Anda di halaman 1dari 77

Sejarah Fiber Optik

1880, Alexander Graham Bell


Bereksperimen dengan peralatan yang disebut dengan photophone.
Mentransmisikan gelombang suara pada sorotan cahaya
Peralatan ini tidak dapat dipercaya, buruk, dan tidak memiliki
aplikasi praktik yang nyata
Namun alat Bell adalah usaha yang pertama dalam memakai
sorot cahaya unutk membawa informasi.
1930, J.L. Baird (ilmuwan Inggris) dan C.W. Hansell
(Ilmuwan dari US)
Memilki paten yang diakui untuk scan dan transmisi gambar
televisi melalui kabel fiber tanpa lapisan
Beberapa tahun kemudian, ilmuwan asal German, H. Lamn
sukses mentransmisikan gambar melalui satu fiber gelas
1951, A.C.S. van Heel (Belanda) dan H.H. Hopkins dan N.S.
Kapany (Inggris)
Bereksperimen dengan transmisi cahaya melalui buntelan fiber
Study mereka mengarah ke perkembangan flexible fiberscope,
yang dipakai secara luas dalam bidang kedokteran (medis)
Kapany adalah orang yang memberikan istilah fiber optik pada
tahun 1956.
1958, Charles H. Townes (Amerika) dan Arthur L. Schawlow
(Canada)
Menulis karya ilmiah yang menggambarkan bagaimana
memungkinkan untuk memakai emisi yang dirangsang untuk
memperkuat gelombang cahaya (laser) seperti microwave
(maser)
1960, Theodore H. Maiman
Ilmuwan dengan perusahan pesawat udara yang besar, membangun
laser optik yang pertama.
Laser (light amplification by stimulated emission of radiation)
memiliki daya out put yang tinggi, frekuensi operasi yang
tinggi dan kemampuan membawa sinyal dengan bandwidth
yang bukan main lebarnya, membuatnya cocok untuk sistem
komunikasi dengan kapasitas yang tinggi.
1967 K.C. Kao dan G.A. Bockham of Standard
Telecommunication di Inggris
Mengutarakan medium komunikasi yang baru yang memakai
kabel fiber dengan selubung (cladded fiber cable).
Kabel fiber yang tersedia pada tahun 1960-an merupakan
kabel dengan loss yang ekstrim (lebih dari 1000 dB/km) yang
membatasi transmisi optik untuk jarak yang pendek.
1970, Kapron, Keck, dan Maurer of Corning Glass Works in
Corning, New York
Mengembangkan fiber optik dengan loss yang kurang dari 2
dB/km
Terobosan yang besar, yang diperlukan untuk memungkinkan
sistem komunikasi fiber optik yang praktis.
Sejak tahun 1970, teknologi fiber optik telah tumbuh secara
eksponensial
Pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an
Perbaikan kabel optik dan pengembangan kualitas yang tinggi,
sumber cahaya yang kuat dan detector telah membuka pintu
terhadap pengembangan kualitas yang tinggi, kapasitas yang tinggi,
dan sistem komunikasi fiber optik yang efisien
Baru-baru ini, Lab Bell sukses mentransmisikan 1 milyar bps
melalui kabel fiber untuk jarak 600 mile tanpa regenerator.
Cabang elektronik yang berurusan dengan cahaya disebut dengan
optoelectronic.
Fiber Optik Versus Kabel Tembaga
Keuntungan Sistem Fiber
1. Sistem fiber memiliki kapasitas yang lebih besar karena
tersedianya bandwidth yang lebih lebar pada frekuensi optik.
Kabel tembaga memilki kapasitansi dan inductor disepanjang
konduntor. Hal ini (sifat ini) menyebabkan kabel tembaga
berkelakuan seperti filter low pass yang membatasi frekuansi
transmisi dan bandwidth.
2. Sistem fiber tahan terhadap crosstalk di antara kabel-kabel
yang ada disekitarnya, yang disebabkan oleh induksi magnetic.
Fiber gelas atau plastik bukan penghantar listrik dan
karenanya tidak memiliki medan magnet. Pada kabel tembaga,
penyebab utama crosstalk adalah induksi magnet antara
konduktor yang terletak berdekatan satu sama lain.
3. Kabel fiber tahan terhadap interferensi statis yang disebabkan
oleh kilat, motor listrik, lampu pijar/neon, dan sumber noise
listrik lainnya. Hal ini juga disebabkan oleh kenyataan bahwa
fiber optik bukan penghantar listrik. Kabel fiber tidak
meradiasikan energi RF dan oleh karenanya tidak dapat
menyebabkan interferensi dengan sistem komunikasi lainnya.
Karakteristik ini membuat sistem fiber secara ideal cocok
untuk aplikasi militer.
4. Kabe fiber lebih tahan terhadap lingkungan yang ekstrim.
Kabel fiber beroperasi pada variasi temperatur yang lebih
besar dari kabel tembaga, dan kurang dipengaruhi oleh gas dan
cairan yang bersifat merusak.
5. Kabel fiber lebih aman dan lebih mudah untuk dipasang dan
pemeliharanya. Karena fber gelas atau plastik bukan
penghantar listrik, maka tidak terdapat arus listrik atau
tegangan. Fiber dapat dipakai disekitar gas dan cairan yang
mudah menguap tanpa kuatir terhadap kebakaran atau ledakan.
Fiber dimensinya lebih kecil dan jauh lebih ringan dari kabel
tembaga. Sebagai akibatnya, lebih mudah bekerja dengan
fiber. Juga, kabel fiber memerlukan ruang simpan yang lebih
kecil dan biaya transport yang lebih murah.
6. Kabel fiber lebih aman dari kabel tembaga. Secara virtual
tidak mungkin untuk menyadap (memasang alat pendengar
rahasia) pada kabel fiber tanpa user yang mengetahui tentang
fiber.
7. Meskipun belum terbukti, sistem fiber diproyeksikan akan
berakhir lebih lama dari sistem tembaga. Asumsi ini
didasarkan pada toleransi fiber yang lebih tinggi terhadap
perubahan pada lingkungan.
8. Biaya jangka panjang sistem fiber optik diproyeksikan kurang
dari sistem tembaga.
Kerugian Sistem Fiber
Pada saat ini, terdapat beberapa kerugian sistem fiber.
Satu kerugian yang signifikan (berarti) adalah biaya awal yang
lebih tinggi terhadap pemasangan sistem fiber, meskipun di
masa yang akan datang dipercaya bahwa biaya pemasangan
sistem fiber akan berkurang secara dramatis.
Kerugian yang lain adalah sistem fiber tidak terbukti telah
beroperasi untuk periode waktu yang lebih lama, serta
pemeliharaan dan perbaikan terhadap sistem fiber juga lebih
sulit dan mahal dari sistem tembaga.
Spektrum Elektromagnetik
Spektrum frekuensi elektromagnetik dan aplikasinya dalam sistem
komunikasi ditunjukkan dalam gambar berikut:
Spektrum cahaya dibagai menjadi tiga band:
1. Infrared: band panjang gelombang cahaya yang terlalu panjang
untuk dilihat oleh mata manusia.
2. Visible: band panjang gelombang cahaya yang akan direspon
oleh mata manusia.
3. Ultraviolet: band panjang gelombang cahaya yang terlalu
pendek untuk dilihat oleh mata manusia
Sistem Komunikasi Fiber Optik
Terdiri dari tiga bagian yang utama: transmitter, receiver dan
fiber optik (fiber guide)
Transmitter:
Sumber cahaya dapat dimodulasi oleh sinyal analog atau
digital. Untuk modulasi analog, interface input menyesuaikan
impedansi dan amplitudo sinyal input. Untuk modulasi digital,
sinyal sumber mungkin dalam bentuk digital atau jika dalam
bentuk analog, sinyal analog ini harus diubah ke sederetan
pulsa digital, dan untuk kasus ini, converter analog ke digital
harus dimasukkan ke interface tersebut.
Converter tegangan ke arus mengubah tegangan input ke arus,
yang dipakai untuk menggerakkan sumber cahaya. Jumlah
Analog or
digital
interface
Voltage
to current
converter
Light
Source
Source to
fiber
interface
Fiber to
light
detector
interface
Light
detector
Current to
voltage
converter
Analog or
digital
interface
input
output
Fiber Optik
cahaya yang diemisikan oleh sumber cahaya (LED atau ILD)
sebanding dengan arus penggerak (drive current)
Coupler sumber cahaya ke fiber (sebagai contoh, lensa)
berfungsi untuk mengcouple cahaya yang diemisikan oleh
sumber cahaya ke kabel fiber optik.
Receiver:
Peralatan coupling fiber ke detector cahaya berfungsi untuk
mengcouple cahaya sebanyak mungkin dari fiber ke detector
cahaya.
Detektor cahaya (PIN atau APD) berfungsi untuk mengubah
energi cahaya ke arus
Konverter arus ke tegangan mentransformasikan perubahan
dalam arus detector ke perubahan dalam tegangan output
Jika dipakai modulasi analog, interface menyesuaikan
impedansi dan level sinyal ke rangkaian ouput. Jika modulasi
digital dipakai, interface harus memakai converter digital ke
analog.
Fiber Optik
Fiber optik dapat berupa kabel plastik atau gelas murni (ultra-
pure glass)
Fiber optik terdiri dari inti (core), cladding, dan jaket
pelindung
Gambar berikut adalah elemen mayor sistem komunikasi optik.
Komponen dasarnya terdiri dari transmitter cahaya, fiber optik dan
receiver photo detector, sedangkan elemen tambahannya terdiri dari
konektor, optical splice, regenerator, beam splitter dan penguat
optik.
Type Fiber
Terdapat tiga macam fiber optik yang seluruhnya dikonstruksi dari
gelas atau plastik atau kombinasi dari gelas dan plastik
Inti (core) dan cladding plastik.
Core gelas dengan cladding plastik (sering disebut dengan
fiber PCS, plastic-clad silica).
Core dan cladding gelas (sering disebut dengan SCS, silica-
clad-silica)
Saat ini, Lab bell sedang menyelidiki kemungkinan pemakaian tipe
yang keempat yang mamakai bahan non silica, zinc chloride.
Eksperimen permulaan telah menunjukkan bahwa fiber jenis ini
1000 kali seefisien fiber yang dibuat dari gelas (silica).
Fiber plastik
Keuntungan fiber plastik terhadap fiber gelas
Fiber plastik lebih fleksibel dan sebagai akibatnya lebih kasar
dari gelas
Mudah pemasangannya
Dapat menahan tekanan dengan baik
Kurang mahal dan beratnya 60% kurang dari gelas
Kerugian fiber plastik
Karakteristik redaman yang tinggi
Fiber plastik merambatkan cahaya tidak seefisien fiber gelas
Sebagai akibatnya, secara relatif terbatas untuk jarak pendek,
seperti dalam satu gedung atau komplek gedung.
Fiber dengan Core Gelas
Karakteristik redaman yang rendah
Fiber PCS sedikit lebih baik dari fiber SCS
Fiber PCS kurang dipengaruhi oleh radiasi dan oleh karenanya
lebih menarik untuk aplikasi militer
Fiber SCS memiliki perambatan yang terbaik dan lebih mudah
untuk diakhiri dari pada fiber PCS
Sayangnya, kabel SCS paling kurang kasarnya dan lebih
mudah meningkat redamannya ketika kena radiasi.
Pemilihan fiber untuk aplikasi tertentu adalah fungsi dari keperluan
sistem yang spesifik dan selalu terdapat untung rugi yang didasarkan
pada ekonomi dan aplikasi tertentu.
Konstruksi Fiber
Tergantung pada konfigurasinya, kabel fiber dapat berupa core,
cladding, protective tube, buffers, strength members dan satu atau
lebih protective jackets. Perhatikan Gambar berikut:
Konstruksi loose tube (Gambar a)
Setiap fiber ditempatkan dalam protective tube
Di dalam protective tube, persenyawaan polyurethane
membungkus fiber dan mencegah gangguan dari air
Konstruksi constrained fiber (Gambar b)
Disekeliling kabel fiber adalah buffer primer dan sekunder
Buffer jackets memberikan perlindungan terhadap fiber dari
pengaruh mekanik luar yang dapat menyebabkan fiber rusak
atau redaman optik yang berlebihan
Kevlar adalah materi tipe yarn yang dapat meningkatkan daya
rentang kabel
Protective tube bagian luar diisi dengan polyurethane yang
mencegah embun
Konfigurasi multiple-strand (Gambar c)
Untuk meningkatkan daya rentang, bagian steel central dan
lapisan Mylar tape wrap dimasukkan dalam paket ini.
Konfigurasi ribbon (Gambar d)
Sering dijumpai dalam sistem telepon yang memakai fiber
optik
Konfigurasi kabel plastic-clad silica (Gambar e)
Perambatan Cahaya
Meskipun unjuk kerja fiber optik dapat dianalisa secara lengkap
dengan pemakaian persamaan Maxwell, namun hal ini sangat rumit.
Untuk sebagaian besar aplikasi praktis, jejak gelombang geometris
(geometric wave tracing) dapat dipakai sebagai pengganti
persamaan Maxwell; jejak cahaya (ray tracing) akan memberikan
hasil yang cukup akurat.
Kecepatan perambatan
Energi elektromagnetik, seperti cahaya merambat pada
kecepatan mendekati 300.000.000 m/dt (186.000 mil/dt) dalam
ruang bebas
Kecepatan perambatan adalah sama untuk seluruh frekuensi
cahaya dalam ruang bebas
Namun dalam materi yang lebih rapat dari ruang bebas,
kecepatan perambatan cahaya berkurang.
Ketika kecepatan gelombang elektromagnetik berkurang saat
merambat dari satu medium ke medium yang lebih rapat, sinar
cahaya dibiaskan (bengkok) ke arah normal
Dalam materi yang lebih rapat dari ruang bebas, seluruh
frekuensi cahaya tidak merambat pada kecepatan yang sama
Pembiasan
Gambar a menunjukkan bagaimana sinar cahaya dibiaskan
ketika melewati materi dengan kerapatan tertentu ke materi
yang lebih rapat. (Sebenarnya, sinar cahaya tidak bengkok,
tetapi arahnya berubah pada interface).
Gambar b menunjukkan bagaimana sinar matahari yang terdiri
dari seluruh frekuensi cahaya dipengaruhi ketika melewati
materi yang lebih rapat dari ruang bebas
Pembiasan terjadi pada kedua interface udara/gelas.
Panjang gelombang sinar ultraviolet paling besar dibiaskan
sedangkan panjang gelombang sinar merah paling sedikit
dibiaskan
Pemisahan spectrum cahaya putih dengan cara seperti ini
disebut dengan pembiasan prisma (prismatic refraction).
Pembiasan prisma merupakan kejadian yang menyebabkan
terjadinya pelangi; air yang jatuh pada atmosfir berkelakuan
seperti prisma yang memisahkan cahaya matahari (cahaya
putih) menjadi bermacam panjang gelombang, yang
menghasilkan spectrum warna yang dapat dilihat.

Indeks Bias
Pembiasan yang terjdi pada interface dua materi dengan
kerapatan yang berbeda merupakan suatu hal yang dapat
diprediksi dan tergantung pada indeks bias dua materi tersebut.
Indeks bias adalah perbandingan antara kecepatan perambatan
sinar cahaya pada ruang bebas terhadap kecepatan perambatan
sinar cahaya pada suatu materi
Secara matematis indeks bias dinyatakan sebagai
v
c
n
dengan c = kecepatan cahaya dalam ruang bebas (300.000.000
m/dt)
v = kecepatan cahaya pada suatu materi
Meskipun indeks bias juga merupakan fungsi dari frekuensi,
namun variasi frekuensi pada sebagian besar aplikasi tidak
signifikan dan karenanya tidak dibahas
Indeks bias beberapa materi yang umum ditunjukkan pada
Tabel berikut
Bagaimana sinar cahaya bereaksi ketika menemui interface
dua materi yang dapat meneruskan cahaya, yang memiliki
indeks bias yang berbeda dapat dijelaskan dengan hukum
Snell. Hukum Snell menetapkan sebagai berikut:
n
1
sin
1
= n
2
sin
2
(1)
dengan n
1
= indeks bias materi 1 (satuan)
n
2
= indeks bias materi 2 (satuan)

1
= sudut datang (derajat)

2
= sudut bias (derajat)
Model indeks bias hukum Snell ditunjukkan dalam Gambar
berikut
- Pada interface, sinar yang datang dapat dibiaskan
menuju normal atau menjauhi normal, tergantung pada
apakah nilai n
1
kurang dari atau lebih dari n
2
.
- Ketika sinar cahaya memasuki materi yang kurang rapat
(n
1
> n
2
), sinar membengkok menjauhi normal dan sudut
bias lebih besar dari sudut datang
- Ketika sinar cahaya memasuki materi yang lebih rapat
(n
1
< n
2
), sinar membengkok menuju normal
- Normal adalah garis yang digambar tegak lurus terhadap
interface pada titik dimana sinar jatuh pada interface
tersebut.
Contoh 1
Dalam Gambar di atas, misalkan medium 1 adalah gelas dan
medium 2 adalah ethyl alcohol. Jika sudut datang sinar sebesar 30
0
,
tentukan sudut biasnya.
Penyelesaian
Berdasarkan Tabel 1, n
1
(gelas) = 1,5, ethyl alcohol = 1,36 dan
berdasarkan persamaan (1) diperoleh:
1
sin
2
1

n
n
= sin
2

2
sin 5514 , 0 30 sin
36 , 1
5 , 1

0
47 , 33 5514 , 0
1
sin
2


Hasil ini menunjukkan bahwa sinar cahaya dibiaskan (bengkok) atau
arahnya berubah sebesar 33,47
0
pada interface. Karena sinar cahaya
merambat dari materi yang lebih rapat ke materi yang kurang rapat,
maka sinar bengkok menjauhi normal.
Sudut Kritis
Gambar di atas menunjukkan kondisi dimana sinar yang
datang berada pada suatu sudut sedemikian hingga sudut bias
adalah sebesar 90
0
dan sinar yang dibiaskan berada
disepanjang interface. (penting untuk diperhatikan bahwa sinar
cahaya merambat dari medium dengan indeks bias yang lebih
tinggi ke yang lebih rendah)
Dengan memakai Hukum Snell,
sin
1
=
2
sin
1
2

n
n
dengan nilai
2
= 90
0
maka
sin
1
=
1
2
n
n
(1)
dan c
n
n

1
1
2 1
sin
(2)
dengan
c
= sudut kritis.
Sudut kritis didefinisikan sebagai sudut datang yang
minimum, yang menghasilkan sudut bias sebesar 90
0
atau
lebih besar. (Definisi ini hanya mengenai sinar cahaya ketika
merambat dari medium yang lebih rapat ke kurang rapat).
Jika sudut bias bernilai 90
0
atau lebih, sinar cahaya tidak akan
menembus materi yang kurang rapat. Sebagai akibatnya,
pantulan total terjadi pada interface, dan sudut pantul sama
dengan sudut datang.
Gambar dibawah menunjukkan perbandingan antara sudut bias
dengan sudut pantul ketika sudut datang kurang atau lebih
besar dari sudut kritis.
Perambatan Cahaya Melalui Fiber Optik
Cahaya dapat dipropagasikan pada kabel fiber optik dengan
cara dibiaskan atau dipantulkan. Bagaiaman cahaya dipropagasikan,
tergantung pada mode propagasi atau index profile dari fiber.
Mode propagasi
Dalam istilah optik, kata mode berarti jalur (path).
Jika hanya terdapat satu jalur bagi cahaya untuk merambat
pada kabel fiber, maka disebut single mode.
Jika terdapat lebih dari satu mode, disebut dengan multimode.
Gambar dibawah menunjukkan propagasi single dan
multimode cahaya pada fiber optik.
Index profile
Index profile fiber optik adalah representasi secara grafik nilai
indeks bias fiber.
Indeks bias diplot pada axis horizontal dan jarak radius dari
axis core diplot pada axis vertical. Gambar dibawah
menunjukkan index profile tiga tipe kabel fiber.
Terdapat dua tipe dasar index profile yaitu step dan graded.
Step index fiber memiliki core dengan indeks bias yang
seragam. Core dikelilingi oleh cladding dengan indeks bias
yang seragam yang kurang dari core.
Berdasarkan Gambar di atas, step index fiber memiliki
perubahan indeks bias yang terjal pada interface core/cladding.
Dalam graded index fiber tidak terdapat cladding, dan indeks
bias core tidak seragam; indeks bias tertinggi pada pusat dan
menurun secara berangsur-angsur seiring dengan jarak yang
menuju tepi luar fiber.
Konfigurasi Fiber Optik
Pada dasarnya terdapat tiga tipe konfigurasi fiber optik yaitu
single mode step index, multimode step index, dan multimode
graded index.
Single Mode Step Index Fiber
Single mode step index fiber memiliki core yang cukup kecil
sehingga pada dasarnya hanya terdapat satu jalur/path yang
diambil oleh cahaya ketika merambat pada kabel fiber
(Gambar di atas)
Dalam bentuknya yang paling sederhana, cladding single
mode step index fiber berupa udara (Gambar a).
o Indeks bias core gelas (n
1
) adalah sekitar 1,5 dan
cladding udara (n
0
) sebesar 1.
o Perbedaan indeks bias yang besar menghasilkan sudut
kritis yang kecil (sekitar 42
0
) pada interface gelas/udara.
Sebagai akibatnya fiber akan menerima cahaya dari
aperture yang luas. Hal ini membuatnya relatif mudah
untuk menggandeng/mengkopel cahaya dari sumber ke
kabel fiber.
o Namun tipe fiber ini sangat lemah dan terbatas
pemakainnya dalam praktek.
Tipe single mode step index fiber yang lebih praktis adalah
fiber yang memilki cladding bukan udara (Gambar b)
o Indeks bias cladding (n
2
) sedikit lebih kecil dari pusat
core (n
1
) dan seragam disepanjang cladding.
o Tipe fiber ini secara fisik lebih kuat dari fiber yang
claddingnya udara, tetapi sudut ktritisnya jauh lebih
besar (sekitar 77
0
). Hal ini menghasilkan sudut
penerimaan yang kecil dan aperture sumber ke fiber
yang sempit, dan membuatnya sangat sulit untuk
menggandeng cahaya dari sumber cahaya
ke fiber.
Dalam kedua tipe single mode step index fiber, cahaya
dipropagasikan pada kabel fiber melalui pantulan.
Sinar cahaya yang memasuki fiber merambat secara langsung
pada core atau mungkin melalui pantulan sekali. Sebagai
akibatnya, seluruh sinar cahaya mengikuti jalur yang hampir
sama dan memerlukan waktu yang hampir sama untuk
mencapai ujung fiber. Hal ini merupakan satu keuntungan
yang sangat besar bagi single mode step index fiber.
Multimode Step Index Fiber
o Fiber ini mirip dengan single step index fiber kecuali core-nya
jauh lebih besar.
o Memiliki aperture cahaya ke fiber yang besar dan sebagai
akibatnya memberikan lebih banyak cahaya memasuki kabel
fiber.
o Sinar cahaya yang yang jatuh pada interface core/cladding
pada sudut yang lebih besar dari sudut kritis (sinar A)
dipropagasikan pada core dalam cara zigzag, dan secara
kontinyu memantul pada interface tersebut
o Sinar cahaya yang yang jatuh pada interface core/cladding
pada sudut yang lebih kecil dari sudut kritis (sinar B) akan
memasuki cladding dan hilang.
o Dalam Gambar dapat dilihat bahwa terdapat banyak jalur/path
yang dapat diikuti oleh cahaya ketika merambat pada fiber.
Sebagai hasilnya, seluruh cahaya tidak mengikuti jalur yang
sama dan sebagai akibatnya tidak memiliki waktu yang sama
untuk mencapai ujung fiber.
Multimode Graded Index Fiber
o Fiber jenis ini bercirikan bahwa core memiliki indeks bias
yang tidak seragam (nonuniform). Indeks bias bernilai
maksimum pada pusat dan menurun secara berangsur-angsur
ketika menuju tepi luar fiber.
o Cahaya dipropagasikan pada jenis fiber ini melaui pembiasan
o Ketika sinar cahaya merambat secara diagonal melewati core,
sinar ini secara kontinyu memotong interface yang kurang
rapat ke yang lebih rapat. Sebagai akibatnya sinar cahaya
dibiaskan secara konstan yang menghasilkan pembengkokan
cahaya yang kontinyu
o Cahaya memasuki fiber pada banyak sudut yang berbeda.
o Ketika cahaya merambat pada fiber, sinar cahaya yang
merambat pada area fiber yang lebih luar, memiliki jarak yang
lebih jauh dibandingkan dengan cahaya yang merambat dekat
dengan pusat fiber
o Karena indeks bias menurun terhadap jarak yang dimulai dari
pusat fiber, dan kecepatan cahaya berbanding terbalik dengan
indeks bias, maka sinar cahaya yang merambat pada jarak
yang lebih jauh dari pusat fiber merambat pada kecepatan
yang lebih tinggi. Sebagai akibatnya, sinar-sinar tersebut
memiliki waktu yang mendekati sama untuk mencapai ujung
fiber.
Perbandingan Tiga Tipe Fiber Optik
Single Mode Step Index Fiber
Keuntungan
1. Dispersi minimum. Karena seluruh sinar merambat pada fiber
dengan jalur yang hampir sama, maka sinar-sinar tersebut
membutuhkan waktu yang hampir sama untuk tiba di ujung
fiber. Sebagai akibatnya, pulsa cahaya yang memasuki kabel
fiber dapat direproduksi di penerima dengan sangat akurat.
2. Karena akurasi yang tinggi dalam mereproduksi pulsa yang
ditransmisikan di penerima, maka bandwidth yang lebih lebar
dan kecepatan transmisi informasi yang tinggi memungkinkan
dengan single mode step index fiber dari pada tipe fiber yang
lainnya.
Kerugian
1. Karena ukuran core sangat kecil, maka sulit untuk
menggandeng cahaya ke dalam dan keluar fiber. Aperture
sumber ke fiber untuk tipe fiber ini paling kecil diantara tipe
fiber yang ada.
2. Sumber cahaya dengan pengarahan yang tinggi seperti laser
diperlukan untuk menggandeng cahaya ke single mode step
index fiber karena ukuran core yang kecil tersebut.
3. Single mode step index fiber harganya mahal dan sulit untuk
dibuat.
Multimode Step Index Fiber
Keuntungan
1. Murah dan mudah dalam pembuatannya.
2. Mudah untuk menggandeng cahaya ke dalam dan keluar fiber
karena memiliki aperture sumber yang besar ke fiber.
Kerugian
1. Sinar cahaya menempuh banyak jalur yang berbeda, yang
menghasilkan perbedaan waktu yang besar dalam
perambatannya untuk mencapai ujung fiber. Karena hal ini,
sinar yang merambat dalam fiber tipe ini memiliki
kecenderungan untuk membentang. Sebagai akibatnya, pulsa
cahaya yang merambat dalam multimode step index fiber
mengalami distorsi yang lebih dari pada tipe fiber yang
lainnya.
2. Kecepatan transfer informasi dan bandwidth dengan tipe fiber
ini kurang dari tipe fiber yang lainnya.
Multimode Graded Index Fiber
Pada dasarnya, tidak terdapat keuntungan atau kerugian yang
menonjol pada jenis fiber ini.
Multimode graded index fiber lebih mudah menggandeng
cahaya ke dalam atau keluar fiber dibandingkan dengan single
mode step index fiber, tetapi lebih susah dibandingkan dengan
multimode step index fiber.
Distorsi yang disebabkan oleh jalur perambatan yang banyak,
lebih besar dibandingkan dengan single mode step index fiber
tetapi kurang dibandingkan dengan multimode step index
fiber.
Graded index fiber lebih mudah dibuat dibandingkan dengan
single mode step index fiber tetapi lebih sulit dibandingkan
dengan multimode step index fiber.
Multimode graded index fiber dipertimbangkan sebagai fiber
menengah dibandingkan tipe fiber yang lainnya.
Acceptance Angle dan Acceptance Cone
Gambar dibawah menunjukkan ujung kabel fiber (ujung yang akan
dikopel dengan sumber cahaya).
Ketika sinar memasuki fiber, sinar ini jatuh pada interface
udara/gelas pada normal A. Indeks bias udara bernilai 1 dan
inti gelas bernilai 1,5. Sebagai akibatnya, cahaya yang
memasuki interface udara/gelas merambat dari medium yang
kurang rapat ke medium yang lebih rapat.
Dibawah kondisi ini dan sesuai dengan Hukum Snell, sinar
cahaya akan membias ke arah normal. Hal ini menyebabkan
sinar cahaya berubah arahnya dan merambat secara diagonal
pada core pada sudut (
c
) yang berbeda dengan sudut external
sinar datang pada interface udara/gelas (
in
)
Agar sinar cahaya merambat dalam fiber, sinar tersebut harus
jatuh pada interface internal core/cladding pada sudut yang
lebih besar dari sudut kritis (
c
).
Pemakaian Hukum Snell pada sudut external sinar datang
menghasilkan persamaan sbb:
n
0 in
sin
= n
1
sin 1

(3)
dan
1

= 90 -
c
Jadi
sin 1

= sin (90 -
c
) = cos
c
(4)
Substitusi persamaan (4) ke persamaan (3) menghasilkan
persamaan sbb:
n
0 in
sin
= n
1
cos
c

in
sin
=
c
n
n
cos
0
1
(5)
Gambar berikut menunjukkan hubungan geometris persamaan
(2).
Dengan memakai teorema pitagoras, diperoleh:
cos
c
=
1
2
2
2
1
n
n n
(6)
Substitusi persamaan (6) ke (5) diperoleh:
in
sin
=
0
1
n
n
1
2
2
2
1
n
n n
in
sin
=
0
2
2
2
1
n
n n
(7)
dan

in
= sin
-1

0
2
2
2
1
n
n n
(8)
Karena secara umum sinar memasuki fiber dari medium udara,
maka n
0
= 1, dan hal ini menyederhanakan persaman (12)
menjadi:

in(max)
= sin
-1

2
2
2
1
n n
(9)

in
disebut dengan acceptance angle atau acceptance
cone half angle, yang mendefinisikan sudut
maksimum dimana sinar cahaya luar jatuh pada
interface udara/fiber dan sinar masih merambat dalam
fiber, dengan respon tidak lebih besar dari 10 dB turun
dari nilai puncak. Rotasi acceptance angle disekitar
axis fiber menggambarkan acceptance cone dari input
fiber (Gambar di bawah).
Numerical Aperture
Numerical aperture (NA) adalah nilai yang dipakai untuk
menggambarkan kemampuan fiber optik dalam
mengumpulkan cahaya.
Semakin besar magnitudo NA, semakin besar jumlah cahaya
yang dapat diterima oleh fiber optik dari sumber cahaya
eksternal.
Untuk step index fiber, NA secara matematis didefinisikan
sebagai sinus dari acceptance half angle, yaitu:
NA = sin
in
(10)
dan
NA =
2
2
2
1
n n
(11)
sin
-1
NA =
in

Untuk graded index fiber, Na adalah sinus dari sudut kritis,
yaitu:
NA = sin
c
(12)
Contoh 2
Untuk multimode step index fiber dengan core gelas (n
1
= 1,5)
dan fused quartz cladding (n
2
= 1,46), tentukan sufut kritis (
c
),
acceptance angle (
in
) dan numerical aperture. Media sumber ke
fiber adalah udara.
Penyelesaian
Berdasarkan persamaan sudut kritis, diperoleh:

c
=
1
2 1
sin
n
n

= sin
-1

5 , 1
46 , 1
= 76,7
0
Berdasarkan persamaan (9), diperoleh:

in
= sin
-1

2
2
2
1
n n
= sin
-1

2
46 , 1
2
5 , 1 = 20,2
0
Berdasarkan persamaan (10), diperoleh:
NA = sin
in
= sin 20,2 = 0,344
Soal:
1. Fiber optik dengan indeks bias cladding bernilai 1,48 memiliki
numerical aperture sebesar 0,25. Tentukanlah:
(a) acceptance angle di udara
(b) sudut kritis pada interface core-cladding
2. Kecepatan cahaya dalam core step index fiber adalah 2,05 x
10
8
m/dt dan sudut kritisnya sebesar 80
0
. Tentukan acceptance
angle (di udara) dan numerical aperture. Kecepatan cahaya di
ruang hampa adalah 3 x 10
8
m/dt.
Banyaknya Mode yang Dapat Didukung Oleh Fiber
Parameter yang dipakai untuk menentukan banyaknya mode
yang dapat didukung oleh fiber adalah frekuensi cut-off (V)
Frekuensi cut-off merupakan ukuran terhadap tingkat
bimbingan suatu fiber
V =
2
2
2
1
n n
d

NA
d


Jika nilai V yang diperoleh dari persamaan di atas adalah
cukup jauh lebih besar dari satu, maka jumlah mode yang
dapat didukung oleh fiber dinyatakan dengan persamaan:
N
2
2
1
V
Setiap mode mempunyai nilai V yang berbeda, dimana mode
dengan frekuensi cut-off yang lebih kecil dari nilai V fiber saja
yang akan merambat
Tabel berikut menunjukkan nilai V untuk mode orde terendah
yang akan didukung oleh sebuah step indeks fiber
Mode Nilai V
HE
11
0
TE
01
, TM
01
2,405
HE
21
2,42
HE
12
, EH
11
3,83
HE
31
3,86
EH
21
5,14
HE
41
5,16
TE
02
, TM
02
5,52
HE
22
5,53
Untuk rambatan single mode besarnya nilai cut-off fiber
adalah V

2,405
Contoh 3
Fiber dengan diameter core sebesar 50 m memiliki nilai NA
sebesar 0,343 dan dipakai pada gelombang cahaya sebesar 0,8 m.
Hitunglah nilai V serta jumlah mode yang dapat didukung oleh fiber
tersebut.
Penyelesaian
V =
NA
d

= 67, 3
N = V
2
= 267 mode
DEGRADASI SINYAL DALAM FIBER OPTIK
Redaman sinyal (juga dikenal dengan rugi-rugi fiber atau
sinyal) adalah salah satu ciri fiber optik yang paling penting, karena
kontribusinya yang besar dalam menentukan jarak maksimum antara
pemancar dan penerima tanpa penguat atau repeater. Karena
penguat dan repeater mahal dalam pembuatannya, pemasangannya
dan pemeliharaannya, sehinnga tingkat redaman dalam fiber optik
memiliki pengaruh yang besar dalam biaya sistem.
Ciri lain fiber optik yang sama pentingnya adalah distorsi
sinyal. Mekanisme distorsi dalam fiber optik menyebabkan pulsa-
pulsa sinyal optik melebar ketika merambat disepanjang fiber. Jika
pulsa-pulsa ini merambat cukup jauh, pulsa-pulsa ini akan tumpang
tindih dengan pulsa-pulsa disebelahnya, sehingga akan
menghasilkan kesalahan pada keluaran penerima. Jadi mekanisme
distorsi sinyal membatasi kapasitas fiber dalam membawa
informasi.
Redaman
Mekanisme redaman dalam fiber optik adalah penyerapan
(absorption), hamburan (scattering), dan rugi-rugi radiasi (radiative
loss) energi optik. Penyerapan berhubungan dengan materi fiber
sedangkan hamburan berhubungan dengan materi dan
ketidaksempurnaan struktur fiber. Redaman akibat radiasi berasal
dari gangguan geometri fiber
Satuan Redaman
Ketika cahaya merambat disepanjang fiber, dayanya menurun
secara eksponensial terhadap jarak yang ditempuh. Jika P(0) adalah
daya optik di dalam fiber pada titik asal (pada jarak nol km, z = 0),
maka daya P(z) pada jarak z adalah:
P(z) = P(0) e
-

p.z
p = 1
]
1

) z ( P
) 0 ( P
ln
z
1
dengan p merupakan koefisien redaman yang memiliki satuan km
-
1
.
Untuk kemudahan dalm menghitung redaman sinyal optik
didalam fiber, dipakai prosedur yang umum untuk mengekspresikan
koefisien redaman dalam satuan dB/km, yaitu:
(dB/km) = 1
]
1

) z ( P
) 0 ( P
log
z
10
Parameter ini secara umum direferensikan sebagai redaman fiber
atau rugi-rugi fiber.
Contoh 4
Pertimbangkan fiber optik dengan panjang 30 km yang memiliki
redaman 0,8 dB/km pada 1300 nm. Tentukan daya keluaran, jika
ditransmisikan daya optik sebesar 200 m.
Penyelesaian
P
in
(dBm) = 10 log
1
1
]
1

mW 1
) W (
in
P
= 10 log
1
1
]
1

W
3
10 x 1
W
6
10 x 200
= -7 dBm
P
out
(dBm) = P
in
(dBm) - z = -7 dBm (0,8 dB/km) (30 km) = -7
24 = -31dBm.
Dalam satuan watt, daya keluaran adalah:
P(watt) = 10
-31/10
(1mW) = 0,79 x 10
-3
mW
Rugi-rugi Penyebaran Rayleigh
Selama proses pembuatan fiber, gelas ditarik menjadi fiber
yang panjang dengan diameter yang sangat kecil.
Gelas yang diberi tekanan selama proses ini, menyebabkan
gelas yang dingin menghasilkan ketidakberaturan
submicroscopic, yang secara permanen terbentuk dalam fiber.
Ketika cahaya yang merambat dalam fiber, cahaya akan
dibiaskan karena ketidakberaturan tersebut.
Pembiasan menyebabkan cahaya menyebar dalam banyak
arah. Beberapa cahaya yang terbias tetap merambat dalam
fiber dan yang lainnya keluar menuju cladding.
Cahaya yang keluar ini menunjukkan loss daya (power)
cahaya dan disebut dengan Rayleigh scattering loss.
Rugi-rugi ini berbanding terbalik dengan pangkat empat
panjang gelombang (
-4
)
Gambar dibawah menunjukkan hubungan antara panjang
gelombang dengan Rayleigh scattering loss
Rugi-Rugi Penyerapan
Rugi-rugi penyerapan disebabkan oleh tiga mekanisme yang
berbeda, yaitu penyerapan ultraviolet, inframerah, dan
penyerapan resonansi ion.
Penyerapan ultraviolet
Penyebaran ultraviolet disebabkan elektron valensi silika lebur
murni (pure fused silica) dapat diionisasikan menjadi elektron
konduksi oleh cahaya pada panjang gelombang kira-kira 0,14
m yang setara dengan tingkat energi sebesar 8,9 eV.
Ionisasi ini berkembang menjadi suatu rugi energi pada medan
cahaya dan memberikan sumbangannya pada rugi transmisi.
Penyerapan UV bukan hanya terjadi pada panjang gelobang
tetap ini, tetapi pada suatu jalur lebar yang membentang ke
atas hingga ke bagian spektrum yang dapat dilihat, dengan
rugi-rugi yang mengecil pada panjang gelombang yang lebih
tinggi.
Ekor penyerapan UV ini mengecil dan dapat diabaikan pada
jalur 1,2 1,3 m.
Pemberian campuran pada gelas (doping) seperti misalnya
dioksida germanium untuk mengubah indeks bias
menyebabkan sedikit peningkatan pada ekor penyerapan UV.
Tetapi rugi-rugi pada 1,2 m untuk sebagaian besar fiber
kurang dari 0,1 dB/km.
Penyerapan UV untuk gelas silica murni dan silica dengan
doping germanium ditunjukkan dalam gambar dibawah.
Penyerapan inframerah
Penyerapan inframerah terjadi karena foton energi cahaya yang
diserap oleh atom di dalam molekul gelas diubah menjadi getaran
mekanis yang acak yang khas dari pemanasan
Penyerapan resonansi ion
Penyerapan resonansi ion disebabkan oleh ion-ion OH
-
dalam
bahan fiber. Sumber ion OH
-
adalah molekul-molekul air yang
terbentuk dalam gelas selama proses pembuatan fiber
Puncak-puncak penyerapan terjadi pada 0,95, 1,25, dan 1,39
m dengan puncak utama terjadi pada 1,39 m
Rugi-rugi penyerapan ditunjukkan dalam gambar berikut
Mode yang Bocor
Jika cahaya merambat di dalam inti fiber dengan sudut yang
lebih kecil dari sudut krits maka cahaya akan dibiaskan,
namun tidak seluruhnya. Sisanya akan merambat di dalam inti
fiber (mode yang bocor). yang berguna untuk transmisi
informasi
Pembiasan sebagain ini mungkin terjebak di dalan cladding
dan merambat disepanjang cladding ke penerima.
Dalam praktek telah didapatkan bahwa perlu untuk membuang
mode yang bocor ini dari cladding sedini mungkin untuk
mengurangi dispersi. Ini dicapai dengan melapisi cladding
dengan bahan yang terbuat dari silica murni, dengan indeks
bias yang lebih kecil dari inti tetapi lebih tinggi dari cladding.
Lapisan silica ini juga berfngsi untuk menambah kekuatan
mekanis fiber
Perhatikan gambar dibawah
m1 mewakili alur sinar cahaya yang sepenuhnya dibimbing
dan dipantulkan total oleh interface core-cladding, m2
mewakili sinar yang dipantulkan sebagain dan m3 mewakili
sinar yang sepenuhnya dibiaskna ke luar dari inti
Sebagian energi sinar dibiaskan lewat cladding dan kemudian
lewat lapisan silika untuk diserap pada suatu jaket pelindung
yang tidak tembus cahaya
Mode bocor yang ditimbulkan pada ujung pemancar biasanya
hanya mengandung beberapa persen dari daya terbimbing
total, dan hal ini dengan cepat diredam dekat pemancar dan
menjadi suatu rugi tetap bagi fiber
Jika fiber merupakan fiber yang tidak tersambung, rugi ini
akan terjadi sekali
Namun jika fiber merupakan sambungan beberapa fiber, mode
yang merambat di bagian pertama mungkin tidak
digandengkan dengan tepat ke bagian berikutnya, hal ini
mengakibatkan daya pindah ke mode yang bocor pada
sambungan tersebut
Jadi setiap sambungan akan menambah rugi
Rugi-rugi Penggandengan Mode
Daya yang sudah dilepaskan dengan baik ke dalam suatu mode
yang merambat mungkin kemudian digandengkan ke dalam
suatu mode bocor atau mode radiasi pada sebuah titik yang
agak jauh pada fiber. Hal ini dapat terjadi karena beberapa
alasan
Cacat kecil pada inti atau pada interface core-cladding dapat
menyebabkan digandengkannya energi ke salah satu mode-
mode yang bocor
Sumber lain penggandengan mode adalah sambungan yang
dibentuk kurang sempurna atau konektor yang penyetelannya
kurang sempurna. Umumnya rugi-rugi ini kira-kira 0,5 dB
atau 0,2 dB per sambungan dan dapat dibuat minimum dengan
mengurangi banyaknya sambungan atau konektor yang
diperlukan dalam suatu rute fiber tertentu.
Rugi-rugi Pembengkokan
Terdapat dua jenis pembengkokan yang menyebabkan rugi-rugi
dalam fiber, yaitu pembekokan mikro (microbending) dan
pembekokan radius konstan. Kedua pembekokan ini timbul
karena alasan yang berbeda dan menimbulkan rugi-rugi dengan
mekanisme yang berbeda pula.
Pembengkokan mikro
Merupakan pembengkokan mikroskopis inti fiber yang
disebabkan oleh laju penyusutan thermal yang sedikit berbeda
antara bahan inti dan cladding.
Pembengkokan mikro juga dapat terjadi bila fiber digulung
untuk memudahkan pengangkutannya.
Rugi-rugi pembengkokan mikro terjadi karena bengkokan
yang terjadi bekerja sebagai faset-faset penyebar (scattering
facets) yang menyebabkan terjadinya penggandengan mode.
Karena pembengkokan mikro terbagi secara acak di sepanjang
fiber, rugi-rugi yang diakibatkannya akan terbagi dengan
merata dan suatu angka rugi-rugi total untuk suatu fiber dapat
diperoleh
Ketelitian selama pembuatan dan pengangkutannya akan
banyak mengurangi rugi-rugi ini.
Pembengkokan makro
Bila fiber optik diinstalasikan di dalam saluran atau pada
tiang-tiang, sering diperlukan adanya belokan pada fiber untuk
mengikuti sudut-sudut atau tikungan. Belokan ini akan
menimbulkan rugi-rugi (hilangnya) cahaya dalam fiber karena
mode-mode yang sepenuhnya terbimbing di bagian-bagian
yang lurus pada fiber, akan terbimbing sebagian atau sama
sekali tidak terbimbing pada bagian fiber yang melengkung.
Perhatikan Gambar di bawah
Gambar Sinar dalam sebuah Fiber yang Bengkok
- Seberkas sinar cahaya sepenuhnya terbimbing ketika
mencapai titik pantulan A pada bagian fiber yang lurus.
- Dari titik A cahaya dipantulkan dengan sudut A, dan
seandainya fiber optik tidak bengkok sinar akan tiba
pada titik B1 sebagai titik pantulan berikutnya
- Dengan adanya belokan, sinar membentur dinding fiber
lebih dini pada titik B2, dengan sudut masuk B yang
lebih kecil dari sudut aslinya A dibagian fiber yang
lurus.
- Jika B lebih kecil dari sudut kritis, sinar akan keluar
dari fiber dan sebagian energi dari mode yang
bersangkutan akan hilang.
Pembuat fiber biasanya menspesifikasikan suatu radius
belokan minum dan memberikan pula suatu angka rugi
minimum yang berkaitan dengan belokan tersebut.
Kombinasi Rugi-rugi Fiber
Terdapat empat rugi yang inheren (yang melekat atau menjadi
sifatnya) pada fiber, dan hal ini harus dbuat seminimal
mungkin pada proses pembuatan fiber. Rugi-rugi ini adalah
rugi penyebaran Rayleigh, rugi penyerapan bahan, rugi ragam
bocor, dan rugi yang disebabkan oleh penggandengan mode
karena penyebaran.
Dua dari empat rugi tersebut, yaitu rugi penyebaran Rayleigh
dan rugi penyerapan bahan adalah rugi yang paling menonjol.
Rugi-rugi totalnya (rugi penyebaran Rayleigh dan rugi
penyerapan bahan) pada fiber multimode sebagai fungsi
panjang gelomabng, ditunjukkan dalam Gambar berikut.
Dispersi
Dispersi dalam fiber optik mengakibatkan menyebarnya pulsa-
pulsa cahaya dalam daerah waktu, sehingga pulsa menyatu dengan
pulsa-pulsa yang terdahulu dan berikutnya, dan akan menghasilkan
kesalahan pada keluaran penerima. Pulsa-pulsa ini dapat dipisahkan
dengan menjauhkannya satu dari yang lain pada pemancar, tetapi hal
ini akan mengurangi laju bit maksimum (Periode pulsa merupakan
kebalikan dari bit rate). Pada beberapa laju bit yang tinggi, panjang
maksimum fiber yang semula dibatasi oleh rugi-rugi, kemudian
berubah menjadi dibatasi oleh dispersi.
Ada tiga macam dispersi pada fiber, yang disebabkan oleh tiga
mekanisme yang berbeda, yaitu dispersi intermodal, dispersi bahan
dan dispersi waveguide.
Dispersi Intermodal
Alur total yang ditempuh oleh suatu sinar pada setiap mode
adalah bersifat zigzag, dan mempunyai panjang total yang
berbeda dari setiap sinar mode yang lain (Perhatikan Gambar
di bawah).

Jadi, sebuah pulsa yang dipancarkan ke dalam suatu fiber akan
merambat melalui beberapa alur yang berbeda dan tiba pada
ujung yang jauh pada waktu yang berbeda. Pulsa yang
diterima adalah penjumlahan dari pulsa-pulsa mode ini,
dimana masing-masing diperlambat dengan waktu yang
berbeda-beda.
Keterlambatan yang terpendek adalah sinar yang merambat
lurus pada inti, sedangkan yang terpanjang adalah sinar
dengan sudut datang hanya sedikit lebih besar dari sudut kritis
atau sama dengan sudut kritis. Selisih propagation delay time

t
dapat diturunkan sbb:

1
mode 2
mode 1
Dengan berpedoman pada Gambar di atas, (menunjukkan dua
sinar dengan mode yang berbeda dan mengikuti alur-alur zigzag
di sepanjang fiber dengan panjang z (1 km)) panjang alur zigzag
total diperoleh sebagai,

sin
z
t
Z
dimana adalah sudut masuk dari mode yang bersangkutan
dengan garis tegak lurus pada dinding fiber. Dalam mode orde
terendah = (maks) = 90
o
dan pada mode orde tertinggi =
(min) =
c
= sin
-1
(n2/n1)
Pada (maks), alur mode terpendek adalah:
z
o
90 sin
z
) maks ( sin
z
(min)
t
Z

dan pada (min), alur mode terpanjang adalah:


2 n
1 n
z
c
sin
z
(min) sin
z
) maks (
t
Z

Selisish
z
panjang alur maks dan min didapatkan sebagai:

z
= Z
t
(maks) - Z
t
(min) = z

,
_

1
2 n
1 n
dengan memasukkan =
1 n
2 n 1 n
diperoleh:

z
=

1
z
Karena sinar-sinar cahya dalam fiber lewat melalui suatu medium
dielektrik dengan konstanta dielektrik
r
yang lebih besar dari
satu, sinar akan bergerak lebih lambat dibandingkan jika sinar
bergerak di ruang bebas. Permeabilitas relatif
r
= 1, sehingga
kecepatan fasa sinar di dalam medium gelasadalah:
r
c
r r o o
1
) gelas (
p
v


persamaan ini sama dengan persamaan untuk saluran transmisi.
Karena = n
2
maka di dalam inti gelas dengan indeks bias, n1
diperoleh:
1 n
c
) gelas (
p
v
Jadi, selisih keterlambatan waktu antara mode orde terendah
dan orde tertinggi diperoleh dengan membagi selisih panjang alur
dengan kecepatan fasa, yaitu:


1 c
z 1 n
) gelas (
p
v
z
t (ndet/km)
Perlu dicatat bahwa dispersi jenis ini adalah ciri dari fiber dan
tidak dipengaruhi oleh panjang gelombang cahaya. Selain itu
dispersi tidak terjadi dalam single mode fiber.
Contoh 5
Untuk fiber step indeks dengan n1 = 1,55 dan = 0,0258,
tentukanlah dispersi per kilometer dan total dispersi dalam suatu
fiber dengan panjang 12,5 km
Penyelesaian
(a)
km det/ n 9 , 136
9
10 x 9 , 136
) 0258 , 0 1 ( x
8
10 x 3
0258 , 0 x 1000 x 55 , 1
1 c
z 1 n
t


(b) Dispersi total:
t
=
t
(per km) x z = 1369 x 12,5 1,71 det
Dispersi inetrmodal untuk multimode graded-index fiber
dinyatakan dengan persamaan:
c 8
2
z
1
n
t


Contoh 6
Misalkan fiber dalam contoh di atas merupakan multimode graded-
index fiber, maka tentukanlah dispersi maksimumnya !
Penyelesaian
ndet/km 43 , 0
6
10 x 300 x 8
2
0258 , 0 x 1000 x 55 , 1
c 8
2
z
1
n
t



Untuk fiber sepanjang 12,5 km,
t
= 0,43 x 12,5 = 5,38 ndet
Dispersi Bahan
Indeks bias inti (gelas) adalah tidak sama untuk sinar-sinar
dengan panjang gelombang yang berbeda-beda, tetapi berubah
disepanjang spectrum. Sebagai akibatnya, jika pulsa cahaya
yang dipancarkan mengandung komponen dengan beberapa
panjang gelombang yang berbeda, yang terpusat pada suatu
panjang gelombang tengah
0
seperti yang ditunjukkan dalam
gambar dibawah, maka komponen pulsa yang mengandung
panjang gelombang yang lebih pendek akan mengalami delay
yang lebih besar dari komponen dengan panjang gelombang
yang lebih besar.
Definisi Lebar Spektral dari Sebuah Sumber cahaya
Hasilnya adalah dispersi pulsa di ujung penerima.
Disperi bahan telah dibuktikan sebanding dengan penurunan
kedua dari indeks bias terhadap panjang gelombang, yaitu
d
2
n/d
2
, dan dispersi yang dihasilkan adalah:
dB 3 2
d
n
2
d
0
c
z
t

,
_

dengan D
m
=

2
d
n
2
d
0
c
z

,
_


= Koefisien dispersi bahan
(pdet/nm.km)

0
= panjang gelombang tengah dari spektrum cahaya

3 dB
= lebar spektrum (analog dengan lebar jalur 3 dB)
Sehingga untuk fiber sepanjang 1 km (z = 1km):

t
= D
m
z
3 dB
(ndet/km)
Nilai-nilai koefisien dispersi bahan untuk fiber silica murni
dan yang dicampur (doping) ditunjukkan gambar berikut
Nilai Koefisien Dispersi Bahan untuk Fiber Silica Murni dan yang
dicampur
Berdasarkan gambar di atas lengkung dispersi bahan ini menyilang
nol dekat panjang gelombang sebesar 1,3 m. Karena itu, jika
dipakai sebuah fiber single mode pada panjang gelombang dekat 1,3
m, dispersi akan hampir dihilangkan asalkan dipakai sumber
cahaya monokromatis ( lebar spektralnya sangat sempit).
Contoh 7
Fiber dalam contoh 5 akan digunakan dengan sebuah sumber
cahaya 0,8 m dengan lebar spectral 1,5 nm. Berapakah dispersi
bahan yang dihasilkan ?
Penyelesaian
Berdasarkan grafik koefisien dispersi bahan, pada 0,8 m D
m
=
-0,15 ns/nm.km untuk fiber yang didoping. Untuk fiber dengan
pangjang 1 km:

t
= D
m
z
3 dB
= -0,15 ndet/nm.km x 1 km x 1,5 nm
= 0,225 nm/km (delay)
Untuk fiber dengan panjang 12,5 km

t
= 12,5 x 0,225 = 2,81 ndet
Dispersi Waveguide
Karena sumber cahaya monokromatis tidak dapat dibuat, maka
cahaya yang dipancarkan akan mengandung komponen dengan
panjang gelombang yang berbeda. Sebagai akibatnya, mekanisme
fiber dalam membimbing cahaya akan mengakibatkan pelebaran
pulsa yang diterima, yaitu cahaya dengan panjang gelombang yang
berbeda akan memiliki sudut datang yang berbeda sehingga sampai
di ujung penerima dalam waktu yang berbeda. Efek ini adalah akibat
dari sifat membimbing (guiding) dari fiber, sehingga timbul istilah
dispersi waveguide.
Contoh 8
Suatu fiber single mode dengan panjang 12,5 km digunakan
dengan sumber cahaya 1,3 m yang mempunyai lebar spectrum 6
nm. Hitunglah dispersi waveguide yang ditimbulkan jika koefisien
dispersi waveguide adalah D
w
= 6,6 pdet/nm.km !
Penyelesaian

t
= D
w
z
3 dB
= 6,6 pdet/nm.km x 12,5 km 6 nm = 495 pdet
Dispersi Total dan Laju Transmisi
Dispersi total adalah kombinasi rms (root mean square) dari
ketiga pengaruh dispersi, yaitu:

t
(tot) =
) wgd ( ) md ( ) imd (
2
t
2
t
2
t
+ +
Untuk melihat bagaimana dispersi mempengaruhi laju
informasi, tinjau gambar berikut yang menunjukkan
bagaimana pulsa-pulsa yang tiba dengan delay yang berbeda
pada penerima ditambahkan untuk membentuk suatu pulsa
yang diperlebar (didespersikan).
Bagaimana Dispersi Menyebabkan Saling Bertindihnya Pulsa
Pulsa A mewakili pulsa yang mengalami delay rata-rata, pulsa
B mengalami delay minimum dan pulsa C mengalami delay
maksimum. Pulsa Keseluruhan yang diterima D adalah hasil
penjumlahan dari semua komponen pulsa diantara limit B dan
C.
Lebar pulsa t
w
mewakili lebar pulsa yang dipancarkan,
sedangkan t
r
mewakili lebar pulsa yang diterima (diperlebar),
yang adalah lebih lebar sebanyak waktu dispersi total, yaitu:
t
r
= t
w
+
t
(tot)
Jika pulsa berikutnya akan dideteksi tanpa mendua arti, maka
pulsa ini (berikutnya) harus dipancarkan setelah suatu periode
t
r
dari permulaan pulsa yang sedang dipancarkan. Laju
informasi yang sesuai dengan kondisi ideal ini adalah:
t w
t
1
r
t
1
B
+

Karena dalam praktek faktor dispersi cenderung menjadi lebih
besar dari keadaan ideal, dan karena ekor pulsa cenderung
memanjang melampaui limit pulsa rata-ratamaka perlu untuk
memberikan suatu faktor keamanan skira-kira lima kali lebar
pulsa yang diterima, yaitu:
)
t w
t ( 5
1
r
t 5
1
B
+

Contoh 9
Sebuah fiber single mode bekerja pada 1,3 m memiliki
dispersi bahan sebesar 2,81 ndet dan dispersi waveguide sebesar
0,495 ndet. Tentukanlah lebar pulsa yang diterima dan laju
informasi maksimum jika lebar pulsa yang dipancarkan memiliki
lebar 0,5 ndet. Dispersi intermodal tidak terjadi pada single mode
fiber.
Penyelesaian

t
(tot) =
) ( ) ( ) (
2 2 2
wgd md imd
t t t
+ +
=
2
495 , 0
2
81 , 2
2
0 + + =
2,85 ndet
t
r
= t
w
+
t
(tot) = 0,5 + 2,85 = 0,00335 det
det / Mbit 6 , 59
00335 , 0 x 5
1
r
t 5
1
B
Design Consideration of a Fiber Optic Communication
System
Pokok Bahasan
Pengantar
Modulasi Analog dan Digital
Noise dalam Proses Deteksi
Bit Error Rate (BER)
Desain Sistem
Jarak Maksimum
1. Pengantar
Untuk membangun link komunikasi fiber optic minimal
dibutuhkan 3 elemen dasar, yaitu sumber, fiber dan detector
optic.
Pada bagian ini, dibahas link komunikasi fiber optik point to
point (Perhatikan Gambar 1).
Jarak antara dua titik dapat dalam range kurang dari 1 km (link
data computer) sampai beberapa ribu km (link antar
samudera). Dalam link tersebut, akan terdapat transmitter
(LED atau diode laser (ILD)), jalur transmisi berupa fiber
optik (multimode atau single mode fiber), dan receiver optik
(PIN atau APD) yang diikuti oleh elektronik deteksi.
Pemilihan komponen ini tergantung dari jarak serta bit rate.
Regenerator (dipakai untuk link yang dbatasi oleh dispersi)
berfungsi:
- mendeteksi pulsa sebelum dayanya menjadi sangat
rendah (pulsa tidak dapat dibentuk kembali).
- Retime, reshape, regenerate pulsa optic yang baru untuk
ditransmisikan kebagian berikutnya.
Untuk link yang dibatasi oleh loss (loss > dispersi),
regenerator dalam Gambar 1 dapat digantikan oleh penguat
optik. Penguat optic berfungsi untuk memperkuat pulsa optic
dalam domain optic tanpa mengubahnya ke sinyal listrik
sebelum ditransmiskan lebih lanjut.
Namun, kita tidak dapat menempatkan penguat optic dalam
jumalh yang tak berhingga, karena penguat tersebut tidak
dapat mengkompensasi dispersi dan menambah noise.
Jadi link yang panjang (long haul link) harus memakai
Regenerator.
Dalam desain link fiber optik, biasanya terdapat dua analisa
yang harus dikerjakan untuk memastikan bahwa sistem
melakukan keperluan yang kita inginkan, yaitu power
budgeting dan rise time budgeting.
Power budgeting memastikan bahwa daya yang cukup
diterima oleh penerima sehingga error pada detector dibawah
dari batasan tertentu. Rise time budgeting memastikan bahwa
bandwidth sistem keseluruhan mampu menangani bit rate.
Bandwidth dan Rise Time
Dalam sistem komunikasi optik, deretan pulsa dibentuk
dengan menghidup dam mematikan sumber optik seperti diode
laser atau LED. Adanya pulsa cahaya berhubungan dengan
biner 1 dan tidak adanya pulsa cahaya beruhubungan dengan
biner 0.
Dua teknik umum yang dipakai untuk mewakili deretan pulsa
digital adalah format nonreturn to zero (NRZ) dan return to
zero (RZ).
Dalam format NRZ, lamanya masing-masing pulsa digital
sama dengan priode pulsa sedangkan dalam RZ lamanya pulsa
lebih pendek dari periode pulsa (perhatikan Gambar 2).
Gambar 2. Deretan Pulsa Digital 00101110110 dalam Format NRZ
dan RZ
Bandwidth f yang diperlukan oleh skema RZ dan NRZ
f B untukRZ (1)
f B/2 untuk NRZ (2)
dengan B = bit rate =
T
1
Metode lain untuk mewakili keperluan bandwidth adalah
melalui parameter yang disebut dengan rise time T
r
, yaitu
waktu yang diperlukan oleh sistem untuk naik dari 10% ke
90% dari nilai maksimum untuk input berupa fungsi step
(tangga). Bandwidth dan rise time memiliki hubungan:
T
r
=
f
35 , 0
(3)
T
r
=
B
35 , 0
untuk RZ (4)
T
r
=
B
70 , 0
untuk NRZ (5)
2. Noise dalam Proses Deteksi
Photodetektor merupakan detector cahaya yang berfungsi
untuk mengubah cahaya menjadi sinyal listrik (PIN atau APD)
Ketika cahaya jatuh pada photodetektor, pasangan electron-
hole dibangkitkan yang akan menghasilkan arus listrik.
Proses konversi dari cahaya ke arus listrik diikuti oleh
bangkitnya noise.
Dua mekanisme noise yang paling penting dalam prose
tersebut adalah Shot Noise dan Thermal Noise.
2.1 Shot Noise
i
NS
2
= 2 e (I + I
d
) f (6)
i
NS
2
= kuadrat rata-rata arus shot noise
e = muatan electron
f = bandwidth deteksi
I
d
= dark current
I = R P = arus rata-rata yang dibangkitkan oleh detector
R = responsivity
P = Daya optic
Contoh 1:
Photodiode PIN silicon beroperasi pada 850 nm dengan dark
current sebesar 1 nA. Untuk masukan daya optik sebesar 1 W,
dengan responsivity sebesar 0,65 A/W, memiliki arus:
I = R P 0,65 A
Dark current seperti detector tersebut yaitu 1 nA, sangat kecil
dibandingkan dengan arus sinyal yaitu 650 nA, dan karenanya dapat
diabaikan dalam perhitungan shot noise. Sehingga untuk detector
dengan bandwidth 100 MHz:
i
NS
2
= 2 x 1,6 x 10
-19
x 0,65 x 10
-6
x 10
8
2,08 x 10
-17
A
2
dan arus shot noise rms adalah:
i
NS
2
4,6 nA
2.2 Thermal Noise
i
NT
2
=
L
R
f T
B
k 4
(7)
k
B
= konstanta Boltzman = 1,38 x 10
-23
J/K
T = Temperatur
f = bandwidth deteksi

Contoh 2:
Untuk parameter dengan nilai R
L
= 500 , f = 100 MHz, dan
T = 300 K memberikan nilai arus noise thermal:
i
NT
2
= 3,3 x 10
-15
A
2
.
dan arus noise thermal rms = 5,75 x 10
-8
A. Perbandingan antara
contoh 1 dengan contoh 2 menunjukkan dalam situasi tersebut noise
thermal lebih mendominasi.
2.3 Signal to Noise Ratio
Salah satu parameter yang paling penting dalam deteksi adalah
SNR yang didefinisikan sebagai:
SNR =
noise daya total
daya rata rata

sinyal
(8)
Jika P mewakili daya optik yang datang pada photodetector
dengan responsitivity R, maka arus sinyal adalah RP dan daya sinyal
listrik sebanding dengan R
2
P
2
. Total daya noise sebanding dengan
total kuadrat rata-rata arus noise yang merupakan jumlah dari shot
noise dan thermal noise. Jadi SNR:
SNR =
L
R
f T
B
k
f
d
I I e
P R

+ +
4
) ( 2
2 2
(9)

Dalam persamaan (9) yang mendefinisikan SNR, biasanya salah
satu dari noise (shot atau thermal noise) pada penyebut
mendominasi tergantung pada kondisi operasi.
SNR =
f
d
I RP e
P R
+ ) ( 2
2 2
(shot noise limited) (10)
SNR =
f T
B
k
L
R P R
4
2 2
(thermal noise limited) (11)
Contoh 3:
Pertimbangkan photodiode PIN silicon dengan R = 0,65
A/W, I
d
1 nA, R
L
= 1000 yang beroperasi pada 850 nm. Jika
daya optik yang datang sebesar 500 nW dan bandwidth sebesar 100
MHz, maka:
Arus sinyal I = R P
= 0,65 x 5 x 10
-7
= 0,325 A
Arus shot noise rms karena sinyal = (2eRPf)
1/2
3,2 nA
Arus shot noise rms karena dark current = (2eI
d
f)
1/2
0,18 nA
Arus noise thermal rms:
2 / 1
4

,
_


L
R
f T
B
k
40,7 nA
Karena itu, untuk detektor ini arus noise thermal sekitar 12 kali
kebih besar dari arus shot noise sinyal dan 225 kali lebih besar dari
dark current.
SNR yang berhubungan dengan daya yang datang adalah
sebesar 63 18 dB.
Persamaan (6) (11) valid untuk detector PIN yang
tidak memiliki gain internal
Detektor APD memiliki gain internal yang dinyatakan
dengan M, maka untuk daya optik input P, arus sinyal yang
dihasilkan adalah:
I = M R P (12)
dan daya sinyal listrik sebanding dengan M
2
R
2
P
2
.
Thermal noise untuk APD sama seperti halnya pada PIN dan
dinyatakan dengan persamaan (7), sedangkan untuk shot noise
dinyatakan sebagai:

f
d
I RP e
x
M
NS
i +
+
) ( 2
2 2
(13)
dengan M
x
= excess noise. (x = 0, tidak adanya excess noise).
Tipe APD x
APD Silicon 0,3
APD InGaAs 0,7
APD Germanium 0,1
Sehingga SNR untuk detector APD dinyatakan sebagai:
SNR =
L
R
f T
B
k
f
d
I RP
x
eM
P R M

+ +
+
4
) (
2
2
2 2 2
(14)

Contoh 4:
Perimbangkan detector APD dengan M = 50 dan x = 0 (tidak
terdapat excess noise). Jika dipakai parameter seperti contoh 3,
maka dalam hal ini:
Arus sinyal = 50 x 0,65 x 5 x 10
-7
16,25 A
Arus shot noise rms karena sinyal = (2eM
2
RPf)
1/2
161 nA
Noise dark current rms = (2eM
2
I
d
f)
1/2
8,9 nA
Thermal noise tetap sama yaitu 40,7 nA.
SNR dalam hal ini adalah:
SNR =
2
7 , 40
2
9 , 8
2
161
2
)
3
10 25 , 16 (
+ +
x
9548 39,8 dB
Nilai SNR detector APD ini (39,8 dB) merupakan perbaikan
yang sangat signifikan terhadap SNR detector PIN yang bernilai 18
dB (lihat contoh 3).
Jika dalam persamaan (14) thermal noise dominan terhadap shot
noise, maka SNR dinyatakan sebagai:
SNR =
f T
B
k
L
R P R M
4
2 2 2
(thermal noise limited) (15)
Nilai SNR ini diperbaiki dengan factor M
2
berkenaan dengan
persamaan (11) (detector PIN).
Namun jika M bernilai besar, maka detektor akan menjadi shot
noise limited dan thermal noise diabaikan sehingga persamaan (14)
menjadi:
SNR =
f
d
I RP
x
eM
P R
+
+
) (
2
2
2 2
(shot noise limited) (16)
Nilai SNR ini lebih buruk dibandingkan dengan detector PIN karena
excess noise M
x
pada detector APD (lihat persamaan (10)).
Jadi dalam operasi thermal noise yang dominan, APD
memiliki SNR yang lebih baik dan karenanya labih
menarik dibandingkan PIN.
Persamaan (14) dapat ditulis kembali sebagai:
SNR =
L
R
fM T
B
k
f
d
I RP
x
eM
P R
2
4
) (
2
2
2 2

+ +
+
(17)
Berdasarkan persamaan (17), bagian kedua dari penyebut
(berhubungan dengan thermal noise) nilainya berkurang dengan
meningkatnya nilai M, dan bagian pertama (berhubungan dengan
shot noise) nilainya meningkat dengan meningkatnya nilai M. Jadi,
terdapat nilai factor pengali M yang optimum untuk memperoleh
nalai SNR yang maksimum. Nilai SNR yang maksimum akan
berhubungan dengan nilai penyebut yang minimum dalam
persamaan (17), berkenaan dengan nilai M. Dengan
mendeferensialkan penyebut persamaan (17) dan menyamakan
dengan nol, diperoleh nilai M yang optimum:
) (
4
2
d
I RP
L
xeR
T
B
k
x
op
M
+

+
(18)
Contoh 5
Pertimbangkan deteckor APD silicon yang beroperasi pada
300 K, dengan R
L
= 1000 dan daya optik input sebesar 100 nW.
Khasnya nilai R = 0,65 A/W dan x = 0,3.
Dengan mengabaikan dark current, berdasarkan persamaan (18)
diperoleh:
M
op
42.
SNR APD untuk f = 100 MHz adalah
SNR = 577 27,6 dB
SNR untuk PIN (M = 1) adalah:
SNR 2,5 4 dB.
Jadi dalam kasus ini, SNR APD mendapatkan perbaikan sebesar
23,6 dB dibandingkan dengan PIN.

Contoh 6
Pertimbangkan APD germanium dengan responsitivity R =
0,45 A/W yang beroperasi pada 1300 nm dan 300 K.
Untuk germanium x = 1, sehingga:
M
op
=
3 / 1
) (
4
1
1
1
]
1

+
d
I RP
L
eR
T
B
k
Jika P = 500 nW dan mengabaikan I
d,
dan R
L
= 1000 ,
M
op
7,7
Nilai SNR yang diperoleh akan lebih kecil dibandingkan dengan
PIN.
3. Desain Sistem
Link komunikasi fiber optik yang paling sederhana adalah link
point- to-point, yaitu sebuah transmitter pada satu sisi
mengirim informasi disepanjang link fiber optik ke sebuah
receiver pada sisi yang lain
Desain sistem seperti tersebut melibatkan banyak aspek seperti
tipe sumber yang dipakai (LED atau LD), tipe fiber
(multimode atau single mode) dan photodetector (PIN atau
APD).
Pemilihan berbagai macam komponen tertantung pada jarak
antara transmitter dengan receiver, kecepatan informasi. biaya,
ketahanan komponen, kemungkinan upgrade, dll juga
merupakan hal yang penting.
Desain sistem fiber optik dilakukan dengan mamakai power
budget dan rise time budget
3.1 Power Budget
Ketika cahaya merambat dari sumber menuju deteckor, cahaya
mengalami beberapa loss yaitu:
Coupling loss ketika sumber mengkopel cahaya ke fiber optik
Loss transmisi ketika cahaya merambat pada fiber optik
Loss akibat adanya sambungan dan konektor
Jika P
i
dan P
o
adalah daya yang dipancarkan oleh sumber dan datang
pada detector, maka total loss dalam dB adalah:
Loss = 10 log

,
_

i
P
o
P
(19)
Terpisah dari loss yang sebenarnya dialami, ketika mendesain link
biasanya dimasukkan margin 6 8 dB untuk mengatasi akibat loss
yang berasal dari sambungan atau komponen yang mungkin harus
ditambahkan pada waktu yang akan dating, serta untuk mengijinkan
setiap keburukan komponen akibat umur komponen tersebut.
Jika seluruh loss dinyatakan dalam dB, maka daya yang diterima
oleh receiver untuk daya sumber P
i
(dBm) adalah:
P
o
= P
i
N
c
l
c
N
s
l
s
- L
t
(20)
dengan l
c
= connector loss
N
c
= jumlah konektor
l
s
= loss pada setiap sambungan
N
s
= jumlah sambungan

t
= fiber transmission loss (dB/km)
L = panjang total fiber (km).
Jika P
m
mewakili margin daya ( khasnya 6 8 dB), dan P
min
maka:
P
o
P
m
> P
min

Contoh 7
Asumsikan bahwa diperlukan untuk menginstall/memasang link 40
km dengan fiber yang memiliki loss sebesar 0,5 dB/km, dan
senstivitas receiver adalah 39 dBm. Terdapat empat sambungan
dengan loss pada setiap sambungan adalah 0,5 dB dan dua konektor
dengan loss masing-masing 1 dB. Jika margin adalah 6 dB, maka
daya sumber harus melebihi:
P
i
= Pmin + P
m
+ 2l
c
+ 4l
s
+ L
t

= -39 + 6 + 2x1 + 4x0,5 + 40x0,5
= -9 dBm = 0,13 mW.

3.2 Rise Time Budget
Rise time budget adalah analisis untuk menentukan apakah
sistem yang dimaksud akan dapat beroperasi dengan tepat pada bit
rate yang diperlukan, karena dispersi link dan batasan kecepatan
respon transmitter dan receiver.
rise time suatu peralatan adalah waktu yang dibutuhkan oleh
respon untuk naik dari 10% ke 90% nilai output, ketika input
berupa fungsi step.
Total rise time (
s)
yang merupakan kombinasi dari berbagai
elemen link didekati dalam hubungannya dengan rise time
masing-masing elemen
i


s
=
2 / 1
1
2

,
_

N
i
i
(21)
Dalam sistem komunkasi fiber optik, total rise time link
ditentukan oleh rise time transmitter (
t
), link fiber (
f
), dan
receiver (
r
):

s
=
2 / 1
2 2 2

,
_

+ +
r
f
t
(22)
Rise time fiber didekati dengan dispersi pulsa, jadi rise time untuk
tipe fiber yang berbeda dapat ditulis sbb:
Intermodal Dispersion
a. Multimode step index fiber

im
= L
c
n
1
(23)
b. Multimode graded fiber
Parabolic index:

im
= L
c
n
2
.
2
1
(24)
Optimum profile:

im
= L
c
n
2
.
8
1
(25)
Material Dispersion

m
85 L ps (
0
~ 850 nm)

0,5 L ps (
0
~ 1300 nm)
20 L ps (
0
~ 1500 nm) (26)
dengan L dalam satuan Km dan dalam satuan nm.
Total rise time fiber untuk multimode fiber adalah (dengan
mengabaikan waveguide dispersion):

f
= (
2 / 1
)
2 2
m
im
+
(27)

Untuk single mode fiber (karena = D.L.), diperoleh:

f
D.L.
2 L (
0
~ 1300 nm,
z
~ 1300 nm)
16 L (
0
~ 1550 nm,
z
~ 1300 nm)
2 L (
0
~ 1550 nm,
z
~ 1550 nm) (28)
= lebar spectrum sumber
L = panjang fiber

0
= panjang gelombang yang beroperasi

z
= panjang gelombang dengan dispersi nol.
Sekali total rise time link dihitung dengan memakai persamaan (22),
diperoleh bit rate maksimum yang diijinkann melalui link fiber
sebagai:
B
s

35 , 0

untuk RZ

B
s

7 , 0

untuk NRZ (29)


(1) Untuk multimode step index fiber, pulse spread hampir
sangat tidak tergantung dari lebar spectrum sumber, karena
disperi intermodal jauh lebih besar dari dispersi materi.
Dengan mengambil nilai yang khas n
1
= 1,46, = 0,01
diperoleh bahwa rise time karena fiber adalah
f
50
ns/km. Dengan memakai persamaan (29), dapat dilihat
bahwa bit rate maksimum yang dapat ditangani oleh fiber
adalah 0,7/(50x10
-9
) 14 Mb.km/s
(2) Pertimbangkan parabolic index multimode fiber dengan
dispersi intermodal yang dinyatakan oleh persamaan (24)

im
=
L
c
n
2 1
.
2

Untuk n
1
= 1,46, = 0,01, diperoleh
im
0,24 ns/km.
Untuk panjang gelombang yang beroperasi pada 850 nm,
dispersi materi diberikan oleh persamaan (26). Jika sumber
adalah laser diode dengan lebar spectrum 1 nm, maka
kontribusi dispersi materi adalah 85 ps/km dan total rise
time fiber (0,24
2
+ 0,085
2
)
1/2
0,25 ns/km, yang
memberikan bit rate maksimum yang diperbolehkan sebesar
0,7/(0,25x10
-9
) 2,8 Gb.km/s.
Namun, jika sumber adalah LED dengan 25 nm,
maka
m
2,125 ns/km dan total rise time fiber adalah
(0,24
2
+ 2,125
2
)
1/2
2,14 ns/km. Jadi, dalam hal ini rise
time dibatasi karena dispersi materi dan bit rate maksimum
adalah 0,7/(2,14x10
-9
) 300 Mb.km/s.
Estimasi di atas mengabaikan kontribusi rise time sumber
dan detector. Jika diasumsikan rise time sumber LED
adalah 5 ns dan detector seb esar 1 ns, maka total rise time
sIstem untuk fiber dengan panjang 10 km adalah:
[(2,14x10)
2
+ 5
2
+ 1
2
]
1/2
22 ns yang memberikan bit rate
maksimum (untuk 10 km) sebesar 32 Mb/s.
Sistem komunikasi fiber optik generasi I memakai 850 nm
LED (dengan ~ 25 nm), loss fiber 3 dB/km, spasi
repeater ~ 10 km, dan bit rate sebesar 45 Mb/s.
(3) Jika panjang gelombang yang beroperasi sekitar 1300 nm,
dispersi materi akan menjadi sangat kecil dan, bahkan
dengan ~ 100nm, rise time karena dispersi materi
0,05 ns/km yang diabaikan jika dibandingkan dengan
dispersi intermodal 0,15 ns/km.
Dengan mengasumsikan rise time (LED) sebesar 5 ns dan
detector sebesar 1 ns, total rise time untuk 30 km adalah
[(0,15x30)
2
+ 5
2
+ 1
2
]
1/2
6,8 ns, yang memberikan bit rate
maksimum sekitar 100 Mb/s.
Sistem fiber optik generasi II memakai 1300 nm LED
(dengan ~ 25 nm) loss fiber ~ 1 dB/km, spasi repeater
sebesar 30 km dan bit rate ~ 45 Mb/s.
(4) Pergeseran berikutnya adalah memakai single mode fiber
sebagai pengganti multimode fiber dan beroperasi sekitar
1300 nm, dimana dispersi melewati nol. Dengan
mengasumsikan dispersi yang khas 2 ps/km.nm pada
panjang gelombang yang beroperasi (1300 nm) dan laser
diode dengan = 2 nm, rise time fiber hanya 4 ps/km.
Jika rise time sumber dan detector diasumsikan masing-
masing sebesar 0,5 ns, maka dengan asumsi panjang fiber
50 km, total rise time sistem adalah (0,2
2
+ 0,5
2
+ 0,5
2
)
1/2

0,73 ns, dan bit rate maksimum adalah 0,96 Gb/s.
Sistem fiber optik generasi III memakai 1300 nm laser
diode (dengan ~ 2nm), dengan single mode fiber yang
memiliki loss ~ 0,8 dB/km. Spasi repeater sekitar 40 km
dan bit rate sekitar 500 Mb/s.
(5) Ketika panjang gelombang yang beroperasi digeser ke 1550
nm, total dispersi dapat dibuat menjadi sangat kecil (

2
ps/km.nm) dengan dispersion shifted fiber (DSF
S
). Loss
fiber pada panjang gelombang ini ~ 0,25 dB/km.
Sistem fiber optik generasi IV memakai 1550 nm laser
diode dengan DSF
S
dan spasi repeater adalah 100 km.
Sistem yang beroperasi pada 2,5 Gb/s dan yang lebih tinggi
memakai laser diode dan photodetector kecepatan tinggi.
Evolusi generasi sistem fiber optic

Contoh 8
Pertimbangkan rise time budget untuk transmisi 400 Mb/s NRZ
pada fiber optik 100 km dengan BER 10
-9
.
Karena B = 400 Mb/s, total rise time sistem adalah:

s
=
B
7 , 0
1,75 ns
Jika dialokasikan seluruh rise time pada fiber optik 100 km,
hal ini meyatakan dispersi pulsa kurang dari 1,75 x 10
-9
/100 =
1,75 ps/km. Sudah tentu multimode fiber tidak dapat dipakai
dan link harus berdasarkan single mode fiber
Karena pada 1300 nm loss fiber sebesar 0,4 dB/km, fiber optik
100 km akan menghasilkan loss 40 dB (terpisah dari loss
konektor dan sambungan), yang juga terlalu besar. Sehingga
perlu memakai transmisi 1550 nm.
Fiber dispersi nol 1300 nm memiliki dispersi sekitar 16
ps/km.nm pada 1550 nm. Dalam hal ini, tidak dapat dipakai
laser semikonduktor multifrekuensi (Fabry Perot Laser)
karena lebar spektrumnya 4 nm dan, dengan jelas fiber 100 km
akan mengalami dispersi pulsa sebesar 16 x 100 x 4 = 6,4 ns,
yang jauh lebih besar dari nilai yang diijinkan 1,75 ns untuk
sistem 400 Mb/s.
Karena itu, harus dipakai laser dioda satu frekuensi yang
memiliki lebar spectrum yang khas 0,15 nm. Dengan memakai
laser tersebut, dispersi pulsa karena fiber adalah 16 x 100 x
0,15 = 0,24 ns, yang jauh lebih kecil dari rise rise time yang
diijinkan 1,75 ns.
Jika diasumsikan rise time 1 ns untuk transmitter laser, maka
rise time phorodiode yang diijinkan adalah:

r
= (
2 / 1 2 2 2
)
t f s

= (1,75
2
0,24
2
1
2
)
1/2
1,42 ns.
Untuk power budget, asumsikan bahwa pigtail laser diode memiliki
daya output sebesar 1 mW (=0 dBm) dan sistem memiliki dua
konektor (masing-masing memiliki loss sebesar 1 dB) dan 10
sambungan dengan masing-masing loss sebesar 0,1 dB. Dengan
mengasumsikan redaman fiber sebesar 0,25 dB/km pada 1550 nm,
maka daya yang mencapai detector adalah:
P
rec
= (0 2 10x0,1 100x2,5) dBm
= -28 dBm.
Pada bit rate 400 Mb/s dengan R = 0,65 A/W, C = 1pF, dan SNR =
144 (untuk BER = 10
-9
), sensitivitas PIN (berdasarkan persamaan
(25)) adalah 29,2 dBm. Jadi, hanya terdapat margin sebesar 1,2 dB.
APD dapat memberikan perbaikan sebesar 10 dB (dibawah kondisi
thermal noise limited) dan karenanya dapat dipakai dalam link saat
ini.
4. Jarak Transmisi Maksimum Akibat Redaman dan Disperi
Pada bagian ini akan diperoleh panjang maksimum link tanpa
repeater akibat redaman dan dispersi fiber. Hal ini bukan merupakan
batasan yang mendasar karena jarak tersebut dapat dilampui dengan
memakai komponen-komponen seperti penguat optik,
pengkompensasi dispersi, dsb.
4.1 Batas Redaman
Data yang ditransmisikan, yang diwakili oleh deretan pulsa
digital untuk dideteksi dengan BER kurang dari nilai tertentu
(khasnya 10
-9
), akan terdapat jumlah minimum photon per bit
informasi. Jika jumlah photon ini adalah N
P
, maka untuk bit rate B,
daya terima minimum rata-rata adalah:
2
Bhv
P
N
r
P
(30)
dengan hv adalah energi masing-masing photon yang diterima.
Jika mewakili koefisen loss fiber dalam dB/km, maka untuk
daya yang dipancarkan P
i
, daya optik yang diterima pada panjang L
adalah:
P
o
= P
i
10
-

L/10
(31)
Jadi, jika daya yang diterima adalah minimal P
r
, maka panjang
maksimum link yang diijinkan adalah:
L
max
=

,
_

,
_

Bhv
P
N
i
P
r
P
i
P 2
log
10
log
10

(32)
Perhatikan bahwa panjang link maksimum yang diijinkan yang
dibatasi loss, menurun terhadap bit rate.
Contoh 9
Sistem yang beroperasi pada 1300 nm memiliki koefisien loss
fiber = 0,4 dB/km. Asumsikan daya input sebesar 0 dBm (P
i
= 1
mW) dan N
P
= 1000. Tentukan panjang link maksimum untuk bit
rate sebesar 2,5 Gb/s.
Penyelesaian:
L
max
=

,
_

Bhv
P
N
i
P 2
log
10


=
km
x x x x x x
x x x
93
8
10 3
34
10 63 , 6
9
10 5 , 2 1000
6
10 3 , 1
3
10 2
log
4 , 0
10

,
_

Catatan
hv = h c/ (lambing v = f = frekuensi).
Contoh 10
Untuk sistem yang beroperasi pada 1550 nm memiliki
koefisien loss fiber = 0,2 dB/km. Asumsikan daya input sebesar 0
dBm (P
i
= 1 mW) dan N
P
= 1000. Tentukan panjang link maksimum
untuk bit rate sebesar 2,5 Gb/s.
Penyelesaian:
L
max
=

,
_

Bhv
P
N
i
P 2
log
10

= 190 km.
Dua contoh di atas menunjukkan keuntungan memakai panjang
gelombang 1550 nm dimana redaman minimum untuk fiber silica.
4.2 Batas Dispersi
Terpisah dari redaman atau loss, dispersi juga membatasi jarak
jangkau tanpa repeater dalam sistem komunikasi optik. Pelebaran
pulsa menyebabkan pulsa-pulsa yang berdekatan saling tumpang
tindih, yang menghasilkan error.
Kriteria yang dipakai secara umum untuk dispersi pulsa
maksimum yang diijinkan adalah:

4
T
(33)
dengan T adalah durasi bit. Dalam hubungannya dengan bit rate B
(=1/T), persamaan di atas dapat ditulis sebagai:
4 B

1 (34)
Untuk single mode fiber, dispersi dinyatakan sebagai:
= D L (35)
dengan D = koefisien dispersi
L = panjang fiber
= lebar spectral sumber cahaya
Substitusi dalam persamaan (33), diperoleh perkalian bit rate
dengan panjang fiber sebagai:
B.L
km s Gb
nm km nm ps D D
. /
) ( ) . / (
250
4
1

(36)
Untuk konvesional fiber single mode dengan dispersi sebesar
nol pada 1300 nm, didapat parameter = 1 nm, D = 1
ps/nm.km. Jadi, B.L < 250 Gb/s.km, yang menyatakan pada
2,5 Gb/s jarak maksimum repeater adalah 100 km.
Dengan mengoperasikan fiber tersebut pada 1550 nm, dengan
D = 16 ps/nm.km (asumsikan = 1 nm) diperoleh B.L < 15
Gb/s.km
Jadi, pada 2,5 Gb/s, panjang fiber optik tanpa repaeater (jarak
maksimum repeater) hanya 6 km. Hal ini menunjukkan
pengurangan yang sangat signifikan dalam panjang tanpa
repeater (jarak maksimum repeater).
Asumsikan, laser adalah single frekuensi (seperti DFB (Distributed
Feedback) laser) dan lebar spektrum akibat modulasi jauh lebih
besar dari spektrum laser. Jika,
0
mewakili lebar pulsa input, maka
lebar spektrum akibat modulasi adalah:
v ~
0
1

(37)
Dalam hubungannya dengan panjang gelombang persamaan (37)
menjadi:
0
2
0

c
(38)
Asumsikan deretan pulsa NRZ:
B
1
0
(39)
Dengan memakai persamaan (38), (39) dalam (35) diperoleh:
B
2
.L

2
0
4 D
c
(40)
Perhatikan bahwa dalam kasus ini, dengan menduakalikan bit rate
akan mengurangi jarak repeater maksimum dengan faktor 4. Hal ini
berlawanan dengan kasus dimana spektrum sumber memiliki lebar
yang besar (Persamaan 36), dengan menduakalikan panjang fiber
akan mengurangi bit rate B dengan faktor 2.
Pertimbangkan fiber single mode yang konvesional beroperasi
pada 1300 nm dengan D = 1 ps/nm.km, maka:
B
2
.L

4,4 x 10
4
(Gb/s)
2
.km dan pada 2,5 Gb/s, L

7040 km
dan pada 10 Gb/s, L

440 km.
Dengan mengoperasikan fiber ini pada 1550, D = 16
ps/nmn.km, maka:
B
2
.L

2750 (Gb/s)
2
.km dan pada 2,5 Gb/s, L

440 km dan
pada 10 Gb/s, L

27,5 km
Jika dipakai DSF (Dispersion Shifted Fiber) yang beroperasi pada
1550 nm, maka D = 1 ps/nm.km dan diperoleh:
B
2
.L

3,12 x 10
4
(Gb/s)
2
.km dan pada 2,5 Gb/s, L

4992 km
dan pada 10 Gb/s, L

312 km
Batas panjang tanpa repeater ketika ditentukan oleh dispersi dalam
fiber single mode diplot dalam Gambar 3. Perhatikan, dengan
pemakaian DSF bahkan pada 10 Gb/s system fiber optik adalah
dibatasi loss dari pada dibatasi dispersi (loss lebih menentukan
panjang maksimum)
Gambar 3. Jarak Transmisi Maksimum ketika ditentukan oleh
Redaman dan Dispersi

Anda mungkin juga menyukai