoleh kepercayaan dunia internasional bahwa kini daerahnya telah aman dan damai serta bebas dari konflik.

Bukti bukti masih adanya kelompok sparatis RMS :

Bukti bukti masih adanya kelompok sparatis RMS : (Sumber

4. RMS di Mata Internasional

Organisasi ini sebenarnya sudah lama tidak terdengar karena anggotanya sudah mulai berkurang. Saat ini diperkirakan jumlah populasi anggota RMS di pengasingan hanya 50 000 orang. Umumnya, masyarakat Belanda sendiri tidak lagi bersimpati karena

beberapa aksinya anarkis yang mereka lakukan, seperti penyanderaan, perampasan, pembunuhan dan sebagainya. Tetapi RMS memang organisasi laten. Buktinya sejak mendeklarasikan diri dan diberangus oleh Pak Harto sejak 14 Juli 1950, organisasi separatis ini masih eksis. Dengan pembatalan kunjungan SBY itu, RMS merasa di atas angin dan aksinya diketahui oleh masyarakat internasional. RMS sebenarnya pasti tahu bahwa SBY tidak bisa ditangkap karena memiliki kekebalan politik. Tetapi sebagai organisasi laten, RMS ingin menunjukkan bahwa dia masih ada dan hidup. Cita-cita kemerdekaan Maluku Selatan pun juga tidak pernah padam. Dengan pembatalan kunjungan SBY tersebut, maka target RMS untuk menunjukkan eksistensinya di mata internasional telah tercapai. http://mudjiarahardjo.com/artikel/269-antara-belanda- dan-malaysia.html.

5. Peta Maluku

dan-malaysia.html. 5. Peta Maluku Sumber :

6. Lambang Republik Maluku Selatan

indonesia.html 6. Lambang Republik Maluku Selatan Sumber :

7. Bentuk NKRI Pemikiran mengenai Ketahanan Nasional di Indonesia , muncul sebagai akibat dari kondisi Indonesia yang cukup heterogen , baik dilihat dari sisi alamiah maupun sisi sosialnya . Dari sisi Alamiah , Indonesia memiliki letak geografis yang sangat strategis , kekayaan alam yang melimpah , meskipun membutuhkan teknik dan capital yang tidak mudah , serta ancaman ledakan penduduk dan distribusi yang kurang merata . Dari sisi sosial terdapt kondisi ketahanan nasional pada aspek ideology , dimana ideology Indonesia Pancasila , tidak lagi menjadi satu satunya ideology yang ditawarkan , pada aspek politik , derasnya arus demokratisasi ala barat , yang menawarkan one man one vote sedikit banyak mengancam demokrasi asli ala Indonesia , yang senantiasa mengedepankan musyawarah untuk mufakat . Sisi Ekonomi , harga barang yang senantiasa naik dan ketergantungan kita pada barang barang impor yang mengakibatkan lemahnya nilai rupiah juga senantiasa mengancam .Tidak kalah menariknya , sisi sosial budaya , dimana kita memiliki ribuan budaya yang masing masing memiliki tata nilai dan norma yang berbeda sebagai akibat perbedaan tempat tinggal ataupun kondisi alam tempat berdiam rakyat Indonesia . Last but not Least , sisi Pertahanan dan keamanan yang memerlukan pemikiran mendalam dengan mengingat luasnya wilayah territorial , serta kemampuan ekonomi Negara untuk meremajakan alutsistanya .

8. UUD 1945 Pasal 18, 18a, 18b 1. Pasal 18

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.

(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

(4) Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah

Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis.

(5) Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.

(6) Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan- peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang- undang.

Pasal 18A

(1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan Undang-undang denganmemperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.

(2)

Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.

3. Pasal 18B

(1)

(2)

Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang- undang.

Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

9. Otonomi daerah Tujuan utama dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah antara lain adalah membebaskan pemerintah pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan daerah. UU No. 32 dan UU No. 33 tahun 2004, kewenangan Pemerintah didesentralisasikan ke daerah, ini mengandung makna, pemerintah pusat tidak lagi mengurus kepentingan rumah tangga daerahdaerah. Kewenangan mengurus, dan mengatur rumah tangga daerah diserahkan kepada masyarakat di daerah. Pemerintah pusat hanya berperan sebagai supervisor, pemantau, pengawas dan penilai. http://ekowinarto.files.wordpress.com/2009/03/bab-25.pdf

10. Indikator Ketahanan Nasional

I. Aspek ketahanan Nasional

1. Aspek Ilmiah

Pada aspek ini terdiri dari : Letak geografis Indonesia , kekayaan alam Indonesia serta penduduk merupakan anugrah dari Tuhan YME , dimana kita tidak dapat melakukan rekayasa demi kepentingan kita . Pada sisi Letak Geografis misalnya kita tidak dapat melakukan Barganing

dengan Tuhan YME , dengan meminta dari pada memiliki wilayah kepulauan dengan 2 juta km 2 daratan dan 3 juta km 2 perairan , menjadi 3,5 juta km 2 daratan yang disatukan serta 1,5 juta km 2 kawasan perairan saja . Dengan kata lain , terhadap aspek alamiah kita tidak melakukan rekayasa agar tercapai suatu kondisi seperti yang kita inginkan , namun kita harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang sudah ada .

2. Aspek Sosial

Berbeda dengan aspek alamiah , sosial ini kita dapat melakukan rekayasa agar dapat tercapai kondisi ketahanan Nasional yang kita harapkan , ada macam macam indicator patokan merekayasa keadaan :

a. Ideologi Ada beberapa indikator seperti :

Sudahkah seluruh Rakyat Indonesia menerima Pancasila sebagai Ideology Negara ?

Masih adakah rakyat Indonesia yang menanyakan Pancasila sebagai Ideology Negara ?

Adakah rakyat Indonesia yang ingin mengganti Pancasila sebagai Ideology Negara ? Indikator tersebut dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah ketahanan nasional bidang ideology kita sudah kuat .

b. Politik Ada beberapa Indikator seperti :

Masihkan mekanisme musyawarah untuk mufakat dilaksanakan di Indonesia ?

Bagaimanakah penerimaan rakyat Indonesia terhadap putusan yang dihasilkan atas dasar musyawarah untuk mufakat ?

Adakah rakyat Indonesia yang menginginkan penggunaan demokrasi barat secara mutlak dalam kehidupan sehari hari ? Apabila ternyata diketahui adanya ancaman terhadap bidang politik , maka kita masih dapat melakukan tindakan tindakan untuk melakukan pencegahan .

c. Ekonomi Ada beberapa Indicator seperti :

Bagaiamanakah kondisi harga harga barang dan jasa di Indonesia ?

Bagaimana pula kondisi kurs mata uang Indonesia ( rupiah ) terhadap mata uang asing ? penerimaan rakyat Indonesia terhadap putusan yang dihasilkan atas dasar musyawarah untuk mufakat ?

Surplus atau defisitkah neraca perdagangan Indonesia terhadap negara asing ?

d. Sosial Budaya Ada beberapa Indicator seperti :

Sudah tercipta sikap hidup yang damai di Indonesia di tengah kebhinekaan kondisi sosial dan budaya ?

Masih adakah pemikiran tentang chauvinisme sempit di masyarakat Indonesia , dengan mengagung agungkan budaya sendiri dibandingkan budaya lain ?

Adakah perselisihan yang masih timbul sebagai akibat interaksi antara sosial budaya suatu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya ?

e. Pertahanan dan Keamanan Ada beberapa Indicator seperti :

Bagaimanakah kondisi crime indek di Indonesia ?

Adakah dark number yang cukup significant diluar crime indek resmi di Indonesia ?

Apakah masih terdapat gangguan dari negara lain terhadap kedaulatan territorial Indonesia ?

1. Interaksi antara aspek-aspek dalam ketahanan nasional

1. Ideologi Politik

Ideology pancasila melandasi setiap kegiatan politik di Indonesia , maka seyogyanya metode musyawarah untuk mufakat senantiasa dikedepankan dalam setiap proses politik .

2. Ideologi Ekonomi

Ideology pancasila juga melandasi perekonomian Indonesia , sehingga kegiatan perekonomian senantiasa mendasarkan pada pasal 33 UUD , yang

salah satunya adalah dengan mengedepankan azas kekeluargaan dan prinsip usaha bersama .

3. Ideologi Sosial Budaya Bahwa pancasila sebenarnya merupakan kristalisasi budaya di Indonesia ,

sehingga tidak ada alas an untuk menjadikan budaya sebagai alat pemecah di Indonesia .

4. Ideologi HanKam Sebagai dasar dalam mempertahankan kedaulatan , pancasila merupakan

landasan dalam memupuk rasa cinta tanah air , serta menciptakan rasa aman bagi masyarakat Indonesia .

5. Politik Ekonomi

Pengembangan konsepsi ekonomi Pancasila yang berbasis pada ekonomi kerakyatan , sangat tergantung dari political will pemerintah .

6. Politik Social Budaya

Political will pemerintah harus senantiasa mengarah kepada pengembangan social budaya di Indonesia , dan bukannya memberikan

sumbangan yang kontra produktif terhadap pengembangan scial budaya Indonesia , seperti RUU APP tempo hari .

7. Politik HanKam

Perlunya penciptaan regulasi / peraturan yang mendukung terciptanya kondisi yang kondusif di Indonesia , serta terjaganya kedaulatan NKRI .

8.

Ekonomi Sosial Budaya

Untuk meningkatkan kondisi ekonomi , kita harus pula melihat bagaimana sisi budayanya , misalnya : konsepsi mangan ora mangan anggere ngumpul merupakan penghambat dalam kita mencoba meningkatkan perekonomian masyarakat jawa , melalui jalur transmigrasi .

9. Ekonomi HanKam

Dalam meningkatkan kondisi hankam , tidak terlepas pula dari peremajaan , namun yang perlu mendapatkan perhatian adalah kemampuan keuangan negara .

10. Sosial Budaya HanKam

Penciptaan suasana yang kondusif dalam ineraksi antar budaya yang berbeda di Indonesia , serta perlunya penciptaan nilai bela negara serta menumbuh kembangkan norma norma tentang bela negara .

STIGMA (CAP BURUK) DAN DESKRIMINASI (PERLAKUAN TIDAK ADIL) OLEH MASYARAKAT TERHADAP SEORANG ANAK PENDERITA HIV/AIDS

A. Latar Belakang

1. Pengertian HIV/AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yang biasa di singkat AIDS adalah gejala rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan (www.\aids\odha-orang- dengan-hiv-aids.html).

( www.\aids\odha-orang- dengan-hiv-aids.html ) . Gambar penderita HIV/AIDS (Sumbe r

Gambar penderita HIV/AIDS (Sumber www.\aids\odha-orang-dengan-hiv-aids.html)

2. Penyebab HIV/AIDS

Tidak dipungkiri bahwa kini virus HIV marak akibat pergaulan bebas yang menjangkiti Indonesia di era globalisasi. Terlebih di daerah-daerah metropolitan seperti Surabaya dan Jakarta yang memiliki “lumbung prostitusi terbesar di Asia Tenggara“. Berdasar data resmi Kementrian Kesehatan RI, pada triwulan kedua tahun 2011, secara kumulatif jumlah kasus AIDS tercatat sebanyak 26.483. Berdasar kelompok umur, pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, sebanyak 36,4% disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 34,5%.( Ditjen PP & PL Kemenkes RI. 2011. Statistik Kasus HIV AIDS di Indonesia)

Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba (Sumber.www.wikipedia/aids.com)

Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba (Sumber.www.wikipedia/aids.com) Penularan virus HIV/AIDS dapat terjadi melalui berbagai macam cara, diantaranya adalah melalui hubungan seksual (homo maupun heteroseksual), darah (termasuk penggunaan jarum suntik, dan juga narkoba) dan transplasental dari ibu ke anak yang akan dilahirkan, selain itu juga bisa melalui kontak langsung antara membran mukosa atau aliran darah, dengan cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.(www.aids//penularan.com)

3. Stigma masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS

Minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai virus HIV AIDS membuat para pengidap virus mematikan tersebut kerap menjadi kelompok yang rentan terhadap pelanggaran hak azasi manusia. Pasalnya pengidap virus HIV AIDS hingga saat ini masih kerap dianggap sebagai imbalan atas perilakunya yang melanggar norma sosial seperti berhubungan dengan pekerja seks komersil. Padahal sebagian diantara pengidap virus HIV/AIDS justru berasal dari kalangan orang yang terinfeksi dari orang tuanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi stigma terhadap HIV & AIDS :

HIV & AIDS adalah penyakit yang mengancam jiwa

Orang-orang takut terinfeksi HIV

Penyakit dihubungkan dengan perilaku yang telah terstigma dalam masyarakat.

ODHA sering dianggap sebagai yang bertanggung jawab bila ada yang terinfeksi.

Nilai-nilai moral atau agama membuat orang yakin bahwa HIV & AIDS sebagai hasil dari pelanggaran moral (seperti kekacauan atau penyimpangan seksual) yang layak untuk dikucilkan.

Gambar Anak-anak pengidap HIV/AIDS belajar bersama (sumber www\aids\37-dukungan-untu-anak-hiv-positif.html) Stigma yang

Gambar Anak-anak pengidap HIV/AIDS belajar bersama (sumber www\aids\37-dukungan-untu-anak-hiv-positif.html)

Stigma yang ada dalam masyarakat dapat menimbulkan diskriminasi. Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV & AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh ODHA dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri, dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status HIV mereka. Akhirnya, ODHA dilihat sebagai “masalah”, bukan sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.

(www\aids\37-dukungan-untu-anak-hiv-positif.html)

B. Contoh Pelanggaran HAM terhadap seorang anak penderita HIV/AIDS

Contoh kasus di peroleh dari pemberitaan koran Tempo, Yogyakarta 27 Juli 2012. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dinilai telah melanggar hak asasi anak karena tak mampu menjamin bocah penderita HIV/Aids untuk memproleh pendidikan.

Berdasarkan informasi yang di peroleh menyatakan ada seorang bocah berusia 5 tahun asal Patuk yang mengidap HIV/AIDS sejak berusia 11 bulan dan tidak bisa masuk sekolah. Bocah ini sebenarnya telah diterima di Taman Kanak-kanak Aisyiah Bustanul Athfal pada Juni lalu. Namun hingga kini ia belum bisa masuk sekolah. Kepala TK Suratmi mengatakan dia ditolak lantaran ada penolakan dari sejumlah orang tua siswa di sekolah itu. “Mereka takut anak mereka tertular,”(www.tempo//koran,juli 2012)

C. Pelanggaran HAM yang terjadi Berdasarkan studi kasus di atas telah terjadi berbagai macam bentuk pelanggaran

ham diantaranya.

1. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28B ayat 2 Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

2. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28C ayat 1 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

3. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat 1 Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

4. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28 I ayat 2 Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

D. Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi pelangaran HAM atas Penderita HIV/AIDS

1. Langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gunung kidul.

Dilakukan Sosialisasi sebagai upaya mediasi antara pemerintah dan sekolah terhadap penolakan oleh orang tua siswa, sosialisasi itu merupakan respon atas mencuatnya kasus tersebut. Bahkan, setelah peristiwa itu, dalam sebuah acara di Bantul,

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menegur Bupati

Gunungkidul Badingah karena ada anak penderita HIV di daerahnya yang tak bisa bersekolah. Selain dihadiri Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS, dan sejumlah organisasi nonpemerintah peduli HIV/AIDS, pertemuan itu juga dihadiri oleh Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi. Sayang, upaya itu gagal karena bocah itu tetap mereka tolak. Padahal, kata Suratmi, sekolah bersedia membuka pintu. Bahkan untuk memperkecil kekhawatiran orang tua siswa yang lain, sekolah menyusun home schooling. “Ada 10 guru di sini. Semua sudah bersedia bergantian mengajar di rumahnya,” katanya.(www. Tempo.\aids\news.php.htm) Wakil Bupati Immawan Wahyudi mengatakan tak bisa mencampuri urusan sekolah. Kewajiban pemerintah hanya melakukan sosialisasi. Kalau pun masih ada orang tua siswa yang menolak, pemerintah tak berhak memaksa. “Memaksa masyarakat juga melanggar hak asasi manusia,” katanya. Adapun orang tua bocah yang hidup dengan HIV/AIDS itu menyatakan tertekan akibat anaknya tak bisa bersekolah. Perempuan berusia 27 tahun itu menolak home schooling yang ditawarkan sekolah. "Itu sama artinya dengan diskriminasi,” kata dia. (www. Tempo.\aids\news.php.htm)

2. Langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Pusat

Sejak ditemukannya kasus AIDS yang pertama di Bali pada tahun 1987, pemerintah Indonesia sudah menyadari bahwa aspek hukum menjadi urgen dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/ AIDS selain itu juga sebagai upaya untuk menghindari pelanggaran HAM yang terjadi pada penderita HIV/AIDS tersebut. Akan

tetapi legalisasi untuk mendapatkan suatu peraturan perudangan membutuhkan proses yang panjang dan tidak sederhana. (www//.makalah-hukum-dan-uu-hivaids.html) Sejalan dengan perkembangan epidemi HIV/ AIDS baik skala global maupun skala nasional, maka dirumuskanlah berbagai undang-undang diantaranya adalah:

1. Pasal 9 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. (1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. (2) Setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

2. Pasal 12 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya

agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahttera sesuai dengan hak asasi manusia.

3. Pasal 13 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Setiap orang berhak untuk mengembangkan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya sesuai dengan martabat manusia demi kesejahteraan pribadinya, bangsa, dan umat manusia.

4. Pasal 2 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama.

5. Pasal 4 UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuaidengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dandiskriminasi. Selain itu Pemerintah Republik Indonesia juga telah menerbitkan Keputusan

Presiden (Keppres) Nomor 36 Tahun 1994 tanggal 30 Mei 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS. Berdasarkan Keppres tersebut, dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang bertujuan untuk:

1. Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau strategi global pencegahan dan penanggulangan AIDS yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa;

2. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya AIDS dan meningkatkan pencegahan dan/atau penanggulangan AIDS secara lintas sektor, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi.(Indar,2010).

Untuk mengejawantahkan tujuan Keppres 36 Tahun 1994 maka Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang ditunjuk sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS, menerbitkan Keputusan Nomor: 9/KEP/MENKO/KESRA/VI/1994 tanggal 16 Juni 1994 tentang Strategi Nasional (STRANAS) Penanggulangan AIDS di Indonesia. Adapun tujuan yang diusung STRANAS dalam penanggulangan HIV dan AIDS adalah:

1. Mencegah penularan virus HIV dan AIDS.

2. Mengurangi sebanyak mungkin penderitaan perorangan serta dampak sosial dan ekonomis dari HIV dan AIDS di seluruh Indonesia.

3.

Menghimpun dan menyatukan upaya-upaya nasional untuk penanggulangan HIV dan AIDS.

Seiring pergerakan dan kecendrungan epidemi HIV dan AIDS maka pada tahun 2003, Komisi Penanggulangan AIDS menerbitkan STRANAS Pencegahan dan Penanggulangan HIV tahun 2003-2007 yang dirancang untuk sedapat mungkin mengakomodir seluruh perkembangan yang ada di dunia, terutama perkembangan dalam pertemuan Sidang Umum PBB, dikenal dengan Unitetd Nation General Assembly Special Session (UNGASS) yaitu satu pertemuan negara-negara anggota PBB dalam rangka membahas upaya global pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, tanggal 25-27 Juni tahun 2001. Hasil dari pertemuan tersebut didokumentasikan sebagai Deklarasi Komitmen Sidang Umum PBB tentang HIV dan AIDS dan Pemerintah Indonesia ikut

menandatanganinya.(Indar,2010)

Segera setelah itu, pada bulan Maret tahun 2002, dilaksanakan Rapat Kabinet yang

khusus membahas laju perkembangan epidemi HIV dan AIDS di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sekaligus merekomendasikan langkah-langkah strategis yang harus dilaksanakan dalam rangka menekan laju epidemi global ini. Langkah-langkah strategis

sebagaimana dimaksud di atas, dituangkan dalam STRANAS

Strategi Nasional 2003-2007 disusun dengan memperhatikan kecenderungan epidemi HIV dan AIDS, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pengobatan, dan perubahan sistem pemerintahan ke arah desentralisasi. Secara umum Strategi Nasional yang baru telah menggambarkan secara komprehensif segala hal yang diperlukan demi suksesnya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Hal ini terlihat jelas dalam penetapan area prioritas yang meliputi: (1) Pencegahan HIV dan AIDS, (2) Perawatan, Pengobatan dan Dukungan terhadap ODHA, (3) Surveilans HIV dan AIDS dan IMS, (4) Penelitian, (5) Lingkungan Kondusif, (6) Koordinasi Multipihak dan (7) Kesinambungan Penanggulangan (Simplexius Asa, dkk,

2009).

2003-2007.

.(Indar,2010)

3. Upaya yang dilakukan Masyarakat

Satu upaya dalam menanggulangi adanya diskriminasi terhadap ODHA adalah meningkatkan pemahaman tentang HIV & AIDS di masyarakat, khususnya di kalangan petugas kesehatan, dan terutama pelatihan tentang perawatan. Ini pada pokok menekankan pentingnya kewaspadaan universal, agar tidak ada kebingungan. Tambahannya, lebih banyak konselor harus dilatih agar pelaksanaan tes dan konseling

HIV dapat berjalan sesuai prosedur. Pemahaman tentang HIV & AIDS pada gilirannya akan disusul dengan perubahan sikap dan cara pandang masyarakat terhadap HIV & AIDS dan ODHA, sehingga akhirnya dapat mengurangi tindakan diskriminasi terhadap ODHA. (www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/09/01/buka-mata-tentang-diskriminasi- ODHA.html) Carilah informasi tentang HIV dan AIDS dari sumber yang tepat sebanyak- banyaknya adalah sebagai salah satu cara untuk melindungi diri kita dan orang lain. Paling penting adalah dengan makin banyak informasi yang diserap masyarakat (dari berbagai lapisan), maka perlahan-lahan stigma dan diskriminasi dapat dilenyapkan, sehingga mempercepat dan mempermudah usaha pencegahan karena orang tidak takut lagi untuk mengetahui status HIV-nya, apakah mereka terinfeksi atau

(www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/09/01/buka-mata-tentang-diskriminasi-

ODHA.html) Semakin banyak masyarakat yang sadar dan peduli akan HIV dan AIDS maka

AIDS akan bisa dihentikan melalui penghapusan stigma dan menghentikan diskriminasi dengan memulainya dari diri kita sendiri.

4. Hasil yang di peroleh

Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai macam upaya baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mengurangi tindakan diskriminasi dan pelanggaran HAM terhadap pengidap HIV/AIDS, namun tetap saja masih banyak terjadi tindakan diskriminasi dan pelanggaran HAM terhadap para penderita HIV/AIDS, itu menunjukkan bahwa berbagai macam aturan-aturan yang telah di kelurkan oleh pemerintah belum di laksanakan secara optimal. Disisi lain upaya untuk mengubah paradigma atau pandangan masyarakat tentang HIV/AIDS masih jauh dari keberhasilan. Sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa masalah HIV & AIDS dianggap hanya masalah bagi mereka yang mempunyai perilaku seks yang menyimpang. HIV & AIDS seringkali dikaitkan dengan masalah mereka yang dinilai tidak bermoral, pendosa dan sebagainya. Situasi seperti ini justru hanya memperburuk dan memperparah keadaan karena persoalan HIV yang tidak sesederhana itu.

KESIMPULAN

Adanya stigma atau persepsi negatif sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap penderita HIV/AIDS

Aspek hukum dan HAM merupakan dua komponen yang sangat penting dan ikut berpengaruh terhadap berhasil tidaknya program penanggulangan HIV/ AIDS yang dilaksanakan.

Ditemukan kasus pelanggaran HAM terhadap seorang anak penderita HIV/AIDS di kabupaten Gunung Kidul.

Aturan-aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah belum dilaksanakan secara optimal.

Saran

Agar pemerintah menjamin dan melindungi hak-hak penderita HIV/ AIDS sama seperti terhadap warga negara lainnya.

Agar Kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah dilaksanakan secara terpadu melalui upaya peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penularan, pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk pemberdayaan orang dengan HIV dan AIDS serta keluarganya.

Perlunya penyebaran informasi dan pengetahuan yang cukup kepada masyarakat agar para penderita HIV/ AIDS dapat diterima dengan lebih wajar di tengah masyarakat dan tidak diperlakukan secara diskriminatif.

Agar penderita HIV/ AIDS diperlakukan sebagai orang yang sakit bukan orang yang membawa penyakit.

Asa,

Simplexius,

DAFTAR PUSTAKA

dkk.

2009.

Efektifitas

Penerapan

Peraturan

Daerah

UNDANA.pdf). Indar, 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Makassar : Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas) Lubis, Todung Mulya. 2007. HIV/ AIDS dan Hak Asasi Manusia : Sebuah Catatan

Yendi.

Perlindungan

Hukum

Bagi

Penderita

HIV/

AIDS

dan

Tenaga

Kesehatan

Ditjen PP & PL Kemenkes RI. 2011. Statistik Kasus HIV AIDS di Indonesia

http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/09/01/buka-mata-tentang-diskriminasi-

ODHA.html)

http://.www.wikipedia/aids.com (www. Tempo.\aids\news.php.juli 2012.htm) http://www//.makalah-hukum-dan-uu-hivaids.html

Implementasi Otonomi Daerah Pada Perijinan Tambang Di Bima Dalam Perspektif Ketahanan Nasional

A. Pendahuluan

Pelaksanaan otonomi daerah seharusnya dapat memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing- masing. Terdapat batasan dalam penyelenggaraan otonomi daerah, namun batasan ini hanya menjelaskan proses kewenangan yang diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, tetapi belum menjelaskan isi dan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan tersebut kepada badan-badan penyelenggara otonomi daerah. Tuntutan akan pengelolaan pemerintah daerah yang mandiri dengan semangat otonomi daerah yang semakin marak dan seiring pelaksanaan otonomi daerah, di khawatirkan lahirnya perundang-undangan daerah (PERDA) yang cenderung bertolak belakang dengan semangat konstitusi dan dasar Negara yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Dahrendorf, 1986). Obral ijin pertambangan di masa otonomi daerah merupakan fenomena berskala nasional. Menjelang tutup tahun 2011, tercatat sedikitnya 8.000 ijin usaha pertambangan (IUP) yang telah dikeluarkan. Dari total ijin sebanyak itu, 6.000 IUP berpotensi terjadi tumpang tindih satu sama lain. Munculnya kondisi itu tidak terlepas dari kewenangan ijin yang berada di daerah sesuai dengan amanat UU No. 4/2009 tentang Mineral dan Batubara (www.otonomidaerah.net).

B. Dampak Kegiatan Penambangan

Kerusakan lahan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Dampak yang ditimbulkan akan berbeda pada setiap jenis pertambangan, tergantung pada metode dan teknologi yang digunakan (Direktorat Sumber Daya Mineral dan Pertambangan, 2003). Kebanyakan kerusakan lahan yang terjadi disebabkan oleh perusahaan tambang yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dan adanya penambangan tanpa ijin (PETI) yang melakukan proses penambangan secara liar dan tidak ramah lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2002). Secara umum kerusakan lahan yang terjadi akibat aktivitas pertambangan antara

lain:

1. Perubahan vegetasi penutup

Proses land clearing pada saat operasi pertambangan dimulai, menghasilkan dampak lingkungan yang sangat signifikan yaitu, hilangnya vegetasi alami. Apalagi kegiatan pertambangan yang dilakukan di dalam kawasan hutan lindung. Hilangnya vegetasi akan berdampak pada perubahan iklim mikro, keanekaragaman hayati (biodiversity) dan habitat satwa menjadi berkurang. Tanpa vegetasi, lahan menjadi terbuka dan akan memperbesar erosi dan sedimentasi pada saat musim hujan (www.djmbp.esdm.go.id).

sedimentasi pada saat musim hujan (www.djmbp.esdm.go.id) . Gambar 1 . Perubahan Vegetasi Penutup Akibat Proyek

Gambar 1. Perubahan Vegetasi Penutup Akibat Proyek Pertambangan Emas

2. Perubahan topografi

Pengupasan tanah pucuk mengakibatkan perubahan topografi pada daerah tambang. Areal yang berubah umumnya lebih luas dari dari lubang tambang, karena digunakan untuk menumpuk hasil galian (tanah pucuk dan overburden) dan pembangunan infrastruktur. Hal ini sering menjadi masalah pada perusahaan tambang kecil karena keterbatasan lahan (www.djmbp.esdm.go.id).

3. Perubahan pola hidrologi

Pada sistem penambangan terbuka saat beroperasi, air dipompa lewat sumur- sumur bor untuk mengeringkan areal yang dieksploitasi untuk memudahkan pengambilan bahan tambang. Setelah tambang tidak beroperasi, aktivitas sumur pompa dihentikan, maka tinggi muka air tanah (ground water table) berubah yang mengindikasikan pengurangan cadangan air tanah untuk keperluan lain dan berpotensi tercemarnya badan air akibat tersingkapnya batuan yang mengandung sulfida sehingga kualitasnya menurun

4. Kerusakan tubuh tanah Kerusakan tubuh tanah dapat terjadi pada saat pengupasan dan penimbunan kembali tanah pucuk untuk proses reklamasi. Hal ini tentunya membuat tanah sebagai media tumbuh tidak dapat berfungsi dengan baik bagi tanaman nantinya dan tanpa adanya vegetasi penutup akan membuatnya rawan terhadap erosi baik oleh hujan maupun angin (www.menlh.go.id). Sementara itu proses pengolahan bijih mineral dari hasil tambang yang menghasilkan limbah tailing juga berpotensi mengandung bahan pembentuk asam, sehingga akan merusak lingkungan karena keberadaannya yang bisa jauh ke luar arel tambang (http://arwansoil.blogspot.com).

ke luar arel tambang (http://arwansoil.blogspot.com) . Gambar 2 . Kerusakan Tubuh Tanah Akibat Proyek Pertambangan

Gambar 2. Kerusakan Tubuh Tanah Akibat Proyek Pertambangan

C. Perijinan Tambang Dalam Perspektif Otonomi Daerah

Dalam kebijakan otonomi daerah, ijin-ijin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh daerah semuanya kembali kepada kebijaksanaan kepala daerah, hal ini sesuai dengan Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi bahwa “Pemerintahan daerah mengatur pemanfaatan sumber daya alam sesuai dengan asas otonomi daerah masing-masing” (http://id.berita.yahoo.com). Sebelum ijin pertambangan dikeluarkan, seharusnya, PEMDA memiliki kemampuan perangkat untuk memverifikasi kemampuan investor, kemampuan SDM dalam konteks pertambangan, data soal kekayaan SDA dan kemampuan analisa perusahaan. Namun itu semua tidak dimiliki oleh PEMDA secara baik. Hal yang sama juga telah diatur dalam UU MINERBA tahun 2009 pasal 37A yang berbunyi “IUP diberikan oleh: bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota”. Namun, jika kita melihat Pasal 171 ayat (1) UU MINERBA selengkapnya berbunyi: "Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya penguasaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud Pasal 69 yang telah melakukan tahapan kegiatan

eksplorasi, studi kelayakan, kontruksi, atau operasi produksi paling lambat satu tahun sejak berlakunya UU ini harus menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian untuk mendapatkan persetujuan pemerintah". Hal ini jelas merupakan tumpang tindih yang sangat mengekang asas-asas yang tertuang dalam UU tentang otonomi daerah (www.otonomidaerah.net). Saat ini sektor pertambangan merupakan sektor yang paling banyak menarik perhatian para investor. Tumpang tindih lahan sering sekali terjadi dalam sektor ini yang merupakan imbas dari penerapan otonomi daerah di negara ini. Dalam penerapan otonomi daerah, membebaskan kepada kepala daerah untuk mengeluarkan ijin tambang di daerahnya masing-masing. Akhirnya banyak sekali sengketa yang timbul dari permasalahan ini. Oleh karena itu, mulai pada tahun 2013 semua ijin tambang yang dikeluarkan pemerintah daerah akan di kontrol oleh pemerintah pusat melalui SK Mentri Energi dan Sumberdaya Mineral (www.detik.com).

D. Perijinan Tambang di pusat

Dengan mengacu pada UU MINERBA tahun 2009 pasal 6 point G, tentang kewenangan dari Pemerintah pusat yaitu sebagai pemberi IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha pertambangan yang lokasi penambangannya berada pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12(dua belas) mil dari garis pantai. Sedangkan kurang dari itu merupakan kewenangan dari pemerintah provinsi dan kabupaten dalam mengeluarkan IUP. Dalam kasus seperti IUP yang terjadi di Bima, dimana lokasi tambang berada dalam satu wilayah kabupaten saja, Pemerintah pusat tidak hanya bertindak sebagai pengawas dan penilai terhadap pelaksanaan kegiatan tambang tersebut sebagaimana telah diatur dalam UU MINERBA tahun 2009 Pasal 140, tetapi mereka merupakan penentu batas WIUP (Wilayah Ijin Usaha Penambangan) tersebut dan juga mencabut IUP yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah provinsi, kabupaten/kota apabila pemerintah provinsi, kabupaten/kota di nilai kinerjanya tidak memuaskan sebagaiman fungsinya (Nugraha,

2004).

E. Perijinan Tambang di daerah

Luas Wilayah Penambangan (WP) disemua wilayah baik provinsi maupun Kabupaten/kota ditetapkan oleh pemerintah pusat setelah melakukan koordinasi dengan

Pemda dan DPR RI. Berarti daerah tidak berwewenang dalam penentuan wilayah

pertambangan (WP). Dengan mengacu pada UU MINERBA tahun 2009 Pasal 8 point C tentang kewenangan pemerintah Kabupaten/kota sebagai “Pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil. Kemudian point tersebut di perjelas lagi oleh point I tentang kewenangan pemerintah kota yaitu “Penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum dan penelitian, serta eksplorasi dan eksploitasi kepada Menteri dan gubernur (www.tambangnews.com). Khusus di bidang usaha pertambangan, ketidak pastian hukum berinvestasi semakin bertambah komplek pada masa otonomi daerah. Apabila dipetakan, masalah dalam pelaksanaan otonomi daerah berkaitan dengan bidang energi dan sumber daya mineral meliputi :

1.

kewenangan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten atau kota,

2.

tumpang-tindih lahan pertambangan dengan kegiatan sektor kehutanan, royalti, dan revenue sharing antara pusat dan daerah,

3.

permintaan daerah untuk dapat menerima secara langsung royalti dari perusahan pertambangan,

4.

keterbatasan akses daerah atas data produksi dan potensi energi dan sumber daya mineral,

5.

peraturan perundang-undangan yang ada belum memadai serta adanya peraturan yang saling bertentangan dan tumpang tindih (Irwandy, 2008).

F.

Contoh Kasus

Kecamatan Lambu adalah kecamatan pemekaran dari Kecamatan Sape yang kini menjadi salah satu dari delapan belas kecamatan yang ada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Kecamatan yang memiliki dua belas desa dan terletak di ujung timur

Kabupaten Bima, tiba-tiba dihebohkan dengan masuknya perusahaan tambang emas yang dipusatkan di Desa Sumi Dusun Baku Kecamatan Lambu.

Gambar 3 . Peta Lokasi Proyek Penambangan di Kec. Lambu (http://www.arcexploration.com.au) PT. Sumber Mineral Nusantara

Gambar 3. Peta Lokasi Proyek Penambangan di Kec. Lambu (http://www.arcexploration.com.au)

PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN) ternyata telah mengantongi Ijin Usaha Penambangan (IUP) sejak tahun 2008 silam yang kemudian diperbaharui dan dilakukan penyesuaian IUP tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Bima Tahun 2010 mengingat tahun 2009 sedang di laksanakan Pemilihan Umum Kepala Daera (PEMILUKADA) yang kemungkinan akan dipolitisasi oleh berbagai elemen kepentingan guna menuju kursi kekuasaan di Kabupaten Bima. Dengan telah dikantonginya IUP bernomor 188/45/357/004/2010, PT SMN mulailah melakukan pengoperasian di lokasi seluas 24. 980 Ha (www.antaranews.com). Aktivitas PT. SMN kehadirannya ternyata tidak diketahui lebih awal oleh sebagian besar masyarakat kecamatan Lambu. Keberadaan PT SMN hanya diketahui pada kalangan aparat desa dan aparat kecamatan tanpa melibatkan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini pemerintah jelas telah melanggar Undang-undang, denmgan mengacu pada Pasal 64 UU MINERBA tahun 2009 dimana “Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP sebagai mana dimaksud dalam Pasal 16 serta memberikan IUP Eksplorasidan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 kepada masyarakat secara terbuka “ dan Pasal 85 yaitu “Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 serta memberikan IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 kepada masyarakat secara terbuka” (www.walhi.or.id). Pasal 10 yang menyatakan penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:

a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab

b. secara terpadu dengan rnemperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan

c. dengan rnemperhatikan aspirasi daerah (www.hukumonline.com).

Berdasarkan pasal 10 di atas, jelas sudah pada kasus pembukaan Pertambangan di wilayah Kec. Lambu tidak diperbolehkan. Karena wilayah itu merupakan daerah pertanian tanaman bawang yang menjadi komoditi utama warga dan merupakan sumber ekonomi utama warga Lambu (www.kompas.com). Sekitar bulan Desember tahun 2010, sekelompok masyarakat mempertanyakan kehadiran PT. SMN kepada camat setempat. Hasil pertemuan yang digelar di ruangan aula kantor Kecamatan Lambu antara kelompok masyarakat, Camat beserta aparaturnya menghasilkan bahwa, PT. SMN memang telah memiliki IUP bernomor 188/45/357/004/2010 dengan luas 24. 980 Ha (SK Bupati Bima) yang beroperasi di kecamatan Lambu, Sape dan Langgudu.

1. Sikap Pemerintah Pusat

Pemerintah merupakan pengambil keputusan tertinggi di negara ini. Berdasarkan pada serangkaian kejadian yang berujung pada jatuhnya korban nyawa di Bima, peran pemerintah masih sangat kurang dalam membantu menyelesaikan masalah di daerah (http://www.republika.co.id). Dalam hal ini, pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) telah merekomendasikan ijin pertambangan N0. 188 yang dimiliki oleh PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN) agar dicabut. Mekanisme pencabutan ijin sudah pasti memang urusan Bupati setempat, sesuai dengan UU MINERBA tentang Kewengan Pemerintah Daerah, akan tetapi bukankah pemerintah pusat juga berhak mengambil keputusan apabila kinerja Pemerintah Daerah dinilai kurang (http://www.republika.co.id). Pemerintah pusat cenderung menyalahkan Pemerintah Daerah dalam hal ini, dengan alasan bahwa Pemerintah Bima tidak pernah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat sebelum mengeluarkan IUP kepada PT. SMN. Selain itu, pemerintah pusat

menuduh Pemerintah Bima terlalu lambat dalam mengambil keputusan, sehingga terjadi bentrok yang menyebabkan jatuhnya korban (www.bisnis.com).

2.

Tanggapan Masyarakat Bima

Luas wilayah pertambangan yang berkisar 24.980 hektar merupakan sebagian besar dari lahan pertanian warga. Kekhawatiran warga sangat beralasan karena itu merupakan lahan yang menjadi mata pencaharian pokok bagi warga Sape. Bawang merah merupakan komoditi utama dari sektor pertanian di wilayah ini, dalam sebulan rata-rata petani dapat berpenghasilan 5 juta rupiah. Hal ini sangat tidak sebanding dengan nilai ganti rugi yang dijanjikan oleh pemerintah. Selain itu warga mengkhawatirkan pembukaan pertambangan akan memberikan imbas buruk terhadap sektor pertanian di daerah Sape, misalnya disebabkan oleh limbah pertambangan itu sendiri. Bentrok berdarah yang terjadi di daerah Bima merupakan ujung dari respon kekesalan warga Sape karena pemerintah tidak pernah merespon aspirasi warga tentang pembukaan tambang di daerahnya. Banyak tuntutan warga Sape yang tidak pernah direspon oleh pemerintah, diantaranya adalah kapan ijin pertambangan ini dikeluarkan, bagaiman proses ganti rugi pada warga yang lahanya diambil, dll. Respon pemerintah dinilai warga sangat lambat dan cenderung mengabaikan hal itu. Pemerintah hanya memikirkan tentang sejumlah uang yang akan diperoleh daerahnya dan selalu mengabaikan kepentingan masyarakat dan akibat buruk dari sektor pertambangan tersebut terhadap lingkungan. Kasus Mesuji dan bentrok aparat dengan pengunjuk rasa di Pelabuhan Sape Kabupaten Bima NTB, hanya puncak gunung es dari fenomena konflik agraria di Indonesia. Banyaknya konflik agraria, tak sebanding dengan respon pemerintah. Dalam kasus seperti ini, negara tidak saja abai dalam menjalankan kewajibannya menjaga hak- hak masyarakat adat, lebih dari itu justru malah ikut melanggar hak-hak hidup masyarakat adat.

Walaupun pada pasal 145 telah dikemukakan tentang perlindungan masyarakat, namun itu semua seakan bukan suatu yang harus dilakukan oleh pemerintah. Belum lagi isu yang beredar mengatakan bahwa ijin yang dikeluarkan belum memenuhi syarat. Bagaimana bisa perusahaan yang jelas-jelas belum memenuhi syarat dan ketentuan seperti yang di atur dalam Undang-undang ini bisa beroperasi. Akibatnya, pemda yang didikte oleh investor. Dari kasus ini akhirnya akan mucul beberapa pertanyaan, apakah ijin yang dikeluarkan itu sudah memenuhi persyaratan, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi bagi daerah yang bersangkutan ataukah tidak. Pada tataran itu, kita bisa mengetahuinya dari perusahaan yang mengajukan ijin itu masuk katagori perusahaan besar, menengah atau kecil. Pertanyaan berikutnya, bagaimana

perusahaan melakukan eksplorasi dan kewajiban lainnya sesuai dengan ketentuan UU seperti kewajiban reklamasi atau CSR. Banyak yang mempertanyakan akan kemampuan perusahaan yang memiliki IUP, bagaimana perusahaan tersebut dengan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan bersama dengan IUP, yang pasti perusahaan memiliki motif ekonomi, ambil untung cepat sehingga dampak kerusakan lingkungan terjadi secara massif baik di darat maupun di laut daerah ini. Hebatnya, pemerintah daerah tidak menyiapkan regulasi untuk mengatur ketidak jelasan pertambangan di Bumi ini. Tak ada jaminan reklamasi laut yang nilainya dikaji dengan memperhatikan keberlanjutan ekologi. Tak ada kawasan pertambangan laut yang benar-benar diatur dalam tata ruang wilayah laut daerah sehingga tidak menghancurkan potensi perikanan dan wisata bahari yang selalu didengung-dengungkan menjadi sektor ekonomi masa depan daerah ini (www.walhi.or.id/id).

KESIMPULAN

Berdasarkan kajian dan analisa dari kasus Pertambangan di bima itu dapat ditarik kesimpulan :

1. Implementasi Otonomi daerah di Indonesia masih menuai banyak permasalahan salah satunya adalah masalah Ijin pertambangan.

2. Implementasi otonomi daerah menyebabkan terjadinya tumpang tindih pengambilan keputusan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

3. Masih adanya oknum aparat sebagai pengayom masyarakat yang sangat lemah dalam mejaga hak-hak rakyatnya.

4. Banyaknya peraturan dan Undang-undang yang berlaku di Indonesia merupakan kelemahan dalam penegakan keadilan.

Saran

Perlu adanya pengkajian yang lebih mendalam tentang peraturan Perundang- undangan yang berlaku di Indonesia, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pengambilan keputusan dan kekuasaan terutama yang berkaitan dengan Otonomi Daerah. Dalam implementasi otonomi daerah sangat lemah upaya penegakan hukumnya termasuk pada sektor pertambangan, sehingga sangat perlu adanya kejelasan kewenangan serta mandat hukum yang jelas bagi pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah dalam melakukan fungsinya sebagai pemberi/pencabut ijin pertambangan di wilayahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dahrendorf, 1986. Konflik dalam Masyarakat Industri. CV. Rajawali, Jakarta. http://www.walhi.or.id/id. Pencabutan Ijin Tambang Di Bima. Akses 2 Agustus 2012, 22.10 wib. http://news.okezone.com/read. Bupati Bima Cabut Ijin Tambang. Akses 2 Agustus 2012,

22.36 wib.

http://hukum.kompasiana.com. Undang-undang MINERBA No.4 Tahun 2009. Akses 2 Agustus 2012, 22.37 wib. http://www.republika.co.id. Bentrok Pertambangan di Bima. Akses 2 Agustus 2012, 22.42

wib. http://nasional.news.viva.co.id. WIUP Pertambangan di Bima. Akses 2 Agustus 2012,

22.17 wib.

http://www.otonomidaerah.net. Proses Perijinan Tambang Dalam Otonomi Daerah. Akses 2 Agustus 2012, 22.43 wib. http://www.menlh.go.id. Penyebab Kerusakan Lingkungan. Akses 2 Agustus 2012, 22.20 wib.

EID%3D13061239&imgrefurl. Peta Proyek Pertambangan Bima, akses 10 Agustus 2012, 12.30 wib.

0/Heat%252BForest%252BPWH.jpg&imgrefurl. Dampak Pertambangan Emas, akses 10 Agustus 2012, 12.34 wib. Irwandy, Arif. “Kepastian Hukum Sektor Pertambangan”

Nugraha. 2004. Standarisasi dan Evaluasi Pelaksanaan Otonomi Daerah dan Pelayanan Publio. UNPAD, Bandung. Soil, Anwar. Dampak Negatif Sektor Pertambangan, dalam http://arwansoil.blogspot.com. Akses 2 Agustus 2012, 22.15 wib.

Pidana Mati Dalam UU Narkotika Tidak Bertentangan Dengan UUD 1945

A. Pendahuluan

Ketentuan Pasal 80 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a, ayat (3) huruf a; Pasal 81 ayat

(3) huruf a; Pasal 82 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a, dan ayat (3) huruf a UU Narkotika,

sepanjang mengenai ancaman pidana mati, tidak bertentangan dengan Pasal 28A dan

Pasal 28I ayat (1) UUD 1945.

Hal tersebut dinyatakan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang pembacaan

putusan permohonan pengujian UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (UU Narkotika)

yang diajukan para Pemohon perkara 2/PUU-V/2007 (Edith Yunita Sianturi, Rani Andriani,

Myuran Sukumaran, Andrew Chan) dan Pemohon perkara 3/PUU-V/2007 (Scott Anthony

Rush).

Selasa (30/10) di Ruang Sidang MK. Para Pemohon yang sebagian merupakan

warga negara asing yang telah dipidana mati tersebut merasa hak konstitusionalnya

terlanggar dengan adanya ancaman pidana mati dalam UU Narkotika.

Putusan ini dalam konklusinya, terkait dengan kedudukan hukum (legal standing)

pemohon warga negara asing tersebut, MK menyatakan bahwa para Pemohon yang

berkewarganegaraan asing tidaklah mempunyai kedudukan hukum, sehingga

permohonan Myuran Sukumaran, Andrew Chan dan Scott Anthony Rush tidak dapat

diterima (niet ontvankelijk verklaard).

Menanggapi argumentasi pokok yang diajukan para Pemohon bahwa pidana mati

bertentangan dengan hak untuk hidup (right to life) yang menurut rumusan Pasal 28I ayat

(1) UUD 1945 merupakan salah satu hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa

pun, MK mendasarkan pada original intent pembentuk UUD 1945 yang menyatakan

bahwa hak asasi manusia dapat dibatasi. Hal ini diperkuat pula dengan penempatan Pasal

28J sebagai pasal penutup dari seluruh ketentuan yang mengatur tentang hak asasi

manusia dalam Bab XA UUD 1945. Jadi, secara penafsiran sistematis (sistematische

interpretatie); hak asasi manusia yang diatur dalam Pasal 28A sampai dengan Pasal 28I

UUD 1945 tunduk pada pembatasan hak asasi manusia yang diatur dalam Pasal 28J UUD

1945. Ketidakmutlakan hak untuk hidup (right to life); baik yang berwujud ketentuan-

ketentuan yang membolehkan diberlakukannya pidana mati dengan pembatasan-

pembatasan tertentu ataupun ketentuan-ketentuan tentang penghilangan nyawa secara

absah, dapat juga ditemukan dalam sejumlah instrumen hukum internasional yang

mengatur tentang atau berkait dengan hak asasi manusia, di antaranya, International

Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR); Protocol Additional I to the 1949

Conventions and Relating to the Protection of Victims of International Armed Conflict, Protocol Additional II to the 1949 Conventions and Relating to the Protection of Victims of Non- International Armed Conflict, Rome Statute of International Criminal Court, Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms (European Convention on Human Rights); American Convention on Human Rights, Protocol No. 6 to the Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms Concerning the Abolition of the Death Penalty. Sebagai contoh, ICCPR yang digunakan para Pemohon untuk mendukung dalil dalilnya, tidaklah melarang negaranegara pihak (state parties) untuk memberlakukan pidana mati, tetapi ada pembatasan diberlakukan hanya terhadap kejahatan-kejahatan yang paling serius sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat dilakukannya kejahatan tersebut (the most serious crimes in accordance with the law in force at the time of the

[Pasal 6 ayat (2) ICCPR]. Artinya, dengan imungkinkannya

suatu negara memberlakukan pidana mati (meskipun dengan pembatasan-pembatasan); hal itu merupakan bukti bahwa hak untuk hidup tidaklah bersifat mutlak. Terkait dengan itu, MK menyatakan bahwa kejahatan-kejahatan yang diatur dalam Pasal 80 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a, dan ayat (3) huruf a; Pasal 81 ayat (3) huruf a; serta Pasal 82 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a, dan ayat (3) huruf a UU Narkotika tergolong ke dalam kelompok kejahatan yang paling serius baik menurut UU Narkotika maupun menurut ketentuan hukum internasional yang berlaku pada saat kejahatan tersebut dilakukan. Dengan demikian, kualifikasi kejahatan pada pasal-pasal UU Narkotika di atas dapat disetarakan dengan -the most serious Crime- menurut ketentuan Pasal 6 ICCPR. MK juga memberikan beberapa catatan penting, sebagaimana dituangkan dalam pertimbangan hukum putusan, salah satunya adalah ke depan, dalam rangka pembaruan hukum pidana nasional dan harmonisasi peraturan perundangundangan yang terkait dengan pidana mati, maka perumusan, penerapan, maupun pelaksanaan pidana mati dalam sistem peradilan pidana di Indonesia hendaklah memperhatikan dengan sungguh-sungguh: bahwa pidana mati bukan lagi merupakan pidana pokok, melainkan sebagai pidana yang bersifat khusus dan alternatif; pidana mati dapat

commission of the crime

)

dijatuhkan dengan masa percobaan selama sepuluh tahun yang apabila terpidana berkelakuan terpuji dapat diubah dengan pidana penjara seumur hidup atau selama 20 tahun; pidana mati tidak dapat dijatuhkan terhadap anak-anak yang belum dewasa; eksekusi pidana mati terhadap perempuan hamil dan seseorang yang sakit jiwa

ditangguhkan sampai perempuan hamil tersebut melahirkan dan terpidana yang sakit jiwa tersebut sembuh. Selain itu, demi kepastian hukum yang adil, MK juga menyarankan agar semua putusan pidana mati yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) segera dilaksanakan. Terhadap putusan ini, empat orang Hakim Konstitusi mempunyai pendapat berbeda (dissenting opinions). Pendapat berbeda Hakim Konstitusi H. Harjono khusus mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon Warga Negara Asing. Hakim Konstitusi H. Achmad Roestandi mempunyai pendapat berbeda mengenai Pokok Permohonan. Sedangkan Hakim Konstitusi H.M. Laica Marzuki dan Hakim Konstitusi Maruarar Siahaan mempunyai pendapat berbeda baik mengenai kedudukan hukum (legal standing) maupun Pokok Permohonan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan adalah apakah orang asing memiliki kapasitas Legal Standing selaku Pemohon untuk memohon Pengujian Undang-Undang Terhadap UUD 1945 pada Mahkamah Konstitusi.

C. Pembahasan

Menurut Jack Donnely dan Maurice Cranston, Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. (Jack Donnely, Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell University Press, Ithaca and London, 2003, hlm 7 lihat juga Maurice Cranston, What are Human Rights? Taplinger, New York, 1973, hlm 70). Pengertian diatas memberikan pemahaman bahwa meskipun setiap orang terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan yang berbeda- beda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut. Inilah sifat universal dari hak-hak tersebut, selain bersifat universal, hak-hak itu juga tidak dapat dicabut (inalienable). Artinya seburuk

apapun perlakukan yang telah dialami oleh seseorang ataupun betapa bengisnya perlakukan seseorang, ia tidak akan berhenti menjadi manusia dan karena itu tetap memiliki hak-hak tersebut atau dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada dirinya sebagai mahkluk insani.

Dengan demikian, hak asasi manusia adalah bersifat universal. Karena hukum yang mengatur hak asasi manusia pada dasarnya tumbuh dan bersumber dari proses atau interaksi internasional. Nilai-nilai dan konsep hak-hak asasi manusia yang tumbuh di berbagai negara di dunia, yang kemudian diterima oleh berbagai bangsa dikembangkan, dirumuskan dan dijadikan sebagai pedoman universal oleh masyarakat dunia untuk melindungi setiap orang/kelompok dengan segala hak-hak dasar kemanusiaan yang melekat padanya. Sifat hukum internasional tidak saja dalam bentuk pernyataan atau deklarasi, tetapi juga ada dalam bentuk yang lebih bersifat mengikat, sebagaimana dalam bentuk konvensi dan kovenan internasional.(N.H. Siahaan dan Subiharta (ed), Hukum Kewarganegaraan Dan HAM, Pancuran Alam dan Pusat Kajian Kebijakan Hukum dan Ekonomi, Jakarta, 2007, hlm 21). Dengan adanya pembatasan tentang kedudukan hukum (legal stending) pada Mahkamah Konstitusi bahwa yang boleh menjadi pemohon hanya perorangan warga negara Indonesia yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya suatu undang-undang. Sehingga warga negara asing (WNA) tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku pemohon dalam proses judicial review, pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. pembatasan ini melahirkan pendapat yang beragam dikalangan praktisi hukum. Pada satu sisi, ada yang berpendapat bahwa asas persamaan di depan hukum, berlaku untuk “setiap orang”, apapun warga negaranya. Hal ini didasarkan pada pasal 28D UUD 1945 ayat (1) yaitu, Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Dengan dasar ini mestinya kedudukan sama didepan hukum itu tak terbatas hanya dilingkungan peradilan umum di bawah Mahkamah Agung saja tetapi juga di Mahkamah Konstitusi.(Pendapat Tudung Mulya Lubis dan Alexander Lay, Dalam Gatra 26 Pebruari 2007, hlm 74).

a. Kedaulatan Negara (Sovereign) Menurut hukum internasional, setiap negara memiliki kedaulatan. Dengan adanya

kedaulatan, negara memiliki sejumlah kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka menghormati dan menegakan hak asasi manusia. Tindakan tersebut

control over its own territory to the exclusion pf all other states,

posseses authority to govern inits own territoty, and has the exclusive right to establish

antara lain “

Lawful

and apply the law internally. (H. Victor Conde, A. Handbook of International Human Rights Terminology. University of Nebraska Press, Lincoln, 1999, hlm 139). Dalam perspektif ini, Kedaulatan memiliki tiga aspek utama yaitu ektern, intern dan teritorial. Aspek ekstern kedaulatan adalah hak bagi setiap negara untuk bebas menentukan hubungannya dengan berbagai negara atau kelompok lain tanpa kekangan, tekanan atau pengawasan dari negara lain. Aspek intern kedaulatan ialah hak atau wewenang eksklusif suatu negara untuk menentukan bentuk lembaga-lembaganya, cara kerja lembaganya tersebut dan hak untuk membuat undang-undang yang diinginkannya serta tindakan-tindakan untuk mematuhinya. Negara mempunyai yurisdiksi sepenuhnya untuk menghukum terhadap orang-orang yang berada di dalam wilayah negara itu yang melanggar hukum negara. (Sumaryo Suryokusumo, Hukum Ekstradisi, Universitas Pandjadjaran Bandung 2009, hlm 1). Sebagai implementasi atas kedaulatan, sebagaimana tersebut diatas maka Indonesia telah membentuk beberapa lembaga-lembaga dan cara kerjanya serta undang-undang yang diinginkannya, diantara lembaga tersebut adalah Mahkamah Konstitusi berdasarkan pada Undang-Undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Hak dan/atau wewenang konstitusional pemohon constitutional review, menurut Knut D. Asplud dkk, lebih dekat dengan jaminan perlindungan hak asasi manusia bagi warga negara. Karena mengingat perumusan hak asasi manusia dalam UUD 1945 sebagai hak setiap orang atau individual rights, yang lebih dekat pada pengertian warga negara sehingga membawa implikasi perumusan hak asasi manusia sebagai hak perseorangan (individual), perumusan seperti ini terdapat dalam sistem hukum manapun (berdasarkan prinsip universalitas hak asasi manusia). sehingga bagi warga negara asing, yang mempermasalahkan suatu undang-undang dengan UUD suatu negara asing, menyebabkan peluang ini dapat terhalangi oleh ketentuan prosedural hukum acara yang hanya memberi akses peradilan nasional kepada warga negara, bahkan hak seperti inipun tidak bagi semua warga negara. Perumusan hak-hak konstitusional sebagai warga negara hanya terbatas bagi warga negara yang merasa dirugikan dengan berlakunya suatu undang-undang (bukan sebagai hak semua orang). Disamping itu meskipun dirumuskan sebagai hak asasi manusia tetapi pelaksanaan hak konstitusional tertentu sangat terkait erat dengan hubungan konstitusional (constitutional and political relations) pemegang hak yang bersangkutan dengan konstitusi dan negara, misalnya hak untuk memperoleh kesempatan yang sama di muka pemerintahan (equal oppurtunity and

streatment). Meskipun ini adalah hak asasi manusia namun tentunya tidak mungkin dapat dimohonkan oleh pemohon warga negara asing. Sejalan dengan pengertian diatas Mahkamah Konstitusi berpendapat dalam putusannya bahwa:

a. Pasal 51 ayat (1) huruf a UU MK beserta penjelasannya sangat tegas dan jelas (expressis verbis) menyatakan bahwa perorangan yang berhak mengajukan permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 (yang berarti yang mempunyai hak konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945) hanya WNI, WNA tidak berhak. b. Tidak dimungkinkannya WNA mempersoalkan suatu undang-undang Republik Indonesia tidak berarti bahwa WNA tidak memperoleh perlindungan hukum menurut prinsip due process of law, in casu dalam hal ketentuan pidana mati di mana Pemohon tetap dapat melakukan upaya hukum (legal remedies) berupa banding, kasasi, dan peninjauan kembali.

D. Penutup Dengan dilandasi asas-asas hak asasi manusia yang universal, UUD 1945 beserta hukum positif Indonesia lainnya, memberikan jaminan perlindungan dan pelaksanaan hak asasi manusia bagi setiap orang baik terhadap warga negara asing maupun warga negaranya. Komitmen bangsa Indonesia untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia yang harus dilindungi, dihormati dan ditingkatkan demi untuk meningkatkan martabat kemanusiaan, termasuk menegaskan tentang prinsip nondiskriminasi karena setiap orang adalah dilahirkan dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat termasuk di hadapan hukum. Oleh sebab itu setiap orang berhak menuntut dan diadili dengan memperoleh perlakukan dan perlindungan yang sama di depan hukum, setiap orang tanpa kecuali termasuk mereka yang berkewargeanegaraan asing, berhak mendapat bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang obyektif dan tidak berpihak (equaty before the law) namun tentunya dalam batas beracara dalam peradilan di bawah kompetensi Mahkamah Agung karena persoalan warga negara asing lebih terkait dengan hak untuk memperoleh keadilan baik dalam perkara pidana, perdata maupun administrasi. Hak asasi yang sama tidak dapat diterapkan di Mahkamah Konstitusi karena kompetensi Mahkamah Konstitusi lebih dekat dengan hubungan konstitusional (constitutional and political relations) pemegang hak yang bersangkutan dalam hal ini warga negara dengan konstitusi negaranya.

Untuk memberikan keseimbangan maka konstruksi kaidah hukum internasional harus merumuskan secara konkrit doktrin “perlindungan negara terhadap orang asing” atau “state responsibility for injury to alliens”. Bahwa perlindungan kepada warga negara asing manakala mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan standar minimum tertentu (certain minimum standards), maka negara asing tersebut memiliki kewajiban hukum untuk memberikan kompensasi kepada orang asing yang dirugikan. Dan negara yang warga negaranya dirugikan dapat meminta kompensasi atas kerugian yang dialami untuk kepentingan warganya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/berita.php.newcode=471

http://www.indonesia.go.id/id - REPUBLIK INDONESIA Powered by Joomla Generated: 20 October, 2009, 09:49 H. Victor Conde, A. Handbook of International Human Rights Terminology. University of Nebraska Press, Lincoln, 1999 Jack Donnely, Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell University Press, Ithaca and London, 2003, hlm 7 lihat juga Maurice Cranston, What are Human Rights? Taplinger, New York, 1973

John Locke, The Second Treatise of Civil Government and a Letter Cobcerning Toleration, disunting oleh J.W. Gough, Blackwell, Oxford, 1964 Knut D. Asplud, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (ed), Hukum Hak Asasi Manusia/Rhona

K.M. Smith, at.al

,Pusat

Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia,

Yogyakarta, 2008 Krzysztof, Caterina Krause and Allan Rosas (eds), Social Rights as Human Rights: A European Challenge, Abo Academi University Institute for Human Rights, Abo,

1994

Nkambo Murgewa, Subjects of Internasional Law, Edited by Max Sorensen, Mac Millan,

New Yirk, 1968

Sistem Pemerintahan di Indonesia Sekarang

Bab.I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Di dalam negara hukum, setiap aspek tindakan pemerintahan baik dalam lapangan pengaturan maupun dalam lapangan pelayanan harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan atau berdasarkan padalegalitas. Artinya pemerintah tidak dapat melakukan tindakan pemerintahan tanapa dasar kewenangan. Sebagai penganut sistem pemerintahan presidensiil, di Republik Indonesia juga berlaku keadaan dimana kedudukan presiden dan parlemen adalah setara. Parlemen dalam hal ini adalah DPR. Presiden tidak bisa membubarkan DPR, begitu juga sebaliknya, DPR tidak bisa memberhentikan Presiden di tengah masa pemerintahan, karena masa jabatan presiden adalah lima tahun. Namun, sistem pemerintahan presidensiil Republik Indonesia berbeda dengan sistem pemerintahan presidensiil yang berlaku di negara-negara lain. Sistem pemerintahan Republik Indonesia menyatakan bahwa kedaulatan rakyat sepenuhnya dilaksanakan oleh MPR. Sementara itu, seluruh anggota DPR juga merupakan anggota MPR. Selama ini yang terjadi pada sistem pemerintahan Republik Indonesia, eksistensi seorang presiden akan sangat tergantung pada penilaian dan pengawasan yang dilakukan oleh DPR atas kinerja serta performance pemerintahan yang dijalankan. Ini berarti bahwa stabilitas pemerintahan akan sangat tergangtung dari dukungan politik parlemen (DPR). Tetapi sistem pemerintahan di Indonesia dinilai tidak jelas dan inkonsisten karena dalam praktiknya. Indonesia yang selama ini menganut sistem presidensial dianggap tidak sepenuhnya menjalankan sistem tersebut. Belum lagi sistem rekruitmen politik yang cenderung bersifat tidak masuk akal, sehingga dikhawatirkan menimbulkan masalah baru bagi Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

Pada masa demokrasi terpimpin dan orde baru system presidensial yang di lakukan melehirkan kekuasaan yang otoriter. Sehingga pada masa reformasi dalam mencegah kekuasaan yang otoriter, dilakukan amandemen terhadap UUD 1945. Dan di dalam kontek Indonesia ini dalam melakukan amandemen tersirat “ambisi” untuk

membatasi kekuasaan presiden sehingga yang terjadi adalah sebuah antitesa

terhadap kondisi sebelumnya. Yaitu eksekutif heavy menjadi legislative heavy. Yang

menjadi persoalan bukan saja bagaimana membatasi kekuasaan tetapi menjamin

kekuasaan.

Dan itu yang menjadi suatu perdebatan sampai sekarang dikalangan para

pakar hukum tata negara dan politik bahwa sistem pemerintahan indonesia menganut

sistem pemerintahan yang berbentuk apa?.

Bab.II Isi

2.1. Pengertian Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan negara adalah mekanisme kerja dan koordinasi atau

hubungan antara ketiga cabang kekuasaan yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif

(Moh. Mahfud MD, 2001). Jadi sistem pemerintahan dapat diartikan sebagai suatu

tatanan pengatur negara yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam

mencapai suatu tujuan tertentu. Kekuasaan dalam suatu negara menurut Montesquieu

diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu Kekuasaan Eksekutif yang berarti kekuasaan

menjalankan undang-undang atau kekuasaan menjalankan pemerintahan; Kekuasaan

Legislatif yang berate kekuasaan membentuk undang-undang; Dan Kekuasaan

Yudiskatif yang berate kekuasaan mengadili terhadap pelanggaran atas undang-

undang(Moh. Mahfud MD, 2001).

Pada prinsipnya sistem pemerintahan itu mengacu pada bentuk hubungan

antara lembaga legislatif dengan lembaga eksekutif(Sri Soemantri, 1981). Jika

keberadaan Presiden berkaitan dengan bentuk Pemerintahan maka kekuasaan

Presiden dipengaruhi dengan sistim pemerintahan. Pada sistem pemerintahan

biasanya dibahas pula dalam hal hubungannya dengan bentuk dan struktur organisasi

negara dengan penekanan pembahasan mengenai fungsi-fungsi badan eksekutif

dalam hubungannya dengan badan legislatif. Secara umum sistim pemerintahan

terbagi atas tiga bentuk yakni sistim pemerintahan Presidensil, parlementer dan

campuran yang kadang-kadang disebut “kuasi Presidensil” atau “kuasi parlementer”(

Prof. Dr. Sofian Effendi,2007).

2.2. Macam- macam sistem pemerintahan

Pada hakikatnya sistem pemerintahan negara di bagi menjadi dua yaitu

sistem pemerintahan yaitu sistem pemerintahan presidensial dan parlementer.

Klasifikasi sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada

hubungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Sistem pemerintahan disebut

parlementer apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut presidensial apabila badan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif.

- Sistem pemerintahan parlementer adalah dimana kedudukan Presiden hanya sebagai kepala negara dimaksud bahwa Presiden hanya memiliki kedudukan simbolik sebagai pemimpin yang mewakili segenap bangsa dan negara. Di beberapa negara, kepala negara juga memiliki kedudukan seremonial tertentu seperti pengukuhan, melantik dan mengambil sumpah Perdana Menteri beserta para anggota kabinet, dan para pejabat tinggi lainnya, mengesahkan undang-undang, mengangkat duta dan

konsul, menerima duta besar dan perwakilan negara-negara asing, memberikan grasi, amnesti, abolisi dan rehalibitasi. Selain itu pada negara-negara yang menganut sistem multi partai kepala negara dapat mempengaruhi pemilihan calon Perdana Menteri. Menurut S.L Witman dan J.J Wuest disini kedudukan Presiden hanyalah sebagai kepala negara sedangkan kepala pemerintahan diemban oleh Perdana Menteri. Ciri-ciri sistem pemerintahan parlementer

1. Badan legislatif atau parlemen adalah satu-satunya badan yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu.

2. Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari politik yang memenangkan pemilu.

3. Pemrintah atau kabinet terdiri dari para menteri dan perdana menteri sebagai pemimpin kabinet.

4. Kabinet bertanggung jawab kepada parlemen.

5. Kepala negara tidak sekaligus sebagai kepala pemerintahan.

6. Parlemen dapat menjatuhkan kabinet.

(Prof. Dr. Sofian Effendi).

-

Sistem pemerintahan presidensial atau disebut juga dengan sistem kongresional adalah sistem pemerintahan dimana badan eksekutif dan legislatif memiliki kedudukan yang independen. Kedua badan tersebut tidak berhubungan secara langsung seperti dalam sistem pemerintahan parlementer. Presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat untuk masa kerja yang lamanya ditentukan konstitusi. Konsentrasi kekuasaan ada pada presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Dalam sistem presidensial para menteri adalah pembantu presiden yang diangkat dan bertanggung jawab kepada presiden(Prof. Dr. Sofian Effendi).

-

Ciri ciri sistem pemerintahan presidensial

1. Penyelenggara negara berada ditangan presiden. Presiden adalah kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden tidak dipilih oleh parlemen, tetapi dipilih langsung oleh rakyat atau suatu dewan majelis.

2. Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertangung jawab kepada presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif.

3. Presiden tidak bertanggungjawab kepada parlemen. Hal itu dikarenakan presiden tidak dipilih oleh parlemen.

4. Presiden tidak dapat membubarkan parlemen seperti dalam sistem parlementer.

5. Parlemen memiliki kekuasaan legislatif dan sebagai lembaga perwakilan.

Anggota parlemen dipilih oleh rakyat. 6. Presiden tidak berada dibawah pengawasan langsung parlemen.

2.3. Komponen Dalam sistem Pemerintahan Indonesia

Undang-undang Dasar 1945 Konstitusi Negara Indonesia adalah Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yang mengatur kedudukan dan tanggung jawab penyelenggara negara; kewenangan, tugas, dan hubungan antara lembaga-lembaga negara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif). UUD 1945 juga mengatur hak dan kewajiban warga Negara. Lembaga legislatif terdiri atas Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang merupakan lembaga tertinggi negara dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Lembaga Eksekutif terdiri atas Presiden, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh seorang wakil presiden dan kabinet. Di tingkat regional, pemerintahan provinsi dipimpin oleh seorang gubernur, sedangkan di pemerintahan kabupaten/kotamadya dipimpin oleh seorang bupati/walikota. Lembaga Yudikatif menjalankan kekuasaan kehakiman yang dilakukan oleh Mahkamah Agung (MA) sebagai lembaga kehakiman tertinggi bersama badan- badan kehakiman lain yang berada di bawahnya. Fungsi MA adalah melakukan pengadilan, pengawasan, pengaturan, member nasehat, dan fungsi administrasi. Saat ini UUD 1945 dalam proses amandemen, yang telah memasuki tahap amandemen keempat. Amandemen konstitusi ini mengakibatkan perubahan mendasar terhadap tugas dan hubungan lembaga-lembaga negara(Setiadi, M. Elly. 2005).

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Fungsi pokok MPR selaku lembaga tertinggi negara adalah menyusun konstitusi negara; mengangkat dan memberhentikan presiden/wakil presiden; dan menyusun Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Fungsi pokok MPR yang disebut di atas dapat berubah bergantung pada proses amandemen UUD 1945 yang sedang berlangsung. Jumlah anggota MPR adalah 700 orang, yang terdiri atas 500 anggota DPR dan 200 anggota Utusan Golongan dan Utusan Daerah, dengan masa jabatan lima tahun(Setiadi, M. Elly. 2005).

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Selaku lembaga legislatif, DPR berfungsi mengawasi jalannya pemerintahan dan bersama-sama dengan pemerintah menyusun Undang-undang. Jumlah anggota DPR adalah 500 orang, yang dipilih melalui Pemilihan Umum setiap lima tahun sekali(Setiadi, M. Elly. 2005).

Presiden/Wakil Presiden Presiden Republik Indonesia memegang pemerintahan menurut UUD 1945 dan dalam melaksanakan kewajibannya, presiden dibantu oleh seorang wakil presiden. Dalam system politik Indonesia, Presiden adalah Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan yang kedudukannya sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya. Presiden juga berkedudukan selaku mandataris MPR, yang berkewajiban menjalankan Garisgaris Besar Haluan Negara yang ditetapkan MPR. Presiden mengangkat menteri-menteri dan kepala lembaga non departemen (TNI/Polri/Jaksa Agung) setingkat menteri untuk membantu pelaksanaan tugasnya. Dalam UUD 1945 (versi sebelum amandemen) disebutkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR dengan suara yang terbanyak. Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama masa lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali(Setiadi, M. Elly. 2005).

Mahkmah Agung Mahkamah Agung (MA) adalah pelaksana fungsi yudikatif, yang kedudukannya sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya. MA bersifat independen dari intervensi pemerintah dalam menjalankan tugasnya menegakkan hukum dan keadilan, meski penunjukan para hakim agung dilakukan Presiden(Setiadi, M. Elly. 2005).

Lembaga Tinggi Negara Lainnya Lembaga tinggi negara lainnya adalah Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Fungsi utama BPK adalah melakukan pemeriksaan keuangan pemerintah. Temuan-temuan BPK dilaporkan ke DPR, selaku badan yang menyetujui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). DPA berfungsi untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan Presiden yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara, termasuk dalam masalah politik, ekonomi, social budaya, dan militer. DPA juga dapat memberi nasehat atau saran atau rekomendasi terhadap masalah yang berkaitan dengan kepentingan negara. Anggota DPA diusulkan oleh DPR dan diangkat oleh Presiden untuk masa bakti lima tahun. Jumlah anggota DPA adalah 45 orang(Setiadi, M. Elly. 2005).

Pemerintah Daerah Di tingkat daerah, sebuah provinsi dikepalai oleh seorang gubernur sedangkan kabupaten/kotamadya dikepalai oleh seorang bupati/walikota. Saat ini terdapat 30 provinsi dan 360 kabupaten/kotamadya. Sejak diberlakukannya UU Nomor 22/1999 tentang pelaksanaan Otonomi Daerah pada tanggal 1 Januari 2001, kewenangan pengelolaan daerah dititikberatkan ke Kabupaten, sehingga hubungan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten lebih bersifat koordinasi. Hubungan lembaga legislatif, eksekutif, dan legislatif di tingkat daerah sama halnya dengan hubungan antarlembaga di tingkat nasional. Contohnya, tugas DPR Tingkat I adalah mengawasi jalannya pemerintahan di tingkat provinsi dan bersama-sama dengan Gubernur menyusun peraturan daerah. Lembaga yudikatif di tingkat daerah diwakili oleh Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri(Setiadi, M. Elly. 2005).

Tinggi dan Pengadilan Negeri(Setiadi, M. Elly. 2005). Tabel Sistem politik Indonesia ( Setiadi, M. Elly. 2005

Tabel Sistem politik Indonesia (Setiadi, M. Elly. 2005)

2.4. Sistem Pemerintahan Secara de facto dan de jure? De facto dalam bahasa Latin adalah ungkapan yang berarti "pada kenyataannya" atau "pada praktiknya". Istilah ini biasa digunakan sebagai kebalikan dari de jure (yang berarti "menurut hukum") ketika orang mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan hukum, pemerintahan, atau hal-hal teknis (seperti misalnya standar), yang ditemukan dalam pengalaman sehari-hari yang diciptakan atau berkembang tanpa atau berlawanan dengan peraturan. Bila orang sedang berbicara tentang suatu situasi hukum, de jure merujuk kepada apa yang dikatakan hukum, sementara de facto merujuk kepada apa yang terjadi pada praktiknya (http://id.wikipedia.org/wiki/De_jure) Sistem pemerintahan Indonesia saat ini adalah sistem pemerintah presidensial yaitu sistem dimana menekankan peran presiden (eksekutif) sebagai subjek pemerintahan dan itu berlandaskan UUD 1945 dan ketetapan MPR yang di jelaskan di atas, sehingga dalam hal ini berartikan sistem pemerintahan Indonesia yang menganut presidensial tertulis dalam hukum”( Prof. Dr. Sofian Effendi,2007). Seperti layaknya negara Amerika Serikat, sistem pemerintahan Republik Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh teori trias politica. Dimana terjadi pemisahaan kekuasaan antara lembaga eksekutif, lembaga yudikatif, serta lembaga legislatif. Sistem pemerintahan Republik Indonesia adalah menganut sistem pemerintahan presidensiil yang berbentuk republik. Dalam sistem pemerintahan ini, presiden mempunyai hak untuk mengangkat dan memberhentikan para menteri sebagai pembantunya dalam menjalankan pemerintahan(Moh. Mahfud MD, 2001).

2.5. Sistem Pemerintahan Di Indonesia

Dengan adanya amandemen UUD 1945 akan semakin menegaskan pembagian kekuasaan (division power) yang berlaku di Indonesia. Seperti layaknya yang tertuang dalam teori trias politica, pembagian kekuasaan pada sistem pemerintahan Indonesia juga

dipisahkan secara tugas dengan daftar kewenangan yang jelas. Sistem pemerintahan Indonesia didasarkan pada hukum yang berlaku. Ini berarti bahwa Republik Indonesia adalah negara hukum. Dengan kata lain hukum akan melindungi segenap bangsa dan rakyat Indonesia untuk mencapai tujuan negara, mencapai masyarakat yang adil dan makmur(Ratmaningsih, Neiny. 2004). Sebagai penganut sistem pemerintahan presidensiil, di Republik Indonesia juga berlaku keadaan dimana kedudukan presiden dan parlemen adalah setara. Parlemen dalam hal ini adalah DPR. Presiden tidak bisa membubarkan DPR, begitu juga sebaliknya, DPR tidak bisa memberhentikan Presiden di tengah masa pemerintahan,

karena masa jabatan presiden adalah lima tahun. Namun, sistem pemerintahan presidensiil Republik Indonesia berbeda dengan sistem pemerintahan presidensiil yang berlaku di negara-negara lain. Sistem pemerintahan Republik Indonesia menyatakan bahwa kedaulatan rakyat sepenuhnya dilaksanakan oleh MPR. Sementara itu, seluruh anggota DPR juga merupakan anggota MPR. Selama ini yang terjadi pada sistem pemerintahan Republik Indonesia, eksistensi seorang presiden akan sangat tergantung pada penilaian dan pengawasan yang dilakukan oleh DPR atas kinerja serta performance pemerintahan yang dijalankan. Ini berarti bahwa stabilitas pemerintahan akan sangat tergangtung dari dukungan politik parlemen (DPR) (Ratmaningsih, Neiny. 2004). Didalam tatanan Negara, sistem pemerintahan di Indonesia sudah tertuang dalam 7 pokok peraturan di UUD 1945 dan pengaturan pengaturan yang di tetapkan oleh MPR, yaitu:

Berdasarkan undang undang dasar 1945 sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan kekuasaan belaka.

2.Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat

absolutism (kekuasaan yang tidak terbatas)

3. Kekuasaan Negara yang tertinggi berada di tangan majelis permusyawaratan rakyat.

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi dibawah MPR.

Dalam menjalankan pemerintahan Negara kekuasaan dan tanggung jawab adalah ditangan prsiden.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden harus mendapat persetujuan dewan perwakilan rakyat dalam membentuk undang undang dan untuk menetapkan anggaran dan belanja Negara.

6. Menteri Negara adalah pembantu presiden yang mengangkat dan memberhentikan mentri Negara. Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.

7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas. presiden harus memperhatikan dengan sungguh sungguh usaha DPR.

Berdasarkan ketetapan MPR nomor III / MPR/1978 tentang kedudukan dan hubungan tata kerja lembaga tertinggi Negara dengan atau antara Lembaga lembaga Tinggi Negara ialah sebagai berikut:

1. Lembaga tertinggi Negara adalah majelis permusyawaratan rakyat. MPR sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam Negara dengan pelaksana kedaulatan rakyat memilih dan mengangkat presiden atau mandataris dan wakil presiden untuk melaksanakan garis garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan putusan putusan MPR

lainnya. MPR dapat pula diberhentikan presiden sebelum masa jabatan berakhir atas permintaan sendiri, berhalangan tetap sesuai dengan pasal 8 UUD 1945, atau sungguh sungguh melanggar haluan Negara yang ditetapkan oleh MPR.

2. Lembaga lembaga tinggi Negara sesuai dengan urutan yang terdapat dalam UUD 1945 ialah presiden (pasal 4 15), DPA (pasal 16), DPR (pasal 19-22), BPK (pasal 23), dan MA (pasal 24).

Presiden adalah penyelenggara kekuasaan pemerintahan tertinggi dibawah MPR. Dalam melaksanakan kegiatannya dibantu oleh seorang wakil presiden. Presiden atas nama pemerintah (eksekutif) bersama sama dengan DPR membentuk UU termasuk menetapkan APBN. Dengan persetujuan DPR, presiden dapat menyatakan perang.

Dewan pertimbangan Agung (DPA) adalah sebuah bahan penasehat pemerintah yang berkewajiban memberi jawaban atas pertanyaan presien. Selain itu DPA berhak mengajukan pertimbangan kepada presiden.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah sebauh badan legislative yang dipilih oleh masyarakat berkewajiban selain bersama sama dengan presiden membuat UU juga wajib mengawasi tindakkan tindakan presiden dalam pelaksanaan haluan Negara.

Badan pemeriksa keuangan (BPK) ialah Badan yang memeriksa tanggung jawab tentang keuangan Negara. Dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. BPK memriksa semua pelaksanaan APBN. Hasil pemeriksaannya dilaporkan kepada DPR.

Mehkamah Agung (MA) adalah Badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh lainnya. MA dapat mempertimbangkan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak diminta kepada kepada lembaga lembaga tinggi Negara.

2.6. Kebijakan SBY yang di setir oleh koalisi partai di tubuh parlemen Kalangan ekonom menekankan perlunya koalisi yang solid jika partai pemenang pemilu ingin memuluskan kebijakan ekonominya di DPR. "Demokrat perlu koalisi yang solid," ujar ekonom UI, M Ikhsan di Jakarta, Senin, 13 April 2009.

Dia mengingatkan jangan sampai pemerintah mengambil satu keputusan, lantas partai pendukung bersikap lain. Pengalaman itu sudah terjadi sepanjang 2004-2009. "Yang terjadi selama ini, partai pendukung pemerintah di DPR justru mentorpedo kebijakan pemerintah SBY.” Sepanjang 2004 - 2009, pengambilan kebijakan ekonomi di DPR sering dipersoalkan atau diganjal lawan politik, bahkan oleh partai pendukung pemerintah sekalipun. Misalnya, soal kebijakan kenaikan harga BBM, tambahan defisit anggaran, stimulus fiskal hingga soal bantuan langsung tunai. Dengan 20 persen suara, belum cukup bagi Partai Demokrat untuk menguasai parlemen (http://us.news.viva.co.id/news).

Akhir-akhir ini rakyat Indonesia boleh sedikit merasa lega. BBM tidak jadi naik 1 April 2012. Namun tidak dapat dikatakan bahwa pemerintah Susilo Bambang Yudoyono & Boediono mustahil menaikkan harga BBM kelak. Jika hal ini berkaca pada hasil rapat paripurna DPRD yang menghasilkan Pasal 7 ayat 6 (a), bahwa pemerintah dapat menyesuaikan harga BBM jika ICP mengalami kenaikan 15 %. Suara rakyat yang mengharapkan “ibah” dari pemberi kebijakan elit negara agar BBM tidak bakalan naik, hanya “menunda” saja. Rakyat harus siaga menunggu esok lusa BBM akan tetap naik. Senada dengan yang diucapkan oleh partai Golkar, dalam konferensi pers yang disampaikan Sekjen Golkar Idrus Marham fraksi golkar untuk saat ini menolak kenaikan BBM. Lagi-lagi golkar berhasil melakukan “permainan bahasa” ala-Witgenstein (language game) sehingga para pengamat menyimpulkan parpol Golkar sebagai parpol yang mempunyai “stylepolitik yang matang.

Akrobat parpol Golkar bagai pemain “sepak bola” yang berhasil men-set tempo permainan sehingga lawannya merasa “frustrasi”. Dan mau tidak mau partai lainnya (sebagai lawan pemain) kebobolan “gawang” berkali-kali. Akhirnya partai yang lain seperti PPP, PKB, PAN, dan terutama Demokrat sebagai partai penguasa parlemen juga setuju dengan pasal tambahan agar harga BBM bisa disesuaikan jika ICP naik dalam kisaran 15 %. Akrobat parpol Golkar dengan politik gaya “bahasa bersayap-nya” berhasil memecundangi partai Demokrat.

Pada awalnya Fraksi Demokrat, PAN, PPP, dan PKB setuju 10% dari harga rata- rata minyak mentah Indonesia yang diasumsikan dalam APBN. Tetapi Golkar berbeda yakni 15%. Di sini Demokrat malah “jatuh cinta” dengan bahasa “bujuk rayu” Fraksi Golkar untuk menunda saja kenaikan BBM. Minimal dengan menunda kenaikan BBM, pemerintah

bisa “menutup mulut” para demonstran, ekonom, dan partai oposisi yang memiliki status ganda (sebagai “parlemen sungguhan” dan “parlemen jalanan”).

Golkar yang telah berhasil dengan bahasa politiknya. Akrobatnya bukan hanya mengobati keresahan SBY terhadap kecaman dari berbagai pihak atas rencana kenaikan BBM. Dan secara tidak sadar pemerintahan SBY-Boediono suatu waktu jika minyak dunia ternyata naik berdasarkan standar yang ditetapkan oleh hasil rapat paripurna (yakni 15 %), kemudian BBM mesti naik. SBY-Boediono yang dicaci maki lagi. Sementara fraksi Golkar tetap mendapat “jatah pencitraan”, sebagai partai yang tidak serta-merta mengamini kemauan pemerintah, menaikkan BBM. (http://www.negarahukum.coml).

Dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa keputusan DPR tak hanya mengindikasikan kegagalan Demokrat, tetapi sekaligus juga merefleksikan ketidakmampuan para politisi partai demokrat dalam berhadapan dengan para politisi Golkar. Akibatnya, lobi politik parlemen internal koalisi lebih dikontrol oleh partai golkar ketimbang Demokrat selaku parpol pemimpin koalisi. Sby di sini sebagai pemimpin Negara benar benar disetir karena kebijakanya untuk menaikkan BBM terlihat sangat tidak konsisten yang ternyata bisa di alih kan oleh partai golkar dengan dalih di tunda.

Bab. III Pembahasan Indonesia sekarang ini dalam pemerintahannya menganut sistem presidensial yang sangatlah tidak efektif karena parlemen memiliki sejumlah kekuasaan yang sebenarnya merupakan domain dari presiden. Di pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono kekuasaan presiden di tubuh parlemen tidak mutlak mencapai 50% maka yang terjadi adalah parlemen memiliki hak veto dan eksekutif tidak memiliki hak yang lebih dari parlemen, Ini di sebabkan karena kembalinya muncul multipartai yang tidak terkendalikan di dalam tubuh perlemen Indonesia. Demokrat yang hanya memiliki 20% suara di parlemen harus mencari koalisi untuk dapat memperlancar kebijakan kebijakan yang di buat. Pada saat Berakhirnya orde baru banyak partai partai politik bermunculan dan Indonesia mulai memasuki fase kepartaian baru yakni fase multipartai yang kompetitif. Kondisi partai yang kompetitif ini menjadikan kompromi-kompromi politik semakin kuat sehingga mendorong presiden untuk menyeimbangkan komponen-komponen partai politik koalisi ke dalam tubuh kabinet dengan maksud agar posisi kepresidenan tetap stabil dengan dukungan koalisi koalisi dari partai tersebut. Tak hanya itu, kondisi ini juga menimbulkan intervensi parlemen dalam tata pemerintahan yang bersifat presidensial. Masyarakat menyebut fenomena ini dengan sistem presidensial kuasi parlementer.

Dalam hubungannya dengan kepentingan rakyat, setiap partai politik memiliki pijakan ideologis yang akomodatif dan mengakar kepada realitas masyarakat. Ideologi ini seharusnya tercermin dalam keseluruhan pandangan, cita-cita, nilai dasar, keyakinan dan asas yang dijadikan acuan normatif partai politik. Namun, dengan adanya hakikat multipartai dalam sistem presidensial di era reformasi, partai-partai terjebak untuk lebih mempertimbangkan profitabilitas partai lain dibanding ukuran ideologinya. Sebagai bukti, model koalisi yang berkembang belakangan ini menunjukkan bahwa perilaku partai dalam berkoalisi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor berburu jabatan (office seeking) atau mencari suara (vote seeking) dibanding faktor mencari kebijakan (policy seeking).( http://resaindrawansamir.wordpress.com)

Bab. IV Penutup

3.1. Kesimpulan

Sistem pemerintahan negara menggambarkan adanya lembaga-lembaga yang bekerja dan berjalan saling berhubungan satu sama lain menuju tercapainya tujuan penyelenggaraan negara. Lembaga-lembaga negara dalam suatu sistem politik meliputi empat institusi pokok, yaitu eksekutif, birokratif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu, terdapat lembaga lain atau unsur lain seperti parlemen, pemilu, dan dewan menteri. Sistem pemerintahan parlementer tetap dianut di Indonesia kalau kita melihat UUD NRI Tahun 1945 bahwa antar legeslatif yakni DPR dan Eksekutif yakni Presiden tidak ada pemisahan yang tegas antara keduanya, tetapi kita tidak dapat berkesimpulan bahwa sistem pemerintahan indonesia menganut sistem parlementer karena banyaknya Pasal- pasal dalam UUD NRI Tahun 1945 yang membenarkan bahwa besarnya kedudukan dan kewenangan Presiden sebagai Subjek Pemerintahan yang kuat dalam Konstitusi Indonesia, kita juga tidak dapat mengatakan bahwa sistem pemerintahan indonesia menganut sistem campuran, karena menurut saya bahwa setiap negara mempunyai cirri khas masing-masing dalam praktek katatanegaraannya. Dan indonesia mempunyai ciri tersendiri dalam sistem pemerintahannya yang bersifat presidensial dan demikian juga negara lain. Jadi sampai saat ini sistem Pemerintahan indonesia lebih cenderung kepada Sistem Pemerintahan Presidensial. Tetapi dalam kenyataanya Indonesia masih bertindak sebagai pemerintahan parlementer kondisi ini lebih disebabkan oleh inkompatibilitas antara dinamika multipartai dengan sistem presidensial

3.2. Saran

Menurut saya sebagai warga negara Indonesia dalam hal ini sebaik nya di lakukan pengkajian ulang sistem pemerintahan dalam UUD 1945 dan ketetapan MPR, karena sangat lah tidak konsisten apabila peraturan yang di buat berbeda dengan kenyataan yang mungkin semakin lama dapat menimbulkan masalah. Penataan hubungan legislative dengan eksekutif pun juga harus di perjelas. Karena selama ini tidak ada jarak pemisah antara keduanya. Sehingga terjadi tumpang tindih antara kedua kekuasaan itu. Sistem presidensial tidak efektif apabila dilakukan oleh multipartai, karena tidak tampaknya partai oposisi dan pemenang. Lebih baik 2 partai cukup yaitu nasionalis dan demokratis.

Daftar Pustaka

Mirza Nasution, Beberapa Masalah Tentang Pemberhentian Presiden Dalam Sistem Pemerintahan kuasi Presidensial di Indonesia, Jakarta, 2003 Ratmaningsih, Neiny. PPKN untuk SMU kelas II: Grafindo Media Pratama, Bandung, 2004 Setiadi, M. Elly. 2005. Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Padmo Wahyono, Ilmu Negara (Kumpulan Kuliah), Jakarta, 1996, hal.161. Dihimpun oleh T.Amir Hamzah, SH. Dkk http://www.kompasiana.com/channel/polhukam http://www.unpad.ac.id/arsip/berita http://yahnbayuanoraga.blogspot.com/(Selasa, 17 April 2012)

KENAIKAN HARGA KEDELAI MEMBUAT PARA PRODUSEN TEMPE DAN TAHU MOGOK PRODUKSI

A. Latar Belakang

Kedelai (kadang-kadang ditambah "kacang" di depan namanya) adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910. Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia. Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi

tahu (tofu),

bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam),

tempe

susu kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa),

tepung kedelai,

minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel.

taosi

tauco

makanan ringan Kenaikan harga bahan pangan kedelai beberapa saat lalu sangat memberikan dampak yang besar bagi orang-orang yang mengeluti usaha yang berhubungan bahan pangan tersebut. Banyak yang berhenti membuat bahan makanan yang berbahan dasarkan kedelai karena kenaikan harganya yang tidak bisa terjangkau terutama oleh masyarakat yang kondisi ekonominya menengah kebawah. Kejadian ini sangat bertolak belakang dengan apa yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, UUD 1945 pasal 28, juga usaha-usaha pemerintah yang berusaha untuk memberikan kesejahteraan pada seluruh rakyatnya, serta dapat menjadi suatu pelanggaran hak-hak asasi manusia.

B. Rumusan Masalah Tata Niaga Kedelai Tunggu RUU Pangan TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian akan mengajukan rancangan manajemen tata niaga kedelai untuk melindungi petani kedelai lokal dari gempuran impor. Namun, aturan tata niaga kedelai ini masih menunggu Rancangan Undang-Undang (RUU) Pangan dibahas dan disahkan di DPR.

“Kami sedang bicarakan agar ada pengaturan kedelai, tapi kami menunggu Undang- Undang Pangan sebagai payung hukumnya,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini,Sabtu,11Agustus2012.

Dalam RUU Pangan yang sedang dibahas oleh DPR, setiap kategori pangan pokok akan dibuat pengaturan tata niaganya. Selama ini, dia mengakui, komoditas kedelai belum diatur sedemikian rupa sehingga impor bebas masuk dalam jumlah berapapun. “Dalam konsep Undang-Undang Pangan, kedelai masuk dalam kategori pangan pokok sehingga nanti diatur volume impornya, waktu pemasukannya, seperti pada komoditashortikultura,”katanya. Untuk mengatasi kisruh lonjakan kedelai, pemerintah mengambil kebijakan jangka pendek dengan menurunkan bea masuk impor kedelai dari 5 persen menjadi nol persen hingga akhir tahun ini. Sedangkan untuk kebijakan jangka panjangnya, lanjut Banun, pemerintah akan menetapkan besaran harga pembelian pemerintah (HPP) untuk kedelai, yang bertujuan melindungi petani dan menekan hargadikonsumen.

“Pemerintah kan harus melihat dari kacamata produsen dan konsumen. Tanpa dibarengi HPP, apa dong motivasi petani untuk menanam? Makanya harus ada usulanHPP,”ujarnya. Meski belum diputuskan besaran HPP, pemerintah sudah menghitung rata-rata bahwa HPP kedelai yang ideal berada di angka Rp 7.000 per kilogram. Namun, penetapan HPP berarti ada konsekuensi keuangan yang harus ditanggung negara berupa subsidi. Pemerintah juga berencana menetapkan Bulog sebagai penyangga komoditas ini. Kesulitannya, kata Banun, Bulog tidak akan dengan mudah masuk menjadi importir kedelai karena jaringan impor komoditas ini sudah lebih dulu dikuasaiimportirswasta. Selama ini Indonesia masih mengimpor kedelai dalam jumlah besar dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Kebutuhan kedelai di dalam negeri mencapai 2,3 juta ton per tahun. Padahal, produksi nasional hanya sebesar 779,74 ribu ton. Produksi kedelai turun 8,4 persen dibanding tahun lalu akibat penyusutan luas panen. Saat ini, luas lahan kedelai tercatat hanya 566.693 hektare

CUKAI KEDELAI Nol Persen, Negara Diperkirakan Rugi Rp 350 Miliar Herry Suhendra Sabtu, 11 Agustus 2012 | 20:59 WIB BOGOR: Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan seminar bertema Price Volatility of Soybean and Its Solution . Inti pembahasan dalam seminar tersebut adalah bila kebijakan tarif bea masuk kedelai impor nol persen akan merugikan negara hingga Rp350 miliar. “Bila setiap kilogram kedelai selama ini diambil bea-nya 5% atau sebesar Rp 350,- dikalikan 1 juta ton maka bayangkan saja kerugian yang diderita negara,” kata Wakil Menteri Pertanian Dr. Rusman Heriawan dalam siaran pers IPB hari ini, Sabtu (11/8/2012). Wamentan menyayangkan bila kerugian negara tersebut tak sepadan dengan peningkatan laba yang diterima perajin berbasis kedelai seperti tempe, tahu dan kecap. “Tentu akan lebih baik lagi bila dana Rp 350 milyar tersebut diberikan langsung kepada para petani atau membeli lahan pertanian. Mereka akan bersemangat menanam kedelai,” ujarnya. Para petani lebih memilih menanam padi atau tanaman lain karena harga jualnya lebih tinggi. Pada tahun 1980-an, harga kedelai Rp 4.000 /kg, sedangkan padi Rp 2.000/kg. Harga kedelai dua kali harga padi. Hal ini mendorong petani bersemangat menanam kedelai. Namun sekarang harga beras premium Rp 10.000 dan kedelai Rp 5.000.

Dengan harga rendah seperti itu petani kian enggan menanam kedelai. Ini tentu sangat mempengaruhi stok kedelai dalam negeri. Tarif bea cukai kedelai impor nol persen juga sangat menguntungkan produsen kedelai luar negeri khususnya Amerika.“Pemerintah Amerika memberikan subsidi ekspor bagi petani mereka, sehingga biaya produksinya rendah. Ditambah dengan pengurangan bea masuk ini berarti mereka mendapat keuntungan ganda,” kata Rusman. (sut) KRISIS KEDELAI: Tidak Perlu Terjadi Jika Pemerintah Pasarkan Bibit Unggul Bambang Supriyanto Selasa, 07 Agustus 2012 | 21:06 WIB JAKARTA: Krisis kedelai diyakini tidak perlu terjadi jika saja pemerintah memberikan dukungan untuk melakukan diseminasi dan memasarkan hasil penelitian dan benih unggul yang dihasilkan Institut Pertanian Bogor."Jika teknologi tanaman kedelai dan benih yang dihasilkan bisa diterapkan dan dipasarkan ke petani, Indonesia tidak perlu kekurangan kedelai," tegas Ernan Rustiadi, Dekan Fakultas Pertanian IPB, Selasa (7/8). Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kedelai tahun ini hanya 800.000, atau turun dari produksi 2010 sebanyak 907.300 ton. Adapun kebutuhan kedelai 2,6 juta ton per tahun. Alhasil, sisanya sekitar 1,7 juta ton dipenuhi dari impor. Dengan penurunan produksi itu, target swasembada 2,7 ton pada 2014 diyakini sulit terpenuhi. Ernan juga menyayangkan lahan kedelai yang terus menyusut sejak 20 tahun terakhir. Jika pada 1990-an, lahan kedelai mencapai 1,6 juta hektare, kini tinggal sekitar 600.000-800.000 hektare. Dia menjelaskan hasil penelitian dan hasil inovasi teknologi IPB sangat minim diterapkan masyarakat. "Hanya 10% hasil inovasi dan teknologi IPB yang diterapkan para petani. Kami mengharapkan perusahaan benih swasta. PT East West Seed Indonesia, misalnya telah membantu memasarkan varietas tanaman yang dihasilkan IPB, yakni melon oranye," ungkap Ernan. (bas)

PRODUKSI KEDELAI masih berpeluang ditingkatkan Sepudin Zuhri Selasa, 07 Agustus 2012 | 20:11 WIB JAKARTA: Peluang meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri masih ada dengan berbagai persyaratan seperti lahan baru, bantuan kepada petani dan lainnya, sehingga bisa menurunkan persentase ketergantungan impor kedelai.

Deputi Kepala Bidang Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Listyani Wijayati pesimistis target swasembada kedelai pada 2014 dapat tercapai. Pesimisme itu dilihat dari produksi kedelai nasional tahun ini hanya 800.000 ton jauh dari target swasembada 2,7 juta ton pada 2014. Produksi kedelai tahun ini juga lebih rendah ketimbang 2010 sebesar 907.300 ton. "Target swasembada masih optimistis, tetapi dengan berbagai persyaratan," ujarnya seusai Diskusi Swasembada Kedelai di BPPT, Selasa (7/8/2012). Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir memaparkan swasembada kedelai pada 2014 sangat sulit dicapai karena petani yang menanam kedelai semakin berkurang akibat tidak menguntungkan. Selain itu, lahan tanaman kedelai terus menyusut, permodalan terbatas, dan tidak ada jaminan harga dari pemerintah. "Kemungkinan yang bisa dicapai pada 2014 hanya mengurangi ketergantungan terhadap impor yang lebih besar dari sekarang 70% menjadi 30%," tuturnya. Menurutnya, produksi kedelai tahun lalu 851.000 ton dan impor 1,9 juta ton. Jika ingin swasembada pada 2014 yang tingggal 2,5 tahun lagi, maka produksi kedelai harus naik rata-rata 620.000 ton atau naik 20,05% per tahun. "Suatu beban yang sangat berat untuk dicapai. Dari total konsumsi kedelai nasional, 1,8 juta ton (83,7%) dimanfaatkan oleh perajin tahu-tempe, 14,7% untuk industri kecap dan tauco, 1,2% untuk benih, dan 0,4% untuk industri pakan. Sumber impor kedelai terbesar dari Amerika sebanyak 1,8 juta ton, Malaysia 120.000 ton, Argentina 73.000 ton, dan Brasil 13.550 ton. (ra) Masyarakat ekonomi menengah ke bawah saat ini di resahkan dengan adanya kenaikan bahan dasar pembuatan tempe dan tahu yaitu kedelai yang semakin melambung tinggi. Hal ini di sebabkan karena masyarakat menengah kebawah menganggap bahwa tempe dan tahu adalah menu makanan wajib yang harus ada selain harganya yang murah juga tahu dan tempe memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Tidak hanya masyarakat menengah kebawah saja yang merasakan dampak dari kenaikan bahan dasar pembuatan tempe tersebut pemerintah pun juga ikut merasakann dampaknya, karena pemerintah di anggap tidak mampu mengendalik-an harga bahan makanan yang di anggap begitu penting oleh masyarakat. Masalah ini juga membuat kalangan produsen penghasil tempe dan tahu merasa dirugikan karena mereka tidak dapat lagi memproduksi tempe dan tahu di karenakan biaya produksinya yang semakin melonjak dan tidak terjangkau.

Oleh karena itu sebagian kelompok produsen pembuat tahu dan tempe memutuskan untuk berhenti memproduksi bahan makanan yang terhitung murah tersebut. Dan sebagai dampak dari hal tersebut stock bahan makan tempe atau tahu di pasaran terancam habis dan menghilang dari pasaran. Para produsen tempe dan tahu ini pun menggambil tindakan mogok produksi dan menyarahkan para pedagang tempe dan tahu untuk tidak menjual tempe dan tahu sebelum adanya kejelasan pemerintah dalam masalah kenaikan kedelai ini, bahkan ada beberapa kelompok produsen tempe dan tahu yang melakukan swiping ke pasar dan para pedagang tempe dan tahu untuk segera menghentikan aktifitas penjualan tampe dan tahu. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Alinea ke-4 yang bermaksud untuk memajukan kesejahteraan masyarakatnya juga beberapa pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia diantaranya : pasal 27 ayat 1, dan sebagian besar pasal 28 UUD 1945 berkaitan dengan masalah kenaikan harga bahan makanan ini.

C. Pembahasan Kenaikan bahan makanan kedelai ini sangat memperihatinkan karena adanya bahan makanan yang merupakan hasil dari pengolahan kedelai yang menjadi makanan yang sangat di gemari oleh masyarakat terutama masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah. Tempe dan tahu ini sudah menjadi menu yang turun-temurun sejak lama karena proteinnya yang dianggap tinggi dan harganya yang terjangkau oleh masyarakat.

Redam Kenaikan Harga, Pemerintah Hapus Bea Masuk Kedelai Posted by Hari Yusuf Wednesday, July 25th, 2012 - 11:39 SPC, Jakarta Tak hanya membebaskan para pengusaha tahu dan tempe mengimpor langsung kedelainya, pemerintah juga menghapus bea masuk impor kedelai. Kebijakan itu diharapkan bisa mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai yang „menggila‟ beberapa waktu terakhir. “Kami juga membebaskan bea masuk kedelai yang 5% sampai akhir tahun. Itu dilakukan dengan pengawasan ketat oleh Kementerian Perdagangan serta Bea dan Cukai,” ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa sesaat sebelum mengikuti Rapat Kabinet Terbatas di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (25/7/2012). Hatta mengatakan, setidak-tidaknya, penurunan harga sebesar pengurangan bea masuk yang diberikan pemerintah. Hatta juga mengakui, Kementerian Perdagangan sudah

berbicara dengan para pengimpor kedelai untuk tidak terlalu mengambil keuntungan yang tinggi dalam situasi kedelai dunia sedang mengalami persoalan karena kekeringan. Pemerintah pun harus memikirkan kenaikan bahan pakan kedelai ini jika tidak ingin di anggap gagal dalam menjaga ketahanan bahan makanan yang sudah di rencanakan oleh pemerintah dalam program peningkatan sumber daya pangan hingga 5 tahun ke depan.

Pemerintah haruslah menggambil kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah ini misalnya dengan menurunkan harga kedelai di pasaran dengan beberapa tahap, atau mengurangi bea masuk khusus bahan pangan kedelai hingga harganya menjadi stabil kembali. Juga menambah atau mengembangkan hasil kedelai di Indonesia sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika pemerintah tidak mengambil langkah-langkah yang cepat dalam masalah ini maka bukan tidak mungkin bahan makanan yang sudah membudaya dan jadi ciri khas kuliner di Indonesia ini akan hilang.

D. Penutup Kesimpulan Kenaikan harga bahan makanan kedelai ini sangat meresahkan masyarakat dan harus segera di tanggulangi agar tidak terjadi masalah-masalah susulan yang akan muncul jika tidak segera di tanggulangi. Hal tersebut dapat di lihat jika bahan makanan yang terhitung murah ini sudah tidak lagi terjangkau oleh masyarakat maka harus beralih ke bahan makanan apa lagi yang bisa di jadikan alternatif bahan makan untuk rakyat

khususnya masyarakat yang berekonomi menengah kebawah. Langkah-langkah yang tepat harus segera di lakukan oleh pemerintah untuk memulihkan harga bahan pangan kedelai ini agar bisa dapat segera di jangkau kembali oleh rakyat. Karena tanpa di sadari pada saat ini bahan makanan dari kedelai ini lah yang menjadi bahan makanan yang dianggap menjadi pokok setelah sulitnya menjangkau bahan makanan lain yang dianggap lebih melambung harganya Berikut UUD 1945 yang berkaitan dengan kenaikan bahan kedelai ini :

1. Pembukaan UUD alinea ke-4

2. UUD 1945 :

- Pasal 28H ayat (1)

- Pasal 28I ayat (1)

- Pasal 27 ayat (2)

Dengan melihat dasar dasar yang sudah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan Undang-undang Dasar 1945 pemerintah haruslah lebih serius dalam mengatasi kenaikan harga bahan kedelai ini meskipun kedelai bukan termasuk komoditas pokok

Saran Pemerintah membenahi kebijakannya yang berkaitan dengan sumber bahan makanan yang dianggap penting dan pokok oleh rakyat agar tidak terjadi kenaikan yang mendadak dan membuat masyarakat resah. Masyarakat membantu pemerintah untuk lebih meningkatkan kualitas hasil-hasil pertanian juga kuantitasnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat Pemerintah membebaskan bea masuk dari bahan pangan kedelai ini setidaknya hingga harganya menjadi stabil kembali dan tidak memberatkan konsumen di Indonesia. Meningkatkan jumlah hasil pertanian berupa lahan-lahan tanaman kedelai sehingga terpenuhi kebutuhan dalam negeri Indonesia.

STUDI KASUS TENTANG KEWARGANEGARAAN GANDA

PENDAHULUAN

Di era globalisasi seperti sekarang ini, jarak fisik bukan lagi menjadi halangan untuk

berinteraksi, bahkan hingga melewati batas-batas negara. Hal ini tergambar jelas antara

lain dengan semakin meningkatnya kecenderungan perkawinan antar bangsa yang terjadi

di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak negara yang menyikapi hal ini dengan

positif dan mengaplikasikannya ke dalam undang-undang atau hukum yang akomodatif

terhadap gejala ini, walaupun ada pula yang pasif, namun bisa dibilang hanya sedikit

negara yang mengabaikan gejala ini.

Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan

campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU

Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak

sanggup lagi

mengakomodir

kepentingan para

pihak dalam perkawinan

terutama perlindungan untuk istri dan anak.

campuran,

Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan

yang baru. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu

yang menikah dengan warga negara asing, walaupun pro dan kontra masih saja timbul,

namun

secara

garis

besar

Undang-undang

baru

yang

memperbolehkan

dwi

kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi

persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran.

STATUS ANAK di DALAM HUKUM

Definisi anak dalam pasal 1 .1 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

adalah :

“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih

dalam kandungan.”

Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status hukum sejak

dilahirkan.

Pasal

2

KUHP

memberi

pengecualian

bahwa

anak

yang

masih

dalam

kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang dikehendaki dan

dilahirkan dalam keadaan hidup. Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki

hak dan kewajiban dalam hukum. Namun tidak berarti semua manusia berwenang

bertindak dalam hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan untuk melakukan

perbuatan hukum dapat diwakili oleh orang lain. Berdasarkan pasal 1330 KUHP, mereka

yang digolongkan tidak berwenang adalah mereka yang belum dewasa, wanita bersuami,

dan mereka yang dibawah pengampuan. Dengan demikian anak dapat dikategorikan

sebagai subjek hukum yang tidak berwenang melakukan perbuatan hukum. Seseorang

yang tidak berwenang karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam

melakukan

tindakan

hukum.

Anak

yang

lahir

dari

perkawinan

campuran

memiliki

kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga

tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan

yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU

Kewarganegaraan

yang

baru

anak

akan

memiliki

dua

kewarganegaraan.

Dengan

kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.

Dalam UUD 1945 pasal 28D(4) setiap orang berhak atas status kewarganegaraan

dan pasal 28E(1) setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,

memilih

pendidikan

dan

pengajaran,

memilih

pekerjaan,

memilih

kewarganegaraan,

memilih tempat tinggal diwilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Maka

dalam

UUD

1945

telah

dicantumkan

setiap

orang

berhak

memilih

kewarganegaraannya dimana hal ini juga dapat menunjang UU kewarganegaraan yang

baru. Pada tanggal 28 Juni 2011 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah

mengeluarkan

Peraturan

Menteri

Hukum

Dan

Hak

Asasi

Manusia

Nomor

19.AH.10.01

TAHUN

2011

Tentang

Tata

Cara

Penyampaian

Pernyataan

Memilih

Kewarganegaraan Bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda. Pasal 1:

1. Pernyataan Memilih Kewarganegaraan adalah pernyataan untuk memilih salah satu

kewarganegaraan bagi anak berkewarganegaraan ganda sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

2. Affidavit Kewarganegaraan Ganda Terbatas yang selanjutnya disebut Affidavit,

adalah surat keimigrasian yang dilekatkan atau disatukan pada paspor asing yang

memuat keterangan sebagai anak berkewarganegaraan ganda dan memberikan

fasilitas

keimigrasian

perundang-undangan.

kepada

pemegangnya

berdasarkan

ketentuan

peraturan

Anak berkewarganegaraan ganda yang harus menyatakan memilih kewarganegaraan

adalah:

a. anak yang lahir sebelum tanggal 1 Agustus 2006 yang memiliki Surat Keputusan

Menteri

Hukum dan Hak Asasi

Indonesia; atau

Manusia tentang Kewarganegaraan Republik

b. anak yang lahir setelah tanggal 1 Agustus 2006 yang memiliki Affidavit.

PENGATURAN MENGENAI ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN

1. Pengaturan Mengenai Anak Hasil Perkawinan Campuran

Undang-Undang

kewarganegaraan

yang

baru

memuat

asas-asas

kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam Undang-

Undang ini sebagai berikut:

a. Asas

ius

sanguinis

(law

of

the

blood)

adalah

asas

yang

menentukan

kewarganegaraan

seseorang

berdasarkan

keturunan,

bukan

berdasarkan

negara tempat kelahiran.

b. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan

kewarganegaraan

seseorang

berdasarkan

negara

tempat

kelahiran,

yang

diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur

dalam Undang-Undang ini.

c. Asas

kewarganegaraan

tunggal

adalah

asas

yang

menentukan

satu

kewarganegaraan bagi setiap orang.

 

d. Asas

kewarganegaraan

ganda

terbatas

adalah

asas

yang

menentukan

kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur

dalam Undang-Undang ini.

Undang-Undang

ini

pada

dasarnya

tidak

mengenal

kewarganegaraan

ganda

(bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan ganda yang

diberikan

kepada

anak

dalam Undang-Undang

ini

merupakan

suatu

pengecualian.

Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka hilangnya kewarganegaraan ayah

atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya hubungan hukum dengan ayahnya) tidak

secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang.

2. Kewarganegaraan Ganda Pada Anak Hasil Perkawinan Campuran

Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan

pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria

WNI,

sama-sama

diakui

sebagai

warga

negara

Indonesia.

Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda , dan setelah anak berusia 18 tahun atau

sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut

harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau

setelah kawin.

Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif

bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran. Namun perlu ditelaah, apakah pemberian

kewaranegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari atau tidak.

Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua yurisdiksi. Indonesia memiliki

sistem hukum perdata internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status

personal indonesia menganut asas konkordasi, yang antaranya tercantum dalam Pasal 16

A.B. (mengikuti pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis).

Berdasarkan pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini

berati warga negara indonesia yang berada di luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal

yang terkait dengan status personalnya , tetap berada di bawah lingkungan kekuasaan

hukum nasional indonesia, sebaliknya, menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing

yang berada dalam wilayah Republik indonesia dipergunakan juga hukum nasional

mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka. Dalam

jurisprudensi indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan

perkawinan,

perwalian

anak-anak,

wewenang

hukum,

dan

kewenangan

melakukan

perbuatan hukum, soal nama, soal status anak-anak yang dibawah umur.

Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga

memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan

pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara

nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak

bertentangan maka tidak ada masalah, namun jadi masalah bila ada pertentangan antara

hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan

mengikuti kaidah negara yang mana.

Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat

syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18

tahun hendak menikah maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil harus

mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan

dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan

darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut

dilarang, namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal

tersebut diizinkan, masalahnya adalah ketentuan mana yang harus diikuti. Hal tersebut

yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji lagi oleh para ahli hukum perdata internasional

sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini.

3. Kritisi terhadap UU Kewarganegaraan yang baru

Walaupun banyak menuai pujian, lahirnya UU baru ini juga masih menuai kritik dari

berbagai

pihak.

Salah

satu

pujian

sekaligus

kritik

yang

terkait

dengan

status

kewarganegaraan anak perkawinan campuran datang dari KPC Melati (organisasi para

istri warga negara asing). “Ketua KPC Melati Enggi Holt mengatakan, Undang-Undang

Kewarganegaraan menjamin kewarganegaraan anak hasil perkawinan antar bangsa.

Enggi memuji kerja DPR yang mengakomodasi prinsip dwi kewarganegaraan, seperti

mereka usulkan, dan menilai masuknya prinsip ini ke UU yang baru merupakan langkah

maju.

Sebab

selama

ini,

anak

hasil

perkawinan

campur

selalu

mengikuti

kewarganegaraan bapak mereka. Hanya saja KPC Melati menyayangkan aturan warga

negara ganda bagi anak hasil perkawinan campur hanya terbatas hingga si anak berusia

18 tahun. Padahal KPC Melati berharap aturan tersebut bisa berlaku sepanjang hayat si

anak.

Ada juga sebagian orag yang kurang setuju kurang setuju dengan kritik yang

disampaikan oleh KPC Melati tersebut. Kewarganegaraan ganda sepanjang hayat akan

menimbulkan kerancuan dalam menentukan hukum yang mengatur status personal

seseorang. Karena begitu seseorang mencapat taraf dewasa, ia akan banyak melakukan

perbuatan hukum, dimana dalam setiap perbuatan hukum tersebut, untuk hal-hal yang

terkait dengan status personalnya akan diatur dengan hukum nasionalnya, maka akan

membingungkan bila hukum nasional nya ada dua, apalagi bila hukum yang satu

bertentangan dengan hukum yang lain. Sebagai contoh dapat dianalogikan sebagai

berikut :

“Joko, pemegang kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Belanda, ia hendak

melakukan pernikahan sesama jenis. Menurut hukum Indonesia hal tersebut dilarang dan

melanggar

ketertiban

hukum,

sedangkan

menurut

hukum

Belanda

hal

tersebut

diperbolehkan. Maka akan timbul kerancuan hukum mana yang harus diikutinya dalam hal

pemenuhan syarat materiil perkawinan khususnya.”

Terkait dengan persoalan status anak, banyak yang mengkritisi pasal 6 UU

Kewarganegaraan yang baru, dimana anak diizinkan memilih kewarganegaraan setelah

berusia 18 tahun atau sudah menikah. Bagaimana bila anak tersebut perlu sekali

melakukan pemilihan kewarganegaraan sebelum menikah, karena sangat terkait dengan

penentuan hukum untuk status personalnya, karena pengaturan perkawinan menurut

ketentuan negara yang satu ternyata bertentangan dengan ketentuan negara yang lain.

Seharusnya bila memang pernikahan itu membutuhkan suatu penentuan status personal

yang jelas, maka anak diperbolehkan untuk memilih

kewarganegaraannya sebelum

pernikahan itu dilangsungkan. Hal ini penting untuk mengindari penyelundupan hukum,

dan menghindari terjadinya pelanggaran ketertiban umum yang berlaku di suatu Negara.

Apatride

adalah

seseorang

tidak

akan

mendapatkan

kejelasan

status hukum,

sehingga ia tidak mempunyai kejelasan perlindungan hukum. Dengan demikian keadaan

apatride ini mengakibatkan seseorang tidak akan mendapat perlindungan dari negara

manapun juga. Contoh negara yang menerapkan asas ius soli (asas yang menentukan

kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan

terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang)

adalah Amerika Serikat, sedangkan yang menerapkan asas ius sanguinis (asas yang

menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan

negara tempat kelahiran) adalah Cina. Seorang warga negara Cina yang meahirkan anak

di Amerika Serikat, menurut asas yang dianut oleh masing-masing negara tersebut

memiliki dua kewarganegaraan yaitu warga negara Amerika Serikat dan warga negara

Cina. Sebaliknya warga negara Amerika Serikat yang melahirkan seorang anak di Cina

menurut asas tersebut tidak memiliki kewarganegaraan (apatride).

Untuk mengatasi kesulitan diatas diadakan perundingan dengan negara lain untuk

menentukan pewarganegaraan seseorang terdapat 2 macam stetsel yaitu stetsel pasif

dan aktif. Stetsel pasif adalah semua penduduk diakui sebagai wargnegara kecuali ia

menolak menjadi warga negara atau hak repudiasi. Stetsel aktif adalah untuk menjadi

warga negara seseorang harus menggunakan hak opsi atau hak untuk memilih menjadi

warga negara. Sedangkan di Indonesia terdapat opsi naturalisasi.

Pewarganegaraan (Naturalisasi)

Negara Republik Indonesia memberi kesempatan kepada orang asing (bukan

warga negara) untuk menjadi warga negara. Dalam hal permohonan kewarganegaraan

atau naturalisasi. Naturalisasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu naturalisasi biasa dan

istimewa.

a. Naturalisasi Biasa

Persyaratan menjadi kewarganegaraan Republik Indonesia menurut undang- undang kewarganegaran adalah sebagai berikut.

- Telah berusia 18 tahun atau sudah kawin

- Pada waktu pengajuan permohonan sudah bertempat tinggal diwilayah negara sedikitnya 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut.

- Sehat jasmani dan rohani.

- Dapat berbahasa Indonesia dan mengakui dasar negara Pancasila dan UUD

1945.

- Tidak pernah dijatuhi pidana karena tindak pidana yang diancam sanksi penjara 1 tahun atau lebih.

- Tidak menjadi berkewarganegaraan ganda.

- Mempunyai pekerjaan atau penghasilan tetap.

- Membayar uang pewarganegaraan ke kas negara sebesar ketentuan peraturan pemerintah.

b. Naturlisasi Istimewa (Luar Biasa)

Nauralisasi istemewa di neara RI dapat diberikan kepada warga negara asing

yang status kewarganegaraannya sebagai berikut.

Anak WNI yang lahir diluar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun atau

belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing.

Anak WNI yang belum berusia 5 tahun meskipun secara sah sebagai anak oleh

WNA berdasarkan penetapan pengadilan, tetap sebagai WNI.

Perkawinan WNI dan WNA baik

sah maupun tidak sah dan diakui orang tuanya

yang WNI, atau perkawinan yang melahirkan anak di wilayah RI meskipun status

kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas berakibat anak berkewarganegaraan

ganda hingga usia 18 tahun atau sudah kawin.

Pernyataan

disampaikan

untuk

kepada

memilih

pjabat

kewarganegaraan

dibuat

secara

dengan

melampirkan

dokumen

ditentukan dalam perundang-undangan.

tertulis

dan

sebbagaimana

Perbuatan untuk

memilih

kewarganegaraan

disampaikan

dalam waktu

paling

lambat 3 tahun setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin.

Warga asing yang telah berjasa kepada negara RI dengan pernyataannya sendiri

(permohonan) untuk menjadi warga negara RI, atau dapat diminta oleh negara RI.

Kemudian mereka mengucapkan sumpah atau janji setia. Cara ini diberikan oleh

Presiden dengan persetujuan DPR.

KESIMPULAN

Anak adalah subjek hukum yang belum berwenang melakukan perbuatan hukum

sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kewenangan.

Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan

yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan

ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak

hasil perkawinan campuran.

UU Kewarganegaraan yang baru ini menuai pujian dan juga kritik, termasuk terkait

dengan

status

anak.

Seiring

berkembangnya

zaman

dan

sistem

hukum,

UU

Kewarganegaraan yang baru ini penerapannya semoga dapat terus dikaji oleh para ahli

hukum perdata internasional, terutama untuk mengantisipasi potensi masalah.

Untuk mengatasi masalah apatride maka diadakan perundingan dengan negara

lain untuk menentukan pewarganegaraan seseorang terdapat 2 macam stetsel yaitu

stetsel pasif dan aktif. Stetsel pasif adalah semua penduduk diakui sebagai wargnegara

kecuali ia menolak menjadi warga negara atau hak repudiasi. Stetsel aktif adalah untuk

menjadi warga negara seseorang harus menggunakan hak opsi atau hak untuk memilih

menjadi warga negara. Sedangkan di Indonesia terdapat opsi naturalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia;

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara

memperoleh Kembali Kewarganegaraan republik Indonesia;

Kewarganegaraan 1 menuju masyarakat madani, Yudistira

BIOGRAFI PENULIS

BIOGRAFI PENULIS Lahir dengan nama Indriani Widhianingrum, biasa di panggil Cindy dari pasangan Bapak Ir. Sungkono

Lahir dengan nama Indriani Widhianingrum, biasa di panggil Cindy dari pasangan Bapak Ir. Sungkono dan Ibu Indarsih, pada tgl 28 Agustus 1987 di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Penulis berkebangsaan Indonesia dan beragama Islam, Kini penulis beralamat di Jalan Tembalang Selatan No. 3. Graha Sapta Asri Perum Korpri II. Semarang 50268 . No Hp. 0817249247. Hobby penulis Touring dan adventure. Motto “ Wanita Muslim mampu mengubah dunia”

Penulis menamatkan pendididkan di SDN 2 Sumbawa Besar , SMPN 1 Sumbawa Besar , SMAN 1 Sumbawa besar dan kini masih berstatus Mahasiswi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro.

Devi Verawati Gusman adalah seorang mahasiswi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan Universitas

Devi Verawati Gusman adalah seorang mahasiswi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. Perempuan kelahiran Purworejo 26 Agustus 1989 ini menggemari aktivitas traveling, membaca, berenang, dan berminat mendalami fotografi. Penulis menamatkan pendidikan di SDN 1 Purworejo, SMPN 4 Purworejo, SMAN 4 Purworejo. Kini penulis tinggal di Jalan Tembalang Baru IV No. 41 Tembalang, Semarang 50268 Motto hidup penulis adalah “Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu.Untuk berinteraksi dengan penulis, bisa melalui Twitter @devigusman, email/YM :

devi.gusman@gmail.com, atau silakan kunjungi http://www.facebook.com/devi.v.gusman.

Kokoh Dwiyan atau akrab dipanggil choco, lahir di Jakarta 06-01-1989. Banyak banget kegemaran penulis yang kalau disebutin satu-satu disini mungkin bakal bisa jadi buku sendiri. Paling demen kluyuran, nenteng-

kalau mau berinteraksi lebih

jauh bisa kontak ke official twitter saya @chocodirdjo atau

jauh bisa kontak ke official twitter saya @chocodirdjo atau nenteng buku, blepotan oli, dsb 28C502B2 ”Life

nenteng buku, blepotan oli, dsb

28C502B2

”Life

is simple,you make a choice and don’t look

back”.

Penulis ternobatkan sebagai Mahfud, dan hampir semua orang mengenal penulis sebagai Bona. Lahir 27-07-1988 di

Penulis ternobatkan sebagai Mahfud, dan hampir semua orang mengenal penulis sebagai Bona. Lahir 27-07-1988 di Bima NTB. Penulis merupakan penggemar berat olah raga sepak bola dan Club kebanggaan penulis adalah AC MILAN. Penulis

paling suka bermalasan, tiduran dan jalan-jalan tanpa tujuan.

kontak gw aja, twitter @ncuhi_bona. Gak

semua yang anda baca ini benar.

Bingung kan

???

Bernama Nico Prasetyo Nugrahanto Lahir di Temanggung pada tanggal 22 juli 1989, kegemaran nya adalah

Bernama Nico Prasetyo Nugrahanto Lahir di Temanggung pada tanggal 22 juli 1989, kegemaran nya adalah bermain musik. Alamat sekarang berada di gondang barat no 17. Semarang Penulis menamatkan pendidikan di SDN 2 Temanggung, SMP N 3 Temanggung, dan SMA N 3 Temanggung. Untuk lebih kenal dapat kontak di twitter saya di @nicopras_tyo

88
88