Anda di halaman 1dari 66

i

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK HUBUNGAN HYGINE PERSEORANGAN TERHADAP INFEKSI PIEDRA HITAM PADA PETANI WANITA DI DESA LIMBUNG KABUPATEN KUBU RAYA
KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Melengkapi Mata Kuliah Karya Tulis Ilmiah Diploma III Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak

OLEH :

ANANDA WIDYA PRATAMA NIM. A8.09.04.0005

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK JURUSAN ANALIS KESEHATAN TAHUN 2012

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Hubungan Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Wanita Petani Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya
Oleh: ANANDA WIDYA PRATAMA NIM. A8.09.04.0005 Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan dipertahankan didepan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak Pontianak, 18 juli 2012 Pembimbing I

Supriyanto,S.Si,M.Ked NIP. 196811111992031002 Pembimbing II

Drs. Binter Simangunsong,M.Si NIP.195307121981031007

iii

HALAMAN PENGESAHAN KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN HYGINE PERSEORANGAN TERHADAP INFEKSI PIEDRA HITAM PADA PETANI WANITA DI DESA LIMBUNG KABUPATEN KUBU RAYA Oleh:
ANANDA WIDYA PRATAMA NIM. A8.09.04.0005 Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak Pada tanggal 18 Juli 2012 Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak Tahun Akademik 2011/2012 (.) (.) (.)

1. Ketua 2. Anggota 1 3. Anggota 2

: Kuswiyanto,S.Si,M.Kes NIP. 197106161998031001 : Supriyanto,S.Si,M.Ked NIP. 196811111992031002 : Drs. Binter Simangunsong,M.Si NIP. 195307121981031007

Mengetahui / Mengesahkan Ketua Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak

dr. Etiek Nurhayati,M.Sc NIP.197112062000122001

iv

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK JURUSAN ANALIS KESEHATAN ANANDA WIDYA PRATAMA NIM A8.09.04.0005 KARYA TULIS ILMIAH, JULI 2012

HUBUNGAN HYGINE PERSEORANGAN TERHADAP INFEKSI PIEDRA HITAM PADA PETANI WANITA DI DESA LIMBUNG KABUPATEN KUBU RAYA

xi + 45 halaman + 7 gambar + 6 tabel

ABSTRAK Hygine sebagai upaya kesehatan masyarakat yang mempelajari pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hygine perseorangan terhadap infeksi jamur Piedra hitam. Objek penelitian ini adalah rambut petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya, dengan jumlah sampel 34 orang yang didapat dari total populasi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak pada tanggal 7 sampai dengan 10 April 2012. Masingmasing sampel rambut diperiksa secara mikroskopis dengan KOH 25%. Berdasarkan hasil penelitian Hubungan Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani Wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya,dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani Wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya dimana p>0,05 ( = 0,512).

Kata Kunci : Hygine perseorangan, Infeksi Piedra hitam, Petani wanita. Daftar bacaan : 37 (2003 2011)

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Dengan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberi petunjuk, kekuatan dan bimbingan serta karunia-Nya kepada penulis Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul Hubungan Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani Wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya dapat diselesaikan dengan baik. Karya Tulis ilmiah ini disusun untuk memenuhi persyaratan mata kuliah pada Pendidikan Tinggi Program Diploma III Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak Jurusan Analis Kesehatan. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas bantuan dan jasa-jasanya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini antara lain kepada: 1. Bapak Khayan, SKM, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak. 2. Ibu Dr.Etiek Nurhayati, M.Sc selaku Ketua Jurusan Analis Kesehatan Pontianak 3. Supriyanto,S.Si.M.Ked selaku pembimbing I yang penuh ketekunan dan kesabaran selalu memberi bimbingan, arahan, dan masukan selama menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

vi

4.

Drs. Binter Simangunsong,M.Si selaku pembimbing II yang penuh ketekunan dan kesabaran selalu memberi bimbingan, arahan, dan masukan selama menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

5.

Bapak Kuswiyanto,S.Si,M. Kes selaku penguji Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan masukan, saran dalam pelaksanaan dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

6.

Keluarga Besar yang telah banyak membantu dan memberikan doa, dorongan dan semangat dalam menjalani pendidikan terutama Ayah, Ibu dan adikku tersayang.

7.

Seluruh Staf Pengajar dan non pengajar, terutama Euis Suryani Amd.AK Jurusan Analis Kesehatan Kemenkes Pontianak yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga selama mengikuti pendidikan.

8.

Seluruh mahasiswa/i Angkatan XI yang telah mengisi hari-hari selama menjalani pendidikan.

9.

Semua orang yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam menjalani pendidikan. Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih

terdapat banyak kekurangan, untuk ini penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya Karya Tulis Ilmiah ini.

Pontianak, Juli 2012

Penulis

vii

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii ABSTRAK .................................................................................................. iv KATA PENGANTAR ................................................................................ v DAFTAR ISI ................................................................................................ vii DAFTAR TABEL ....................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 4 C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4 1. Tujuan Umum ............................................................................... 4 2. Tujuan Khusus .............................................................................. 4 D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 4 1. Bagi Penulis .................................................................................. 4 2. Bagi Institusi ................................................................................. 4 3. Bagi Masyarakat ........................................................................... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 6 A. Hygine perseorangan .......................................................................... 6 B. Tinjauan umum tentang jamur............................................................ 8 1. 2. 3. 4. Jamur .......................................................................................... Jamur Mikosis Superfisialis ........................................................ Infeksi Mikosis Superfisialis ........................................................ Cara Penularan Mikosis Superfisialis. .......................................... 8 9 10 11

C. Rambut dan Infeksi Piedra ................................................................. 12 D. Jenis Piedra......................................................................................... 12 1. Piedra hortai .................................................................................... 13 2. Piedra putih ..................................................................................... 14

viii

E.Piedraia hortai ...................................................................................... 15 1. Klasifikasi ....................................................................................... 15 2. Morfologi ........................................................................................ 15 F. Penyakit oleh Infeksi Piedraia hortai .................................................. 17 1. Defenisi .......................................................................................... 2. Sejarah dan Penyebaran ................................................................. 3. Mekanisme Infeksi Piedra hortai .................................................... 4. Diagnosa ......................................................................................... 5. Kerentanan dan Pengobatan ........................................................... 17 18 19 21 23

G. Kerangka Teori ................................................................................... 24 BAB III KERANGKA KONSEP, VARIABEL, DAN DEFENISI OPERASIONAL .......................................................................... 25 A. Kerangka Konsep ............................................................................... 25 B. Variabel dan Defenisi operasional ...................................................... 26 1. Variabel ........................................................................................ 26 2. Defenisi Operasional .................................................................... 27 C. Hipotesis ............................................................................................. 28 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 29 A. Desain Penelitian ................................................................................ 29 B. Waktu dan Tempat Penelitian............................................................. 29 1. Waktu Penelitian........................................................................... 29 2. Tempat Penelitian ......................................................................... 39 3. Objek Penelitian ........................................................................... 30 C. Populasi dan Sampel ........................................................................... 30 1. Populasi Penelitian ....................................................................... 30 2. Sampel Penelitian ......................................................................... 30 3. Kriteria sampel ............................................................................. 30 D. Pemeriksaan dan Pengamatan Variabel Penelitian ............................. 31 1. 2. 3. 4. Metode Pemeriksaan..................................................................... Prinsip Pemeriksaan ..................................................................... Alat dan Bahan ............................................................................. Prosedur Kerja .............................................................................. 31 31 31 31

E. Teknik dan Instrumentasi Pengumpulan Data .................................... 32 1. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 32 2. Alat Pengumpul Data ..................................................................... 32

ix

BAB V

Hasil dan Pembahasan ............................................................... 33

A. Gambaran Umum Daerah Penelitian .................................................. 33 B. Hasil Penelitian ................................................................................... 34 1. Karakteristik Responden ............................................................. 34 2. Hasil Pemeriksaan Sampel Rambut ............................................ 35 C. Pengolahan Data ................................................................................. 37 1. Hygine perseorangan dan Infeksi Jamur Piedra Hitam ................ 39 D. Pembahasan ........................................................................................ 40 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 44 A. Kesimpulan ......................................................................................... 44 B. Saran ................................................................................................... 44 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Penyajian Data Hasil Pemeriksaan Sampel................................... Penyajian Data Hasil Personal Hygiene ........................................ Penyajian Data Hasil Infeksi Piedra hitam.................................... Penyajian Data Hasil Chi-square .................................................. 37 39 40 41

xi

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 5.1 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Rambut dengan nodul Piedra hitam ............................................ 14 Morfologi Piedra hitam ............................................................... 15 Kerontokan Rambut oleh Piedra hitam ....................................... 16 Mekanisme Infeksi Piedra hitam .................................................. 19 Grafik distribusi umur responden.................................................. 34 Grafik distribusi skor hasil kuesioner ........................................... 36 Grafik Personal Hygiene Wanita Petani di Desa Limbung Lanud Supadio Kabupaten Kubu Raya ......................................... 37 Gambar 5.4 Grafik Hasil Pemeriksaan Sampel Rambut ..................................... 38 Gambar 5.5 Grafik Frekwensi Infeksi Piedra hitam Pada Tiap Status Hygine Perseorangan ..................................................................... 40

xii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Format Kuesioner Surat Izin Penelitian Surat Persetujuan Respnden Surat Keterangan Melakukan Penelitian Hasil Pemeriksaan Sampel Rambut Dokumentasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Iklim Negara Indonesia yang panas dan lembab merupakan lingkungan yang ideal bagi aneka mikroorganisme tropis, antara lain jamur. Berbagai jenis jamur dapat hidup di mana-mana dalam berbagai ekosistem, di atas bermacam substrat, pada habitat yang sangat beraneka ragam. Penyebarannya juga sangat luas melalui spora yang leluasa beterbangan di udara, dalam tanah ataupun di permukaan benda. Iklim tropis ini membuat Indonesia sebagai negara agraris, karena komunitas terbesar masyarakat Indonesia adalah sebagai petani. Bidang

pertanian memiliki angkatan kerja yang terbesar di Indonesia, sekitar 25,5 juta Kepala keluarga bertumpu dan bermata pencaharian sebagai petani. Lingkungan kerja merupakan tempat yang potensial mempengaruhi kesehatan pekerja. (1,2) Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja antara lain faktor fisik, faktor kimia dan faktor biologis. Faktor biologis merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, paparan terhadap mikroorganisme dan parasit infektif hidup serta produk toksiknya terjadi pada berbagai pekerjaan. Agen penyakit infeksi terkait kerja yang terpenting adalah: Virus, Bakteri, Jamur, Protozoa, dan Cacing. Kemampuan hidup dan patogenitas agen-agen ini dalam lingkungan kerja sangat ditentukan oleh faktor faktor fisik dan iklim (suhu, kelembaban, tekanan oksigen, kondisi tanah)

untuk kasus parasit perlu adanya reservoir obligat dan vektor yang umumnya binatang. Paparan bahan kimia, terutama pestisida dapat mengakibatkan dermatitis kontak. Lingkungan kerja ataupun jenis pekerjaan dapat

mengakibatkan penyakit akibat kerja. (3,4) Kesehatan kerja merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan faktor potensial yang mempengaruhi kesehatan pekerja (dalam hal ini petani). Bahaya akibat kerja, seperti halnya masalah kesehatan lingkungan bisa bersifat akut ataupun kronis. Efek terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Kesehatan masyarakat kerja perlu diperhatikan, karena selain dapat

menimbulkan gangguan tingkat produktifitas, kesehatan masyarakat kerja tersebut dapat timbul akibat pekerjaannya.(5) Penyakit infeksi jamur berperanan penting di Indonesia, terutama dengan adanya udara yang lembab dan panas (daerah tropis), hygine yang kurang baik, lingkungan yang padat dan sosioekonomi yang rendah. Penyakit ini disebut juga dermatomikosis. Jamur dapat menyebabkan infeksi pada masyarakat yang aktifitasnya adalah petani, pemulung, tukang cuci, dan lain - lain yang bekerja pada kondisi lingkungan yang lembab.(6) Penelitian retrospektif tentang mikosis superfisialis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan (URJ) Penyakit kulit dan kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya tahun 2003-2005 menyatakan bahwa dalam kurun waktu antara 20032005 didapatkan kasus baru mikosis superfrisialis sebesar 12,7%, ditahun 2003,

14,4% ditahun 2004 dan sebesar 13,3% ditahun 2005. Dengan kasus untuk kelompok umur 5-14 tahun sebanyak 7,6% (196 kasus).(7) Kejadian penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur untuk semua umur di Kabupaten Kubu Raya pada tahun 2011 adalah sebanyak 1693 kasus. (8) Salah satu dari bentuk infeksi mikosis superfisialis adalah piedra hitam yang pertumbuhannya di Indonesia selain didukung oleh iklim tropis, juga sangat berhubungan dengan hygine sanitasi seseorang.(9) Piedra mengacu kolonisasi batang rambut yang disebabkan oleh jamur dan membentuk nodul tidak teratur. Jika nodul gelap, maka infeksi itu oleh Piedra hitam. Nodul adalah tubuh buah jamur askomisetes, yang diketahui sebagai akrostoma.(10) Infeksi piedra dapat mempengaruhi rambut dari daerah kulit kepala, tubuh dan kelamin. Sumber infeksi dari tanah, rambut hewan dan air yang tidak mengalir, juga telah diindikasikan bahwa transmisi dari orang ke orang jarang terjadi. Infeksi Piedra hitam di rambut kepala dapat menyebabkan rambut rontok karena patah.(11) Air di Kalimantan barat yang pHnya cendrung asam karena jenis tanah gambutnya. Hal ini juga dapat membuat jamur Piedra hitam tumbuh subur. Pengamatan yang telah dilakukan di Desa Limbung menunjukkan

ketidaktersediaan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan membuat masyarakat Desa Limbung menggunakan air sungai untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).(11)

Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang di angkat dalam penelitian ini adalah Hubungan Hygine perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya. B. Rumusan Masalah Bagaimana hubungan hygine perseorangan terhadap infeksi Piedra hitam pada petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Hygine perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani wanita Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui tingkat hygine perseorangan petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya b. Mengetahui infeksi jamur Piedra hitam di rambut petani wanita Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya D. Manfaat Penelitian 1. Untuk Penulis Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam wawasan dalam mikologi terutama tentang Piedra hitam. 2. Untuk Institusi Sebagai bahan tambahan Kepustakaan Mahasiswa/I Jurusan Analis kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak khususnya dibidang mikologi

3. Untuk Masyarakat Memberikan Informasi kepada masyarakat, khususnya petani wanita tentang pentingnya menjaga hygine perseorangan agar terhindar dari penyakit infeksi terutama Piedra hitam.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hygine perseorangan atau Kebersihan Diri Menurut Ensiklopedi Indonesia (1982) hygine adalah ilmu yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Kebersihan diri atau hygine perseorangan adalah faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang mendapat penyakit karena tidak memperhatikan faktor kesehatan.(22) Kebersihan perseorangan adalah suatu usaha individu dalam menjaga kesehatan melalui kebersihan individu sebagai cara untuk mengendalikan kondisi lingkungan terhadap kesehatan. Kebiasaan hidup bersih harus dimulai dari diri pribadi karena seseorang yang sudah membiasakan dirinya selalu bersih, tidak akan senang melihat lingkungan yang kotor, oleh karena itu seseorang yang selalu menjaga kebersihan diri dengan sendirinya akan berusaha menjaga kebersihan lingkungan di manapun dia berada.(22) Kebersihan diri yang buruk merupakan cerminan dari kondisi lingkungan dan perilaku individu yang tidak sehat. Pengetahuan penduduk yang masih rendah dan kebersihan yang kurang baik mempunyai kemungkinan lebih besar terkena infeksi.(22) Selain faktor lingkungan, praktek kebersihan diri masing- masing petani di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya dapat menjadi faktor resiko terjadinya Mikosis superfisialis pada rambut jika petani tidak

melaksanakannya dengan baik, antara lain keramas dengan sampo secara rutin,atau setelah bekerja, kemudian menjaga rambut tetap kering setiap selesai keramas dan memakai alas pelindung rambut ketika sedang bekerja.
(17,18)

Kebersihan atau kesehatan lingkungan merupakan faktor utama dalam mewujudkan kesehatan. Artinya kesehatan tidak dapat terlepas dari keadaan lingkungan. Seseorang tidak akan merasa nyaman bila berada di lingkungan kotor, yang dapat menularkan penyakit. pengelolaan lingkungan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan agar dapat hidup sehat. Hal - hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat, sehingga dapat terhindar dari paparan jamur yaitu. a. Memelihara kebersihan diri (mandi 2x/hari, cuci tangan sebelum dan sesudah makan), pakaian, rumah dan lingkungannya (BAB pada tempatnya). b. c. d. e. f. Memakan makanan yang sehat dan bebas dari bibit penyakit. Cara hidup yang teratur. Meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani. Menghindari terjadinya kontak dengan sumber penyakit. Melengkapi rumah dengan fasilitas-fasilitas yang menjamin hidup sehat seperti sumber air yang baik, kakus yang sehat. g. Pemeriksaan kesehatan. (22)

Dalam usaha menyangkut hygine perseorangan yang bertujuan untuk selalu memelihara rambut dan kulit kepala dan kesan cantik serta tidak berbau apek, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Memperhatikan kebersihan rambut dengan mencuci rambut sekurang kurangnya dua kali seminggu b. c. Mencuci rambut dengan shampo/bahan pencuci rambut lain Sebaiknya menggunakan alat-alat pemeliharaan rambut sendiri.(11)

B. Tinjauan Umum Tentang Jamur 1. Jamur Jamur termasuk tumbuh - tumbuhan filum talofita yang tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Jamur tidak bisa menghisap makanan dari tanah dan tidak mempunyai klorofil sehingga tidak bisa mencerna makanan sendiri. Ia hidup sebagai parasit atau saprofit pada organisme yang lain, saat ini dikenal kurang lebih 200.000 spesies jamur, tetapi hanya 50 spesies yang patogen pada manusia yaitu 20 spesies menyerang kulit, 12 spesies menyerang subkutis, 18 spesies menyerang alat dalam atau sistemik.(15) Jamur ada yang bersifat oportunistik yaitu apabila ada faktor

predisposisi tertentu jamur tersebut mampu menimbulkan penyakit atau kelainan - kelainan. Fungi patogen dan aportunis patogen dapat menyebabkan penyakit Mikosis. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu kamar 25-30 C, dengan kelembaban 60%, walaupun demikian ada beberapa jamur patogen yang dapat tumbuh pada suhu 45-50 C, oleh

karenanya sensitivitas jamur terhadap suhu dapat digunakan untuk identifikasi spesies. Jamur menyukai kondisi asam dengan pH 5,5- 6,5/ 6,8.(15) Jamur tumbuh dalam dua bentuk dasar, sebagai ragi dan kapang. Pertumbuhan dalam bentuk kapang terjadi melalui produksi koloni filamentosa multiselular. Kapang membentuk koloni menyerupai kapas atau padat, sedangkan dalam bentuk ragi adalah berupa sel tunggal berbentuk sferis sampai elips dengan diameter bervariasi dari 3 m sampai 15 m. Ragi bereproduksi dengan membentuk tunas. Koloni ragi biasanya lunak, opak, berukuran 1 sampai 3 mm, dan berwarna krem. Jamur yang menyebabkan penyakit pada manusia terbagi menjadi 2 bentuk yaitu bentuk superfisialis yang mengenai permukaan badan yaitu kulit, rambut, kuku

dan bentuk profunda yang mengenai organ dalam.(15,16) 2. Jamur penyebab penyakit mikosis superfisialis Mikosis superfisialis adalah penyakit jamur yang mengenai lapisan

permukaan kulit, yaitu stratum korneum, rambut, dan kuku. Mikosis superfisial dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: a. Jamur yang disebabkan dari golongan bukan dermatofita yaitu: Tenia versikolor, Otomikosis, Piedra hitam, Piedra putih, Tenia nigra palmaris, Keratomikosis . b. Jamur yang disebabkan dari golongan dermatofita disebut

dermatofitosis.

10

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Jamur dermatofita terbagi menjadi tiga genus utama yaitu : Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton. Jamur ini merupakan jamur filamentosa yang mencernakan keratin, tidak menginvasi sel hidup sehingga terbatas pada kulit, rambut, dan kuku. (17,18) 3. Infeksi mikosis superfisialis Jamur hidup pada lapisan tanduk manusia. Golongan jamur ini dapat mencerna keratin pada kulit dan kuku karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis Masuknya jamur dalam tubuh dapat melalui : a. Luka kecil atau aberasi pada kulit, misalnya golongan dermatofitosis, kromoblastomicosis . b. Melalui saluran pernafasan dengan menghisap elemen - elemen jamur seperti pada histoplasmosis. c. Melalui kontak dengan debris keratin yang mengandung hifa jamur, tetapi tidak perlu ada luka atau aberasi kulit seperti golongan dermatofitosis. Beberapa faktor pencetus infeksi jamur antara lain kondisi lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian tak menyerap keringat, keringat berlebihan karena berolahraga atau kegemukan, trauma minor (gesekan pada paha orang gemuk), keseimbangan flora tubuh

11

normal (antara lain karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka pajang), penyakit tertentu, misalnya HIV / AIDS, diabetes, kehamilan dan menstruasi (kedua kondisi ini terjadi karena

ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur).(15) Selain faktor - faktor di atas lingkungan penjamu merupakan faktor yang bermakna. Obesitas memungkinkan infeksi intertriginosa yang lebih banyak dan sepatu yang tertutup menjadi predisposisi infeksi pada kulit dan kuku. Faktor virulensi dari dermatofita (dimana virulensi bergantung pada afinitas jamur, apakah antrofilik, zoofilik, atau geofilik). Faktor suhu dan kelembaban merupakan faktor utama terjadinya infeksi jamur, keadaan sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan memegang peranan penting pada infeksi jamur. 18,19,20) 4. Cara penularan dermatofitosis superfisialis Penularan jamur superfisialis bisa terjadi secara langsung melalui fomit, epitel, kuku, dan rambut - rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang maupun dari tanah. Kontak langsung dengan kulit yang berjamur, ada juga yang lewat spora, udara, hubungan seksual atau bagian lain tubuh sendiri. Penularan secara tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, barang- barang atau pakaian, debu atau air yang terkontaminasi spora jamur.(18) Jamur mudah ditularkan dari barang yang melekat di kaki, seperti pakaian serta kaos kaki yang ditumbuhi jamur. Kondisi lembab dan panas
(

12

dari lingkungan menghasilkan keringat yang berlebih dapat menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan jamur.(19,21) C. Rambut dan infeksi Piedra hitam Rambut adalah sesuatu yang keluar dari dalam kulit dan kulit kepala, rambut tidak mempunyai syaraf perasa, sehingga rambut tidak terasa sakit kalau dipangkas. Piedra memilih rambut sebagai tempat tumbuh karena mengacu pada sifatnya yang dapat memanfaatkan keratin. (22,23) Kedua tipe dari Piedra (Piedra Hitam dan Putih) muncul di daerah iklim berbeda. Piedra hitam timbul di daerah lembab, tropis basah dan merupakan infeksi umum di pusat daerah tropis di Amerika utara dan Asia tenggara. Sedangkan Piedra putih muncul di daerah dingin dan semi tropis.(24) Piedra juga bisa tumbuh di rambut dari host mati dan rambut yang sudah lepas, yang membuat Piedra digolongkan sebagai Necrotropic, dan Lipophilic karena bisa memakai lemak sebagai sumber makanan utamanya (Piedraia, Trichosporon).(25) Infeksi piedra dicirikan dengan adanya nodul yang melekat kuat yang mengelilingi seluruh atau sebagian rambut. Nodul pada Piedra hitam lebih keras dan lebih besar dari nodul Piedra putih. D. Jenis Piedra Piedra dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Piedra hitam dan Piedra putih.

13

1. Piedra Hitam Piedra hitam sering muncul di daerah lembab, area tropis basah seperti Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Piedra hitam umumnya disebabkan oleh jamur Piedraia hortai dan Trichosporon ovoides. Piedraia hortai sangat umum ditemukan dan telah ditemukan di rambut hewan termasuk primata, air yang tidak mengalir, tanah, dan tumbuhan.(24) 7-9% dari populasi di Manaus, Brazil, memiliki Piedra hitam. Infeksi ini bisa lebih umum ditemukan di Indian Brazil, karena organisme yang menyebabkan infeksi, Piedraia hortai dikultur dari 98 dari 120 (82%) individu yang diteliti untuk alasan lain. Wanita dari suku Indian ZoroAmazon dikatakan menumbuhkan Piedra hitam selama mereka mengikuti suami mereka berburu dan mengumpulkan makanan,

mengesampingkan infeksi ini sebagai jimat keberuntungan untuk berburu. Bagaimanapun, Piedra hitam telah dilaporkan di 5,6-9% dari individuindividu ini, dengan tidak ada pencatatan diantara jenis kelamin. Piedra hitam dapat dipakai untuk menghitamkan rambut; Indian Cua albino San Blas (Panama) dengan sengaja menumbuhkan Piedra hitam untuk alasan kosmetik.(23) Pemeriksaan mikroskopis dari nodul piedra hitam menampakkan hifa padat dan berpigmen gelap, dan askospora Pinggiran nodul tersusun teratur selaras dengan hifa dan arthokonidia (spora yang timbul dari sel-sel yang sudah ada dalam miselium).(24)

14

2. Piedra putih Piedra putih ditandai dengan nodul berwarna putih sampai coklat sepanjang poros dalam rambut, jenggot , alis, bulu mata dan pangkal paha, daerah genital dan perigenital. Nodul lunak yang ringan berpigmen melekat pada batang rambut dan menghasilkan sensasi berpasir ketika diraba. Nodul dapat terlepas dengan mudah dan rambut yang terkena mungkin akan rusak.(24) Di Amerika Serikat, pada orang kulit putih jumlah kejadian Piedra putih bisa lebih tinggi dari pada Piedra hitam. Laporan dari Houston, Texas, Infeksi Piedra putih genital lebih banyak diderita pria kulit hitam dibandingkan pria kulit putih atau dari kelompok etnis lainnya, sebuah penemuan yang sulit dicerna. Dari 166 pria yang diteliti karena keluhan kelamin, 40% terinfeksi Trichosporon spp, diketahui dari kultur dari rambut kemaluan. Bagaimanapun, transmisi dari orang ke orang sangat jarang terjadi. Studi di Afrika menunjukkan prevalensi Piedra putih sebesar 18% di daerah kemaluan dan tidak umum pada wanita usia 15-44 tahun. Studi di Brazil, sebagian besar dari pasien dengan Piedra putih di kulit kepala adalah wanita (87%; usia 2-42 tahun), dan 74% adalah anak-anak (usia 2-6 tahun).(23) Piedra putih, yang disebabkan oleh infeksi spesies Trichosporon yaitu Piedraia quintanilhae yang tampak sebagai nodul yang lebih besar, lebih lunak dan berwarna kekuningan pada rambut. Piedraia quintanilhae

15

berbeda dari Piedraia hortai secara morfologis karena akrospora yang tidak lengkap.(12,27) E. Piedraia hortai 1.Klasifikasi Kingdom : Fungi Filum Class Ordo Famili Genus Spesies : Ascomycota : Euascomycetes : Dothideales : Piedraiaceae : Piedraia : Piedraia hortai(12) Gambar 2.1 Rambut dengan nodul Piedraia hortai

Sumber : Wikipedia.org

2. Morfologi Askospora berbentuk seperti pisang. Askospora tersebut dibentuk dalam suatu kantung yang disebut askus. Askus-askus bersama dengan anyaman hifa yang padat membentuk benjolan hitam yang keras dibagian luar rambut. Dari rambut yang ada benjolan, tampak hifa endotrik (dalam rambut) sampai ektotrik (diluar rambut) yang besarnya 4-8 um berwarna tengguli dan ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.(12) a. Morfologi Makroskopis Koloni Piedra hitam yang lambat tumbuh, kecil, berselubung, berwarna coklat beludru dan gelap sampai warna hitam. Koloni mungkin tetap licin atau ditutupi dengan hifa udara pendek.(12)

16

b. Morfologi mikroskopis Secara mikroskopis akan tampak hifa berseptata, ascostromata, , dan akrospora. Hifa berpigmen gelap dan mengandung banyak sel yang menyerupai chlamydoconidia intrasel . Struktur Ascostromata

pseudoparenchymatus yang subglobus teratur dalam bentuk dan berwarna hitam.(6) Gambar 2.2 a. Piedraia hortai yang tumbuh di media SGA (hari ke 24). Salah satu rambut dikiri koloni mengandung nodul piedra. b Infasi cuticula yang tampak setelah penyingkiran nodul Piedra. c Nodul Piedra menempel di batang rambut. d Akrospora Piedra setelah dilarutkan di KOH.

Sumber : (South African medical journal,Cape town, 18 march 1961)

Setiap nodul biasanya berisi askus tunggal. atau dalam kelompok dan mengandung

yang ellips, soliter

akrospora. Dinding askus

mudah larut. Akrospora yang gelap berpigmen hialin, bersel satu, fusoid,

17

melengkung, dan lancip ke arah kedua ujungnya untuk membentuk pelengkap seperti cambuk yang khas. (12) F. Penyakit oleh Infeksi Piedraia hortai 1. Defenisi Piedra hitam merupakan salah satu bentuk infeksi mikosis superfisialis. Mikosis superfisialis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh kolonisasi jamur atau ragi. Penyakit yang termasuk mikosis superfisialis adalah dermatofitosis, ptiriasis versikolor, dan Kadidiasis superfisialis . Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofit yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti, rambut, dan kuku. Penyebab dermatofitosis adalah spesies dari Mycrosporum, Trychophyton, dan Epidermophyton.(12) Gambar 2.3 Kerontokan Rambut oleh Piedraia hortai.

Sumber: (South African medical journal,Cape town, 18 march 1961)

Data epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit kulit karena jamur superfisial (Dermatomikosis superfisialis) merupakan penyakit kulit banyak dijumpai pada semua lapisan masyarakat, baik di pedesaan maupun

18

perkotaan, tidak hanya di Negara berkembang tetapi juga karena sering bersifat kronik dan kumat-kumatan serta tidak sedikit yang resisten dengan obat anti jamur, maka penyakit ini dapat menyebabkan gangguan kenyamanan dan menurunkan kualitas hidup bagi inangnya. (24) Piedra hitam adalah penyakit yang menyerang pada rambut kepala, janggut, kumis akan tampak benjolan atau penebalan yang keras warna hitam. Penebalan ini sukar dilepaskan dari corong rambut tersebut. Umumnya rambut lebih suram, bila disisir sering memberikan bunyi seperti logam. Penyakit ini tidak menimbulkan gejala khusus. Biasanya rambut penderita mudah patah pada saat disisir.(26) 2. Sejarah dan Penyebaran Piedra hitam pertama kali diisolasi ditahun 1876 di Kolumbia oleh Ozorio dan Arango Tahun 1911, Horta mengklasifikasikan Piedra kedalam dua jenis, yaitu Piedra hitam dan Piedra putih.(23,28) Horta dengan jelas membedakan Piedra hitam dari jenis Piedra putih dan menganggap jamur pencetusnya adalah Trichosporon, lalu dinamai Trichosporon hortai. Saat akrospora ditemukan didalam nodulnya, jamur ini dihubungkan ke ascomycetes dan dinamai sampai sekarang sebagai Piedraia hortai .(25) Kedua tipe Piedra timbul diiklim yang berbeda. Piedra putih sering tumbuh diiklim bersuhu dingin sampai semitropis, seperti Amerika selatan, Timur tengah, India, Asia tenggara, Afrika, Eropa, Jepang, dan sebagian Amerika serikat bagian selatan. Piedra hitam biasanya terlihat di

19

iklim tropis di seluruh dunia, dimana tempat itu panas dan lembab Biasanya penyakit ini mengenai rambut dengan kontak langsung atau tidak langsung.
(29,30)

3. Mekanisme Infeksi Piedra hitam Serangan awal ke rambut manusia oleh Piedra hitam didapatkan dengan memproduksi hifa yang merusak yang memaksakan jalannya dibawah atau diantara jaringan kutikula. Oleh Piedraia hortai , gangguan pada rambut disebabkan pada tekanan mekanis yang dihasilkan oleh

pertumbuhan jamur. Kerusakan keratin rambut oleh Piedra hitam pada dasarnya adalah hasil dari proses enzimatik. Hal ini dapat didukung oleh gejala sitologi dari aktivitas ezim yang intens, seperti tampaknya banyak mitokondria yang diamati dari sel jamur Piedraia hortai. (25) Urutan keratinolitik dimulai ditingkat kutikula dengan mencerna material yang mengeras., plasmalemma, endotel dan eksotel. Meskipun skema pencernaan ini diikuti secara normal oleh Piedra hitam, jaringan kutikula yang tampak terperangkap didalam nodul yang sedang berkembang bisa larut secara total. (25) Bagian yang paling resisten adalah bagian luar dari eksotel dan khususnya lapisan padat elektron yang melapisi tepian eksternal sel karena kandungan cystinenya yang tinggi. Pada tahap penguraian paling lanjut lapisan ini membentuk struktur yang berbentuk seperti pita. (25)

20

Gambar 2.4 a-h tahap awal infeksi dan degradasi kutikula oleh Piedraia hortai. a,b rambut dengan nodul muda. c hifa penyerang tumbuh sejajar dibawah lapisan kutikula. d nodul yang lebih berkembang dengan sisa jaringan kutikula disekitarnya. e sel kutikula yang terperangkap. f perbesaran dari daerah yang terindikasi terserang, g sel kutikula yang mulai lepas (panah). CU, kutikula; CO , korteks.

Sumber : (Figueras MJ & Guarro J, 2000)

Korteks dari materi pengeras dan plasmalemma dimulai dari bahan yang ada, diantara makrofibril, mikrofibril dan akhirnya matriks. Pola gangguan korteks pada nodul Piedraia hortai yang sudah berkembang sempurna.Gangguan pertama sejajar dengan poros rambut dan dihasilkan oleh sel jamur dengan memisahkan lapisan luar dari korteks luar. Gangguan kedua dihasilkan oleh hifa aktif yang masuk,ke sumbu rambut secara

vertikal, membentuk saluran yang membesar selama lapisan luar dicerna secara lambat.(25)

21

Juga ada situasi intermediet, yaitu saat lapisan luar rambut yang terinfeksi tidak terserang. Tidak ada tempat pelisisan disekitar hifa yang menyerang, yang mengindikasikan aktifitas enzim yang tidak mampu lebih lanjut melarutkan semua komponen yang dihasilkan selama proses pelisisan keratin.(25) Sifat degeneratif alami sel jamur yang terlibat dalam kerusakan rambut ditahap selanjutnya tidak terlihat. Ini mungkin dikarenakan struktur padat dari nodul yang mungkin berlaku sebagai struktur resisten dengan pertumbuhan lamban, sehingga keratin dalam jumlah sedikit tampaknya sudah cukup untuk menjamin ketahanan hidup panjang dari jamur ini. Hifa berlaku sebagai akar yang menancapkan nodul kerambut dengan erat.(25) 4. Diagnosa Piedra hitam membentuk suatu benjolan keras yang melekat pada batang rambut. Piedra sering dapat sulit dibedakan dengan pediculosis atau infestasi kutu. Infeksi dapat berdampingan dengan infeksi dermatofit dan kandida, infeksi kulit bakteri ditandai dengan coklat kemerahan, permukaan sedikit terangkat, terutama di ketiak dan pangkal paha.(24) Diagnosa penyakit jamur tidak hanya didasarkan pada gejala klinik, akan tetapi juga kepada diteguhkannya pemeriksaan laboraturium. Pemeriksaan laboratorium terpenting adalah dengan membuat kultur yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop ultra-violet (Woods lamp), dengan panjang gelombang 366 um, atau pemeriksaan mikroskopis langsung atas sampel rambut atau kerokan kulit. Diagosa yang khas dan

22

spesifik

adalah

dengan

membuat

kultur,

karena

juga

dapat

mengindentifikasi macam/jenis jamur yang bersangkutan.(31) Berbagai teknik diagnosa digunakan untuk mengkonfirmasikan diagnosis bila ada kecurigaan klinis piedra. Rambut bisa dipotong dan diwarnai dengan toluidin biru. Larutan KOH 10-15% dapat digunakan untuk membuat preparat nodul rambut untuk pewarnaan pada kaca objek. Pengecatan untuk jamur, seperti khlorazol hitam atau tinta E Parker biruhitam digunakan untuk memperjelas hifa.(31) Kultur jamur dilakukan pada agar Sabouraud Dekstrosa Agar (SDA) dan Uji Media Dermatofit (Dermatophyte Test Medium). SDA dengan choramphenicol dan SDA dengan chloramphenicol dan

cycloheximide bisa digunakan untuk isolasi. Beberapa laporan menyatakan bahwa cycloheximide mungkin bersifat menghambat;bagaimanapun, peneliti lain telah menggunakan antibiotik ini dan berhasil. Biasanya, sel jamur membentuk suatu massa padat di sekitar pusat batang rambut, hifa dan spora membentuk pinggiran nodul. Massa padat hifa berpigmen dan spora dapat dilihat menggunakan mikroskop. Beberapa spesies

Trichosporon terlibat dalam piedra putih (misalnya T ovoides) terhambat oleh cycloheximide, dan karena itu tidak tumbuh dalam medium uji dermatofit. Jadi kurangnya pertumbuhan jamur dalam kultur tidak selalu dikonfirmasi sebagai tidak adanya infeksi.(24,32)

23

5.

Kerentanan dan Pengobatan Sangat sedikit data yang tersedia dan belum ada metode standar dalam pengujian in vitro kerentanan Piedraia spp. Terbinafine terbukti aktif secara in vitro terhadap Piedra hitam.(12) Piedra hitam jarang sekali timbul kembali setelah pengobatan. Jika tidak diobati, piedra mungkin bertahan sampai bertahun-tahun. Disarankan untuk individu dengan Piedra untuk tidak menyebarkan infeksinya dengan tidak berbagi, sikat, sisir atau aksesoris rambut lainnya. (32) Mencukur atau memotong rambut yang terinfeksi adalah perawatan terbaik untuk kedua tipe Piedra, tapi ini kadang tidak dianggap bisa diterima, terutama oleh wanita atau mencuci kepala setiap hari dengan larutan sublimat 1/2000 atau shampoo yang mengandung antimikotik.(26) Terapi anti jamur mungkin dilakukan untuk membantu selama pencukuran. Piedra hitam bisa diobati dengan Terbinafine oral, yaitu obat anti jamur. Prognosa untuk Piedra adalah baik, karena dibawah kondisi normal infeksi ini tidak berbahaya.(24)

24

G. KERANGKA TEORI

Hygiene Sanitasi

Personal

Lingkungan

Tangan

Kuku

rambut

Kaki

Tanah

Air

Jamur

Mikosis Superfisialis

Mikosis Profunda

Non Dermatofita

Dermatofita

Piedra

Piedra putih

Piedra hitam

Uji Laboratorium

Kesimpulan

25

BAB III KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN DEFENISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Variabel bebas: Hygine Sanitasi - Hygine perseorangan

Variabel Terikat: Hasil pemeriksaan Nodul Piedra

Variabel Pengganggu*: Lama bekerja Rentang waktu potong rambut Penggunaan APD

* : Dikendalikan

Keterangan Dilakukan Penelitian Tidak dilakukan Penelitian : :

26

B. Variabel dan Defenisi Operasional 1. Variabel Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok lain. Berdasarkan hubungan fungsional antara varibel satu dengan yang lain, variabel dibedakan menjadi dua : variabel bebas (independent) yaitu variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (dependent). Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas. (34) a. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah, Hygine perseorangan. b. Variabel terikat adalah variabel yang mempengaruhi atau yang ditimbulkan karna adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil pemeriksaan Nodul Piedra. c. Variabel pengganggu adalah variabel yang berhubungan dengan variabel bebas dan terikat. Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah Lama bekerja, rentang waktu potong rambut, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) . (34)

27

2. Defenisi Operasional a. Hygine perseorangan. Defenisi : Suatu usaha individu dalam menjaga kesehatan melalui kebersihan individu sebagai cara untuk mengendalikan kesehatan. Alat ukur Cara ukur : : Kuesioner Wawancara tertuntun Ordinal Jika skor jawaban < 20,maka kurang. Jika skor jawaban 21-25, maka cukup. Jika skor jawaban 26-30, maka baik. b. Nodul Piedra Defenisi : Bentuk akrospora Piedraia hortai yang dapat dilihat secara kasat mata dan ditegaskan dengan pemeriksaan mikroskopis. Alat ukur Cara ukur : : Mikroskop Pemeriksaan Mikroskopis Nominal Positif/Negatif kondisi lingkungan terhadap

Skala ukur : Hasil Ukur :

Skala ukur : Hasil ukur :

28

C. Hipotesis Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hipotesis Komparatif, yaitu hipotesis perbandingan yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan dua variabel atau lebih. (34) Ha : Ada hubungan antara hygine perseorangan terhadap infeksi Piedra hitam pada petani wanita di Desa Limbung Raya. Kabupaten Kubu

BAB IV

29

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk memberikan
gambaran tentang realitas pada obyek yang diteliti secara objektif, sistematis,

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang sedang diselidiki. (34) Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan berbentuk cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya observasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter suatu variabel pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. (34) B. Waktu dan Tempat Penelitian 1 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2012. 2 Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak Jl. Dr. Soedarso Sei Raya Pontianak. 3 Objek Penelitian

30

Objek dalam penelitian ini adalah petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan elemen/subjek riset.(34) Populasi dalam penelitian ini adalah semua Petani Wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya. 2. Sampel Penelitian a. Sampel Sampel yang digunakan adalah Petani Wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya yang masih aktif bertani. b. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik Total Populasi yaitu suatu teknik pengambilan sampel dengan menjadikan seluruh jumlah total populasinya sebagai sampel. (36) 3. Kriteria sampel a. Petani Wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya. b. Masih aktif bertani dan telah bertani selama minimal 5 tahun. c. Memiliki Rambut yang belum dipotong selama minimal 3 bulan. d. Bersedia berpartisipasi dalam penelitian

31

D. Pemeriksaan dan Pengamatan Variabel Penelitian 5. Metode Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan dengan metode Mikroskopis langsung dengan KOH 25%. 6. Prinsip Pemeriksaan KOH melisiskan Keratin sehingga spora akan terpisah dari kuku/rambut, sehingga jamur terlihat jelas. (32) 7. Alat dan Bahan a. Alat 1). Sisir rapat 2). Kantong plastik klip 2). Pinset 4). Mikroskop 5). Pipet tetes 6). Kaca Objek 7). Kaca Penutup 8). Lampu spirtus b. Bahan / reagen 1) Larutan KOH 25% 8. Prosedur Kerja a. Pengambilan sampel rambut

32

1). Responden akan diminta untuk menyisir rambutnya dengan sisir rapat yang disediakan. (Sebelum sampling,sisir akan dipastikan bersih dari rambut responden sebelumnya). 2). Menggunakan pinset untuk mengambil sampel rambut yang ditemukan tersangkut karena patah dan terbawa di sisir rapat, kemudian sampel di taruh di dalam kantong plastik klip. b. Pemeriksaan Mikoskopis 1). Sampel diambil dari kantong plastik klip dengan pinset. 2). Sampel di letakkan di atas kaca objek, kemudian di tetesi dengan 1 tetes larutan KOH 25%. Lalu di diamkan selama 10 menit. 3). Sampel di tutup dengan kaca penutup lalu di tekan perlahan. 4). Preparat difiksasi beberapa kali di atas lampu spirtus. 5). Preparat diperiksa di bawah mikroskop. Mula-mula dilihat dengan lensa objektif 10x untuk mencari lapang pandang lalu ke lensa objektif 40x. (32) E. Teknik dan Instrumentasi Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan setelah seluruh responden mengisi kuisioner dan setelah dilakukan pemeriksaan sampel dengan mikroskop. 2. Alat Pengumpul Data Alat pengumpulan data berupa kuisioner, formulir, hasil

pemeriksaan, tabel dan komputer.

33

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian Luas Wilayah Kabupaten Kubu Raya adalah 6.985,20 km2 terdiri dari 9 Kecamatan, 106 Desa, Dan 401 Dusun. Penduduk Kabupaten Kubu Raya tahun 2010 sebesar 500.970 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 254.946 jiwa dan perempuan 246.024 jiwa. Pada 2011 penduduk Kubu Raya berjumlah penduduk 511.235 jiwa, dengan rincian penduduk laki-laki 260.183 jiwa dan perempuan 251 052. Secara demografi penyebaran penduduk tidak merata. Jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Sui Raya yang di dalamnya terdapat Desa Limbung sebesar 188.104 jiwa. Sebagian besar penduduk Kabupaten Kubu Raya mengandalkan sector pertanian sebagai mata pencahariannya. Kabupaten Kubu Raya dengan luas panen padi sekitar 55.796 ha, terdiri dari luas ladang padi 2.026 ha dan sawah 53.770 ha, baik pertanian lahan kering ataupun lahan basah. Kabupaten Kubu Raya memiliki suhu yang tinggi diikuti kelembaban udara yang tinggi, suhu rata-rata berkisar 26OC-27OC dan diikuti kelembaban yang relatif tinggi diatas 80% serta curah hujan rata-rata pertahun 256 mm. Kondisi lingkungan kerja petani merupakan salah satu yang mempengaruhi masalah kesehatan di tambah perilaku kesehatan masyarakat petani yang relatif masih rendah memicu tumbuhnya jamur terutama di daerah permukaan tubuh, yaitu kuku, kulit dan rambut. B. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Responden a. Umur

34

Dari 34 responden petani di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya, diperoleh data yaitu rata-rata umur responden 50,1 tahun. Umur minimum adalah 40 tahun dan umur maksimum adalah 60 tahun.

Gambar 5.1 Grafik distribusi umur responden


5 4 3 2 1 0 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

b. Pendidikan Dari 34 responden petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya sebagian besar berpendidikan SD yaitu sebanyak 22 orang (64,70%), yang berpendidikan SMP, 9 orang (26,48%), yang berpendidikan SMA, 2 orang (5,88%), dan yang tidak sekolah ada 1 orang (2,94%). 2. Hasil Pemeriksaan Sampel Rambut. Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis langsung sampel rambut dengan KOH 25% . Pengambilan sampel rambut dibantu oleh tim yang telah dikoordinasi sebelumnya. Pemeriksaan nodul Piedra hitam dilakukan dengan menggunakan sampel rambut dan dikerjakan dengan reagen KOH 25% dan diperiksa secara

35

langsung dengan mikroskop. Sebelum dilakukan pemeriksaan mikroskopis, terlebih dahulu helaian rambut disortir dan bagian yang diambil adalah bagian akar sampai kira-kira 2 cm di atasnya dan bagian dari batang rambut yang terlihat memiliki benjolan. Hasil pemeriksaan sampel rambut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.1. Hasil pemeriksaan nodul Piedra hitam dan status hygine perseorangan petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kode Sampel S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 Skor 26 25 24 27 22 21 19 21 19 23 25 22 23 20 22 26 26 Status Hygine Sanitasi Baik Cukup Cukup Baik Cukup Cukup Kurang baik Cukup Kurang baik Cukup Cukup Cukup Cukup Kurang baik Cukup Baik Baik Piedra hitam Positif Negatif Negatif Negatif Positif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Positif Positif Positif Positif Positif Negatif Negatif

36

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 S25 S26 S27 S28 S29 S30 S31 S32 S33 S34

27 30 28 28 28 29 27 28 29 28 27 28 28 28 28 29 28

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

Negatif Positif Negatif Negatif Negatif Negatif Positif Positif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Positif Negatif Positif Negatif

Gambar 5.2 Grafik Distribusi Skor Hasil Kuesioner.


12 10 8 6 4 2 0 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

37

C. PENGOLAHAN DATA Dari hasil penelitian di atas, data yang didapatkan selanjutnya dilakukan analisa menggunakan program SPSS versi 16.0 dengan hasil sebagai berikut : Tabel 5.2 Status hygine perseorangan petani wanita
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Kurang baik baik Cukup Valid baik Total

8.8

8.8

8.8

10 21 34

29.4 61.8 100.0

29.4 61.8 100.0

38.2 100.0

Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa 8,8% petani wanita personal hygienenya kurang baik, 29,4% personal hygienenya cukup, dan 61,8% petani wanita personal hygienenya baik.

Gambar 5.3 Grafik distribusi hygine personal


70 60 50 40 30 20 10 0 baik cukup kurang baik hygine perseorangan

38

Tabel 5.2 Statistik Infeksi Piedra hitam

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

negatif

22

64.7

64.7

64.7

Valid

positif

12

35.3

35.3

100.0

Total

34

100.0

100.0

Dari tabel di atas dapat diketahui 35.3% petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya positif terinfeksi jamur Piedra hitam dan 64,7% petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya tidak terinfeksi jamur Piedra hitam. Gambar 5.4 Grafik Hasil Pemeriksaan Sampel Rambut
14 12 10 8 6 4 2 0 positif negatif Infeksi Piedra hitam

39

Kemudian data yang ada dianalisa dengan menggunakan program SPSS versi 16 dengan hasil sebagai berikut: 1.Hygine perseorangan dan Infeksi Jamur Piedra hitam

Tabel 5.4. Gambaran Deskriptif Statistik hasil pemeriksaan Piedra hitam pada. rambut petani wanita di desa limbung kabupaten kubu raya dihubungkan dengan status hygine perseorangan.
infeksi jamur

Negative

Positif

Total

hygiene personal

Kurang baik baik

Count

Expected Count

1.9

1.1

3.0

% within personal hygiene

66.7%

33.3%

100.0%

Cukup

Count

10

Expected Count

6.5

3.5

10.0

% within personal hygiene

50.0%

50.0%

100.0%

baik

Count

15

21

Expected Count

13.6

7.4

21.0

% within personal hygiene Total Count Expected Count % within personal hygiene

71.4% 22 22.0 64.7%

28.6% 12 12.0 35.3%

100.0% 34 34.0 100.0%

Chi-square Tests

40

Asymp. Sig. (2Value 1.368a 1.340 34 Df sided)

Pearson Chi-square Likelihood Ratio N of Valid Cases

2 2

.505 .512

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.06.

Gambar 5.5 Grafik Frekwensi Infeksi Piedra hitam Pada Tiap Status Hygine Perseorangan
25

20

15 negatif 10 positif

0 baik cukup kurang baik

Dari hasil pengolahan data melalui deskriptif statistik Chi-square dengan tingkat signifikan 5% diperoleh hasil p=0,512 karena nilai p-value 0,512 > 0,005 maka Ha ditolak, dengan demikian didapat hasil Infeksi Piedra Hitam tidak Berhubungan dengan Hygine perseorangan.

41

D. Pembahasan Setelah dilakukan uji statistik dengan uji Chi-square menggunakan program SPSS Versi 16 didapatkan angka probabilitas, p = 0,512 (p > 0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan antara hygine sanitasi personal petani wanita dengan infeksi Piedra hitam. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa penyakit oleh jamur adalah infeksi yang timbul karna kondisi lembab dan panas dari lingkungan.(16) Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden secara tertuntun dan observasi kebersihan personal terutama rambut menunjukkan bahwa 8,8% petani wanita hygine perseorangannya kurang baik, 29,4% hygine perseorangannya cukup, dan 61,8% hygine perseorangannya baik. Penelitian yang telah dilakukan memperoleh hasil positif pada mayoritas responden usia madya (40-59) dan lanjut usia (>60 tahun), hal ini mungkin berhubungan dengan kondisi fisik rambut yang melemah pada usia lanjut dan memudahkan infeksi oleh Piedra hitam. Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiapindividu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. (37) Menurut Darmojo & Martono, Lansia sering juga mengalami kerontokan rambut, untuk itu diperlukan perawatan rambut pada lansia, seperti mencuci

42

rambut pada lansia menggunakan sampo yang umumnya dilakukan tiga kali sehari.Meskipun kelompok usia lanjut relative kurang memperhatikan estetika penampilan, khususnya kulit, namun perhatian terhadap perawatan termasuk perawatan rambut dan kuku tetap diperlukan.(37)

Namun ditemukan 6 responden dengan hygine perseorangan baik positif terinfeksi jamur Piedra hitam dari sampel rambut yang diperiksa. Pada penelitian ini dilakukan teknik sampling total sampling, agar semua sampel yang diambil dapat mewakili populasi petani wanita di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya.
Pengamatan yang dilakukan pada kondisi lingkungan rumah responden, didapatkan beberapa rumah terbuat dari kayu dan papan, hal ini akan meningkatkan kelembaban di dalam rumah. Dari observasi juga didapat ruangan di beberapa rumah masih berlantai tanah. Menurut Bloom, lingkungan

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan selain perilaku, pelayanan kesehatan serta keturunan. Berbagai macam masalah kesehatan serta penyakit dapat timbul akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan terjadinya perubahan dan pencemaran lingkungan yang berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan. (36) Faktor yang merupakan ciri umum bagi suatu daerah dataran rendah di daerah tropis adalah suhu udara yang relatif panas atau tinggi, cukupkan khusus daerah Kalimantan Barat suhu yang tinggi ini diikuti pula dengan kelembaban udara yang tinggi. Suhu rata-rata di Kalbar adalah 28C, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi yaitu 65,3% dan curah hujan 165 mm/tahun, sehingga

43

petani akan punya resiko terinfeksi dermatomikosis tinggi karena kondisi kelembaban ini.
(36,37)

. Hal ini sesuai dengan teori Iman Budi Putra yang

menyatakan bahwa Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu kamar 25-30 C, dengan kelembaban 60%, walaupun demikian ada beberapa jamur patogen yang dapat tumbuh pada suhu 45-50 C.(13,14)

44

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian Hubungan Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani Wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara Hygine Perseorangan Terhadap Infeksi Piedra Hitam Pada Petani Wanita Di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya dimana p>0,05 ( = 0,512). B. Saran 1. Penelitian dapat dilanjutkan pada subyek (responden) berbeda umur, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan. 2. Penelitian lanjutan terhadap infeksi Piedra hitam dapat diarahkan pada penggunaan jilbab pada satu kelompok jenis responden, dibandingkan yang tidak menggunakan jilbab. 3. Rambut dengan nodul yang ditemukan dapat dikultur di media agar didapat koloni Piedra hitam, dan jamur lain yang menginfeksi rambut dapat diidentifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunwidjaja, D; 2005; Teknologi pertanian; Penerbit Swadaya; Jakarta. 2. Achmadi, fahmi, umar;2005; Kecelakaan Di Bidang Pertanian;jakarta; Universitas Indonesia;http://www.Kalbe.co.Id/ ( Diakses 12-2-2012 13:30 WIB) 3. Uhud, annasyiatull dkk; 2008; Buku pedoman k3 PSTKG; Surabaya; Universitas airlangga; http://www. Fkg.unair.ac.id.pdf/ ( Diakses 18-3-2012 10:00 WIB) 4. Suyono, joko; 1995; Deteksi dini penyakit akibat kerja (early detection of occupational diseases); Penerbit buku kedokteraran EGC; Jakarta. 5. Buchari; 2007; Penyakit akibat kerja dan terkait kerja; Medan ; Universitas Usu; http://www. pdf. com/ ( Diakses 20-1-2012 22:00 WIB) 6. Andrianto, petrus; 2000; Kapita selekta dermatovenerologi; Penerbit buku kedokteran EGC; Jakarta. 7. Artikel;Mikosis Superfisialis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr; Soetomo Surabaya Tahun 2003-2005; http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2110918.pdf/ (Diakses 12-1-2012 9:30 WIB) 8. Kementrian Kesehatan RI; 2011; Laporan Penyakit Berbasis Lingkungan; Kubu Raya. 9. Habeahan, Jariston;2009;Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Anak-anak Di Yayasan Panti Asuhan Rapha-El Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan; Universitas Sumatra Utara Medan; http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14706/1/10E00464.pdf/ (Diakses 15-1-2012 11:20 WIB) 10. Anonim; http://www.doctorfungus.org/thefungi/piedraia.php/ (Diakses 12-1-2012 19:35 WIB)

11.Schwartz, A Robert;2011; Piedra; http://emedicine;medscape;com/article/ 1092330- overview/ (Diakses 18-1-2012 20:10 WIB) 12.Wardani, Wahyu ; 2008; Kondisi Geomorfologi Kalimantan; Universitas Negeri Malang fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam; http.//www.scribd.com/doc/14848895/MAKALAH-GEOMORFOLOGIKALIMANTAN/ (Diakses 25-1-2012 10:20 WIB) 13.Kementrian Kesehatan RI;2011; Profil Kesehatan Kubu Raya 2011; Kubu Raya; 14.Kementrian Kesehatan RI;Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat 2007;http;//www.depkes.go.id.climate.pdf./ (Diakses 6-3-2012 19;35 WIB) 15.Puskesmas Sungai durian Kabupaten Kubu Raya; Kasus jamur kulit; Bulan januari november 2011. 16.Putra budi, imam; 2008; Malik; Adam; onikomokosis; Medan ; Universitas Usu RSUP;http// www. Ecureme. com / my health / data / Tenia unguium / asp. (Diakses 6-3-2012 19:35 WIB) 17.Purnawijayanti, A Hiarsinta; 2001; Sanitasi hygiene; dan keselamatan kerja dalam pengolahan makanan; Penerbit Kanisius; Yogyakarta. 18.Kurniawati, D. Ratna; 2006; Faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian Tenia Pedis Pada Pemulung di TPA jatibarang; Semarang; Universitas diponegoro;http// www.eprint.undip.ac.id (Diakses 8-3-2012 20:30 WIB) 19.Graham brown, robin dan Zakaria, anies; 2005; Lecture notes on dermatology;; Penerbit Erlangga; Jakarta. 20.Jawetz, dkk; 2004; Mikrobiologi kedokteran; Penerbit buku kedokteran EGC; Jakarta. 21.Tjokronegoro, arjatmo dan hendra utama; 2001; Tatalaksana mikosis sistemik; Penerbit FKUI; Jakarta. 22.Ginting, Agustaria; 2008; Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir; Universitas Sumatera Utara Medan;http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14707/1/09E0082 3.pdf/ (Diakses 22-1-2012 13:30 WIB)

23.Anonim;https;//www;aarpmedicareplans;com/elseviercontent/medicine-tineacorporis -tinea-cruris-tinea-nigra-and-piedra/4 (Diakses 13-1-2012 19:45 WIB) 24.Anonim; http://www.keratin.com/aq/aq005.shtml/ (Diakses 1-2-2012 19:50 WIB) 25.Figueras, J Mara et al;2000; Ultrastructural aspect of the keratinolytic activity of piedra; http://www.dermatophytes.reviberoammicol;com/p136141.pdf (Diakses 10-2-2012 19:30 WIB) 26.Mikrobiologi Farmasi Indonesia Melek Infeksi untuk Indonesia Sehat 2010 Piedra Hitam Mei 15; 2008 http://.mikrobia.wordpress.com/2008/05/15/piedra-hitam/ (Diakses 1-2-2012 20:30 WIB) 27.Jawetz; et al; 2008; Mikrobiologi Kedokteran; Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran (EGC). 28.Artikel;South African medical journal;Black Piedra In A Child With Pili Torti; Bamboo Hair Dan Congenital Ichthyosiform Erythroderma; Cape town; 18 march 1961; http://archive;samj;org;za/1961%20vol%20xxxv%20janjun/articles/03%20march/3;1%20black%20piedra%20in%20a%20child% 20with%20pili%20torti;%20bamboo%20hair%20and%20congenital%20i chthyosiform%20erythroderm.pdf/ (Diakses 13-1-2012 19:30 WIB) 29.Anonim;http://www;oneclickpharmacy;co;uk/health/index;php/diseaseaconditio ns/79s/5923superficialfungalinfections+Piedraia+hortae+white+piedra &cd 24 &hl=en&ct=clnk&gl=u/ (Diakses 13-1-2012 19:30 WIB) 30.Boel;Trelia;2003; Mikosis Superfisial;Fakultas Kedoteran Gigi Universitas Sumatera Utara) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1174/1/ fkg-trelia1.pdf/ (Diakses 15-1-2012 19:30 WIB) 31.Dharmojono;2001; Penyakit Jakarta;Erlangga. Menular Dari Binatang Kemanusia;

32.Muray, R. Patrick; et al; 1995; Manual of Clinical Microbiology;Washington DC.ASM PRESS.

33.Gupta, Aditya K;2003;Tinea corporis, tinea cruris, tinea nigra, and piedra http://gavilan.uis.edu.co/~laperez/docencia/asignatura3/pdfs/Tineas.pdf/ (Diakses 13-2-2012 21:30 WIB)

34.Notoatmodjo, S;2005;Metodologi Penelitian Kesehatan; Jakarta ; Rineka Cipta. 35.Saepudin, Malik; 2011; Metodologi Penelitian Kesehatan Masyarakat;Jakarta; TIM;(Trans Info Media) 36.Notoatmodjo; Soekidjo; 2010; Metodologi Penelitian Kesehatan; Jakarta; PT; Rineka Cipta. 37.Anonim;http.//www.kti-skripsi.net/2012/05/gambaran-personal-hygiene-padalanjut.html/ (Diakses 22-7-2012 10:30 WIB)

KUISIONER No Nama : :

Alamat :

Sumber air apa yang anda pakai untuk mandi? a. sungai c. ledeng b. kolam d. air hujan Apa tingkat pendidikan terakhir anda? a. sd c. sma b. smp d. tidak pernah bersekolah sama sekali Sudah berapa lama anda bertani/berkebun? a. < 5 tahun b.> 5 tahun Kapan terakhir anda potong rambut? a. >3 bulan b< 3 bulan

1. Apakah anda menggunakan alat pelindung kepala/rambut saat bekerja ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1) 2. Apakah anda memakai sisir rambut pribadi ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1) 3. Apakah anda mandi dengan sabun sepulang bertani ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1)

4. Berapa kali dalam sehari anda mandi dengan sabun ? a. 3 kali (3) b. 2 kali (2) c. 1 kali (1) 5. Dengan apa biasanya anda membersihkan/mencuci rambut ? a. dengan sampo (3) b. dengan sabun mandi (2) c. dengan air saja (1) 6. Berapa kali anda menyampo rambut dalam seminggu? a. 2 kali seminggu (3) b. 1 kali seminggu (2) c. setiap 2 minggu (1) 7. Apakah anda membasahi rambut setiap mandi ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1) 8. Apakah anda mengeringkan rambut dengan handuk kering setelah mandi ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1) 9. Apakah anda memakai handuk pribadi setelah mandi ? a. Sering (3) b. Jarang (2) c. Tidak pernah (1) 10. Apakah anda mulai beraktivitas dengan rambut setengah kering ? a. Tidak pernah (3) b. Jarang (2) c. Sering (1)

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat Jabatan : : :

Bahwa yang bernama disebutkan di atas mewakili dari seluruh petani di Desa Limbung Kabupaten Kubu Raya bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian karya tulis ilmiah. Surat persetujuan ini dibuat dengan sebenarbenarnya dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Peneliti,

Responden

ANANDA WIDYA PRATAMA Nim A0.09.04.0005

Dokumentasi Penelitian Lingkungan kerja petani

Pengisian kuesioner

Responden diminta menyisir rambut dengan sisir rapat

Sampel rambut dimasukkan kedalam plastik klip

Persiapan sampel, alat dan bahan

Pemeriksaan mikroskopis sampel