Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks.Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segimedis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, dan budaya.1,2,3 Untuk itu maka pelayanan kusta tidak cukup hanya dengan melakukan tindakan medis dan usaha penghapusan stigma dan diskriminasi, namun juga perlu untuk dilakukan pencegahan dengan cara melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara benar tentang penyakit kusta.4 Penyakit kusta pada umumnya sering dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan memadai kepada

masyarakat.Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuksebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuandan kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya.(1) Di seluruh dunia, dua hingga tiga juta orang diperkirakan menderita kusta.India adalah negara dengan jumlah penderita terbesar. Pada tahun 1999, insidensipenyakit kusta dunia diperkirakan 640.000, pada tahun 2000, 738.284 kasus ditemukan.Pada tahun 1999, 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada tahun 2000, WHO membuatdaftar 91 negara yang endemik kusta. 70% kasus
1

dunia terdapat di India,Myanmar, dan Nepal. Pada tahun 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh dunia, dan menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar, Mozambik, Tanzania dan Nepal.5 Di Indonesia, penderita kusta terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan di Indonesia bagian timur terdapatangka kesakitan kusta yang lebih tinggi.1 Sampai saat ini Indonesia masih menyandang sebagai negara dengan penderita kusta terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Brasil.6 Penderita kusta 90% tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa persen saja yang tinggal di rumah sakit kusta, koloni penampungan atau perkampungan kusta. Prevalensi kusta di Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. Tahun 1986 ditemukan 7,6 per 10.000 penduduk menjadi 5,9 per 10.000 penduduk. Pada tahun 1994 terjadi lagi penurunan menjadi 2,2 per 10.000 penduduk dan menjadi 1,39 per 10.000 penduduk pada tahun 1997.1 Pada tahun 2006, angka kusta sendiri menurun menjadi 18.300 kasus baru, dari tahun sebelumnya yang dilaporkan mencapai 19.696 kasus diseluruh Indonesia. Sejauh ini 17 provinsi di Indonesia, masih tergolong sebagai daerah endemis (terpapar) kusta. Kebanyakan terdapat di daerah Indonesia timur, seperti Papua, Kalimantan, Halmahera, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.6 Sampai saat ini penularan kusta masih menjadi tanda tanya.

Didugapenularannya terjadi melalui kontak kulit yang lama dan erat dan melalui inhalasi (sekret hidung).1-15 Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh riwayat kontak dengan kasus kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar.
2

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh riwayat kontak dengan kasus kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar. 1.3 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh riwayat kontak dengan kasus kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar. 1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1. Untuk mengetahui pengaruh riwayat kontak serumah dengan kasus kusta. 1.3.2.2. Untuk mengetahui pengaruh riwayat kontak sosial dengan kasus kusta. 1.3.2.3. Untuk mengetahui pengaruh hygiene pribadi dengan kasus kusta. 1.4 1.4.1 Manfaat Penelitian Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi untuk lebih memperhatikan berbagai faktor yang berhubungan dengan penyakit kusta. 1.4.2 Bagi petugas kesehatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dokter dan perawat yang berhubungan langsung dengan pasien untuk meningkatkan

kinerja dan pelayanan mereka terhadap pasien dalam pencegahan komplikasi lebih lanjut. 1.4.3 Bagi peneliti Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penularan penyakit kusta melalui penelitian lapangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Kusta 2.1 Defenisi Morbus Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit kusta ini pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran napas atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis. 2,5,6,7,9,12,13,16,17 Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut

MorbusHansen.1,2,3,10,12,13,14 Pola klinis penyakit ini ditentukan oleh respon imunitas seluler host terhadap organisme. Bila respon imunitas selulernya baik maka timbul lepra tukerkuloid, dimana kulit dan saraf-saraf perifer terkena. Lesi kulit berbentuk tunggal atau hanya beberapa dan berbatas tegas. Bentuknya berupa makula atau plak denganhipopigmentasi pada kulit yang gelap. Terdapat anestesi pada lesi, hilangnya keringat, berkurangnya jumlah rambut, penebalan cabang-cabang saraf kulit dapat diraba pada daerah lesi tersebut, dan saraf perifer yang besar juga dapat diraba. Bila respon imunitas selulerya rendah, maka multiplikasi kuman menjadi tidak terkendali dan timbul bentuk lepra lepromatous. Kuman tidak hanya
5

menyebar pada kulit, tetapi juga pada mukosa saluran respirasi, mata, testis, dan tulang.7 2.2 Epidemologi Kusta menyebar luas ke seluruh dunia dengan sebagian besar kasus terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindahan penduduk makapenyakit ini bisa menyerang dimana saja.6,7,18 Penyakit ini diduga berasal dari Afrika dan Asia Tengah dan kemudian tersebar melalui perpindahan penduduk dibeberapa belahan dunia. Penyebaran penyakit ini umum-nya dibawa oleh para pedagang yang melintasi batas negara.Sedangkan di Indonesia, kusta masuk melalui para pedagang dan penyebar agamasekitar abad ke IV-V oleh orang India.l,3,l3 Di Indonesia, penderita kusta terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan di Indonesia bagian timur terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi.1 Sampai saat ini Indonesia masih menyandang sebagai negara dengan penderita kusta terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Brasil. Prevalensi kusta di Indonesia cenderung menurun dari tahun ke-tahun. Tahun 1986 ditemukan 7,6 per 10.000 penduduk menjadi 5,9 per 10.000 penduduk. Pada tahun 1994 terjadi lagi penurunan menjadi 2,2 per 10.000 penduduk dan menjadi 1,39 per 10.000 penduduk pada tahun 1997.1 Pada tahun 2006, angka kusta sendiri menurun menjadi 18.300 kasus baru, dari tahun sebelumnya yang dilaporkan mencapai 19.696 kasus diseluruh Indonesia. Sejauh ini 17 provinsi di Indonesia, masih tergolong sebagai daerahendemis (terpapar)

kusta. Kebanyakan terdapat di daerah Indonesia timur, sepertiPapua, Kalimantan, Halmahera, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.6 Sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, sosial-ekonomi pada masyarakat.3,6,l3,l9 Terdapat perbedaan baik perbedaan ras maupun geografik. Ras Cina, Eropa, dan Myanmar lebih rentan terhadap bentuk lepromatous dibandingkan dengan ras Afrika, India, dan Melanesia. Beberapa faktor lain yang dapat berperan dalam kejadian dan penyebaran kusta antara lain adalah iklim (cuaca panas dan lembab), diet, status gizi, status sosial-ekonomi dan genetik. Walaupun demikian, penelitian Sommerfelt et al (1985) di India tidak mendapatkan hubungan yang berkolerasi antara prevalensi malnutrisi, kemiskinan, dan kebodohan. Penelitian tersebut hanya mendapatkan adanya hubungan antara prevalensi kusta dengan malnutrisi pada anak usia di bawah 4 tahun.16 Penyakit kusta dapat menyerang semua orang.16,19 Laki-laki lebih sering terkena dibanding wanita dengan perbandingan 2 : 1, walaupun ada beberapa daerah yang mcnunjukkan penderita wanita lebih banyak. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun jarang dijmnpai pada umur yang sangat muda. Frekuensi terbanyak pada umur 15-29 tahun.16

2.3 Etiologi Morbus Hansen discbabkan oleh Mycobacterium leprae yang

merupakanBasil Tahan Asam (BTA) yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol, merupakan kuman aerob,tidak membentuk spora, berbentuk batang.2,3,8,9,10,12,13,14,16,20,21,22 Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah, waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa anak-anak.6,l2 2.4 Penularan Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tandatanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah : a) Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, di luar masih dapat hidup 2-7 x 24 jam.l,l5 b) Kontak kulit dengan kulit yang erat lama dan berulang.1-15 Kuman kusta dapat ditemukan di bagian tubuh penderita yang luka seperti telapak kaki atau tangan, folikel rambut dan kelenjar keringat. 8,l4,20 Faktor-faktor yang menentukan seseorang tertular atau tidak adalah jumlah Mycobacterium leprae dan daya tahan tubuh orang tersebut, jika daya tahan tubuhnya baik, maka tidak akan tertular, begitu juga sebaliknya.14

Di samping itu, hal-hal yang mungkin berperan dalam penularan penyakit ini adalah:3,14 a. b. c. d. Usia : anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa Ras : bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti Iklim : daerah beriklim tropis dan subtropis yang panas dan lembab Kesadaran sosial : umumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah e. Lingkungan : fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.

2.5 Patogenesis Sebenarnya Mycobacterium leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang rendah.20 Setelah Mycobacterium leprae masuk ke dalam tubuh perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang.8,20Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukkan gambaran bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit (hal ini tanpa memperhitungkan pengaruh pengobatan). 23 Setelah terjadi kontak maka dapat terjadi dua kemungkinan yaitu terinfeksi dan tidak terinfeksi. Keadaan infeksi ini akan masuk ke fase subklinis yang kemudian 95% dapat sembuh dan 5% mengalami indeterminate lepra. Selanjutnya indeterminate lepra ini 70% dapat sembuh dan 30% dapat berubah ke bentuk determinate lepra.20

2.6 Gejala Klinis Manifestasi klinis penyakit kusta biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium lanjut dan diagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja. Suatu penderita kusta adalah seseorang yang menunjukkan gejala klinis kusta dengan atau tanpa pemeriksaan bakteriologis dan memerlukan suatu pengobatan.22 Ada 3 cardinal sign yang bila salah satunya ada, sudah cukup untuk menegakkan diagnosis penyakit ini yakni :22 a) Lesi kulit yang anestesi Berupa makula atau plakat atau lebih jarang berupa papul atau nodul dengan hilangnya rasa raba, rasa sakit dan suhu yang jelas. Kelainan lain pada kulit yang spesifik berupa perubahan warna dan tekstur kulit serta kelainan pertumbuhan rambut. b) Penebalan saraf perifer Penebalan saraf perifer sangat jarang dijumpai pada penyakit kusta.Pada daerah endemik kusta penemuan adanya penebalan saraf perifer dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis. c) Adanya M. leprae Hanya penyakit yang dapat diinvasi secara masif di daerah dermis yang mukosa hidung oleh basil Mycobacterium leprae yang dapat ditunjukkan dengan apusan sayatan kulit atau kerokan mukosa hidung. Kelainan kulit

10

dapat berupa makula hipopigmentasi, eritema, infiltrate atau nodul. Jumlah lesi bisa satu, beberapa atau hampir mengenai seluruh tubuh, dapat simetris atau asimetris. Bisa ditemukan gangguan pembentukan keringat dan kerontokan rambut akibat gangguan saraf otonom. 2.7 Klasifikasi Adapun klasifikasi yang dapat dipakai pada bidang penelitian adalah klasifikasi menurut Ridley dan Jopling yang mengelompokkan penyakit kusta menjadi 5 kelompok berdasarkan gambaran kinis, bakteriologis, histopatologis dan imunologis dan sekarang klasifikasi ini juga secara luas dipakai di klinik dan untuk pemberantasan, yaitu :6,9,l6,22 2.7.1 Tipe Tuberkuloid (TT) ` Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf.Lesi kulit bisa satu ataubeberapa, dapat berupa makula atau plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis. Dapat disertai dengan penebalan saraf perifer yang biasanya teraba,kelemahan otot dan sedikit rasa gatal.Adanya infiltrasi tuberkuloid dan kurang atau tidak adanya basil merupakan tanda adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta. Granuloma epiteloid ini terdapat pada sebagian besar atau seluruh dermis yang dikelilingi oleh infiltrasi limfosit yang meluas.

11

2.7.2 Tipe Borderline Tuberculoid (BT) Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT yakni berupa makula atau plakat yang sering disertai lesi satelit di pinggirya, jumlah lesi satu atau beberapa, tetapi gambaran hipopigmentsi, kekeringan kulit atau skuama yang tidak jelas seperti pada tipe TT.Adanya gangguan saraf tidak seberat pada tipe TT, biasanya asimetris. 2.7.3 Tipe Borderline (BB) Merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua spektrum penyakit kusta. Disebut juga makula infiltrasi. Permukaan lesi dapat mengkilat, batas lesikurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi baik dengan ukuran, bentuk ataupun distribusinya. Bila didapatkan adanya lesi punched-out yaitu hipopigmentasi yang oval pada bagian tengah, berbartas jelas yang merupakan ciri khas tipe ini. 2.7.4 Tipe Borderline Lepromatous (BL) Secara klasik lesi dimulai dengan makula. Awalnya hanya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Makula disini lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. Walau masih kecil, papel dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi hampir simetris dan beberapa nodus nampaknya melekuk pada bagian tengah sering nampak normal dengan pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibanding pinggir luarnya dan beberapa plak tampak seperti punched-out.

12

2.7.5 Tipe Lepromatous (LL) Lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritema, mengkilat, berbatas tidak tegas dan tidak ditemukan gangguan anastesi dan anhidrosis pada stadium dini. Distribusi lesi khas yakni di wajah, dahi, pelipis, dagu, cuping telinga sedang di badan mengenai bagian belakang yang dingin, lengan, punggung tangan dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Adapun menurut WHO pada tahun 1981, kusta dibagi menjadi multibasiler dan pausibasiler. Yang termasuk dalam multibasiler adalah tipe LL, BL dan BB dengan hasil BTA+ pada klasifikasi Ridley-Jopling, sedangkan pausibasiler adalah tipe I, TT, dan BT dengan hasil BTA-.8,16 Tabel 1. Kriteria menurut WH0 (1995) 8,9,18,20 KRITERIA Lesi kulit (makula datar,papul yang meninggi, nodul) Kerusakan saraf (menyebabkan hilangnya sensasi/kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang terkena) PB 1-5 lesi Hipopigmentasi Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi yang jelas Hanya satu cabang saraf MB >5 lesi Distribusi simetris Hilangnya sensasi kurang jelas Banyak saraf cabang

2.8

Diagnosa Diagnosa kusta dan klasifikasi harus dilihat secara menyeluruh dari segi :22

13

2.8.1 Klinis, yaitu bercak kulit mati rasa; penebalan saraf tepi di daerah yang terkena; dan ditemukannya BTA+. 2.8.2 Bakteriologis dengan bahan pemeriksaan hapusan kulit, kerokan hidung (selaput lendir hidung), dan biopsi kulit atau saraf. Bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis, membantu menentukan klasifikasi, menilai hasil pengobatan, dan mencurigai resistensi terhadap obat. 2.8.3 Histopatologis berupa biopsi, dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit kusta apabila manifestasi klinik dan bakteriologik tidak jelas. 2.8.4 Imunologis terdiri dari :22 o Tes Lepromin Pemeriksaan lepromin merupakan salah sam alat penunjang diagnostik penyakit kusta yang menunjukkan seberapa besar kemampuan individu bereaksi secara seluler terhadap kuman M.leprae yang masuk ke tubuh.Lepromin adalah suatu suspensi steril yang didapat dari jaringan yang dihancurkan yang mengandung kuman M. leprae yang dipakai sebagai tes kulit secara intradermal pada penyakit kusta. o Tes Histamin Apabila histamin disuntikkan secara intradermal pada kulit normal akan menyebabkan dilatasi kapiler. Hal tersebut dapat dilihat pada adanya suatu urtikaria berwarna merah yang disebut sebagai histamin flare. Keadaan ini tidak disebabkan pengaruh langsung oleh histamin ke dinding kapiler, karena adanya axon reflex dari saraf kulit sehingga

14

terjadinya pun bergantung pada integritas serabut saraf simpatik. Derajat kerusakan saraf dapat dinilai dengan melihat ukuran dari urtikaria yang timbul. Ini sangat berguna untuk menentukan apakah suatu makula hipopigmentasi disebabkan karena kusta atau bukan. B. Kontak Serumah Kontak serumah dengan penderita kusta diduga merupakan resiko yang tinggi untuk terjadinya penularan. Namun tidak demikian semua kontak serumah tertular, untuk itu perlu diketahui fakror yang berhubungan dengan penularan penyakit kusta pada kontak serumah. C. Kontak Sosial Adalah orang yang menderita penyakit kusta tersebut pernah kontak sosial dengan orang dalam lingkungan sosialnya yang juga di diagnosis menderita kusta. D. Hygiene Pribadi Hygiene pribadi diduga juga berperan dalam penularan kusta misalnya penggunaan alas kaki sewaktu beraktifitas di luar rumah dan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, baik sebelum dan sesudah makan

15

BAB III
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

KONTAK

INFEKSI

NON INFEKSI

SUBKLINIS

SEMBUH

INDETERMINED

INDETERMINED

DETERMINED

PB

MB

16

3.2 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti Berdasarkan tujuan penelitian yang diteliti yaitu untuk mengetahui pengaruh riwayat kontak dengan kasus kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid, maka dapat dikemukakan beberapa variabel yang berperan dalam terjadinya kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid yaitu faktor umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, riwayat kontak (kulit dan serumah), dan hygiene pribadi. Di antara berbagai faktor di atas, maka variabel yang akan diteliti meliputi : 1. Variabel dependent Penderita Kusta 2. Variabel independent a. Riwayat kontak kulit Adanya kontak kulit yang erat dan lama dengan penderita kusta akan meningkatkan resiko penularan kusta. b. Riwayat kontak serumah Adanya riwayat kontak serumah dengan penderita kusta berperan dalam penularan kusta. c. Hygiene pribadi Hygiene pribadi diduga juga berperan dalam penularan kusta misalnya penggunaan alas kaki sewaktu beraktifitas di luar rumah

17

dan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, baik sebelum dan sesudah makan. 3.3 Bagan Kerangka Konsep
Kontak serumah

Kontak sosial

Hygiene pribadi

KUSTA

Jenis kelamin Suku bangsa Pekerjaan

Keterangan : Variebel yang Diteliti Variabel Yang TidakDiteliti

3.4 Defenisi Operasional 3.4.1 Penderita Kusta Adalah orang yang menderita penyakit kusta yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan paling sedikit diperlukan satu cardinal sign.

18

Kriteria objektif : Penderita kusta yang di rawat di Rumah sakit Tajuddin Chalid Makassar tahun 2011 yang di diagnosis sebagai penderita kusta. 3.4.2 Riwayat Kontak Serumah Adalah orang yang menderita penyakit kusta tersebut pernah kontak serumah dengan anggota keluarga ataupun orang lain yang tinggal serumah dan terdiagnosis menderita kusta. Kriteria objektif : Penderita kusta yang di rawat di Rumah sakit Tajuddin Chalid Makassar tahun 2011 mempunyai riwayat kontak dengan anggota keluarga

ataupun orang lain yang tinggal serumah..Dinilai melalui wawancara langsung (kuesioner). 3.4.3 Riwayat Kontak Sosial Adalah orang yang menderita penyakit kusta tersebut pernah kontak sosial dengan orang dalam lingkungan sosialnya yang juga didiagnosis menderita kusta. Kriteria objektif : Penderita kusta yang di rawat di Rumah sakit Tajuddin Chalid Makassar tahun 2011 mempunyai riwayat kontak dengan orang dalam lingkungan sosialnya menderita penyakit kusta. Dinilai melalui wawancara langsung (kuesioner). 3.4.4 Hygiene pribadi Adalah penggunaan alas kaki sewaktu beraktivitas di luar rumah untuk menilai kemungkinan penderita pernah menginjak ludah (droplet) yang

19

kemungkinan berasal dari penderita kusta lain; cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan untuk menilai kemungkinan penderita sudah bersentuhan dengan penderita kusta lain. Kriteria objektif : Mengetahui apakah penderita kusta yang di rawat di Rumah sakit Tajuddin Chalid Makassar tahun 2011 yang mempunyai hygiene yang buruk seperti dengan cara menilai penggunaan alas kaki sewaktu beraktivitas di luar rumah, cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudahmakan. Dinilai melalui wawancara langsung (kuosioner).

20

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat studi deskriptif dengan desain retrospektif. 4.2 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal Periode 24 januari 2012 sampai 06 februari 2012 di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Semua pasien baru masuk tahun 2011 yang menderita penyakit kusta yang dirawat di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar. 4.3.2 Sampel Besarnya sampel yang digunakan adalah jumlah pasien baru masuk tahun 2011 yang menderita penyakit kusta yang masih dirawat di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar pada saat penelitian.

4.4 Cara Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara Total Sampling.

21

4.5 Jenis Data dan Instrumen Penelitian 4.5.1 Jenis Data 4.5.1.1 Data primer Diperoleh dengan cara wawancara langsung dari responden menggunakan kuesioner. 4.5.1.2 Data sekunder Diperoleh dari data-data yang dimuat dalam rekam medik pasien di Rumah Sakit Tajuddin Chalid selama tahun 2011. 4.5.2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. 4.6 Pengolahan dan Penyajian Data Data yang diperoleh, diolah dengan alat bantu komputer

menggunakanMicrosoft Excel, yang kemudian disusun dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi menurut variabel yang sesuai dengan tujuan disertai dengan penjelasan.

22

4.7 Alur Penelitian Observasi Lapangan

Pengambilan data sekunder di Rumah Sakit Observasi Lapangan Pengambilan Data Primer Dari Wawancara Langsung Observasi Lapangan

Pengolahan Data Observasi Lapangan

Kesimpulan BAB VII Observasi Lapangan

23

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang diadakan di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan yang dilaksanakan mulai tanggal 24 januari 2012 sampai 06 februari 2012 dengan jumlah sampel yang di teliti sebanyak 20 orang yang terdaftar di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar diperoleh hasil sebagai berikut : Dari hasil penelitian didapatkan penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar yang masih dirawat dan masuk pada tahun 2011 berjumlah 20 orang. A. Distribusi berdasarkan tipe kusta
Table 2. Distribusi Pasien Kusta Berdasarkan Tipe Kusta

Tipe Kusta Pausibasiler Multibasiler Total

Jumlah 0 20 20

Dari hasil penelitian tampak penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar pada Periode 24 Januari 2012 s/d 06 Februari 2012 sebanyak 20 orang menderita kusta tipe MB.

24

20 15 10 5 MB 0 jumlah PB 20 PB MB

Grafik 1. Distribusi Kasus Kusta Berdasarkan Tipe Kusta Di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar B. Frekuensi penderita kusta berdasarkan kontak serumah Tabel 3. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Serumah Kriteria Kontak Serumah Tidak Pernah Kontak Serumah Jumlah 11 9 Persentase 55% 45%

Data Primer Pasien yang di rawat di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Periode 24 Januari 2012 s/d 06 Februari 2012

Dari hasil penelitian didapatkan jumlah penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar yang pernah kontak serumah dengan penderita kusta sebelumnya sebanyak 11 orang dengan persentase 55 % dan yang belum pernah kontak sebanyak 9 orang dengan persentase 45 %.

25

60 50 40 30 20 10 0 55 45 Persentase Persentase Pernah kontak serumah Tidak pernah kontak serumah

Grafik 2. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Serumah C. Frekuensi penderita kusta berdasarkan kontak sosial

Tabel 4. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Sosial Kriteria Kontak Sosial Tidak Pernah Kontak Sosial
Data Primer 2012

jumlah 5 15

Persentase 25% 75%

Dari hasil penelitian didapatkan jumlah penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar yang pernah kontak sosial dengan penderita kusta sebelumnya sebanyak 5 orang dengan persentase 25% dan yang belum kontak sebanyak 15 orang dengan persentase 75%.
26

80 60 40 20 0 Kontak sosial Tidak pernah kontak sosial 25 Persentase 75 Persentase

Grafik 3. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Sosial D. Frekuensi Penderita Kusta Menurut Hygiene Pribadi

Tabel 5. Frekuensi Penderita Kusta Menurut Hygiene Pribadi Kriteria Cuci Tangan Pakai Sabun Penggunaan Alas Kaki
Data primer 2012

Ya 17 16

Persentase 85 80

Tidak Persentase 3 4 15 20

Dari hasil penelitian tampak jumlah penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar Sebagian besar kurang memperhatikan hygiene pribadi yakni sebanyak 3 orang (15%) yang tidak mencuci tangan pakai sabun tangan sebelum dan sesudah makan; dan sebanyak 4 orang (20%) yang tidak menggunakan alas kaki saat beraktivitas di luar rumah.

27

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Cuci tangan pakai sabun Pakai alas kaki 17 3 15 20 16 4 85 80 Ya Persentase Tidak Persentase2

Grafik 4. Frekuensi Penderita Kusta Menurut Hygiene Pribadi E. Frekuensi penderita kusta berdasarkan kontak serumah dan kontak sosial

Tabel 6. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Serumah dan kontak sosial Kriteria Kontak Serumah dan Kontak Sosial Tidak Pernah Kontak Serumah dan Kontak Sosial
Data Primer 2012

Jumlah 2 18

Persentase 10% 80%

Dari hasil penelitian didapatkan jumlah penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar yang pernah kontak serumah dan kontak sosial dengan penderita kusta sebelumnya terdapat 2 orang (10%) dan yang tidak sebanyak pernah kontak serumah dan kontak sosial 18 orang (80%)

28

80 60 80 40 20 0 Pernah kontak serumah dan kontak sosial Persentase 10 Persentase Tidak pernah kontak serumah dan sosial

Grafik 5. Frekuensi Penderita Kusta yang Pernah Kontak Serumah dan Kontak Sosial. 5.2 Pembahasan Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh riwayat kontak dengan kasus kusta di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar sejak tanggal 24 Januari 2012 sampai 06 Februari 2012 dengan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 20 orang yang terdaftar di rumah sakit Tajuddin Halid Makassar. Bila dilihat dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa jumlah pasien baru penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Halid Makassar pada tahun 2011 sebanyak 20 orang yang masih dirawat pada saat penelitian. Selain itu semua penderita kusta ini mengalami kusta tipe MB.

29

Frekuensi penderita kusta di Rumah Sakit Tajuddin Halid Makassar yang pernah kontak serumah tercatat hanya 11 orang dengan persentase 55% yang juga pernah kontak kulit. Dari hasil wawancara, penderita yang lain merasa tidak memiliki anggota keluarga ataupun orang lain yang tinggal serumah yang terdiagnosis menderita kusta. Sebelas orang yang mempunyai riwayat kontak serumah ini memiliki hubungan keluarga yakni ayah, ibu, dan anak dan ada kemungkinan mengalami penularan kusta melalui kontak kulit dan melalui proses inhalasi (sekret hidung dan droplet). Karena di dalam rumah seluruh anggota keluarga sering melakukan aktifitas bersama-sama yang kemungkinan adanya kontak kulit yang erat, lama, dan berulang serta penularan melalui proses inhalasi. Namun tidak jelas siapa yang menderita kusta pertama kali, akibat pengaruh usia (penderita sudah lupa) dan kurangnya pengetahuan penderita mengenai penyakit kusta sehingga tidak dapat segera memeriksakan diri ketika pertama kali ada gejala kusta. Akibatnya para penderita kusta sebagian besar memeriksakan dirinya setelah menderita kusta lebih dari 1 tahun. Basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, di luar masih dapat hidup 2-7 x 24 jam.3,12 Hal inilah yang dapat meningkatkan terjadinya resiko penularan kusta .Ditambah lagi kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda-tanda kusta sehingga tidak diketahui siapa diantara anggota keluarga yang menderita kusta. Dari hasil penelitian juga tampak bahwa juga jumlah penderita kusta yang terdaftar di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar sebagian besar tidak pernah kontak sosial dengan kusta sebelumnya yakni 15 orang dengan persentase 75%.
30

Sedangkan yang pernah kontak sosial dengan penderita kusta sebelumnya hanya 5 orang dengan persentase 25% dari total sampel. Kelima orang yang pernah kontak sosial diduga telah kontak kulit yang erat, lama, dan berulang . Hal ini menunjukkan bahwa penularan kusta bisa terjai melalui kontak kulit yang lama,erat dan berulang-ulang dengan penderita kusta.1-15 Kuman kusta dapat ditemukan di bagian tubuh penderita yang luka seperti telapak kaki atau tangan, folikel rambut dan kelenjar keringat. Oleh karena itu, adanya kontak lama dengan penderita kusta dapat menyebabkan terjadinya penularan kusta.8,14,20 Pada umumnya para penderita kusta kurang memperhatikan hygiene pribadi. Dari wawancara menggunakan kuesioner didapatkan hasil bahwa sebagian besar penderita kusta tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya yakni tidak menggunakn alas kaki saat keluar rumah dan tidak mencuci tangan dengan baik sebelum maupun sesudah makan. Hal ini dapat meningkatkan resiko penularan kusta karena Mycobacterium leprae bisa terdapat di tanah dan berpindah pada saat penderita menginjak tanah tanpa menggunakan alas kaki Telur atau larva cacing tersebut akan lebih banyak masuk ke dalam tubuh. Akibatnya sistem imunitas seluler yang semestinya berperan dalam memfagosit kuman kusta yang masuk, terlebih dahulu memfagosit telur atau larva cacing tersebut sehingga dapat menyebabkan orang tersebut sehingga dapat

menyebabkan orang tersebut terinfeksi Mycobacterium leprae.25 Selain itu kebanyakan penderita tidak mencuci tangan tanpa menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan dan ada kemungkinan penderita sudah bersentuhan dengan penderita kusta lain, dimana kuman kusta dapat menempel dibagian tubuh

31

penderita yang luka seperti telapak kaki atau tangan, folikel rambut dan kelenjar keringat sehingga memungkinkan adanya perpindahan kuman kusta dari penderita kusta tersebut. 8,14,20

32

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarlan penelitian yang diadakan di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar yang di laksanakan mulai tanggal Periode 24 Januari 2012 s/d 06 Februari 2012 dengan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 20 orang diperoleh kesimpulan sebagai: 1. Pengaruh riwayat kontak serumah dengan penderita kusta lain yang lama dan erat dapat meningkatkan resiko penularan kusta karena didapatkan beberapa orang yang menderita kusta pernah mengalami kontak serumah sebelumnya. 2. Pengaruh riwayat kontak sosial dengan penderita kusta juga dapat meningkatkan resiko penularan kusta karena di dapatkan beberapa orang yang menderita kusta pernah mengalami kontak sebelumnya. 3. Didapatkan beberapa orang yang menderita kusta kurang memperhatikan hygiene pribadinya. 6.2 Saran Penyakit kusta merupakan penyakit menular yangmenimbulkan masalah yang sangat kompleks yakni tidak hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial,ekonomi, dan budaya. Untuk itu maka pelayanan kusta tidak cukup hanya dengan melakukan tindakan medis dan usaha penghapusan stigma dan

33

diskriminasi, namun juga perlu untuk di lakukan pencegahan dengan cara melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara benar tentang pengobatan sampai pencegahan penyakit kusta.

34

DAFTAR PUSTAKA 1. Scribd. Bab 1 Kusta (serial online). Available from : URL : http://www.scribd.com/doc/39036411/BAB-I-Kusta. Accessed November 2010. 2. Salim A. Mengenal Lebih Dekat Penyakit Kusta. (serial online). Avalaible from:URL:http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenu Kiri=10&IDaRTIKEL=626. Accessed November 2010. 3. Zulkifli. Penyakit Kusta dan Masalah Yang Ditimbulkannya.(Serial online). Available from: URL: Accessed

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkmzulkifli2.pdf. November 2010.

4. Permata. Penyakit Kusta (serial online). Available from : URL :http://permata.or.id/id/tentang-kusta.html. Accessed November 2010 5. Wikipedia. Kusta. (serial online). Available from : URL :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kusta

Accessed November 2010.

6. TNB. Pengertian Penyakit Kusta Pada Manusia. (serial online). Available from : URL: http://penyakitkusta.blogspot.com/2010/01/penyakit-kustapada-manusia.html. Accessed November 2010. 7. Brown,RG,Burns T.Dermatologi. Ed ke 8.Jakarta : Erlangga;2005 : 23-25. 8. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Editors. Infeksi Bakteri dan Virus in Kapita Selekta Kedokteran. Ed ke 3,Jilid ke 2. Jakarta : Media Aesculapius FK-UI;2000: 65-75.

35

9. Daili ESS,Mendali SL, Wisnu IM. Penyakit Kulit Yang Umum Di Indonesia. Jakarta Pusat : PT Medical Multimedia Indonesia. 10. Medical Journal. Kusta. (serial online). Available from : URL : http:/dinarhealth.blogspot.com/2008/08/kusta.html. Accessed November 2010. 11. Dinkes Tasikmalaya . Kusta (Lepra). (serial online). Available from : URL : http://dinkes.Tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-penyakit /198kusta-lepra.html. Accessed November 2010. 12. Smallcrab. Sekilas Megenal Penyakit Kusta. (serial online). Avalaible from : URL : http://www.smallcrab.com/kesehatan/670-sekilas-mengenalpenyakit-kusta. Accessed November 2010. 13. Dinkes Ciamis. P2 Kusta. (serial online). Available from : URL : http://p4bciamis.wordpress.com/161-2Nov/P2-kusta. Accessed November 2010. 14. Shasi GH. Mengenal Penyakit Kusta. (serial online). Available from : URL :

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=24&i d=27407. Accessed November 2010. 15. TNB. Enularan dan Pencegahan Penyakit Kusta. (serial online). Available from : URL : Accessed November 2010. 16. Amiruddin MD. Penyakit Kusta in Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipocrates; 2000 : 260-271.

36

17. Rassner dan Steinert, Buku Ajar dan Atlas Dermatologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG ; 1995 : 56-60. 18. Menaldi SL. Kusta. (serial online). Available from : URL : http://repository.ui.ac.id/content/koleksi/11/9a5c56a394b229d3eaa990126 d211c792d3c0d41.pdf. Accessed November 2010. 19. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Ed ke 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran; 2005 : 154-155. 20. Kosasih A,dkk. Kusta in Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed ke 5.Jakarta : FKUI ;2007 : 73-85. 21. Brooks GF,Butel JS,Morse AS. Mikobakteria in Mikrobiologi Kedokteran. Surabaya : Penerbit Salemba Medika ; 2001 : 467-468. 22. Dali, MA. Ilmu Penyakit Kusta. Makassar : Hasanuddin University Press ; 2001. 23. Kebijaksanaan Pemberantasan Penyakit Kusta. Available from : URL : http://dinkes-sul-sel.co.id. Accessed November 2010. 24. Katzung GB. Obat Antimikrobakteria in Farmakologi Dasar dan Klinik.Jakarta : Penerbit Salemba Medka ;2004 : 107-108.

37

PENGARUH RIWAYAT KONTAK DENGAN KASUS KUSTA

KUISONER Nama Responden : .. Usia : .. Alamat : .. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan Status Perkawinan : Menikah SD SMP Belum Menikah SMA S1 Pelajar Nelayan PNS S2 S3

Pendidikan Tertinggi : Pekerjaan :

Tidak Bekerja Petani IRT Lain-lain

1. Sejak kapan anda ditetapkan menderita penyakit kusta/lepra? Jawab : 2. Siapakah yang menetapkan Anda menderita kusta? a. Puskesmas b. Rumah Sakit c. Lain-lain .. 3. Gejala apa yang pertama kali Anda rasakan? a. Bercak-bercak putih pada kulit b. Bercak-bercak merah pada kulit c. Hilang rasa pada kulit d. Lain-lain 4. Apakah pada saat itu anda langsung diberi pengobatan? a. Ya b. Tidak 5. Obat apa saja yang diberikan kepada anda pada saat itu? a. Rifampisin c. Dapson b. Lampren

38

6. Berapa lama anda mendapatkan pengobatan? a. Rifampisin bln/thn b. Lampren . bln/thn c. Dapson . bln/thn 7. Apakah anda teratur minum obat tersebut? a. Ya b. Tidak 8. Jika teratur, apakah anda meminumnya sampai tuntas (sampai dokter/tenaga medis/perawat mengatakan sudah tidak perlu minum obat lagi)? a. Ya b. Tidak 9. Di bagian mana saja di tubuh anda yang terdapat bercak putih/merah di kulit yang mati rasa? Wajah Punggung Lain-lain 10. Ada sensasi nyeri yang berkurang pada kulit tersebut? a. Ya b. Tidak 11. Apakah ada kelemahan otot yang anda rasakan pada saat ini ? a. Ya b. Tidak Jika ya, kelemahan otot apa saja Kaki Tangan lain-lain. Leher Tangan Badan Kaki

12. Adakah orang terdekat anda yang juga menderita penyakit kusta/lepra? a. Keluarga (serumah) : Ibu Lain-lain Suami Istri Anak Ayah

b. Keluarga (tidak serumah) : lain-lain c. Teman pergaulan d. Tetangga e. Tidak ada

Suami

Istri

Anak

39

13. Adakah orang disekitar rumah (tetangga)/teman pergaulan yang juga menderita penyakit kusta/lepra? a. Ya b. Tidak 14. Siapa yang pertama kali ditetepkan menderita kusta/lepra? a. Diri b. Orang tersebut 15. Apakah anda sering melakukan pekerjaan/aktivitas bersama orang tersebut? a. Ya b. Tidak 16. Aktivitas apa saja yang anda lakukan bersama dengan orang tersebut? a. Makan/minum dalam wadah yang sama b. Hubungan suami-istri c. Pemberian ASI (ibu dan anak) d. Bekerja bersama yaitu .. 17. Seberapa sering anda melakukan aktivitas dengan orang tersebut? a. Sering (setiap hari) c. b. Jarang 18. Apakah pada saat masih kecil, anda selalu menggunakan alas kaki (sandal) saat keluar/bermain di tanah? a. Selalu c. Tidak pernah b. Kadang-kadang 19. Apakah anda selalu mencuci tangan sebelum makan? a. Ya, dengan sabun c. Tidak pernah b. Ya, tanpa sabun 20. Apakah anda selalu mencuci tangan setelah makan? a. Ya, dengan sabun c. Tidak pernah b. Ya, tanpa sabun 21. Dimana biasanya anda membuang ludah/ingus? a. Kamar mandi c. Di mana saja b. Di sekitar rumah

40