Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia, walaupun usaha-usaha kontrol terhadap TB telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini. Indonesia tetap menempati urutan ketiga diantara 22 high-burden countries di dunia. Pada tahun 2004, diperkirakan insidensi TB di Indonesia sebesar 245 per 100.000 orang per tahun, sementara indikator penemuan kasus case detection rate (CDR) hanya mencapai 39%, dan case notification rate (CNR) sebesar 96 per 100.000 penduduk per tahun. Pada periode yang sama angka mortalitas akibat TB mencapai 46 per 100.000 penduduk, dan kasus baru multidrug resistance sebesar 1,5% (PDPI, 2006). Indonesia telah mengadopsi strategi pemberantasan TB menurut WHO yaitu DOTS (Direct Observed Treatment, Short Course Chemotherapy) sejak tahun 1995 untuk kontrol penyakit TB. Satu dari lima komponen strategi DOTS adalah deteksi mikroskopis basil tahan asam (BTA) pada sputum sebagai bagian utama dari diagnosis TB. Penderita yang didiagnosis klinis sebagai suspek TB selanjutnya akan menjalani pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis ini harus dilakukan dengan pengambilan tiga kali pengecatan sputum, yaitu : sputum sewaktu (I) pada saat kunjungan pertama, sputum pagi yang diusahakan pada saat kunjungan kedua keesokan harinya, dan sputum sewaktu pada waktu kunjungan kedua tersebut. Kadang-kadang pada saat anjuran kunjungan kedua tersebut penderita suspek TB tidak kembali lagi untuk pemeriksaan sputum pagi (II) dan sputum sewaktu (III) yang mungkin sebagai akibat dari berbagai alasan sosial ekonomi. Kenyataan ini mungkin sebagai salah satu faktor dari rendahnya pencapaian CDR yang hanya 39%, jauh dari target nasional yaitu 70% (Crofton et al, 2002). Suatu penelitian intervensi yang dilakukan oleh Alisjahbana et al (2005) melaporkan adanya perbedaan penemuan kasus (case detection) yang signifikan antara kelompok kontrol (menjalani prosedur diagnostik rutin) dengan kelompok intervensi (menjalani konseling paramedik tentang cara menghasilkan sputum yang baik dan menerima wadah sputum yang telah ditentukan jumlah volume sputum yang harus dihasilkan). Penelitian yang lain oleh Ozkutuk et al (2007) melaporkan bahwa 97% pemeriksaan BTA sputum dideteksi pada pemeriksaan pertama, hanya 3% yang ditegakkan pada pemeriksaan kedua, dan pemeriksaan ketiga tidak mempunyai nilai diagnostik apapun. Kedua hasil penelitian ini menjadi bukti awal yang kuat bahwa kemungkinan dengan hanya pemeriksaan BTA pertamalah yang bisa diandalkan untuk penegakkan diagnosis TB. Jika hal ini terbukti maka penderita suspek TB hanya memerlukan satu kali kunjungan untuk penegakkan diagnosis TB, tanpa perlu pemeriksaan lanjut sputum pagi (II) dan sputum sewaktu (III) pada hari berikutnya. Hal ini akan berdampak positif pada pertimbangan ekonomi dan/atau sosial pada penderita tersebut dimana umumnya penderita suspek TB mempunyai status sosial dan ekonomi rendah. Keuntungan yang lain juga yaitu penemuan kasus akan lebih meningkat karena resiko penderita suspek untuk tidak lagi memeriksakan sputum II dan sputum III akan lebih kecil. Penelitian ini dianggap perlu untuk dilakukan walaupun Alisjahbana et al (2005) dan Ozkutuk et al (2007) telah melaporkan hal yang sama. Pertama bahwa Alisjahbana et al (2005) melakukan penelitian ini dengan mengandalkan penegakkan diagnosis sebagai penderita suspek TB berdasarkan pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan klinis, sedangkan penelitian yang akan dilakukan ini hanya akan mengandalkan pemeriksaan klinis seperti halnya prosedur tetap penegakkan diagnosis menurut strategi DOTS yang sudah diadopsi pada semua puskesmas dan sebagian kecil rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Dengan hanya mengandalkan pemeriksaan klinis ini, maka penelitian ini

diharapkan lebih bersifat aplikatif untuk strategi DOTS dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alisjahbana et al (2005). Penelitian oleh Ozkutuk et al (2007) merupakan penelitian yang dilakukan di Turki yang tentunya menggambarkan karakteristik ekonomi dan sosial penduduk, termasuk penderita TB, yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Induk sebagai salah satu rumah sakit yang menjalankan strategi DOTS dengan angka kunjungan penderita suspek TB adalah paling tinggi diantara unit pelayanan kesehatan di Kabupaten Minahasa Induk. Berdasarkan data kunjungan penderita suspek TB pada bagian program TB RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano menunjukkan data penderita suspek TB untuk 3 tahun terakhir dengan penderita positif TB yang diperlihatkan tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Jumlah Penderita Suspek TB dan Positif TB tahun 2007, 2008, 2009 di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano Tahun 2007 2008 2009 Penderita Suspek TB 443 581 300 Penderita Positif TB 50 50 30

Dari tabel 1, dapat dilihat ada 443 penderita suspek TB pada tahun 2007 di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano dengan 50 penderita yang positif TB. Tahun 2008 sebanyak 581 penderita suspek TB dan yang positif TB 50 penderita. Selanjutnya pada tahun 2009, jumlah penderita suspek TB di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano sebanyak 300 penderita dengan 30 penderita yang positif TB. Berdasarkan data dan permasalahan yang ada, serta sesuai dengan keterjangkauan terhadap populasi, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang TB di Rumah Sakit ini.