Anda di halaman 1dari 6

Variabilitas Respon Obat Akibat Penyakit Ginjal

A. Tujuan 1. Untuk mengetahui variabilitas respon obat terkait penyakit ginjal. 2. Untuk mengetahui pengaruh penyakit ginjal terkait eksresi obat. 3. Untuk mengetahui, menganalisis dan menginformasikan penggunaan obat pada penderita penyakit ginjal dengan manajemen terapi yang tepat berdasarkan pertimbangan farmakokinetik.

B. Pendahuluan Anatomi ginjal Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk kacang buncis yang terletak dekat punggung bagian tengah, persis di bawah sangkar tulang rusuk kanan dan kiri tulang punggung. Masing-masing ginjal berukuran 10-15cm panjangnya dan berat sekitar 160 gram. Ginjal masing-masing terdiri dari kurang lebih satu juta nefron. Setiap nefron memiliki sebuah glomerulus yang terletak terutama di korteks ginjal dan hasil penyaringannya akan menuju tubulus ginjal. Tubulus ginjal terdiri dari tubulus proksimal, tubulus distal, serta lengkung Henle di mana terjadi reabsorpsi air, elektrolit dan zat-zat penting yang terlarut lainnya; proses ini menghasilkan urin yang kemudian dialirkan ke dalam duktus koligentes, di mana air dalam urin tersebut. Ginjal menerima kurang lebih 20% dari curah jantung dan menyaring 7 L cairan setiap jam untuk menghasilkan 50-100mL urin setiap hari (Davey, 2002).

Fungsi ginjal: Fungsi dasar ginjal (terutama nefron) adalah untuk membersihkan atau menjernihkan plasma darah dari zat-zat yang tidak diperlukan saat penyaringan. Fungsi ginjal antara lain : Regulasi Volume cairan tubuh Regulasi elektrolit Regulasi keseimbangan asambasa keseimbangan Regulasi tekanan darah (RAA) Ekskresi sampah metabolik Regulasi eritropoesis Metabolisme vitamin D Sintesis prostaglandin

C. Penyakit Ginjal 1. Penyakit Ginjal Akut Gagal ginjal akut adalah kehilangan kemampuan ginjal secara mendadak untuk membuang limbah cairan tubuh dan konsentrasi urin tanpa kehilangan elektrolit. Gagal ginjal akut merupakan suatu sindrom yang ditandai oleh penurunan yang cepat pada laju filtrasi glomerulus (glomurular filtration rate [GFR]) dalam waktu bebrapa hari sampai beberapa minggu disertai dari akumulasi sisa-sisa metabolisme nitrogen. Sindrom ini sering ditentukan melalui kadar kretinin, ureum serum disertai dengan penurunan output urin. 2. Penyakit Ginjal Kronis
Penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dengan atau

tanpa penurunan GFR atau nilai GFR <60 mL/min/1.73 m2 selama 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal. Kerusakan ginjal didefinisikan sebagai kelainan patologis atau tanda kerusakan, termasuk komposisi abnormal dalam tes darah atau urine atau studi pencitraan yang tidak normal. Penyakit gagal ginjal kronis (GGK) terjadi ketika seseorang menderita kehilangan fungsi ginjal secara bertahap dari waktu ke waktu (bulan sampai tahun) dan biasanya

permanen.

D. Tes Fungsi Ginjal o BUN Untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan memonitor efektivitas dialisis dan pengobatan lain yang berhubungan dengan kerusakan atau penyakit ginjal. Penyakit ginjal kronis ditandai dengan peningkatan BUN. o Klirens kreatinin dan kreatinin serum Untuk membantu mendeteksi dan mengevaluasi disfungsi ginjal atau penurunan aliran darah ke ginjal. Setiap penyakit atau kondisi yang mempengaruhi glomerulus dapat menurunkan kemampuan ginjal untuk membersihkan limbah kreatinin dan substansi-substansi lain dari darah. Ketika ini terjadi, tingkat kreatinin serum akan meningkat dan klirens kreatinin akan berkurang yang menjadi pertanda adanya penyakit ginjal kronis. o Pengukuran GFR Untuk menilai fungsi ginjal. Pengukuran GFR mendeteksi penyakit ginjal di tahap awal yang lebih handal dibandingkan dengan uji kreatinin saja. Karena penghitungan terbaik untuk mengestimasi terjadinya penurunan fungsi ginjal, menurut NKF nilai normal adalah 90-120 ml / menit. GFR di bawah 60 ml / menit menunjukkan bahwa beberapa kerusakan ginjal telah terjadi.

( National Kidney Foundation DOQI, 2003).

o Urinalisis Untuk skrining adanya gangguan metabolisme dan ginjal. Urinalisis dapat menunjukkan adanya protein atau perubahan-perubahan lain. Perubahan ini dapat muncul 6 hingga 10 bulan atau beberapa tahun sebelum gejala muncul. o Mikroalbumin Untuk mendapatkan skrining adanya gangguan ginjal atau kerusakan dini pada ginjal yang terjadi pada pasien dengan diabetes atau hipertensi. Uji mikroalbumin merupakan indikator awal gagal ginjal dan dilakukan pada

kondisi

penyakit

ginjal

karena

diabetes

atau

hipertensi.Tingkat

mikroalbumin yang cukup meningkat dalam urin menunjukkan bahwa seseorang berada di salah satu fase sangat awal penyakit ginjal, tingkat sangat tinggi merupakan indikasi bahwa penyakit ginjal hadir dalam bentuk yang lebih parah, dan tingkat normal merupakan indikasi bahwa fungsi ginjal normal.

E. Interaksi Farmakokinetik Terkait Penurunan Fungsi Ginjal Ekskresi adalah parameter farmakokinetika yang paling terpengaruh oleh gangguan ginjal. Jika filtrasi glomeruler terganggu oleh penyakit ginjal, maka klirens obat yang terutama tereliminasi melalui mekanisme ini akan menurun dan waktu paruh obat dalam plasma menjadi lebih panjang. Penyakit ginjal akan menyebabkan ekskresi terganggu sehingga kadar obat dalam plasma tinggi, terutama untuk golongan yang dieksresikan dalam bentuk aktif. Efek lebih dan intoksikasi dapat terjadi. Penyakit ginjal dapat pula menurunkan kadar protein plasma dan mengubah keseimbangan elektrolit asam basa sehingga memengaruhi farmakokinetika obat (Raharjo, 2004).

F. Pengaruh Penyakit Ginjal Terhadap Ekskresi Obat Dan Respon Penderita Perubahan paling berarti saat memasuki usia lanjut ialah berkurangnya fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, sehingga memperpanjang intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai half-life panjang perlu diberi dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Dua obat yang sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin. Glibenklamid, obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung besarnya dosis) misalnya, perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih kecil ketimbang dosis tunggal besar yang dianjurkan produsen. Digoksin juga mempunyai waktu-paruh panjang dan merupakan obat lansia yang menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter Jerman memakainya berlebihan, walaupun sekarang digoksin sudah digantikan dengan

furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first-line drug (Darmansjah, 1994). Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal, maka harus digunakan nilai creatinine-clearance untuk memperkirakan dosis obat yang renal-toxic, misalnya aminoglikoside seperti gentamisin. Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut juga sering menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan ekskresi obat. Dosis yang lebih kecil diberikan bila terjadi penurunan fungsi ginjal, khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang sempit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada lansia dapat memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia. G. Contoh Kasus

Dapus Davey, P., Medicine at a Glance, 2002, Blackwell Science, hal 125, New York Raharjo, R., Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed.2, 2004, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta