Anda di halaman 1dari 28

Build Indonesia with

PALM OIL

Versi Indonesia

Build Indonesia with Palm Oil Original Text by: InfoSAWIT Magazine Photo Credits by: InfoSAWIT Magazine, PP Lonsum, PT SMART, PT Hindoli, PT Astra Agro 2009, GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Majalah InfoSAWIT Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak seluruh atau sebagian isi buku ini tanpa izin tertulis Penerbit

3 3

10 Fakta Tentang Kelapa Sawit

44

Kelapa sawit membantu pengurangan angka kemiskinan di negara berkembang - Bisnis kelapa sawit di Indonesia menyerap 3,06 juta tenaga kerja, dimana 2,7 juta tenaga kerja terlibat di dalam perkebunan untuk menggerakkan perekonomian nasional. - Industri sawit Malaysia memperkerjakan 800 ribu orang di mana 405 ribu terlibat di dalam perkebunan. - 80% produksi minyak sawit berasal dari negara- negara berkembang, sehingga memiliki efek positif untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya.
Sumber: MPOB, Dirjen Perkebunan, Pusat Data InfoSAWIT

Kepemilikan petani sangat besar di perkebunan kelapa sawit - Di Indonesia, total luas lahan kelapa sawit milik petani mencapai 3,2 juta ha atau sebesar 46% dari total luas lahan kelapa sawit. - Di Malaysia, total lahan perkebunan sawit petani seluas 540 ribu ha atau sebesar 12,04% dari total luas lahan kelapa sawit.
Sumber: MPOB, Dirjen Perkebunan, Pusat Data InfoSAWIT

Sebagai bahan baku biodiesel, minyak sawit memiliki rekam jejak emisi gas rumah kaca lebih rendah ketimbang komoditas lain. Dengan pendekatan analisis siklus hidup, emisi gas rumah kaca minyak sawit telah diperkirakan setara karbon 835 kg. emisi Kedelai diperkirakan 1.387 kg dan rapeseed sebesar 1.562 kg.
Sumber: MPOC

Perkebunan kelapa sawit memiliki kapasitas penyerapan karbon lebih tinggi sebab perkebunan sawit memiliki waktu hidup 25-30 tahun. Ini berarti, kelapa sawit mampu untuk menyerap karbondioksida meniru hutan alam melalui daun abadi dan menutup kanopi.
Sumber: MPOC, Pusat Data InfoSAWIT

Produktivitas kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lain. Selain itu, memiliki keunggulan dari segi efisiensi lahan - Dari segi lahan, minyak sawit membutuhkan 0,26 ha untuk menghasilkan 1 ton CPO. Sementara, satu ton minyak kedelai memerlukan 2,22 ha. Minyak bunga matahari menghabiskan 2 ha untuk 1 ton. Dan, minyak kanola membutuhkan 1,52 ha. - Dari segi produktivitas, minyak sawit sebesar 3,5 ton/ha/tahun. Lalu, minyak kedelai 0,36 ton/ha tahun. Minyak kanola sebesar 0,55 ton/ha/tahun, dan minyak bunga matahari mencapai 0,36 ton/ha/tahun. Sumber: MPOC, MAKSI , Pusat Data InfoSAWIT

55

Kelapa sawit tidak berkontribusi besar terhadap berkurangnya hutan hujan tropis. - Di Malaysia, total luas lahan kelapa sawit sebesar 20% dari alokasi tanah untuk pertanian dan perkebunan. Sementara itu, 60% wilayah Malaysia dicadangkan untuk kawasan hutan. Bandingkan dengan Eropa yang ratarata luas hutan hanya 25 persen. - Di Indonesia, total luas perkebunan kelapa sawit mencapai 7,3 juta ha. Sedangkan, luas hutan konservasi 20,5 juta ha dan hutan lindung seluas 33,3 juta ha.
Sumber: MPOC, Departemen Kehutanan, Pusat Data InfoSAWIT

Pelaku perkebunan kelapa sawit mengikuti regulasi yang sifatnya domestik maupun internasional - Pemerintah Indonesia dan Malaysia menerapkan aturan ketat dalam pembukaan dan budidaya lahan kelapa sawit. - Produsen kelapa sawit dunia bergabung RSPO yang membuat manajemen praktek minyak sawit berkelanjutan.
Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

Minyak sawit memiliki fungsi strategis sebagai bahan baku makanan, kosmetik, obat-obatan, dan energi. Hampir 50 negara di dunia menggunakan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan makan masyarakatnya. Lantaran, harganya yang murah dan bagus untuk kesehatan.
Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

Kelapa sawit merupakan bahan baku energi terbaharui. Minyak sawit dapat mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil.

Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

10

Limbah kelapa sawit sangatlah multimanfaat karena dapat didaur-ulang Sebagai contoh, bungkil sawit bermanfaat sebagai pakan ternak. Limbah kayu sawit dapat dipakai menjadi bahan baku furnitur.

66

Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

Nilai Ekonomi Kelapa Sawit

77

Sawit Komoditas Unggulan


Kelapa sawit di Indonesia termasuk sebagai komoditas unggulan pasalnya nilai ekonomis yang dihasilkan komoditas ini cukup besar, terlihat dari tahun ke tahun volume dan nilai ekspor komoditas kelapa sawit Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat. Buktinya pada tahun 2007, Indonesia mengekspor crude palm oil (CPO) beserta turunannya sebanyak 11,8 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 7,8 milyar, yang kemudian pada tahun 2008 produksi kelapa sawit Indonesia meningkat sekitar 21% atau setara dengan 14,3 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 12,4 milyar. Padahal pada tahun 1980 produksi kelapa sawit Indonesia masih pada kisaran 503.000 ton, dengan nilai ekspor mencapai US$ 255 juta. Berarti bila dibanding tahun 2008 telah meningkat 50 kali lipat.

Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Indonesia


CPO Tahun 1980 1990 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Volume (000 ton) 503 816 1,818 1,849 2,805 2,892 3,820 4,565 4,840 5,701 7,904 Nilai (US$ Juta) 255 204 476 406 892 1,062 1,444 1,593 1,791 3,739 6,557 M. Sawit Lainnya Volume (000 ton) 2,292 3,054 3,529 3,494 4,842 5,811 7,261 6,174 6,387 Nilai (US$ Juta) 611 674 1,200 1,393 1,998 2,164 3,027 4,130 5,845 Volume (000 ton) 503 816 4,110 4,903 6,334 6,386 8,662 10,376 12,101 11,875 14,291 Jumlah Nilai (US$ Juta) 255 204 1,087 1,081 2,092 2,455 3,442 3,757 4,818 7,869 12,402

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Departemen Perdagangan

Penyerapan Tenaga Kerja


Tak hanya memiliki nilai ekonomis, industri kelapa sawit juga memberikan lapangan kerja yang cukup luas, ini berarti secara tidak langsung membantu pemerintah dalam menanggulangi tingginya pengangguran yang ada di Indonesia. Bila ditilik lebih jauh industri kelapa sawit terbagi atas tiga bagian sektor, yakni sektor hulu, sektor tengah dan hilir. Masing-masing sektor menyerap tenaga kerja dengan persentasi yang cukup tinggi. Namun bila dibandingkan dari ketiga sektor tersebut, sektor hulu kelapa sawit yang paling banyak menyerap tenaga kerja (padat karya). Buktinya untuk mengelola kebun sawit seluas 5.000 hektare (ha) dibutuhkan staf perkebunan yang meliputi manajer, asisten lapangan, mandor dan tenaga administrasi, maka dibutuhkan sekitar 60 tenaga kerja. Sementara bila dari 5.000 ha tersebut per 2 ha memerlukan satu buruh kebun, jelas dibutuhkan sekitar 1.000 buruh kebun. Maka dari asumsi tersebut bisa dihitung besaran kebutuhan tenaga kerja pada perkebunan kelapa sawit. Saat ini total perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2009 telah mencapai 7,3 juta ha yang terdiri dari Perkebunan Rakyat seluas 3,2 juta ha, Perkebunan Pemerintah 617.000 dan Perkebunan Swasta seluas 3,5 juta ha. Berarti untuk perkebunan kelapa sawit Pemerintah dan Swasta bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 1.047 juta orang, sementara untuk perkebunan rakyat bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 1,9 juta orang. Selanjutnya untuk pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas produksi 30 ton/jam membutuhkan tenaga kerja sebanyak 135 orang, di Indonesia tercatat 470 PKS maka sebanyak 63.450 orang akan terserap di PKS. Belum lagi untuk sektor tengah dan hilir. Bila semua dihitung maka total penyerapan tenaga kerja industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir akan mencapai kisaran 3,06 juta orang.

Hilir
1 juta ton kapasitas oleokimia + 4.000 pekerja 1.5 juta ton kapasitas terpasang biodiesel + 3.300 pekerja Total penyerapan tenaga kerja pada industri sawit dari hulu hingga hilir: 3,062.114

Middle
117 pabrik minyak goreng + 24.000 pekerja

Hulu
* Luas perkebunan sawit Indonesia = 7,3 juta ha * Total penyerapan tenaga kerja di PBN dan PBS = 1.047 juta orang * Total penyerapan tenaga kerja tingkat petani = 1,920.000 orang * Pabrik kelapa sawit berkapasitas 30/jam = 135 pekerja * Total jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit di Indonesia = 470 pabrik * Total tenaga kerja yang terserap di pabrik pengolahan kelapa sawit = 63.450 pekerja
Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

10 10 10

Kesejahteraan Petani
Komoditas kelapa sawit telah memberikan peningkatan kesejahteraan kepada petani. Ini terlihat dari peningkatan luas lahan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh petani. Pada tahun 1980 luas perkebunan sawit petani hanya sekitar 6.000 ha namun pada tahun 2007 meningkat drastis menjadi 3,2 juta ha. Pendapatan petani sendiri tergantung dari harga jual kelapa sawit, untuk tahun ini rata-rata harga jual tandan buah segar kelapa sawit di tingkat petani plasma sekitar 1.300/kg. Bila per hektar bisa menghasilkan 28 ton/tahun maka per bulannya petani bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 3,03 juta. Jadi tidak aneh apabila banyak para petani dari komoditas lain pindah guna membuka kebun kelapa sawit, pasalnya kesejahteraan petani sawit cukup tinggi.

Revitalisasi Perkebunan Kelapa Sawit (2009)


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. TOTAL
Sumber: Departemen Pertanian

Provinsi Sultra Sumsel Sulteng Kalteng Kaltim Sumut Jambi Riau Sumbar Kalbar Babel

Petani Peserta (KK) 1.000 14.812 500 3.165 8.702 7.550 3.115 500 4.249 6.024 75 49.692

Luas Areal (Ha) 2.000 30.374 1.000 6.551 19.696 17.700 7.847 1.000 8.418 308.837 138 403.561

Proses Pembukaan/Pengembangan Lahan Sawit


No 1 2 3 4 5 Model PIR-BUN PBSN PIR-Trans PIR-KPPA Swadaya/KKPA Tahun 1977-1993 1981-1986 1986-1999 1995-2000 Inti (000 ha) 68 71 164 79 425 193 1,786 Plasma (000 ha) 161 PR (000 ha)

Sumber: Departemen Pertanian

11 11

CSR
Corporate Social Responsibility (CSR)
Muncul UU No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas yang didalamnya mengharuskan perusahaan menyisihkan pendapatan untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan. Mendorong berbagai perusahaan termasuk perusahaan perkebunan sawit untuk menyisihkan pendapatannya untuk tanggung jawab sosial dan lingkungan. Namun bila ditilik kebelakang sebenarnya keberadaan perusahaan perkebunan kelapa sawit hadir di Indonesia ketika masih dalam jajahan Belanda. Sebelum UU tersebut muncul tanggung jawab perusahaan yang ditujukan untuk kegiatan sosial dan lingkungan sudah diterapkan. Kondisi ini bisa dilihat dari pembangunan sarana sosial, pendidikan dan kesehatan untuk karyawan kebun, dan tidak sedikit fasilitas yang dimiliki perusahaan perkebunan sawit tersebut bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar kebun.

12

Bahkan ada kalanya perusahaan perkebunan sawit juga memberikan bantuan langsung kepada masyarakat sekitar kebun dalam bentuk bantuan langsung pembangunan sarana sosial, pendidikan dan kesehatan. Secara umum bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan atau biasa dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan perkebunan sawit, terbagi atas enam kategori, yakni sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan dan personal spiritual.

13 13

14
Program-program CSR di Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia
Sektor
Pendidikan 1. Mendirikan gedung-gedung sekolah 2. Memperbaiki dan menambah prasarana pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan, komputer, dll 3. Meningkatkan kesejahteraan guru 4. Memberikan beasiswa bagi murid berprestasi 5. Pengadaan buku-buku pelajaran sekolah 6. Pembinaan sekolah dan pendidikan hingga menjadi sekolah unggulan Kesehatan 1. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal untuk masyarakat sekitar melalui rumah sakit dan klinik yang ada 2. Memperbaiki dan menambah prasarana kesehatan seperti obat-obatan, vaksinasi, dan peralatan medis 3. Membangun fasilitas kesehatan untuk masyarakat 4. Penyuluhan kesehatan dan pengobatan gratis ke desa-desa di sekeliling perkebunan (pabrik) Program Sosial 1. Pembangunan prasarana ibadah beserta perlengkapannya dan mendorong perkembangan kegiatan keagamaan 2. Pembangunan dan perbaikan infrastruktur dan jalan dan transportasi desa ke kota yang memadai 3. Pembangunan fasilitas desa seperti pos polisi, balai desa 4. Membangun pasar desa oleh perusahaan perkebunan 5. Pembangunan dan perbaikan fasilitas olahraga seperti lapangan bola 6. Pembangunan dan perbaikan sarana air bersih seperti sumur bor dan fasilitas MCK yang sehat (sanitasi) 7. Pembangunan dan perbaikan tanggul 8. Mengadakan kegiatan kepemudaan seperti berbagai bentuk turnamen olahraga, donor darah 9. Bantuan bencana alam Program Pelestarian Lingkungan Ekonomi 1. Membuka hutan konservasi 1. Pelatihan-pelatihan berkaitan dengan bisnis kelapa sawit dan perkebunan 2. Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dengan program Kemitraan Inti-Plasma 3. Memperdayakan masyarakat sebagai pemasok kebutuhan sehari-hari karyawan sekitar pabrik atau perkebunan 4. Peminjaman bibit kelapa sawit kepada masyarakat 5. Koperasi Karyawan Kebun Mengembangkan upaya pelestarian alam Meningkatkan pendapatan masyarakat Mengarahkan masyarakat untuk menggunakan air bersih dan fasilitas MCK yang sehat Menanggulangi banjir Menggalang persatuan antara warga dengan pegawai perkebunan dan atau pabrik Memperlancar transportasi dan aktivitas masyarakat. Menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan.

Kegiatan

Manfaat
Memperbaiki kegiatan belajar mengajar, guna meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di sekitar perkebunan dan pabrik.

14 14

Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

Pengelolaan Lingkungan
Pembukaan Lahan Tanpa Pembakaran
Sistem pembukaan lahan tanpa pembakaran dilakukan dengan proses mekanik. Caranya menggunakan bulldozer dan excavator untuk membuka lahan baru atau ketika peremajaan tanaman. Kayu dari hasil pembukaan lahan dapat digunakan untuk menambah kesuburan lahan, dengan dihancurkan sampai menjadi bubuk kayu untuk dijadikan kompos. Zero burning merupakan salah satu komitmen pelaku sawit untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan pemanasan global.

Pemanfaatan Limbah Sawit


Ada dua bentuk limbah kelapa sawit yakni cair dan padat. Limbah padat berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang kelapa sawit, bungkil sawit dan batang kayu sawit. Pada 2008, jumlah TKKS mencapai 19 juta ton. TKKS dan batang kayu sawit sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos karena mengandung nitrat, fosfat, magnesium dan potasium. Sementara cangkang sawit dapat diolah menjadi arang bagi kebutuhan industri. Lalu bungkil sawit telah digunakan untuk pakan ternak. Untuk limbah cair sawit, setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 58 juta ton. Saat ini, limbah cair bermanfaat untuk pupuk dan biogas.

15 15

Penanganan Hama Terpadu (PHT)


Pekebun sawit telah menerapkan PHT sebagai langkah mengurangi pemakaian pestisida. Contohnya saja, pengendalian hama tikus dengan burung hantu yang dapat mengefisienkan biaya sampai 40%. Lalu digunakan pula entomopatogenik, feromon dan biofungsida Marfu-P, sebagai pengganti insektisida kimia.

Nilai Konservasi Tinggi (NKT)


Perusahaan kelapa sawit Indonesia berkomitmen mengimplementasikan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) sebagai bagian menjaga keanekaragaman hayati, kelestarian lingkungan dan pola hidup masyarakat lokal. Melalui penerapan NKT, terciptalah praktek konservasi binatang langka seperti orang utan yang telah dilakukan beberapa perusahaan sawit di Indonesia. Untuk spesies tanaman langka, perusahaan kelapa sawit Indonesia menjaga dan merawatnya dengan membentuk suatu area khusus di perkebunan, sehingga tidak merusak keberadaan tanaman tersebut. Penerapan NKT juga memerhatikan hak guna masyarakat terhadap kawasan tertentu yang berada di sekitar perkebunan kelapa sawit, sehingga menciptakan harmonisasi antara perkebunan sawit dengan masyarakat lokal.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan


Setiap perusahaan kelapa sawit nasional telah membuat analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) seperti yang dipersyaratkan dalam PP No.7 Tahun 1999 yang mewajibkan sektor usaha menyusun AMDAL. Pembuatan AMDAL telah disusun semenjak awal perkebunan akan dibuka yang terdiri dari AMDAL yang ditimbulkan setiap tahap kegiatan perkebunan (ANDAL), rencana pengelolaan dampak lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan dampak lingkungan (RPL). Dalam penerapan AMDAL, perusahaan harus memerhatikan analisis dampak lingkungan kimia, fisika, biologi (flora dan fauna) serta dampak sosial, ekonomi dan budaya.

16 16

Komposisi Lahan Sawit dengan Hutan


Dalam pengembangan kelapa sawit di Indonesia tetap harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan maupun areal konservasi. Salah satunya kawasan hutan yang mesti dijaga kelestariannya, kendati Departemen Kehutanan (Dephut) telah mengalokasikan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) untuk pengembangan budidaya pertanian.

Total Area Hutan Indonesia Berdasar Fungsi Tahun 2007


Criteria Size (ha) Percentage (%) Permanent Forest Conservation F. 20,142,049.47 15.07 Protection F. 31,604,032.02 23.64 Production F. 59,152,642.69 44.24 Limited Prod. Forest 22,795,961.00 17.05 Total 133,694,685.18 100

Sumber: Departemen Kehutanan 2008, Pusat Data InfoSAWIT

17

Penyumbang Oksigen di Udara


Berdasarkan data Chan (2002) dan Oil World, kelapa sawit berkontribusi sebesar 196,8 juta O2 dan menyerap CO2 mencapai 270,7 juta, dengan total lahan kelapa sawit di dunia seluas 9,24 juta hektare pada 2006. Artinya secara rata-rata, kelapa sawit dapat memberikan 21,3 ton/ ha O2 kepada dunia, lalu menyerap CO2 sekitar 29,3 ton/ha. Pada tahun yang sama, kedelai memberikan 236,5 juta ton O2 dan menyerap CO2 325,7 juta ton, dengan total luas lahan kedelai di dunia mencapai 92,4 juta hektare. Setiap tahunnya, kontribusi O2 dari kedelai sebesar 2,56 ton dan menyerap CO2 sejumlah 3,52 ton. Kelapa sawit merupakan tanaman vegetable oil yang memiliki daya serap CO2 lebih baik dan mengeluarkan O2 lebih besar dibandingkan tanaman vegetable oil lainnya.

18 18

Produk Konsumen Non-Pangan

Produk Konsumen
Minyak sawit menjadi bahan baku utama untuk memenuhi produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, deterjen, pasta gigi, kosmetik. Keunggulan produk yang memakai minyak sawit lebih mudah terurai dengan lingkungan (biodegradeable) dan aman digunakan karena tidak menyebabkan iritasi pada kulit.

Biofuel
Minyak sawit dapat digunakan sebagai energi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Saat ini biodiesel minyak sawit telah banyak dikonsumsi di beberapa negara karena dapat mengurangi emisi gas CO2

19 19

Keamanan Pangan
Kandungan Gizi
CPO mempunyai kandungan gizi baik karena bersifat non-kolesterol dan non-trans fat. Selain itu memiliki keseimbangan komposisi asam lemak yang baik serta mengandung asam linoleat yang merupakan asam lemak esensial (Dr. Purwiyatno, 2007). Minyak sawit memiliki kandungan beta keroten atau pro-vitamin A dan vitamin E. Secara alami, minyak sawit merupakan sumber asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA = Poly Unsaturated Fatty Acid). Di dalam satu gram minyak sawit terdapat 9 Kcal energi, yaitu 2 kali lebih banyak dibanding satu gram protein (4 Kcal) atau karbohidrat (4 Kcal).

20 20

Kandungan Lemak Total Minyak Sawit

Nilai Kesehatan
Minyak sawit menyimpan kandungan Mono Unsaturated Fatty Acid (MUFA) atau Omega 9 yang cukup tinggi. Lalu, mempunyai kandungan asam lemak jenuh (palmitat) sebesar 40%. Walaupun kandungan asam palmitat yang terdapat di dalam minyak sawit cukup tinggi, tetapi mempunyai nilai positif karena dapat menurunkan kolesterol LDL (Prof. Tien R Muchtadi). Oleh karena itu, kandungan Omega 9 di dalam minyak sawit berfungsi mencegah penyakit jantung koroner. Dengan memiliki kandungan betakaroten, minyak sawit menyimpan vitamin A, yang berfungsi sebagai antioksidan untuk membantu penguatan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi resiko penyakit kanker, jantung, dan katarak. Dibandingkan minyak nabati lain, minyak sawit mengandung vitamin E (tocopherol & tocotrienol) untuk mengurangi radikal bebas yang berbahaya dalam tubuh serta memperlambat proses penuaan.

Asam Lemak 12:0 14:0 16:0 16:1 18:0 18:1 18:2 18:3 20:0
Sumber: Maksi

% Lemak Total Kisaran 0,1 1,0 0,9 1,5 41,8 46,8 0,1 0,3 4,2 5,1 37,3 40,8 9,1 11,0 0,0 0,6 0,2 0,7 Rerata 0,2 1,1 44,0 0,1 4,5 39,2 10,1 0,4 0,4

21 21

Infrastruktur
Pelabuhan dan Jalan
Indonesia memiliki dua pelabuhan utama CPO yakni Dumai dan Belawan. Kapasitas Pelabuhan Dumai sebesar 5 juta ton CPO dan Pelabuhan Belawan mencapai 3,5 juta ton. Selain pelabuhan milik negara, terdapat 31 pelabuhan khusus CPO yang dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta. Dengan memiliki produksi 20 juta ton, maka keberadaan pelabuhan khusus sangatlah penting dalam mendukung aktivitas ekspor. Tak hanya pelabuhan, dengan adanya perkebunan kelapa sawit infrastruktur jalan pun dilakukan perbaikan, baik oleh pemerintah daerah setempat atau inisiatif dari perusahaan perkebunan. Namun dalam kenyataannya hampir seluruh infrastruktur jalan yang terkait kebun kelapa sawit dibangun secara sukarela oleh perusahaan perkebunan.

22 22

23 23

Fasilitas Sosial dan Umum


Bagi masyarakat sekitar, perkebunan kelapa sawit sangat berjasa dalam penyediaan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) seperti rumah ibadah, lapangan bola dan sekolah. Seringkali dijumpai, terdapat lembaga pendidikan mulai tingkat kanak-kanak sampai menengah yang terletak di tengah-tengah perkebunan sawit.

24

712.000 Share: Indo : 172.000 Mal : 40.175

5.159.000 Share: Indo : 2.187.000 Mal : 2.052.771

EU-27

Kontribusi Sawit
juga sebagai sumber pendapatan devisa negara. tahunnya terus mengalami peningkatan.

1.200.000 Share: Indo : 68.000 Mal : 1.047.668

2.010.000 Share: Indo : 717.000 Mal : 1.297.888

914.000 Share: Indo : 478.000 Mal : 118.553 441.000 Share: Indo : 119.000 Mal : 129.396 800.000 Share: Indo : 411.000 Mal : 347.558

5.724.000 Share: Indo : 4.684.000 Mal : 970.374

5.682.000 Share: Indo : 1.906.000 Mal : 3.794.494

305.000 Share: Indo : 207.000 Mal : 28.121

1.739.000 Share: Indo : 384.000 Mal : 1.257.396

Permintaan Minyak Sawit Dunia 2008 (Metrik Ton)


Sumber: Pusat Data InfoSAWIT

Kelapa sawit merupakan tanaman dengan nilai ekonomis tinggi lantaran salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Bagi Indonesia tanaman yang berasal dari Afrika Barat mempunyai arti penting karena selain mampu menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat tetapi

Konsumsi & Pangsa Pasar Minyak Nabati Dunia


Belum lagi Indonesia saat ini telah menjadi produsen terbesar minyak sawit di dunia. Sedangkan melihat permintaan minyak sawit setiap
1993 Uraian M. Sawit M. Kedelai M. Rapeseed M. Bunga Matahari M. Kelapa Lainnya* Dunia Konsumsi (ton) 13,200 17,760 9,645 7,730 2,930 34,857 86,122 Pangsa (%) 15.3 20.6 11.2 9.0 3.4 40.5 100.0 2000 Konsumsi (ton) 21,771 25,135 14,471 9,404 2,962 39,689 113,432 Pangsa (%) 19.2 22.2 12.8 8.3 2.6 34.9 100.0 2007 Konsumsi (ton) 37,900 37,090 19,090 11,160 3,160 13,830 122,230 Pangsa (%) 31.0 30.3 15.6 9.1 2.6 11.4 100.0 2008 Konsumsi (ton) 42,380 37,880 19,740 10,320 3,130 14,260 127,710 Pangsa (%) 33.2 29.7 15.5 8.1 2.5 11.2 100.0

Berdasarkan data Oil World konsumsi minyak sawit pada tahun 2007 mencapai 37,9 juta dan 2008 naik menjadi 42,3 juta ton. Sementara produksi minyak sawit pada tahun 2007 sebesar 40 juta ton dan meningkat pada tahun 2008 mencapai 42,2 juta ton. Makanya dengan terus meningkatnya jumlah penduduk dunia dan adanya perbaikan ekonomi dunia permintaan minyak sawit akan terus melonjak. Terutama negara India, Cina, Uni Eropa dan Timur Tengah sebagai pasar utama minyak sawit Indonesia.

Sumber: Oilworld diolah Ditjenbun * M. inti sawit, M. kapas, M. kc. Tanah, M. sesame, M. jagung, M. olive, M. jarak, M. bj. Rami, M. tung, Tallow

25 25

Perbandingan Minyak Nabati Lain


Tak bisa dipungkiri bahwa minyak sawit mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lain seperti kedelai, canola, bunga matahari dan kelapa. Apalagi minyak sawit bisa dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Misalnya minyak sawit bisa diolah menjadi minyak goreng, shortening, margarine, oleokimia, kosmetik, farmasi dan biodiesel. Selain suplai minyak sawit yang melimpah keistimewaan minyak sawit diantaranya: tingkat efisiensi minyak sawit cukup tinggi dibandingkan minyak nabati lain, sehingga mampu menempatkan minyak sawit menjadi sumber minyak nabati termurah. Lantas dari segi produktivitas minyak sawit lebih tinggi dari pada minyak nabati lain yakni bisa mencapai 4,26 ton/hektare, sedangkan minyak kedelai hanya sebesar 0,41 ton/ha, canola 0,66 ton/ha dan bunga matahari 0,43 ton/ha.

Perbandingan Produktivitas (Yield) Tanaman Penghasil Minyak Nabati Tahun 2008


Tanaman
Kelapa sawit Kedelai Canola Bunga matahari Lainnya Total dari 13 minyak nabati

Luas (1000 ha)


11.257 91.790 29.441 23.262 76.738 232.488

%
4,84 39,48 12,66 10,01 33,01 100,00

Produksi (1000 ton)


47.914* 37.664 19.393 10.100 19.374 134.445

%
35,64 28,01 14,42 7,51 14,41 100,00

Produktivitas Ton/ha
4,26 0,41 0,66 0,43 0,25 0,58

Keterangan : * Produksi minyak sawit dan minyak inti sawit Sumber : Oil world 2009

26

Konsumsi Minyak Nabati Dunia


Konsumsi (MMT)
M. Kelapa M. Bj Kapas M. Olive M. Sawit M. Inti Sawit M. Kacang M. Rapeseed M. Kedelai M. Bj Bunga Matahari Total
Sumber: USDA

2005/06
3.51 4.84 2.72 35.21 4.20 5.00 16.93 33.57 9.81 115.79

2006/07
3.33 5.01 2.88 37.57 4.53 4.67 17.45 35.79 10.27 121.50 3.44 5.09 2.92 39.72 4.77 4.86 18.42 37.71 8.93 125.86

2008/09
3.41 4.80 2.94 41.95 5.16 4.85 20.09 35.93 10.96 130.09

Ags 2009/10
3.60 4.76 2.96 44.44 5.25 5.03 21.27 37.26 11.12 135.69

Sep 2009/10
3.61 4.71 2.96 44.95 5.24 4.74 21.23 37.29 11.13 135.86

Perbandingan Biaya Produksi 4 Minyak Nabati


6 Production Cost ($/tonne) 5 Annual Yield per hectare (tonnes) 4 3 2 1 0 100 200 300 400 500 600 700 800 Rapeseed Oil Soybean Oil Sunflower Oil Palm Oil

Production Cost ($/tonne) Sumber: Oil World diolah Pusat Data InfoSAWIT

27

GAPKI Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Sudirman Park Rukan Blok B-18 Jl. K.H. Mas Mansyur, Kav. 35 Karet Tengsin, Jakarta Indonesia Majalah InfoSAWIT Komplek Bukit Permai Jl. Anjasmoro G2 No. 1 Cibubur, Jakarta Timur Indonesia

28