Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

TERAPI ANTIBIOTIK PADA SINUSITIS AKUT

Pembimbing : dr. Tri Kunjana, Sp.THT

Disusun oleh : Ayu Kusuma Ningrum 030.08.048

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RSUD DR. SOESELO SLAWI PERIODE 23 JULI 2012 - 1 AGUSTUS 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

LEMBAR PENGESAHAN

Nama NIM Bagian

: Ayu kusuma ningrum : 030.08.048 : Kepaniteraan Klinik Ilmu penyakit THT FK Universitas Trisakti

Judul Referat : Penatalaksanaan Sinusitis Akut Pembimbing : Dr. Tri Kunjana, SP. THT

Slawi, Agustus 2012 Pembimbing,

Dr. Tri Kunjana, Sp. THT

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Allah SWT, saya dapat menyelesaikan penyusunan referat saya yang berjudul Penatalaksanaan Sinusitis. Referat ini disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT di RSUD Dr. Soeselo Slawi, periode 23 Juli 2012- Agustus 2012. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter pembimbing saya dr. Tri Kunjana, Sp.THT dan seluruh pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan referat ini. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. Demikianlah kata pengantar dari saya, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesarbesarnya jikalau masih banyak kekurangan dan kesalahan pada referat ini. Oleh karena itu saya berharap para pembaca dapat memberikan saran dan kritik untuk perbaikan referat ini.

Slawi, Agustus 2012

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Sinusitis adalah suatu peradangan pada mukosa sinus paranasal yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri, maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis, sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. ( 2) Sinusitis merupakan penyakit yang dianggap menjadi salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia, terutama di tempat dengan polusi udara tinggi, Iklim yang lembab dan dingin. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke 2 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. (1) Sinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat,

sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis serta pengobatan pilihan terbaik untuk sinusitis . Prinsip dari pengobatan adalah membuka sumbatan di daerah KOM sehingga drainase dan ventilasi dari sinus -sinus menjadi kembali pulih secara alami.
( 2)

Terapi pilihan pada penyakit sinusitis adalah antibiotika dan dekongestan yang bertujuan untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Dalam penulisan referat ini, ditujukan untuk lebih dalam membahas mengenai tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis, lebih khusus membahas mengenai pemakaian antibiotik yang tepat untuk mengatasi sinusitis akut

BAB II PEMBAHASAN
II.1 ANATOMI & FISILOGI SINUS Sinus paranasal merupakan ruang udara yang berada di tengkorak. Bentuk sinus paranasal sangat bervariasi pada tiap individu dan semua sinus memiliki muara(ostium) ke dalam rongga hidung. Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) , sinus sphenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara, dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing masing. Secara embriologis, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya pada fetus saat usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontalis dan sphenoidalis. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimum pada usia 15-18 tahun.
(3)

Sinus paranasal divaskularisasi oleh arteri carotis interna dan eksterna sertavena yang menyertainya seperti a. ethmoidalis anterior, a. ethmoidalis posterior dan a.sfenopalatina. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sphenoid. (4)

Fungsi sinus paranasal adalah : Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan, Sebagai pengatur udara (air conditioning), Peringan cranium, Resonansi suara, Membantu produksi mukus (3) II.2 DEFINISI SINUSITIS

Sinusitis adalah suatu peradangan pada mukosa sinus paranasal yang terjadi karena alergi atau infeksi virus (Rhinovirus, influenza, parainfluenza), bakteri (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxelta catarrhalis) maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid dan maksilaris. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis, sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Sinusitis bisa bersifat akut (dengan batas sampai 4 minggu), sub akut bila terjadi antara 4 minggu sampai 3 bulan atau 12 minggu dan kronik bila lebih dari 3 bulan atau 12 minggu. II.3 ETIOLOGI
(2)

1)Virus : Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas. 2) Bakteri : Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit, misalnya Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae. Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalamsinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut. 3) Jamur, Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada orang orang tertentu, sinusitis merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. 4) Peradangan menahun pada saluran hidung, pada penderita rhinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut demikian pula halnya pada penderita rhinitis vasomotor. 5) Penyakit tertentu, Sinusitis akut lebih sering terjadi lendir pada penderita gangguan sistem kekebalandan penderita kelainan sekresi

(misalnya fibrosis kistik) (11)

II.4

PATOFISIOLOGI

Secara patofisiologi kesehatan sinus paranasal dipengaruhi oleh


1. Patensi ostium-ostium sinus. 2. Lancarnya daya pembersihan mukosiliar (mucocilliary clearance) yang berada

di dalam kompleks osteomeatal (KOM). Terdiri dari : kualitas dan kuantitas mukosa, cara kerja silia. Jika terdapat gangguan pada KOM dapat menyebabkan terjadinya gangguan ventilasi dan pembersihan mukosa. Sistem transport mukosiliar merupakan sistem yang bekerja secara aktif dan simultan tergantung pada gerakan silia untuk mendorong gumpalan mukus dan benda asing yang terperangkap masuk saat menghirup udara melalui sistem pengangkutan di saluran pernafasan atas dan bawah hingga ke saluran pencernaan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak akan dapat bergerak dan ostium sinus akan tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, yang mula-mula berupa cairan serous. Kondisi inilah yang dianggap sebagai rinosinusitis nonbacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Namun bila kondisi menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri. Sekret menjadi purulen dan keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial yang memerlukan terapi dengan disertai antibiotik. Jika terapi tidak berhasil proses berlanjut dan terjadi hipoksia sehingga bakteri anaerob berkembang, mukosa makin membengkak dan merupakan rantai siklus yang terus berputar hingga akhirnya terjadi perubahan
( 2)

mukosa menjadi kronik.

II.5

MANIFESTASI KLINIS

Sinusitis Akut
A. Gejala subyektif : Gejala sistemik yaitu : demam dan rasa lesu, serta gejala lokal yaitu :

hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagihari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain. Sinusitis Maksilaris : nyeri terasa di bawah kelopak mata,nyeri alih didahi dan depan telinga. Wajah terasa bengkak, penuh. Gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk Sinusitis Ethmoidalis : Nyeri yang dirasakan di pangkal hidung, terkadang nyeri di bola mata atau di belakangnya terutama bila mata digerakkan, Nyeru alih di pelipis, terdapatnya post nasal drip dan sumbatan hidung Sinusitis Frontalis : Nyeri kepala yang khas, berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari, dan memburuk menjelang tengah hari, dan mereda saat malam hari, Dahi terasa nyeri bila disentuh, mungkin terdapat pembengkakan supra orbita Sinusitis Sphenoidalis : Nyeri di belakang bola mata dan daerah mastoid, namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksisinus lainnya (6)
B. Gejala Obyektif : Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata

bawah, pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan kecuali jika terdapat komplikasi Pada rhinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema, pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan d a n sinusitis sphenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.( Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip,tumor maupun komplikasi sinusitis.Jika ditemukan maka kita harusmelakukan penatalaksanaan yang sesuai) Pada rinoskopi posterior tampak pus di nasofaring (post nasal drip). Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit, dan provokasi test, yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludan dan menutup mulut dengan rapat. Jika positif sinusitis maksilaris, maka akan keluar pus dari hidung. ( 5 )

I I . 6 KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria Mayor Sekret nasal yang puruluen Drainase faring yang purulen Purulent post nasal drip Batuk Kriteria Minor Edem periorbital Sakit kepala Nyeri di wajah Sakit gigi

Foto rontgen (waters) terdapat air fluid level Nyeri telinga atau penebalan lebih dari 50 % antrum Coronal CT Scan : penebalan opaksifikasi dari mukosa sinus atau Sakit tenggorok Nafas berbau Bersin bersin bertambah sering Demam Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri Ultrasound Kemungkinan terjadinya sinusitis jika terdapat gejala dan tanda 2 mayor, 1 minor dan 2 kriteria minor. (4) Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram ataugelap.

Pemeriksaan

transiluminasi

bermakna

bila

salah

satu

sisi

sinus

yang

sakit,sehingga tampak lebih suram dibanding yang normal.


2) Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak

perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit
3) Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau

meatus superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus, streptococcus,staphylococcus dan haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virusatau jamur (5)

II.6

PENATALAKSANAAN

Sinusitis dapat disebabkan oleh berbagai macam etiologi,mulai dari virus, bakteri sampai jamur, terkadang diawali dari infeksi virus, namun bila daya tahan tubuh tidak stabil dan mudah terserang infeksi, maka bakteripun dapat mudah masuk. Penatalaksanaan sinusitis tergantung dari etiologi yang ditimbulkan, untuk itu kita harus dapat bisa membedakan darimana etiologi sinusitis berasal. Penyakit sinusitis yang diawali dengan rhinoviral pada umumnya akan membaik pada 7-10 hari,gejalanya menyerupai dengan sinusitis yang disebabkan oleh bakteri, namun mereka memiliki perbedaan dalam hal warna dan kualitas nasal discharge, sinusitis yang disebabkan oleh virus memiliki warna yang jernih, konsistensi encer, sedangkan sinusitis yang disebabkan oleh bakteri memiliki warna nasal discharge yang kuning kehijauan, dengan konsistensi kental, serta diagnosis untuk sinusitis bakteri akut memerlukan gejala yang terus menerus selama 10 hari atau memburuknya gejala setelah 5-7 hari. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut adalah Streptococcus pneumoniae,diikuti dengan Haemophilus influenzae dan Moraxelta catarrhalis. Patogen yang menginfeksi pada sinusitis kronik sama seperti pada sinusitis akut dengan ditambah adanya keterlibatan bakteri anaerob dan S. aureus. (7) TERAPI Tujuan dari terapi adalah membebaskan obstruksi, mengurangi viskositas sekret, dan mengeradikasi kuman.

PILIHAN PENGOBATAN Berdasarkan algoritma penatalaksanaan sinusitis akut, pemberian antibiotik dimulai dari lini pertama, namun pilihan antibiotik yang dilakukan secara empiris dapat berubah sesuai pola resistensi kuman. Sebagian besar kuman penyebab sinusitis (Streptococcus pneumoniae) memproduksi enzim -laktamase. Mikroba golongan -laktam hampir semua resisten terhadap penisilin,amoksisilin ataupun kotrimoksazol. sehingga perlu dipertimbangkan untuk langsung menatalaksana sinusitis dengan menggunakan antibiotik lini ke II, pilihan yang dianjurkan untuk antibiotik lini II adalah Amoksisilin klavulanat, yaitu kombinasi asam klavulanat (penghambat -laktamase) dan amoksisilin. Pemberian Amoksisilin klavulanat ini juga penting pada keadaan sinusitis akut yang berulang. Farmakodinamik Amoksisilin klavulanat, atau yang suka disingkat dengan Amoxiclav merupakan anti bakteri kombinasi oral yang terdiri dari antibiotik semi sintetik amoksisilin dan penghambat beta-laktamase, asam klavulanat. Amoksisilin adalah golongan antibiotik spektrum luas (yaitu antibiotik yang dapat menghambat kuman gram positif maupun gram negatif ) dan memiliki efek bakterisida, yaitu Membunuh kuman dengan cara merusak dinding sel. Asam klavulanat adalah
suatu beta laktam yang struktur kimianya mirip golongan penicilin, mempunyai kemampuan menghambat aktivitas berbagai enzim beta-laktamase yang sering ditemukan pada berbagai organisme yang resisten terhadap penicilin. (9)
(8)

Farmakokinetik Kedua komponen obat ini mirip namun tidak saling menghambat. Absorpsi klavulanat tidak dipengaruhi oleh makanan, susu, atau antasid. Obat ini tahan terhadap suasana asam. Pada pemberian per oral kadar tertinggi rata-rata dalam darah mencapai 3,5-3,9 ug/ml dalam 1-2 jam setelah pemberian. Sekitar 30% terikat pada protein plasma, sisanya didistribusi terutama ke dalam cairan ekstrasel. Kadar yang cukup terdapat pada empedu, cairan pleura, cairan peritoneal, dan cairan telingatengah. Kadar dalam cairan otak rendah, bila tidak ada peradangan mening. Pada dosis tinggi, kadar dalam sputum cukup tinggi. Kadar dalam cairan amnion dan tali pusat mencapai sekitar 50% dari kadar dalam darah ibu. Ekskresi terutama melalui ginjal. Setelah 6 jam pemberian, sekitar 25% sampai 40%obat ini terdapat didalam urine dalam bentuk asal. Waktu paruh eliminasinya sekitar 1 jam. Waktu paruh ini memanjang bila ada gangguan fungsi ginjal. (pada penderita gangguan ginjal, dosis dan waktu pemakaian harus disesuaikan)
(9)

Mekanisme Kerja Formulasi amoksisilin dan asam klavulanat dalam co-amoxiclav melindungi amoksisilin dari penghancuran oleh enzim betalaktamase dan secara efektif memperluas spektrum antibiotika dari amoksisilin terhadap bakteri-bakteri yang biasanya resisten terhadap amoksisilin dan berbagai antibiotik betalaktamase lainnya. Jadi co-amoxiclav merupakan antibiotika berspektrum luas dan penghambat enzim betalaktamase. Klavulanat diabsorbsi dengan baik di traktus gastrointestinal dengan kadar puncak dalam plasma dicapai sekitar 1jam setelah pemberian per oral. Penggabungan asam klavulanat ke dalam sediaan amoksisilin tidak berpengaruh terhadap farmakokinetik masing masing obat. Absorbsinya juga tidak terganggu dengan adanya susu, makanan, dan asam lambung(10) Indikasi 1) Obat alternatif untuk berbagai infeksi oleh jenis bakteri gram-negatif dan gram- positif yang termasuk cakupan spektrum aktivitas amoksisilin tetapi memproduksi betalaktamase, selain itu juga kuman anaerob. 2) Infeksi akut pada telinga-hidung-tenggorokan, infeksi ringan sampai sedang saluran nafas bawah oleh H. Influenzae, M. cattarhalis yang memproduksi beta-laktamase, yang tidak dapat diatasi oleh kotrimoksazol atau sefalosporin oral karena alergi, resisten, atau sebab lain. 3) Infeksi saluran kemih berulang pada anak dan dewasa oleh E. Coli dan kuman patogen lain yang memproduksi beta-laktamase, yang tidak dapat diatasi oleholeh kotrimoksazol, kuinolon, atau sefalosporin oral. 4) Infeksi jaringan lunak oleh berbagai kuman patogen penghasil beta-laktamaseyang resisten terhadap isoksasolil penisilin, atau sefalosporin oral generasi pertama. (9)

Kontra Indikasi Alergi terhadap penisilin. Diberikan dengan hati-hati kepada bayi yang lahir dari ibu yang mengalami hipersensitifitas terhadap penisilin. Riwayat ikterus kolestatik (ganguan fungsi hati). Tidak boleh diberikan bersama disulfiram. (9)

Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet salut selaput, vial, sirup kering Dosis : Pemberian dosis pada sinusitis akut

Anak anak : 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis Dewasa : 3 x 500mg atau 2 x 875mg Sesuai dengan algoritma penatalaksanaan, pemberian antibiotik disertai dengan terapi tambahan dilakukan 7 hari, dievaluasi. Jika ada perbaikan terapi dilanjutkan sampai 10 14 hari, lalu dievaluasi kembali. Jika keadaan benar benar sudah membaik, maka yang harus dilakukan adalah menghindari faktor faktor pencetus dari sinusitis itu tersebut, apabila disebabkan karena rhinitis alergi, maka hindari faktor faktor alergen. Efek Samping Efek samping yang paling sering timbul adalah diare dan gangguan pencernaan. Efek samping lain : ruam kulit dan urtikaria, muntah, abdominal discomfort, sakit kepala,vaginitis, kandidiasis, Dilaporkan juga dapat mengganggu fungsi hati yaitu berupa peningkatan serum transaminase (sehingga pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat sebaiknya jangan diberikan) Terapi Tambahan Selain antibiotik untuk membunuh kuman penyebab, dibutuhkan juga terapi tambahan lain untuk menghilangkan faktor penyebab lain, seperti mengurangi oedema karna penyumbatan, dan lain sebagainya. Pilihan terapi tambahan lain diantaranya Dekongestan a) Dekongestan Oral (Lebih aman untuk penggunaan jangka panjang) Phenylproponolamine dan pseudoephedrine, yang merupakan agonis alfa adrenergik Obat ini bekerja pada osteomeatal komplek b) Dekongestan topikal Phenylephrine Hcl 0 , 5 % d a n oxymetazoline Hcl 0,5 % bersifat vasokonstriktor lokal. Obat ini bekerja melegakan pernapasan dengan mengurangi oedema mukosa.

AntiHistamin dan Kortikosteroid Antihistamin serta kortikosteroid diberikan lebih khusus untuk penderita sinusitis yang dicetuskan karena keadaan rhinitis alergi. Antihistamin pilihan adalah Antihistamin golongan II yaitu Loratadine. Anti histamin golongan II mempunyai keunggulan, yaitu lebih memiliki efek untuk mengurangi rhinore, dan menghilangkan obstruksi, serta tidak memiliki efek samping menembus sawar darah otak Kortikosteroid bisa diberi oral ataupun topikal, namun pilihan disini adalah kortikosteroid oral yaitu metil prednisolon, efek samping berupa retensi air sangat minimal, begitupula dengan efek terhadap lambung juga minimal. Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat karena ada sekret tertahan oleh sumbatan. (9)

KESIMPULAN Sinusitis adalah suatu peradangan pada mukosa sinus paranasal yang terjadi karena alergi atau infeksi virus (Rhinovirus, influenza, parainfluenza), bakteri maupun jamur. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut adalah Streptococcus pneumoniae,diikuti dengan Haemophilus influenzae dan Moraxelta catarrhalis. Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis, sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Batasan sinusitis dikatakan bersifat akut adalah dengan kurun waktu batas sampai 4 minggu atau kurang. Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril, sinusitis dapat terjadi bila

klirens silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkanretensi sekret,tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen. Lingkunganini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteriataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis Dalam pengobatan sinusitis akut, yang paling utama adalah terlebih dahulu membedakan etiologi dari sinusitis, virus atau bakteri. Sinusitis akut virus dan bakteri dapat dibedakan berdasar 2 hal, waktu berlangsung dan konsistensi daripada nasal discharge. Pada sinusitis yang disebabkan oleh virus berlangsung dan akan membaik sekitar 7-10 hari, nasal discharge cair dan berwarna bening, sedangkan sinusitis yang disebabkan oleh bakteri gejala berlangsung terus menerus sekitar 10 hari terkadang tanpa mengalami memburuknya gejala setelah 5-7 hari. Prinsip penatalaksanaan sinusitis akut bakterial adalah membebaskan obstruksi, mengurangi viskositas sekret, dan mengeradikasi kuman. Sebagian besar kuman penyebab sinusitis (Streptococcus pneumoniae) memproduksi enzim -laktamase. Mikroba golongan laktam hampir semua resisten terhadap penisilin,amoksisilin ataupun kotrimoksazol. sehingga perlu dipertimbangkan untuk langsung menatalaksana sinusitis dengan menggunakan antibiotik lini ke II, pilihan yang dianjurkan untuk antibiotik lini II adalah Amoksisilin klavulanat, yaitu kombinasi asam klavulanat (penghambat -laktamase) dan amoksisilin. Pemberian antibiotik juga disertai dengan terapi tambahan seperti dekongestan, antihistamin dan kortikosteroid perbaikan berarti, atau atau

DAFTAR PUSTAKA

1. PERHATI. Fungsional endoscopic sinus surgery. HTA Indonesia. 2006. Hal 1-6 2. Mangunkusumo, Endang, Soetjipto D. Sinusitis, Buku Ajar Ilmu KesehatanTelinga

Hidung Tenggorok Kepala Dan Leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3
3. Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor.

BukuAjar Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta2002, 115 119. 4. Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The diagnosis and Treatment of sinusitis. Inadvanced Studies in Medicine. Vol 3 no. 9 495-505 5. Mangunkusumo, Endang. Nusjirwan, Rifki. Sinusitis. Buku Ajar Ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Balai Penerbit FK UI. Jakarta 2002, 121125
6. Anonim, Sinusitis, dalam ; Arif et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran,

Ed. 3,Penerbit Media Ausculapius FK UI, Jakarta 2001, 102 106 7. Infeksi Saluran Pernapasan. Available at
http://www.farmasiku.com/index.php? target=pages&page_id=Infeksi_Saluran_Pernapasan 8. Penatalaksanaan sinusitis. Available at http://ml.scribd.com/doc/88424925/IsiReferat-Edited-Baru

9. Pengobatan Amoksisilin Klavulanat. Available at


http://ml.scribd.com/doc/62577638/Co-Amoxiclav-AGNES 10. Anti Mikroba. Available at http://ifrsudcurup.wordpress.com/2009/06/25/antimikroba/ 11. Sinusitis. Available at http://ml.scribd.com/doc/71038813/Referat-SinusitisPlus-Gambar