Anda di halaman 1dari 23

Laboratorium

8 Votes Mutu adalah kesesuaian dengan spesifikasi yang ada, yang harus memenuhi keinginan pembeli. Spesifikasi dapat ditentukan oleh produsen atau konsumen. Ini merupakan slogan bisnis, tidak hanya untuk pabrik kelapa sawit, namun berlaku umum bagi unit-unit bisnis yang lain. Oleh karena ini diperlukan pemantauan mutu dari segala hal yang berkaitan dengan proses bisnis dalam pabrik kelapa sawit. Fungsi ini dijalankan oleh sebuah laboratorium. Adapun tugas laboratorium di PKS adalah :

Memeriksa kwalitas CPO dan kernel Menghitung berapa banyak hasil produksi yang hilang selama proses Menganalisa raw water dan boiler water Memonitor perombakan anaerobik dengan melakukan analisa rutin limbah

Parameter Mutu Minyak Sawit

FFA ( Free Fatty Acid)

FFA atau Free Fatty Acid adalah group dari asam organik yang terdapat dalam minyak sawit. FFA di dalam minyak sawit, sebagian besar palmitat, stearat dan oleat. Kandungan palmitat lebih banyak didalam minyak sawit sehingga Berat molekulnya digunakan dalam perhitungan. FFA terbentuk akibat adanya air dan katalis melalui reaksi hidrolisa. Minyak (Trigliserida) + Air > FFA + Gloserol Ada 2 dasar hidrolisis katalis didalam minyak sawit. Pertama hidrolisis enzimatik. Lemak aktif memecahkan enzim, sebagian besar lipoid yang ada didalam buah sawit. Aktifitasnya menghasilkan formasi FFA dipercepat bila mesocarp buah sawit pecah atau memar. Kedua hidrolisis katalis secara spontan. Reaksi ini dipengaruhi oleh kandungan FFA yang ada didalam buah sawit dan telah berkembang yang berhubungan dengan suhu dan waktu. Free fatty scid (asam lemak bebas) dalam minyak produksi adalah untuk menilai kadar asam lemak bebas dalam minyak dengan melarutkan lemak tersebut dalam pelarut organik yang sesuai dan menetralisasi larutan tersebut dengan alkali dengan menggunakan indikator phenolpthalein. Nilai FFA dalam CPO tidak lebih dari 3%. Faktor-faktor yang mempengaruhi FFA adalah : 1. Tingkat kematangan buah sawit

2. Memperpanjang penanganan buah dari waktu panen hingga waktu proses 3. Keterlambatan atau penundaan antara panen dan proses

Moisture content

Penentuan kadar air pada minyak produksi adalah untuk menilai kandungan zat menguap dalam minyak, yaitu jumlah zat/bahan yang menguap pada suhu 103 deg C, termasuk di dalamnya air serta dinyatakan sebagai berkurangnya berat apabila sampel dipanaskan pada suhu 103 deg C. NIlai moisture content pada CPO tidak lebih dari 0,3%.

Impurities content

Kadar kotoran pada minyak produksi adalah untuk menilai kadar kotoran dalam minyak yang berupa zat yang tidak larut dalam pelarut organik yang telah ditentukan, kemudian disaring dengan media penyaring dan dicuci dengan pelarut tersebut, dikeringkan lalu ditimbang. Niali dirt content pada CPO tidak lebih dari 0,03%.

Peroxide value

Peroksida ialah hasil oksidasi pertama yang nontransient dan terbentuk karena bertambahnya radikal aktif molekul oksigen pada gugus metilen aktif pada rantai asam lemak yang terdapat dalam minyak. Peroxide value adalah untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak. Proses pembentukan peroksida dapat dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam, kelembaban udara dan katalis (logam Fe,Co, Mn, Ni dan Cr). Peroksida juga dapat mempercepat proses tmbulnya bau tengik dan flavor yang tidak dikehendaki dalam bahan pangan. Peroxide value pada minyak produksi untuk menilai bilangan Peroxide dalam minyak dengan cara titrasi ion yodida bebas dengan sodium thiosulfat.Nilai peroxide value pada CPO tidak lebih dari 1 meq/kgl.

DOBI

Dobi adalah indeks daya pemucatan merupakan rasio kandungan karoten dan produk oksidasi sekunder pada CPO. Nilai Dobi yang rendah mengindikasikan meningkatnya kandungan produk oksidasi sekunder (produk oksidasi dari karotenoid yang dapat terjadi dari efek rantai asam lemak teroksidasi). Nilai Dobi diukur dengan alat spektrofotometer UV-Visible, kandungan karotene diukur pada absorbens 446 nm sedangkan produk oksidasi sekunder pada absorbens 269 nm. Nilai Dobi yang baik harus lebih dari 2,5.

Carotene

Senyawa karotene adalah suatu senyawa yang larut didalam lemak, berwarna kuning sampai merah di dalam CPO, sangat dipengaruhi oleh kematangan buah. -Carotene pada proses refinery sengaja dihilangkan untuk memperolah minyak goreng yang jernih juga menghindari terjadinya degradasi -carotene oleh panas, padahal -carotene merupakan pro-vitamin A dan juga sebagai antioksidan alami. Spesifikasi > 500 ppm.

Iodine Value

Iodine Value adalah suatu besaran untuk mengukur derajat ketidak jenuhan dalam asam lemak. Ini dinyatakan dengan jumlah gram iodine yang diserap oleh 100 g lemak. Bilangan iodine tergantung pada jumlah asam lemak tidak jenuh dalam minyak. Lemak yang akan diperiksa dilarutkan dalam iso oktan kemudian ditambahkan larutan Iodine berlebih, sisa iodine yang tidak bereaksi dititrasi dengan Na. thiosulfat. Spesifikasi > 50. Pengukuran Losses

Oil losses di sterilizer condensate

Tujuan : Mengukur kehilangan minyak pada masing-masing sterilizer, memonitor efficiency sterilisation, memonitor kematangan buah yang masuk, mempelajari kehilanagn minyak yang berhubungan dengan double versus triple peak sterilizer, kualitas dari minyak sterilizer, mengetahui jangka waktu pembersihan sterilizer. Sampling point : Ex-trap condensate setelah recycle oil, jika tidak ada recovery fit harus diambil dari ex-strilizer. Sample size : 200 ml/1.5 jam. Sampling methods : Sampel dikumpulkan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas. Spesifikasi : Kadar minyak didalam kondensat sterilizer tidak lebih dari 1,5% (wet basis).

Oil losses di empty bunch

Tujuan : mengukur kehilangan minyak pada empty bunch, menghasilkan data harian dari kehilangan minyak untuk keperluan kontrol, mendeteksi FFB yang terlalu matang dan berlebih pada kapasitas thresher. Sampling point : empty bunch conveyor setelah recycle. Sampel size : 2 janjang/1,5 jam Sampling methods : setiap janjangan ke 10 dan 20; empty bunch dengan USB dibedakan; belah memanjang menjadi empat bagian di mana 1 bagian dari setiap janjang dirajang dengan tebal 1 cm; tempatkan dalam plastik dan beri identifikasi jelas. Spesifikasi : rata rata USB tidak melebihi 2% dari total FFB yang diproses.

Oil losses di USB

Tujuan : memantau effisiensi dari proses sterilisasi dan threshing , memonitor kehilangan minyak akibat dari proses perebusan yang tidak sempurna.

Sampling point : EB conveyor sebelum dilakukan proses perebusan ulang, EB conveyor setelah recycle. Sample size : 400 atau 200 janjang/2 jam; 5 Janjang /1.5 jam. Sampling methods : menghitung dengan counter janjang yang tidak rontok (5% brondolan yang masih melekat pada janjangan); mengambil janjang no. 25, 30, 35, 40 dan 45. Janjang yang tidak rontok buahnya harus dikembalikan dan diganti dengan janjang kosong.

Oil loses di fibre press

Tujuan : mengetahui kehilangan minyak dan persentasi nut pecah dalam fibre, menentukan ratio nut/fibre untuk pressing yang optimum. Sampling point : contoh diambil dalam jumlah yang sama dari ketiga sudut corong keluar press. Sample size : 1 kg/1,5 jam. Sampling methods : ditempatkan dalam wadah terpisah setiap press, wadah bertutup dan beridentitas jelas. Spesifikasi : kehilanagn minyak didalam fibre dari mesin press tidak lebih dari 7 % (dry basis); biji yang pecah di dalam fibre tidak lebih dari 20 % (biji pecah/total biji).

Oil losses di klarifikasi

Tujuan : memonitor effisiensi dari proses klarifikasi. Sampling point : dari ujung pipa sludge pada tangki clarifier. Sample size : 200 ml/1,5 jam. Sampling methods : contoh yang diambil disimpan terpisah untuk setiap tangki clarifier. Wadah bertutup dan beridentitas.

Oil losses di sludge waste

Tujuan : mengetahui kehilangan minyak dalam sludge waste, mempertahankan effeciency sludge centrifuge untuk meminimalkan kehilangan minyak dan menurunkan organic loading. Spesifikasi : < 1% (wet basis)

Kernel losses di fibre cyclone

Tujuan : mengetahui banyaknya kehilangan kernel pada fibre cyclone. Sampling point : di bagian bawah pemutar sistem fibre cyclon.

Sample size : 1 kg/ 1,5 jam Sampling methods : sampel dikumpulkan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas.

Kernel losses di winnower

Sampling point : Ex-Winnower. Sampling size : 1 kg/1,5 jam. Sampling methods : sample disimpan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas.

Kernel losses di claybath

Tujuan : untuk mengetahui total kehilangan kernel dalam shell setelah separation. Sample point : Lubang pengeluaran cangkang dari claybath. Sample size : 1 kg/1,5 jam. Sample methods : sampel disimpan dalam wadah bertutup dan beridentitas. Metode Pembagian Sampel

Bahan yang akan diambil sub sampel harus sudah homogen Bahan yang telah bercampur/homogen diletakkan merata dan dipisahkan dalam 4 bagian yang kira-kira sama. Dua bagian yang berlawanan dibuang Sisa dua bagian, dicampur ulang, dibagi 4 dan diambil 2 bagian yang berlawanan dan 2 bagian dibuang dst sampai diproleh suatu sample dengan berat yang diinginkan

Manajemen Laboratorium Penerimaan bahan kimia


Kesesuaian bahan dengan spesifiaksi permintaan perusahaan Dilengkapi dengan kelengkapan administrasi seperti MSDS (Material Safety data Sheet) Wadah bahan dalam kondisi baik Pelabelan wadah bahan

Penyimpanan bahan kimia


Lingkungan Wadah Bahan kimia lainnya

Pemakaian bahan kimia

Sebelum menangani suatu bahan kimia pelajari terlebih dahulu informasi bahaya bahan tersebut dalam MSDS Pergunakan Alat Pelindung Diri yang telah disediakan dengan benar dan pastikan jenis APD tersebut sesuai dengan potensi bahaya dari bahan kimia yang akan kita tangani Kegiatan pencampuran, pengenceran, pemanasan dll terhadap bahan harus sesuai dengan prosedur yang ada dalam MSDS Pemindahan bahan ke kontainer lebih kecil dilakukan hati-hati dan pergunakan kontainer yang diperuntukkan untuk pemindahan bahan tersebut. Pastikan kontainer sekunder ini berlabel jelas Pencampuran, pengenceran atau pemindahan bahan terutama bahan korosif, oksidator dan beracun sebaiknya dilakukan pada lokasi yang memiliki ventilasi lokal atau dilakuakn dalam lemari asam Untuk kegiatan pencampuran atau pemindahan bahan mudah terbakar harus jauh dari sumber penyalaan atau panas Bila bahan tidak digunakan pastikan wadah dalam keadaan tertutup untuk mencegah terlepasnya uap bahan yang berbahaya Pekerja harus memperhatikan kebersihan setelah bekerja dengan bahan-bahan kimia terutama bahan beracun Bila bahan tumpah maka pergunakan fasilitas penanganan tumpahan/spill kit yang tersedia

1. Gambaran Umum

3 Votes Proses pengolahan kelapa sawit dilakukan di pabrik kelapa sawit yang terdiri dari stasiun-stasiun dan unit-unit operasi sebagai berikut : Stasiun pengolahan

Stasiun penerimaan buah : jembatan timbang, loading ramp Stasiun perebusan : sterilizer Stasiun pemipilan : tippler, hoisting crane, thresher Stasiun pengempaan : digester, screw press

Stasiun pemurnian minyak : vibrating screen, clarifier tank, pure oil tank, sludge tank, vacuum drier, oil purifier, sand cyclone, brush strainer, vibrating sludge, sludge separator, sludge decanter, sludge centrifuge, storage tank Stasiun kernel : cake breaker conveyor, depericarper, destoner, nut silo, ripple mill, shell winnowing, claybath, kernel silo, kernel drier, kernel bulking

Stasiun pendukung

Stasiun pengolahan air : water clarifier, sand filter, kation, anion, softener, water tank, feed water pump, deaertor Stasiun pembangkit steam : boiler Stasium pembangkit tenaga : turbin uap, diesel genset Stasiun pengolahan limbah : effluent pond, land aplication, composting Workshop

Administrasi dan laboratorium


Mill administrtion : FFB receive report, FFB grading report, daily production report, production stock take Laboratory administration : CPO and kernel report, oil and kernel losses, CPO and kernel despatch, boiler water analysis, effluet analysis Office administration : absence, leave, sickness, rice, jamsostek, basic salary, overtime, bonus, KKB

Pengolahan kelapa sawit dilakukan secara kontinu mulai dari stasiun penerimaan buah sampai menjadi produk. Setiap tahapan operasional di masing-masing stasiun didukung oleh stasiun pendukung dan selalu dikontrol dengan proses administrasi dan laboratorium.

2. Tandan Buah Segar

1 Vote Buah Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq) semula berasal dari Afrika yang tumbuh secara liar/alam. Varitas yang dikembangkan biakkan kemudian yang tumbuh sekarang ini di perkebunanperkebunan tropis di Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika. Buah kelapa sawit berbentuk seperti telor yang berbeda panjangnya antara 2 cm s/d 5 cm dan beberapa beratnya antara 3 gram s/d 30 gram. Masing-masing buah secara normal terdiri dari satu inti tunggal (kernel) yang dikelilingi oleh pericarp. Pericarp itu terdiri tiga lapisan yakni endocarp keras, mesocarp yang berbentuk serabut yang mengandung minyak dan kulit luar yang tipis dan kilat yang dinamakan exocarp. Pohon kelapa sawit senantiasa menghasilkan tandan buah yang mengandung salah satu dari tigas jenis buah yang berbeda yang dengan mudah dapat dikenal dari bentuknya yang berbeda. Bentuk ini dikenal masing-masing sebagai dura, tenera dan pisifera. Biji dari buah bentuk dura memiliki kulit/ cangkang yang relatif tebal (antara 2 s/d 8 mm). Persentase mesocarp-nya terhadap buah umumnya rendah hingga 33 s/d 55%. Biji dari buah berbentuk tenera umumnya memiliki cangkang yang tipis dari dura. Ketebalan cangkang berkisar 0.5 s/d 4 mm. Persentase mesocarp terhadap buah umumnya sedang hingga tinggi (60 s/d 96%). Buah berbentuk pisifera tidak memiliki inti (kernel) atau cangkang. Buah ini sepenuhnya dari material mesocarp berdaging yang mengandung minyak. Buah individu pada setiap tandan (apapun jenisnya) tidak ada yang persis sama bentuknya. Buah bagian dalam adalah lebih rata, lebih kecil dan kurang pigment-nya jika dibandingkan dengan buah bagian luar. Biasanya terdapat sebagian buah parthenocarpic yakni buah yang tumbuh seperti kurang dipupuk. Buah ini biasanya selain rendemen minyak kurang, tidak mengandung endosperm dan embrio dan bagian pusat dari buah biasanya padu. Berat dari suatu tandan buah yang matang berbeda satu sama lainnya dan tergantung pada usia dan jenis sawit serta kondisi pertumbuhannya. Buah muda yang berusia 2 s/d 3 tahun ada yang beratnya hanya 5 kg pertandan, sedangkan buah dewasa malah ada yang mencapai seberat 80 kg per tandan, namun rata-rata dibawah 40 kg pertandan. Proses Kematangan Buah Buah membutuhkan waktu sekitar 20-21 minggu hingga masak. Prosesnya dapat dibagi menjadi tiga bagian, dimulai dari bunga mengalami penyerbukan. Normalnya pada minggu ke 13 atau 14, inti/kernel telah terbentuk sempurna. Cangkang berwarna gelap. Pembentukan sel minyak terjadi setelah minggu ke-15 atau ke-16 dn kandungan minyak maksimum terjadi pada minggu ke-20 atau ke-21 tergatung kondisi cuacanya. Pembentukan buah dekat hubungannya dengan perubahan warna. Buah yang sangat muda mempunyai mesocarp berwarna keputihan, yang akan menjadi kehijauan karena kandungan klorofil (zat hijau daun) yang tinggi. Sepanjang proses ini carotene juga mengalami pembentukan. Kandungan carotene membuat mesocarp berwarna oranye menjadi kemerahan.

Kulit terluar buah (exocarp) turut mengalami periode perubahan warna. Buah muda normalnya berwarna ungu kehitaman, dalam beberapa peristiwa berwarna hijau muda keputihan dan buah masih dikelilingi kelopak. Umumnya seluruh buah berada dalam satu tandan yang juga berwarna putih kehijauan. Sesuai dengan kematangan buah, perubahan warna dari ungu kehitaman ke merah oranye gelap hingga seluruhnya berwarna merah oranye terang. Zat kimiawi yang berperan dalam perubahan warna kulit ini adalah anthocyanin Formasi minyak dimulai dari lapisan sekitar inti hingga menuju lapisan atas buah. Dalam buah yang masak daging buah seluruhnya mengandung minyak. Standard Kematangan Buah Sawit Buah sawit yang telah dipanen oleh pihak Estate dikirim ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan menggunakan truk. Buah sawit yang sampai di PKS akan disortasi dengan kriteria kematangan buah. Adapun contoh kriteria kematangan yaitu:
1. Buah immature : Buah immature digolongkan sebagai buah yang masih hitam dan keras.

2. 3. 4. 5. 6.

7. 8.

Buah immature ditandai dengan tidak adanya berondolan yang lepas dan mengandung sangat sedikit minyak. Buah ini disebut buah immature. Buah mentah (unripe bunch) : Buah mentah adalah kurang dari 10 berondolan yang lepas. Buah mengkal (underripe bunch) : Buah mengkal dengan kurang dari 25 berondolan yang lepas. Buah masak (normal ripe) :Buah masak dengan lebih dari 25 berondolan yang lepas dari janjangan. Buah lewat masak (over ripe) : Buah yang lewat masak dengan berondolan lepas lebih dari 50% tetapi masih tertinggal 10%. Buah busuk (rotten bunch) : Buah busuk dengan sebagian janjangan atau seluruhnya telah lembek/ menghitam warnanya, busuk dan atau berjamur. Buah lewat masak dan buah busuk (termasuk juga berondolan) mempengaruhi kualitas minyak dan kehilangan minyak dalam proses. Kadar ALB minyak akan naik dan nilai Bleachability minyak akan turun karena buah lewat masak dan buah busuk berisi berondolan memar dan teroksidasi. Janjangan kosong (empty bunch) : Janjangan kosong dengan lebih dari 90% berondolan yang lepas. Tangkai janjangan (long stalk) : Tangkai janjangan yang panjangnya lebih dari 2.5 cm adalah Janjangan Panjang. Tangkai janjangan tidak mengandung minyak. Tangkai ini hanya menambah berat pada waktu penimbangan buah sawit tetapi menyerap minyak pada saat proses sterilisasi dan threshing. Tangkai ini sangat tidak diharapkan dan panjang dari tangkai harus sependek mungkin. Suatu praktek yang baik adalah dengan memotong tangkai dan membuat bentuk V pada ujung bawah tangkai.

3. Penerimaan Buah

3 Votes Stasiun penerimaan buah (reception station) merupakan stasiun pertama dalam proses pengolahan kelapa sawit. Unit operasi yang digunakan di stasiun ini adalah jembatan timbang dan loading ramp. Jembatan Timbang Jembatan timbang (weighbridge) adalah alat ukur timbangan berupa jembatan untuk kendaraan. Jembatan timbang terdiri dari beberapa bagian utama yaitu platform untuk menerima beban secara langsung, indikator untuk membaca berat yang diterima oleh bagian platform, dan unit komputer untuk memproses pembacaan indikator. Di PKS jembatan timbang digunakan untuk tujuan sebagai berikut :

Menimbang tandan buah segar yang masuk Menimbang CPO atau PK yang keluar Menimbang janjangan kosong yang keluar, dll

Proses penimbangan dilakukan dua kali, yaitu penimbangan brutto (truk beserta muatannya) dan penimbangan tarra (truk kosong) sehingga berat bersih muatan diperoleh dengan mengurangkan brutto dengan tarra. Loading Ramp dan Proses Sortasi Setelah penimbangan brutto, tandah buah segar yang masuk ke PKS dibawa ke loading ramp untuk disortir menurut kriteria sortasi buah. Dalam hal ini, untuk menghemat waktu proses sortasi tidak dilakukan untuk keseluruhan buah yang masuk ke pabrik, tetapi dilakukan pengambilan sampel secara acak sebanyak 100 janjang, dan dilakukan proses sortasi. Adapun kriteria sortasi yang menjadi acuan adalah :

Immature > tidak ada berondolan yang lepas dari tandar > target 0% Unripe > berondolan yang lepas <10 per tandan > target 0% Under ripe > berondolan yang lepas 10 24 per tandan > target 20% Normal ripe > berondolan yang lepas >25 per tandan > target 75% Over ripe > berondolan yang lepas lebih dari 50% > target 2% Empty bunch > berondolan lepas lebih dari 90% > target 0% Buah busuk > target 1% Buah abnormal > target 1%

Buah dengan tangkai panjang > target 1% Berondolan yang lepas 12% 14%

Proses sortasi yang terbuka harus disaksikan oleh pihak penghasil buah (estates) dan staff pabrik. Hal ini penting karena tingkat ekstraksi minyak (OER) terutama dipengaruhi oleh kualitas bahan bakunya. TBS dalam keadaan normal ripe dapat mencapai OER yang tinggi, sedangkan buah immature memiliki kadar minyak yang sangat rendah. Seperti aturan no. 1, bahwa minyak pada prinsipnya diproduksi di lapangan, bukan di pabrik. Oleh karena itu sangat diharapkan pihak penghasil TBS mengirimkan TBS dengan kualitas yang baik agar diperoleh OER yang maksimum. Selain itu, buah yang masuk ke pabrik diharapkan buah segar (namanya juga tandan buah segar), bukan buah bermalam. Hal ini berkaitan dengan kualitas buah, yaitu asam lemak bebas. Asam lemak bebas akan mulai mengalami peningkatan setelah buah terpisah dari batangnya, dan akan terus naik sebelum proses sterilisasi dilakukan. Jadi diharapkan, TBS yang telah dipanen harus segera dikirim ke pabrik untuk disterilkan. Selanjutnya setelah proses sortasi selesai dilaksanakan (termasuk recording dan pelaporannya), buah kemudian dicurahkan ke loading ramp hopper untuk penimbunan sementara menunggu proses selanjutnya, yaitu sterilisasi.

4. Sterilisasi

3 Votes TBS yang tertimbun di loading ramp kemudian dicurahkan ke dalam lorry. Dengan mekanisme bollard, capstand, dan transfer carry, lorry dapat dipindah-pindah dari satu jalur rail track ke jalur lainnya. Lorry merupakan wadah untuk TBS agar mudah dipindah-pindahkan. Lorry yang telah bermuatan TBS kemudian ditransfer ke dalam sterilizer untuk proses sterilisasi buah. Proses sterilisasi merupakan peroses penting dalam operasioal PKS. Proses ini merupakan kunci yang menentukan keberhasilan proses selanjutnya. Bahkan, proses ini sering dijadikan kambing hitam (disamping kambing hitam yang lain), kenapa OER turun (padahal kita sudah sepakat kalau pabrik bukan pernghasil minyak!). Lalu, apa arti penting proses sterilisasi? Ini dia :

Melunakkan berondolan agar mudah lepas dari janjangan (menentukan keberhasilan proses pemipilan) Mengeluarkan air dari berondolan untuk mempermudah proses ekstraksi (menentukan keberhasilan proses pengadukan dan pengempaan) Melunakkan mesocarp agar lebih mudah diaduk (menentukan keberhasilan proses pengadukan) Mengurangi air dari biji untuk mempermudah lepasnya kernel dan cangkang (menentukan keberhasilan proses pengutipan kernel) Mengehentikan kenaikan asam lemak bebas (menutupi kesalahan penyedia buah)

Untuk melakukan semua tujuan itu, diperlukan panas yang cukup. Sebenarnya aktivitas enzim yang menaikkan kadar ALB akan berhenti pada temperatur sekitan 60 deg C, tapi untuk tujuan yang lain diperlukan panas yang lebih tinggi. Untuk proses sterilisasi ini energi panas diambil dari steam buangan turbin uap yang ditampung dalam BPV. Steam dialirkan melalui pipa ke dalam tabung sterilizer yang telah berisi lorry-lorry bermuatan TBS. Dan setelah pintu sterilizer ditutup, proses sterilisasipun mulai berlangsung, dengan tahapan sebagai berikut.

Deaerasi. Proses ini bertujuan untuk membuang udara yang terperangkap di dalam tabung sterilizer. Udara merupakan penghantar panas yang buruk, sehingga akan menghambat laju perpindahan panas ke buah. Dalam proses deaerasi steam masuk dari inlet valve, exhaust valve tertutup, dan condensate valve terbuka sebagai laluan udara keluar. Waktu yang diperlukan untuk deaerasi berkisar 5 menit. Puncak pertama. Setelah deaerasi, exhaust valve dan condensate valve ditutup dan steam terus diinjeksikan melalui inlet valve. Proses injeksi steam ini berlangsung sekitar 17 menit dan tekanan dalam tabung akan naik sampai 2,5 bar. Ini merupakan proses pemanasan awal. Setelah itu, tekanan kemudian diturunkan tiba-tiba dengan membuka exhaust valve dan condensate valve, sementara inlet valve tertutup. Steam yang berubah menjadi kondensat dan air yang terkadung dalam buah akan keluar dengan perlakuan ini. Puncak kedua. Tahapan ini sama dengan tahapan sebelumnya, tetapi tekanan dalam tabung perlu dinaikkan sampai 2,8 bar dengan waktu yang disesuaikan. Pada akhir puncak kedua ini juga tekanan diturunkan tiba-tiba (efek kejut akan mempermudah lepasnya kernel dari cangkanggnya) Puncak ketiga. Puncak ke tiga adalah proses sterilisasi. Pada proses ini tekanan dalam tabung mencapai 3 bar dan tekanan itu perlu ditahan sekitar 70 menit. Temperatur dalam tabung dapat mencapai 140 deg C. Steam sebagian akan berubah menjadi kondensat dan perlu dibuang melalui condensate valve di sela-sela puncak ke tiga ini. Air yang terkandung dalam buah juga akan dipaksa keluar dan juga perlu di buang melalui valve yang sama. Setelah waktunya tercapai, inlet valve ditutup sementara exhaust dan condensate valve dibuka, tekanan diturunkan lagi sampai 0 bar. Dengan demikian proses sterilisasi selesai. Buah yang keluar dari sterilizer dikatakan buah steril dan siap untuk diperoses di tahapan selanjutnya.

Proses sterilisasi yang demikian dikenal dengan istilah tripple peak operation. Banyak engineerengineer di PKS menerapkan hal lain misalnya double peak, 4 peak, bahkan 5 peak, tergantung pemahaman dan penilaiannya terhadap kondisi buah. Ini bukanlah standar, hanya sekedar acuan.

Dalam perkembangan selanjutnya, sterilizer konvensional (dalam bentuk vessel) banyak mengalami modifikasi seperti buka tutup pintu menggunakan hidrolik, tabung vertikal, dll. Bahkan belakangan dirilis continous sterilizer yang tidak memerlukan operasional seperti sterilizer konvensional.

5. Pemipilan

1 Vote Buah yang telah disterilkan selanjutnya dibawa ke stasiun penebah dengan mekanisme transportasi capstand, bollard, dan transfer carry yang bertujuan untuk memisahkan berondolan dari janjangannya. Pemisahan ini terjadi pada drum penebah (thresher) dengan cara membantingbanting buah steril itu dalam drumnya. Thresher ini berupa drum silinder panjang yang berputar secara horizontal dengan kecepatan putar berkisar 23 rpm. Drum dirancang dengan kisi-kisi yang berfungsi untuk meloloskan berondolan yang jatuh ke bawah, ditampung di dalam konveyor untuk dibawa ke stasiun berikutnya. Sementara janjangan kosongnya akan terus dibawa ke bagian ujung drum dan keluar, ditampung di konveyor yang lain dan dibawa ke stasiun pengolahan janjangan. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam stasiun ini adalah mekanisme feeding material ke dalam threser drum. PKS-PKS lama masing banyak yang menggunakan hoisting crane untuk memasukkan buah steril dalam lorry ke thresher. Sedangkan PKS yang dibangun belakangan umumnya sudah menggunakan tippler sebagai pengatur laju masuknya buah steril ke thresher, terutama karena masalah safety. Tetapi apapun peralatan yang digunakan, tujuannya tetap sama, yaitu menginput material ke dalam thresher. Feeding material kedalam thresher ini harus diatur sedemikian rupa agar kontinu, karena kontinuitas feeding berpengaruh langsung terhadap kualitas penebahan. Feeding yang berlebihan menyebabkan proses pemipilan tidak sempurna, ditandai dengan banyaknya berondolan yang masih tertinggal di janjangan. Sedangkan feeding yang kurang otomatis mengurangi kapasitas pabrik. Proses sterilisasi juga akan mempengaruhi kualitas penebahan. Buah yang direbus dengan baik akan mudah dipipil berondolannya, sementra yang kurang baik tentunya lebih sulit. Hal ini akan terlihat di stasiun pemipilan ini. Sementara itu janjangan kosong juga dilakukan perlakuan sedemikian sehingga tidak terbuang percuma. Metode lama, janjangan kosong ditampung di dalam hopper, kemudian dibawa untuk dipalikasika ke lahan sebagai pupuk organik tambahan. Belakangan janjangan kosong ini diolah dengan cara dipress untuk diambil minyak yang tersisa di dalamnya, sementara ampasnya dapat

digunakan sebagai bahan bakar tambahan di boiler, atau di jadikan dengan pupuk kompos sebelum diaplikasikan sebagai pupuk tambahan di lapangan. Proses administrasi dan laboratorium juga diterapkan di stasiun ini sebagai kontrol dan penilaian baik tidaknya kinerja stasiun ini

6. Pressing

1 Vote Loose fruit dari hasil pemipilan di thresher selanjutnya dibawa melalui conveyor ke stasiun selanjutnya yaitu pressing station yang terdiri dari unit pengadukan (digester) dan pengempaan (screw press). Tujuan dan stasiun ini adalah :

Melumatkan berondolan dalam digester sebelum masuk ke mesin press Mengepres berondolan dalam mesin screw press untuk mendapatkan minyak yang maksimum dan sedikit biji yang pecah pada press cake Melarutkan dan menyaring minyakmentah pada vibrating sreen dan oil gutter Menghancurkan press cake agar fibre dan nut terpisah dengan mudah.

Untuk mencapai kinerja yang maksimum, perlakuan yang dilakukan pada unit digester adalah :

Menjaga temperatur 95 100 deg C dengan menggunakan steam injeksi ke dalam tabung digester Retention time dalam tabung berkisar 10 15 menit Menjaga agar MPD (mash passing digester) selalu penuh dalam tabung Mengeluarkan minyak yang sudah keluar dari hasil pengadukan Memastikan pisau pengaduk digester dan pisau di dinding tabung dalam kondisi baik.

Sementara perlakuan pada unit screw press :


Menjaga oil losses pada fibre press pada batas-batas yang diizinkan Menjaga biji yang pecah pada batas-batas yang diizinkan Mengatur tekanan dalam mesin press sesuai dengan kondisi MPD.

7. Pemurnian Minyak

3 Votes Stasiun pemurnian minyak atau clarification station berfungsi untuk memisahkan bahagian dari suatu cairan dengan cara pengendapan atau dengan putaran sehingga terjadi pemisahan bagian yang ringan ke atas (CPO) dan bagian yang berat akan berada di bawah (sludge). Prinsip pemisahan ada dua, yaitu berdasarkan perbedaan spesifik grafitasi dan karena dalam fase cair, pemisahan lebih mudah dengan penambahan panas. Unit-unit operasi dalam proses pemurnian minyak ini cukup beragam. Pembahasannya. Dillution Water Dillution water adalah penambahan air pada crude oil dalam oil gutter yang berfungsi untuk mempermudah pemisahan minyak dan kotoran. Air yang dipakai untuk dillution water adalah air condensate sterilizer. Bila masih kurang maka ditambahkan dengan air panas. Jumlah dillution water yang ditambahkan adalah menurut pehitungan berikut. Dilluted Crude Oil = Dillution Water + Crude Oil %DCO = %DW + %CO = A% to FFB Dillution water tergantung dari kondisi FFB yang diolah dan losses minyak, umumnya 20% 25%. Sedangkan dillution factor umumnya diambil 30% 35%. DF = DW/(DW + CO) Jika crude oil per FFB adalah 42% (dari neraca bahan), dan dillution factor diambil 30%, maka jumlah dillution water yang ditambahkan pada crude oil adalah 18%. Besarnya dillution factor ini tergantung dari hasil percobaan di laboratorium, pada persentase yang mana terjadi pemisahan paling sempurna di dalam alat uji centrifugal. Sand Trap Tank

Fungsinya untuk menangkap pasir yang terikut dari hasil pengepresan, sehingga memperlambat terjasinya keausan pada peralatan dan mengurangi terjadinya penyumbatan pada lubang vibrating screen dan nozel centrifuge (unit operasi berikutnya). Pengoperasiannya, setiap akhir shift harus melakukan pembersihan tangki dengan cara mendrain bagian bawah tangki sehingga pasir dan kotoran lain keluar. Vibrating Screen Fungsinya untuk menyaring fibre halus, pecahan shell, dll yang terikut bersama DCO. DCO akan mengalir pada bagian tengah vibrating dan akan turun ke saringan berikutnya. Sedangkan kotoran dan yang lainnya kembali ke digester melalui waste conveyor dan fruit elevator. Gerakan getar vibrating screen diperoleh dari putaran electromotor yang mana pada electromotor tersebut diberi beban eksentrik. Screen yang digunakan adalah mesh 20 dan mesh 40. DCO Tank Fungsinya sebagai pengumpul dan pemanas awal sebelum DCO dipompakan ke clarifier tank. Untuk menghasilkan pemisahan yang baik, temperatur di DCO tank dijaga 90 95 deg C. Pemanasan pada DCOT diperoleh dari steam injeksi dengan tekanan 3 bar. Pada saat pemompaan, level DCO dalam DCOT juga harus tetap terjaga yang mana umumnya dipasangkan level switch otomatis. Umumnya DCOT terdiri dari 3 sekat. Sekat pertama untuk pengendapan kotoran, sekat kedua dan ketiga untuk menampung overflow dari sekat sebelumnya, sebelum akhirnya dipompakan ke clarifier tank. Clarifier Tank Pada clarifier tank terjadi pemisahan minyak dan kotoran berdasarkan perbedaan spesifik grafitasi. Minyak akan naik ke atas sedangkan sludge akan turun ke bagian bawah. Untuk mendapatkan pemisahan yang baik temperatur tangki dijaga 90 95 deg C serta penambahan dilution water yang tepat karena berpengaruh terhadap lamanya pengendapan dalam tangki. Pada CT terdapat pipa steam dan stirrer. Pipa steam terdiri atas steam injeksi dipergunakan pada awal proses untuk pemanasan awal dan steam coil dipergunakan pada saat proses berlangsung. Untuk membentuk lapisan minyak pada bagian atas CT diperlukan waktu yang disebut retention time. Lama retention time tergantung kapasitas tangki dan kapasitas pengolahan. Retention Time = Kapasitas tangki/laju aliran DCO masuk. Jika kapasitas tangki 80 ton dan DCO masuk 16 ton/jam, maka RT dalam tangki adalah 5 jam. Lama RT yang baik berkisar 5 8 jam. Minyak yang ada pada lapisan atas akan dikeluarkan melalui skimmer oil menuju clean oil tank sedangkan sludge menuju ke sludge tank dari underflow CT. Ketebalan minyak dijaga 20 30 cm. Kurang dari itu dikhawatirkan emulsi dan sludge akan terikut ke COT dan jika terlalu tebal kemungkinan minyak banyak terikut ke underflow dan retention time semakin berkurang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam unit operasi ini antara lain temperatur cairan, putara stirrer, kebocoran pipa steam, ketebalan minyak, dan kandungan minyak dalam underflow. Clean Oil Tank

Setelah pemisahan di clarifier tank minyak akan menuju COT secara grafitasi. Pada COT juga dilakukan pemanasan dengan steam coil untuk pemanasan dan pemisahan air dan kotoran. Bagian bawah tangki adalah bagian yang berat yaitu air dan kotoran, didrain menuju oil recovery tank. Bagian atas akan menuju ke oil purifier untuk mengurangi kada kotoran dan ke vacuum drier untuk mengurangi kadar air. Temperatur pada COT dijaga 80 90 deg C. Hal yang perlu diperhatikan antara lain kebocoran pipa steam, steam trap, kondisi tangki, dan drain rutin. Oil Purifier Oil purifier berfungsi untuk mengurangi kadar kotoran dalam minyak. Pemisahan dilakukan dengan mesin purifier yang bekerja menurut prinsip centrifugal. Kotoran akan berputar menjauhi poros dan keluar melalui saluran yang ada sedangkan minyak bergerak menuju poros dan naik kemudian keluar melalui center bowl ke float tank. Float Tank Float tank berfungsi untuk mengatur agar feeding minyak yang masuk ke vacuum drier konstan. Pelampung yang digunakan pada float tank harus dalam kondisi baikan tidak bocor. Vacuum Drier Unit ini berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam minyak. Dari purifier minyak dipompakan ke vacuum drier melalui pengaturan feeding oleh float tank. Dari float tank, minyak terhisap ke VD karena adanya tekanan vakum di tabung. Tekanan vakum diperoleh dari isapan pompa atau steam injector. Minyak masuk ke dalam tabung melalui nozel-nozel dan dikabutkan sehingga mempermudah penghisapan kadar air. Air akan terhisap ke pompa vakum, sedangkan minyak akan turun ke bawah untuk dihisap oleh pompa oil extraction pump, selanjutnya dipompakan ke storage tank. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tekanan vakum, kebocoran pada pipa dan tangki, nozel tidak tersumbat, air pompa vakum, dll. Oil Storage Tank Tangki ini merupakan tempat penyimpanan minyak hasil produksi sebelum dilakukan penjualan. Minyak tetap dipanasi menggunakan steam coil untuk menjaga temperatur 50-55 deg C yang berfungsi untuk mencegah naiknya FFA dan pembekuan CPO. Standar kualitas : FFA < 3% (proses sterilisasi), kadar air < 0,3% (proses vaccum drier), dan kadar kotoran < 0,03% (proses purifikasi). Vibrating Sludge Unit ini berfungsi menyaring sludge yang keluar dari clarifier tank melalui under flow, sehingga sludge yang akan diolah bebas dari kotoran seperti fibre halus, dll. Alat ini sama dengan vibrating screen DCO, hanya saja vibrating sludge hanya terdiri dari satu tingkat yang menggunakan screen 40 mesh. Ada sebagian pabrik yang tidak menggunakan vibrating sludge, tetapi menggunakan brush strainer. Fungsinya sama, hanya penempatannya berbeda. Kebersihan screen harus selalu diperhatikan.

Sludge Tank Sludge dari underflow clarifier tank masuk ke sludge tank setelah diayak di vibrating sludge. Pada ST, temperatur tetap dijaga 90 95 deg C dengan steam injeksi. Sand Cyclone Sludge dari sludge tank dipompakan ke sludge balance tank melalui sand cyclone. Sludge yang dipompakan oleh pompa sludge (precleaner pump) masuk ke dalam sand cyclone. Pada sand cyclone terjadi pembesaran diameter sehingga daya dorong sludge berkurang, sehingga sludge yang lebih ringan akan naik ke atas ke balance tank, dan pasir terpisah turun ke bawah dan dikeluarkan secara otomatis melalui timer priodik. Kontrol otomatik ini menggunakan sistem pneumatik. Balance Tank Balance tank berfungsi untuk tempat pengumpulan sludge dari sand cyclone sebelum diumpan ke sludge centrifuge. Dalam pengoperasiannya balance tank diharapkan selalu penuh sehingga feeding ke centrifuge tetap kontinu untuk menghidari losses minyak yang tinggi. Pada balance tank dilakukan pemanasan dengan steam injeksi. Sludge Centrifuge Sludge centrifuge berfungsi mengutip minyak yang masih terkandung dalam sludge. Pemisahan ini dilakukan dengan gaya sentrifugal. Sludge masuk melalui shaft berlubang ke dalam bowl yang berputar. akibat gaya sentrifugal, sludge terpisah berdasarkan berat jenisnya. Bagian yang ringan yang mengandung minyak akan mendekati pipa recycle dan dialirkan ke oil recovery tank, sedangkan bagian yang berat terlempar ke pinggir bowl dan keluar melalui nozel-nozel di pinggir bowl, ke sludge pit. Sludge Pit Sludge pit berfungsi sebagai penampungan sludge waste sebelum dipompakan ke instalasi pengolahan limbah cair. Apabila masih ada minyak yang terikut dilakukan pengutipan menggunakan skimmer yang dipasang di permukaan bak dan dipompakan ke oil recivery tank, selanjutnya dipompakan kembali ke DCO tank. Sludge waste di sludge pit diharapkan sudah bersih dari kandungan minyak, maksimal 1% terhadap FFB yang digiling.

8. Pegolahan Biji dan Inti

1 Vote Pada stasiun ini dilakukan pengolahan terhadap cake dari hasil pengempaan, yaitu pemisahan serabut dari biji, pemecahan biji, pemisahan cangkan dan inti, serta pengolahan inti, yaitu pengurangan kadar air dan kada kotoran dalam inti (kernel). Standar kualitas pada kernel produksi adalah kadar kotoran < 7% dan kadar air < 7%. Sementara kehilangan inti pada unit-unit operasinya adalah fibre cyclone < 1% per sample, shell winnower < 1% per sample, dan shell claybath < 1% persample. Total losses yang diizinkan adalah <0,25% per FFB. Cake Breaker Conveyor Cake dari screw press ditampung dan diuraikan dalam CBC yang terdiri dari screw conveyor berpedal. Fungsi CBC ini adalah memisahkan nut dan fibre yang masih menggumpal (cake), mengeringkan fibre untuk mudah dihisap di fibre cyclone, dan sebagai transport untuk menghantar biji ke depericarper dan fibre ke fibre cyclone. Pada ujung CBC terdapat scre conveyor tertutup yang berfungsi untuk menghambat udara terhisap melalui CBC, diharapkan terhisap melalui deperticarper. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain pembersihan dan pemeriksaan berkala, pemeriksaan baut-baut sambungan dan bushing shaft, serta pengosongan pada saat akhir milling. Depericarper Pemisahan antara biji dan fibre dilakukan dengan menggunakan udara dengan perbedaan dynamic pressure. Fibre cyclone fan akan menarik udara melalui sudu-sudunya. Udara tersebut mengalir melalui ducting, untuk menghisap fibre yang lebih ringan dari biji. Kecepatan udara tergantung dari kapasitas fan tersebut serta pengaturan separating coulumn deperticarper dan damper fan. Fibre akan terangkat karena lebih ringan sementara biji (nut) jatuh karena lebih berat. Fibre selanjutnya terhisap ke fibre cyclone dan jatuh ke fuel conveyor melalui airlock, sebagai bahan bakar di boiler. Hal yang perlu diperhatikan antara lain kebersihan ducting fibre cyclone, kebersihan sudu-sudu fan, kebocoran ducting, kekencangan belting dan pelumasan bearing. Nut Polishing Drum Unit ini berfungsi untuk menghilangkan fibre yang masih meekat pada nut agar pemecahan nut dapat berlangsung sempurna. Nut polishing drum adalah sebuah drum berputar yang terdiri dari screw conveyor, angle iron, dan lubang-lubang pada dinding bagian ujung. Lubang ini berfungsi untuk mengeluarkan broken kernel dan nut. Nut akan diteruskan ke inclined nut conveyor, sementara broken kernel ditampung dan dinaikkan ke claybath atau cracked mixture conveyor. Diharapkan broken kernel tidak terikut bersama nut untuk menghindari terbuangnya broken kernel akibat isapan destoner fan. Destoner

Nut dibawa ke desoner melalui nut conveyor. Destoner ini berfungsi untuk memisahkan material ringan (fibre dan dust) ke fuel coneyor, material sedang (nut, broken kernel, half nut) ke hut hopper, dan material berat (batu dan besi) ke bawah. Hal ini dimungkinkan dengan adanya perbedaan kecepatan aliran udara pada ducting akibat perbedaan diameter. Hal yang perlu diperhatikan adalah kekencangan belting fan, pelumasan bearing, kebersihan baut sambungan, setelan damper udara pada fan dan ducting. Nut Grading Drum Nut grading drum berfungsi untuk mensortir nut yang berukuran kecil dan besar agar diperoleh efek pemecahan yang baik. Nut yang kecil masuk ke hopper 1 dan yang besar ke hopper 2. Besarnya lubang oval pada drum berputar ini berkisar <15 mm untuk laluan nut kecil dan >15 mm untuk laluan nut besar. Nut Hopper Nut hopper adalah penampungan nut sebelum dipecah di ripple mill, dimana nut hopper terdiri dari dua buah hopper yang berisi nut dengan ukuran berbeda. Tujuan pemisahan berdasarkan ukuran ini adalah untuk mendapatkan efesiensi pemecahan yang baik agar tidak banyak broken kernel, whole nut, dan half nut dari ripple mill. Hopper ini juga diperlukan untuk mengatur jumlah nut yang akan dipecah di ripple mill. Vibrator Nut Hopper Unit ini berfungsi mengatur feeding nut ke dalam ripple mill. Apabila getaran vibrator dinaikkan maka feeding akan semakin banyak, demikian sebaliknya. Geratan harus disesuaikan untuk mendapatkan efisinesi pemecahan yang optimum. Peralatan ini terletak tepat di bawah nut hopper. Selain vibrator, beberapa pabrik menggunakan screw conveyor kecil yang tujuan sama yaitu mengatur feeding ke dalam riple mill. Ripple Mill Ripple mill adalah alat pemecah nut sehingga kernel terppisah dari cangkangnya. Ripple mill terdiri dari rotor bar dan stator. Nut akan masuk ke ripple mill di atara rotor dan stator, karena putaran, maka nut akan pecah. Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Jarak antara stator dan rotor. Apabila jarak tidak diatur maka nut yang masuk akan tidak terpecahkan karena nut yang berukuran kecil akan memasuki ruang besar pada ripple mill dan sebaliknya nut besar memasuki ruang yang kecil sehingga banyak terjadi broken kernel dan terhisap di winnower. Kecepatan rotor. Kecepatan putaran berpengaruh terhadap hasil pemecahan nut. Semakin tinggi putaran, semakin tinggi kapasitas, tetapi semakin tinggi pul broken kernel. Kondisi awal nut. Kondisi ukuran dari nut, kadar kekeringan nut kebersihan dari fibre yang mengikut nut. Kondisi sterilizer, dimana sterilisasi yang tidak baik mengakibatka kernel tidaklekang dari nutnya.

Shell Winnower Hasil pemecahan ripple mill disebut cracked mixture, dibawa ke bagian pemisahan oleh cracked mixture conveyor. Unit pemisahan ini disebut shell winnower yang berfungsi memisahkan material berat (kernel dan whole nut), material sedang (broken kernel dan half nut), serta material ringan (shell). Bagian yang ringan terangkat ke atas dan dibawa ke winnower cyclone dan masuk ke fuel conveyor. Material ringan menuju kernel drier untuk dikeringkan. Material sedang selanjutnya dibawa ke winnower tingkat kedua. Disini prinsip kerjanya serupa dengan tingkat pertama. Jika ukuran shell dan kernel sudah sedemikian rupa sehingga sulit dipisahkan dengan metode pemisahan udara, maka akan dipisahkan dengan metode perbedaan massa jenis di dalam unit claybath. Claybath Claybath memisahkan broken kernel dan shell dengan menggunkan larutan clay. Larutan ini akan memisahkan broken kernel dan shell, dimana broken kernel akan terapung sebab berat jenisnya lebih kecil dari shell. Sementara shell yang berat akan tenggelam di bawahnya. Broken kernel di permukaan larutan akan dioverflow ke vibrating kernel, sementara bagian underflownya berisi shell dialirkan ke vibrating shell. Untuk membersihkannya dari larutan clay yang menempel, bagian atas vibrating dipasang pipa penyiram. Shell masuk ke ducting shell trasport dan dihembus oleh shell transport fan ke fuel conveyor. Sementara broken kernel masuk ke common point dan bersatu dengan kernel dari shell winnower dan dibawa ke kernel drier oleh kernel winnoer fan atau kernel elevator. Kernel Drier Kernel drier berfungsi mengurangi kadar air pada kernel dan menghambat pertumbuhan jamur. Udara dimasukkan ke dalam kernel drier setelah melalui air heater. Udara tersebut akan masuk ke celah-celah kernel melalui kisi-kisi lantai. Hal yang menjadi perhatian antara lain pengisian kernel ke dalam drier, kebersihan heater, tekanan steam, dll. Kernel Bulking Kernel bulking merupakan tempat penyimpanan kernel sementara sebelum dijual. Setelah dkeringkan di kernel drier, kernel dibawa ke kernel bulking melalui transport fan.

9. Kontrol Asisten

Rate This Penerimaan Buah


Memeriksa kematangan FFB Perlakuan sortasi secara terbuka dan fair Menentukan kriteria yang sama dalam perlakuan sortasi Memberi informasi program sortasi FFB kepada pihak penyedia buah Melaporkan hasil sortasi kepada Kepala Pabrik Memberi laporan sortasi kepada Estates secara terbuka dan transparan Merecord secara up to date hasil sortasi, untuk laporan harian, mingguan, bulanan,dan tahunan.

Sterilisasi

Memantau pegisian FFB ke dalam lorry Menyeleksi FFB yang diisi ke lorry guna mendapat CPO dengan FFA yang sesuai Memantau steaming time dan cycle time selama proses, memastikan target kapasitas dan oil serta kernel losses akibat USB di bawah target Memantau tekanan steam dari peak 1 sampai 3 dan blow off serta durasi condensate untuk mengetahui kecepatan steam masuk pada program peak to peak, dan condensate tidak tertahan dalam vessel yang dapat mempertinggi losses Pastika FFB transporter depan dan belakang, capstand, bollard, dan winch berada dalam kondisi baik.

Penebah

Pantau hasil thresher terhadap SFB yang dipipil dengan pemantauan USB Kontrol penuangan SFB pada unit tippler, sterilisasi FFB, serta kematangan FFB hasil sortasi dengan melihat unripe dan abnormal bunch Periksa loose fruit sebelum loose fruit elevator, apakah ada janjangan yang lolos. Adakan pengecekan dan perbaikan.

Pressing

Periksa secara visual press cake yang keluar. Press cake yang baik tampak seperti adanya dust di antara uap yang keluar dari press cake Cek temperatur digester dan dillution water Lihat hasil analisis oil loses sebelumnya, apakah masuk dalam rekomedasi. Bila tidak periksa press cake yang keluar, naikkan/turunkan setting pressure dan ampere, perhatikan isi digester terisi penuh, temperatur digester 90 95 deg C, bila kurang tambahkan dengan memutar kerangan steam

Perhatika dillution water yang digunakan, ambil sampel DCO dan tes dengan centrifuge laboratorium. Perhatikan kembali FFB yang diterima. Bila unripe bunch > 10%, level air diatur 32 - 35%; bila unripe < 10%, level air 25 30% Perhitungan dillution water : Throughput x %CO x %loose fruit Perhatikan waste DCO pada unit vibrating, bila berlebihan periksa worm screw press Periksa oil wet press cake tidak melebihi target. Bila melebihi, ukur cleareance screw dan wrm screw 3 5 mm normal.

Klarifikasi

Setel oil layer 20 30 cm untuk mendapat oil content di underflow < 8% Temperatur clarifier 90 95 deg C untuk mempercepat pemisahan terhadap komposisi DCO sesuai sg-nya (oil, emulsi, water, solid) Pastikan stirrer berputar untuk mempercepat pemisahan Retention time yang baik 5 6 jam. Hindari recycling berlebihan untuk mengurangi emulsi yang dapat mengganggu pemisahan minyak Kadar air dan kotoran < 1% dan 0,1 %.