Anda di halaman 1dari 7

Vaksin BCG menyebabkan penyakit dan kematian pada bayi HIV-positif

Vaksin BCG menyebabkan penyakit dan kematian pada bayi HIV-positif <a href= Oleh: The Kaiser Daily HIV/AIDS Report Tgl. laporan: 6 November 2007 Vaksin BCG, yang ditujukan untuk mencegah tuberkulosis (TB) pada anak di negara berkembang, dapat menyebabkan penyakit dan kematian di antara beberapa bayi HIV-positif. Hal ini dikatakan para peneliti dalam surat kabar Los Angeles Times. Temuan ini tercakup dalam laporan tentang koepidemi HIV/TB yang diterbitkan oleh Forum for Collaborative HIV Research pada 1 November 2007. Laporan ini mengatakan bahwa “manfaat yang berpotensi mencegah TB berat” pada bayi HIV - positif adalah “risiko terkait lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan vaksin BCG.” WHO menyarankan agar semua bayi yang sehat harus menerima vaksin BCG segera setelah lahir. Tetapi, lembaga ini mengeluarkan laporan pada Mei 2007, yang mengubah pendapatnya karena bukti menunjukkan bahwa bayi HIV-positif lebih berisiko mengembangkan penyakit BCG. Vaksin BCG berdasarkan pada rangkaian bakteri penyebab TB yang dilemahkan, yang ditemukan pada ternak. Banyak bayi yang menerima vaksin BCG ini adalah HIV-positif saat lahir dan oleh karena itu mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah. Hal ini mengakibatkan mereka rentan terhadap penyakit BCG, yang disebabkan oleh bakteri sapi ini yang ada pada vaksin. Sebuah penelitian menemukan bahwa vaksin tersebut memiliki 75% tingkat mortalitas di antara anak dengan penyakit BCG dan 70% anak tersebut adalah HIV-positif. Hal ini dikatakan oleh Mark Cotton – rekan penulis laporan forum dan para peneliti HIV/AIDS di Universitas Stellenbosch Afrika Selatan. Menurut Cotton, diperkirakan 400 dari setiap 100.000 bayi HIV-positif di provinsi Western Cape, Afrika Selatan menjadi sakit akibat vaksin BCG, dan belum diketahui seberapa besar masalah ini di seluruh Afrika. Reaksi “Jelas bahwa ini adalah masalah yang segera membutuhkan perhatian,” Cotton mengatakan, menambahkan, “Hal ini adalah masalah utama apabila a kses diagnosis HIV ditunda atau penundaan ART.” Cotton mengatakan jalan keluar terbaik adalah diagnosis dan pengobatan lebih dini pada bayi HIV-positif. Veronica Miller, rekan penulis laporan ini dan direktur forum, mengatakan bahwa ada kebutuhan “mendesak” untuk mengubah program vaksinasi di Afrika sub-Sahara, termasuk tes yang lebih baik untuk menentukan bayi yang HIV-positif sebelum diberi vaksinasi. Artikel asli: BCG Vaccine Causing Illness, Death Among HIV-Positive Infants, Report Says JASA PENCEGAHAN & KONTROL TUBERKULOSIS (Klinik Pernapasan) VAKSINASI BCG (Bacillus Calmette-Guerin) BCG (Bacillus Calmette-Guerin) VACCINATION Informasi untuk Pasien Information for Patients " id="pdf-obj-0-4" src="pdf-obj-0-4.jpg">

Unduh versi PDF

Oleh: The Kaiser Daily HIV/AIDS Report

Tgl. laporan: 6 November 2007

Vaksin BCG, yang ditujukan untuk mencegah tuberkulosis (TB) pada anak di negara

berkembang, dapat menyebabkan penyakit dan kematian di antara beberapa bayi HIV-positif. Hal ini dikatakan para peneliti dalam surat kabar Los Angeles Times. Temuan ini tercakup dalam laporan tentang koepidemi HIV/TB yang diterbitkan oleh Forum for Collaborative

HIV Research pada 1 November 2007. Laporan ini mengatakan bahwa “manfaat yang berpotensi mencegah TB berat” pada bayi HIV-positif adalah “risiko terkait lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan vaksin BCG.”

WHO menyarankan agar semua bayi yang sehat harus menerima vaksin BCG segera setelah lahir. Tetapi, lembaga ini mengeluarkan laporan pada Mei 2007, yang mengubah pendapatnya karena bukti menunjukkan bahwa bayi HIV-positif lebih berisiko mengembangkan penyakit BCG. Vaksin BCG berdasarkan pada rangkaian bakteri penyebab TB yang dilemahkan, yang ditemukan pada ternak. Banyak bayi yang menerima vaksin BCG ini adalah HIV-positif saat lahir dan oleh karena itu mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah. Hal ini mengakibatkan mereka rentan terhadap penyakit BCG, yang disebabkan oleh bakteri sapi ini yang ada pada vaksin.

Sebuah penelitian menemukan bahwa vaksin tersebut memiliki 75% tingkat mortalitas di antara anak dengan penyakit BCG dan 70% anak tersebut adalah HIV-positif. Hal ini dikatakan oleh Mark Cotton rekan penulis laporan forum dan para peneliti HIV/AIDS di Universitas Stellenbosch Afrika Selatan.

Menurut Cotton, diperkirakan 400 dari setiap 100.000 bayi HIV-positif di provinsi Western Cape, Afrika Selatan menjadi sakit akibat vaksin BCG, dan belum diketahui seberapa besar masalah ini di seluruh Afrika.

Reaksi

“Jelas bahwa ini adalah masalah yang segera membutuhkan perhatian,” Cotton mengatakan, menambahkan, “Hal ini adalah masalah utama apabila akses diagnosis HIV ditunda atau penundaan ART.” Cotton mengatakan jalan keluar terbaik adalah diagnosis dan pengobatan

lebih dini pada bayi HIV-positif. Veronica Miller, rekan penulis laporan ini dan direktur

forum, mengatakan bahwa ada kebutuhan “mendesak” untuk mengubah program vaksinasi di

Afrika sub-Sahara, termasuk tes yang lebih baik untuk menentukan bayi yang HIV-positif sebelum diberi vaksinasi.

JASA PENCEGAHAN & KONTROL TUBERKULOSIS (Klinik Pernapasan)

VAKSINASI BCG (Bacillus Calmette-Guerin)

BCG (Bacillus Calmette-Guerin) VACCINATION

Informasi untuk Pasien

Information for Patients

Tuberkulosis (TBC) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri (yang dikenal sebagai Mycobacterium tuberculosis). TBC paru-paru merupakan bentuk penyakit yang paling sering ditemui meskipun penyakit dapat timbul di manapun di tubuh. TBC paru-paru menular dari satu orang ke orang lain sewaktu tetesan dihembus dengan kuat ke udara sewaktu batuk, bersin atau menyanyi. Orang yang berada dekat dapat menghirup tetesan ini dan terinfeksi. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak mempunyai gejala, tetapi sebagian kecil orang mengalami penyakit TBC aktif, sering bertahun-tahun setelah infeksi yang asal. Orang yang mempunyai risiko terinfeksi adalah:

Pengunjung ke negara di mana TBC sering ditemui, mis. sebagian besar Asia dan Afrika Petugas kesehatan dan penjaga kelompok risiko TBC tinggi Anggota keluarga dekat orang yang mempunyai TBC.

Apakah Vaksin BCG? Vaksin BCG merupakan vaksin hidup yang memberi sedikit perlindungan terhadap TBC. Vaksin TBC tidak mencegah dari terinfeksi jika Anda terekspos

kepada bakteri (kuman) TBC, tetapi jauh lebih mungkin Anda akan mengalami infeksi kecil terbatas dan bukannya penyakit yang amat parah dan mengancam nyawa. Vaksin BCG dapat memakan waktu 6-12 minggu untuk menghasilkan efek (perlindungan) kekebalannya. Vaksinasi BCG mungkin hanya memberi kekebalan 50-60% terhadap tuberkulosis dan bagi beberapa individu vaksin ini kurang efektif dengan berlalunya waktu, adakalanya dalam waktu 5-15 tahun. Anak-anak yang paling menerima manfaat. Bagi anak-anak, vaksin BCG mungkin mencegah dari timbulnya bentuk TBC yang parah, misalnya TBC di otak (meningitis TBC). Manfaat bagi kaum dewasa kurang jelas.

Anda akan memerlukan Tes Kulit Tuberkulin (tes Mantoux) [Tuberculin Skin Test

(Mantoux test)] sebelum vaksinasi untuk menentukan apakah Anda belum positif untuk tes kulit tuberkulin dari infeksi TBC sebelum ini, atau setelah vaksinasi BCG. Orang yang mempunyai tes kulit Tuberkulin positif tidak akan mendapat manfaat dari vaksin ini dan mungkin mengalami reaksi yang parah di tempat vaksinasi. Salah satu kekurangan setelah vaksinasi BCG adalah bahwa tes kulit Tuberkulin kelak sering positif. Ini berarti bahwa kita mungkin tidak dapat menentukan apakah reaksi tersebut disebabkan oleh infeksi TBC atau sebagai hasil dari vaksinasi BCG. Ada beberapa orang yang seharusnya tidak menerima vaksinasi BCG. Orang dengan kekebalan yang kurang, menderita penyakit seperti cacar air pada saat ini, atau baru menerima vaksinasi hidup mis. untuk campak, mungkin dinasihat agar tidak mendapatkan BCG. Penilaian perorangan dilakukan sebelum BCG dan Anda akan diharuskan menandatangani Formulir Izin sebelum vaksinasi. BCG dan vaksin hidup yang lain. Orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri dan perlu menerima lebih dari satu vaksin sebelum berangkat, harus: a) menerima semua vaksin pada hari yang sama, atau b) menunggu sekurang-kurangnya 4 minggu antara vaksin BCG dan vaksin lainnya. Ini adalah untuk memberi sistem kekebalan (ketahanan) tubuh peluang yang terbaik untuk menghasilkan kekebalan (perlindungan) yang perlu. Beberapa vaksin hidup yang

lain adalah: Tifoid oral, Demam Kuning, dan Gondok, Campak, Rubela (MMR). BCG dan polio oral dapat diberikan dalam jangka waktu 4 minggu tersebut.

BCG . Information for Patients

References:

BCG Vaccine and Consumer Medicine Information: Connaught Laboratories: Canada. Winks M, Levy M, Westly-Wise V. and The NSW Tuberculosis Advisory Committee. (1994). Controlling Tuberculosis in New South

Wales. New South Wales Health Department. North Sydney. Barclay L. A review of BCG complications since the introduction of a different BCG vaccine. 2000. CDC: Darwin.

(See http://www.nt.gov.au/nths/publich/cdc/vol5/bcg.htm)

Colditz GA, Brewer TF, Berkley CS, Wilson ME, et al Efficacy of BCG vaccine in the prevention of tuberculosis - Meta-analysis of the published literature. JAMA 1994; 271 (9): 698-702. Grange JM. Complications of bacille Calmette-Guerin (BCG) vaccination and immunotherapy and their management. Comm Dis Pub Hlth 1998; 1 (2): 84-8. The Role of BCG Vaccine in the Prevention and Control of Tuberculosis in the United States. MWR: April 26, 1996 / Vol. 44 / No. RR-4. US Department of Health and Human Services. The Australian Immunisation Handbook 7th Edition: National Health & Medical Research Council.

Page 2 of 2 June 2003

Apakah ada apa-apa efek sampingan dengan vaksinasi BCG? Sama seperti untuk vaksin apapun, efek sampingan dapat terjadi dan berlainan dari satu orang ke orang lain. Adakalanya tempat vaksinasi menjadi sakit, merah dan bengkak. Ini biasanya akan sembuh tanpa perawatan. Pembengkakan kelenjar di ketiak atau leher juga mungkin terjadi, dan adakalanya memerlukan perawatan. Jarang sekali vaksinasi dapat mengakibatkan infeksi BCG menyeluruh. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang mempunyai kekebalan yang rendah, termasuk mereka yang HIV positif, kekurangan gizi atau mempunyai keadaan medis yang parah. Dalam beberapa kasus yang jarang, telah terjadi kematian. Oleh karena BCG tidak mencegah dari risiko tuberkulosis sepenuhnya, penting agar Anda mengetahui gejala-gejala penyakit TBC aktif, misalnya: batuk terus-menerus (lebih dari dua minggu), batuk dengan dahak berdarah, demam, keringat malam, berat badan yang menurun dan kecapaian tanpa sebab. Gejala-gejala ini dapat terjadi karena banyak sebab, tetapi jika Anda mengalaminya Anda harus berkonsultasi ke klinik pernapasan setempat atau dokter keluarga Anda dan melakukan sinar X dada. Apa yang terjadi setelah vaksinasi BCG? Setelah vaksinasi, papul (bintik) merah yang kecil timbul dalam waktu satu sampai tiga minggu. Papul ini akan semakin lunak dan hancur, dan mengakibatkan luka yang kecil bagi kebanyakan orang. Luka ini mungkin memakan waktu sampai tiga bulan untuk sembuh, dan biasanya meninggalkan bekas luka yang kecil.

Jaga tempat vaksinasi dengan cara berikut:

Biarkan tempat vaksinasi sembuh sendiri dan pastikan agar tetap BERSIH DAN KERING. Jangan menggunakan krim atau salep Jika perlu, pakai pembalut ayakan steril dengan longgar tetapi JANGAN gunakan plester yang melekat, Band-aid, kapas atau kain langsung pada tempat vaksinasi Coba jangan terpukul atau tergarut tempat vaksinasi Anda dapat terus melakukan kegiatan biasa seperti mandi, berenang dan melakukan

Penggunaan Vaksin BCG untuk Pencegahan Tuberculosis

(Indah Setiarini, S.Farm / 078115054)

Tuberculosis atau lebih sering disebut dengan TBC adalah infeksi kronis bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis menderita TBC tanpa mengalami gejala, hal ini yang disebut dengan latent tuberculosis. Jika daya tahan tubuh mengalami penurunan karena usia, malnutrisi, infeksi seperti HIV, atau karena faktor lain, bakteri akan aktif dan menyebabkan active tuberculosis.

Berdasarkan data WHO, setiap tahun, sekitar 8 juta orang di seluruh dunia mengalami active tuberculosis dan hampir 2 juta diantaranya meninggal dunia.

TBC seperti telah disebutkan sebelumnya disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru. Akan tetapi, bakteri tuberculosis juga dapat menyerang bagian lain tubuh seperti ginjal, spine, dan otak.

TBC menyebar melalui udara dari satu orang ke orang lainnya. Bakteri tuberculosis terdapat pada udara ketika orang dengan active tuberculosis mengalami batuk atau bersin. Orang- orang yang ada di sekitarnya mungkin menghirup udara yang mengandung bakteri ini dan selanjutnya menjadi terinfeksi.

Pada orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis, secara alamiah tubuh memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan perkembangan bakteri. Akibatnya bakteri menjadi inaktif, tetapi masih tetap tinggal di dalam tubuh. Inilah yang disebut dengan latent tuberculosis. Pasien yang mengalami latent tuberculosis memiliki ciri-ciri:

  • 1. Tidak mengalami gejala TBC.

  • 2. Tidak merasa sakit.

  • 3. Tidak dapat menyebarkan bakteri tuberculosis.

  • 4. Biasanya pada PPD test (tuberculosis skin test reaction) memberikan hasil positif.

  • 5. Pada beberapa kasus, dapat mengalami perkembangan menjadi active tuberculosis jika

tidak menerima terapi.

Apabila pasien yang tidak menerima pengobatan, mengalami penurunan daya tahan tubuh maka latent tuberculosis akan berkembang menjadi active tuberculosis. Active tuberculosis adalah kondisi di mana sistem imun tubuh tidak mampu untuk melawan bakteri tuberculosis yang terdapat dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi terutama pada bagian paru-paru. Gejala untuk active tuberculosis meliputi :

  • 1. Batuk berkepanjangan selama 3 minggu atau lebih.

3.

Batuk berdahak atau berdarah.

  • 4. Penurunan berat badan.

  • 5. Demam, menggigil, dan berkeringat pada malam hari.

  • 6. Kelelahan dan kehilangan selera makan.

Diagnosis untuk TBC dapat dilakukan dengan Tuberculin test dan Uji mikrobiologi.

Sasaran untuk terapi TBC adalah pada bakteri Mycobaterium tuberculosis dan pada sistem imun tubuh. Tujuan terapi untuk TBC adalah sedapat mungkin bersifat preventif atau pencegahan timbulnya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan bila telah terjadi infeksi maka menghilangkan gejala TBC, mencegah keparahan, dan sembuh. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk terapi TBC adalah :

  • 1. Penggunaan vaksin BCG (bacille Calmette -Guerin).

  • 2. Pengobatan pada pasien latent tuberculosis.

  • 3. Pengobatan pada pasien active tuberculosis dengan menggunakan antibiotik (isoniazid,

rifampin, dsb) selama kurang

lebih 6 bulan.

Selanjutnya yang akan dibahas lebih lanjut adalah tentang penggunaan vaksin BCG untuk pencegahan TBC.

Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin 1 yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC dan telah digunakan sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang hasil uji tuberculinnya negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya posistif atau telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk pasien yang telah terinfeksi TBC.

Vaksin BCG merupakan serbuk yang dikering-bekukan untuk injeksi berupa suspensi. Sebelum digunakan serbuk vaksin BCG harus dilarutkan dalam pelarut khusus yang telah disediakan secara terpisah. Penyimpanan sediaan vaksin BCG diletakkan pada ruang atau tempat bersuhu 2 8 o C serta terlindung dari cahaya. Pemberian vaksin BCG biasanya

dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan (tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:

  • 1. Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak

0,05ml (0,05mg).

  • 2. Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,1

ml (0,1mg).

Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10 15 tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -15 tahun.

Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami gangguan pada kulit seperti atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak diberikan untuk :

  • 1. Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien HIV, pasien yang

mengkonsumsi obat-obat menerima transplantasi organ.

kortikosteroid (immunosuppressan), atau baru saja

  • 2. Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan efek bahaya

dari pemberian vaksin BCG

terhadap wanita hamil dan menyusui.

Beberapa adverse reaction yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin BCG antara lain:

Nyeri pada tempat injeksi, terjadi ulcer atau keloid karena kesalahan pada saat injeksi.

Kelebihan dosis dan pemberian vaksin pada pasien dengan tuberculin positif.

Sakit kepala, demam, dan timbul reaksi alergi

Beberapa contoh vaksin BCG yang tersedia di Indonesia adalah : Vaksin BCG kering (Bio Farma) dan BCG Vaccine SSI (Statent Serum Institut Denmark).

1 Attenuated vaksin : vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang

dibiakkan di bawah kondisi yang

tidak sesuai agar kehilangan virulensinya tetapi tetap

mempunyai kemampuan untuk menginduksi kekebalan.

Daftar Pustaka

Anonim, 1998, Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, ECG, Jakarta

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 431, 432, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Simon, Harvey E., 2002, Infections due to Mycobacteria, in Infectious Disease: The Clinician’s Guide to Diagnosis, Treatment, and Prevention, WebMD Profesional Publishing