Anda di halaman 1dari 20

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

NORMA ADAT DAN NILAI-NILAI KRISTIANI

Kelompok 5
Lauricka P. Merry C . Nadya C. Praditha Ririhera Ross shield Renti Bellinda Yohanes P.S Wahyuni

XI IA 3, XI IA 5 SMA NEGERI 2 PALANGKARAYA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG..............................................................................3 B. RUMUSAN MASALAH.....................................................................4 C. METODE PENULISAN..........................................................................4 D. TUJUAN PENULISAN...........................................................................4 E. MANFAAT PENULISAN.......................................................................5

BAB II ISI A. PENGERTIAN NORMA ADAT............................................................7 B. LINGKUNGAN HUKUM ADAT..........................................................8 C. PENEGAK HUKUM ADAT..................................................................9 D. ANEKA HUKUM ADAT.......................................................................9 E. AZAS-AZAS HUKUM ADAT...............................................................9 F. ADAT DALAM PERSPEKTIF ALKITAB...........................................10 G. PRAKTIK HIDUP SESUAI NILAI DAN NORMA KRISTIANI.........12 H. HUBUNGAN NORMA ADAT DAN NILAI-NILAI KRISTIANI...13

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN......................................................................................17 B. SARAN...................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan karunianya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah kami yang berjudul Norma Adat dan Nilai Nilai Kristiani. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu, kami pun mengucapkan terimakasih kepada para penulis yang tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan. Tak lupa juga kami ucapkan maaf yang sebesar-besarnya, jika ada kata dan pembahasan yang keliru dari kami.Kami berharap kritik dan saran Anda. Semoga makalah kami ini dapat menjadi pelajaran dan menambah wawasan Anda dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen serta semakin menumbuhkan kecintaan pada diri sendiri dan negeri ini.

Palangkaraya, 28 Agustus 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Norma adalah istilah umum atau universal dan mencakup sesuatu yang ideal, yang berkaitan dengan hukum, ketentuan-ketentuan, dan prinsip-prinsip dan kepastian (Macquarrie, 1986:426). Hal itu berarti juga bahwa norma adalah suatu ukuran untuk menentukan sesuatu (Poerwodarminta, 1986:678). Sesuatu yang dimaksud adalah menyangkut hidup manusia. Itulah sebabnya, James Chidress pernah mengatakan bahwa norma adalah sesuatu yang membimbing ke arah hakikat dan perbuatan manusia. Lebih praktis lagi, norma membawa ke arah model suatu perbuatan yang baik atau yang buruk, sesuatu yang wajib atau diperbolehkan (Macquarie, 1986:425). Hukum, prinsip, dan ketentuan yang membawa manusia untuk melaksanakan perbuatannya itu menyangkut juga etika yang erat hubungannya dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dan dialami oleh seseorang. Baik buruknya perbuatan seseorang pada situasi tertentu dapat dinilai dengan suatu alat ukur, yaitu norma. Norma terbagi atas norma agama, norma kesusilaan, norma hukum, norma kesopanan, dan norma adat/hukum adat. Menurut KBI, adat adalah aturan (perbuatan dsb) yg lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala; cara (kelakuan dsb) yg sudah menjadi kebiasaan; wujud gagasan kebudayaan yg terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yg satu dng lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Karena istilah Adat yang telah diserap kedalam Bahasa Indonesia menjadi kebiasaan maka istilah hukum adat dapat disamakan dengan hukum kebiasaan.

Hukum adat bermacam-macam, mulai dari hukum adat untuk pernikahan, kematian, sampai dengan hukum adat untuk kelahiran bayi. Begitu pula halnya dengan hukum adat di Kalimantan Tengah. Telah kita ketahui bahwa setiap pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan harus melakukan Acara Adat Perkawinan dan Pemenuhan Hukum Adat dalam Perkawinan karena dianggap sakral dan wajib. Selain itu ada juga ada adat penyembuhan penyakit seperti upacara Wadian yang merupakan salah satu upacara adat suku Dayak Maayan . Namun apakah hukum adat tersebut sesuai dengan agama Kristen atau sebaliknya?

B. RUMUSAN MASALAH Dalam setiap penulisan dan penelitian ilmiah pasti ada masalah yang ingin dipecahkan 1. Apakah yang dimaksud dengan hukum adat? 2. Apa hubungan hukum adat dan nilai-nilai Kristiani? 3. Bertentangankah hukum adat dengan nilai-nilai Kristiani?

C. METODE PENULISAN Dalam penulisan makalah ini, untuk mengumpulkan data-data yang ingin diperoleh kami menggunakan metode kualitatif sebagai metode penelitian dan penulisan. Selain itu, di lapangan kami menggunakan penelitian dengan instrumen (alat) berupa studi kepustakaan untuk mendapatkan bahan pendukung lain makalah ini.

D. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan dari makalah ini yaitu 1. Sebagai hasil kerja dan diskusi dari tugas kelompok kami 2. Mengajak masyarakat untuk lebih berperan aktif dan peduli terhadap setiap interaksi dan pergaulan disekitar. 3. Sebagai bahan bacaan untuk siswa/i baik yang SD, SMP, SMA atau umum.

E. MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu 1. Sebagai bahan bacaan. 2. Sebagai ajang apresiasi pendapat dan diskusi kelompok kami.

BAB II ISI

A. PENGERTIAN NORMA ADAT Norma adat disebut juga dengan hukum adat. Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Keberadaan hukum adat tidak pernah akan mundur atau tergeser dari percaturan politik dalam membangun hukum nasional, hal terlihat dari terwujudnya kedalam hukum nasional yaitu dengan mengangkat hukum rakyat/hukum adat menjadi hukum nasional terlihat pada naskah sumpah pemuda pada tahun 1928 bahwa hukum adat layak diangkat menjadi hukum nasional yang modern. Pada era Orde Baru pencarian model hukum nasional memenuhi panggilan zaman untuk menjadi dasar-dasar utama pembangunan hukum nasional., dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhi pluralisme hukum dan tidak berpihak kepada hukum nasional yang diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi), terlihat bahwa hukum adat plastis dan dinamis serta selalu berubah secara kekal. Ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis, dimana hukum adat adalah hukum yang neniliki perasaan keadilan masyarakat local yang pluralistis. Dimana hukum kolonial yang bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam hukum nasional, dimana badan kehakiman diidealkan menjadi hakim yang bebas serta pembagian kekuasaan dalam pemerintahan adalah harapan sebagai badan yang mandiri dan kreatif untuk merintis pembaharuan hukum lewat mengartikulasian hukum dan moral rakyat, telah melakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan topangan birokrasi yang distrukturkan secara monolitik serta mudah dikontrol secara sentral, mengingat peran

hukum adat dalam pembangunan hukum nasional sangat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar, terkecuali klaim akan kebenaran moral, pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hokum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif. Resultante pada era Orde Baru telah terlanjur terjadi karena kekuatan dan kekuasaan riil eksekutif dihadapan badan-badan perwakilan telah menjadi tradisi di Indonesia sejak jaman kolonial dan pada masa sebelumnya dan juga adanya alasan-alasan lainnya.

B. LINGKUNGAN HUKUM ADAT Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven membagi Indonesia menjadi 19 lingkungan hukum adat (rechtsringen). Satu daerah yang garis-garis besar, corak dan sifat hukum adatnya seragam disebutnya sebagai rechtskring. Setiap lingkungan hukum adat tersebut dibagi lagi dalam beberapa bagian yang disebut Kukuban Hukum (Rechtsgouw). Lingkungan hukum adat tersebut adalah sebagai berikut. 1. Aceh (Aceh Besar, Pantai Barat, Singkel, Semeuleu) 2. Tanah Gayo, Alas dan Batak 1. Tanah Gayo (Gayo lueus) 2. Tanah Alas 3. Tanah Batak (Tapanuli) 1. Tapanuli Utara; Batak Pakpak (Barus), Batak karo, Batak Simelungun, Batak Toba (Samosir, Balige, Laguboti, Lumbun Julu) 2. Tapanuli Selatan; Padang Lawas (Tano Sepanjang), Angkola, Mandailing (Sayurmatinggi) 3. Nias (Nias Selatan) 3. Tanah Minangkabau (Padang, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, tanah Kampar, Kerinci)

4. Mentawai (Orang Pagai) 5. Sumatera Selatan a. Bengkulu (Renjang) b. Lampung (Abung, Paminggir, Pubian, Rebang, Gedingtataan, Tulang Bawang) c. Palembang (Anak lakitan, Jelma Daya, Kubu, Pasemah, Semendo) d. Jambi (Orang Rimba, Batin, dan Penghulu) e. Enggano 6. Tanah Melayu (Lingga-Riau, Indragiri, Sumatera Timur, Orang Banjar) 7. Bangka dan Belitung 8. kalimantan (Dayak Kalimantan Barat, Kapuas, Hulu, Pasir, Dayak, Kenya, Dayak Klemanten, Dayak Landak, Dayak Tayan, Dayak Lawangan, Lepo Alim, Lepo Timei, Long Glatt, Dayat Maanyan, Dayak Maanyan Siung, Dayak Ngaju, Dayak Ot Danum, Dayak Penyambung Punan) 9. Gorontalo (Bolaang Mongondow, Boalemo) 10. Tanah Toraja (Sulawesi Tengah, Toraja, Toraja Baree, Toraja Barat, Sigi, Kaili, Tawali, Toraja Sadan, To Mori, To Lainang, Kep. Banggai) 11. Sulawesi Selatan (Orang Bugis, Bone, Goa, Laikang, Ponre, Mandar, Makasar, Selayar, Muna) 12. Kepulauan Ternate (Ternate, Tidore, Halmahera, Tobelo, Kep. Sula) 13. Maluku Ambon (Ambon, Hitu, Banda, Kep. Uliasar, Saparua, Buru, Seram, Kep. Kei, Kep. Aru, Kisar) 14. Irian 15. Kep. Timor (Kepulauan Timor, Timor, Timor Tengah, Mollo, Sumba, Sumba Tengah, Sumba Timur, Kodi, Flores, Ngada, Roti, Sayu Bima) 16. Bali dan Lombok (Bali Tanganan-Pagrisingan, Kastala, Karrang Asem, Buleleng, Jembrana, Lombok, Sumbawa) 17. Jawa Pusat, Jawa Timur serta Madura (Jawa Pusat, Kedu, Purworejo, Tulungagung, Jawa Timur, Surabaya, Madura) 18. Daerah Kerajaan (Surakarta, Yogyakarta) 19. Jawa Barat (Priangan, Sunda, Jakarta, Banten)

C. PENEGAK HUKUM ADAT Penegak hukum adat adalah pemuka adat sebagai pemimpin yang sangat disegani dan besar pengaruhnya dalam lingkungan masyarakat adat untuk menjaga keutuhan hidup sejahtera. D. ANEKA HUKUM ADAT Hukum Adat berbeda di tiap daerah karena pengaruh a. Agama : Hindu, Budha, Islam, Kristen dan sebagainya. Misalnya : di Pulau Jawa dan Bali dipengaruhi agama Hindu, Di Aceh dipengaruhi Agama Islam, Di Ambon dan Maluku dipengaruhi agama Kristen. b. Kerajaan seperti antara lain: Sriwijaya, Airlangga, Majapahit. c. Masuknya bangsa-bangsa Arab, China, dan Eropa.

E. AZAS - AZAS HUKUM ADAT Hukum adat yang tumbuh dari cita-cita dan alam pikiran masyarakat Indonesia, yang bersifat majemuk, namun ternyata dapat dilacak azas-azasnya, yaitu: 1. Azas Gotong royong; 2. Azas fungsi sosial hak miliknya; 3. Azas persetujuan sebagai dasar kekuasaan umum; 4. Azas perwakilan dan musyawaratan dalam sistem pemerintahan 5. Sifat Corak Hukum Adat.

10

F. ADAT DALAM PERSPEKTIF ALKITAB 1. Adat dalam Perjanjian Lama Kata yang berhubungan dengan adat dalam Perjanjian Lama adalah kata Ibrani choq, chuqqah dan mishpat, yang mempunyai arti: undang-undang, hukum, tata-tertib, kebiasaan, adat-istiadat, keputusan atau ketetapan. Dalam beberapa nas, antara lain Keluaran 15:25; Yosua 24:25; Ezra 7:10; Yehezkiel 20:18; 1 Samuel 30:25, yang berhubungan dengan kata choq adalah ketetapan dan peraturan, baik yang dibuat oleh manusia maupun dibuat oleh Tuhan, yang berguna untuk melindungi dan menjaga kehidupan manusia agar tertib, aman, tentram dan sejahtera. Kita dapati juga adat atau kebiasaan yang dilarang dan tidak diijinkan Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya. Dalam 2 Raja 17:8; Tuhan melarang umat Israel meniru dan mempraktekkan adat-istiadat bangsa-bangsa lain, yaitu perlakuan untuk menyembah berhala dan pola hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam Imamat 18:3,30; Tuhan melarang umat-Nya untuk melakukan kebiasaan masyarakat Mesir. Dalam Yeremia 10:2; umat Tuhan dilarang untuk mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa sekitar, yaitu penyembahan berhala, mempercayai kuasa dari benda-benda tertentu melebihi kuasa Tuhan, penyembahan patung dan segala bentuk kesia-siaan lainnya. Dalam penjelasan di atas maka Perjanjian Lama menegaskan kepada kita: a. Allah memberikan hukum, undang-undang, adat, kebiasaan dan berbagai ketetapan bagi umat-Nya. Allah mengijinkan bahkan memberkati manusia untuk melaksanakan adat yang tidak bertentangan dengan ketetapan Allah, untuk memelihara keharmonisan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama. b. Allah melarang umat-Nya untuk mengikuti adat dari luar Israel, seperti penyembahan berhala, karena itu bertentangan dengan kehendak Allah, serta dapat merusak kebiasaan baik yang sudah dimiliki oleh umat Allah.

11

2. Adat dalam Perjanjian Baru Kata adat dalam Perjanjian Baru adalah terjemahan dari kata paradosis yang mempunyai arti adat-istiadat (Mat. 15:2,6; Markus 7:3,5,8,9,13; Gal. 1:14), dan kata ethos yang mempunyai arti kebiasaan (Yoh. 19:40; Kis. 6:14). Sebegitu jauh, pemakaian itu adalah seragam dan jelas. Di kitab-kitab lainnya, adat itu merupakan terjemahan dari sejumlah istilah-istilah Yunani. Misalnya, entaphizein untuk adat penguburan (Mat. 26:12); eithismenos untuk kebiasaan pengudusan anak lelaki di Bait Suci (Luk. 2:27); syntheia untuk kebiasaan pergaulan (1 Kor. 11:16); anastrophe dalam 1 Pet. 1:18. Perjanjian Baru menunjukkan bahwa masyarakat Yahudi mempunyai adat-istiadat atau kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Dasar timbulnya adat ini adalah hukum Taurat dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka serap dari suku bangsa di sekitar mereka. Adat atau kebiasaan ini adalah ketentuan manusia yang dipahami secara legalitas serta dipandang kudus di kalangan orang-orang Farisi pada zaman Yesus. Orang Farisi menuntut penaatannya secara mutlak seperti orang memenuhi perintah Allah. Dari Injil kita mengetahui bagaimana sikap Yesus terhadap adat Yahudi ini. Yesus mengikuti hukum yang diatur oleh Musa, di mana setiap anak sulung berumur 8 hari harus dibawa ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah (Luk. 2:22-23). Pada saat memulai pelayanannya Yesus mengikuti dan menghargai adat Yahudi tentang perjamuan kawin di Kana (Yoh. 2:1-11). Dalam Matius 12:1-8; orang Farisi dan ahli Taurat mengecam murid-murid Yesus yang dianggap melanggar adat Yahudi, di mana murid-murid memetik dan memakan bulirbulir gandum pada hari Sabat, dan seolah-olah Yesus tidak mempedulikan pelanggaran tersebut. Yesus dengan tegas menampik tuduhan itu dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Daud (1 Sam. 21:1-6). Ini menunjukkan bahwa Yesus menghargai adat tetapi Dia tidak menghendaki pengagungan adat di atas penyelamatan kehidupan manusia. Fakta-fakta dalam Perjanjian Baru memberikan kesimpulan:

a. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah mengabaikan adat. b. Yesus menghargai adat tetapi Dia menolak adat yang menghalangi, menggagalkan atau membatalkan kebenaran firman Allah. Adat tidak boleh melampaui anugrah dan keselamatan yang diberikan Yesus bagi manusia.

12

c. Adat yang boleh dipelihara dan dikembangkan adalah adat yang dapat membantu orang untuk menghayati dan memperteguh imannya kepada Tuhan, serta menyejahterakan hidup manusia.

G. PRAKTIK HIDUP SESUAI NILAI DAN NORMA KRISTIANI Apabila kita berbicara tentang nilai dan norma Kristiani, kita harus juga mengirigat ajaran-ajaran Kristen, khususnya yang menyangkut pedoman-pedoman hidup Kristen. Pedoman tersebut menyangkut etika Kristen. Etika Kristen inilah yang mengontrol, mengoreksi, dan mengarahkan perbuatan orang-orang Kristen dalam berbuat secara nyata atau perbuatan praktis. Dasar yang digunakan adalah firman Tuhan. Misalnya: Sepuluh Perintah Allah yang tercantum dalam Keluaran 20:1-17 dan yang disarikan di dalam Hukum Kasih (Matius 22:37-40; Markus 12:30-31; Lukas 10:27) yakni: 1. Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita. Hukum yang pertama ini merupakan ringkasan Sepuluh Perintah Allah nomor 15. 2. Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Hukum yang kedua ini merupakan ringkasan Sepuluh Perintah Allah nomor 610. Nilai-nilai dan norma-norma kristiani, khususnya tentang kasih diterangkan secara praktis di 1 Korintus 13:48, antara lain: 1. Sabar 2. Murah hati 3. Tidak cemburu 4. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong 5. Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri 6. Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain 7. Tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran 8. Menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu

13

Di dalam Alkitab, masih ada banyak petunjuk yang berkaitan dengan nilai dan norma kristiani yang semuanya mendidik, mengarahkan dan membangun orang Kristen dalam menjalankan hidupnya. Nilai dan norma kristiani erat hubungannya dengan praktik hidup antara iman dan perbuatan. Sementara, iman tanpa perbuatan itu pada hakikatnya iman itu mati (Yakobus 2:17).

H. HUBUNGAN NORMA ADAT DAN NILAI-NILAI KRISTIANI Kita percaya bahwa Alkitab adalah pedoman utama dan berwibawa bagi iman dan kehidupan. Adat istiadat kebudayaan tidak memiliki kewibawaan yang mengatasi Alkitab. Di dalam Alkitab sendiri penuh dengan cerita tentang berbagai budaya suatu suku bangsa. Segala sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab ditempatkan di dalam pengalaman budaya penulis atau penyuntingnya.Namun Alkitab bukan suatu buku etika. Alkitab tidak berisi banyak risalah sistematik mengenai etika. Etika dibicarakan dengan jelas di dalam konteks suatu cerita. Hukum-hukum Perjanjian Lama diceritakan dalam konteks kisah-kisah mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Khotbah di bukit adalah suatu bagian terpadu dari kisah tentang Yesus. Kita belajar etika dari suatu cerita dengan cara membiarkan cara cerita itu memandang dunia menjadi struktur simbolik maknamakna kita sendiri. Di dalam kisah Alkitab kita dapat melihat suatu pandangan moral mengenai kehidupan yang diungkapkan dalam banyak cerita, puisi, sejarah, berita kenabian, khotbah-khotbah, doa-doa, kebaikan dan kejahatan disingkapkan dan disimbolkan dalam konteks budaya tertentu. Cerita Alkitab, bila dipahami dalam konteksnya, mengajarkan kita bagaimana menjadi baik pada saat kita melihat hidup kita sendiri sebagai bagian dari cerita yang sama. Cerita Alkitab menuntun kita untuk mengalami kenyataan dengan cara yang sejalan dengan karya Allah dalam dunia.

14

Kita telah mengetahui bahwa adat merupakan hasil karya manusia yang memiliki dua sisi, yaitu sisi yang baik dan yang buruk. Hal itu sesuai dengan doktrin penciptaan manusia sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian. Di satu sisi, kondisi atau keberadaan manusia tersebut adalah sangat mulia, di mana dia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Tapi di sisi lain, manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:6-8) sehingga menciptakan adat yang buruk, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, bahkan sebagian di antaranya mengandung unsur kuasa gelap atau iblis.

Di dalam Perjanjian Baru telah jelas digambarkan bagaimana sikap Yesus terhadap adat Yahudi. Yesus melampaui adat kebudayaan dan telah memperbaruinya ke arah kebenaran firman Tuhan. Cara pandang dari sudut manusia yang telah mengagungkan adat melebihi kebesaran Allah, dipatahkan-Nya dengan mengajarkan bahwa firman Allah berkuasa di atas segala kehendak manusia, termasuk adat yang diciptakannya. Di samping firman Allah yang disampaikan langsung kepada para nabi dan hakim di zaman Perjanjian Lama, Yesus sendiri telah menjadi contoh, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi adat. Jelaslah bahwa sikap yang benar terhadap adat bukanlah menolak adat tersebut atau menerima semuanya, tetapi kita harus bersikap selektif. Dengan sikap selektif tersebut, kita akan menerima semua praktek dalam adat yang sesuai dengan firman Allah dan menolak berbagai praktek yang bertentangan dengan firman Allah. Selain itu, kita juga perlu membangun sikap aktif dan kreatif untuk terus-menerus memperbarui adat tersebut demi kemuliaan Allah dan demi kesejahteraan kita bersama. Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya (Mat. 9:16-17). Ayat di atas menunjukkan pembaruan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Adat bukanlah suatu hal yang tak berubah. Kita perlu memikirkan suatu prinsip agar tidak merelatifkan atau

15

meniadakan perbedaan yang ada antara adat dan firman Tuhan, melainkan memelihara ketegangan di antara keduanya secara positif, kreatif dan konstruktif, demi untuk mempertinggi kualitas rohani maupun kualitas kultural orang Batak Kristen. Di sisi lain kita terus-menerus bertanya dan menilai sejauh mana adat-istiadat itu kita hayati dan ungkapkan secara mendalam dan mendasar, bukan sekedar kulit dalam wujud upacara dan formalitas, serta sejauh mana adat itu menopang kita untuk memajukan iman kita dan meningkatkan kualitas kehidupan kita. Melakukan hal itu sungguh tidak mudah. Untuk dapat bersikap selektif dan terusmenerus memperbarui adat, dibutuhkan kualitas kerohanian dan kemampuan tertentu. Ada empat kriteria penting sebagai berikut:

a. Kita harus memiliki hubungan yang benar dengan Yesus Kristus. Ini merupakan syarat yang pertama. Kepada jemaat di Roma (Rom. 8:5-8), rasul Paulus menegaskan bahwa keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera, sedangkan keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Itu sebabnya kita perlu serius meresponi seruan firman Tuhan agar kita bertumbuh menjadi dewasa, sebagaimana tertulis di Efesus 4:13; sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

b. Kita harus memahami adat Batak dengan benar. Pemahaman adat dengan benar merupakan syarat kedua untuk dapat bersikap selektif terhadap adat. Ada kelompok yang jelas dan tegas menyatakan penolakannya terhadap adat Batak. Kita perlu mengamati apakah mereka telah memahami adat Batak dengan benar, sehingga memiliki alasan yang kuat untuk menolak adat tersebut.

16

c. Kita harus memahami Alkitab dengan benar. Agar dapat menyeleksi adat mana yang sesuai dengan Alkitab dan mana yang tidak, maka berita dan pesan Alkitab harus dipahami dengan baik dan benar.

d. Kita harus dapat menyelaraskan pemahaman adat dan firman Tuhan dengan benar. Kita tidak perlu mempertentangkan antara adat dan firman Tuhan, yang sebenarnya tidak bertentangan. Dan sebaliknya, kita juga jangan menyamakan antara adat dan firman Tuhan, yang sebenarnya tidak sama.

Jika kita memiliki keempat kriteria ini, maka kita akan dapat bersikap dengan benar terhadap adat, karena kita memiliki hikmat Roh selain dari pengetahuan kita tentang adat. Beberapa adat yang bertentangan dengan firman Tuhan haruslah kita tolak dengan tegas tanpa harus menimbulkan permusuhan dengan keluarga. Justru di sinilah peran kita untuk memperbarui penerapan adat yang salah. Sebagai contoh, bagaimana sikap kita terhadap adat dalam hal pendirian tugu untuk orang yang sudah meninggal, yang berhubungan dengan pemujaan nenek moyang. Jika hal itu dilakukan untuk mengenang kebaikan mereka yang sudah meninggal, maka kita dapat menerimanya sebagai pelajaran bagi kita terhadap hal-hal baik yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Namun jika sudah terdapat praktek penyembahan atau pemujaan terhadap nenek moyang, misalnya memohon berkat dari roh para orang mati tersebut, maka kita harus dengan tegas menolaknya. Kita tidak perlu takut akan resiko mendapatkan sanksi hukum adat maupun sanksi moral karena Yesus Kristus melampaui segala adat yang ada di bumi. Roh Kudus akan memberikan hikmat kepada kita untuk menolak dengan cara yang bijaksana, sehingga penolakan itu tidak perlu menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga.

17

BAB III PENUTUP

1. KESIMPULAN Norma adat mempunyai hubungan secara tidak langsung dalam agama Kristen. Nilai-nilai yang terkandung dalam suatu adat kadang berpedoman pada suatu nilai agama. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa sebagian besar adat juga agak menyimpang dari nilai iman Kristen seperti penyembahan berhala. Oleh karena itu, dengan perkembangan zaman saat ini yang disertai juga perkembangan adat istiadat, kita harus dapat memilah suatu kepercayaan terhadap adat sehingga adat tersebut tidak bertentangan dengan Alkitab dan iman Kristiani.

2. SARAN Seperti yang telah kita ketahui, ada ajaran norma adat yang sesuai dengan ajaran Alkitab, namun ada juga yang bertentangan dengan Alkitab dan iman Kristiani. Oleh karena itu sebaiknya adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran iman Kristiani tersebut tidak dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, karena bertentangan dengan ajaran Iman Kristen. Selain itu jika ada adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen, hendaknya kita meluruskannya, artinya kita memberitahu bagaimana ajaran yang baik, yang diinginkan oleh Kristus.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://nikennababan.blogspot.com/2011/01/etika-kristen-terhadap-penerapan-adat.html http://setyoprayitno.wordpress.com/2010/10/29/materi-kelas-xi-pembelajaran-1/ http://ruth712.wordpress.com/2010/08/11/nilai-dan-norma-kristiani-bab-2-kelas-11/ http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_adat http://www.scribd.com/doc/103097242/Nilai-Dan-Norma-Dalam-Kehidupan-Masyarakat

19