Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik yang bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonela typhi. Dan masih merupakan penyakit endemic di Indonesia. Demam tifoid merupakan penyakit yang mudah menular dan dapat menerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. Insidens demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan. Perbedaan insidens di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih yang belum memadai dan pembuanan sampah yang kurang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan. Patogen utama penyebab demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi, yang merupakan bakteri gram negative yang tidak berkapsul, mempunyai flagella sehingga hamper selalu bergerak menggunakan flagella peritrikosa. Ada beberapa spesies antara lain paratifi A, paratifi B, paratifi C . Kuman pathogen ini dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi oleh kuman. Salmonella typhi telah menjadi patogen manusia utama selama ribuan tahun, tumbuh berkembang pada kondisi sanitasi yang buruk. Nama Salmonella typhi berasal dari typhos bahasa Yunani kuno yang artinya sebuah asap halus atau awan yang diyakini menyebabkan penyakit dan kegilaan. Pada tahap lanjutan demam tifoid, tingkat kesadaran pasien benar-benar menurun. Meskipun antibiotik telah nyata mengurangi frekuensi demam tifoid di negara maju, tetapi tetap merupakan penyakit endemik di negara-negara berkembang.

1.2. Perumusan Masalah 1. Apakah demam tifoid itu? 2. Apa penyebab demam tifoid? 3. Bagaimana cara mendiagnosa demam tifoid? 4. Bagaimana pengobatan demam tifoid?

1.3. Tujuan Pembuatan Makalah Kasus ini dibuat dengan tujuan khusus, yaitu: 1. Pembaca dapat mengetahui definisi dari demam tifoid. 2. Pembaca dapat mengetahui penyebab demam tifoid. 3. Pembaca dapat membuat diagnosis dan mengetahui gejala-gejala dari demam tifoid. 4. Pembaca dapat mengetahui terapi dan penatalaksanaan demam tifoid.

BAB II ISI
2.1. Definisi Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonela typhi. Bakteri Salmonella typhi adalah bakteri gram negative yang tidak berkapsul, mempunyai flagella sehingga hamper selalu bergerak menggunakan flagella peritrikosa. Demam tifoid sangat berhubungan erat dengan hygiene perorangan dan lingkungan sekitarnya. Gambaran klinis dari demam tifoid biasanya menyerang penderita kelompok umur 5-30 tahun. Jarang pada umur dibawah 2 tahun ataupun diatas 60 tahun.

2.2. Etiologi Penyebab demam tifoid adalah Salmonela typhi, yang merupakan bakteri gram negative yang tidak berkapsul, mempunyai flagella sehingga hampir selalu bergerak dengan menggunakan flagella peritrikosa. Ada beberapa spesies lain seperti paratifi A, paratifi B, dan paratifi C yang merupakan penyebab demam paratifoid. Mempunyai antigen somatic (O) dari oligosakarida, antigen flagellar (H) yang terdiri dari protein dan antigen selubung (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapisan luar dinding sel yang dinamakan endotoksin.

2.3. Patogenesis dan Patofisiologi Berbagai macam cara penularan Salmonela typhi ke dalam tubuh manusia, yaitu :

Transmisi oral melalui makanan atau minuman ditangani oleh individu yang kronis gudang bakteri melalui tinja atau, kurang umum, urin.

Tangan ke mulut transmisi setelah menggunakan toilet yang terkontaminasi dan mengabaikan kebersihan tangan .

Transmisi oral melalui air yang terkontaminasi limbah atau kerang (terutama di negara berkembang).

Penularan demam tifoid terjadi melalui mulut, kuman S.typhy masuk kedalam tubuh melalui makanan/minuman yang tercemar ke dalam lambung. Melewati barier asam lambung dan usus halus ke kelenjar limfoid usus kecil kemudian masuk kedalam peredaran darah. Hal ini dapat terjadi karena penurunan derajat keasaman asam lambung dan makanan yang bersifat basa. Hal ini sering disebut dengan achlorhydria. Selain itu juga disebabkan menurunnya gerakan peristaltic usus dan gangguan produksi atau fungsi Ig A mukosa usus. Kuman yang masuk ke dalam peredaran darah umum / sirkulasi, menimbulkan bakteremia I yang tidak menunjukkan gejala klinis (asimptomatik). Bakeremia I ini berlangsung singkat, terjadi 24-72 jam setelah kuman masuk, meskipun belum menimbulkan gejala tetapi telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang dan ginjal. Salmonela typhi yang ada didalam makrofag dapat bertahan hidup dan berkembang biak di dalam fagosom makrofag. Sel akhirnya akan mengalami lisis, Salmonella typhi keluar ke dalam peredaran darah umum, dan terjadilah bakterimia ke II yang disertai dengan gejala klinis (simptomatis) demam, nyeri kepala, otot sendi, dan lainlain. Gejala klinis ini disebabkan oleh pengaruh endotoksin pada hipotalamus, maupun pengaruh sitokin proinflamasi yang diproduksi oleh makrofag yang terinfeksi Salmonela typhi. Bakteremia yang kedua ini terjadi pada akhir masa inkubasi 5 9 hari.

2.4. Manifestasi Klinis Masa inkubasi Masa inkubasi rata-rata 7 14 hari. Manifestasi klinik pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi. Demam adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan klinis. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau sulit buang air beberapa hari, sedangkan pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu tubuh meningkat dan menetap. Suhu meningkat terutama sore dan malam hari. Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi lebih jelas demam yang tinggi terus menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecah-pecah /terkupas, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan dan tremor,

pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung. Penderita nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan letak tidur pasif, acuh tak acuh (apati) sampai berat (delier, koma). Demam tifoid yang berat memberikan komplikasi perdarahan, kebocoran usus (perforasi), infeksi selaput usus (peritonitis) , renjatan, bronkopnemoni dan kelainan di otak (ensefalopati, meningitis). Jadi ada tiga komponen utama dari gejala demam tifoid yaitu: 1. Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari) 2. Gangguan saluran pencernaan. 3. Gangguan susunan saraf pusat / kesadaran.

2.5. Pemeriksaan Laboratorium Pada demam tifoid dapat dilalukan berbagai macam pemeriksaan untuk mendukung dalam menegakan diagnose yang benar. Pada urin didapatkan albuminuria dengan tes Diazo. Dan pada tinja dapat ditemukan eritrosit serta darah. Pada DT dapat terjadi kekurangan darah dari ringan sampai sedang karena efek kuman yang menekan sumsum tulang. Lekosit dapat menurun hingga < 3.000/mm3 dan ini ditemukan pada fase demam.Biakan kuman paling tinggi pada minggu I sakit. Pemeriksaan serologik Widal (titer Aglutinin OD) sangat membantu dalam diagnosis walaupun 1/3 penderita memperlihatkan titer yang tidak bermakna atau tidak meningkat. Uji Widal bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan serial tiap minggu dengan kenaikan titer sebanyak 4 kali.Beberapa laporan yang ada tiap daerah mempunyai nilai standar Widal tersendiri, tergantung endemisitas daerah tersebut. Misalnya : Surabaya titer OD > 1/160, Yogyakarta titer OD > 1/160, Manado titer OD > 1/80, Jakarta titer OD > 1/80, Ujung Pandang titer OD 1/320.

2.6. Diagnosis Diagnosis demam tifoid ditegakkan atas dasar riwayat penyakit, gambaran klinik dan laboratorium (jumlah lekosit menurun dan titer widal yang meningkat) . Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada salah satu biakan.

2.7. Diagnosis Banding Richettsiozis Brucellosis Tularemia Leptospirosis Milliary tuberculosis Viral hepatitis Infectious mononucleosis Cytomegalovirus Malaria Lymphoma

2.8. Penatalaksanaan Tujuan perawatan dan pengobatan demam tifoid anak adalah meniadakan invasi kuman dan mempercepat pembasmian kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, mencegah relaps dan mempercepat penyembuhan. Penderita tidak perlu dirawat diruang isolasi. Pada fase akut diharuskan tirah baring absolute dan diet khusus tifoid diit yang disebut dengan padat dini yang terdiri atas nasi, lauk pauk dan sayur rendah serat. Pada penderita demam tifoid yang tidak mempunyai komplikasim terbukti bermanfaat mempercepat penyembuhan (rata-rata dalam waktu 7-10 hari, sedangkan sebelumnya rata-rata 14 hari). Pemberian suplemen protein oral (proten bubuk susu kedelai ) juga terbukti membantu mempercepat dalam proses penyembuhan. Masukan cairan dan kalori juga perlu diperhatikan.Terapi medikamentosa yang digunakan sampai saat ini adalah chloramphenicol, thiamphenicol, cotrimoxazole.

2.9 Komplikasi Komplikasi demam tifoid dibagi menjadi komplikasi intestinal dan komplikasi ekstra intestinal.

Komplikasi intestinal meliputi : 1. Perdarahan usus 2. Perforasi usus 3. Ileus paralitik

Komplikasi ekstra intestinal, meliputi: 1. Kardiovaskuler : shock septic, miokarditis, trombophlebitis 2. Darah : anemia hemolitik, trombositopenia, disseminated intra vascular coagulation (DIC), sindroma uremia hemolitik. 3. Paru : empyema, pleuritis 4. Hati dan kandung empedu : hepatitis dan kolesistisis 5. Ginjal : glomerulonephritis, pyelonephritis, perinephritis. 6. Tulang : osteomyelitis, periostitis, spondilitis, dan arthritis.

2.10 Pencegahan Demam Tifoid Langkah pencegahan adalah seperti berikut:


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Penyediaan air minum yang memenuhi syarat Pembuangan kotoran manusia yang pada tempatnya Pemberantasan lalat Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual-penjual makanan. Imunisasi Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier) Pendidikan kesihatan kepada mayarakat.