Anda di halaman 1dari 12

Laporan Kasus

Rehabilitasi Medik Pada Pasien Hemiparese Sentral Sinistra e.c Stroke Non Hemoragik
Oleh :

Karina Ansheila 040111163

Masa KKM : 13-18 Februari 2012


Pembimbing :

dr. Engeline Angliadi, SpKFR

BAGIAN REHABILITASI MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT MANADO 2012

PENDAHULUAN
Stroke merupakan masalah penting bagi masyarakat karena memiliki angka kesakitan, kecacatan, kematian, dan biaya tinggi. Banyak negara di dunia, stroke menduduki peringkat ke-3 penyebab kematian sesudah penyakit jantung koroner dan kanker.1 Di negara berkembang dimana jumlah penduduknya adalah lebih dari 2/3 penduduk dunia, insiden stroke makin menonjol. Di Indonesia, walaupun belum diketahui angka kejadian yang pasti, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa stroke merupakan penyakit yang umum dinegara kita dan merupakan penyebab kematian yang terbesar dan kecacatan jangka panjang. Rehabilitasi diperlukan untuk memperbaiki fungsi akibat gangguan ini.2 Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih ataupun menyebabkan kematian , tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO,1986).1,3 Menurut New Neurological Institute, stroke dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu :3 1. Stroke iskemik atau stroke infark (stroke non hemoragik) karena : Trombosis merupakan jenis terbanyak, penyebabnya adalah aterosklerosis yang menyebabkan Emboli akibat terlepasnya embolus dari sumber asal jantung atau dari pembuluh darah arteri besar dan masuk ke arteri otak. 2. Stroke perdarahan (stroke hemoragik) yang terdiri dari perdarahan intraserebral dan perdarahan subarakhnoid. Penyebab tersering dari stroke hemoragik adalah hipertensi. penyumbatan pembuluh darah karena pertumbuhan plak pada dinding pembuluh darah.

Di negara-negara industri 10-12 % dari seluruh penyebab kematian adalah stroke dan menduduki peringkat ke-3 dari seluruh penyebab kematian. Di Indonesia dalam periode 6 bulan pada tahun 1996-1997 mortalitas stroke pada 28 rumah sakit di seluruh Indonesia adalah 23,3 %. Di bagian saraf RSUP Manado periode 19972000 adalah 18%.3 Studi epidemiologi telah melaporkan beberapa faktor resiko yang dapat menimbulkan stroke. Faktor tersebut di klasifikasikan sebagai berikut :4
FAKTOR RESIKO STROKE Faktor biologik yang tidak dapat dimodifikasi Factor fisiologik yang dapat dimodifikasi Faktor gaya hidup dan pola prilaku

Umur Jenis kelamin Ras Herediter

Hipertensi Diabetes Lipid Penyakit jantung Stenosis karotis TIA Homosisteinemia Ateroma aorta

Merokok Obesitas Aktivitas fisik Diet Alkohol Kontrasepsi oral

Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan cara menghindari faktor-faktor resiko yang ada, baik melalui pencegahan primer maupun sekunder.5 Adanya permasalahan akibat gangguan motorik dan sensorik setelah penderita stroke melewati masa kritis menyebabkan diperlukannya rehabilitasi medis agar penderita dapat meningkatkan kemampuan fungsional yang dimilikinya semaksimal mungkin. 5 Rehabilitasi adalah semua upaya yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari semua keadaan yang menimbulkan disabilitas dan atau handicap serta memungkinkan penyandang disabiliti dan atau handicap untuk berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. 6 Rehabilitasi dilakukan oleh suatu tim rehabilitasi yang terdiri dari dokter rehabilitasi medis, fisioterapis, terapis okupasi, perawat rahabilitasi, pekerja sosial

medis, terapis wicara, psikolog, ortotis prostetis, dan lain-lain. Tim rehabilitasi akan menjadi sangat efektif apabila upaya-upaya tersebut di koordinasikan dan diadakan pertemuan secara berkala untuk membahas mengenai kemajuan dan kendala tiap pasien serta ditunjang oleh adanya interaksi yang baik antara penderita dan keluarganya dengan personil medik. 6 Manfaat rehabilitasi pada penderita stroke bukan untuk mengubah defisit neurologis melainkan menolong penderita untuk mencapai fungsi kemandirian semaksimal mungkin dalam konteks lingkungannya. Jadi tujuannya adalah lebih ke arah meningkatkan kemampuan fungsional daripada memperbaiki defisit neurologis atau mengusahakan agar penderita dapat memanfaatkan kemampuan sisanya untuk mengisi kehidupan secara fisik, emosional, dan sosial ekonomi dengan baik.6 Program rehabilitasi bagi penderita stroke dapat dimulai sedini mungkin. Kriteria dapat dimulainya program rehabilitasi adalah pasien sudah dalam keadaan stabil. Hal ini berarti diagnosis sudah ditegakkan, terapi sudah dimulai, dan pasien sudah tidak dalam resiko tinggi dekompensasi jantung/paru. 7 Lama program yang direncanakan tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Pada fase awal pengobatan dan perawatan ditujukan untuk meenyelamatkan jiwa dan mencegah komplikasi, segera setelah keadaan umum memungkinkan, rehabilitasi dimulai biasanya pada hari 2-3. Untuk stroke akibat perdarahaan biasanya setelah hari ke-14, sedangkan fase lanjutan bertujuan untuk untuk mencapai kemandirian fungsional dalam mobilisasi dan aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living-ADL).8 Evaluasi rehabilitasi medis yang dilakukan oleh tim berbeda dengan evaluasi medis umum bagi penderita.

Pemeriksaan penderita meliputi 4 bidang evaluasi yaitu :6 1. Evaluasi neuromuskuloskeletal 2. Evaluasi medik umum

3. Evaluasi kemampuan fungsional 4. Evaluasi psikososial-vokasional Frank H. Krusen memberi kesimpulan bahwa dengan rehabilitasi yang tepat 90% dari penderita stroke dapat berjalan kembali, 70% dapat mandiri dan 30% dari usia kerja dapat bekerja kembali ke pekerjaan semula. 8 Berikut ini akan disampaikan sebuah laporan kasus seorang penderita dengan hemiparesa dextra dengan disartria et causa stroke non hemoragik yang dirawat di bagian Rehabilitasi Medis RSU Prof.dr.R.D. Kandou. .

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pendidikan terakhir Pekerjaan Tanggal periksa ANAMNESIS Keluhan Utama : Kelemahan lengan dan tungkai kiri. Sejak 2 bulan yang lalu pasien mengalami perdarahan melalui vagina. Pertdarahan awalnya dialami sedikit-sedikit. Dan 2 minggu SMRS perdarahan semakin hebat lalu pasien datang ke RS. Teling kemudian dirujuk ke RS. Prof. R.D. Kandou Malalayang. Pasien didiagnosa dengan Ca.Serviks Stadium III B. saati RS. Prof. R.D.Kandou, Hb pasien = 1 dan pasien segera ditranfusi. Pasien juga mengeluhkan sejak 2 minggu yang lalu mengalami kelemahan anggota gerak kiri. Riwayat penyakit dahulu, perdarahan abnormal dari jalan lahir 3 bulan yang lalu bersifat masif. Setelah perdarahan diikuti dengan rasa pusing, keputihan (+) sejak 1 bulan, berbau (+). Hipertensi (+), diabetes melitus, kolesterol, asam urat, sakit jantung (+) , sakit hati, sakit ginjal disangkal. Riwayat sosial, penderita tidak merokok dan tidak minum alkohol. Saat ini penderita tinggal bersama suami dan tidak mempunyai anak. PEMERIKSAAN FISIK Tanda Vital : KU : cukup ; Kesadaran : compos mentis T = 110/70 mmHg; N = 98x/menit; R = 28x/menit; SB = 36,5 oC : Ny.E.T : 41 tahun : Perempuan : Tikala : Kristen Protestan : SMA : Swasta (penjual di pasar) : 13 Februari 2012

Barthel Index

Bowel Bladder Grooming Toilet Feeding Chair/Bed Tranfers Mobility Dressing Stairs Bathing Total

Score 10 10 5 5 5 15 15 10 10 5 90

Status Generalis Kepala : bentuk mesocephal, konj.an.+/+; skl.ikt. -/-; pupil bulat isokor, Refleks cahaya +/+ Leher Toraks : trakea ditengah; pembesaran KGB: (-) : Pulmo : simetris, SF ki = ka, sonor ki = ka, Sp. Vesikuler, Rh -/-, Wh -/Cor Abdomen Ekstremitas : Ictus cordis tidak tampak, tidak kuat angkat, kardiomegali (-) S I-II normal, bising (-) : datar lemas, H/L: ttb, BU (+) normal : kaki pucat, akral hangat, edema (+), kesan hemiparesa sinistra

Status Neurologis Kesadaran : GCS : E4V5M6

TRM: kaku kuduk (-), laseque (-), kernig (-) Nervus kranialis : kesan parese N.VII sentral dextra Status Motorik Pemeriksaan 1. Gerakan 2. Kekuatan otot 3. Tonus otot 4. Trofi 5. Refleks Fisiologis 6. Refleks Patologis 7. Sensibilitas : Propioseptif Protopatik RESUME Seorang penderita, perempuan, 41 tahun, dikonsulkan ke bagian rehabilitasi medik RSU Prof.dr.R.D.Kandou, tanggal 13 Februari 2012, dengan keluhan utama kelemahan anggota gerak kiri. Tidak ada muntah, kejang, penurunan kesadaran, dan sakit kepala, nafsu makan biasa. Riwayat kebiasaan merokok dan alkohol tidak ada. Riwayat penyakit dahulu : perdarahan abnormal dari jalan lahir 3 bulan yang lalu bersifat masif. Setelah perdarahan diikuti dengan rasa pusing, keputihan (+) sejak 1 bulan, berbau (+). HPT (+), penyakit jantung (+). N N N N N N N N Extremitas Superior Dextra Sinistra N 5/5/5 N eutrofi N N (-) 4/4/4 eutrofi Bisep : Trisep : HoffmanTromner (-) Extremitas Inferior Dextra Sinistra N 5/5/5 N eutrofi N N (-) (-) 3/4/4 eutrofi KPR : APR : Babinsky (+) Chaddock (-)

Pemeriksaan Fisik : KU : Baik Kesadaran : compos mentis T : 110/70 mmHg, N : 98x/m, R : 28x/m, SB : 36,5 C Barthel Index : 90 (mildly disabled) Status generalis Status motorik : dbn : Kelemahan ekstremitas superior dan inferior sinistra Refleks fisiologis meningkat pada ekstremitas superior dan inferior sinistra. Refleks patologis : ekstremitas inferior sinistra : Babinsky (+) Status sensorik : dbn DIAGNOSIS Diagnosis Klinis Diagnosis Topik : Hemiparesa Sinistra : Subkortikal Status neurologis : Parese N.VII sentral dextra

Diagnosis Etiologi : Suspek trombus (Stroke Non Hemoragik) PENATALAKSANAAN A. Medikamentosa : Captopril 3 x 25 mg Piracetam 2 x 1200 mg Nichoviton 1-1-0 B. Rehabilitasi medik : Masalah rehabilitasi : Kelemahan anggota gerak kiri Gangguan ambulansi Gangguan bicara Masalah biaya pengobatan

Program Rehabilitasi medik : a. Fisioterapi Evaluasi : Kontak, pengertian, dan komunikasi baik Kelemahan anggota gerak kiri, dimana : Kekuatan otot ekstremitas atas : 4/4/4 Kekuatan otot ekstremitas bawah : 3/4/4

Program : - Infra red pada ekstremitas superior dan inferior sinistra - Breathing exercise aktif - Latihan lingkup gerak sendi aktif - Latihan penguatan otot untuk ekstremitas sinistra - Latihan berdiri dan berjalan b. Okupasi Terapi Evaluasi : Kontak, pengertian dan komunikasi baik Barthel Index : 90 Program : Latihan peningkatan lingkup gerak sendi dengan aktifitas dan permainan c. Psikologi Evaluasi : Kontak, pengertian dan komunikasi baik Saat ini penderita belum bisa menerima keadaan dirinya, terlihat adanya tanda - tanda depresi. Program : Memberi dukungan mental kepada penderita dan keluarganya. d. Sosial Medik Evaluasi : Penderita adalah seorang swasta (penjual di pasar), biaya pengobatan di tanggung sendiri. Program : evaluasi status sosial ekonomi penderita dan mencari jalan keluar untuk biaya pengobatan karena membutuhkan waktu yang lama dan kontrol teratur. e. Othotik Prostetik Evaluasi : Kekuatan otot ekstremitas superior 4/4/4 Kekuatan otot ekstremitas inferior 3/4/4

10

Program : Tripod. f. Terapi Wicara Evaluasi : Kontak dan pengertian baik, bicara pelo (+) Program : Latihan bicara PROGNOSIS : Quo ad vitam Quo ad sanationam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Kotambunan R.C Siwi. Epidemilogi Stroke; Simposium Stroke Up Date 2001. Bagian SMF Saraf FK UNSRAT/RSUP Manado. 2001: 1-7. 2. Prawirosumarto Krismanto. Rehabilitasi Fisik Pada Pasien Stroke; REHABILTASI MEDIK, Hasil Simposium 1987. Departemen Rehabilitasi Medik.Jakarta. 1987: 121-25. 3. Karema Winny. Diagnosis dan Klasifikasi Stroke; Simposium Stroke Up Date 2001. Bagian SMF Saraf FK UNSRAT/RSUP Manado. 2001: 10-5. 4. Runtuwene Theresia Walelang. Faktor Risiko dan PencegahanStroke; Simposium Stroke Up Date 2001. Bagian SMF Saraf FK UNSRAT/RSUP Manado. 2001: 20 - 9. 5. Angliadi L.S. Rehabilitasi Stroke; Kumpulan Kuliah Rehabilitasi Medik. Bagian Rehabilitasi Medik FK UNSRAT. Manado. 2000: 33-6. 6. Angliadi Leonard S. Rehabilitasi Medis Pada Stroke; Simposium Stroke Up Date 2001. Bagian SMF Saraf FK UNSRAT/RSUP Manado. 2001: 56-70. 7. Misbach Jusuf. Manajemen Stroke Iskemik Akut Era 2000; Simposium Stroke Up Date 2001. Bagian SMF Saraf FK UNSRAT/RSUP Manado. 2001: 50-5. 8. Ryerson Susan D, MA,PT. Hemiplegia; Neurological Rehabilitation, Fourth Edition. Mosby. US America. 2001. 25: 741-83.

12