Anda di halaman 1dari 10

JARIMAH MURTAD (RIDDAH)

Makalah ini diajukan sebagai tugas mandiri pada mata kuliah Hukum Pidana Islam

Oleh : Raden Wachyu Wardhana

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI BANDUNG 2007

JARIMAH MURTAD (RIDDAH)

A. Pengertian Dan Unsur-Unsur Riddah 1. Pengertian Nash yang berkaitan dengan kemurtadan dalam al-quran adalah :


Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.

barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Rasullah SAW. Bersabda : barang siapa menggantikan Agamanya, maka bunuhlah ia(HR bukhari dan ibn Abas). Arti Riddah menurut Bahasa adalah kembali. Menurut Syara keluar dari Islam. 2. Unsur-Unsur Riddah unsur-unsur riddah adalah : a. b. keluar dari islam ada itikad tidak baik. Yang di maksud murtad dengan keluar dari islam disebutkan o0leh para ulama ada tiga macam : a. b. c. murtad dengan perbuatan atau meninggalkan perbuatan. Murtad dengan perbuatan Murtad dengan itikad Yang di maksud dengan murtad dengan perbuatan adalah melakukan perbuatan yang haram dengan menganggapnya tidak haram atau meninggalkan perbuatan wajib dengan menganggapnya tidak wajib, baik dengan sengaja mmaupun dengan menyepelekan. Misalnya sujud kepada

matahari atau bulan, melemparkan al-quran dan berzina dengan menganggap zina bukan suatu perbuatan yang haram. Murtad dengan ucapan dalah ucapan yang menunjukkan kekafiran, seperti menyatakan bahwa Allah punya anak dengan anggapan bahwa ucapan tersebut tidak dilarang. Adapun murtad dengan itikad adalah itikad yang tidak sesuai dengan itikad (akidah) Islam, seperti beritikad langgenya alam, Allah itu sama dengan mahluk. Sesungguhnya itikad an sich tidak menyebabkan seorang menjadi kufur sebelum dibuktikan dalam bentuk ucapan atau perbuatan, berdasarkan hadits Rasullah SAW : sesunggunya allah memaafkan bagi umatku bayangan-bayangan yang menggoda dan begelora dalam jiwanya selama belum di amalkan atau dibicarakan. (HR Muslim dari Abu Hurairah). Jadi, berdasarkan hadits di atas apapun itikad seseorang muslim yang bertentangan dengan ajaran Islam tidaklah di anggap menyebabkan keluar dari Islam sebelum ia mengucapkan atau mengamalkanya. Adapun hukumanya nanti terserah kepada Allah, di antara contohnya adalah sihir. Para ulama sepakat terhadap keharaman sihir dan mempelajarinya. Anak dari yang murtad, baik yang murtad ibu/bapaknya tetap anak muslim. Akan tetapi setelah dewasa ia harus menyatakan agamanya, sedangkan anak yang di kandund dan di lahirkan oleh orang murtad untuk selamanya di hukumi sebagai anak kafir.

Suatu prinsip yand di pegang oleh imam Abu Hanifah, Imam SafiI, Imam Ahmad, dan Zaidiyah bila seseorang ibu atau bapak masuk islam, maka anak-anaknya yang masih kecil dihukumi muslim. Akan tetapi, Imam Malik berpendapat bahwa agama anaknya mengikuti agamam bapaknya. Artinya, jika bapaknya islam, maka anak-anaknya yang masih kecil di hukumi muslim. Namun demikian, tidak halnya ibunya yang muslim.

B. Sanksi Riddah Pebuatan riddah di ancam dengan tiga macam hukuman : a. hukuman pokok b. hukuman pengganti c. hukuman tambahan hukuman pokok jarimah riddah adalah hukuman mati, sesuai dengan hadist Rasullah SAW. Barangsiapa menggantikan agamanya, maka bunuhlah ia . (HR Bukhari dari Ibn Abas). Sebalum dilaksanakan hukuman, orang yang murtad itu harus di beri kasempatan untuk bertobat. Waktu yang di sediakan baginya untuk bertobat itu adallah 3 hari 3 malam menurut Imam Malik. Menurut Imam Abu Hanifah, ketentuan batas waktu untuk bertobat itu harus diserahkan kepada ulul Amri, dan batas itu selambat-lambatnya 3 hari 3 malam.

Tobatnya orang yang murtad cukup dengan mengucapkan du kalimah sahadat. Selain itu, iapun mengakui bahwa apa yang dilakukanya ketika murtad bertentangan dengan Agama Isalam. Hukuman pengganti diberikan apabila hukuman pokok tidak dapat diterapkan. Hukuman pengganti ini berupa tazir. Hukuman tambahan adalah merampas hartanya dan hilangnya hak terpidana untuk bertasharuf (mengelola) hartanya. Menurut Imam Malik, Imam SyafiI, dan Imam Ahmad bila orang murtad ituj meninggal, maka hartanya menjadi harta musyi, yaituj tidak dapat diwariskan, baik kepada orang muslim maupun non muslim.

Menurut Ulama lain, harta itu di kuasai oleh pemerintah dan menjadi harta fay. Menurut mazhab Hanafi, bila harta itu didapatkan pada waktu ia muslim, maka di wariskan kepada ahli warisnya yang muslim dan harta yang didapatkan ketika ia murtad, maka hartanya menjadi milik Pemerintah. Factor penyebab perbedaan mereka adalah perbedaan penafsiran mereka terhadap hadits : orang kafir tidak dapat mewaris harta pusaka orang muslim dan orang muslim tidak dapat mewaris harta pusaka orang kafir (HR Muslim dari Usamah bin Zayd). Alas an imam Malik, Imam SyafiI, dan Imam Ahmad sehubungan dengan ketidakbolehan harta orang muslim di wariskan kepada ahli warisnya yang non muslim karena ia termasuk kafir, sedangkan ahli

warisnya muslim. Sedangkkan alas an imam Abu hanifah dan SahabatSahabatnya sehubungan dengan kebolehan harta orang murtad di warisakan kepada ahli warisnya yang muslim adalah karena harta orang murtad itu disamakan dengan harta yang meniggal. Menurut Zaidiyah, Abu yusuf, Muhamad dan Zahiri, harta orang murtad itu dapat diwariskan kepada ahli warisnya yang kafir. Tentu saja, bila ada. Tidak menjadi harta fay , dan tidak diwariskan kepada ahli warisnya yang muslim. Berkenaan dengan hukuman tambahan, berupa hilangnya hhak mengelola harta, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang rajah dalam mazhab Hanafi, SyafiI, dan hambali bahwa perbuata orang murtad terhadap hartanya, baik yang di dapat sebelum atau sesudah murtad, tidak mempunyai akibat hukum. Artinya, bila ia menjual atau membeli harta dengan harta miliknya, maka jual belinya tidak sah. Apabila ia kembali kepada Agama Islam, maka hak tasharufnya menjadi sah, sedangkan apabila ia mati dalam keadaan murtad maka maka hak tasharufnya menjadi batal. Menurut Abu Yusuf dan Muhamad, tasharuf orang murtad tetap sah. Syaikh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa orang murtad itu sanksinya di serahkan kepad Allah, tidak ada sanksi duniawi atasnya. Alasanya karena firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 217 di ats hanya menunjukan kesiasian amal kebaikan orang murtad dan sanksinya akhirat yaitu kekal dalam neraka, adapun hadits ibnu Abbas diatas

ternyata mengundang banyak masalah di kalangan ulama yang berkisar pada masalah yang sama atau bedanya hukuman laki-laki dan perempuan, perlu dan tidak perlunya orang murtad di beri kesempatan untuk bertobat serta batas kesempatan tersebut. Selain itu hadits tersebut adalah hadits ahad tidak dapat dijadikan dasar untuk memberi sanksi pidana hudud. Alas an lain adalah bahwa kekafiran adalah itu sendiri itu tidak menyebabkan bolehnya seseorang di hukum mati, sebab yang

membolekanya hukuman mati bagi orang kafir itu adalah memerangi dan memusuhi orang islam. Adapun kekufuran semata jelas sekali dalam Alquran, yang dalam beberapa kenyataan ditemukan laaranagan adnya paksaan dalam Agama. Salah satu suarat Al-baqarah ayat 256 dan surat yunus ayat 99 :


Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)


Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya jadi , hkuman bagi orang murtad diserahkan kepada Allah kelak.

KESIMPULAN

1. barang siapa menggantikan Agamanya, maka bunuhlah ia(HR bukhari dan ibn Abas). 2. Apapun itikad seseorang muslim yang bertentangan dengan ajaran Islam tidaklah di anggap menyebabkan keluar dari Islam sebelum ia mengucapkan atau mengamalkanya. 3. Murtad dengan ucapan dalah ucapan yang menunjukkan kekafiran, seperti menyatakan bahwa Allah punya anak dengan anggapan bahwa ucapan tersebut tidak dilarang. 4. Syaikh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa orang murtad itu sanksinya di serahkan kepad Allah, tidak ada sanksi duniawi atasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Drs. H. A. Dzazuli, 1996 fiqih jinayah, PT Raja Grafindo persada, Bandung