Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Desa Sembiran sering disebut Desa Bali Aga yang berarti Desa kuno dengan adat yang masih sama dengan yang ada sebelum orang Majapahit datang ke Bali. Tapi, kalau kita lihat dari sudut geografi dan sejarah lokasi Desa Sembiran tidak jauh dari pantai. Ada banyak bukti dari arkeologi dan epigrafi yang membuktikan bahwa desa-desa dipinggir pantai di Bali Utara tidak pernah tertutup atau terisolasi. Walaupun sering ada pertemuan baik dengan orang dari luar, dalam prasasti penduduk desa tercantum bahwa Desa Julah dan Desa Sembiran pernah menjadi satu. Dalam prasasti itu juga tercantum bahwa pada abad X terjadi perampokan di Desa Julah yang dilakukan oleh bajak laut. Perampokan ini menyebabkan terjadinya banyak pembunuhan sehingga banyak penduduk mengungsi ke daerah pegunungan. Setelah keadaan aman, penduduk yang mengungsi ke daerah pegunungan kembali ke daerah pesisir. Mereka memutuskan untuk membagi wilayah menjadi dua bagian yaitu Desa Julah dengan Desa Sembiran. Nama Sembiran diambil dari dua kata, yaitu Wukir dan Samirana. Wukir berarti bukit, Samirana adalah kekuatan. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sembiran berasal dari kata Sambirane berubah menjadi Sembiran. Sembirane berarti tempat yang bagus dan tinggi. Dilihat dari segi kebudayaan, tata bahasa, adat istiadat dan arsitektur di Desa Sembiran ini masih sangat bersifat bali aga dan masih mencirikan umat Hindu di zaman Kertha Yuga. Dari sekian banyak keunikan yang ada di Desa Sembiran, salah satu yang menarik perhatian penulis dan ingin dibahas lebih mendalam yaitu mengenai upacara adat. Dalam hal ini upacara adat yang akan dibahas yaitu upacara pernikahan atau merangkat. Upacara pernikahan atau merangkat yang akan dibahas mengenai upacara pernikahan anatara pihak purusaha dan pradhana yang berasal dari satu desa ataupun upacara pernikahan yang pengantin wanitanya berasal dari desa lain. Penulis sangat tertarik untuk mengulas tentang proses upacara pernikahan atau merangkat yang pengantin wanitanya berasal dari luar desa Sembiran. Hal yang terlihat unik yaitu apabila pengantin wanita berasal dari luar desa Sembiran menikah dengan pengantin pria yang berasal dari desa Sembiran maka, pengantin wanita harus diupacarai ulang mulai dari upacara mesakapan 1 yang

(jatuh tali pusar), mapag (penyambutan anak), tiga bulanan enam bulanan dan ngotonin (saat mencapai dewasa). Yang mana dalam hal ini, pihak perempuan dianggap baru lahir dari dunia luar dan mulai masuk ke Desa Sembiran, jadi pihak perempuan masih dianggap kotor. Untuk itu, pihak perempuan harus dibuatkan upacara tersebut agar menjadi bersih kembali dan setara dengan pihak laki-laki. Dibandingkan dengan di desa lain upacara seperti ini tidak perlu dilaksanakan baik itu pihak perempuan yang berasal dari luar desa karena pihak perempuan sudah melaksanakan upacara tersebut di daerah masing-masing. Oleh karena itu, penulis membuat makalah ini untuk lebih mendalami mengenai upacara pernikahan di desa Sembiran. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang ingin dicari penyelesaiannya, yaitu: 1. Apakah pengertian upacara pernikahan? 2. Bagaimanakah susunan upacara pernikahan yang berlaku di desa Sembiran? 3. Apa saja jenis pernikahan yang dilarang di desa Sembiran? 1.3 Tujuan Tujuan penulis mengangkat masalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui pengertian upacara pernikahan.
2. Untuk mengetahui susunan upacara pernikahan yang berlaku di desa

Sembiran. 3. Untuk mengetahui jenis pernikahan yang dilarang di desa Sembiran. 1.4 Manfaat Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut. 1. Bagi warga Desa Sembiran, agar lebih memahami dan tetap menjaga kelestarian dan keajegan upacara pernikahan yang berdasarkan adat istiadat yang berlaku di Desa Sembiran. 2. Bagi pembaca, untuk memperkenalkan tata cara dan upacara pernikahan yang berlangsung di desa Sembiran yang unik dan berbeda dengan desa lainnya. BAB II PEMBAHASAN 2

2.1 Pengertian Upacara Pernikahan Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut Yatha sakti Kayika Dharma yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan. Upacara Pawiwahan adalah upacara yang sangat sederhana, biayanya sedikit namun makna yang dikandung sangat tinggi, karena banten (upakara) yang digunakan dalam upacara pawiwahan ini mengandung simbol-simbol yang lengkap.

2.2 Susunan Upacara Pernikahan yang Berlaku di Desa Sembiran 1. Meminang seorang gadis (Ngidih) Ngidih adalah suatu upacara yang di dalamnya menggambarkan sebagian pernikahan yang dipraktekkan secara umum dan disamping itu mengandung tindak persembahan-persembahan, hal itu berlaku sebagai bagian dari upacara-upacara lingkaran hidup. Ngidih berlangsung pada malam menjelang perkawinan di dalam rumah calon istri. Keluarga mempelai laki-laki berjamu ke keluarga bakal istri dan melamar secara konvensional. Keluarga-keluarga berkumpul dan bersalin jaja (kue dari nasi dan kelapa) dan gula sebagai tanda ikatan yang bertumbuh baru. Seorang mangku mengucap doa-doa dan banten-banten dipersembahkan. Tetapi juga unsurunsur dari sektor dinas yang meliputi kepala desa dan klian adat yang hadir dan memberi sambutan.

2. Upacara Pernikahan Besar (Peragat Gede)

Dengan peragat nik berawal rangkaian upacara yang tidak lagi mengacu pada kesendirian seseorang melainkan pada orang yang telah bersuami atau beristri. Kedua upacara pertama menandakan pisahnya bakal istri dari dadyanya dan masuk menjadi anggota dadya suaminya. Selain itu dalam upacara-upacara tersebut, pasangan suami istri diterima komunitas paguyuban desa dan tahap per tahap disucikan dari kenajisan secara ritual yang disebabkan dari pernikahan. Upacara ini diadakan pada pagi hari sesudah pesta perkawinan. Pasangan suami istri berangkat dari rumah sang suami ke rumah sang istri. Mereka mengenakan pakaian katun biru yang direnda khas oleh golongan lajangdan ditenun di Sembiran. Perempuan yang belum menikah tergolong dalam lembaga daha, laki-laki bujang tergolong dalam lembaga teruna. Serombongan kecil anggota keluarga, yang membawa bantenbanten untuk upacara ini mengarak mereka. Di dalam pura keluarga atau di kamar suci dari rumah sang istri disamping suami istri hadir juga empat pemangku. Bersama-sama dengan pemangku tersebut calon istri meminta leluhur dadya yang didewakan dan dewa-dewa lainnya, berkenan melepaskan dia dari dadyanya dan bersama itu dari kewajibannya kepada leluhur. Sejumlah kecil banten-banten dipersembahkan, kemudian seluruh rombongan kembali ke rumah pengantin lakilaki. Peragat nik kurang lebih artinya penutupan kecil yang berhubungan dengan pelepasan calon istri dari dadyanya.

3. Upacara Pernikahan Besar (Peragat Gede) Peragat gede penutupan besar intinya hampir sama dengan peragat nik, hanya banten-banten dan jumlah tamu undangan yang datang lebih besar. Peragat Gede disebut juga dengan nama penyari, diadakan pada hari yang sama seperti layaknya peragat nik. Sebelum upacara peragat gede masih diadakan upacara ngotonin khususnya untuk salah satunya atau untuk suami istri jika belum diadakan sebelum perkawinannya. Untuk peragat gede suami istri, keempat pemangku dan tamu hadir di pura keluarga pengantin wanita. Banten-banten yang digunakan dalam upacara ini meliputi seekor babi yang sudah dipotong, beras, sebuah menara persembahan base tegeh dan lima puluh ribu koin uang kepeng yang dirangkai dengan tali-tali membentuk banten. Selain itu juga disiapkan hidangan termasuk 4

daging babi setelah dipersembahkan kepada dewa-dewa juga dibagikan separuh untuk keluarga perempuan dan separuh untuk keluarga laki-laki. Upacara ini dihadiri dan disaksikan oleh mangku-mangku di depan pelinggih leluhur. Langsung sesudah upacara tersebut pada siang harinya dilangsungkan santap bersama di dalam rumah orang tua dari pengantin pria. Daging babi yang dipersembahkan, jukut, nasi, sate dan banyak hidangan yang lain serta kopi tuak dan arak ditawarkan kepada seluruh calon istri oleh keluarga pengantin pria untuk mempererat ikatan yang baru terjalin. Pengantin pria duduk diantara laki-laki yang ikut serta dalam paguyuban pesta dan harus berkeliling dengan satu bejana air (kocor) sesudah bersantap agar para tamu bisa mencuci tangan. Sedangkan pengantin wanita berada diantara perempuan-perempuan yang makan di bagian lain dari rumah dan juga sesudah makan berjalan keliling dengan membawa kocor. Sesudahnya mereka melepaskan pakaian dari golongan bujang dan mengenakan pakaian pesta yang lain. Di malam hari berlangsung resepsi seremonial untuk tamu-tamu yang dilaksanakan di rumah sang suami. Persiapan-persipan untuk hajatan dilaksanakan olah warga dadya pengantin pria dan juga warga dadya-dadya yang terkait. Warga dari dadya pengantin wanita juga turut serta dalam hal tersebut. Biaya hajatan ditanggung oleh pengantin pria dan keluarga dekatnya. Karangan yang digunakan sebagai tempat resepsi dihias dan tikar-tikar dibentangkan sebagai tempat duduk untuk para tamu. Makanan, minuman, jajan dan rokok disediakan. Pasangan pengantin duduk dengan berpakaian adat di depan dekor bergambar kain prada, hiasan dianyam dari daun pohon palem dan kertas krep berwarna serta dekoratif dari buah-buahan dan jaja. Mereka menerima pemberian yang dibawakan oleh para tamu dan mengundang mereka untuk masuk ke tempat diadakannya resepsi dan menyajikan hidangan yang sudah disiapkan. Para tamu biasanya berasal dari keluarga pengantin pria, keluarga pengantin wanita, tetangga, teman dan sanak saudara yang masih memiliki hubungan darah dengan kedua mempelai. Peragat gede melepaskan pengantin wanita dari dadyanya dengan rangkaian upacara yang lebih besar dari

upacara sebelumnya dan mengukuhkannya lewat santap bersama diantara keluargakeluarga pasangan pengantin. Apabila pengantin wanita berasal dari luar desa sembiran dibuatkan upacara dari semenjak lahir hingga dewasa. Upacara tersebut meliputi upacara mesakapan (jatuh tali pusar), upacara tiga bulanan, upacara enam bulanan dan upacara ngotonin (saat mencapai masa dewasa). Ada beberapa pendapat yang ditimbulkan dari adanya upacara tersebut, yaitu: a. Menurut Nengah Ardana selaku Kelihan Adat Upacara semenjak lahir hingga dewasa yang meliputi upacara mesakapan (jatuh tali pusar), upacara tiga bulanan, upacara enam bulanan dan upacara ngotonin (saat mencapai masa dewasa untuk pengantin wanita yang berasal dari luar desa Sembiran tidak wajib dilakukan karena tidak ada aturan tertulis yang mengatur. Tetapi seiring berjalannya waktu dan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan upacara tersebut, maka upacar tersebut dilaksanakan tanpa adanya paksaan dan aturan tertulis yang mengatur. b. Menurut Wayan Partayasa Apabila pengantin wanita berasal dari luar desa Sembiran maka upacara semenjak lahir hingga dewasa yang meliputui upacara mesakapan, tiga bulanan, enam bulanan dan ngotonin harus dilaksanakan untuk menyamakan status antara pengantin wanita dan pengantin pria. Pengantin wanita yang berasal dari luar desa Sembiran dianggap lahir kembali dan untuk pertama kali menginjakkan kaki di desa Sembiran sehingga dianggap seperti bayi yang baru lahir yang perlu dibuatkan rangkaian upacara tersebut. c. Menurut pemangku Ketut Surayana Pengantin wanita yang berasal dari luar desa Sembiran wajib melaksanakan upacara mesakapan, tiga bulanan, enam bulanan dan ngotonin karena pengantin wanita dianggap masih leteh atau kotor. Selain itu upacara ini wajib dilaksanakan karena apabila tidak dilaksanakan akan timbul perasaan yang tidak enak dan bisa menyakiti salah seorang anggota keluarga pengantin. Misalnya 6

saja dia akan merasa tidak tenang pada saat melaksanakan persembahyangan di pura-pura yang ada di desa Sembiran. Jadi upacara dari semenjak lahir hingga dewasa bagi pengantin wanita yang berasal dari luar desa Sembiran wajib dilaksanakan walaupun tidak ada aturan tertulis yang mengatur.

2.3 Jenis Pernikahan yang Dilarang di Desa Sembiran

Ada beberapa upacara pernikahan yang dilarang di desa Sembiran, seperti menikah dengan sepupu. Apabila hal ini dilanggar, maka orang yang bersangkutan harus mengadakan upacara yang biayanya sangat besar. Dahulu, apabila ada orang yang melanggar adat ini, maka akan dikeluarkan dari desa Sembiran. Pernikahan lain yang dilarang adalah menikah dengan penduduk Julah yang merupakan tetangga desa Sembiran. Larangan pernikahan dengan orang Julah ini karena ada kepercayaan bahwa orang-orang Julah merupakan famili dan karena itu tidak boleh dinikahi. Warga Julah merupakan sepupu warga Sembiran. Sampai sekarang keyakinan ini masih berlaku dan penduduk dua desa ini sama-sama tidak berani melanggarnya. Pernikahan dengan orang dari agama selain Hindu hanya dimungkinkan bila telah melaksanakn upacara yang disebut dengan Sudi Widani. Dalam awig-awig desa Sembiran, beberapa jenis pernikahan yang tidak dibenarkan adalah sebagai berikut. 1. Mengambil bibi (saudara ayah) sebagai istri atau mengambil saudara sepupu ayah sebagai istri. 2. Mengambil saudara tiri atau saudara sepupu. 3. Mengambil ipar saudara kandung atau dari saudara sepupu atau ipar yang lebih tua atau lebih muda. 4. Kemenakan atau saudara kandung atau dari saudara sepupu.

Jika pernikahan model-model di atas dilaksanakan, maka akan dipisahkan. Pelakunya juga diharuskan mengadakan upacara, seperti upacara melasti di pantai atau penyucian di simpang jalan. Jenis hukuman yang diberikan kepada pelanggar pernikahan akan disesuaikan atau mengikuti jenis pelanggaran yang dilakukan. Jika pernikahan itu tetap dialngsungkan, maka orang yang bersangkutan akan dikeluarkan statusnya sebagai warga adat.

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Upacara pernikahan yang berlangsung di desa Sembiran merupakan upacara yang masih bersifat bali aga. Ini terlihat daripengantin wanita yang berasal dari luar Desa Sembiran wajib melaksanakan upacara dari semenjak lahir hingga dewasa. Upacara tersebut meliputi upacara mesakapan (jatuh tali pusar), tiga bulanan, enam bulanan dan ngotonin (masa dewasa). Pengantin laki-laki wajib membiayai dan menyelenggarakan upacara tersebut, walaupun pada waktu masih muda pihak lakilaki tinggal di daerah perkotaan. Setelah melaksanakan upacara semenjak lahir hingga dewasa tersebut, maka pengantin wanita dianggap menjadi bagian dari warga Desa Sembiran karena telah menjalankan adat-istiadat yang ada di desa ini, serta akan tetap menjaga kelestarian dan keajegan adat istiadat yang ada di Desa Sembiran yang sudah ada sejak zaman dahulu. 3.2 Saran Saran yang ingin penulis sampaikan dalam karya tulis ini yaitu agar tetap melaksanakan adat istiadat yang berlaku di Desa Sembiran seperti dengan 8

melaksanakan upacara pernikahan dengan melaksanakan upacara dari lahir hingga dewasa untuk pengantin wanita yang berasal dari luar Desa Sembiran. Selain itu, adat istiadat dalam upacara pernikahan harus tetap ajeg dan lestari tanpa mudah terpengaruh dengan kemajuan-kemajuan zaman seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Awig-awig Desa Adat Sembiran. Sembiran: Desa Adat Sembiran. Anonim. 2009. Upacara Pernikahan Adat Bali. Tersedia http://zipoer7.wordpress.com/2009/09/05/upacara-pernikahan-adat-bali (diakses pada tanggal 20 Mei 2012). pada

Riemenschneider, Christian, dkk. 2005. Upacara Lingkaran Hidup di Desa Adat Sembiran. Air Sanih. Sujana, Wayan. 2011. Upacara Pawiwahan. Tersedia pada http://bali.stitidharma.org/upacara/upacara-pawiwahan-sadampati (diakses pada tanggal 20 Mei 2012). Widi, Putu. 2011. Hindu Wedding. Tersedia pada http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en| id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Hindu_wedding (diakses pada tanggal 20 Mei 2012).