Anda di halaman 1dari 4

1.

Anak dan bayi dengan CAP sedang sampai dengan berat, yang didefinisikan oleh beberapa faktor, termasuk di antaranya kesulitan bernafas dan hipoksemia (saturasi oksigen perifer [SpO2] kurang dari 90% di permukaan laut) harus dirawat di rumah sakit untuk manajemen lebih lanjut, termasuk perawatan kesehatan anak. 2. Bayi berumur kurang dari 3-6 bulan dengan tersangka menderita CAP bakterial lebih baik dirawat di rumah sakit. 3. Anak dan bayi yang disangka atau tercatat pernah menderita CAP yang disebabkan oleh patogen dengan peningkatan virulensi, seperti communityassociated methicillin-resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA) harus dirawat di rumah sakit. 4. Anak dan bayi yang membutuhkan pengawasan lebih cermat di rumah atau tidak dapat menjalankan terapi sesuai dengan yang diprogramkan atau tidak dapat ditindaklanjuti harus dirawat di rumah sakit. 5. Seorang anak harus dirawat di ICU jika membutuhkan ventilasi invasif melalui jalan nafas buatan. 6. Seorang anak harus dirawat di ICU atau unit yang mampu memantau secara terus-manerus kondisi kardiorespiratori jika anak tersebut membutuhkan penggunaan ventilasi tekanan positif non-invasif sesegera mungkin (misalnya tekanan udara positif terus-menerus atau tekanan udara positif bilevel) 7. Seorang anak harus dirawat di ICU atau unit yang mampu memantau secara terus-manerus kondisi kardiorespiratori jika anak tersebut diduga selanjutnya akan berlanjut menjadi gagal nafas (impending respiratory failure). 8. Seorang anak harus dirawat di ICU atau unit yang mampu memantau secara terus-manerus kondisi kardiorespiratori jika anak tersebut mengalami takikardia berkelanjutan, tekanan darah inadekuat, atau membutuhkan dukungan obat-obatan untuk tekanan darah ataupun perfusi. 9. Seorang anak harus dirawat di ICU jika pengukuran pulseoksimetri adalah 92% pada oksigen terinspirasi sebesar $0.50. 10. Seorang anak harus dirawat di ICU atau unit yang mampu memantau secara terus-menerus kondisi kardiorespiratori jika anak tersebut mengalami

penurunan kesadaran, walaupun hal tersebut disebabkan oleh hiperkarbia ataupun hipoksemia sebagai akibat dari pneumonia. 11. Keparahan derajat penyakit tidak boleh digunakan sebagai kriteria tunggal untuk di rawat di ICU tetapi harus mempertimbangkan konteks klinis lain, hasil laboratorium, dan temuan radiologi. 20. Tes-tes yang sensitif dan spesifik untuk diagnosis cepat virus influenza dan virus pernafasan lainnya harus digunakan dalam mengevaluasi anak dengan CAP. Sebuah hasil positif dari tes influenza dapat mengurangi baik kebutuhan studi diagnostik tambahan ataupun penggunaan antibiotik, dimana di dalam panduan dinyatakan penggunaan yang tepat adalah antiviral baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap. 21. Terapi antibakterial tidak diperlukan untuk anak-anak, baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap, dengan hasil positif terhadap virus influenza dengan tidak adanya temuan klinis, laboratorium, atau radiografi yang menunjukkan koinfeksi bakteri. 22. Pemeriksaan untuk virus pernapasan selain virus influenza dapat mengubah pengambilan keputusan klinis pada anak yang tersangka menderita pneumonia, karena terapi antibakterial bukanlah hal yang rutin diperlukan untuk anak-anak ini tanpa adanya suatu temuan klinis, laboratorium, dan radiografi yang menunjukkan koinfeksi bakteri. 23. Anak-anak dengan tanda dan gejala klinis diduga terinfeksi Mycoplasma pneumonia harus diperiksa untuk menentukan pilihan antibiotik. 24. Pemeriksaan diagnostik untuk Chlamydophila pneumonia tidak dianjurkan, sebab masih belum ada tes diagnostik yang terpercaya dan tersedia saat ini. 31. Pemeriksaan radiografi dada rutin tidak diperlukan untuk mengonfirmasikan tersangka CAP pada pasien-pasien yang akan dirawat jalan (setelah evaluasi di ruang periksa, klinik, ataupun departemen gawat darurat. 32. Radiografi dada (posteroanterior dan lateral) harus diperoleh dari semua pasien yang dicurigai atau tercatat mengalami hipoksemia atau gangguan pernafasan yang signifikan (Tabel 3) dan pada mereka yang gagal dengan terapi antibiotik awal untuk memverifikasi ada atau tidaknya komplikasi

pneumonia, termasuk di antaranya efusi parapneumonik, pneumonia necrotizing, dan pneumotoraks. 33. Radiografi dada (posteroanterior dan lateral) harus diperoleh dari semua pasien yang yang dirawat di rumah sakit dalam melaksanakan manajemen CAP untuk mendokumentasikan keberadaaan, ukuran, dan karakter infiltrat parenkim dan mengidentifikasikan komplikasi pneumonia yang dapat menyebabkan intervensi di luar agen antimikroba dan terapi suportif. 77. Pasien diperbolehkan untuk pulang apabila mereka telah mendokumentasikan perbaikan klinis menyeuruh, termasuk tingkat aktivitas, nafsu makan, dan penurunan demam selama minimal 12 24 jam. 78. Pasien diperbolehkan untuk pulang ketika pengukuran pulseoksimetri konsisten sebesar 90% di dalam udara kamar selama minimal 12 24 jam. 79. Pasien diperbolehkan untuk pulang hanya jika mereka berada/ di atas batas minimal status mental. 80. Pasien tidak diperbolehkan untuk pulang jika mereka menunjukkan peningkatan usaha untuk bernafas atau takipneu atau takikardia berkelanjutan. 81. Pasien harus memiliki catatan yang dapat menunjukkan bahwa mereka dapat mematuhi rejimen anti-infeksi di rumah, baik secara oral ataupun intravena, dan rejimen oksigen di rumah jika memungkinkan, sebelum keluar dari rumah sakit. 82. Untuk bayi atau anak kecil yang membutuhkan terapi rawat jalan berupa antibiotik oral, dokter harus menunjukkan bahwa orang tua mampu mengelola dan menjelaskan bahwa anak mampu memenuhi kebutuhannya secara adekuat dengan menyerap antibiotik itu sebelum dieksresikan. 83. Untuk anak yang memiliki tabung dada dan memenuhi persyaratan yang tercantum di atas, dapat pulang dari rumah sakit setelah tabung dada dikeluarkan 12 24 jam, baik jika tidak ada bukti klinis kerusakan sejak pengeluaran orif pada rontgen dada, dikumpulkan untuk menjawab kekhawatiran klinis, tidak menunjukkan akumulasi signifikan dari efusi parapneumonik atau pneumotoraks.

84. Pada bayi dan anak-anak dengan hambatan dirawat, termasuk juga mengenai observasi yang cermat di rumah, ketidakmampuan untuk mematuhi terapi, atau kurangnya ketersediaan untuk tindak lanjut, masalah ini harus diidentifikasi dan ditangani sebelum mereka pulang.