Anda di halaman 1dari 76

OPTIMALISASI WAKTU PROSES PRODUKSI OLAHAN APEL DI RAMAYANA BATU DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA NETWORK FLOW Laporan ini

disusun sebagai tugas mata kuliah Penerapan Teori Graph yang dibina oleh Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si

Oleh: Wulanita Dewi A Dwi Fitria S Irinne Puspitasari (409312417679) (409312419796) (409312419802)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG FEBRUARI 2012

ABSTRAK

Wulan, dkk.2012. optimalisasi waktu proses produksi olahan apel di ramayana batu dengan menggunakan algoritma network flow. Laporan Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Dosen pembina Penerapan Teori Graph Dra.Sapti Wahyuningsih M.Si.

Kata kunci : network flow,jalur kritis, CPM,PERT,POM,WinQSB . Penerapan tentang teori graph berkembang dan banyak diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari manusia hingga saat ini. Salah satunya adalah network flow yang digunakan untuk menyelesaikan masalah perencanaan dan penjadwalan jaringan kerja pada suatu proyek atau kegiatan produksi sehingga waktu penyelesaian proyek atau kegiatan produksi tersebut dapat optimal. Hal ini bisa digunakan untuk membantu dalam kegiatan produksi yakni mengoptimalkan penjadwalan produksi. Salah satunya untuk diterapkan dalam proses produksi olahan apel di Agro Mandiri Ramayan,Batu. Di perusahaan tersebut belum memiliki keteraturan dalam waktu penjadwalan produksi, sehingga proses produksinyapun belum optimal.Dengan menggunakan metode metode dan algoritma dalam network flow diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan dalam dunia perindustrian. Metode PERT-CPM dapat digunakan untuk mengatur waktu penyelesaian proyek dengan lebih efisien dan efektif. Untuk dapat mengurangi dampak keterlambatan dan pembengkakan biaya proyek dapat diusulkan proses crashing dengan tiga alternatif pengendalian; (i) penambahan tenaga kerja, (ii) kerja lembur, dan (iii) subkontrak. Percepatan durasi dilakukan pada pekerjaan-pekerjaan yang ada di lintasan kritis dan jumlah pemendekkan durasi tiap pekerjaan pada masing-masing alternatif disamakan. Metode PERT dan CPM ini bisa diselesaikan dengan alat bantu, salah satunya yaitu POM dan WinQSB Hasil penelitian di Agro Mandiri Ramayan,Batu menunjukkan probabilitas selesainya produksi dalam waktu 100 jam adalah 0,9959, durasi optimal produksi adalah 87 hari dengan jalur kritis Penyiapan apel dan bahan pelengkap lain (A) penyortiran apel (C) pengupasan apel (D) penncucian apel (E) pemotongan apel (F) pendinginan apel (G) penggorengan apel (H) penyaringan apel yang sudah digoreng dari sisa minyak (I) proses pendiaman (J) finishing (W).

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Teori graph merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penerapan graph yang populer digunakan adalah network flow, yaitu graph berarah yang tiap sisinya mempunyai kapasitas tertentu. Salah satu masalah yang sering muncul dalam network flow adalah network flow untuk penjadwalan. Masalah penjadwalan network pada suatu proyek dideskripsikan sebagai masalah perencanaan seluruh kegiatan sejak awal yang mengarah pada pencapaian tujuan akhir. Masalah dalam perencanaan kegiatan proyek dapat digambarkan sebagai diagram network. Titik awal mewakili kegiatan awal dan titik akhir mewakili kegiatan akhir. Dalam aplikasinya network juga dapat mengendalikan suatu proyek sehingga penyelesaian proyek dapat dilaksanakan secepat-cepatnya. Sehingga waktu penyelesaian proyek tersebut dapat seoptimal mungkin. Persaingan industri yang sangat ketat pada saat ini menyebabkan pertumbuhan industri yang mempengaruhi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dalam kegiatan produksinya. Dalam suatu kegiatan produksi, untuk mendapatkan suatu hasil yang optimum,maka seluruh aktivitas-aktivitas produksi terlebih dahulu harus direncanakan dengan baik. Penjadwalan produksi diupayakan untuk mendapatkan suatu penugasan pekerjaan pada yang efektif pada setiap stasiun kerja, agar tidak terjadi penumpukan job sehingga dapat mengurangi waktu idle (menganggur) atau waktu menunggu untuk proses pengerjaan berikutnya. Dalam proses produksi perusahaan sering mengalami keterlambatan dalam pengiriman produk pada beberapa

konsumennya. Hal ini diakibatkan karena aktivitas produksi yang kurang efektif dan penjadwalan produksi belum optimal. Sehingga kemungkinan besar dapat mengurangi kepuasan para pelanggannya. Oleh karena itu diperlukan analisis optimalisasi durasi proses produksi sehingga dapat diketahui berapa lama suatu proses produksi tersebut diselesaikan dan penjadwalan proses produksi yang optimal. Masalah dalam penjadwalan produksi tersebut merupakan salah satu penerapan dari teori graph yaitu network flow yang berhubungan dengan penjadwalan, perencanaan

dan pengendalian suatu proyek. Dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan produksi, dapat digunakan beberapa algoritma yaitu Gannt chart, PDM, GERT, CPM dan PERT. Dalam makalah ini, lebih ditekankan pada penyelesaian dengan menggunakan algoritma CPM dan PERT. Dalam menyelesaikan masalah tersebut dapat juga dengan menggunakan alat bantu seperti POM dan WinQSB. Adapun penelitian network flow untuk penjadwalan yang sudah pernah dilakukan antara lain: PKL oleh Moch. Afiq Dwi pada tahun 2010 yang berjudul Schedulling Menggunakan Algoritma Network Analysis pada Proyek Perumahan Taman Mulyorejo dan Miftahus Solihah,Sikky El Walida dan Wahyu Dwi Jayanti pada tahun 2006yang berjudul Schedulling Menggunakan Network Analysis pada Proyek Renovasi dan Pembangunan Gedung Madrasah Aliyah Khairudin Gondanglegi. Aplikasi network flow dalam masalah penjadwalan ini salah satunya digunakan untuk mengoptimumkan waktu penyelesaian proses produksi. Dengan ini diharapkan kegiatan produksi olahan apel seperti sari apel, dodo lapel dan kripik apel di Ramayan Batu dapat seoptimal mungkin. Karena pentingnya alasan tersebut maka kami menyusun laporan ini dengan judul optimalisasi waktu proses produksi olahan apel di ramayana batu dengan menggunakan algoritma network flow 1.2 Alasan Pemilihan Lokasi Ramayana Agro Mandiri Batu merupakan salah satu produsen makanan oleholeh khas Malang. Adapun produknya antara lain merupakan olahan apel seperti kripik apel, sari apel, jenang apel, dodol apel. Perusahaan produksi ini dipilih sebagai instansi yang digunakan untuk survey penerapan teori graph karena dalam proses produksi olahan apel produk produk Ramayana Agro Mandiri Batu dapat dikaitkan dengan penerapan teori graph yang telah diperoleh di bangku kuliah mengenai masalah penjadwalan network yang dapat digunakan untuk pengoptimalan waktu proses produksi dengan menggunakan beberapa algoritma pada network flow untuk penjadwalan. 1.3 Tujuan Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka tujuannya sebagai berikut: 1. Identifikasi permasalahan yang ada dalam penjadwalan proses produksi.

2. Menerapkan algoritma-algoritma Network Flow untuk mengoptimalkan penjadwalan proses produksi. 3. Memberikan solusi alternatif yaitu jalur kritis dari diagram proses produksi untuk mengetahui waktu yang optimal dan memperkirakan persentase selesainya produksi pada waktu tertentu dengan menggunakan alat bantu POM dan WinQSB 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi peserta 1. Dapat mengerti dan memahami tentang network flow untuk penjadwalan beserta aplikasinya. 2. Dapat mengerti dan memahami aplikasi dari algoritma dari network flow untuk penjadwalan. 3. Dapat menambah pengalaman dan memperluas wawasan mahasiswa tentang pengaplikasian ilmu matematika. 4. Dapat membuat alternatif baru dalam mengoptimalkan waktu proses produksi 1.4.2 Bagi Instansi 1. Dapat menjadi masukan untuk mencari solusi terbaik dalam masalah pengoptimalan proses produksi 1.5 Batasan Masalah Batasan Masalah dalam laporan ini hanya memperhitungkan masalah waktu penyelesaian proses produksi tercepat,tanpa dipengaruhi adanya keterbatasan sumber daya. 1.6 Pelaksanaan Survei Lapangan Survei lapangan dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 2012 yang dilaksanakan di Ramayana Agro Mandiri Batu.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 . Teori Pendukung 1. Graph a) Graph Suatu Graph G terdiri atas himpunan tak kosong dari elemen-elemen yang disebut titik (vertex) dan suatu daftar pasangan tidak terurut elemen itu yang disebut sisi (edge). Himpunan dari titik-titik pada graph G disebut himpunan titik G, dinotasikan dengan V(G), dan daftar dari sisi-sisi disebut daftar sisi G, dinotasikan dengan E(G) (Wilson, 1990:10). Banyaknya titik pada graph G dinotasikan dengan | V (G) | dan banyaknya sisi pada graph G dinotasikan dengan |E(G)|.

e1 e7

c e2

e6

e8 e3

Gambar 1.1 Graph G

e5

Dari Gambar 2.1 diatas dapat dilihat bahwa V (G) {a, b, c, d , e} dan

E (G) e1 , e2 , e3 , e4 , e5 , e6 , e7 , e8 sehingga | V (G) | 5 dan | E (G) | 8 .


Dua sisi atau lebih yang menghubungkan pasangan titik yang sama disebut sisi rangkap, dan sebuah sisi yang menghubungkan sebuah titik dengan dirinya sendiri disebut loop (Wilson, 1990:10).

b) Digraph Suatu digraph D terdiri atas suatu himpunan tak kosong yang masingmasing unsurnya disebut titik (vertex) dan suatu himpunan pasangan berurutan

dari titik-titik tersebut yang disebut sisi berarah (arc). Himpunan dari titik-titik disebut himpunan titik dari D, dinotasikan dengan V(D), dan daftar dari sisisisi berarah disebut daftar sisi-sisi berarah dari D, dinotasikan dengan A(D). Contoh:

c d

e
Gambar 2.1 Digraph D

c) Lintasan (Path) Lintasan (path) adalah jalan yang sisi dan titiknya tidak boleh berulang. d) Digraph Berbobot Suatu digraph D = (V,A) dikatakan digraph berbobot (weighted digraph) jika setiap sisi berarah pada digraph D diberikan muatan jika v1v2 adalah sisi berarah pada digraph D = (V,A) maka muatan v1v2 dilambangkan dengan w (v1 , v2 ) . Contoh:

b 2

2 3

c 3 2 3 3 e d

Gambar 2.3 Digraph berbobot D

w(a,b) = 2 w(b,c) = 2 w(c,d) = 3`

w(a,e) = 2 w(b,e) = 3 w(c,a) = 3

w(c,e) = 2

w(e,d) = 3

2. Network a) Jaringan (Network) Jaringan (dilambangkan N) adalah digraph sederhana, bermuatan, jika memenuhi: o Satu titik yang merupakan titik sumber, tidak memiliki sisi masuk. o Satu titik yang merupakan titik tujuan, tidak memiliki sisi keluar. o Muatan sisi (i,j) disebut kapasitas sisi(i,j), dilambangkan cij dengan cij adalah bilangan bulat non negatif. (Johsohnbaugh, 2001:391) b) Aliran (flow) Jika N=(V,E,w) merupakan sebuah jaringan , maka suatu fungsi f:ER+ atau fungsi f mengawankan edge e dengan sebuah biangan riil tak negatif r, dikatakan aliran (flow) bila: i. ii. untuk setiap edge e tujuan z, beraku maka f(u,v)=0. E, berlaku f(e) ( ) w(e), dan ( )Jika tidak ada edge (u,v)

untuk setiap verteks u V, selain verteks sumber a dan selain verteks

c) Pengertian Proyek Proyek dalam analisis jaringan kerja adalah serangkaian kegiatankegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang unik dan hanya dilakukan dalam periode tertentu (temporer). Proyek dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang hanya terjadi sekali, dimana pelaksanaannya sejak awal sampai akhir dibatasi oleh kurun waktu tertentu). d) Network planning Network planning (Jaringan Kerja) pada prinsipnya adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan yang digambarkan atau divisualisasikan dalam diagram network. Dengan demikian dapat dikemukakan bagian-bagian pekerjaan yang harus didahulukan, sehingga dapat dijadikan dasar untuk melakukan pekerjaan selanjutnya dan dapat dilihat pula bahwa

suatu pekerjaan belum dapat dimulai apabila kegiatan sebelumnya belum selesai dikerjakan. Simbol-simbol yang digunakan dalam menggambarkan suatu network adalah sebagai berikut (Hayun, 2005) : a. (anak panah/busur), mewakili sebuah kegiatan atau aktivitas yaitu tugas yang dibutuhkan oleh proyek. Kegiatan di sini didefinisikan sebagai hal yang memerlukan duration (jangka waktu tertentu) dalam pemakaian sejumlah resources (sumber tenaga, peralatan, material, biaya). b. ( lingkaran kecil/simpul/node), mewakili sebuah kejadian atau peristiwa atau event. Kejadian (event) didefinisikan sebagai ujung atau pertemuan dari satu atau beberapa kegiatan. Sebuah kejadian mewakili satu titik dalam waktu yang menyatakan penyelesaian beberapa kegiatan dan awal beberapa kegiatan baru. c. (anak panah terputus-putus), menyatakan kegiatan semu atau dummy activity. Setiap anak panah memiliki peranan ganda dalam mewakili kegiatan dan membantu untuk menunjukkan hubungan utama antara berbagai kegiatan d. (anak panah tebal), merupakan kegiatan pada lintasan kritis. Dalam penggunaannya, simbol-simbol ini digunakan dengan mengikuti aturan-aturan sebagai berikut: a. Di antara dua kejadian (event) yang sama, hanya boleh digambarkan satu anak panah. b. Nama suatu aktivitas dinyatakan dengan huruf atau dengan nomor kejadian. c. Aktivitas harus mengalir dari kejadian bernomor rendah ke kejadian bernomor tinggi. e. Diagram hanya memiliki sebuah saat paling cepat dimulainya kejadian (initial event) dan sebuah saat paling cepat diselesaikannya kejadian (terminal event). Visualisasi gambar ada 2 macam yaitu :

a.

Activity On Arrow (AOA) : Kegiatan ditulis pada anak panah. Anak panah menghubungkan dua lingkaran yang mewakili dua peristiwa. Nama dan kurun waktu ditulis diatas anak panah.

b.

Activity On Node (AON) : Kegiatan ditulis dalam kotak atau lingkaran.

Adapun logika ketergantungan kegiatan-kegiatan itu dapat dinyatakan sebagai berikut : a. Jika kegiatan A harus diselesaikan dahulu sebelum kegiatan B dapat dimulai dan kegiatan C dimulai setelah kegiatan B selesai, maka hubungan antara kegiatan tersebut dapat di lihat pada gambar berikut

Kegiatan A pendahulu kegiatan B & kegiatan B pendahulu kegiatan C b. Jika kegiatan A dan B harus selesai sebelum kegiatan C dapat dimulai, maka dapat di lihat pada gambar berikut

Kegiatan A dan B merupakan pendahulu kegiatan C c. Jika kegiatan A dan B harus dimulai sebelum kegiatan C dan D maka dapat dilihat pada gambar berikut

Kegiatan A dan B merupakan pendahulu kegiatan C dan D d. Jika kegiatan A dan B harus selesai sebelum kegiatan C dapat dimulai, tetapi D sudah dapat dimulai bila kegiatan B sudah selesai, maka dapat dilihat pada gambar berikut

Kegiatan B merupakan pendahulu kegiatan C dan D Fungsi dummy ( ) di atas adalah memindahkan seketika

itu juga (sesuai dengan arah panah) keterangan tentang selesainya kegiatan B. e) Lintasan Kritis Lintasan kritis adalah lintasan yang paling menentukan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan, digambar dengan anak panah tebal.lintasan kritis terdiri dari rangkaian kegiatan pertama sampai pada kegiatan terakhir proyek. Disebut kegiatan kritis bila penundaan waktu aktivitas akan mempengaruhi waktu penyelesaian keseluruhan proyek. Heizer dan Render menjelaskan bahwa dalam dalam melakukan analisis jalur kritis, digunakan dua proses two-pass, terdiri atas forward pass dan backward pass. ES dan EF ditentukan selama forward pass, LS dan LF ditentukan selama backward pass. ES (earliest start) adalah waktu terdahulu suatu kegiatan dapat dimulai, dengan asumsi semua pendahulu sudah selesai. EF(earliest finish) merupakan waktu terdahulu suatu kegiatan dapat selesai. LS(latest start) adalah waktu terakhir suatu kegiatan dapat dimulai sehingga tidak menunda waktu penyelesaian keseluruhan proyek. LF (latest finish) adalah waktu terakhir suatu kegiatan dapat selesai sehingga tidak menunda waktu penyelesaian keseluruhan proyek. ES = Max {EF semua pendahulu langsung}. (2.1) EF = ES + Waktu kegiatan ... (2.2) LF = Min {LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya} (2.3) LS = LF Waktu kegiatan ... (2.4) Setelah waktu terdahulu dan waktu terakhir dari semua kegiatan dihitung, kemudian jumlah waktu slack (slack time) dapat ditentukan. Slack adalah waktu yang dimiliki oleh sebuah kegiatan untuk bisa diundur, tanpa menyebabkan keterlambatan proyek keseluruhan.

10

Slack = LS ES ... (2.5) atau Slack = LF EF ... (2.6) manfaat yang didapat jika mengetahui lintasan kritis adalah sebagai berikut : a. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh pekerjaan proyek tertunda penyelesaiannya. b. Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya, bila pekerjaan-pekerjaan yang ada pada lintasan kritis dapat dipercepat. c. Pengawasan atau kontrol dapat dikontrol melalui penyelesaian jalur kritis yang tepat dalam penyelesaiannya dan kemungkinan di trade off (pertukaran waktu dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya lembur. d. Time slack atau kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak melalui lintasan kritis. Ini memungkinkan bagi manajer/pimpro untuk memindahkan tenaga kerja, alat, dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis agar efektif dan efisien. 3. Algoritma network flow a) Gantt (menggunakan bar/chart/gantt chart) Bar charts adalah sekumpulan daftar kegiatan yang disusun dalam kolom arah vertikal. Kolom arah horizontal menunjukkan skala waktu. Saat mulai dan akhir dari sebuah kegiatan dapat terlihat dengan jelas, sedangkan durasi kegiatan digambarkan oleh panjangnya diagram batang (Ervianto, 2002:162). LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN BAGAN BALOK 1. Pecah proyek menjadi sejumlah kegiatan yang jadwal pelaksanaannya akan ditentukan (urutan kegiatan) 2. Tentukan perkiraan waktu permulaan dan akhir bagi pelaksanaan masingmasing kegiatan dan kegiatan pendahuluan 3. Susun koordinat X dan Y: Pada sumbu X (vertical) dicatat pekerjaan atau elemen/paket kerja dari hasil penguraian lingkup sutau proyek, dan dilukiskan sebagai balok. Pada sumbu Y (horizontal) ditulis satuan waktu (hari/minggu/bulan)

11

4.

Perhatikan urutan kegiatan (point 2) untuk menentukan letak balok.

Pada saat pelaporan, beri tanda sejauh mana penyelesaian masing-masing kegiatan

b) CPM (CRITICAL PATH METHOD) CPM merupakan analisa jaringan kerja yang berusaha mengoptimalkan biaya total proyek melalui pengurangan atau percepatan waktu penyelesaian total proyek yang bersangkutan. Langkah langkah metode CPM: 1. Membuat diagram network dari proyek 2. Menghitung saat paling cepat terjadinya event, saat paling cepat dimulainya dan diselesaikannya aktivitas-aktivitas (TE,ES, dan EF) dengan forward pass (perhitungan maju) ES=max{EF semua pendahulu langsung} EF=ES+t 3. Menghitung saat paling lambat terjadinya event,saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitas-aktivitas (TL,LS, dan LF) dengan backward pass (perhitungan mundur) LF=min{LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya} LS=LF- t 4. Menghitung kelonggaran waktu (float/slack) dari aktivitas S=LF-ES=LF-EF 5. Menetukan jalur kritis yang terdiri dari aktivitas-aktivitas kritis. Aktivitas kritis mempunyai S=0

c) PERT (PROJECT EVALUATION AND REVIEW TECHNIQUE) PERT adalah suatu metode yang bertujuan untuk mengurangi adanya penundaan, maupun gangguan produksi, serta mengkoordinasikan berbagai aktivitas suatu proyek secara menyeluruh dan mempercepat selesainya proyek.PERT direkayasa untuk menghadapi situasi dengan kadar ketidakpastian yang tinggi pada aspek kurun waktu kegiatan. Dalam PERT digunakan distribusi peluang berdasarkan tiga perkiraan waktu untuk setiap kegiatan, yaitu waktu optimis,waktu pesimis dan waktu realistis

12

Langkah-langkah metode PERT: 1. Membuat diagram network dari proyek 2. Mempekirakan durasi setiap kegiatan dengan memperkirakan: a= waktu pesimistis (waktu tercepat) b=waktu pesimistis (waktu terlama) m=waktu realistis (waktu yang paling mungkin terjadi 3. Menghitung nilai rata-rata (ekspektasi) durasi dari setiap kegiatan

4. Menghitung variansi dari durasi ( )

5. Menghitung saat paling cepat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (ES dan EF) dengan rumus: ES=max{EF semua pendahulu langsung} EF=ES+t

6. Menghitung saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (LS dan LF) dengan rumus LF=min{LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya} LS=LF- t 7. Menghitung kelonggaran waktu (float/slack) dari aktivitas S=LF-ES=LF-EF 8. Menetukan jalur kritis yang terdiri dari aktivitas-aktivitas kritis. Aktivitas kritis mempunyai S=0 9. Menghitung standart deviasi dari jalur kritis dengan rumus 10. Menghitung total waktu jalur kritis 11. Menghitung probabilitas selesainya proyek ( )

13

Dimana: =waktu diharapkan selesainya proyek =waktu jalur kritis selesainya proyek = penyimpangan standar jalur kritis

d) PRECEDENCE DIAGRAM METHOD (PDM) adalah jaringan kerja yang termasuk klasifikasi Activity On Node (AON). Disini kegiatan dituliskan dalam node yang umumnya berbentuk segi empat, sedangkan anak panah hanya sebagai penunjuk hubungan antara kegiatan-kegiatan yang bersangkutan. Pada PDM juga dikenal adanya konstrain. Satu konstrain hanya dapat menghubungkan dua node, karena setiap node memiliki dua ujung yaitu ujung awal atau mulai = (S) dan ujung akhir atau selesai = (F). Maka disini terdapat empat macam konstrain [13], yaitu: 1. Konstrain selesai ke mulai Finish to Start (FS) Konstrain ini memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu kegiatan dengan selesainya kegiatan terdahulu. Dirumuskan sebagai FS (i-j) = a yang berarti kegiatan (j) mulai a hari, setelah kegiatan yang mendahuluinya (i) selesai. Proyek selalu menginginkan besar angka a sama dengan 0 kecuali bila dijumpai hal-hal tertentu, misalnya : 1) Akibat iklim yang tak dapat dicegah 2) Proses kimia atau fisika seperti waktu pengeringan adukan semen 3) Mengurus perizinan

14

2. Konstrain mulai ke mulai Start to Start (SS) Memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu kegiatan dengan mulainya kegiatan terdahulu. Atau SS (i-j) = b yang berarti suatu kegiatan (j) mulai setelah b hari kegiatan terdahulu (i) mulai. Konstrain semacam ini terjadi bila sebelum kegiatan terdahulu selesai 100 % maka kegiatan (j) boleh mulai setelah bagian tertentu dari kegiatan (i) selesai. Besar angka b tidak boleh melebihi angka waktu kegiatan terdahulu. Karena per definisi b adalah sebagian kurun waktu kegiatan terdahulu. Jadi disini terjadi kegiatan tumpang tindih. SS(i-j) = b Konstrain SS

3. Konstrain selesai ke selesai Finish to Finish (FF) Memberikan penjelasan hubungan antara selesainya suatu kegiatan dengan selesainya kegiatan terdahulu. Atau FF (i-j) = c yang berarti suatu kegiatan (j) selesai setelah c hari kegiatan terdahulu (i) selesai. Konstrain semacam ini mencegah selesainya suatu kegiatan mencapai 100% sebelum kegiatan yang terdahulu telah sekian (=c) hari selesai. Angka c tidak boleh melebihi angka kurun waktu kegiatan yang bersangkutan (j). FF(i-j) = c Konstrain FF

15

4. Konstrain mulai ke selesai Start to Finish (SF) Menjelaskan hubungan antara selesainya kegiatan dengan mulainya kegiatan terdahulu. Dituliskan dengan SF (i-j) = d, yang berarti suatu kegiatan (j) selesai setelah d hari kegiatan (i) terdahulu mulai. Jadi dalam hal ini sebagian dari porsi kegiatan terdahulu harus selesai sebelum bagian akhir kegiatan yang dimaksud boleh diselesaikan. FS(i-j) = a Konstrain SF e) Algoritma Brook Algoritma Brooks dikembangkan oleh G.H Brooks Langkah langkah Algoritma Brooks : 1. Buat jaringan pekerjaan dengan prosedur lintasan kritis, tentukan aktifitas dan wkatu yang dibutuhkan 2. Tentukan waktu maksimum untuk setiap aktifitas yang mengendalikan jaringan pada satu path. ACTIM = ACTIVITY CONTROL TIME 3. Urutkan ACTIM dari waktu terlama hingga terpendek f) Algoritma Langs Algoritma Langs dikembangkan oleh Douglas W. Lang Langkah langkah Algoritma Langs : 1. Urut kan aktifitas berdasarkan Latest Start Time 2. Apabila aktifitas memiliki Latest Start Time sama, maka urutkan berdasarkan : Float (kelongaran waktu) terkecil Waktu durasi terpanjang

16

g)

Kebutuhan sumber terbesar

Algoritma Harmony Search (HS) Algoritma Harmony Search (HS) pertama kali diperkenalkan oleh Zong Woo Geem pada tahun 2001. Ide dasar algoritma HS adalah meniru proses perbaikan harmoni musik yang dilakukan oleh kelompok paduan music. Langkah langkah Algoritma HS : 1.Inisialisasi masalah dan parameter algoritma 2. Inisialisasi harmonymemory. 3. Membangkitkan vektor solusi yang baru. 4. Meng-update harmonymemory. 5. Mengecek kriteria pemberhentian

h)

Algoritma Genetik Algoritma genetik merupakan algoritma pencarian berdasarkan pada mekanisme yang meniru dari seleksi alam dan evolusi. Istilah yang digunakan dalam algoritma genetik adalah meminjam dari genetik alam seperti populasi, kromosom dan gen. Algoritma genetik berbeda dari teknik pencarian konvensional, dimulai dengan kumpulan inisial dari solusi acak yang disebut populasi. Setiap individu dalam populasi disebut kromosom, yang mewakili suatu solusi dari masalah, suatu kromosom merupakan sebuah string dari simbol. Kromosom-kromosom tersebut akan melakukan suatu regenerasi melalui ulangan berturut-turut. Dan selama regerasi kromosm akan dievaluasi dengan menggunakan suatu ukuran yang disebut fitness value (keuntungan kesesuaian). Semakin besar keuntungan fitnees suatu kromosom, maka semakin besar kemungkinannya ikut dalam regenerasi. Untuk menghasilkan generasi berikutnya, yaitu kromosom-kromosom baru yang disebut offspring. Dibentuk dengan : a. Menggabungkan dua kromosom dari generasi baru dengan cara persilangan (crossover). b. Mengubah suatu kromosom dengan meggunakan operator mutasi. Generasi baru yang dibentuk akan dipilih sesuai dengan nilai fitnees beberapa kromosom induk dan tetap mengambil populasi secara konstan setelah beberapa generasi. Algoritma munuju kesatu titik yaitu romosom

17

terbaik dengan probabilitas tinggi yang akan mewakili solusi yang optimal atau suboptimal pada suatu masalah. Beberapa hal yang sangat dibutuhkan algoritma genetik dalam memecahkan suatu masalah adalah operator genetik, fungsi evaluasi dan teknik pemilihan induk. Ketiga hal tersebut saling berhubungan satu sama lainnya, sehingga jika salah satu diabaikan maka algoritma genetik tidak akan bisa dijalankan dengan maksimal. Operator genetik dilakukan setelah teknik pemilihan induk dijalankan. Langkah-langkah Pembangkitansampelawal Pemilihaninduk Reproduksi(Cross Over, Mutasi) Cekkriteriapemberhentian

i) FUZZY Durasi Fuzzy Kegiatan Durasi kegiatan dinyatakan dalam TFN (Triangular Fuzzy Number) seperti yang terlihat pada gambar 2.3 :

Gambar 2.3 Waktu Fuzzy dalam bentuk TFN Nilai a dikenal sebagai durasi terpendek yang mungkin (most optimistic time), d adalah durasi paling lama (most pessimistic time) dan b adalah durasi yang paling mungkin (most likely time). Dalam kaitannya dengan manajemen proyek, bilangan fuzzy akan dioperasikan antara lain menurut operasi operasi sebagai berikut : Misalnya 2 buah TFN M(a,b,c,d) dan N(e,f,g,h) M N = (a + e, b + f, c + g, d + h)

18

h, b g, c f, d e ) Min(M,N) = [ (a,e), (b,f), (c,g), (d,h) ] Max(M,N) = [ V (a,e), V (b,f), V (c,g), V (d,h) ] Dimana fuzzy; V = maksimum; = minimum. Operasi maksimum dan minimum merupakan pembandingan pada tiap titik dalam dua TFN, dan keluarannya merupakan bilangan-bilangan yang sesuai dengan operatornya (maksimum/minimum). Jadi misalkan A(1,5,5,6) dan B(3,4,4,7) , maka max(A,B) menghasilkan (3,5,5,7). Parameter Waktu Kegiatan Fuzzy Untuk mencari jalur kritis, sebelumnya harus dicari parameter-parameter waktu dari tiap kegiatan. Parameter waktu tersebut adalah : 1. FES ( Fuzzy Early Start) Waktu mulai paling awal suatu kegiatan dapat dilaksanakan 2. FEF (Fuzzy Early Finish) Waktu selesai paling awal dari suatu kegiatan 3. FLS (Fuzzy Late Start) Waktu paling akhir suatu kegiatan boleh dimulai, yaitu waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek secara keseluruhan 4. FLF (Fuzzy Late Finish ) Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambatpenyelesaian proyek. Fuzzy Forward Pass Pencarian jalur kritis dan parameter waktu kegiatan dimulai dengan proses forward pass, yang menghitung FES dan FEF yang diawali dari awal kegiatan sampai ke akhir kegiatan. FES dan FEF dihitung dengan rumus sebagai berikut : FESx = max(FEFp) FEFx = FESx FDx

Dimana FEFx = waktu mulai tercepat dalam fuzzy dari aktivitas x, p = aktivitas yang mendahului, FEF = waktu selesai tercepat dalam bentuk fuzzy , FD = durasi dari sebuah kegiatan. Fuzzy Backward Pass

19

Proses backward pass dilakukan untuk mencari FLS dan FLF, diawali dengan kegiatan terakhir sampai dengan kegiatan awal. Backward pass dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut : o FLS dari kegiatan terakhir dalam proyek adalah sama dengan FES-nya (kegiatan terakhir dalam proyek adalah simpul finish yang FD-nya adalah (0,0,0,0)) o Kemudian dihitung PLFx = min (FLSs) . Dimana PLFx = waktu selesai terlama sementara, FLSs = waktu mulai terlama dari kegiatan sebelumnya (arah dari akhir proyek ke awal ) o PLF kemudian dikonversi menjadi FLFu (Batas atas dari waktu selesai terlama) dengan rumus :

o Dengan FEF (a,b,c,d) dan FLFu

dari suatu kegiatan diketahui

maka akan dicari FLF dengan langkah- langkah sebagai berikut : kanan lebih besar, dengan cara membandingkan (f e ) dengan ( d c). sebuah besaran fuzzy terbesar yang memenuhi syarat : c ) > ( f e) atau bisa dikatakan lebih tidak pasti maka bagian kanan dari FLF dibuat sama dengan FEF. Dan Y didapat dari: Y = ( f d, f d, f d, f d )

FLF disamakan dengan FLFu namun bagian kiri disamakan dengan bagian kiri dari FEF. Maka Y adalah : Y = ( e - c, e - c, e - c, f d ) o Kemudian FLF dapat dihitung dengan rumus :

o Dan FLS kemudian didapat dari penurunan rumus :

Durasi Proyek Metode Fuzzy Setelah dilakukan pencarian parameter-parameter waktu dari seluruh kegiatan dalam proyek, maka akan ditemukan durasi dari keseluruhan proyek. Durasi

20

dari keseluruhan proyek adalah nilai dari FEF dari kegiatan terakhir pada proyek (pada kegiatan terakhir FEF = FLF). Penghitungan PM (Possibility Measure) untuk mencari jalur kritis PM (Possibility Measure) merupakan suatu besaran yang digunakan untuk menghitung tingkat kekritisan dari jalur-jalur aliran kegiatan pada proyek.

Gambar 2.4 Pencarian PM PM dicari dengan membandingkan 2 besaran durasi fuzzy, kemudian dicari perpotongan terbesarnya dari kedua durasi fuzzy tersebut (keduanya dalam bentuk TFN). Dalam hal ini yang dibandingkan adalah durasi proyek dengan durasi pada tiap jalur. Dengan demikian nilai PM dari jalur kritis bernilai satu. Durasi pada tiap jalur dicari dengan menjumlahkan seluruh durasi fuzzy pada kegiatan-kegiatan dalam jalur tersebut. Penghitungan Slack Slack atau total float (TF) menunjukkan waktu suatu kegiatan yang dapat ditunda tanpa mempengaruhi total waktu penyelesaian dari seluruh proyek. Pada metode fuzzy, slack dapat dihitung dengan rumus :

Dimana notasi x menunjukkan suatu kegiatan, dan C = nilai centroid.Sedangkan centroid (C) dari sebuah TFN (a,b,c,d) dapar dihitung dengan rumus :

j) PSO(Particle Swarm Optimization) Proses algoritma particle swarm optimization yaitu sebagai berikut : 1) Inisialisasi sekumpulan particle secara random (setiap particle merepresentasikan solusi yang mungkin untuk masalah optimasi).

21

2) Inisialisasi posisi dari setiap particle (Xi) dan kecepatan dari setiap particle (Vi). 3) Hitung nilai fluktuasi dari setiap particle Fi berdasarkan formula dan model yang telah ditentukan sesuai dengan masalah optimasinya. 4) Untuk setiap particle, bandingkan nilai fluktuasi Fi dengan nilai terbaiknya yang telah dicapai Pid (local best), jika Fi < Pid , maka Pid diganti dengan Fi. 5) Untuk setiap particle, bandingkan nilai fluktuasi Fi dengan Nilai terbaik yang dicapai dalam populasi Pgd (global best), jika Fi < Pgd , maka Pgd diganti dengan Fi. 6) Berdasarkan persamaaan 4 dan 5 , kecepatan (Vi) dan posisi dari particle (Xi) diubah. Rumus perubahan kecepatan (Vi) : Rand()( k) Algoritma Simulated Annealing Algoritma SA diperkenalkan olehMetropolis et al. pada tahun 1953, dan aplikasinya dalam masalah optimasi dilakukan pertama kali oleh Kirkpatrick et al. tahun 1983. Algoritma ini beranalogi dengan proses annealing (pendinginan) yang diterapkan dalam pembuatan material glassy (terdiri dari butir kristal).Dari sisi ilmu fisika, tujuan sistem ini adalah untuk meminimasi energi potensial. Fluktuasi kinematika acak menghalangi sistem untuk mencapai energi potensial yang minimum global, sehingga system dapat terperangkap dalam sebuah. keadaan minimum lokal. Dengan menurunkan temperatur sistem, diharapkan energi dapat dikurangi ke suatu level yang relatif rendah. Semakin lambat laju pendinginan ini, semakin rendah pula energi yang dapat dicapai oleh sistem pada akhirnya. Guna mensimulasikan proses evolusi menuju kesetimbangan termal untuk suatu material zat padat dalam sebuah tungku pemanas pada setiap temperatur T, Metropolis membuat algoritma sbb.: Jika diketahui state current darizat padat (energi E), maka sebuah mekanisme gangguan digunakan untuk membuat state berikutnya (energi E) dengan melakukan sedikit pergeseran terhadap suatu partikel yang dipilih secara acak. Jika (DE = E E) 0, maka proses dilanjutkan dengan state baru ini. Jika DE > 0, state yang dibuat ini ) + Rand()( )

22

diterima dengan probabilitas tertentu, yaitu exp (-DE/kBT), yang disebut kriteria Metropolis. Agar zat padat dapat mencapai kesetimbangan termal untuk tiap nilai temperatur, proses penurunan temperatur dilakukan dengan membuat sejumlah transisi untuk setiap nilai temperatur. Temperatur merupakan parameter kunci yang mengontrol proses annealing dan menentukan berapa tingkat keacakan dari state energi. Algoritma Metropolis juga dapat digunakan terhadap urutan-urutan konfigurasi (solusi) yang dibuat untuk sebuah masalah optimasi kombinatorial. Konfigurasi dipandang sebagai state dari zat padat, sedangkan fungsi cost F dan parameter kontrol c sebagai energi E dan temperatur T. Algoritma simulated annealing dapat dipandang sebagai suatu urutan algoritma Metropolis yang dievaluasi pada serangkaian nilai-nilai parameter kontrol yang semakin mengecil. Dalam konteks optimasi, temperature adalah variabel kontrol yang berkurang nilainya selama proses optimasi. Level energi sistem diwakili oleh nilai fungsi objektif. Skenario pendinginan dianalogikan dengan prosedur search yang menggantikan satu state dengan state lainnya untuk memperbaiki nilai fungsi objektif. Analogi ini cocok untuk masalah optimasi kombinatorial dimana jumlah state terbatas namun terlalu besar untuk ditelusuri dengan cara enumerative search. Diberikan sebuah contoh masalah optimasi kombinatorial (S,F), dimana I adalah konfigurasi/solusi sekarang (current) dengan fungsi cost F(i) dan j adalah konfigurasi berikutnya dengan fungsi cost F(j). Konfigurasi j diperoleh melalui sebuah mekanisme generate yang mewakili mekanisme gangguan dalam algoritma Metropolis, dan j akan diterima menggantikan i dengan suatu kriteria penerimaan yang mewakili criteria Metropolis yang didefinisikan sbb.: Prob(menerima j) = min [1, exp (-(F(i) - F(j))/c) ] dimana c R+ adalah parameter control dan i,j S adalah dua konfigurasi yang berbeda. Topologi sistem harus dibuat sedemikian rupa sehingga setiap titik dapat dicapai dari setiap titik lainnya. Hal ini berarti terdapat sebuah path dari setiap minimum lokal menuju minimum global. Algoritma SA bertujuan untuk meminimasi sebuah fungsi objektif atau fungsi energi. Pada tahap pertama, didefinisikan sebuah solusi awal. Lalu dari solusi awal ini dibuat sebuah solusi

23

baru, yang kemudian dibandingkan nilai fungsi objektifnya dengan solusi awal. Jika solusi baru ini lebih baik, ia akan diterima. Keunikan metode SA adalah bahwa solusi yang lebih buruk kadang-kadang dapat diterima, sehingga sistem dapat terhindar dari perangkap minimum local (namun solusi terbaik yang pernah dicapai selalu dicatat). Algoritma SA secara umum adalah sbb.: A) Pilih sebuah solusi awal x0 secara acak dan tetapkan nilai temperature awal. Pada langkah ke-i, solusi yang current disebut xi. Parameter control adalah ci dan fi = f(xi). B) Ulangi langkah-langkah berikut : 1. Buat sebuah neighbour xp darisolusi current xi dan hitung nilai fungsi objektifnya. State xp adalah sebuah kandidat potensial untuk state xi+1. 2. Set xi+1 = xp dengan probabilitas min {1,exp((fi-fp)/c i)}. Jika tidak, set xi+1 = xi. Turunkan nilai temperature berdasarkan faktor d tertentu : ci = ci + dci. Tambahkan 1 pada jumlah iterasi : i = i + 1. Kondisi terminasi algoritma dapat berupa dicapainya jumlah iterasi tertentu dimana tidak ada state baru yang diterima, atau temperatur mencapai nilai tertentu yang telah ditetapkan. Algoritma ini pasti akan mengubah state jika nilai fungsi objektif diperbaiki. Namun dengan probabilitas tertentu (yang akan berkurang sebagai fungsi dari jumlah iterasi), state dapat digantikan dengan yang lebih buruk (namun state terbaik tetap dicatat). State awal dari sistem da pat dipilih secara acak atau dengan menggunakan metode heuristik tertentu. Nilai temperature awal (T0) harus cukup besar supaya beberapa state awal yang dipilih dapat diterima, karena probabilitas penerimaan berkurang seiring dengan menurunnya temperature (T). Fungsi probabilitas penerimaan yang umum digunakan adalah: P = eDE/T ; dimana DE = E(Vnew) - E(Vold) T : temperatur; E : fungsi energy system yang dihitung pada state Vnew dan Vold Untuk DE yang lebih besar, yaitu bila state baru benar-benar tidak seperti yang diharapkan, probabilitas penerimaan tidak ada, dan bila DE negatif state yang baru selalu diterima. l) MMA(Minimum Moment Algorthm) m) SWO(Squeaky Wheel optimation) n) Algoritma Cross Entropy

24

Dipopulerkan oleh Solomon Kullback dan Richard Leibler untuk mengukur perbedaan selisih jarak antara sebuah distribusi referensi ideal p dengan ditribusi teraplikasi q kemudian membuat agar nilai cross entropy distribusi q sama dengan nilai entropy distribusi p. Langkah-langkah Tetapkan parameter awal Bangkitkan sampel acak Hitung fungsi tujuan Update parameter Cek criteria pemberhentian

o) Algoritma Cross Entropy Genetika Langkah-langkah Penentuan nilaiparameter awal Pembangkitan Sampel Reproduksi Update parameter Cek criteria pemberhentian

p) SWO Squeaky Wheel Optimization (SWO) adalah sebuah teknik pencarian berulang ulang untuk meneyelesaikan masalah optimasi. Solusi dibangan oleh sebuah lagoritma dengan skema prioritas. Ketika membangun sebuah solusi, algoritma greedy membuat keputusan didasarkan pada prioritas yang ditugaska untuk seluruh elemen dalam permasalahan (elemen dengan prioritas yang lebih tinggi ditangani sebelumnya.) solusi di bangun kemudian dianalisisdan unsure prioritas berubah. Hasil adri analisis ini adalah uruta prioritas baru, yang digunakan oleh algoritma greedy untuk membangun solusi berikutnya. Siklus construst/ alalisis/ prioritas berlanjut samapai beberapa solusi yang diperlukan diterima atau ditemukan(Joslin dan Clements, 1998)

q) MMA Menggambarkan suatu proses yang sistematis untuk keperluan pemerataan sumber daya di mana jadwal (schedule) dapat mengukur setiap

25

perbaikan yang terjadi untuk setiap upaya pemerataan yang dilakukan. Sasaran minimum moment algorithm adalah untuk mencapai pendistribusian sumber daya yang seragam selama pelaksanaan proyek. Tingkat perubahan tersebut dapat ditentukan dengan suatu faktor yang disebut faktor perbaikan (Improvement Factor). Luthan (2006:94) menyatakan bahwa kondisi grafik sumber daya yang terbaik adalah apabila jumlah tenaga kerja meningkat dari awal proyek atau rata atau banyak, kemudian sedikit demi sedikit menurun. Bisa juga naik kemudian turun, semula sedikit kemudian meningkat, dan kembali sedikit sampai akhir proyek. Adapun dapat digambarkan seperti grafik-grafik ideal berikut: Menurut Anonim (2007:1), menjelaskan bahwa SNI merupakan analisa yang diperoleh dari hasil penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman dari tahun 1988 1991 untuk mengembangkan Analisa BOW dalam menentukan harga satuan pekerjaan dan terus diadakan penambahan, revisi dan penyempurnaan sampai tahun 200 r) Metode Trial and error Dimulai dengan menggambarkan suatu bagan balok dari suatu aktifitas. Pendekatan metode ini dengan cara mencoba-coba, membuat perpindahan suatu kegiatan dengan menggunakan float, proses ini dilakukan berulang-ulang sampai mencapai total histogram sumber daya yang dicapai. Callahan (1992:281) menyatakan bahwa pendekatan trial-and-error dimulai dengan menggambar suatu bagan balok dari suatu kegiatan, dimulai dengan kegiatan jalur kritis di atas. Sumber daya yang diperhatikan dijumlahkan untuk kegiatan ini. Selanjutnya, bagan balok mewakili kegiatan yang tersisa, yang dikelompokkan ke dalam jalur individu yang memungkinkan, ditambahkan ke diagram bagan balok. Sumber daya untuk kegiatan ini kini disertakan dan berjumlah bersama dengan kegiatan kritis pada baris terpisah langsung di bawah bagan balok, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.8 untuk jaringan contoh pada gambar 2.7. Langkah pertama dalam pendekatan trial-and-error untuk memindahkan kegiatan melibatkan identifikasi float yang tersedia untuk kegiatan terakhir dalam proyek dan untuk kegiatan sebelumnya di jalur yang

26

mengarah ke kegiatan itu. Hal ini berguna untuk mengetahui batasan logis pada diagram sehingga ketika kegiatan dipindahkan, perubahan terkait dalam float dapat dicatat pada kegiatan yang tersisa. Pada gambar 2.8 ditampilkan berbagai langkah yang diambil dengan pendekatan trial-and-error untuk meningkatkan pemerataan sumber daya. Uji coba pertama dilakukan dengan menggerakkan kegiatan F 5 hari ke kanan (bergerak, F-5R), menggunakan semua float nya-dan bergerak keluar untuk waktu mulai terlambat. Dalam perhitungan dasar sumber daya total disesuaikan dengan mengurangi tiga sumber daya per hari untuk masingmasing 2 hari dari lokasi sebelumnya dalam durasi proyek dan menambahkan tiga sumber daya per hari untuk 2 hari yang digunakan oleh kegiatan dan durasi proyek. Pendekatan yang sama diikuti untuk kegiatan H dengan memindahkan itu 3 hari kemudian, maka membuat penyesuaian dalam total sumber daya, dalam hal ini enam sumber daya per hari. Proses yang sama dapat digunakan berulang-ulang sampai suatu jumlah yang dapat diterima sumber daya histogram dicapai. Langkah empat diilustrasikan pada Gambar 2.8 mungkin dapat diperbaiki oleh revisi lebih lanjut, tetapi contoh ini menggambarkan proses trial-and-error. Jenis pendekatan ini agak serampangan dan bisa menjadi memakan waktu tanpa menghasilkan perbaikan yang cukup setelah perubahan awal telah dibuat s) WBS Menurut Ervianto (2004:70), Work Breakdown Structure (WBS) adalah bagan perincian pekerjaan yang meliputi perlengkapan, tugas-tugas, dan data yang dihasilkan dari usaha-usaha teknik proyek selama pengembangan dan pelaksanaan, dan mendefinisikan program secara menyeluruh. Struktur WBS menyerupai gambar piramida, dan posisi puncak mendefinisikan keseluruhan aktifitas pekerjaan. Level-level terbawah dalam WBS merupakan level terpenting, sebab setiap elemen pada level ini menggambarkan bagian terperinci pekerjaan dengan perlengkapan, data, atau tugas yang akan dikerjakan t) GERT GERT dapat mendukung perulangan.Mengevaluasi langkah kerja secara probabilistis dalam suatu jaringan kerja, dengan memperhitungkan bagaimana

27

suatu aktivitas harus dilaksanakan (total, sebagian atau tidak sama sekali) sebelum suatu aktivitas lanjutan dapat dijalankan.

4. Alokasi Sumber Daya Sumber Daya adalah item yang dibutuhkan untuk memungkinkan terselesaikannya suatu proyek. Contohnya: Man Power, Perlengkapan, Ruang dan Waktu, Uang atau modal, Bahan Baku, Komponen dan Bahan Pendukung. Dalam Proyek perangkat Lunak ada 3 Sumber Daya yang digunakan, yaitu Sumber Daya Manusia Sumber Daya Perangkat Lunak Sumber Daya Lingkungan

Jadi Alokasi Sumber daya adalah kegiatan atau proses mengalokasikan seluruh sumber daya yang ada dalam proyek sehingga kegiatan proyek dapat berjalan dengan baik dan benar a. Alokasi sumber tidak terbatas Yaitu mengatur jadwal aktivitas-aktivitas sedemikian rupa, sehingga tingkat kebutuhan sumber dari waktu ke waktu menjadi balance. Metode perataan sumber ini diberikan dengan minimasi jumlah kuadrat terkecil sumber yang dibutuhkan setiap satuan waktu dalam jadwal proyek. Prosedur dari pengalokasian sumber tidak terbatas ini adalah sebagai berikut : Susunlah pada peta jadwal proyek yang bersangkutan berdasarkan network yang telah dibuat terlebih dahulu. Aktivitas-aktivitas ditebelkan menurut nomor, dari yang kecil sampai yang besar. Lakukan penjadwalan kembali mulai dari aktivitas yang terletak paling bawah berturut-turut sampai aktivitas yang terletak paling atas dalam network planning, sehingga diperoleh alokasi sumber yang paling rata untuk setiap penjadwalan aktivitas tersebut, penjadwalan ini tidak boleh mencapai batas kelonggaran (slack) dari aktivitas bersangkutan. b. Alokasi Sumber terbatas

28

Alokasi sumber terbatas adalah pengaturan jadwal aktivitas-aktivitas, sehingga kebutuhan sumber tidak melebihi tingkat kemampuan sumber. Langkah-langkah dalam operasi sumber terbatas tersebut adalah : Susunlah peta jadwal proyek menurut jadwal dasarnya dengan

mencantumkan EF (saat paling

awal berakhirnya suatu aktivitas) dan LS

(saat paling lambat dimulainya suatu aktivitas). Tetntukan EF minimum dan LS maksimum dari aktivitas yang mengalami konflik dan tambahkan hubungan kebergantungan diantara kedua aktivitas bersangkutan. Buat diagram network yang baru dengan memperhatikan tambahan hubungan ketergantungan seperti pada langkah kedua. Susun peta jadal yang baru berdasarkan network pada langkah ketiga menurut jadwal dasarnya. Jika masih terdapat konflik maka langkah kedua sampai langkah keempat diulang lagi, sampai konflik teratasi seluruhnya, sehingga alokasi sumber telah optimum.

2.2 Penelitian yang sudah dilakukan a. Berdasarkan Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan oleh Moch. Afiq Dwi dengan laporan yang berjudul Schedulling Menggunakan Algoritma Network Analysis pada Proyek Perumahan Taman Mulyorejo, pada tahun 2010 dengan menggunkan alat bantu POM diperoleh hasil sebagai berikut. Hasil perhitungan diperoleh total hari kerja dalam penyelesaian proyek renovasi dan pembangunan perumahan taman Mulyorejo kecamatan Sukun Kodya Malang adalah 88 hari. Sedangkan hasil dilapangn total hari kerja dalam penyelesaian proyek renovasi dan pembangunan perumahan taman Mulyorejo kecamatan Sukun Kodya Malang adalah sekitar 95 hari. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor antara lain factor alam, keterlambatan bahan bangunan, kurang terjadwalnya tenaga kerja dengan baik dan adanya masalah keuangan. b. Berdasarkan Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan oleh Miftahus Solihah,Sikky El Walida dan Wahyu Dwi Jayanti dengan laporan yang berjudul Schedulling Menggunakan Network Analysis pada Proyek Renovasi dan Pembangunan Gedung

29

Madrasah Aliyah Khairudin Gondanglegi, pada tahun 2006. Diperoleh hasil sebagai berikut. Dengan penghitungan manual diperoleh totah hari kerja penyelesaian proyek tersebut adalah 1099 jam atau 138 hari. Dengan menggunakan alat bantu POM diperoleh totah hari kerja penyelesaian proyek tersebut adalah 1099 jam atau 138 hari. Dengan menggunakan alat bantu Microsoft Project didapatkan hasil bahwa proyek tersebut akan selesai dalam kurang lebih 161 hari. Sedangakan total hari kerja adalah 147 hari. Perbedaan mengenai total hari kerja tersebut terkait tentang perbedaan penentuan lag time atau lead time sehingga lintasan kritis yang terbentuk dengan menggunakan POM dan manual berbeda dengan Microsoft project.

30

BAB III METODOLOGI

Dalam mengaplikasikan algoritma-algoritma yang ada pada maksimum flow problem dibutuhkan unsur-unsur yang dapat di representasikan sebagai elemen elemen dalam graph yaitu titik,sisi dan bobot untuk setiap sisi. Unsur-unsur beserta representasinya adalah sebagai berikut : a) Nama- nama kejadian (event) yang berperan sebagai titik (node). b) Nama-nama kegiatan yang dibutuhkan dalam proses produksi berperan sebagai sisi (anak panah). c) Waktu atau durasi yang dibutuhkan setiap kegiatan dalam proses produksi sebagai bobot Algoritma-algoritma yang digunakan dalam laporan ini antara lain: Algoritma CPM Algoritma PERT

Langkah-langkah penerapan : 1. Mengumpulkan data-data berupa : Nama-nama kejadian (event) Nama-nama kegiatan Waktu dari setiap kegiatan

2. menerapkan algoritma-algoritma network planning, yaitu CPM dan PERT

3. 1. Alat bantu Penyelesaian Masalah Network Planning Dalam penyelesaian masalah network planning terdapat alat bantu berupa software untuk menyelesaikan masalah penjadwalan produksi yaitu POM dan WinQSB.

1. Langkah-langkah penggunaan software POM dalam penyelesian masalah Penjadwalan produksi: 1. Klik 2 kali pada icon

31

Muncul tampilan :

2. Klik module

project management (PERT/CPM)

3. Klik file

new, Pilih salah satu antara Single time, Triple time estimate,

crashing (to the limit), cost budgeting. Misal dipilih single time estimate maka

32

Muncul tampilan :

Isi identitas ke dalam format creating a new data sheet. Identitas data terdiri dari: o o o Title (judul masalah) Number Task (jumlah aktivitas)- menunjukkan jumlah baris/row pada tabel masalah Pilih salah satu dari Row name options (name can be changed) untuk nama tertentu sesuai dengan persoalan yang dibahas. : pilih A, B,C, . o Pilih Percedence list atau Start/end node numbers pada Tabel Structures

4. Klik OK Lengkapi identitas tabel masalah. Masukkan nilai data, time (t), precedence, mulai dari 1 dst, berdasarkan aktivitas yang mendahuluinya. Bila dipilih Triple time estimate, maka komponen waktu yang diisi mencakup optimistic, most likely (realistic), dan pessimistic time. Klik Solve untuk mengetahui solusi / penyelesaian masalah. Klik window untuk mengetahui semua jenis solusi. Solusinya meliputi: Project management (PERT/CPM) result: menampilkan output berupa ES,EF,LS,LF, Slack (Slack = 0 berarti jalur kritis).

33

Cart :secara default menampilkan diagram Gannt untuk Early times, untuk menampilkan grafik lainya, klik di Graph

2. Langkah-langkah penggunaan software WinQSB dalam penyelesian masalah penjadwalan produksi: 1. Klik start menu all program winQSB PERT CPM, seperti berikut :

2. Akan diperoleh tampilan seperti berikut :

34

3. Pilih file new problem, sehingga diperoleh tampilan berikut :

Input keterangan yang diperlukan. Di antaranya : a. Problem Title : diisikan dengan judul yang diinginkan b. Number og activities : diisikan dengan jumlah aktivitas yang dilakukan

35

c. Time unit : diisikan dengan tipe waktu yang digunakan d. Problem type : dipilih deterministic CPM atau probabilistic PERT (sesuai metode yang digunakan. Misal dipilih metode CPM e. Data entry format : format input data dipilih dalam bentuk tabel atau spreadsheet. f. Select data field : dipilih Normal time.

Kemudian klik OK

4. Berikutnya akan ditampilkan seperti berikut :

5. Kemudian input data yang diperoleh pada tabel yang tersedia: 6. Pilih solve and analyze pada toolbar solve critical problem, untuk mengetahui solusinya 7. Klik pada icon chart di bagian bawah toolbar chart 8. Klik pada icon graf disebelah icon chart untuk mengetahui gambar graf. , untuk menampilkan gannt

36

BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Permasalahan Ramayana Agro Mandiri Batu merupakan perusahaan rumahan yang memproduksi makanan oleh-oleh khas malang dari bahan buah-buahan seperti apel. Produk dari olahan apel antara lain sari apel, jenang apel,dodol apel dan kripik apel. Dalam laporan ini akan dirumuskan penjadwalan proses produksi olahan apel yang ada di Ramayana Agro Mandiri Batu untuk mengoptimalkan proses produksinya. Data yang diperoleh terdiri dari kegiatan proses produksi sari apel, kripik apel dan dodol apel beserta waktu di setiap kegiatannya. Data proses produksinya sebagai berikut: 1. Kripik apel Kode Nama kegiatan Kegiatan pendahulu A B C D E F G H I J K Penyiapan apel dan bahan pelengkap Penyiapan kemasan dan stiker Penyortiran apel Pengupasan apel Pencucian apel Pemotongan apel Pendinginan apel Pengorengan apel Proses menghilagkan minyak Proses pendiaman finishing A C D E F G H I J,B Durasi waktu (jam) 2 1 2 2 0,5 1,5 48 2,5 0,1 24 8

2. Dodol apel Kode Nama kegiatan kegiatan Durasi waktu

37

pendahulu A B C D E F G H I J K Penyiapan apel dan bahan pelengkap Penyiapan kemasan dan stiker Penyortiran apel Pengupasan apel Pencucian apel Penghalusan apel Pembuatan selai apel Proses pemasakan dan pengadukan dodol Penambahan bahan pelengkap dodol Proses pendinginan finishing A C D E F F,G H I J,B

(jam) 2 1 2 2 0,5 1,5 1,5 5 0,1 24 8

3. Sari apel Kode Nama kegiatan Kegiatan pendahulu A B C D E F G H I J Penyiapan apel dan bahan pelengkap Penyiapan kemasan dan stiker Penyortiran apel Pengupasan apel Pencucian apel Pemasakan air Pengambilan sari Apel Penambahan gula Pendinginan air gula Penambahan sari apel dan bahan pelengkap sari apel K L M Pengadukan Sterilisasi kemasan Finishing H,J B L,K 2 0 8 A C D E F G H I Durasi waktu (jam) 2 1 2 2 0,5 0,25 1,25 0 0,25 0,1

38

Jika tiga proses produksi tersebut digabungkan maka datanya sebagai berikut: Kode Kegiatan A B C D E F G H I J K L M Penyiapan apel dan bahan pelengkap Penyiapan kemasan dan stiker Penyortiran apel Pengupasan apel Pencucian apel Pemotongan apel Pendinginan apel Pengorengan apel Proses menghilagkan minyak Proses pendiaman Penghalusan apel Pembuatan selai apel Proses pemasakan dan pengadukan dodol N O P Q R S T Penambahan bahan pelengkap dodol Proses pendinginan Pengambilan sari apel Pemasakan air Penambahan gula Pendinginan air gula Penambahan sari apel dan bahan pelengkap sari apel U V W Pengadukan Sterilisasi kemasan Finishing R,T B J,O,U,V 2 0 8 L E P Q R S T 0,1 24 0,25 1,25 0 0,25 0,1 Nama Kegiatan Kegiatan Pendahulu A C D E F G H I E K K,L Durasi waktu (Jam) 2 1 2 2 0,5 1,5 48 2,5 0,1 24 1 1,5 5

Adapun diagram network dari data-data di atas adalah: Dengan model AOA

39

4.2. Penyelesaian dengan Algoritma 1. Penyelesaian diagram network dengan Algoritma CPM i. Menghitung saat paling cepat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (ES dan EF) dengan forward pass (perhitungan maju), yaitu ES=max{EF semua pendahulu langsung} EF=ES+t Perhitungan Maju ESA =0 ESB =0 ESC =2 ESD =4 ESE=6 ESF =6,5 ESG =8 ESH=56 SI=58,5 ESJ =58,6 ESK =6,5 ESL =7,5 EFA =0 + 2 = 2 EFB =0 + 1 =1 EFC =2 + 2 = 4 EFD =4 + 2 =6 EFE=6 + 0,5 = 6,5 EFF =6,5 + 1,5 = 8 EFG =8 + 48 = 56 EFH =56 + 2,5 = 58,5 EFI =58,5 + 0,1 =58,6 EFJ =58,6 + 24 = 82,6 EFK =6,5 + 1 = 7,5 EFL =7,5 + 1,5 =9

40

ESM =9 ESN = 14 ESO=14,1 ESP =6,5 ESQ=6,75 ESR=8 ESS =8 EST =8,25 ESU =8,35 ESV =1 ESW =maks {EF0 , EFj, EFu, EFv} = maks {38,1 ; 82,6 ; 10,35; 1} = 82,6

EFM =9 + 5 = 14 EFN =14 + 0,1 = 14,1 EFO =14,1 + 24 = 38,1 EFP=6,5 + 0,25 = 6,75 EFQ =6,75 + 1,25 = 8 EFR=8 + 0= 8 EFS =8+0,25= 8,25 EFT =8,25 +0,1=8,35 EFU =8,35 +2 =10,35 EFV =1 + 0 = 1 EFW =82,6 +8= 90,6

ii. Menghitung saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (LS dan LF) dengan backward pass (perhitungan mundur),yaitu LF=min{LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya} LS=LF- t

Perhitungan Mundur LFW =90,6 LFV=82,6 LFU =82,6 LFT =80,6 LFS=80,5 LFR=80,25 LFQ =80,25 LFP=79 LFO=82,6 LFN=58,6 LFM =58,5 LSW =90,6-8=82,6 LSV=82,6-0=82,6 LSU =82,6-2=80,6 LST =80,6-0,1=80,5 LSS=80,5-0,25=80,25 LSR=80,25-0=80,5 LSQ =80,5-1,25=79 LSP =79-0,25=78,75 LSO=82,6-24=58,6 LSN=58,6-0,1=58,5 LSM =58,5-5=53,5

41

LFL =53,5 LFK =52 LFJ=82,6 LFI=58,6 LFH=58,5 LFG=56 LFF=8 LFE=min{LSK,LSF,LSP} =MIN{51;6,5;78,75}=6,5 LFD=6 LFC =4 LFB =82,6 LFA =2

LSL =53,5-1,5=52 LSK =52-1=51 LSJ =82,6-24=58,6 LSI =58,6-0,1=58,5 LSH=58,5-2,5=56 LSG =56-48=8 LSF =8-1,5=6,5 LSE=6,5-0,5=6 LSD=6-2=4 LSC =4-2=2 LSB =82,6-1=81,6 LSA =2-2=0

iii. Menghitung kelonggaran waktu (float/slack) dari aktivitas, yaitu S=LF-ES=LF-EF Kegiatan A B C D E F G H I ES 0 0 2 4 6 6,5 8 56 58,5 EF 2 1 4 6 6,5 8 56 58,5 58,6 LS 0 81,6 2 4 6 6 8 56 58,5 LF 2 82,6 4 6 6.5 8 56 58,5 58,6 SLACK 0 81,6 0 0 0 0 0 0 0

42

J K L M N O P Q R S T U V W

58,6 6,5 7,5 9 14 14,1 6,5 6,75 8 8 8,25 8,35 1 82,6

82,6 7,5 9 14 14,1 38,1 6,75 8 8 8,25 8,35 10,35 1 90,6

58,6 51 52 53,5 58,5 58,6 78,75 79 80,25 80,25 80,5 80,6 82,6 82,6

82,6 52 53,5 58,5 58,6 82,6 79 80,25 80,25 80,5 80,6 82,6 82,6 90,6

0 44,5 44,5 44,5 44,5 44,5 72,25 72,25 72,25 72,25 72,25 72,25 81,6 0

iv. Menetukan jalur kritis yang terdiri dari aktivitas-aktivitas kritis. Aktivitas kritis mempunyai S=0 Jalur kritis dari diagram network di atas adalah A-C-D-E-F-G-H-I-J-W

2. Penyelesaian diagram network dengan Algoritma PERT 3. Mempekirakan durasi setiap kegiatan dengan memperkirakan: a= waktu pesimistis (waktu tercepat) b=waktu pesimistis (waktu terlama) m=waktu realistis (waktu yang paling mungkin terjadi 4. Menghitung nilai rata-rata (ekspektasi) durasi dari setiap kegiatan

5. Menghitung variansi dari durasi untuk setiap kegiatan dengan rumus ( Dan standart deviasinya = Dari langkah 1 sampai 3 diperoleh hasil sebagai berikut: )

43

Kegiatan A B C D E

a 1 0,5 1 1 0,25

b 3 1,5 3 3 0,75

m 2 1 2 2 0,5

t (1+4.2+2)/6=2 (0,5+4.1,5+1)/6=1 (1+4.2+3)/6=2 (1+4.3+2)/6=2 (3-1)/6=0,3333 (1,5-0,5)/6=0,1667 (3-1)/6=0,3333 (3-1)/6=0,3333

(0,25+4.0,75+0,5)/6=0,5 (0,750,25)/6=0,0833

F G H I J K L M N O P Q R S T U V W

0,5 40 2 0 20 0,5 0,5 4 0 20 0,1 1 0 0,1 0 1 0 7

4,5 68 3 0,2 28 1,5 4,5 6 0,2 28 0,4 1,5 0 0,4 0,2 3 0 9

1 45 2,5 0,1 24 1 1 5 0,1 24 0,25 1,25 0 0,25 0,1 2 0 8

(0,5+4.4,5+1)/6=1,5 (40+4.68+45)/6=48 (2+4.3+2,5)/6=2,5 (0+4.0,1+,2)/6=0,1 (20+4.28+24)/6=24 (0,5+4.1,5+1)/6=1 (0,5+4.4,5+1)/6=1,5 (4+4.6+5)/6=5 (0+4.0,2+0,1)/6=0,1 (20+4.28+24)/6=24 (0,5+4.1,5+1)/6=0,25 (1+4.1,5+1,25)/6=1,25 0

(4,5-0,5)/6=0,667 (68-40)/6=4,667 (3-2)/6=0,1667 (0,2-0)/6=0,033 (28-20)/6=1,333 (1,5-0,5)/6=0,1667 (4,5-0,5)/6=0,667 (6-4)/6=0,3333 (0,2-0)/6=0,033 (28-20)/6=1,333 (0,4-0,1)/6=0,05 (1,5-1)/6=0,0833 0

(0,1+4.0,4+0,25)/6=0,25 (0,4-0,1)/6=0,05 (0+4.0,2+0,1)/6=0,1 (1+4.3+2)/6=2 0 (7+4.9+8)/6=8 (0,2-0)/6=0,033 (3-1)/6=0,3333 0 (9-7)/6=0,3333

6. Menghitung saat paling cepat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (ES dan EF) dengan rumus: ES=max{EF semua pendahulu langsung} EF=ES+t 7. Menghitung saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitasaktivitas (LS dan LF) dengan rumus

44

LF=min{LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya} LS=LF- t 8. Menghitung kelonggaran waktu (float/slack) dari aktivitas S=LF-ES=LF-EF 9. Menetukan jalur kritis yang terdiri dari aktivitas-aktivitas kritis. Aktivitas kritis mempunyai S=0

Dari langkah 4 sampai 7 diperoleh Kegiatan A B C D E F G H I J K L M T 2 1 2 2 0,5 1,5 48 2,5 0,1 24 1 1,5 5 ES 0 0 2 4 6 6,5 8 56 58,5 58,6 6,5 7,5 9 EF 2 1 4 6 6,5 8 56 58,5 58,6 82,6 7,5 9 14 LS 0 81,6 2 4 6 6 8 56 58,5 58,6 51 52 53,5 LF 2 82,6 4 6 6.5 8 56 58,5 58,6 82,6 52 53,5 58,5 SLACK 0 81,6 0 0 0 0 0 0 0 0 44,5 44,5 44,5

45

N O P Q R S T U V W

0,1 24 0,25 1,25 0 0,25 0,1 2 0 8

14 14,1 6,5 6,75 8 8 8,25 8,35 1 82,6

14,1 38,1 6,75 8 8 8,25 8,35 10,35 1 90,6

58,5 58,6 78,75 79 80,25 80,25 80,5 80,6 82,6 82,6

58,6 82,6 79 80,25 80,25 80,5 80,6 82,6 82,6 90,6

44,5 44,5 72,25 72,25 72,25 72,25 72,25 72,25 81,6 0

Diperoleh Jalur kritis A-C-D-E-F-G-H-I-J-W 10. Menghitung standart deviasi dari jalur kritis dengan rumus 11. Menghitung total waktu jalur kritis ( )

12. Menghitung probabilitas selesainya proyek, misalkan peluang selesainya dalam 100 jam, maka =100, =90,6 dan = 4,95

Di dalam tabel sebaran normal,peluangnya=0,971 4.3. Penyelesaian Diagram dengan Menggunakan Alat Bantu A. Langkah langkah menyelesaikan dengan POM for window : a. METODE CPM 1. Klik 2 kali pada icon

46

Muncul tampilan :

2. Klik module

project management (PERT/CPM)

3. Klik file

new

single time estimate

Muncul tampilan :

47

4. Isi identitas ke dalam format creating a new data sheet. Identitas data terdiri dari: o o o Title (judul masalah): isi dengan proses produksi olahan apel Number Task (jumlah aktivitas)- menunjukkan jumlah baris/row pada tabel masalah : isi dengan 23 Pilih salah satu dari Row name options (name can be changed) untuk nama tertentu sesuai dengan persoalan yang dibahas. : pilih A, B,C, . o Pilih Percedence list atau Start/end node numbers pada Tabel Structures

48

5. Klik OK, Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

6. Isikan data yang diperlukan, seperti berikut:

49

7. Klik solve, sehingga diperoleh sebagai berikut:

8. Untuk mengetahui gambar grafnya, klik window chart, seperti berikut :

50

9. Sehingga diperoleh gantt chart seperti berikut ;

10. Untuk mengetahui model grafnya klik graph precendence graph, seperti berikut :

51

11. Diperoleh model graf dengan menggunakan model AON :

12. Dengan POM diperoleh jalur kritis : ACDEFGHIJW

b. METODE PERT a. Langkah 1 3 sama dengan metode CPM

52

b. Klik file

new

single time estimate

Muncul tampilan :

c. Isi identitas ke dalam format creating a new data sheet. Identitas data terdiri dari: o o o Title (judul masalah): isi dengan proses produksi olahan apel Number Task (jumlah aktivitas)- menunjukkan jumlah baris/row pada tabel masalah : isi dengan 23 Pilih salah satu dari Row name options (name can be changed) untuk nama tertentu sesuai dengan persoalan yang dibahas.: pilih A, B,C, . o Pilih Percedence list atau Start/end node numbers pada Tabel Structures d. Klik OK, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

53

e. Isikan data yang diperlukan,

f.

Klik solve sehingga diperoleh hasil berikut :

54

Diperoleh jalur kritis : ACDEFGHIJW

B. Penyelesaian diagram network dengan WinQSB 1. Klik start menu all program winQSB PERT CPM, seperti berikut :

55

2. Akan diperoleh tampilan seperti berikut :

3. Pilih file new problem, sehingga diperoleh tampilan berikut : Untuk metode CPM

56

4. Input keterangan yang diperlukan. Di antaranya : Problem Title : diisikan dengan judul yang diinginkan misal produksi olahan apel Number of activities : diisikan dengan jumlah aktivitas yang dilakukan.misal 23. Time unit : diisikan dengan tipe waktu yang digunakan misal : hour Problem type : dipilih deterministic CPM, karena menggunakan metode CPM Data entry format : format input data dipilih dalam bentuk tabel atau spreadsheet. Select CPM data field : dipilih Normal time.

Kemudian klik OK

5. Berikutnya akan ditampilkan seperti berikut :

57

6. Kemudian input data yang diperoleh pada tabel yang tersedia:

7. Pilih solve and analyze pada toolbar solve critical problem, sehingga diperleh :

58

8. Klik pada icon chart di bagian bawah toolbar

, sehingga diperoleh :

9. Klik pada icon graf disebelah icon chart untuk mengetahui gambar graf, sehingga diperoleh tampilan berikut:

59

10. Jalur kritis yang diperoleh adalah : A C D E F G H I J W

Untuk metode PERT

a. Input keterangan yang diperlukan. Di antaranya : Problem Title : diisikan dengan judul yang diinginkan misal produksi olahan apel

60

Number og activities : diisikan dengan jumlah aktivitas yang dilakukan.misal 23.

Time unit : diisikan dengan tipe waktu yang digunakan misal : hour Problem type : dipilih probabilistic PERT, karena menggunakan metode PERT

Data entry format : format input data dipilih dalam bentuk tabel atau spreadsheet.

Select CPM data field : dipilih Normal time. Kemudian klik OK Berikutnya akan ditampilkan seperti berikut :

b. Kemudian input data yang diperoleh pada tabel yang tersedia:

61

c. Pilih solve and analyze pada toolbar solve critical path, sehingga diperleh :

62

d. Klik pada icon chart di bagian bawah toolbar :

, sehingga diperoleh

e. Klik pada icon graf disebelah icon chart untuk mengetahui gambar graf, sehingga diperoleh tampilan berikut:

63

f.

Klik result perform probability analysis untuk menghitung peluang selesainya proses produksi. Misal menghitung peluang selesainya dalam 100 jam, maka masukkan dalam Desired completion time in hour, kemudian klik compute probability

g. Klik Resultshow probability analysis

Diperoleh jalur kritis: A C D E F G H I J W dengan standart deviasi 4,9103 dan peluang selesainya dalam 100 jam adalah 0,9959

4.4. Analisis Hasil

64

1. Dengan menggunakan perhitungan manual dan alat bantu yaitu POM dan WIN QSB pada metode CPM diperoleh hasil yang sama yaitu jalur kritis A C D E F G H I J W . Jalur ini merupakan rangkaian kegiatan produksi yang berada di jalur kritis yaitu kegiatan produksi yang jika pengerjaannya ditunda akan menyebabkan penundaan waktu produksi, sehingga produksi pun berjalan tidak optimal. Kegiatan-kegiatan ini adalah sebagai berikut :

Penyiapan apel dan bahan pelengkap lain (A) penyortiran apel (C) pengupasan apel (D) penncucian apel (E) pemotongan apel (F) pendinginan apel (G) penggorengan apel (H) penyaringan apel yang sudah digoreng dari sisa minyak (I) proses pendiaman (J) finishing (W)

Kegiatan selain yang berada dalam jalur kritis bisa dikerjakan secara bersmaan dengan salah satu atau beberapa kegiatan pada jalur kritis. 2. Dengan menggunakan perhitungan manual dan alat bantu yaitu POM dan WIN QSB pada metode PERT diperoleh hasil yang berbeda pada nilai variansinya. Sehingga menyebabkan nilai probability-nya berbeda. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh rata- rata waktu. Dan penggunaan rumus yang berbeda antara POM dan WINQSB. Dengan menggunakan perhitungan manual diperoleh probabilitas selesainya produksi dalam waktu 100 jam adalah 0,971 dengan total waktu 90,6 jam. Dengan menggunakan alat bantu POM tidak diperoleh probabilitasnya. Dengan menggunakan alat bantu WINQSB probabilitas selesainya produksi dalam waktu 100 jam adalah 0,9959 dengan total waktu 87 jam.

65

BAB IV PENUTUP

2.4 Kesimpulan Dari pembahasan mengenai proses produksi olahan apel di Agro Mandiri Ramayana, Batu. Diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Dengan menggunakan metode CPM , bila dilakukan perhitungan secara manual diperoleh jalur kritis ACDEFGHIJW Dengan total waktu jam, dari metode PERT diperoleh jalur kritis yang

sama dengan probabilitas selesainya produksi dalam waktu 100 jam adalah 0,9713 dengan total waktu 90,6 jam. 2. Dengan menggunakan alat bantu POM dan WINQSB diperoleh jalur kritis A C D E F G H I J W, dengan metode CPM. Total waktu yang diperoleh adalah 90,6. Dengan menggunakan metode PERT, setelah dilakukan dengan alat bantu POM diperoleh hasil yang sama dengan manual. Pada saat menggunakan WINQSB diperoleh hasil yang berbeda yaitu probabilitas selesainya produksi dalam waktu 100 jam adalah 0,9959 dengan total waktu 87 jam, akan tetapi jalur kritis yang diperoleh sama.

66

PENGALAMAN SURVEY

Pada semester 6,kami mengambil mata kuliah penerapan teori graph yang diampuh ole ibu Sapti Wahyuningsih. Kami mendapat tugas observasi tentang penerapan algoritma network flow untuk penjadwalan. Mulanya kami menerapkan pada proses pembangunan, kami mendapatkan informasi dari salah seorang teman sekelas kami bahwa di depan perumahan kakaknya akan dibangun suatu perumahan Garden Sigura-gura, kami pun melakukan survey di sana. Mulanya kami di tolak karena di sana tidak ada data yang telah siap tentang proses pembagunan, kami diperintahkan untuk melihat langsung proses pembangunan perumahan Garden Sigura-gura. Tak ingin menyerah, kami menjelaskan kembal bahwa kami hanya butuh data tentang proses pembangunan beserta waktunya saja dengan pengambilan data hanya satu sampai dua hari. Dengan membawa berbagai algoritma kami menjelaskan bahwa kami dapat mengoptimalkan waktu pembangunan perumahan tersebut. Akhirnya pihak perumahan sepertinya tertarik dan bersedia untuk membuatkan data tentang proses pembangunan beserta durasi waktunya. Akhirnya kami mulai untuk menyusun proposal observasi di Garden Sigura-gura. Pada saat kami mempresentasi proposal, ternyata ada kelompok lain yang membahas tentang pembangunan perumahan juga. Kemudian oleh ibu Sapti diperintahkan salah satu kelompok untuk membahas tentang proses produksi. Kelompok kami dan kelompok lain yang membahas tentang network flow mulanya sama sama tidak ada yang mau berganti judul tentang proses produksi. Namun akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa kami akan mengerjakan bersama- sama dengan dua judul yaitu proses produksi dan pembagunan perumahan. Akhirnya kami mencari tempat observasi yang lain untuk proses produksi. Mulanya salah satu anggota kelompok kami meminta bantuan ke temannya di Pasuruan yang mempunyai usaha rumahan puzzle di Pasuruan. Ternyata setelah dikonfirmasi proses produksinya sangat sederhana. Lalu kami mencari alternative lain yaitu di pabrik tempe dan tahu di Pasuruan, namun ternyata pada saat itu pabriknya telah tutup. Kemudian salah satu teman kami menawarkan untuk survei di pabrik rokok dekat rumahnya di daerah Sumber Pucung. Awalnya kami diterima observasi disana. Kami diijinkan observarsi pada dua hari setelah survey, namun keesokan harinya kami diberitahu bahwa kami tidak dapat observasi

67

dengan alasan pabriknya sedang sepi. Namun setelah di usut ternyata pabrik tersebut illegal. Jadi kemungkinan pabrik tersebut takut untuk menerima kami.. Kemudian kami mencari solusi lain dengan bertanya pada teman-teman kami yang lain. Karena kami tahu salah seorang teman kami mempunyai saudara yang bekerja di pabrik gula, kami pun meminta bantuannya untuk observasi di sana. Namun belum ada kepastian bahwa kami diterima observasi disana. kami pun kembali mencari tempat observasi lain, Untungnya salah seorang teman kami yang lain mempunyai saudara yang rumahnya di sebelah Agro Mandiri Ramayana yang memproduksi olahan apel. Namun sayangnya, kelompok kami dan kelompok lain yang membahas network flow juga sudah tidak ada lagi singkronisasi sehingga kami memutuskan untuk survey sendiri. Saat melakukan survey si Agromandiri Ramayana, sang pemilik menerima kami dengan baik. Kami di izinkan observasi disana satu minggu kemudian. Kami memberi kabar pada kelompok lain yang juga membahas network flow juga bahwa kami di terima observasi di sana, akhirnya kelompok kami dan kelompok mereka sepakat bahwa kelompok kami yang membahas tentang proses produksi. Kami lalu membuat proposal lagi tentang proses produksi olahan apel di Agromandiri Ramayana. Satu minggu kemudian kami kembali ke Agromandiri Ramayana untuk memberikan proposal, beruntungnya saat itu juga kami dipersilahkan untuk mencari data dan memfoto proses produksi olahan apel.

68

DAFTAR PUSTAKA

Dwi , Moch. Afiq. 2010 Schedulling Menggunakan Algoritma Network Analysis pada Proyek Perumahan Taman Mulyorejo. Malang : FMIPA UM Solihah, Miftahus , dkk . 2006 Schedulling Menggunakan Network Analysis pada Proyek Renovasi dan Pembangunan Gedung Madrasah Aliyah Khairudin Gondanglegi. Malang : FMIPA UM Rosen, K. 2000. Handbook of Discrete and Combinatorial Mathematics . Newyork : CRC Prees Dannyanti, Eka.2010. Optimalisasi Pelaksanaan proyek dengan Metode PERT dan CPM (Studi Kasus Twin Tower Building Pasca Sarjana Undip). Semarang:UNDIP Maharesi,Retno.Penjadwalan Proyek dengan Menggabungkan Metode PERT dan CPM

69

LAMPIRAN

Papan nama Ramayana Agro Mandiri

70

71

PROSES FINISHING

Kemasan PROSES PENGEMSAN DODOL APEL

72

PRODUK SIAP JUAL

73

74

75