Anda di halaman 1dari 12

B.

STANDAR MINIMAL GEDUNG PENYIMPANAN ARSIP INAKTIF

Standar minimal gedung penyimpanan arsip yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : 1. Lokasi Lokasi gedung penyimpanan arsip yang baik adalah : a. Lokasi gedung penyimpanan arsip berada didaerah yang jauh dari segala sesuatu yang dapat membahayakan atau mengganggu keamanan fisik dan informasi arsip; b. Lokasi Gedung Penyimpanan Arsip Inaktif berada di lingkungan kantor atau di luar lingkungan kantor; c. Gedung Penyimpanan Arsip Inaktif di luar lingkungan kantor perlu memperhatikan ketentuan: Lokasi gedung penyimpanan arsip inaktif relatif lebih murah dari pada di daerah perkantoran; Hindari daerah/lingkungan yang memiliki kandungan polusi udara tinggi; Hindari daerah atau lokasi bekas hutan dan perkebunan; Hindari daerah atau lokasi rawan kebakaran; Hindari daerah atau lokasi rawan banjir; Hindari daerah atau lokasi yang berdekatan dengan keramaian/pemukiman penduduk atau pabrik; Mudah dijangkau untuk pengiriman, penggunaan maupun transportasi pegawai, mudah diakses (informasinya). 2. Konstruksi dan Bahan Baku Konstruksi gedung penyimpanan arsip yang baik adalah : a. Konstruksi Gedung Penyimpanan Arsip Inaktif dibuat untuk dapat bertahan dari cuaca dan tidak mudah terbakar; b. Gunakanlah bahan-bahan bangunan yang tidak mendatangkan rayap maupun binatang perusak lainnya; c. Bangunan dapat bertingkat atau tidak bertingkat; d. Apabila bangunan bertingkat, masing-masing lantai ruang simpan arsip tingginya 260-280 cm; e. Apabila bangunan tidak bertingkat, tinggi ruangan disesuaikan dengan tinggi rak yang digunakan. Rak arsip dapat dimodifikasikan bertingkat-tingkat; f. Konstruksi bangunan berupa rumah panggung dapat digunakan di daerah yang memiliki kelembaban udara tinggi dan banyak terdapat rayap. Tiang-tiang penyangga rumah panggung didesain anti rayap; g. Lantai bangunan didesain secara kuat dan tidak mudah terkelupas untuk dapat menahan beban berat arsip dan rak. 3. Tata Ruang Tata ruang gedung penyimpanan arsip yang baik adalah : a. Tata ruang gedung penyimpanan arsip inaktif pada dasarnya dapat dibagi 2 (dua), yaitu : ruangan kerja dan ruangan penyimpanan arsip inaktif; b. Ruangan kerja merupakan ruangan yang digunakan untuk kegiatan menerima arsip yang baru dipindahkan, membaca arsip inaktif, mengolah arsip inaktif, memusnahkan arsip yang tidak bernilaiguna, ruang fumigasi dan ruangan-ruangan lain yang digunakan untuk bekerja; c. Tata ruang ruangan kerja disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan instansi, namun tetap memperhatikan fungsi-fungsi kegiatan. d. Ruang penyimpanan arsip inaktif digunakan khusus untuk menyimpan arsip sesuai dengan tipe dan medianya yang suatu saat akan dimusnahkan; e. Apabila fasilitas proteksi arsip vital dan arsip permanen suatu instansi berada di gedung penyimpanan arsip inaktif, maka ruang penyimpanan didesain khusus yang tahan api dan memiliki suhu serta kelembaban. f. Arsiparsip bentuk khusus seperti : Foto, film, video, rekaman suara, dan media simpan arsip elektronik dapat disimpan di ruangan. g. Kecuali ruangan kerja dan ruang penyimpanan arsip inaktif dimungkinkan adanya ruangan-ruangan lain seperti cafetaria, toilet, mushola, untuk memberi kenyamanan bagi pengguna arsip. Fasilitas semacam ini sangat tergantung dari kemampuan instansi; Beberapa variasi tentang tata ruang dapat dilihat di bawah ini. A. STANDAR RUANG PENYIMPANAN ARSIP INAKTIF Standar ruang gedung penyimpanan arsip yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : 1. Beban Muatan Beban muatan ruang gedung penyimpanan arsip yang baik adalah : a. Beban muatan ruang penyimpanan arsip inaktif didasarkan pada berat rak dan arsip yang disimpan. Kekuatan lantai ruang simpan harus mempertimbangkan berat rak dan arsip; Sebagai dasar perhitungannya : - Satuan volume arsip adalah meter linear (ML) - 1 Meter Linear (ML) arsip rata-rata = 50 kg - 1 M3 arsip rata-rata = 600 kg - 1 M3 arsip = 12 meter linear (Ml) arsip b. Berat beban arsip dan peralatan rak konvensional rata-rata : 1.200 kg per meter persegi; c. Berat beban rak compact shelfing/roll

o'pact: 2.400 kg per meter persegi; d. Apabila ruang simpan arsip seluas 10 meter persegi penuh dengan rak konvensional dan arsip, maka berat bebannya mencapai 1.200 kg x 10 = 12.000 kg. Dengan demikian, konstruksi lantai bangunan harus mampu menahan beban minimal sebanyak 12.000 kg; 2. Kapasitas Ruang Simpan Kapasitas ruang gedung penyimpanan arsip yang baik adalah : e. Luas ruang simpan arsip inaktif pada dasarnya sangat tergantung pada kondisi dan kemampuan instansi; a. Rata-rata setiap 200 M2 ruang simpan arsip dengan ketinggian 260 cm dapat menyimpan 1.000 meter lari arsip dengan menggunakan rak konvensional (rak statis, stationary stacks); b. Penyimpanan dengan rak yang padat (compact shelfing, roll o'pact, mobile stacks, rak bergerak) dapat menyimpan 1.800 meter lari arsip. 3. Suhu dan Kelembaban a. Untuk mengatasi masalah suhu dan kelembaban secara teknis dapat dilakukan dengan cara : 1) Pemeriksaan secara periodik menggunakan alat higrometer ; 2) Menjaga sirkulasi udara berjalan lancar; 3) Menjaga suhu udara tidak lebih dari 27 0 C dan kelembaban tidak lebih dari 60 4) Rak arsip yang digunakan harus dapat menjamin sirkulasi udara yang cukup; 5) Hindari penggunaan rak yang padat; 6) Menjaga langit-langit, dinding dan lantai tidak berlobang dan tetap rapat; 7) Pondasi didesain untuk menjaga uap atau udara lembab naik ke tembok karena daya resapan kapiler; 8) Hindari menanam pohon dan kayu-kayuan di dekat gedung; 9) Menjaga ruang agar tetap bersih dari kontaminasi gas/lingkungan agar tidak mudah timbul jamur yang akan merusak arsip; 10) Tandai kondisi arsip dan peralatannya yang terkena jamur atau korosi, untuk segera diadakan perbaikan b. Standar suhu dan kelembaban untuk ruang simpan arsip, maka perlu diatur suhu ruangan tidak lebih dari 20 0 C dan kelembaban tidak lebih dari 50 %. 4. Cahaya dan Penerangan Cahaya dan penerangan tidak menyilaukan, berbayang dan sangat kontras. Sinar matahari tidak boleh langsung mengenai arsip. Jika cahaya masuk melalui jendela tidak dapat dihindari, maka dapat diberi tirai penghalang cahaya matahari. 5. Rayap a. Rayap dan segala macam varietasnya sering merusak bangunan yang terbuat dari kayu, oleh karena itu bangunan tempat penyimpanan arsip inaktif dianjurkan untuk tidak menggunakan kayu. b. Lantai bangunan dianjurkan untuk disuntik dengan DDT atau Gammexane atau Penthachlorophenol hingga kedalaman 50 cm, karena rayap pada umumnya hidup dalam tanah sampai pada kedalaman 50 cm. 6. Angin a. Pondasi gedung didesain secara kuat untuk mendukung dinding yang kuat sehingga mampu menahan terpaan angin kencang dan hujan deras. b. Jendela-jendela dan pintu-pintu diperkuat dengan metoda tertentu untuk mencegah terpaan hujan deras dan tampiasnya air. 7. Rak a. Tinggi rak (rak statis) disesuaikan dengan ketinggian atap ruang penyimpanan arsip inaktif; b. Ruang penyimpanan arsip inaktif dengan ketinggian atap 260 cm - 280 cm dipergunakan rak arsip setinggi 200 - 220 cm. c. Jarak antara rak dan tembok 70 cm - 80 cm; d. Jarak antara baris rak yang satu dengan baris rak lainnya 100 cm - 110 cm; e. Rak arsip sebaiknya terbuat dari metal yang tidak mudah berkarat; f. Perbandingan keuntungan dan kerugian penggunaan rak statis dengan roll o'pact adalah sebagai berikut : - Penggunaan roll o'pact lebih banyak dapat menampung volume arsip yang disimpan; - Penggunaan roll o'pact tidak dapat diakses secara bersamaan; - Ukuran roll o'pact tidak dapat menyesuaikan dengan ketinggian ruangan karena sudah standar; - Roll o'pact relatif lebih mahal; - Penggunaan roll o'pact diperlukan konstruksi beban muatan lebih kuat. Penggunaan roll o'pact tidak menjamin sirkulasi udara berjalan dengan lancar. g. Rak, peralatan dan perlengkapan lainnya harus di jamin aman, mudah di akses dan terlindung dari hama; 8. Boks a. Dipergunakan boks arsip dengan ukuran kecil (37 X 9 X 27 cm) atau ukuran besar (37 X 19 X 27 cm); b. Boks arsip dibuat dari bahan kardus dan memiliki lubang sirkulasi udara, memiliki penutup untuk menjamin kebersihan; c. Hindari penggunaan boks dari bahan plastik karena menyebabkan lembab. E. KEAMANAN DAN KESELAMATAN 1. Keamanan

Arsip a. Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Api/Kebakaran : 1) Alat Pemadam Api dengan menggunakan ; - Fire Alarm system dan fire fight system; - Tabung pemadam, smoke detection. 2) Hydrant dalam gedung dan luar gedung. b. Pencegahan dari Kehilangan Arsip : 1) Identifikasi terhadap petugas yang berwenang memasuki ruang simpan arsip inaktif dilaksanakan secara ketat dan konsisten. 2) Setiap petugas yang memasuki area ruang penyimpanan arsip harus menggunakan tanda pengenal khusus yang disahkan oleh pejabat yang berwenang. 3) Dikembangkannya prosedur penggunaan dan penggandaan arsip untuk menjaga keamanan informasi arsip. 4) Pelatihan bagi petugas agar mampu mencegah dan menanggulangi bencana terhadap arsip. c. Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Serangga: 1) Pemeliharaan arsip dengan menggunakan kapur barus, tymol, fostoxin, paradecrolobensin; 2) Menjaga kebersihan ruangan : - Tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam ruang penyimpanan arsip, - Tidak diperkenankan merokok di dalam ruang penyimpanan arsip. 2. Keselamatan Lingkungan dan Kesehatan a. Setiap pelaksanaan pemusnahan arsip dianjurkan tidak dibakar, karena dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan. b. Pelaksanaan fumigasi harus memperhatikan ketentuan teknis fumigasi. A. PENUTUP Pengelolaan arsip menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap instansi, baik instansi pusat, daerah maupun swasta. Standar minimal gedung dan ruang penyimpanan arsip inaktif ini merupakan salah satu pedoman yang digunakan oleh instansi dalam kegiatan pengelolaan arsip dinamis inaktifnya. Sebaik apapun standar dibuat, apabila tidak dibarengi dengan kesungguhan untuk mentaatinya, tentu saja standar ini tidak akan membawa manfaat. Namun kiranya dapat dimaklumi bersama, bahwa standar sesuatu apapun, akan mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tuntutan praktis yang berkembang di lapangan. *Arsiparis Pertama DAFTAR KEPUSTAKAAN Undang-undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan - Keputusan Kepala ANRI Nomor 03 Tahun 2000 tentang Standar Minimal Gedung dan Ruang Penyimpanan Arsip Inaktif Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 40 tahun 2008 tentang Tata Kearsipan Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Mohon bantuan, bagaimana membangun ruangan arsip (file room) tahan api (fire proof) yang benar sehingga sewaktu kebakaran arsip dijamin aman. Bahan apa saja yang benar-benar Perlu diketahui bahwa ruangan tersebut dibangun bersebelehan dengan ruang bangunan dari kayu. Tiang-tiang cor colom. Atap dan Lantai cor dak tebal kira-kira 18cm. Dinding? Pintu? dll. Berikut ini ada pertanyaan, apakah hal-hal seperti di bawah ini bisa tahan api. 1. Apakah tahan api (fire proof) dinding dengan bahan batu-bata dan plester semen dengan ketebatalan +/- 6cm tiap sisi? 2. Apakah tahan api (fire proof) cor dak dengan ketebalan +/- 18cm? Terima kasih.
partisi tahan api - jasa pemasangan partisi yang didesain khusus untuk menahan perambatan api atau kebakaran.

Dapat digunakan untuk pengaplikasian ruang data center, ruang server, ruang control panel, ruang arsip dan sebagainya. Partisi tahan api, gypsum firestop, gypsum fire protection, gypsum tahan api.

Cat pelapis tahan api Pelapis di tembok (foam) Pintu yang tahan api..

FIRE DOOR & STRONG ROOM MODULAR STRONG ROOM

MODULAR STRONG ROOM di rancang khusus untuk customer yang membutuhkan ruangan tahan api dan tahan bongkar dengan spesifikasi plinth/panel dan ukuran yang dapat di sesuaikan kebutuhan customer. Dengan sistem penguncian knockdown dari dalam pada seluruh bagian ruangan (sisi samping, depan, belakang, atas, bawah) yang terintegrasi dengan unit pintu khasanah, membuat modul ini tidak dapat di bongkar atau dilepas dari sisi luar manapun. Modular strong room ini sewaktu-waktu dpat dipindahkan utuh tanpa merusak plinth/ panel maupun pintu khasanahnya. Sangat cocok dipergunakan untuk lembaga-lembaga keuangan seperti bank, finance, leasing, kantor notaris dll.
Spesifikasi : - ketebalan plinth: 90mm/ 12mm/ 15mm - Tinggi plinth/panel (L) : STD 250mm - Ukuran ruangan PxLxT : custom - Sistem penguncian : inner knockdown - Pelindung api: formula fire proofing ASF72 - ketahanan bongkar: Plinth/ panel konstruksi bertulang pelat baja 1.5mm-2mm (di sesuaikan tebal plinth) yang di ikat menjadi satu kesatuan dengan formula khusus fire proofing ASF 72

Keyword: plinth, panel, pintu tahan api, ruang tahan api, ruang bank, strong room, brankas, safet box

http://aprossafe.com/product.php?p=modularstrongroom

PEKERJAAN FIREPROOFING (TAHAN API) DI KILANG HIDROKARBON ONSHORE


Posted by Thomas Yanuar under Konstruksi, Method Statement (Metoda Pelaksanaan) [8] Comments

Pekerjaaan Fireproofing (Tahan Api) dikilang hidrokarbon ini merupakan salah satu pekerjaan turunan/derivatif yang dilakukan oleh disiplin teknik sipil. Sedikit banyak berkaitan erat dengan pekerjaan konstruksi struktur baja dan dari derivatif disiplin mekanikal yaitu pekerjaan Static Equipment. Dalam artikel kali ini, saya ingin membagi pengalaman dalam menangani pekerjaan ini termasuk sedikit tinjauan teknis tentang apa dan bagaimana Fireproofing tersebut. 1. TINJAUAN TEKNIS a. Apa Fireproofing Itu Dan Apa Kegunaannya? Fireproofing yang dimaksud disini adalah lapisan dominan material sementasi (cementitious) yang menutupi skirt/saddle (dudukan)/struktur baja penyangga vessel atau jaringan pipa pembawa dan penyimpan material mudah terbakar (flammable). Fireproofing dapat digolongkan sebagai tindakan pemadaman pasif. Kegunaannya? Lapisan fireproofing ini dimaksudkan melindungi dudukan dan penyangga vessel dan jaringan pipa yang dimaksud dari keruntuhan/kegagalan fungsional selama terjadi kebakaran hidrokarbon minimal 3 jam. Rating 3 jam ini sesuai dengan syarat minimum yang disebutkan dalam standar dunia yang diakui yaitu UL (Underwriters Laboratories) 1709 tentang Rapid Rise Fire Test of Protection Materials for Structural Steel. Asumsi lamanya minimum perlindungan yang diinginkan ini lebih banyak berdasarkan faktor waktu perkiraan keruntuhan struktur penyangga dan waktu evakuasi yang diperlukan terhadap manusia yang bekerja disekitar area tersebut. Keruntuhan struktur penyangga ini bisa berujung pada tumpahnya material mudah terbakar dan atau material beracun dari dalam vessel dan berdampak negatif pada lingkungan sekitarnya. Namun sebaliknya, fireproofing material ini juga dapat dipergunakan sebagai pelindung struktur penyangga tersebut terhadap siraman material dingin. Istilahnya adalah cold splash protection. Proteksi kondisi dingin yang dimaksud adalah terhadap kemungkinan gagal patah (fracture failure) struktur dan kerapuhan dasar (severe embrittlement) disebabkan oleh pembekuan ekstrim mendadak atau lepasnya gas cair cryogenic ke area sekitar. Cryogenic gas mempunyai suhu minus (-) 190 C. Jangan tanya akibatnya jika terkena bagian tubuh, seketika itu juga bagian tubuh yang terkena akan pecah berkeping-keping karena rapuh. Rapuh dan pecahnya seperti kalau kita memecahkan biscuit kering. b. Kriteria Dasar Aplikasi

Dalam kilang hidrokarbon, tidak semua struktur baja penyangga dan skirt/saddle harus diberi perlindungan Fire Proofing. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi dalam mempertimbangkan pemakaian Fireproofing ini. Normalnya hanya struktur yang berada dalam FPZ (Fire Proofing Zone), namun beberapa tipe struktur diluar FPZ dapat pula diperhitungkan untuk aplikasi FP ini. FPZ itu sendiri dapat diartikan sebagai kawasan dimana terdapat kemungkinan kebocoran produk flammable yang dapat memicu suatu kebakaran dalam intensitas dan waktu yang cukup yang berakibat pada kegagalan struktur baja penyangga. Area FPZ itu sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kebocoran flammable material seperti dibawah ini: Kebakaran Kebocoran Genangan Bahan Cair (Liquid Pool Fire) Dapat diartikan terbakarnya genangan bahan cair yang terbentuk karena kebocoran tak terduga produk hidrokarbon. Genangan cair ini dapat terbentuk dari segala produk hidrokarbon yang berisi Pentana (C5) dan komponen lebih berat, namun juga oleh Butana (C4) pada temperature dibawah nol. Tambahan lainnya, juga propane (C3) dan gas cair cryogenic dapat membentuk genangan cair dalam kasus pelepasan tak terduga atau kondisi kedua bahan ini berdekatan dengan atmosfir titik didih. Misalnya pada kondisi tekanan lepas dibawah 1 bar (g). Bentuk kebakarannya seperti biasa kebakaran yang jamak kita lihat. Di jenis kebakaran ini, FPZ digolongkan berbentuk persegi. Sisi terdampak terjauh horizontal dari PSL (Potential Source of Leakage) adalah 6 m dan vertikalnya 9 m diatas Hazard Level (HL). Kebakaran Kebocoran Uap/Cairan Bertekanan (Liquid or Vapor Torch Fire). Diartikan kebakaran dari cairan aerosol/uap bertekanan jet (aerosol liquid jet) yang disebabkan oleh kebocoran tak terduga dari gas cair /uap bertekanan tinggi. Disebut juga sebagai kebakaran obor karena bentuknya seperti obor yang sedang terbakar (mengembang diawal dan mengerucut diujung api). FPZ untuk jenis kebakaran ini berbentuk bulatan, sekitar 3 m dari PSL. Nah sekarang coba kita bedah sedikit tentang kriteria dimana FP layak dipertimbangkan dalam area FPZ: 1. Untuk Struktur Baja Penyangga Equipment/Vessel. FP dapat diaplikasikan pada suatu kilang atau sistem dengan maksimal cadangan produk flammable yang dioperasikan lebih dari 5 metrik ton. Atau jika equipment/vessel berisi lebih dari 2 metrik ton flammable produk dengan total berat massa lebih dari 10 metrik ton (termasuk isiannya), mengandung material beracun atau jika keruntuhan mendadak dapat mengakibatkan bahaya bagi orang dan kerusakan lingkungan sekitarnya. Pada struktur baja penyangga Air Coolers. Jika Air Cooler mengandung lebih dari 1 metrik ton produk flammable atau total berat massa termasuk kandungannya lebih dari 2,5 metrik ton.

Segala bentuk kolom, balok baja, atau bagian lainnya yang didesain untuk menahan panjang tekuk batang efektif. Tetapi minor struktur seperti tangga, alur jalan (pathway), anjungan (platform) dan bagian atas struktur yang menyangga pelat lantai/grating biasanya tidak termasuk dalam aplikasi FP. 2. Struktur Penyangga Pipa/Pipe Support. Secara terpisah/individual, FP dapat diaplikasikan pada Pipe Support (biasanya terbuat dari potongan pipa carbon steel) dan struktur baja penyangga pipa jika salah satu atau lebih dari persyaratan dibawah ini terpenuhi, jika yang disangga adalah: a. Pipa merupakan rangkaian flare line atau emergency depressurizing vent line. b. Pipa berisi material beracun. c. Pipa tersebut tersambung dengan equipment yang dimungkinkan menderita kerusakan akibat tambahan beban di nozzle jika terjadi kehilangan/lepasnya pendukung. d. Pipa dikonstruksikan tepat dibawah Air Cooler dimana struktur baja pendukungnya (termasuk horizontal members) menerima palikasi FP. e. Pipa membawa air pemadam kebakaran dan atau utilitas lain yang akan mengurangi kemampuan pemadaman kebakaran jika terjadi kehilangan/lepasnya pendukung. f. Pipa merupakan jalur instrument atas atau jalur kendali hidrolik dimana kerusakannya dapat mengakibatkan terhentinya operasi dari kilang. 3. Bagian struktur Pipe Rack dan Pipe Support dalam posisi horizontal dan vertikal termasuk lantai pertama jika ketinggian bagian-bagian tersebut kurang dari 9 m. 4. Segala bagian skirt dari vessel jika vessel dengan catatan seperti poin 1 diatas. Jika terdapat mulut sambungan (flange) pipa diseputaran skirt atau jika terdapat bukaan tetap dengan diameter lebih dari 600 mm, skirt bagian dalam juga harus dilaksanakan pekerjaan FP ini. 5. Untuk saddle penyangga horizontal vessel dan heat exchanger, FP dapat diaplikasikan jika tingginya lebih dari 300 mm. Lalu apakah struktur baja lain diluar FPZ tidak memerlukan aplikasi FP ini? Tergantung dimana posisi dan jenis equipment apa yang disangga. Mari kita lihat apa saja jenisnya: 1. Kolom baja dalam rangkaian penyangga furnace. Bagian yang perlu pengaplikasian FP hanya sekitar 30 cm dari titik HL (Hazard Level) dibawah bagian struktur yang paling rendah. 2. Penyangga equipment bertekanan yang berbentuk bulat dan peluru. Kaki-kaki penyangga/ kolom dan balok serta bagian struktur terkait yang berfungsi mengurangi panjang tekuk efektif haruslah dilindungi oleh FP.

3. Susunan jembatan Tanki Penyimpan Cryogenic. Rangka utama dari tower baja yang menyangga pipa dan atau jembatan pipa pada tangki penyimpan cryogenic haruslah pula dilindungi. 4. Konstruksi baja penyangga didalam area kelompok tangki penyimpan. Pipa baja penyangga didalam area ini haruslah dilindungi FP penuh dari bawah hingga ke level tertinggi. 5. Perlindungan terhadap Siraman Dingin. Seperti yang ditulis diatas, FP harus bisa juga memberikan perlindungan terhadap siraman diingin. Terutama terhadap struktur baja yang rentan terhadap bahaya kerapuhan akibat efek dingin yang terlepas dari PSL (Potential Source of Leakage). Ketebalan lapisan FP paling tidak harus mencapai 50 mm. Dan struktur baja yang harus dilindungi berada dalam radius 3 m dari PSl hingga ke HL. 2. METODA APLIKASI FIREPROOFING Naah, setelah kita bedah sedikit tentang FP ini, sekarang kita lihat bagaimana mengaplikasikannya. a. Material Material yang dipergunakan tentunya harus memenuhi spesifikasi yang diharuskan disamping wajib memenuhi persyaratan sesuai Code/Standard. Ada banyak pilihan dipasaran. Seperti produk dari produsen Grace, Cafco/Primat, Carboline, dan masih banyak lagi. Secara umum kandungan material dalam lapisan Fireproofing adalah: Material bersifat semen (cementitious). Wiremesh tersalut plastic dan tergalvanisasi. Lapisan Primer. Helical Pin/Retention lath. Lapisan finishing bersifat kalis terhadap air (water repellent). b. Peralatan Mixer dengan kapasitas output yang diperhitungkan cukup selama pelapisan. Mesin penyemprot dengan pisau rotor /flexible stator. Pompa tunggal lebih baik. Kecepatan normal putaran mesin biasanya dikisaran 100-600 rpm. Tekanan sebaiknya diset pada 3.5 kg/cm. Berikut selang dan kepala penyemprot. Mesin tambahan adalah pompa air dan kompresor udara. Peralatan pendukung. Seperti self rotated fan (untuk menyalurkan/pertukaran udara/oksigen selama pelaksanaan pekerjaan didalam skirt. PPE wajib seperti helm, masker, safety google dan

sarung tangan. Termasuk lampu sebagai penerangan didalam skirt. Untuk penerangan harus mengikuti peraturan safety yang berlaku. Scaffolding/perancah untuk pekerjaan diketinggian lebih dari 2 meter. c. Prosedur Pelaksanaan (termasuk inspeksi QC) di Equipment Skirt, Saddle dan Struktur Baja Penyangga. Terlebih dahulu kita harus melakukan pelatihan dan seleksi manpower yang dianggap mampu penyemprotan. Tahapan ini disebut Gunner Qualification dan harus disertifikasi serta dibuktikan dengan mock up oleh tiap gunner yang direkomendasikan. Gunner dianggap lulus jika secara visual hasil semprotannya merata, kepadatannya penuh dan massif dan tahu karakteristik jenis material siap semprot. Pembersihan permukaan material induk/substrate wajib dilakukan. Untuk lokasi internal skirt , pembersihan dapat dilaksanakan setelah lokasi dinyatakan safe dari gas beracun oleh petugas HSE. Semua jenis kotoran dan lengketan terutama bersifat minyak harus diangkat dan dilepaskan. Inspeksi permukaan wajib dilakukan. Setelah permukaan dinyatakan siap, pemulasan lapisan primer (key coating) bisa dikerjakan. Biasanya secara manual dengan kuas atau roler. Tujuan utama pemulasan adalah menghindarkan pengkaratan yang mungkin terjadi akibat reaksi oksidasi antara permukaan baja dengan material saat material masih basah (mengandung air). Tebal pemulasan/coating berkisar antara 100 150 mikron WFT. Untuk area yang luas, kompresor dengan sprayer bisa dipakai. Perlu diingat, sebelum pemulasan dilakukan, perlindungan/tutupan terhadap kepala anchor bolts, pelat nama (equipment plate names), pipa dan valve serta semua utilitas yang tidak perlu di FP, haruslah dilakukan. Tutupan sementara ini dapat mempergunakan isolasi kertas. Untuk aplikasi di Skirt. Selanjutnya wiremesh digelar beserta helical pin. Pin in berfungsi untuk menahan posisi wiremesh supaya tidak merapat kepermukaan skirt. Sebaran helical pin dipertimbangkan sesuai kondisi yang terlihat. Untuk sambungan di wiremesh, paling tidak 2 kali plong atau lubang nya yang di-overlapping. Untuk aplikasi di struktur baja, penahan posisi wiremesh biasanya dibuat dari nut/mur yang dilas kepermukaan baja tersebut (kolom ataupun balok). Sebelum aplikasi wiremesh, nut/mur tersebut harus dilapisi primer dahulu. Jika QC inspector menyatakan kondisi wiremesh di Skirt diterima, maka selanjutnya adalah menyiapkan campuran material utama dimixer dan instalasi mesin sprayer dan perlengkapannya. Perlu dicatat perlunya dibuat perlindungan diseputar area kerja demi kesehatan lingkungan dan menghindarkan cipratan material keequipment lain atau area sekitar saat disemprotkan. Penyemprotan lapisan biasanya dilakukan 2 kali, tergantung terhadap ketebalan lapisan FP yang dikehendaki dalam desain/gambar. Lapisan FP biasanya 50 mm. Lapisan pertama ketebalannya lebih dari yang kedua. Penyemprotan harus dilaksanakan kontinyu hingga lapisan selesai,

permukaan harus kasar untuk gigitan/bonding ke lapisan berikutnya. Setelah selesai, hasil semprotan didiamkan paling tidak dalam jangka 24 jam untuk memberikan waktu bagi material membaur sempurna. Lapisan kedua dapat diaplikasikan setelah permukaan lapisan pertama diperkirakan cukup kering atau paling tidak damp condition. Disemprotkan hingga mencapai ketebalan final yang disyaratkan. Gunner yang berpengalaman dan ahli biasanya hanya dengan visual dapat memperkirakan dimana penyemprotan harus dihentikan ketika ketebalan tercapai. Namun dalam halnya semua gunner belum berpengalaman, maka wajib dilakukan pemeriksaan ketebalan secara berkala selama penyemprotan berlangsung. 1 hal penting yang perlu dilakukan sebelum penyemprotan adalah pengambilan sample benda uji untuk mengetahui slump guna menghitung density material setelah dicampur. Jika slump atau density tidak tercapai, maka perlu dilakukan modifikasi pencampuran komposisi material. Dan pengujian slump tetap harus dilaksanakan hingga mencapai density yang disyaratkan. Setelah ketebalan rencana sudah tercapai, maka dilakukan penghalusan/rendering permukaan, sekaligus berfungsi menutup celah celah yang mungkin masih tertinggal. Untuk pelapisan permukaan struktur baja penyangga dan saddle, perlu dipersiapkan formwork/cetakan yang menyelubunginya. Selubung total untuk kolom dan saddle sedangkan untuk balok hanya 3 muka. Untuk kolom, perlu diberi chamfer diseluruh sisi. Selanjutnya material FP dicor kedalam cetakan in-situ tersebut secara kontinyu dan dibarengi dengan pemadatan/penggetaran. Curing untuk lokasi skirt dilaksanakan setelah FP mengeras dengan menggunakan karung goni dan air, paling tidak selama 3 hari terus menerus. Sedangkan untuk struktur baja, curing dilakukan setelah formwork dibuka, dengan jangka waktu yang sama. Setelah tahapan curing terlewati, selanjutnya wajib diadakan inspeksi permukaan. Jika ada damage atau kondisi yang kurang memuaskan namun masih dapat diperbaiki, maka harus dilakukan segera. Jika dianggap bagus, selanjutnya pada permukaan dapat dilaksanakan finish coating. Tebalnya finish coat maksimal 200 mikron WFT. Dengan selesainya finish coating ini dan inspeksi final dari inspektur QC menyatakan hasilnya tidak bermasalah maka pekerjaan Fireproofing dapat dinyatakan selesai. Tambahan: Komentar dan tanggapan tentang artikel Fireproofing yang dipublikasikann dibawah ini diambil dari Milis Migas Indonesia From amunawir@gmail.com Komen saya, Fireproofing itu bukan untuk memadamkan api, tetapi menahan paparan panas

pada temperatur tertentu yang telah dispesifikasikan dalam durasi waktu tertentu. Sehingga diharapkan major hazard yang teridentifikasi dapat dimitigasi dengan proteksi ini. Pemilihan material coating itu sangat tergantung cost dan considering impact dari penambahan fireproofing tsb terutama di Offshore dimana Bulk of Material Weight sangat menjadi pertimbangan. Misalnya coating dengan concrete material saya kira dihindari untuk digunakan pada Offshore Design.