Anda di halaman 1dari 30

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Gambaran Umum Desa Tajur Sindang

Kec. Sukasari Kec. Jatiluhur

Panyindangan

Cijantung

Tajursindang Sukajaya

Sindanglaya

Kec. Tegalwaru

Sukamaju Malangnengah Sukatani Cipicung Cilalawi Cibodas Pasirmunjul

Kec. Plered

Citra Cianting

Kec. Darangdan

Desa Tajur Sindang merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta dengan jarak tempuh dari Puskesmas Sukatani di Desa Sukatani selama 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Desa Tajur Sindang mempunyai luas daerah 505 km2 yang terdiri dari 6 RW dan 21 RT dengan salah satu lokasinya yaitu RW 04 sangat rawan tanah longsor. Jumlah penduduk Desa Tajur Sindang sebanyak 5.618 jiwa yang terdiri dari 1.324 KK

(Kepala Keluarga) dan kepadatan penduduk sebesar 11 penduduk per km2. Jumlah penduduk miskin Desa Tajur Sindang sebanyak 435 KK (32,9 %)

5.1.2

Karakteristik Responden

1. Usia responden saat menikah Karakteristik responden berdasarkan usia Ibu saat menikah dibagi menjadi beberapa kelompok umur. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Usia saat menikah di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012

USIA (tahun) 14 15 - 20 21 - 26 27 - 32 33 - 38 39 - 44 45 - 49 TOTAL

f 83 293 17 7 0 0 0 400

% 20,75 73,25 4,25 1,75 0 0 0 100

Berdasarkan tabel 5.1 diatas diperoleh hasil bahwa kebanyakan responden menikah pada usia muda yaitu sebesar 73,25 % menikah antara 15 20 tahun dan sebesar 20,75 % yang menikah pada usia belum cukup umur yaitu kurang dari 14 tahun. 2. Lama Pernikahan

Lama pernikahan dari seluruh responden dapat diamati pada tabel di bawah ini: Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Usia Pernikahan di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 Usia Pernikahan (tahun) 1 - 6 tahun 7 - 12 tahun 13 - 18 tahun 19 - 24 tahun 25 - 30 tahun 31 - 36 tahun TOTAL f 108 105 77 60 30 20 400 % 27 26,25 19,25 15 7,5 5 100

Berdasarkan tabel 5.2 diatas didapatkan hasil bahwa sebanyak 27 % Pasangan Usia Subur mempunyai usia pernikahan yang masih muda yaitu selama 1 6 tahun. 3. Jumlah anak Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah anak di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 JUMLAH ANAK Tidak mempunyai anak 1 Anak 2 Anak 3 - 5 Anak 6 - 8 Anak 9 Anak TOTAL JUMLAH 55 105 100 128 10 2 400 % 13,75 26,25 25 32 2,5 0,5 100

Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan hasil bahwa sebanyak 13,75 % PUS tidak mempunyai anak, 26,25 % mempunyai 1 anak, dan 25 % mempunyai 2 anak.

Akan tetapi, sebagian besar PUS yaitu sebanyak 32 % mempunyai anak lebih dari dua yaitu sebanyak 3 5 orang anak. 4. Rerata jarak anak Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Rerata jarak anak di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 Rerata jarak anak 1 - 4 tahun 5 - 8 tahun 9 - 12 tahun 13 - 16 tahun TOTAL Jumlah 108 90 37 5 240 % 45 37,5 15,42 2,08 100

Berdasarkan tabel 5.4 di atas, diketahui bahwa sebanyak 45% responden mempunyai rata-rata jarak anak 1 4 tahun. Akan tetapi, masih ada sekitar 15,42 % dan 2,08 % PUS dengan rata-rata jarak anak 9 12 tahun dan 13 16 tahun. 5. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan responden adalah pendidikan terakhir yang ditamatkan responden. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat

digambarkan seperti tabel di bawah ini: Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 Pendidikan Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perguruan Tinggi f 222 130 35 5 8 % 55,5 32,5 8,75 1,25 2

TOTAL

400

100

Berdasarkan tabel 5.5 di atas diketahui bahwa sebagian besar responden sebanyak 88 % yang pernah menempuh pendidikan setingkat SD (Sekolah Dasar) yaitu 55,5 % responden bahkan tidak tamat SD dan hanya sebanyak 32,5 % dari 400 responden yang tamat SD. 6. Pekerjaan responden Pekerjaan responden adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh istri seharihari sebagai pendukung suami sebagai kepala rumah tangga dengan memperoleh penghasilan dari pekerjaannya tersebut sehingga dapat membantu kebutuhan keluarganya. Distribusi pekerjaan responden berdasarkan jenis pekerjaanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Buruh TKW Karyawan Pedagang Guru Kader Lain-lain f 357 43 15 3 10 5 5 2 3 % 89,25 10,75 34,88 6,98 23,26 11,63 11,63 4,65 6,98

Berdasarkan tabel 5.6 di atas didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 89,25 % tidak bekerja dan hanya 10,75 % yang bekerja dengan jenis pekerjaan terbanyak adalah buruh yaitu sebesar 34,88 % dari total responden yang bekerja.

7. Penghasilan Penghasilan adalah pendapatan yang dihasilkan setiap bulan. Distribusi penghasilan responden per bulan berdasarkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Purwakarta yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu sebesar 1.050.000 rupiah. Akan tetapi, berdasarkan perhitungan pekerja buruh didapatkan Upah Minimum yang seharusnya ditetapkan yaitu sebesar 1.250.000 rupiah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari pekerja. Distribusi penghasilan keluarga responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan Perbulan di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012

Penghasilan Keluarga < 1.050.000.1.050.000 - 1.250.000 > 1.250.000 TOTAL

f 365 10 25 400

% 91,25 2,5 6,25 100

Berdasarkan tabel 5.7 diatas didapatkan bahwa sebagian besar PUS yaitu sebesar 91,25 % mempunyai penghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten Purwakarta. 5.1.3 Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran masing-masing variable yang diteliti, yaitu pengetahuan, sikap, perilaku dan budaya terhadap penggunaan KB aktif. Berikut ini merupakan hasil penelitian yang dianalisis berdasarkan masingmasing variabel independen yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, yaitu sebagai berikut :

a. Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang KB dan kontrasepsi. Pengukuran pengetahuan responden pada penelitian ini dikategorikan dengan pengetahuan baik dan kurang. Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Pengetahuan terhadap KB di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 No. 1 Pertanyaan f KB (Keluarga Berencana) 345 merupakan suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi. Tujuan dari program KB 330 adalah untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Tujuan lainnya dari program 280 KB adalah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) Jumlah anak yang 200 diharuskan program KB adalah 3 orang. Yang menjadi sasaran 340 dalam program keluarga berencana (KB) adalah Pasangan usia subur (PUS) Semua alat kontrasepsi 265 bermanfaat untuk menghindari kita dari infeksi menular seksual (IMS) Metode kontrasepsi tidak 308 hanya untuk Wanita, tetapi juga bisa untuk Pria. YA % 86,25 TIDAK f % 55 13,75

82,5

70

17,5

70

120

30

50

200

50

85

60

15

66,25

135

33,75

77

92

23

Metode alat kontrasepsi 320 permanen pada wanita adalah Sterilisasi Usia yang bisa 288 menggunakan kontrasepsi permanen adalah >35 tahun yang telah memiliki 2 orang anak Usia >35 tahun mempunyai 308 faktor risiko tinggi terjadinya bahaya dalam kehamilan. Jarak kelahiran yang paling 335 baik adalah 2-4 tahun

80

80

20

72

112

28

10

77

92

23

11

83,75

65

16,25

Keseluruhan responden dianggap berpengetahuan baik bila didapatkan skor lebih dari 2200 dari total 4400. Tabel 5.8 diatas menunjukan distribusi frekuensi jawaban responden untuk variabel pengetahuan terhadap KB dengan total skor jawaban YA yang didapatkan sebesar 3189 dari total 11 pertanyaan yang terdiri dari 9 pertanyaan favourable dan 2 pertanyaan unfavourable yang diajukan pada 400 responden. Sehingga pada penelitian ini disimpulkan tingkat pengetahuan responden terhadap KB adalah baik. b. Sikap Sikap merupakan kesediaan individu terhadap KB dan penggunaan kontrasepsi. Pengukuran variabel sikap responden pada penelitian ini

dikategorikan menjadi mendukung KB dan tidak mendukung KB. Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Sikap terhadap KB di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 No. Pertanyaan f YA % TIDAK f %

Menurut Saya dengan mengikuti program KB dapat membentuk keluarga yang sejahtera dan bahagia. Saya ingin menjarangkan jarak kelahiran antara 2-4 tahun dengan menggunakan alat kontrasepsi. Jumlah anak yang saya inginkan adalah 2 orang. Saya percaya bahwa program KB itu suatu usaha yang dilakukan pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan dalam masyarakat. Saya merasa pengendalian kehamilan adalah suatu tindakan pembunuhan. Saya setuju dengan adanya program KB dapat mendukung wanita dalam menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Saya dan Suami ingin berkonsultasi metode KB terbaik kepada petugas kesehatan.

350

87,5

50

12,5

298

74,5

102

25,5

3 4

198 350

49,5 87,5

202 50

50,5 12,5

162

40,5

238

59,5

343

85,75

57

14,25

340

85

60

15

Keseluruhan responden dianggap mempunyai sikap mendukung KB bila didapatkan skor lebih dari 1400 dari total 2800 yang berasal dari 7 pertanyaan yang diajukan. Tabel 5.9 diatas menunjukan distribusi frekuensi jawaban responden untuk variabel sikap terhadap KB dengan total skor jawaban yang mendukung KB didapatkan sebesar 2117. Sehingga pada penelitian ini disimpulkan responden mempunyai sikap mendukung KB. c. Perilaku

Perilaku merupakan hasil atau tanggapan responden terhadap berbagai stimulus seperti penyuluhan dan kunjungan dari petugas kesehatan yang menjelaskan tentang KB dan metode kontrasepsi, sehingga individu memutuskan untuk menggunakan KB. Pengukuran variabel perilaku responden pada penelitian ini dikategorikan menjadi menggunakan KB dan tidak menggunakan KB. Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Perilaku

terhadap KB di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012 No. 1. Pertanyaan Apakah Saya menggunakan KB saat ini? YA f 155 % 38,75 TIDAK f % 245 61,25

Keseluruhan responden dianggap mempunyai perilaku menggunakan KB bila didapatkan skor lebih dari 220 dari total 440 yang berasal hanya dari 1 pertanyaan yang diajukan. Tabel 5.10 diatas menunjukan distribusi frekuensi jawaban responden untuk variabel perilaku terhadap KB dengan total skor didapatkan sebesar 155 yang mana kurang dari 220, sehingga pada penelitian ini disimpulkan kebanyakan responden tidak menggunakan KB. d. Budaya Budaya merupakan pandangan masyarakat setempat secara turun-temurun yang membentuk pola pikir responden dalam mendukung KB dan menggunakan kontrasepsi. Pengukuran variabel budaya responden pada penelitian ini dikategorikan menjadi mendukung KB dan tidak mendukung KB. Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Budaya

terhadap KB di Desa Tajur Sindang Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta tahun 2012

No

Pertanyaan

YA f 375 % 93,75

1 Suami Saya sangat berperan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan KB. 2 Jumlah anak mempengaruhi keputusan Saya dan Suami dalam menggunakan KB. 3 Saya dan Suami masih meyakini pandangan banyak anak banyak rejeki. 4 Dalam lingkungan Saya masih meyakini pandangan mempunyai anak dalam jumlah banyak akan merupakan jaminan di hari tua. 5 Dalam lingkungan Saya masih meyakini pandangan mempunyai anak dalam jumlah banyak akan memberikan keuntungan ekonomi. 6 Dalam lingkungan Saya masih meyakini pandangan mempunyai anak dalam jumlah banyak akan memberikan rasa aman bagi keluarga. 7 Dalam lingkungan Saya masih meyakini pandangan kelahiran anak laki-laki lebih menyenangkan dari pada anak perempuan. 8 Keluarga Saya menganggap bahwa merencanakan jumlah anak menyalahi kehendak Tuhan.

TIDAK f % 25 6,25

278

69,5

122

30,5

338

84,5

62

15,5

300

75

100

25

188

47

212

53

203

50,75

197

49,25

158

39,5

242

60,5

170

42,5

230

57,5

9 Dalam agama yang Saya yakini penggunaan kontrasepsi dilarang. 10 KB sudah umum dilakukan ditempat tinggal Saya.

190

47,5

210

52,5

338

84,5

62

15,5

Keseluruhan responden dianggap mempunyai sikap mendukung KB bila didapatkan skor lebih dari 2000 dari total 4000 yang berasal dari 10 pertanyaan yang diajukan. Tabel 5.10 diatas menunjukan distribusi frekuensi jawaban responden untuk variabel budaya terhadap KB dengan total skor jawaban yang mendukung KB didapatkan sebesar 1894 yang mana kurang dari 2000, sehingga pada penelitian ini disimpulkan responden mempunyai sikap yang tidak mendukung KB. 5.1.4 Analisis bivariat

Analisis hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (penggunaan KB aktif) dilakukan menggunakan analisis chi square, oleh karena itu kemaknaan hasil analisis akan menunjukkan ada atau tidaknya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. a. Hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan KB aktif Berikut ini adalah gambaran hubungan antara pengetahuan terhadap penggunaan KB aktif di desa Tajur Sindang kecamatan Sukatani kabupaten Purwakarta tahun 2012. Tabel 5.11 Distribusi Responden Menurut Pengetahuan dan penggunaan KB aktif PENGETAHUAN BAIK BURUK n % n % 146 36,5 9 2,25 144 36 101 25,25

KB YA TIDAK

TOTAL n 155 245 % 38,75 61,25

p < 0,001

TOTAL

290

72,5

110

27,5

400

100

Berdasarkan tabel 5.11 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang memiliki pengetahuan baik dan menggunakan KB sebesar 36,5 % kurang dan Unmet Need KB sebesar 20,2 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 79,8 %. Namun masih terdapat juga ibu yang memiliki pengetahuan baik tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 19,4 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 80,6 %. Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 1,000 yang lebih besar dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho gagal ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap terjadinya Unmet Need KB. a. Hubungan antara dukungan suami dengan terjadinya Unmet Need KB Berikut ini adalah gambaran hubungan antara dukungan suami terhadap terjadinya Unmet Need KB di Kelurahan Sempaja Selatan.

Tabel 4.10 Distribusi Responden Menurut Dukungan Suami dan Unmet Need KB

Unmet Need KB Dukungan Suami n Tidak mendukung Mendukung Total 12 54 66 Unmet Need KB % 100,0 17,1 20,1 Bukan Unmet Need KB n 0 262 262 % 0,0 82,9 79,9 N 12 316 328 % 100,0 0,000 100,0 100,0 Jumlah P

Sumber : Data Primer, 2011

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang tidak mendapat dukungan suami dan Unmet Need KB sebesar 100 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 0 %. Namun masih terdapat juga ibu yang mendapat dukungan suami tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 17,1 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 82,9 %. Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara dukungan suami terhadap terjadinya Unmet Need KB. b. Hubungan antara jumlah anak hidup terhadap terjadinya Unmet Need KB. Berikut ini adalah gambaran hubungan antara jumlah anak hidup terhadap terjadinya Unmet Need KB di wilayah kerja Kelurahan Sempaja Selatan.

Tabel 4.11 Distribusi Responden Menurut Jumlah Anak Hidup dan Unmet Need KB

Unmet Need KB Jumlah Anak Hidup Unmet Need KB n Banyak Sedikit Total 40 26 66 % 34,2 12,3 20,1 Bukan Unmet Need KB n 77 185 262 % 65,8 87,7 79,9 N 117 211 328 % 100,0 100,0 100,0 0,000 Jumlah P

Sumber : Data Primer, 2011

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang memiliki jumlah anak banyak (lebih dari 2) dan Unmet Need KB sebesar 34,2 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 65,8 %. Namun masih terdapat juga ibu yang memiliki jumlah anak sedikit (kurang dari 2 atau sama dengan 2) tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 12,3 %, sedangkan yang bukan Unmet Need KB sebesar 87,7 %. Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara jumlah anak hidup terhadap terjadinya Unmet Need KB.

A. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka

pembahasan selanjutnya mengenai faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya Unmet Need KB pada pasangan usia subur (PUS) di Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara Tahun 2010 adalah sebagai berikut :

1. Hubunggan antara pengetahuan tehadap terjadinya Unmet Need KB. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Jadi pengetahuan adalah apa yang telah diketahui oleh setiap individu setelah melihat, mengalami sejak ia lahir sampai dewasa. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Adanya hubungan antara pengetahuan dengan terjadinya Unmet Need KB dapat dijelaskan dari pengetahuan sebagai tahap awal proses pembentukan suatu prilaku yang terdiri dari pengetahuan, persuasi, keputusan dan konfirmasi. Dengan demikian pengetahuan yang baik tentang keluarga berencana akan menentukan pembentukan sikap positif, mengadopsi dan melanjutkan prilaku keluarga berencana. Apa yang disadari oleh atau kesadaran seseorang mengenai suatu gejala kesehatan tidak terpisah dari apa yang diketahuinya atau ketahuannya mengenai gejala itu, atau kesadaran mengenai gejala itu berdasarkan pada pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, konsep utama adalah pengetahuan. Hubungan pengetahuan responden dengan terjadinya Unmet Need KB sesuai dengan model alternative prilaku kesehatan, dimana menjelaskan bahwa prilaku tidak sadar/tidak tahu yang merugikan kesehatan, prilaku tidak sadar/tidak tahu yang menguntungkan kesehatan, prilaku sadar/tahu yang menguntungkan kesehatan, dan prilaku sadar/tahu yang merugikan kesehatan

(Kalangie,1994). Adapun pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup pengetahuan tentang pengertian dan tujuan dari program Keluarga Berencana (KB), pengertian dan tujuan dari alat kontrasepsi, dan jenis-jenis alat kontrasepsi yang diketahui responden. Dengan

meningkatnya pengetahuan responden dalam menjawab pertanyaanpertanyaan yang dimaksud diatas akan terjadi perubahan prilaku positif yaitu menggunakan alat/cara kontrasepsi.

Responden yang memiliki pengetahuan baik, berarti ia mampu menjawab semua pertanyaan pengetahuan yaitu pengertian program KB dan tujuannya, pengertian kontrasepsi dan tujuannya, serta jenis-jenis alat/cara kontrasepsi. Diketahui dari tabel 4.5, bahwa 89 % responden memiliki

pengetahuan kurang dan 11 % memiliki pengetahuan baik. Untuk jawaban yang diberikan responden dapat dilihat pada lampiran tabel 1 dimana responden yang paling banyak menjawab benar pada pertanyaan pengertian KB yaitu pada jawaban pengaturan kelahiran sebesar 84,5 %. Untuk jawaban benar pada pertanyaan tujuan KB yaitu pada jawaban mengatur kelahiran sebesar 88,4 %. Sedangkan untuk jawaban benar pada pertanyaan pengertian kontrasepsi paling banyak responden menjawab benar pada jawaban menunda kehamilan/menjarangkan kelahiran yaitu sebesar 91,8 %, dan untuk jawaban benar pada pertanyaan tujuan kontrasepsi paling banyak responden menjawab benar pada jawaban menunda kehamilan yaitu sebesar 92,1 %. Sementara untuk pertanyaan mengenai jenis-jenis kontrasepsi sebagian besar responden dapat menjawab semua jenis alat/cara kontrasepsi yaitu Pil (98,8 %), Suntik (98,8 %), Implant (61,3 %), Spiral/IUD (67,7 %), dan Kondom (54,6 %). Pemberian pelayanan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) mengenai KB akan dapat menambah pengetahuan bagi para pasangan usia subur tentang KB, karena pengetahuan memegang peranan yang sangat penting agar para pasangan usia subur dapat memanfaatkan alat/cara kontrasepsi demi terbinanya norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS). Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang memiliki pengetahuan kurang dan Unmet Need KB sebesar 20,2 %. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan responden yang memang kurang mengerti tentang KB dan manfaatnya. Sehingga responden tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi (Unmet Need KB).

Pengetahuan responden yang kurang dapat diketahui dari jawaban yang diberikan, bahwa masih ada responden yang sama sekali tidak mengetahui tentang KB dan tujuannya serta kontrasepsi dan tujuannya. Dan hanya mengetahui jenis-jenis alat/cara kontrasepsi saja. Misalnya dari pertanyaan mengenai pengertian KB, dari empat jawaban yang benar responden hanya menjawab satu atau dua saja jawaban yang benar yaitu pengaturan kelahiran dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, untuk tujuan dari program KB, dari tiga jawaban yang benar responden hanya menjawab satu jawaban benar yaitu mengatur kelahiran, dan untuk pertanyaan pengertian kontrasepsi dan tujuannya dari tiga jawaban benar responden hanya menjawab satu saja dari jawaban benar yaitu menunda kehamilan/menjarangkan kelahiran, dan ada juga responden yang sama sekali tidak menjawab yang artinya responden menjawab tidak tahu, sedangkan untuk pertanyaan mengenai jenis-jenis kontrasepsi sebagian besar responden mengetahui semua jawaban benar. Sedangkan yang bukan Unmet Need KB dengan pengetahuan kurang sebesar 79,8 %. Hal ini dikarenakan responden yang mendapat dukungan dari suaminya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi tapi kurang mengerti tentang kontrasepsi dan manfaatnya tersebut, sehingga responden menggunakan alat/cara kontrasepsi hanya untuk menjaga jarak kelahiran antara anak yang satu dengan yang lainnya. Namun masih terdapat juga ibu yang memiliki pengetahuan baik tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 19,4 %. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden mengalami efek samping saat menggunakan alat/cara kontrasepsi, sehingga timbul keengganan responden untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Selain itu juga dikarenakan tidak adanya dukungan dari suami. Sedangkan responden yang bukan Unmet Need KB dengan pengetahuan baik sebesar 80,6 %. Hal ini dikarenakan pengetahuan responden yang memang mengerti, mau, dan sadar untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Selain itu juga dikarena pendidikan terakhir yang

ditempuh responden cukup baik sehingga membuat responden memiliki pengetahuan yang baik pula. Jatiputra (1982) pada penelitiannya di daerah khusus ibu kota menemukan bahwa, ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemakaian alat/cara kontrasepsi. Sementara itu Klizjing E (2000) melaporkan dari hasil penelitiannya di Eropa ditemukan bahwa, tingkat pendidikan merupakan dimensi penting dari Unmet Need KB. Adanya hubungan antara pengetahuan dengan kejadian Unmet Need KB tersebut tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pendidikan, karena pendidikan merupakan prakondisi dan proses untuk meningkatkan pengetahuan, sebab pengetahuan merupakan abstraksi intelektual yang menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh dan ditingkatkan melalui aturan-aturan yang sistematis (Hardjosoedarmo, 1996). Berdasarkan hal tersebut diatas menunjukkan bahwa pasangan usia subur di Kelurahan Sempaja Selatan masih memerlukan peningkatan pelayanan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang program KB dan tujuannya serta pemanfaatan penggunaan alat/cara kontrasepsi yang aman dan nyaman bagi mereka. Berdasarkan hasil penelitian ini untuk variabel pengetahuan memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Sirodjudin Hamid (2002) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan terjadinya Unmet Need KB. Ditemukan responden dengan pengetahuan kurang, berpeluang 4,33 kali menjadi Unmet Need KB dibanding responden yang berpengetahuan baik. Hasil penelitian yang berbeda dikarenakan tempat penelitian yang berbeda pula. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ternyata sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang tetapi menggunakan alat/cara kontrasepsi (bukan Unmet Need KB). Hal ini menunjukkan bahwa

sebagian besar responden memiliki prilaku tidak sadar/tidak tahu yang menguntungkan kesehatan. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kurangnya pengetahuan responden dengan terjadinya Unmet Need KB antara lain yaitu kurangnya informasi petugas kesehatan mengenai program KB, tujuannya, serta pemanfaatan alat/cara kontrasepsi yang baik, aman, dan nyaman. Selain itu juga perlu diberikannya tindakan konseling KB kepada para pasangan usia subur atau calon pasangan usia subur melalui peranan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi secara lengkap tentang KB, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang KB dan diharapkan dapat mengurangi terjadinya kesalahpahaman tentang KB yang selama ini banyak dimiliki oleh masyarakat, yang mereka peroleh dari informasi-informasi yang kurang tepat yang berasal dari sumber yang juga kurang jelas. Hal ini sesuai dengan modifikasi antara kerangka teory Anderson (1974) dan Lawrence Green dalam Kresno 2002, yang mengatakan bahwa pengetahuan termasuk kedalam faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu merupakan salah satu faktor yang dapat memperkuat perilaku manusia, dalam hal ini perilaku yang dimaksud adalah pengunaan alat/cara kontrasepsi. Selain itu juga karakteristik responden yaitu pendidikan terakhir yang ditempuh responden dapat mengakibatkan perbedaan dalam menggunakan pelayanan kesehatan salah satunya yaitu penggunaan pelayanan KB. Pada tabel 4.2 diketahui bahwa sebagian responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik yaitu SMA/SMK dan sederajat sebesar 43,3 %. Dengan tingkat pendidikan responden yang cukup baik diharapkan dapat menghasilkan pengetahuan yang baik pula yaitu mengenai KB sehingga mereka mau menggunakan alat/cara kontrasepsi. Namun dari hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa ternyata responden yang tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi (Unmet Need KB) paling banyak

ditemukan pada responden yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah yaitu SD dan sederajat. Namun pada penelitian ini variabel pengetahuan tidak ada hubungan yang bermakna dengan terjadinya Unmet Need KB. Walaupun pendidikan responden cukup baik, namun pemahaman responden mengenai KB masih kurang. Meskipun kebanyakan responden kurang mengerti tentang KB tetapi mereka mau untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 1,000 yang lebih besar dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho gagal ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap terjadinya Unmet Need KB di Kelurahan Sempaja Selatan tahun 2010. 2. Hubungan antara dukungan suami tehadap terjadinya Unmet Need KB Dukungan suami merupakan salah satu variabel sosial budaya yang sangat berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi bagi kaum wanita sebagai istri secara khusus, dan di dalam keluarga secara umum. Budaya patrilineal yang menjadikan pria sebagai kepala keluarga yang masih banyak dianut sebagian besar pola keluarga di dunia menjadikan preferensi suami terhadap fertilitas dan pandangan serta pengetahuannya terhadap program KB akan sangat berpengaruh terhadap keputusan di dalam keluarga untuk menggunakan alat atau cara KB tertentu. Sehingga di dalam beberapa penelitian, variable penolakan atau persetujuan dari suami terbukti berpengaruh terhadap kejadian Unmet Need KB dalam rumah tangga. Kejadian Unmet Need KB seringkali terjadi ketika suami tidak mendukung terhadap penggunaan alat/cara KB tertentu yang diakibatkan adanya perbedaan fertilitas, kurangnya pemahaman terhadap alat/cara KB, takut akan efek samping, masalah sosial budaya, dan berbagai faktor lainnya.

Pembicaraan antara suami dan istri mengenai KB tidak selalu menjadi persyaratan dalam pemakaian KB, namun tidak adanya diskusi tersebut dapat menjadi halangan terhadap pemakaian KB. Komunikasi tatap muka antara suami-istri merupakan jembatan dalam proses penerimaan dan kelangsungan pemakaian kontrasepsi. Tidak adanya diskusi mungkin merupakan cerminan kurangnya minat pribadi, penolakan terhadap suatu persoalan, atau sikap tabu dalam membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek seksual. Dukungan suami yang dimaksud dalam penelitian ini hanya ingin mengetahui apakah suami mendukung atau tidak istri mereka untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Dan ada beberapa alasan mengapa suami tidak mendukung istri untuk menggunakan alat kontrasepsi, serta hal-hal apa saja yang biasa suami lakukan dalam mendukung istri menggunakan alat kontrasepsi. Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa sebagian besar responden mendapat dukungan dari suaminya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi yaitu sebesar 96,3 %, sedangkan responden yang tidak mendapat dukungan dari suaminya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi yaitu hanya sebesar 3,7 %. Hal ini menunjukkan bahwa ada respon yang baik dari suami untuk istrinya dalam menggunakan alat/cara kontrasepsi. Adapun dukungan suami yang diberikan yaitu berupa pemberian biaya, mengantarkan ketempat pelayanan KB, dan selalu mengingatkan/menyarankan kontrasepsi. Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang tidak mendapat dukungan suami dan Unmet Need KB sebesar 12 responden (100 %). Hal ini dapat diketahui dari jawaban responden mengenai alsan suami yang tidak mendukung istrinya menggunakan alat/cara kontrasepsi pada lampiran tabel 2 yaitu sebagian istri untuk menggunakan alat/cara

besar alasan suami yang tidak mendukung istrinya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi dikarenakan suami yang memang tidak mengerti tentang KB sehingga suami merasa acuh tak acuh dan tidak peduli dengan penggunaan kontrasepsi yang sangat dibutuhkan oleh istrinya. Selain itu juga ada alasan lain suami tidak mendukung istrinya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi yaitu agama, mahal, dan karena adanya efek samping yang dialami oleh istrinya. Dengan tidak adanya dukungan suami, istripun merasa enggan untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Hal ini sesuai dengan hasil analisis Kaushik (1999) dalam penelitiannya di India menunjukkan bahwa penerimaan suami terhadap KB berpengaruh signifikan terhadap kejadian Unmet Need KB, begitupula dengan penelitian yang dilakukan oleh Litbang BKKBN di Indonesia pada tahun 2004. Casterline dan koleganya pada penelitian yang dilakukan di Filipina juga menemukan kesimpulan yang sama mengenai hubungan antara penerimaan suami terhadap KB dan kejadian Unmet Need KB. Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian Bongaart dan Bruce (1995) serta Westoff dan Bankole (1995) (Isa, 2009). Sedangkan suami yang tidak mendukung dan bukan Unmet Need KB sebesar 0 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada responden yang bukan Unmet Need KB yang tidak mendapat dukungan dari suami mereka, yang artinya bahwa sebagian besar responden yang bukan Unmet Need KB telah mendapat dukungan dari suaminya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi. Namun masih terdapat juga ibu yang mendapat dukungan suami tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 17,1 %. Hal ini disebabkan karena responden yang memang tidak ingin menggunakan kontrasepsi karena ingin punya anak lagi, karena keinginannya sendiri, karena adanya efek samping, dan karena keputusan penggunaan kontrasepsi sepenuhnya kembali kepada istri, selain itu juga dikarenakan kebanyakan suami yang mendukung istrinya untuk menggunakan kontrasepsi hanya sebatas

mengingatkan/menyarankan untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi dan memberikan biaya saja. Sedangkan responden yang mendapat dukungan suami dan bukan Unmet Need KB sebesar 82,9 %. Hal ini disebabkan karena memang didasari atas keputusan bersama, suami dan istri yang memang mengerti dan sadar akan pentingnya kegunaan kontrasepsi dalam keluarga. Dan dengan adanya dukungan dari suami maka istripun merasa aman dan terlindungi oleh suaminya jika dalam penggunaan alat/cara kontrasepsi mengalami kendala ataupun efek samping dikemudian hari. Berdasarkan modifikasi antara kerangka teory Anderson (1974) dan Lawrence Green dalam Kresno 2002, dukungan suami terhadap terjadinya Unmet Need KB merupakan faktor pendukung, dimana dengan adanya dukungan dari suami dapat membebaskan istri dalam menggunakan alat/cara kontrasepsi yang mereka inginkan. Selain itu juga dengan adanya dukungan suami dapat membuat istri merasa aman dan terlindungi jika dalam menggunkan alat/cara kontrasepsi terjadi sesuatu atau efek samping, suami dapat membantu untuk mencarikan pengobatan atau alternatif lain ke tempat-tempat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Dokter praktek, Bidan, ataupun Rumah Sakit. Dukungan suami juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik responden dimana diketahui dari hasil penelitian bahwa sebagian besar suami yang mendukung istrinya untuk menggunakan alat/cara kontrasepsi bekerja dibidang swasta dengan memiliki penghasilan diatas standar upah minimum kota (UMK) yaitu sebesar Rp. 1.047.500,-. Karakteristik ini mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatan, ia tidak akan bertindak untuk menggunakannya kecuali bila ia mampu

menggunakannya. Penggunaan pelayanan kesehatan yang ada tergantung kepada kemampuan konsumen untuk membayar, yang artinya dengan memiliki pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan yang baik pula

responden mendapatkan dukungan dari suami dan mampu membayar dalam menggunakan pelayanan kesehatan salah satunya yaitu penggunaan pelayanan KB (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara dukungan suami terhadap terjadinya Unmet Need KB di Kelurahan Sempaja Selatan. Hal ini berarti bahwa di Kelurahan Sempaja Selatan dukungan suami merupakan fakor pendukung utama terhadap penggunaan alat/cara kontrasepsi.

3. Hubunggan antara jumlah anak hidup tehadap terjadinya Unmet Need KB. Jumlah anak hidup adalah jumlah anak yang dimiliki oleh pasangan usia subur (PUS), dengan tidak memperhitungkan berapa kali wanita tersebut melahirkan anak. Jumlah anak hidup sangat berpengaruh terhadap kejadian Unmet Need KB (Boer, 2005). Deklarasi Hak Asasi Manusia yang dikenal dengan deklarasi teheran, mencantumkan dua hal pokok yang berkaitan dengan hak reproduksi yaitu hak menentukan jumlah dan jarak anak dan hak mendapatkan pendidikan dasar dan informasi mengenai hal tersebut. Selanjutnya dalam Undang-Undang No.10 tahun 1992

dicantumkan tentang pengembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, juga menjamin hak dalam kedudukan yang sederajat setiap pasangan untuk mengatur jumlah dan jarak kelahiran mereka. Keputusan tentang jumlah anak adalah hak orang tua, tetapi harus diimbangi dengan kesanggupan untuk memenuhi kewajibannya. Dua orang anak adalah jumlah anak yang ideal bagi keluarga berencana.

Jumlah anak hidup yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jumlah anak yang dimiliki oleh responden yang masih hidup. Untuk variabel jumlah anak dikategorikan menjadi banyak jika jumlah anak lebih dari dua dan sedikit jika jumlah anak kurang dari dua atau sama dengan dua. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.7 bahwa paling banyak responden memiliki jumlah anak hidup sedikit (kurang dari dua atau sama dengan dua) sebesar 64,3 % dan responden yang memiliki jumlah anak hidup banyak (lebih dari dua) sebesar 35,7 %. Hubungan antara Unmet Need KB dan jumlah anak hidup sangat dipengaruhi oleh preferensi fertilitas dari pasangan. Dengan demikian, disini perlu dilihat dua kemungkinan situasi yang dapat mengakibatkan terjadinya Unmet Need KB yaitu apakah kebutuhan KB untuk menjarangkan kelahiran ataukah kebutuhan KB untuk membatasi kelahiran (tidak menginginkan anak lagi). Kedua kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh pertimbangan antara jumlah anak yang sudah dimiliki dengan preferensi fertilitas yang diinginkan oleh pasangan tersebut. Semakin besar jumlah anak masih hidup yang sudah dimiliki, maka akan semakin besar kemungkinan preferensi fertilitas yang diinginkan sudah terpenuhi, sehingga semakin besar peluang munculnya keinginan untuk menjarangkan kelahiran atau membatasi kelahiran dan begitu pula peluang terjadinya Unmet Need KB bagi wanita tersebut. Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa dari 100 % responden, ibu yang memiliki jumlah anak banyak (lebih dari 2) dan Unmet Need KB sebesar 34,2 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden memang tidak mengerti tentang program KB dan kegunaan kontrasepsi sehingga responden tidak menggunakan kontrasepsi dan mengakibatkan kurang terkontrolnya kelahiran yang terjadi, dan jumlah anak yang dimilikipun lebih dari standar yang dianjurkan oleh BKKBN.

Sedangkan yang memiliki jumlah anak banyak (lebih dari 2) dan bukan Unmet Need KB sebesar 65,8 %. Hal ini dikarenakan responden yang menggunakan KB hanya untuk menjarangkan kelahiran dan ada juga yang menyatakan karena keinginan mereka sendiri yang ingin punya anak lebih dari 2. Namun masih terdapat juga ibu yang memiliki jumlah anak sedikit (kurang dari 2 atau sama dengan 2) tetapi Unmet Need KB yaitu sebesar 12,3 %. Hal ini dikarenakan ada beberapa responden yang pada saat diwawancarai usianya masih muda atau baru memiliki anak 1 atau 2. Dan ada juga yang usianya sudah tidak muda lagi tapi anaknya masih 1 atau 2 karena faktor kesuburan yang memang agak sulit serta memang ada juga responden yang baru saja menikah dan baru memiliki jumlah anak 1 atau 2. Sedangkan yang anaknya sedikit (kurang dari 2 atau sama dengan 2) dan bukan Unmet Need KB sebesar 87,7 %. Hal ini dikarenakan responden yang memang sudah mengerti tentang program KB dan mau mengikuti program tersebut yang menganjurkan untuk memiliki 2 anak saja cukup, sehingga mereka mau menggunakan alat kontrasepsi. Dan ada juga hal tersebut dikarenakan ekonomi yang minim sehingga mereka takut untuk tidak bisa memenuhi kebutuhan yang cukup jika jumlah anak mereka lebih dari 2. Berdasarkan lampiran pada tabel 3, adapun jenis alat/cara kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh responden adalah alat/cara kontrasepsi suntik sebesar (36,3 %). Alasan responden paling banyak menyatakan merasa aman dalam menggunakan alat/cara kontrasepsi yang digunakan saat ini. Rasa aman yang dimaksud salah satunya adalah aman dari segi penggunaan dalam menunda/menjarangkan kehamilan dan kelahiran. Berdasarkan hasil penilitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syam (1993) di Bukit Tinggi Sumatera Barat, menemukan

adanya hubungan antara jumlah anak hidup dengan kejadian Unmet Need KB dan begitu juga Klizjing (2000) yang menemukan adanya hubungan yang sama. Penelitian yang dilakukan oleh Westoff dan Bankole (1995), Hamid (2002), dan Prihastuti da Djutaharta (2004) terhadap data SDKI di Indonesia juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah anak hidup dengan kejadian Unmet Need KB. Berdasarkan modifikasi antara kerangka teory Anderson (1974) dan Lawrence Green dalam Kresno 2002, jumlah anak hidup merupakan faktor kebutuhan, dimana dengan adanya jumlah anak hidup yang banyak dan kebutuhan keluarga yang tidak memadai dapat memaksa mereka untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang ada dalam penggunaan alat/cara kontrasepsi agar mereka dapat mengontrol setiap kelahiran/kehamilan. Adapun jumlah anak hidup juga termasuk dalam faktor predisposisi dimana jumlah anak hidup yang dimiliki oleh responden dapat dipengaruhi oleh persepsi/kepercayaan yang menyatakan bahwa banyak anak banyak rezeki. Sehingga mereka memang menginginkan jumlah anak banyak. Banyaknya jumlah anak hidup dapat juga dipengaruhi oleh pengetahuan responden yang kurang tentang pentingnya pemanfaatan KB sehingga mereka tidak dapat mengontrol kelahiran/kehamilan mereka. Selain itu, karakteristik umur responden juga dapat mempengaruhi jumlah anak hidup yang dimiliki responden terhadap terjadinya Unmet Need KB. Diketahui pada tabel 4.1 bahwa sebagian responden memiliki umur 35-44 tahun sebanyak 46,6 %, dimana pada rentang umur tersebut merupakan umur yang masih dikatakan produktif sehingga peningkatan permintaan alat/cara kontrasepsi sebatas untuk membatasi kelahiran saja. Berdasarkan uji statistik pada variabel ini diperoleh nilai p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara jumlah anak hidup terhadap terjadinya Unmet Need KB.

Berdasarkan hasil uji pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara jumlah anak hidup dengan terjadinya Unmet Need KB di Kelurahan Sempaja Selatan.

4. Kendala-kendala penelitian Adapun selama dalam melakukan penelitian ini, peneliti

mengalami beberapa kendala seperti kurangnya data sekunder mengenai jumlah Unmet Need KB atau jumlah pasangan usia subur baik yang menggunakan maupun yang tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi, sehingga dalam penentuan responden peneliti hanya berpacu pada jumlah kepala keluarga (KK) terbanyak. Hal ini dikarenakan tidak aktifnya PLKB yang ada di Kelurahan Sempaja Selatan. Sehingga dari hasil penelitian, peneliti hanya menemukan sedikit saja jumlah pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi (Unmet Need KB), dan ini tidak sesuai dengan data sekunder yang didapat di BKBKS yang menyatakan bahwa Kelurahan Sempaja Selatan memiliki jumlah pasangan usia subur yang paling banyak tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi (Unmet Need KB) pada tahun 2010 sebesar 2.271 jiwa. Selain itu juga dikarenakan Kelurahan Sempaja Selatan memiliki jumlah RT yang banyak juga yaitu 90 RT yang kemudian mengalami pemekaran lagi menjadi 94 RT, sementara peneliti hanya mengambil 9 RT yang memiliki jumlah kepala keluarga (KK) terbanyak (> 110 KK) dimana diharapkan dari jumlah KK terbanyak tersebut dapat menghasilkan jumlah pasangan usia subur terbanyak juga, yang kemudian ternyata dari 9 RT yang telah ditentukan peneliti tidak mendapatkan jumlah pasangan usia subur yang banyak, karena ternyata dari jumlah daftar KK terbanyak tersebut sebagian besar adalah mahasiswa yang membuat KK untuk berbagai keperluan mereka masing-masing yang berbeda-beda. Dari 9 RT tersebut ternyata sebagian besar yaitu RT.02, RT, 03, RT. 05, dan RT, 06

merupakan wilayah kos-kosan yang merupakan tempat tinggalnya mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Kendala lain juga ditemukan pada sikap responden pada saat menjawab pertanyaan yang diberikan, sikap penolakan yang dilakukan pada saat wawancara, dan sebagainya.