Anda di halaman 1dari 11

FARINGITIS

1.

Definisi Faringitis merupakan peradangan pada mukosa dan submukosa

tenggorokan.1

2.

Epidemiologi Infeksi saluran pernafasan ialah penyakit infeksi yang paling sering yaitu

sampai 80% dari semua penyakit infeksi.1

3.

Etiologi Penyebab faringitis dikarenakan oleh virus dan bakteri, seperti dapat dilihat

pada tabel di bawah ini :1,2 Virus Herpes simplex virus Rubela Epstein barr virus Cytomegalovirus HIV tipe 1 Bakteri Bakteri Streptococcal Bakteri Staphylococal Corynebacterium diphtheria Bordetella pertussis Neisseria gonorrhoeae Treponema pallidum Bakteri lain Jamur Candida albicans

Rhinoviruses Coronaviruses Adenoviruses Influenza viruses Parainfluenza viruses Respiratory syncytial virus

Bakteri Group A hemolytic streptococci banyak menyerang pada usia 515 tahun.1 70% dari gangguan tenggorokan akut disebabkan oleh virus. Adenovirus adalah penyebab tersering dari faringitis akut.2

4.

Klasifikasi a. Faringitis akut 1) Faringitis Viral 2) Faringitis bacterial 3) Faringitis Bakterial 4) Faringitis Gonorea b. Faringitis Kronis 1) Faringitis Kronik Hiperplastik 2) Faringitis Kronik Atrofi c. Faringitis Spesifik 1) Faringitis Luetika 2) Faringitis Tuberkulosis3

4.1.

Faringitis akut a. Faringitis viral Rhinovirus akan menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis.3 Etiologi Adenovirus, Epstein barr virus, parainfluenza (tipe 1-4), influenza virus (A dan B), rhinovirus, enterovirus. 3,4

Virus lain yang dapat mengakibatkan faringitis yaitu herpes simplex virus (tipe 1 dan 2), cytomegalovirus (CMV), dan human immunodeficiency virus (HIV). 2 Gejala dan tanda Pada awalnya pasien biasanya mengeluh demam disertai dengan rinorea, mual, nyeri tenggorokan, sulit menelan.3 Herpes simplex virus bisa di pikirkan sebagai etiologi ketika pada faringitis didapatkan di palatum atau di faring d temukan ulkus dan di sertai gingivostomatitis.2 Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis.Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat, tetapi coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi pada kulit berupa maculopapular rash.3 Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, dapat juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak.3 Epstein Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.3 Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual, dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.2,3

2.1 Gambaran faringitis akut Diagnosis Diagnosis dibuat terutama terdapat gejala dan tanda dari faringitis viral. kultur viral atau acute dan convalescent sera untuk titer bisa dilakukan tetapi tergantung kebutuhan dan kemampuan pasien.1 Terapi Istirahat dan minum yang cukup, kumur dengan air hangat. Analgetik dan tablet isap diberikan jika perlu.3 Antivirus metisoprinol (isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes simpleks dengan dosis 60-100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak < 5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari. b. Faringitis bakterial Etiologi Grup A streptokokus hemolitikus, bakteri anaerob, neisseria gonorrhea. Infeksi grup A streptokokus hemolitikus merupakan

penyebab pada penyakit faringitis akut paling sering yaitu sekitar 40%. Pada orang dewasa ditemukan (15%) dan pada anak-anak (30%).2,3 Gejala dan tanda Nyeri kepala yang hebat, disertai dengan muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai batuk.2,3 Pada pemeriksaan ditemukan tonsil yang membesar, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. Terdapat pembesaran kelenjar limfa leher anterior yang kenyal dan nyeri tekan positif.2,3 Diagnosis bisa dipastikan dengan rapid antigen test dan atau kultur tenggorok. Pentingnya didiagnosis untuk mencegah terjadinya komplikasi yaitu supuratif dan nonsupuratif.2 Terapi Diberikan antibiotik, terutama jika di duga penyebabnya grup A streptokokus hemolitikus, maka diberikan penicillin G Benzatin 50.000 U/KgBB, IM dosis tunggal, atau dapat diberikan juga amoksisilin 50mg/KgBB dosis dibagi 3kali/hari selama 10 hari, pada dewasa 3 x 500 mgselama 6-10 hari, atau dapat diberikan pula eritromisin 4 x 500 mg. Bisa diberikan pula analgetik, serta disarankan untuk kumur dengan air hangat atau 5ntiseptic.3 c. Faringitis jamur Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring.

Gejala dan tanda Nyeri tenggorokan dan nyeri menelan, pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis. Diagnosis Untuk mendiagnosis faringitis jamur dilakukan pembiakan jamur dalam agar sabouroud dextrosa.3 Terapi Diberikan nystatin 100.000-400.000 2 kali/hari.3 d. Faringitis gonorea Perlu dipertimbangkan pada pasien yang melakukan hubungan seksual orogenital. Dalam sebuah penelitian didapatkan faringitis gonorea ditemukan pada 20% pria homoseksual, 10% wanita, dan 3% heteroseksual pria. Sekitar 50% pasien yang terdiagnosis Faringitis gonorea ialah asimptomatik, meskipun ditemukan odinofagi, sedikit demam, dan sedikit eritema mungkin terjadi.2 Terapi Sefalosporin generasi ke 3, ceftriakson 250 mg IM.3 4.2 Faringitis kronik Terdapat dua bentuk faringitis kronik, yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik atrofi. Faringitis kronik ditandai oleh hipertrofi arkus faring lateral yang jelas, yang disebut juga faringitis lateral. Faktor predisposisi proses radang kronik faring ini yaitu rhinitis kronik, sinusitis kronik, iritasi kronik oleh rokok, minum alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu.

Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik yaitu pada pasien yang bernafas melalui mulut karena hidungnya tersumbat seperti akibat dari deviasi septum.3,4 Gejala yang timbul yaitu tenggorokan terasa kering dan terasa ada mucus di tenggorakan yang sulit keluar. Pada pemeriksaan dengan dengan kaca laring di dapatkan pada mukosa faring hiperemis dan kasar akibat dari hyperplasia dari jaringan limfatik di dinding belakang faring pada faringitis kronis hiperplastik. Mukosa dinding faring bisa terlihat rata dan licin pada kasus faringitis kronis atrofi.4

2.1 Gambaran faringitis kronik4 a. Faringitis kronik hiperplastik Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring. Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi.3,4 Gejala dan tanda

Pada awalnya pasien mengeluh mula-mula tenggorokan kering, gatal dan akhirnya mengeluhkan adanya batuk. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan bergranular.3,4 Terapi Terapi local dengan melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter), pengobatan simptomatis dapat diberikan obat kumur atau tablet isap, jika diperlukan obat batuk antitusif atau ekspektoran. Penyakit dihidung dan sinus paranasal yang menjadi factor predisposisi harus di obati.3,4

b. Faringitis kronik atrofi Pada Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis atrofi, udara pernapasan tidak diatur suhu serta kelembabannya, sehingga menimbulkan rangsangan untuk terjadinya infeksi pada faring.3,4 Pada kasus yang ringan dapat terlihat mukosa tampak tipis dan berkilau atau seperti kaca, Pada inspeksi dapat terlihat adanya lapisan mukus, yang normalnya transparan tetapi disini dapat terlihat lebih tebal dan semi transparan. Pada faringitis kronik atrfofi yang lanjut, kekeringan dapat terlihat lebih jelas, konsistensinya seperti lem, dana sewaktu-waktu akan tampak krusta, jika membrane mukosanya diangkat maka di bawahnya akan tampak kering, berkerut. Stadium lanjut faringitis kronik

atrofi disebut juga faringitis sika dan biasanya di hubungkan dengan rhinitis atrofika rhinitis sika.5 Etiologi Penyebab faringitis kronik atrofi diduga disebabkan oleh udara yang tidak cukup dihangatkan dan dilembabkan oleh mukosa hidung, seperti yang terjadi pada pasien rhinitis atrofi dimana tidak berfungsinya pelembab dari hidung.5 Gejala dan tanda Pasien mengeluh tenggorokan kering, mulut berbau. Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak mukosa kering.3,4 Terapi Pengobatan dapat di berikan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.3 4.3 Faringitis spesifik a. Faringitis luetika Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring seperti juga penyakit lues di organ yang lain. Gambaran kliniknya tergantung pada stadium penyakitnya. Stadium penyakit pada faringitis luetika ada tiga, yaitu stadium primer, sekunder dan tertier.3 Stadium primer Predileksinya : lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding posterior faring. Berbentuk bercak keputihan.

10

Jika infeksinya terus berlangsung bisa timbul ulkus pada daerah faring seperti ulkus pada genital, yaitu tidak nyeri. Didapatkan pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri pada saat di tekan. Stadium sekunder Stadium ini jarang ditemukan. Terdapat eritem pada dinding faring yang menjalar kearah laring. Stadium tertier Predileksinya : tonsil dan palatum, jarang pada dinding posterior faring Terdapat guma Guma pada dinding posterior faring dapat meluas ke vertebra servikalis dan jika pecah akan menimbulkan kematian. Guma di palatum mole jika sembuh terbentuk jaringan parut dan menimbulkan gangguan fungsi palatum secara permanen Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan serologic. Terapi penisilin dalam dosis tinggi merupakan obat pilihan utama.3 b. Faringitis tuberkulosis Faringitis tuberculosis merupakan proses sekunder dari penyakit tuberkulosis paru. Pada infeksi bakteri tahan asam jenis bovinum dapat timbul tuberkulosis faring primer. Cara infeksi eksogen, yaitu kontak dengan sputum yang mengandung kuman atau dengan inhalasi kuman melalui udara. Sedangkan cara infeksi endogen, yaitu penyebarannya melalui darah pada tuberkulosis miliaris. Bila infeksi timbul secara

11

hematogen maka tonsil dapat terkena kedua sisi dan lesi sering ditemukan pada dinding posterior faring, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan palatum durum. Kelenjar regional leher membengkak.3 Gejala Keadaan umum pasien buruk karena anoreksia dan odinofagia, pasien juga mengeluh nyeri yang hebat pada tenggorokan, nyeri ditelinga serta pembesaran kelenjar limfa servikal.3 Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan sputum BTA, foto thorax untuk melihat adanya gambaran dari penyakit tuberkulosis paru dan biopsy jaringan keganasan.3 Terapi Terapi diberikan sesuai dengan terapi tuberkulosis paru.3 yang terinfeksi untu menyingkirkan adanya