Anda di halaman 1dari 1

Universitas Trisakti, Kampus Pahlawan Reformasi Beberapa minggu setelah saya bekerja di Jakarta, saya jalan-jalan melewati daerah

Grogol Jakarta Barat. Saya melewati Universitas Trisati yang letaknya berdekatan dengan UNTAR. Ketika saya melihat ke depan gerbang kampus Trisakti, saya melihat sebuah tulisan yang membuat adrenalin saya terpacu. Di depan gerbang Universitas Trisakti tersebut terdapat tulisan besar: "UNIVERSITAS TRISAKTI, KAMPUS PAHLAWAN REFORMASI" Melihat tulisan yang tegas dan berani tersebut, saya pribadi sangat terharu dan bangga sebagai anak bangsa. Kampus swasta tersebut telah tercatat dalam sejarah tinta emas negara Republik Indonesia sebagai Universitas yang ikut berjasa melakukan gerakan reformasi 1998. Dampak dari gerakan reformasi tersebut tentunya adalah tumbangnya Soeharto dan pemerintahan Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari 32 tahun. Tragedi tersebut dikenal dengan sebutan Tragedi Trisakti. Tragedi Trisakti adalah tragedi yang menyebabkan empat orang mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia dalam baku tembak oleh aparat keamanan, sesaat setelah para mahasiswa memutuskan untuk melanjutkan demo dan turun ke jalan. Mahasiswa yang telah gugur tersebut adalah Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto dan Hendriawan Sie. Empat orang tersebut kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Reformasi. Dari uraian tersebut, dapat kita lihat secara historis, ideologis, dan psikologis bahwa Universitas Trisakti adalah Universitas yang sangat peduli terhadap nasib bangsa. Mereka bertekad terus berdiri di depan untuk senantiasa mengibarkan panji-panji reformasi dengan idealisme Kadeham (Kebangsaan, Demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia). Sekarang, apa yang kampus lain dan (bekas) kampus saya telah lakukan untuk bangsa ini? Jujur saja saya sangat malu kepada Universitas Trisakti yang memiliki ideologi kebangsaan yang baik, sementara ada kampus lain yang malah menjadi penghianat reformasi dan menjadi antek-antek kapitalis. Sangat banyak kampus pada saat ini yang anti terhadap demo. Kampus-kampus tersebut lebih suka jika mahasiswanya duduk manis untuk belajar di dalam kelas, fokus kepada perkuliahan dan tidak perlu berpolitik, menjadi "anjing" penurut yang selalu tunduk terhadap perintah dosen, meninggalkan solidaritas terhadap sesama dan menjadi individualis, menjadi pribadi lemah dan bodoh yang memiliki mental pragmatis, dan akhirnya menjadi pribadi penghianat bangsa yang akan menjadi perusak bangsa dan negara. Tindakan-tindakan tersebut selain memalukan, tetapi juga melawan konstitusi negara Indonesia. Bahkan, jika dilakukan secara sistematis dan terstruktur, maka tindakan tersebut tergolong pada pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (Gross Violation Against Human Rights), dan semua oknum yang terlibat akan diproses secara hukum. Kalau sudah terjadi hal-hal tersebut, apa lagi yang bisa kita harapan sebagai bangsa? Padahal, perubahan bangsa ini hanya bisa diharapan jika mahasiswa turut campur tangan terhadap kondisi bangsa dan negara. Sadarlah rekan-rekan mahasiswa, mahasiswa adalah Raja di kampus. Kampus harus tunduk pada suara dan kehendak mahasiswa. Maka jika kampus melawan kehendak mahasiswa, maka cepat atau lambat kampus tersebut akan "musnah" terseret arus perubahan. Kampus Trisakti dapat menjadi sindiran sekaligus contoh kepada masing-masing kita akan pentingnya sebuah ideologi kebangsaan yang kuat. Hanya dengan ideologi kebangsaan yang kuat bangsa ini akan menjadi bangsa yang merdeka sepenuhnya dan dapat mencapai cita-cita perjuangannya. Hidup Mahasiswa.