Anda di halaman 1dari 10

ISNAD.

NET

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT UNTUK JANIN YANG DIKANDUNG


Telah Diperiksa Oleh:Asy Syaikh Al Fadhil Abu Abdirrohman Abdurroqib bin AliAl Kaukabaniy semoga Alloh menjaganya Darul Hadits Dammaj, Yaman 26 Ramadhan 1433 H

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo -'afallohu 'anhu-

Judul Asli: Zakatul Fithr Alal Janin Terjemah bebas: Bayi Di Perut Ummi Tidak Wajib Zakat Fithri

Telah Diperiksa Oleh: Asy Syaikh Al Fadhil Abu Abdirrohman Abdurroqib bin Ali Al Kaukabaniy semoga Alloh menjaganya-

Disusun dan Diterjemahkan Oleh: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo 'afallohu 'anhu

5 Telah datang pertanyaan dari salah seorang ikhwah di tanah air yang menanyakan: Istri ana belum melahirkan, apakah janin yang dikandungnya yang sudah berumur 9 bulan termasuk dikeluarkan zakatnya? Sebelum ana menjawab, perlu ana sampaikan bahwasanya ada salah seorang ikhwah yang mengirimkan nasihat untuk jangan cepat-cepat berfatwa. Saya bersyukur dan menyampaikan jazakumullohukhoiron atas nasihat yang disampaikan, dan saya insya Alloh tak akan cepat-cepat berfatwa, dan memang saya merasa sangat belum pantas untuk berfatwa. Adapun jika saya telanjur ditanya tentang perkara yang telah Alloh berikan ilmunya, maka pada asalnya menyembunyikan ilmu yang bermanfaat adalah harom. Maka saya harus menjawabnya sesuai dengan apa yang telah diajarkan, bukan dengan akal semata, tapi dengan dalil dan bimbingan ulama. Alloh taala berfirman: ]781/ [ Dan ingatlah ketika Alloh mengambil perjanjian teguh dari orang-orang yang diberi Al Kitab: Hendaknya kalian benar-benar menerangkannya pada manusia dan kalian tidak menyembunyikannya, maka mereka melemparkannya ke belakang punggung-punggung mereka dan membeli dengannya harga yang murah. Maka alangkah jeleknya apa yang mereka beli. Al Imam Abu Sulaiman Al Khoththobiy berkata: Maka Alloh mewajibkan bagi orang yang ditanya tentang suatu ilmu untuk menjawabnya dan menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. (Maalimus Sunan/3/hal. 263). Rosululloh bersabda:

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, maka dirinya akan diberi tali kekang dari neraka pada hari Kiamat. (HR. Ahmad (7561)/shohih dari Abu Huroiroh .) Al Imam Abu Sulaiman Al Khoththobiy berkata: . Maknanya adalah: bahwasanya orang yang mengekang lidahnya dari mengucapkan kebenaran dan dari mengabarkan dan menampakkan ilmu, dia akan dihukum di akhirat dengan tali kekang dari neraka. (Maalimus Sunan/4/hal. 185). Al Imam Ibnu Abdil Barr berkata: 5 5 . : .)(" " /1/ 444-005/ Sebagian ulama berkata: sesungguhnya orang kecil yang tersebut dalam atsar Umar dan atsar-atsar yang semisalnya, yang dimaksudkan hanyalah: orang yang dimintai fatwa padahal dia tak punya ilmu, karena sesungguhnya orang yang besar itu adalah orang alim, dalam usia berapapun dia. Mereka berkata: orang bodoh itu kecil, sekalipun sudah tua umurnya. Dan orang alim itu besar sekalipun masih muda usia. (Jami Bayanil Ilmi Wa Fadhlih/1/hal. 499-500/Dar Ibnil Jauziy). Al Imam Ibnu Abdil Barr juga berkata: 5 5 5 .) . (" " /1/ 105/ Dan termasuk yang menunjukkan bahwasanya ashoghir (orang-orang kecil) itu adalah orang yang tak punya ilmu: apa yang disebutkan oleh Abdurrozzaq dan yang lainnya, dari Mamar, dari Az Zuhriy yang berkata: Dulu majelis Umar penuh dengan para ahli Quran, yang muda dan yang tua. Terkadang beliau mengajak mereka bermusyawarah dan berkata: janganlah menghalangi satu orang kalian kemudaan usianya untuk menyampaikan pendapatnya, karena sesungguhnya ilmu itu bukan berdasarkan kemudaan usia atau ketuaannya, akan tetapi Alloh meletakkan ilmu di manapun yang diinginkan-Nya. (Jami Bayanil Ilmi Wa Fadhlih/1/hal. 501/Dar Ibnil Jauziy). Yang penting: orang yang hendak menjawab pertanyaan tadi benar-benar selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Alloh, dan dia akan dimintai

pertanggungjawaban atas ucapannya itu, dan kesalahannya itu bisa menyebabkan tersesatnya sekian banyak orang yang mengikuti kesalahannya tadi, sehingga dia harus benar-benar mencari kejelasan sebelum menjawab. Alloh taala berfirman: ]771 771/ * [ Dan janganlah kalian berkata dusta dengan apa yang disifatkan oleh lidah-lidah kalian: ini halal, dan ini harom, untuk membikin kedustaan atas nama Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang membikin kedustaan atas nama Alloh itu tidak beruntung. Itu adalah kesenangan sedikit, dan mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Rosululloh bersabda: Barangsiapa berkata atas namaku dengan perkara yang tidak aku ucapkan, maka hendaknya dia tinggal menetap di tempat duduknya di dalam neraka. Barangsiapa diajak musyawarah oleh saudaranya yang muslim, lalu dia memberikan saran yang tidak lurus, maka sungguh dia itu telah mengkhianatinya. Dan barangsiapa berfatwa dengan suatu fatwa tanpa mencari kejelasan lebih dulu, maka dosanya akan menimpa orang yang memberikan fatwa. (HR. Ishaq bin Ruhawaih (334), dari Abu Huroiroh , dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadiiy dalam Al Jamiush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain no. (40)). Sekarang kita akan masuk kepada jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan: apakah janin (bayi yang masih dalam perut ibu) itu harus dizakati saat mengeluarkan zakat fithri? Dari Ibnu Umar yang berkata: . Bahwasanya Rosululloh mewajibkan zakat fithri satu sho dari korma, atau satu sho dari gandum, terhadap budak, orang yang merdeka, lelaki, perempuan, anak kecil, orang besar dari muslimin. Dan beliau memerintahkan agar

zakat itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk sholat id. (HR. Al Bukhoriy (1503) dan Muslim (2326) dari Ibnu Umar . Ini lafazh Al Bukhoriy). Hadits ini menunjukkan bahwasanya setiap muslim yang masih hidup di dunia itu wajib membayar zakat, baik secara langsung ataupun dibayarkan oleh orang lain. Kecuali orang miskin. Sekarang bagaimana dengan janin? Al Imam Ibnul Mundzir berkata: 5 Dan mereka bersepakat bahwasanya tidak ada kewajiban zakat atas janin di perut ibunya. Ibnu Hanbal menyendiri, beliau menyukai untuk si janin dizakati, tapi tidak mewajibkan hal itu. (Al Ijma/karya Ibnul Mundzir/1/hal. 47). Memang yang benar adalah: tidak wajib. Akan tetapi hal itu tidak sampai menjadi ijma, karena ada sebagian kecil ulama yang berpendapat bahwa itu wajib. Ibnu Hazm berkata: . 5 . Adapun bayi yang masih di dalam perut, maka sesungguhnya Rosululloh mewajibkan zakat atas setiap orang: kecil, atau besar. Dan janin itu terkena istilah kecil. Maka jika sang janin telah sempurna berumur seratus duapuluh hari di perut ibunya sebelum terbit fajar pada malam idul fithri, wajib untuk dibayarkan atas namanya shodaqoh fithri. (Al Muhalla/6/hal. 132). Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal itu tidak wajib. Al Imam Ibnu Qudamah berkata: . . Madzhab kami: bahwasanya zakat fithri itu tidak wajib atas janin. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama. (Al Mughni/6/hal. 20). Maka pendapat yang benar adalah: tidak wajib, tapi sekedar shodaqoh mustahabbah. Al Imam Ibnu Qudamah berkata: 5 . . .

Ibnul Mundzir berkata: Seluruh ulama negri-negri yang kami hapal dari mereka, mereka tidak mewajibkan pada seseorang untuk mengeluarkan zakat fitri atas nama janin di perut ibunya. Dan dari Ahmad ada riwayat lain bahwasanya zakat tadi wajib atasnya, karena janin tadi adalah manusia, wasiat untuknya itu sah, wasiat dengannya juga sah, dia juga bisa mewarisi, maka jika masuk kepada keumuman hadits. Dia diqiyaskan kepada bayi yang telah dilahirkan. Adapun pendapat kami (Ibnu Qudamah): dia itu masih janin (masih dalam perut), tidak terkait dengan zakat, seperti janin-janin binatang (tidak wajb dizakati, beda dengan yang sudah dilahirkan dan mencapai batas jumlah minimal). Dan juga dia tidak wajib zakat karena belum tetap untuknya hukum-hukum dunia, kecuali dalam pewarisan dan wasiat, dengan syarat dia itu keluar dalam keadaan hidup. (Al Mughni/6/hal. 20). Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy ketika ditanya: Apakah disyariatkan zakat fitri terhadap janin? Beliau menjawab: 5 . "" 5 ( . 5 ...). 5 5 . Adapun kewajiban terhadap janin, memang sekelompok ulama telah mengucapkan itu. Akan tetapi pendapat yang didukung oleh dalil adalah: bahwasanya shodaqoh fithri itu hanyalah diwajibkan pada anak yang telah dilahirkan, berdasarkan hadits Ibnu Umar: Bahwasanya Rosululloh mewajibkan zakat fithri satu sho dari korma, atau satu sho dari gandum, terhadap lelaki, perempuan, anak kecil, orang besar budak, orang yang merdeka, dari muslimin.

Dan hadits Abu Said yang di Shohihain yang berkata: Dulu kami mengeluarkan zakat pada zaman Rosululloh satu sho dari korma, atau satu sho dari gandum atau berkata: satu sho dari zabib, atau satu sho dari aqith al hadits. Sisi pendalilannya adalah: bahwasanya hadits yang paling shohih dalam bab ini tidak ada di situ kewajiban zakat terhadap janin dalam kandungan. Dan dengan ini kami berpendapat: bahwasanya zakat itu hanyalah diwajibkan terhadap anak yang telah keluar dari perut ibunya dan menangis. Dengan dengan inilah sekelompok ulama berpendapat. (Al Kanzuts Tsamin/3/hal. 260). Memang dikabarkan bahwasanya ada sebagian shohabat yang membayarkan zakat atas nama janin, tapi tidak menunjukkan hukum wajib. Al Imam Bakr bin Abdillah Al Muzaniy berkata: . Bahwasanya Utsman dulu memberikan shodaqoh fithri atas nama janin. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah/no. (10840)/sanad ke Bakr shohih, tapi Bakr tidak mendengar hadits dari Utsman). Al Imam Abu Qilabah berkata: . 5 Shodaqoh fithri itu ditunaikan atas nama anak kecil, orang besar, orang merdeka, budak, lelaki, dan perempuan. Mereka juga dulu membayarkannya atas nama janin yang masih dalam kandungan. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah/no. (10463)/shohih). Al Imam Ibnu Qudamah berkata: .)20 . (""/6/ Jika (argumentasi) ini telah tetap, maka hukumnya adalah mustahab (tidak sampai wajib), karena Utsman dulu juga mengeluarkan zakat atas nama janin, dan karena hal itu merupakan shodaqoh atas nama orang yang tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat, maka hukumnya adalah mustahab sebagaimana seluruh shodaqoh-shodaqoh tathowwu (sunnah, tidak wajib). (Al Mughni/6/hal. 20). Al Lajnah Ad Daimah ditanya: Apakah boleh zakat terhadap janin yang masih di dalam perut ibunya? Dijawab:

.))3332( . . ( Disukai mengeluarkan zakat atas nama janin, berdasarkan perbuatan Utsman , dan itu tidak wajib, karena seandainya zakat tadi terkait dengan janin tadi sebelum kemunculannya (di alam dunia), tentulah zakat juga akan terkait dengan janin-janin binatang-binatang gembalaan. Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya. Dan semoga sholawat dan salam Alloh tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya. (Fatawal Lajnah Ad Daimah no. (3382)). Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apakah zakat fithri boleh diserahkan atas nama janin Maka beliau menjawab: . Zakat fithri tidak diserahkan atas nama janin dalam perut dalam bentuk kewajiban. Hanya saja zakat tadi diserahkan dalam bentuk istihbab (disukai). (Majmu Fatawa Wa Rosail Al Utsaimin/18/hal. 263). Syaikh kami Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy : Yang benar adalah pendapat yang pertama, dan tidak wajib mengeluarkan zakat fithri terhadap janin. Jika orang tersebut mengeluarkannya maka bukan karena wajib akan tetapi karena mustahab, maka tidak apa-apa. Wallohualam. Akan tetapi sang janin dizakati apabila telah ditiupkan padanya ruh. Dan ruh itu ditiupkan pada janin setelah saang janin berusia seratus dua puluh hari, berdasarkan hadits Abdulloh bin Masud dan beliau menyebutkan hadits- maka hadits ini diambil oleh para ulama bahwasanya bayi yang gugur sebelum berusia seratus dua puluh hari itu tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak disholati. Tapi jika meninggalnya setelah berumur seratus dua puluh hari, maka bayinya dimandikan, dikafani dan disholati serta dimakamkan di kuburan Muslimin. Demikian pula di sini, zakat fithri jika dikeluarkan atas nama janin, bukan karena wajib tapi karena mustahab, maka tidak apa-apa, Wallohualam. Adapun wajib seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm, maka tidak benar, karena janinnya itu belum pasti (belum pasti hidup selamat). Dan juga janin itu tidak dikatakan sebagai anak kecil secara bahasa ataupun secara kebiasaan. (Ahkam Zakatil Fithri/karya Syaikh Zayid Al Wushobiy/hal. 26/cet. Kunuz Dammaj).

Kesimpulannya adalah: bahwasanya zakat fithri atas nama janin itu tidak wajib. Adapun yang berpendapat bahwasanya hal itu mustahab (untuk bayi yang telah berusia 120 hari) karena mengamalkan apa yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka hal itu tidak diingkari. Inilah yang bisa saya sampaikan semoga Alloh memberkahi. Dan semoga Alloh mempermudah kelahiran bayi-bayi muslimin dengan selamat dan penuh rohmat dan berkah, dan dipelihara Alloh sepanjang hidup mereka, sehingga menjadi kebaikan bagi orang tua mereka. Rosululloh bersabda: . ( .))4310( Jika manusia mati, amalannya terputus kecuali tiga. Kecuali shodaqoh jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak sholih yang mendoakannya. (HR. Muslim (4310) dari Abu Huroiroh .) Dari Abu Huroiroh yang berkata: Rosululloh bersabda: . : : Sesungguhnya Alloh mengangkat derajat untuk hamba yang sholih di Jannah, maka dia bertanya: Wahai Robbku, dari mana saya mendapatkan derajat ini? Maka Alloh menjawab: Dengan permohonan ampunan anakmu untukmu. (HR. Al Imam Ahmad (10710) dan yang lainnya, dihasankan oleh Al Imam Al Wadiiy dalam Ash Shohihul Musnad no. (1389)). Wallohu taala alam. Dammaj, 26 Romadhon 1433 H