Anda di halaman 1dari 5

Cara Mengatasi Pedagang kaki Lima di Kawasan Kosambi dan Cicadas Dilihat Dari Aspek Perencanaan dan Hukum

Pengantar Di kota-kota besar keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan suatu fenomena kegiatan perekonomian rakyat kecil. Akhir-akhir ini fenomena penggusuran terhadap para PKL marak terjadi. Para PKL digusur oleh aparat pemerintah seolah-olah mereka tidak memiliki hak asasi manusia dalam bidang ekonomi sosial dan budaya (EKOSOB). Saya melihat PKL ini merupakan fenomena kegiatan perkonomian rakyat kecil, yang mana mereka berdagang hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Pedagang Kaki Lima ini timbul dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata diseluruh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia ) ini. PKL ini juga timbul dari akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi. Pemerintah dalam hal ini sebenarnya memiliki tanggung jawab didalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan, bidang perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan. Ketentuan ini diatur dalam peraturan perundang-undangan yang tertinggi yaitu UUD 45. Diantaranya adalah : Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 31 UUD 45 : (1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Pasal 33 UUD 45 : (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Pasal 34 UUD 45 : (1) Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara (2) Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Dengan adanya pengaturan mengenai tanggung jawab pemerintah dalam UUD 45, hal ini menunjukkan bahwa Negara kita adalah Negara hukum. Segala hal yang berkaitan dengan kewenangan, tanggung jawab, kewajiban, dan hak serta sanksi semuanya diatur oleh hukum. Akan tetapi ternyata ketentuan-ketentuan diatas hanya berkutat pada kertas saja. Ketentuanketentuan yang mengatur mengenai tanggung jawab pemerintah dalam bidang pendidikan, perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan belum pernah terealisasi secara sempurna.

Pasal-pasal mengenai PKL yang bermasalah didalam perda K3 kota Bandung Didalam perda K3 ini terdapat pasal mengenai PKL yang rancu bila kita mencoba untuk menafsirkannya. Adapun pasal tersebut adalah : Pasal 49 ayat (1) Perda nomor.11 tahun 1005 berbunyi : bahwa setiap orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan berupa : berusaha atau berdagang di trotoar ; badan jalan/jalan; taman; jalur hijau dan tempat-tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa izin dari walikota dikenakan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah ) dan/atau sanksi administrative berupa penahanan untuk sementara waktu KTP atau kartu tanda identitas penduduk lainnya. Mendirikan kios dan/atau berjualan di trotoar; taman; jalur hijau; melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan kelengkapan taman atau jalur hijau dikenakan pembebanan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah ) dan atau sanksi administrative berupa penahanan sementara KTP atau kartu identitas penduduk lainnya. Didalam pasal ini terdapat kata-kata yang berbunyi tempat-tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa mendapat izin dari walikota. Kata-kata ini dapat menimbulkan peluang adanya kesewenang-wenangan pemkot didalam menentukan tempat yang tidak memperbolehkan para PKL untuk berjualan. Harusnya kata-kata ini lebih diperinci lagi hingga tempat-tempat seperti apa saja yang tidak memperbolehkan PKL untuk berjualan. Karena bila tidak DIPERINCI, maka akan dapat memberi peluang untuk mematikan hak-hak Ekonomi PKL pada suatu tempat, yang mana tempat tersebut dapat memberi peluang untuk mendapatkan keuntungan didalam berdagang. Untuk itu pemerintah kota harus menjelaskan secara terperinci tempat-tempat seperti apa saja yang dilarang atau pun yang diperbolehkan didalam berdagang. Apabila hanya tempat tempat yang dilarang saja yang disebutkan, maka pemerintah sama saja dengan menghilangkan hak-hak rakyat dalam mengakses pendapatan dari perputaran kegiatan ekonomi di suatu tempat yang strategis. Secara hukum para PKL ini sudah dijamin hak nya dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Seperti yang terjadi di kawasan Cicadas dapat kita ketahui bahwa PKL disana sangat menjamur memenuhi bahu jalan dan Garis Sempadan Bangunan (GSB). Hasil wawancara yang didapatkan dari salah seorang pedagang disana diketahui bahwa sebagian besar para Pedagang kaki Lima Disana adalah para pendatang dari luar Kota Bandung dan para pegawai yang telah di PHK dari tempat mereka bekerja. Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa banyaknya PKL di kawasan tersebut walaupun sudah sering ditertibkan oleh para SATPOL PP dikarenakan sebagian besar PKL sudah mempunyai perjanjian dengan para SATPOL PP atau sudah memberikan uang agar lapak mereka tidak di musnahkan atau digusur. Ada juga faktor penyebabnya masih sangat banyaknya PKL dikawasan itu karena mereka sudah lama mendiami lapak itu dan para pedagang tersebut kebanyakan meneruskan usaha dari orang tuanya terdahulu, karena itu menurut hemat saya untuk memecahkan permasalahan tersebut harus dilakukan cara yang tepat oleh pemerintah Kota Bandung, diantaranya yaitu : Sebagai solusi untuk mengatasi masalah pedagang kaki lima di kota Bandung yaitu dengan meninjaklanjuti Peraturan Daerah (Perda) yang telah ditetapkan mengenai penataan PKL dengan menentukan zona-zona bagi keberadaan PKL. Pemerintah daerah perlu mencarikan lahan-lahan khusus di lokasi-lokasi strategis untuk para PKL. Mereka harus diatur dan tidak boleh sembarangan hingga ke badan jalan, yang mengganggu peruntukan bagi pejalan kaki dan lalu lintas kendaraan bermotor. Dalam merelokasi PKL ke lahan-lahan yang telah disediakan nantinya, pemerintah sudah seharusnya mensosialisasikan program relokasi tersebut kepada pihak-pihak yang terlibat (pemerintah dan pedagang). Upaya penataan kota dari PKL harus dilakukan dengan tidak merugikan antara kedua belah pihak, dimana pedagang tetap mendapat keuntungan di tempat yang baru dan pemerintah dapat mewujudkan suasana perkotaan yang aman, nyaman, dan tentram sehingga perekonomian kota tetap berjalan lancar. Dari proses sosialisasi ini pemerintah diharapkan menerapkan sistem bottom up dimana pemerintah harus dapat mengakomodasi apa yang menjadi keinginan dari para pedagang. Dalam sosialisasi, pemerintah juga dapat menyampaiakan apa yang menjadi program pemerintah terhadap PKL. Dengan cara yang

demikian, dapat dihindari konflik yang berujung dengan bentrokan fisik, yang sering terjadi antara pihak pedagang dan satpol PP (pihak pemerintah), sehingga pedagang kaki lima merasa aman dalam melaksanakan bisnisnya serta merasa terayomi dan pemerintah sebagai abdi negara dan abdi masyarakat bukan hanya sebagai slogan belaka tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan yang nyata.