Anda di halaman 1dari 5

BAB I A.

FISIOLOGI KEHAMILAN Pelepasan telur (ovum) hanya terjadi satu kali setiap bulan, sekitar hari ke-14 pada siklus menstruasi normal 28 hari. Siklus menstruasi bervariasi pada setiap orang. Bila pada masa subur terjadi hubungan seks, maka sperma akan ditampung di liang senggama bagian dalam. Setiap mililiter sperma mengandung sekitar 35-40 ju ta spermatozoa, sehingga setiap hubungan seks terdapat sekitar 110-120 juta sper matozoa. Setiap spermatozoa membawa kromosom pembawa tanda 22 buah kromosom seks Y untuk laki-laki dan kromosom seks X untuk perempuan. Pada telur (ovum) yang d ilepaskan membawa 22 pasang pembawa tanda dan kromosom seks X. Pertemuan spermat ozoa Y dengan telur X menjadi zigot laki-laki, sedangkan bila spermatozoa X bert emu dengan telur X maka terbentuk zigot perempuan. Pertemuan terlaksana setelah telur lepas sekitar 12 jam dan spermatozoa melalui proses kapasitasi disebut fer tilisasi, pembuahan konsepsi atau impregnancy. Untuk tiap kehamilan harus ada spermatozoon, ovum, pembuahan ovum (konsepsi), da n nidasi hasil konsepsi. Tiap spermatozoon terdiri dari tiga bagian yaitu kaput atau kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nukleus, eko r, dan bagian yang silindrik menghubungkan kepala dengan ekor. Dengan getaran ek otnya spermatozoon dapat bergerak cepat. Jutaan spermatozoon dikeluarkan di forn iks vagina dan disekitar porsio pada waktu koitus. Hanya beberapa ratus ribu spe rmatozoon dapat meneruskan kekavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus yang dapat sampai kebagian ampulla tuba dimana spermatozoon dapat memasuki ovum yan g telah siap dibuahi. Hanya satu spermatozoon yang mempunyai kemampuan (kapasita si) untuk membuahi. Pada spermatozoon itu ditemukan peningkatan konsentrasi DNA di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus oleh karena diduga dapat melepa skan hialuronidase. Ovum yang dilepas oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-mikrofilamen fimbria inf undibulum kearah ostium tuba abdominale, dan disalurkan terus kearah medial. Ovu m dilingkari oleh zona pellusida. Hanya satu spermatozoon yang telah mengalami p roses kapasitasi dapat melintasi zona pellusida masuk ke vitellus. Sesudah itu z ona pellusida segera mengalami perubahan dan mempunyai sifat tidak dapat dilinta si lagi oleh spermatozoon lain. Masuknya spermatozoon kedalam vitellus membangki tkan nukleus ovum yang masih dalam metafase untuk pembelahan-pembelahannya. Sesu dah anafase kemudian timbul telofase , dan benda kutub (polar body) kedua menuju keruang perivitellina. Ovum sekarang hanya mempunyai pronukleus yang haploid da n pronukleus spermatozoon telah mengandung juga jumlah kromosom yang haploid. Ke dua pronukleus dekat mendekati dan bersatu membentuk zigot yang terdiri atas bah an genetik dari wanita dan pria. Pada manusia terdapat 46 kromosom, ialah 44 kro mosom otosom dan 2 kromosom kelamin yang pada seorang pria satu X dan satu Y. Se telah pembelahan kematangan maka ovum matang mempunyai 22 kromosom otosom serta 1 kromosom X, dan suatu spermatozoon 22 kromosom otosom serta 1 kromosom X atau 22 kromosom otosom serta 1 kromosom Y . Zigot sebagai hasil pembuahan yang memil iki 44 kromosom otosom serta 2 kromosom X akan tumbuh sebagai seorang janin wani ta, sedangkan 44 kromosom otosom serta 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh sebagai seorang janin pria. Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung olek karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi maka pembelahan-pembelahan sela njutnya akan berjalan dengan lancar, dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok s el-sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi berada dalam stadium morula yang kemu dian dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai stadium blastula. Pada umumnya bl astula masuk di endometrium dengan bagian dimana inner-cell mass berlokasi. Umum nya nidasi terjadi didinding depan atau belakang uterus, dekat pada fundus uter i. Jika nidasi ini terjadi, barulah dapat disebut adanya kehamilan dan bila nida si terjadi maka mulailah diferensiasi sel-sel blastula. Bila nidasi telah terjadi, mulailah deferensiasi sel-sel blastula. Sel-sel yang lebih kecil yang dekat pada ruang eksoselom membentuk entoderm dan yolk sac, sed

angkan sel-sel yang lebih besar menjadi ektoderm dan membentuk ruang amnion. Den gan ini didalam blastula terdapat suatu embrional plate yang dibentuk anatar dua ruangan, yakni ruang amnion dan yolk sac. Sel fibrolas mesodermal tumbuh disekitar embrio dan melapisi dan melapisi pula s ebelah dalam trofoblas. Dengan demikian, terbentuk chorionic membrane yang kelak menjadi korion. Trofoblas yang amat hiperplastik itu tumbuh tidak sama tebalnya dan dalam dua lapisan. Disebelah dalam dibentuk lapisan sitotrofoblas (terdiri atas sel-sel yang monokleus) dan sebelah luar lapisan sinsisiotrofoblast, terdir i atas nukleus-nukleus, tersebar tak rata dalam sitoplasma. Selain itu villi koriales yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh dan ber cabang-cabang dengan baik, disini korion disebut korion frondosum. Yang berhubun gan dengan desidua kapsularis kurang mendapat makanan, karena hasil konsepsi ber tumbuh kearah kavum uteri sehingga lambat laun menghilang disebut juga korion la eva. Dalam tingkat nidasi trofoblas antara lain menghasilkan hormon human chorionic g onadotropin (HCG). Produksi hormon HCG meningkat sampai kurang lebbih hari ke 60 kehamilan untuk kemudian turun lagi. Diduga bahwa fungsinya ialah mempengaruhi korpus luteum untuk tembuh terus, dan menghasilkan terus progesteron, sampai pla senta dapat membuat cukup progesteron sendri. Hormon HCG inilah yang khas untuk menentukan ada tidaknya kehamilan. Hormon tersebut dapat ditemukan didalam air k encing wanita yang menjadi hamil. Pertumbuhan embrio terjadi dari embrional plate yang selanjutnya terdiri atas ti ga unsur lapisan, yakni selsel ektoderm, mesoderm dan entoderm. Sementara itu ru ang amnion tumbuh dengan cepat dan mendesak eksoselom, akhirnya dinding ruang am nion mendekati korion. Mesoblas antara ruang amnion dan embrio menjadi padat, di namakan body stalk, dan merupakan hubungan antara embrio dan dinding trofoblas. Body stalk akan menjadi tali pusat. Yolk sac dan alantois pada manusia tidak tum buh terus, dan sisa-sisanya dapat ditemukan dalam tali pusat. Di tali pusat sendiri yang berasal dari body stalk, terdapat pembuluh-pembuluh d arah sehingga ada yang menamakannya vaskular stalk. Dari perkembangan ruang amni on dapat dilihat bahwa bagian luar dari tai pusat berasal dari lapisan amnion. D idalamnya terdapat jaringan lembek, selei wharton, yang berfungsi melindungi art eria umbilikalis dan 1 vena umbilikalis yang berada di tali pusat. Arteri dan 1 vena tersebut menghubungkan sistem kardiovaskuler janin dengan plasenta. Adapun sistem kardiovaskuler janin dibentuk pada kira-kira minggu ke 10. Organogenesis diperkirakan selesai pada minggu ke 12, dan disusul oleh masa fetal dan perinata l. Seperti telah dijelaskan, trofoblas mempunyai sifat menghancurkan desidua, terma suk spiral arteries serta vena-vena didalamnya. Akibatnya terbentuklah ruangan-r uangan yang terisi oleh perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah yang ikut dihanc urkan. Pertumbuhan ini berjalan terus, sehinga timbul ruangan-ruangan intervilla ir dimana villi koriales seolah-olah terapung diantara ruangan-ruangan tersebut sampai terbentuknya plasenta. Sebagian dari villi koriales tetap melekat pada de sidua. Lagi pula, desidua yang tidak dihancurkan oleh trofoblas membentuk septa plasenta. Septa plasenta ini membagi plasenta dalam beberapa maternal cotyledon, umumnya d itemukan 15 sampai 20 buah metternal cotyledon. Foetal cotyledon adalah suatu ke lompok besar villi koriales yang bercabang-cabang seerti pohon. Pada plasenta at erm diperkirakan terdapat 200 foetal cotyledon. Dari tiap-tiap cabang villi kori ales terdapat sistem vena serta arteria yang menuju ke vena umbilikus dan arteri a umbilikus. Sebagian besar cabang-cabang pohon itu tergenang didalam ruangan in terviler yang berisi darah ibu yang mengandung banyak zat makanan dan zat asam b agi janin. Darah ibu dan darah janin dipisahkan oleh dinding pembuluh darah janin dan lapis an korion. Plasenta yang demikian dinamakan plasenta jenis hemokorial. Disini je las tidak ada pencampuran darah antara janin dan ibu. Ada juga sel-sel desidua y ang tidak dapat dihancurkan oleh trofoblas dan sel-sel ini akhirnya membentuk la pisan fibrinoid yang disebut lapisan Nitabuch. Pada kehamilan tidak terlepas dari keberadaan plasenta. Umumnya plasenta terbent uk lengkap pada kehamilan lebik kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengi

si seluruh kavum uteri. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diam eter 15-20 cm dan tebal lebih kurang 2,5 cm. Beratnya rata-rata 500 gram. Tali p usat berhubungan dengan plasenta biasanya ditengah yang disebut insersio sentral is, bila hubungannya agak pinggir disebut insersio lateralis, dan bila dipinggir plasenta disebut insersio marginalis. Letak plasenta umumnya didepan atau dibel akang dinding uterus, agak keatas kearah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tem pat untuk berimplantasi. Plasenta adalah suatu barier (penghalang) terhadap bakteri dan virus, akan tetap i tidak efektif dan dewasa inimulai diragukan sekali. Obat-obatan diberikan pada ibunya dalam wajtu singkat dapat ditemikan pada janinnya.Bakteri-bakteri dan vi tus-virus tertentu yang beredar dalam darah ibu, dapat melewati plasenta dan men yebabkan kelainan pada janin. Penyaluran obat-obatan melalui plasenta dari ibu k e janin penting sekali diketahui karena beberapa obat dapat menimbulkan kelainan bawaan pada janin bila diberikan pada triwulan pertama, atau menimbulkan peruba han pada metabolisme ibu atau perubahan patologik pada janin. Maka dari itu haru s hati-hati dalam pemberian obat. Fungsi plasenta adalah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kejanin, pembuangan CO2 serta sampah metabolisme janin keperedaran darah ibu . Plasenta dapat pula dilewati kuman-kuman dan obat-obat tertentu. Penyaluran za t makanan dan zat lain dari ibu kejanin dan sebaliknya harus melewati lapisan tr ofoblast plasenta. Cepatnya penyaluran zat-zat tersebut tergantung pada konsentr asinya dikedua belah lapisan trofoblas, tebalnya lapisan trofoblas, besarnya per mukaan yang memisahkan, dan jenis zat. B. PERKEMBANGAN JANIN Umur janin yang sebenarnya harus dihitung dari saat fertilisasi atau karena fert ilisasi selalu berdekatan dengan ovulasi sekurang-kurangnya dari saat ovulasi. Pertumbuhan hasil konsepsi ditetapkan tiga tahap penting, yaitu: 1. Tingkat ovum (telur), pada umur 0-2 minggu dan belum tampak berbentuk d alam pertumbuhan. 2. Embrio (mudigh), pada umur 3-5 minggu dan sudah terdapat rancangan bentu k alat-alat tubuh. 3. Janin (fetus), berumur diatas 5 minggu dan sudah berbentuk manusia. Dalam praktek, tuanya kehamilan dihitung hari haid yang terakhir, jadi ada perbe daan 2 minggu dengan umur yang ditentukan dari ovulasi. Usia kehamilan biasanya d ihitung dalam bulan yang masing-masing terdiri dari 4 minggu, jadi kehamilan 3 b ulan sama dengan kehamilan 12 minggu. Perkembangan bulan ke-1 sampai ke-2. Ada tonjolan di jantung dan bengkak dikepal a, karena otak sedang berkembang. Jantung mulai berdetak, dan dapat dilihat deta kannya pada suatu alat ultra sonic scan. Lesung pipit pada sisi kepala akan menj adi telinga. Dan terjadi pengentalan yang nantinya akan membentuk mata. Pada bag ian atas badan akan terjadi pembengkakan yang akan membentuk tulang dan otot. Da n bengkak kecil menunjukan lengan dan kaki mulai tumbuh. Perkembangan Embrio Bulan Ke 3, Pada tahap ini, bagian muka pelan-pelan mulai te rbentuk. Mata terlihat lebih jelas dan mempunyai beberapa warna. Juga telah terb entuk mulut dengan lidah. Pada tahap ini calon tangan dan kaki mulai terlihat me nonjol pada sisi lateral corpus dan distal. Selanjutnya akan terlihat garis-gari s bakal terbentuknya jari-jari tangan dan kaki. Juga mulai terbentuk organ-organ dalam utama seperti jantung, otak, paru-paru, hati, ginjal, usus. Perkembangan Embrio Pada Bulan Ke 4, Dua belas minggu setelah proses pembuahan, janin telah terbentuk sepenuhnya. Semua organ badannya, otot, lengan dan tulang telah lengkap. Janin mengalami pertumbuhan yang lebih matang. Saat minggu ke 14, denyut jantung berdetak lebih kencang dan dapat etrdengar menggunakan alat ultr asonic detector. Denyut jantung berdetak sangat cepat sekitar dua kali lebih cep at dari denyut jantung orang dewasa. Perkembangan bulan ke 5-6, Pada masa ini janin tumbuh dengan cepat. Bagian tubuh tumbuh lebih besar sehingga badan dan kepala lebih proporsional. Garis-garis pa da kulit jari kini telah terbentuk, sehingga janin memiliki sidik jari sendiri. Pada minggu ke 21 hingga minggu ke 25, anda akan merasakan gerakan janin untuk p

ertama kali. Pada mulanya akan terasa suatu denyutan atau sedikit peregerakan, d an mungkin terasa seperti gangguan pencernaan. Selanjutnya, anda akan merasakan janin anda menendang. Perkembangan bulan ke 7-8 Janin kini bergerak dengan penuh semangat dan bereaksi terhadap sentuhan dan bersuara. Janin juga mempunyai kebiasaan untuk bangun dan tidur. Kebiasaan ini sering berbeda dengan kebiasaan anda. Ketika anda istiraha t pada malam hari, janin mulai bangun dan menendang. Pada minggu ke 29, kelopak mata janin terbuka untuk yang pertama kali. Pada minggu ke 30, panjang janin nor mal Indonesia sekitar 33 cm. Perkembangan bulan ke 9 sampai lahir. Pada minggu ke 35 terjadi proses penyempur naan kulit, yang sebelumnya berkerut, pada tahap ini lebih lembut dan halus. Pad a minggu ke 38, janin pada umumnya terbaring turun, siap untuk proses kelahiran. Kadang-kadang sebelum kelahiran, kepala berpindah masuk ke panggul dan disebut mas uk pintu atas panggul , namun, terkadang kepala janin belum masuk pintu atas panggul sampai kelahiran dimulai. Pada kehamilan volume darah ibu bertambah, agaknya untuk memenuhi kebutuhan adan ya sirkulasi keplasenta, uterus, dan mamae yang membesar dengan pembuluh-pembulu h darah yang membesar pula. Volume tersebut mulai bertambah jelas pada minggu ke -16 dan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 dan mulai menurun sedikit pada hamp ir aterm. Tumbuh kembang janin tidak dapat dipisahkan dari plasenta, cairan amnion(air ket uban), tali pusat (funikuli), dan tumbuh kembang janin itu sendiri. Secara singk at plasenta dapat dikatakan berfungsi sangat vital untuk tumbuh kembang janin da lam rahim yaitu mengeluarkan hormon untuk dapat mempertahankan kehamilan dan per tumbuhan janin dalam rahim, sebagai penyekat sehingga darah ibu dan janin tidak bercampur, sebagai penghalang masuknya penyakit menuju janin, sebagai paru-paru janin untuk mendapatkan oksigen dari ibu, sebagai akar janin untuk mendapatkan n utrisi dari darah ibu. Menjelang akhir kehamilan plasenta ikut berperan dengan m enurunkan pengeluaran hormon, sehingga rahim mudah sirangsang oleh oksitosin (ho rmon) hipofise bagian posterior. Air ketuban juga sangat penting untuk tumbuh kembang janin dalam rahim karena ai r ketuban memberikan gerak bebas janin dalam rahim, memberikan kesempatan tumbuh kembang kesegala arah pada janin, melindungi janin dari trauma langsung atau ti dak langsung, sebagai buffer (penahan) sehingga panas dan dingin tetap stabil di sekitar janin, membantu pada saat persalinan karena air ketuban berfungsi sebag ai pelindung janin dari tekanan langsung kekuatan kontraksi otot rahim, pembrsih an beberapa bakteri pada saat selaput pecah, dan sebagai pelumas sehingga jalan lahir licin. Jumlah normal air ketuban antara 700-1000 cc. Tali pusat (funikuli) adalah penghubung plasenta dengan janin, yang didalamnya t erdapat dua pembuluh darah arteria, satu vena umbilikalis, dan terbungkus oleh j eli wharton. Panjang tali pusat sekitar 30-100 cm. Tali pusat berfungsi untuk me ngalirkan nutrisi dari ibu menuju janin malalui vena umbilikalis, mengalirkan si sa metabolisme janin menuju peredaran darah ibu melalui arteria umbilikalis, mem berikan kesempatan janin bergerak bebas dalam cairan amnion. Dalam beberapa kead aan tali pusat dapat membahayakan janin bila terdapat insersi yang membahayakan (insersi velamentosa, insersi ditepi plasenta, terjadi lilitan tali pusat yang m engurangi atau menghentikan aliran darah menuju janin). Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sangat kompleks dipengaruhi oleh kesehatan ibu, janin, dan plasenta sebagai akar yang memberikan nutrisi. Oleh ka rena itu, yang menjadi pokok utama tumbuh kembang janin dalam rahim adalah inter aksi antara janin, ibu, dan plasenta dengan pusatnya pada ruang intervillosa. Da lam ruang intervillosa itulah terjadi pertukaran nutrisi, fungsi barier, fungsi sekresi sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin dapat terjadi. Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Faktor janin Faktor janin dipengaruhi oleh jenis kelamin, faktor kromosom, dan air ketuban. J anin laki-laki mempunyai berat lebih besar daripada wanita. Faktor kromosom dapa t menimbulkan kelainan kongenital dan penyakit keturunan. Air ketuban memberikan kesempatan janin untuk tumbuh dan berkembang dengan seimbang.

2. Faktor plasenta Plasenta yang tumbuh dan berkembang kurang subur dapat menyebabkan kelahiran pre maturitas (belum cukup bulan), keguguran, berat lahir rendah, kematian janin dal am rahim. Plasenta dengan penyakit infeksi atau lainnya tidak dapat berfungsi de ngan baik sehingga mengganggu pertumbuhan janin dalam rahim. Janin dapat terinfe ksi sehingga lahir dengan gejala infeksi. 3. Faktor ibu Kesehatan rohani ibu dalam kehamilan sangat penting karena dapat mempengaruhi pe rtumbuhan dan perkembangan jiwa janin. Ibu harus siap menerima kehamilan. Kehami lan yang diharapkan, sebagai pengikat yang kokoh dalam perkawinan dan dengan sen ang hati menerima kehamilan sebagai buah cintanya. Kesehatan umum ibu dapat dila kukan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, karena ibu hamil ju ga harus sehat jasmani. Bila terdapat penyakit harus segera diobati, sehingga ti dak mengganggu janin dalam rahim. Juga dilakukan pemeriksaan penunjang dengan la boratorium dasar (darah, urine, tinja, penyakit hubunhan seks) dan laboratorium khusus untuk penyakit hati, ginjal dan gula sehingga tidak terjadi komplikasi ke hamilan yang dapat meningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janin. Faktor ibu juga dapat dilihat dari tinggi badan ibu, keadaan gizi, tingginya tempat tin ggal, peminum alkohol atau perokok, kelainan pembuluh darah, kelainan uterus, da n kehamilan ganda.

Dari Penjelasan diatasa maka dapat kita simpulkan beberapa hal, yaitu : 1. Fisiologi Kehamilan dimulai pada saat beremunya sel telur (sperma) dan s el telur (ovum), kemudian terjadi proses pembuaahan shingga menghasilkan zigot, disana lah dimulai perkembangan janin. Seiring dengan perkembangan janin terjadi pula perubahan-perubahan fisiologi pada ibu hamil tersebut. 2. Tumbuh kembang janin terjadi selama 9bulan dalam ahim (uterus) dan menda patkan nutrisi dan suplai oksigen dari ibu melalui plasnta. Maka dari itu kesseh atan ibu hamil juga sangat penting untuk kesehatan janin dan ibu itu sendiri. 3. Tumbuh kembang janin sangat dipengaruhi dan tak lepas dari plasenta, cai ran amnion(air ketuban), tali pusat (funikuli), dan tumbuh kembang janin itu sen diri. 4. Faktor-faktor yang pokok utama dalam tumbuh kembang janin dalam rahim ad alah interaksi antara janin, ibu, dan plasenta dengan pusatnya pada ruang interv illosa.