Anda di halaman 1dari 3

A.

Sejarah perkembangan kota Yogyakarta

Kota Yogyakarta semula merupakan suatu wilayah yang dihuni oleh masyarakat yang masih menganut agama Hindu Buddha. Masuknya Islam sebagai sebuah ajaran baru perlahan mempengaruhi kebudayaan dan

kebiasaan masyarakat di Jogja. Sunan Kalijaga (Raden Said), merupakan tokoh Wali Songo yang berperan dalam pembentukan masyarakat Islam di Jogja. Wali Songo memberikan pengaruh yang sangat besar kepada kesultanan-kesultanan yang muncul di Indonesia, termasuk Kesultanan

Mataram di Yogyakarta. Pada abad ke-8 Yogyakarta dan sekitarnya merupakan pusat kerajaan Mataram dengan sebutan Rajya Medang I Bhumi Mataram atau kerajaan Medang dengan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya sebagai raja pertamanya.

Dilihat dari sejarahnya, P. Mangkubumi pendiri Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah putera Amangkurat IV, beliau adalah seorang muslim yang taat beragama, berakhlak baik dan membenci tindakan penindasan kaum lemah. Ketika perang melawan penjajahan Belanda, P. Mangubumi selalu membuat Mushola di pos-pos pasukannya di pedesaan. Mushola itu difungsikan untuk jamaah sholat fardlu, juga untuk menyolatkan para syuhada yang gugur dalam perjuangan (Babad Giyanti). Setelah Perjanjian Giyanti ( 1755 ) ditandatangani, P. Mangkubumi diberi hak untuk mendirikan kerajaan baru bagian dari Palihan Nagari Mataram, maka didirikanlah Karajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, ia sebagai raja dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah ing Ngayogyakarta. Kerajaan baru ini ditetapkan sebagai kerajaan Islam, yang meneruskan tradisi kerajaan Mataram Islam. Simbol-simbol yang memiliki makna keIslaman dicantumkan dalam bangunan pisik maupun karya sastra.

Pada masa kekuasaan Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I), dibangunlah keraton Yogyakarta pada 9 Oktober 1775 M. Keraton menjadi simbol eksistensi kekuasaan

Islam, meski berada dalam penguasaan Belanda. Sebagaimana kerajaan Islam di Jawa sebelumnya, seperti Demak, Jipang, Pajang, di setiap keraton memiliki masjid dan alunalun. Masjid inilah yang nantinya memegang peranan penting dalam membangun kebudayaan Islam termasuk dipergunakan oleh sultan untuk berhubungan dengan para bawahannya dan masyarakat umum.

Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kraton jogja) kemudan menjadi pewaris syah Kerajaan Mataram Islam, sehingga nilai yang mendasari Kraton Jogja ialah Islam. Setiap ajaran Islam berupa Hakikat, syariat dan marifat disesuaikan dengan simbolsimbol dan budaya Jawa. Budaya Islam dan budaya Islam kemudian melebur dan menjadi unsur identitas dari Kerajaan Yogyakarta.

Sebulan setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tepatnya hari Kamis Pon tanggal 29 Jumadilawal 1680 atau 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I

memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta dan memiliki separuh dari wilayah Kerajaan Mataram. Pembangunan ibu kota Kasultanan Yogyakarta ini membutuhkan waktu satu tahun. Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah dari Pesanggrahan

Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Momentum kepindahan sultan dan keluarganya dijadikan sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta karena mulai saat itu berbagai macam sarana dan bangunan pendukung untuk mewadahi aktivitas pemerintahan baik kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap. Berdasarkan itu semua maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada tanggal 7 Oktober 2009 dan dikuatkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.

Kota Jogja sebagai kota yang dipengaruhi kerajaan Islam tentunya memiliki 4 unsur yang menjadi karakteristik kerajaan Islam, yakni: 1. Istana Keraton 2. Alun-alun 3. Pohon Beringin 4. Masjid yang berorientasi membelakangi gunung dan menghadap laut. Hal ini memiliki makna Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur.

Alun-alun : merupakan tempat yang dibuat sebagai tempat pertemuan rakyat dan penguasa. Beringin, diambil dari kata waringin (bahasa Jawa baru) yang diserap dari bahasa Arab waraain yang artinya orang yang berhati-hati. Berjumlah dua merupakan perlambang sumber syariat Islam : Al Quran dan Hadits.

Foto: Pohon Beringin

Foto: Masjid Agung Gedhe

Foto: Alun alun

Foto: Keraton Yogyakarta