Anda di halaman 1dari 4

Dia Memang Dia Tak ada yang membuatnya lebih berharap dari nilai ujian yang tercatat dengan

bentuk yang menyerupai segitiga. Ia berdegup dengan tangan yang gemetar dan seakan-akan tidak sanggup untuk melihat hasil kerjanya itu. Dan beberapa saat setelah itupun ia mendapati nilainya seperti kacamata, B. Ia kecewa. Walau memang untuk orang lain hal itu wajar-wajar saja. Bagi sebagian teman kelasnya, apalah arti sebuah nilai, yang penting itu akhirnya, penggunaannya nanti, ingat tidaknya ilmu itu, diterapkan atau tidak, nilai hanya bayangan. Tapi, lain lagi untuknya. Baginya nilai itu salah satu bentuk apresiasi dari kerjanya, kemampuannya. Berarti yang menjadi masalah, ia kurang bisa menyesuaikan diri dengan kenyataan sekarang, bahwa ia belum begitu memahami pelajaran itu, mata kuliah Manajemen Keuangan. Pria muda yang ada disebelahnya menengoknya dan bertanya, Dapat nilai apa?. Namun ia hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri, menyusup diantara kerumunan dan tergesa-gesa ke kamar kecil yang tidak jauh dari papan pengumuman/tempat itu. Ia di dalam kamar keci,l menangis, berkaca dan berontak dengan pikirannya. Ia sendiri saja. Menghabiskan kekesalannya pada dirinya sendiri, mengapa ia tidak bisa mendapat nilai yang lebih banyak dari itu. Sial, pikirnya. Tapi, apa harus diperbuat lagi? Menangis sajalah pikirnya. Setelah 5 menit berlalu dengan menghabiskan kecewanya dengan menghabiskan perasaannya itu bersama mp3 playernya yang memainkan lagun Imogen Heap, yang judulnya Speeding Cars. Kemudian ia pun keluar dengan mata yang bengkak, yang coba ia tutupi dengan menggunakan eye liner yang selalu ada di dalam tasnya. Aku beritahu apa saja yang ada dalam tasnya. Dua novel, novel horror dan novel fiksi cinta, eye liner, parfum, mp3 player, satu buku catatan biasa yang ia gunakan untuk menulis apa yang ia mau. Kamu tahu? Ia mencari buku catatan yang menurutnya pas, tidak sembarangan. Yang lain lagi, ada dompet, flash disk butut yang ia sayangi dan pulpen yang masih ia simpan dari kakeknya ketika ia libur semester kemarin. Ia kurang dikenal di kelasnya. Namun, nilainya yang bagus itu yang menjadikannya sedikit dikenal , oleh dosen terutama walaupun teman kelasnya tidak terlalu perduli dengan itu. Setelah ia berjalan cukup jauh dari kerumunan itu yang masih saja ramai, ia mendekat ke tempat parkir, mengambil sepedanya yang penuh dengan stiker yang ia sukai. Ia berpikir untuk menenangkan pikirannya dengan duduk di sebuah caf yang ia kenal. Jadi, pikirnya lebih nyaman berada di tempat yang ia kenali. Ia mengayuh sepedanya selama 10 menit di antara gerimis kecil yang seperti ikut merasakan sesak hatinya itu hingga akhirnya ia sampai di tempat yang ia tuju, Cup O Choc Caf.

Setelah memberhentikan sepedanya, ia pun bergegas masuk ke dalam caf yang terlihat hangat dengan banyak lampu berwarna kuning hangat berbentuk bola yang dihias dengan gambar kupu-kupu karena hujan semakin deras di luar. Saat itu, masih pukul 10.25 bulan Nopember. Ia menyadari kalau eyelinernya luntur, jadi ia ke kamar kecil. Sebelum ia beranjak ke kamar kecil, ia berpapasan dengan pelayan caf yang ia tidak begitu hiraukan karena keadaannya yang berantakan itu. Jadi, ia meninggalkannya saja, dan meminta untuk menunggu. Setelah ia kembali, pelayan itu masih berdiri di tempatnya tadi. Kemudian, setelah membereskan wajahnya, ia pun duduk. Silahkan, ini menunya. Anda mau memesan apa?, tanya pelayan ini. Cokelat panas dengan potongan marshmallow, jawabnya. Ada pesanan lainnya?, tanyanya lagi. mm, cookies, jawabnya juga. oke, ditunggu ya, katanya. Kemudian pelayan itu berlalu. Menuju tempat masak yang biasa disebut dapur itu dan menempatkan pesanan di besi yang berisi kumpulan pesanan. Matanya masih sembab. Ia masih sibuk dengan pikirannya, bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sebegitu besarkah arti sebuah nilai? Atau segaris angka? Memikirkan itu, ia jadi tampak seperti sedikit mengantuk dan bosan. Namun, ia belum tahu bagaimana menghentikan dirinya untuk berpikir tentang nilai itu lagi. Di salah satu kursi ruangan itu, seorang pria memperhatikannya. Tapi, ia tidak tahu siapa pria ini, yang jelas pria ini adalah seorang pelayan yang bekerja di Cup O Choc, caf ini. Ia melihat handphone-nya, melihat nomor kontak orangtuanya, dan memikirkan apa yang harus dikatakan kepada mereka nantinya. Walaupun orangtuanya tidak begitu menghiraukan masalah nilai, tapi itu untuk memacu prestasi anaknya, Raina. Setelahh 3 menit, pesanannya datang. Ia memegang dengan penuh hati-hati pertama, kemudian ia menggenggam cangkir cokelatnya dengan genggaman yang pasti karena udara semakin dingin, angin lebih kencang dan hujan semakin deras. Terjebak dia diantara kebingungan dan hujan. Ia mencoba menghirup cokelatnya,menikmati setiap uap yang melewati hidung kemudian kerongkongannya dan ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Dan tanpa disengaja ia melepas pandangan ke arah pria yang melihatnya tadi yang kebetulan sedang melihatnya. Sepertinya pria itu sedang meyakinkan dirinya dan tidak mau sampai salah orang. Pria itu juga sedang menikmati secangkir minuman, mungkin kopi atau cokelat, panas pastinya. Tidak terlihat banyak pengunjung yang datang karena di luar hujan sangat deras, sepertinya orang-orang tidak ingin banyak berpindah dari tempatnya. Itu sebabnya, pelayan dan pekerja caf itu duduk sambil menikmati hujan dan mengobrol. Dan kadang-kadang pria itu mengalihkan wajahnya ke arah Raina. Di dalam caf itu hanya ada lima orang pengunjung dan tujuh orang pekerja, 1 kasir, 3 pelayan, 2 juru masak, dan 1 orang untuk cleaning service.

Raina sedang melihat deraian hujan di luar dari jendela kaca yang berkorden biru muda lembut. Di luar jendela itu, terlihat bunga mawar merah seperti senang sekali, menari dengan hujan yang lembut membasahinya. Hujan masih deras, dan di jamnya sudah terlihat pukul 11.00. Lama menunggu, ia pun sedikit mengantuk. Ia merebahkan kepalanya diatas tangannya dan duduk seperti berenang. Tak lama, ia pun tertidur. Pria itu sekarang bisa melihatnya dengan lebih baik, memperhatikannya. Ia tertidur begitu saja, karena tadi malam, ia tidak bisa terlelap memikirkan nilainya itu dan isi kepalanya yang sulit dimengerti. Ia sudah menghabiskan cokelat panasnya, dan tinggal dua biji biskuit yang tersisa dari enam biji yang ia punya tadi. Dan ada juga pengunjung lain yang datang, tapi caf itu tidak sampai penuh, masih banyak kursi yang kosong. Dengan wanita muda yang tertidur itu, pria itu mendekati mejanya dan berpura menjadi temannya yang menemaninya (setelah ia mengganti bajunya). Ia melakukannya agar pengunjung yang lain tidak merasa aneh dengan keadaan yang seperti itu. Pria ini, mencoba membangunkannya, tapi tetap saja, Raina tidak berkata atau bergerak lebih kecuali menggerakkan badannya dengan pelan, sangat pelan. Kemudian, ia mengangkatnya, membawanya diantara bahunya ke ruang pekerja yang tidak jauh dari meja kasir dan meja yang sekaligus tempat pesanan yang sudah siap itu. Sambil berjalan, ia mengatakan sepupu saya kepada orang-orang yang melihatnya, yah kamu untuk apa. Di ruang pekerja itu terdapat sofa, televisi, kamar mandi di bagian kanan, dan pintu kiri menuju ke area belakang, tempat sampah dan tempat parkir kendaraan pekerja. Pria ini, membawakannya tasnya sebelum ia mengangkatnya. Setelah di ruang yang dituju itu, ia membaringkan wanita muda ini dengan hati-hati agar ia tidak kaget atau mungkin saja berteeriak ketika ia terbangun dan melihat apa yang ia tidak tahu persis kejadiannya. Sejauh ini, ia masih lelap. Kemudian pria itu keluar, meninggalkannya ke bagian depan bersama pekerja lainnya. Ia hanya duduk di kursi kasir, menjaga wanita muda itu ketika ia terbangun dan bingung, ia jadi lebih mudah untuk masuk saja ke dalam dan memberitahunya apa yang terjadi. Sampai jam 11.35, Raina belum bangun. Pria itu mengawasinya dari pintu. Dan saat pria ini berdiri di depan pintu,Raina terbangun, pukul 11. 42, pria itu melihat jam tangannya. Ia masuk dan menghampiri Raina. Aku, Satria Raina, jawabnya masih dalam pikiran setengah bermimpi. Raina, tadi kamu tertidur di meja depan. Jadi, aku yang mengangkatmu kesini Raina hanya bingung. WC dimana? pintu sebelah kanan itu, katanya sambil tersenyum.

Memang, udara lumayan dingin untuk membuatmu sedikit lebih sering ke toilet. Setelah ia kembali dengan wajah yang sudah rapi dan lebih mengerti perkataan, ia pun kembali duduk ke tempat ia bicara tadi. maaf, aku tadi tidak menghiraukan mu tidak apa-apa, bisa dimaklumi ini sudah jam berapa? itu, katanya menunjuk jam dinding. jam 11.50. sudah lama. maaf merepotkan tidak apa-apa Seperti terburu-buru, Raina mencari dan menemukan tasnya di atas meja. masih hujan di luar, kata Satria. gak apalah, kalau ditunggu juga lama berhentinya, balasnya kamu tinggal dimana? di Puri Permai o, ya, lumayan jauh dari sini iya, lumayan mau aku antar? tidak, terimakasih, katanya sambil senyum. kalau begitu, hati-hati. Senang berkenalan dengan mu. O, ya. Ini, nomor hape ku, kalau saja kamu ingin tahu sesuatu oke, senang berkenalan dengan kamu juga, Ia tersenyum dan menghilang setelah pintu ruangan itu tertutup lagi dan di dalam pikirannya ia bingung, mengerutkan alisnya. Jika kamu ingin tahu sesuatu?, pikirnya. Ternyata, hanya gerimis sekarang, setelah ia berjalan cukup dekat dengan sepedanya. gerimis salju, katanya. Ia terlihat senang. ia menggunakan jaket dari dalam tasnya berwarna biru dan hitam kesukaannya. Ia mengayuh sepedanya kembali ke rumah.