Anda di halaman 1dari 3

BADAU TOBAT

Alkisah, disuatu kota hiduplah seorang anak laki-laki bernama Aris. Ia mempunyai perangai yang buruk. Ia suka berkelahi, merokok dan minum-minum. Walaupun masih SMP, ia sudah menjadi ketua di suatu geng pelajar yang sudah terkenal akan kebrutalannya. Hari ini geng kebanggaannya akan tawuran dengan geng rivalnya di depan SMPN 2 Palangkaraya. Eco : Gimana strategi kita hari ini? segala kaya banci aja tau gak? Aris Eco Aris : Ia, tinggal mukul-mukulin aja beres. Yang penting tuh menang. Menang. Hidup tuh jangan dibawa susah. : Ia deh, Bos.(sambil menggaruk-garu kepalanya.) : Wah, ni anak baru polos banget. Ya iyalah bawa senjata masa bawa makanan. Lo anak mana, hah? Itu aja gak tau. Mau mati? Jano : Gak, Bos. Ampun. Aris : Ya udah siapin sana. Jano : Bos, bawa senjata juga gak?

Yosa : Aihh, (sambil mengibaskan tangannya). Ngapain pake strategi

Persiapan untuk tawuran sore ini sudah mereka persiapkan dengan baik. Yang ada dipikiran mereka hanya menang dan menang. Tak ada kasih maupun belas kasihan. Begitu pula halnya dengan Aris. Dalam hatinya ia sudah tak sabar membuktikan kehebatannya. Baginya, ialah yang terhebat dan terkuat dari yang terkuat. Pukul 15.00 WIB, Aris : Serang !!! Tawuranpun tak terelakkan lagi. Semua penuh kebrutalan dan roh kebinatangan. Jalanan aspal yang hitam pekat kini seakan-akan baru saja dilukis dengan tinta merah dimana-mana. Bau darah dan gumpalan daging tak bernyawa berhamburan dimana-mana. Nasib kini tinggal nasib. Aris kini dikepung lawan. Maut kini membayang di pelupuk

matanya. Ia dipukuli habis-habisan hingga tak berdaya lagi untuk melawan apalagi melarikan diri. Baju putihnya kini penuh amis noda darah. Aris : Ampun !! Ampun !! Tolong !! Tolong !! Anak buahnya yang mendengar teriakan tersebut segera berlari menolong Bosnya yang kini sudah terluka parah. Segala upaya mereka lakukan. Linggis dan palu mereka ayunkan secara membabi buta. Dendam. Kemarahan. Kebencian. Hanya itu yang ada di hati mereka. Dengan langkah seribu merekapun segera pergi dan melarikan diri. Dikamar, Aris merenungi nasibnya. Ia tak habis pikir mengapa ini bisa terjadi padanya. Ia merasa sudah putus asa sekarang. Reputasinya kini hancur dan harga dirinya terinjak-injak. Bagaimana ia memperbaiki itu semua? Hahh, andai saja waktu bisa diulang. Ia sadar semua yang dilakukannya salah. Namun, apakah Tuhan masih mau mengampuninya? Tiba-tiba dari kamar ibunya ia mendengar nyanyian yang membuatnya merasa tenang. Cindy : Tak ku tahu kan hari esok ... Banyak hal yang tak ku pahami. Dalam masa menjelang ... Tangan Tuhan yang pegang. Untuk pertama kalinya, iapun mulai berdoa dan meminta ampun. Ia berniat untuk bertobat dan memulai hidup baru. Ia tak peduli lagi akan kenangan masa lalunya. Aris : Ya, Tuhan.............

2 hari kemudian, Aris Aris : Mah, mamah gak ke gereja? : Ia, inikan hari minggu.

Cindy : Kenapa? Kamu mau ikut? Cindy : Mamah siap-siap dulu.

Cindy, ibunda Aris merasa terharu akan perubahan anak semata wayangnya. ia bersyukur karena doanya telah didengarkan oleh Tuhan. Ia bahagia dan berjanji akan melayani Tuhan selamanya.