Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan bagian terendahnya bokong,kaki, atau kombinasi keduanya.

Dengan insidensi 3-4% dari seluruh kehamilan tunggal pada umur kehamilan cukup bulan ( 37 minggu), presentasi bokong merupakan malpresentasi yang paling sering dijumpai. Sebelum umur kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30%, dan sebagian besar akan berubah menjadi presentasi kepala setelah umur kehamilan 34 minggu. Penyebab terjadinya presentasi bokong tidak diketahui, tetapi terdapat beberapa factor resiko selain prematuritas, yaitu abnormalitas structural uterus, polihidramnion, plasenta previa, multiparitas, mioma uteri, kehamilan multiple, anomaly janin (anensefali, hidrosefalus), dan riwayat presentasi bokong sebelumnya. Manajemen presentasi bokong mengalami perubahan yang mengarah kepada semakin dipilihnya cara persalinan bedah besar dibandingkan vaginal. Pada tahun 1990 sebanyak 90% kasus presentasi bokong dilahirkan secara bedah besar, sedangkan pada tahun 1970 hanya 11,6%. Kecendrungan tersebut sangat berkaitan dengan bukti-bukti yang menunjukkan hubungan cara persalinan dengan resiko kematian atau morbiditas perinatal. Meskipun nilai ambang dilakukannya bedah sesar pada kasus presentasi bokong semakin rendah, keterampilan melakukan persalinan vaginal masih tetap diperlukan, kontroversi masih terjadi dalam pilihan cara persalinan pada presentasi bokong. Hal tersebut hendaknya tidak membuat kekhawatiran terjadinya kematian atau morbiditas perinatal membuat semua kasus presentasi bokong dilakukan bedah sesar. Argumentasi atas hal tersebut adalah (a) morbiditas dan mortalitas perinatal pada presentasi bokong tidak semata-mata berkaitan dengan cara persalinannya, akan tetapi berhubungan dengan trauma persalinan, prematuritas, dan kelainan
1

congenital, (b) protocol khusu yang dikembangkan untuk penanganan persalinan dengan presentasi bokong memberikan luaran yang serupa denagn luaran bedah sesar elektif. Trauma pada janin dalam presentasi bokong dapat terjadi baik pada persalinan secara bedah sesar maupun vaginal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Presentasi Bokong 2.1.1 Definisi Presentasi bokong adalah letak memanjang, dimana bokong sebagai bagian terendah, sehingga kepala berada di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri. (1,2,3,4)

2.1.2 Epidemiologi Presentasi bokong biasanya ditemukan kira-kira 3-4% kelahiran bayi tunggal. Pada tahun 1990-an ditemukan sekitar 3,5% diantara 136.256 bayi tunggal yang lahir di AS. Di Belanda, GreenHill melaporkan 2-3% jumlah kasus persalinan dengan presentasi bokong. Di RS.Hasan Sadikin Bandung sebesar 4,6%, dan di RSUP.H. Adam Malik/ RSUD. Dr. Pirngadi Medan ditemukan 4,4% kasus presentasi bokong. 2.1.3 Etiologi Umumnya penyebabnya belum jelas, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yaitu ; a. Kelainan dari Ibu 1. Kelainan Uterus Tumor dari uterus yang mendesak uterus Kelainan bawaan uterus, seperti uterus arkuatus yang dapat mengubah letak janin 2. Kelainan panggul Pintu atas panggul yang terlalu luas atau terlalu sempit dapat mengganggu fiksasi dari kepala janin.

3.

Kelainan dari jumlah air ketuban Hidramnion menyebabkan terlampau bebasnya pergerakkan janin dalam uterus sehingga fiksasi kepala terganggu dan pada oligohidramnion gerakan janin terbatas sehingga terhalang versi spontan dari jauh.

4.

Kelainan implantasi plasenta Misalnya plasenta previa yang menghalangi turunnya kepala ke pintu atas panggul.

b.

Kelainan dari Janin 1. Bayi prematur Pada bayi premature ukuran kepala masih kecil, fiksasi kepala tidak sempurna 2. Kehamilan ganda Umumnya pada kehamilan kembar, janin menyesuaikan dirinya dalam rahim. 3. Bayi mati Presentasi bokong terjadi pada keadaan ini oleh karena gerakan janin tidak ada lagi. 4. Bayi dengan kelainan bawaan Kelainan bawaan pada kepala bayi dapat mengganggu fiksasi dari kepala bayi, misalnya hidrosefalus, ansefalus dan mikrosefalus. (3,4)

2.1.4 Klasifikasi Presentasi Bokong Ada 3 klasifikasi dari presentasi bokong : 1. Frank breech (Presentasi bokong sempurna) Dimana ekstremitas bawah fleksi pada paha dan ekstensi pada lutut. Sehingga kaki terletak dekat dengan kepala. Pada pemeriksaan dalam hanya bokong yang dijumpai sebagai bagian terbawah.

Frank Breech Presentation

2. Complete breech (Presentasi bokong lengkap) Dimana ekstremitas bawah fleksi pada paha dan salah satu atau kedua lutut juga fleksi. Pada pemeriksaan dalam selain bokong, kaki juga dijumpai disamping bokong.

3. Incomplete breech (Presentasi bokong tidak lengkap) Dimana salah satu atau kedua paha tidak fleksi dan salah satu atau kedua kaki terletak di bawah bokong. Sehingga pada pemeriksaan dalam kaki atau lutut yang merupakan bagian terbawah. Terdiri dari : Footling breech yaitu salah satu atau kedua kaki dijumpai dulu, dengan bokong pada posisi yang tinggi. Ini jarang tetapi relatif umum pada janin premature. Kneeling breech yaitu janin dalam posisi lutut, dengan salah satu atau kedua kaki ekstensi di pinggul dan fleksi di lutut. Ini sangat jarang. (2,3,4)

Complete Breech Presentation 2.1.5 Diagnosis

Incomplete Breech Presentation

Di samping presentasi bokong ditegakkan dengan pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam dan pemeriksaan penunjang seperti USG yang dilakukan apabila dengan pemeriksaan dalam menemui kesulitan seperti pasien dengan berat badan yang lebih, perut tegang, hidramnion dan lain-lain. Ibu hamil dengan presentasi bokong selalu mengemukakan gerakan janin yang dirasakan padanya yaitu adanya penekanan pada ulu hati oleh kepala janin yang diraba pada bagian fundus. (1,3,4) Inspeksi Umumnya secara inspeksi tidak dijumpai tanda yang spesifik. Bentuk rahim kadang kala kelihatan dengan bentuk cekungan yang melintang difundus. (2,3) Palpasi Cara palpasi yang dipakai adalah dengan cara LEOPOLD. Pada Leopold I : Teraba bagian janin yang keras dan bulat serta mudah digerakkan Kepala biasanya terletak di daerah hypochondrium,

(ballottement) pada fundus uteri.

disebabkan fleksi tulang panggul. Kadang-kadang kepala teraba di daerah epigastrium. Jika air ketuban sedikit dan posisi dorso posterior kepala menjadi fleksi dan tidak mudah bergerak sehingga ballottement sukar ditemukan, juga jika air ketuban berlebihan (polihidramnion) sukar untuk meraba kepala. (2,3)

Pada Leopold II

: Menunjukkan punggung berada pada satu sisi abdomen dan bagian-

bagian kecil janin pada sisi yang lain. Pada Leopold III : Teraba bokong janin yang lunak, dan kurang bulat dibandingkan

kepala janin yang teraba pada perasat Leopold I. Bila belum Engagement, diameter intertrochanterica dari panggul janin masih dapat digerakkan di atas pintu atas panggul. Pada Leopold IV : Menunjukkan posisi bokong yang mapan dibawah simfisis.

Seringkali ibu menyatakan bahwa pada kehamilannya ini terasa penuh di bagian atas abdomen dan menyesak daerah ulu hati dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah abdomen.(1) Auskultasi Bunyi jantung janin umumnya cenderung terdengar setinggi sekitar umbilikus atau sedikit lebih tinggi daripada umbilikus.. (2,3)

Pemeriksaan Dalam Sebelum inpartu sedikit yang dapat diperoleh dari pemeriksaan dalam terhadap presentasi dan posisi janin. Bila telah inpartu pemeriksaan dalam diperlukan untuk menentukan jenis dan posisi presentasi bokong. Pada presentasi bokong dapat teraba sacrum, kedua tuberositas ischiadica dengan processus spinosumnya dan anus. Pada penurunan lebih lanjut, dengan pemeriksaan dalam yang baik, genitalia eksterna dapat dikenali. Apabila teraba bagian kecil yakni kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada kaki teraba tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari tangan kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan janin. Pada partus tak maju, bokong bisa terjadi edema, sehingga dapat meragukan diagnosa presentasi muka. Anus teraba seperti mulut dan tuberositas ischiadica seperti rahang atas. Dengan perabaan hati hati, telunjuk yang masuk ke dalam anus terasa tegangan otot otot spinter ani dan

bila tangan dikeluarkan terdapat meconium pada sarung tangan. Posisi presentasi bokong ditentukan berdasarkan letak sakrum janin terhadap panggul ibu. Sakrum kiri depan yang terbanyak 45%, menyusul sakrum kanan depan 30%. Pada Presentasi bokong sempurna (Complete Breech), kedua kaki dapat diraba disamping bokong. Sedangkan pada Incomplete Breech , hanya teraba satu kaki disamping bokong. Dan pada Frank Breech tidak teraba kaki disamping bokong. (1) Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi atau USG dapat dipergunakan untuk menentukan lokasi kepala janin, memastikan perkiraan klinis presentasi bokong dan untuk menentukan usia kehamilan serta kesejahteraan janin. (1,2,3) Apabila dipertimbangkan untuk persalinan pervaginam, tipe presentasi bokong merupakan hal yang penting diperhatikan, serta ada tidaknya fleksi dari kepala janin. Peran Pelvimetri radiologik dalam menentukan tindakan persalinan sungsang masih menjadi kontroversial. (1,2,3) 2.1.6 Tatalaksana Presentasi Bokong A. Penanganan dalam Kehamilan(1,2,3,4,5) a. Knee Chest Position ( KCP ) Greenhill menyatakan bahwa versi spontan adalah hasil yang diharapkan setelah melakukan KCP ini. Dilakukan 2 3 kali sehari selama 10 15 menit. Di mana diharapkan bokong janin yang telah turun bebas kembali sehingga terjadi versi spontan. Usia kehamilan yang dianjurkan untuk melakukan KCP adalah pada usia kehamilan 30 32 minggu. b. Versi Luar Versi luar sebaiknya dilakukan pada kehamilan diatas 32 minggu. Pada primigravida 32 34 minggu dan pada multigravida 34 36 minggu. Sedangkan setelah 38 minggu

versi luar sulit dilakukan karena janin sudah cukup besar, jumlah air ketuban sudah berkurang. Syarat-syarat versi luar : 1. 2. 3. 4. 5. Janin diharapkan dapat dilahirkan pervaginam Bagian terendah janin masih dapat digerakkan di atas pintu atas panggul Ibu tidak gemuk, agar penolong dapat meraba bagian-bagian janin Selaput ketuban masih utuh Pada keadaan yang inpartu, dilatasi serviks < 4 cm

Kontraindikasi untuk melakukan versi luar adalah : Panggul sempit Perdarahan antepartum Hipertensi Hamil kembar Kelainan uterus Sebelum melakukan versi luar, diagnosis letak dan presentasi janin harus pasti, dan denyut jantung janin harus dalam keadaan baik. Versi luar harus dengan kekuatan ringan tanpa paksaan. Penggunaan narkosis dalam versi luar masih kontroversial, mengingat penderita tidak merasakan sakit sehingga tenaga penolong berlebihan melakukan versi luar, dapat menyebakan terjadinya solusio plasenta. Perlu alat ultrasonografi untuk memandu reposisi janin pada versi luar. B. Penanganan dalam Persalinan Penanganan pada masa persalinan secara garis besar ada dua cara persalinan presentasi bokong yaitu pervaginam dan perabdominal ( seksio sesaria ). (2,3,4) 1. Persalinan pervaginam Syarat syarat persalinan pervaginam :

a) Panggul adekuat b) Presentasi bokong sempurna (Frank breech) c) Berat badan janin < 3500 gram, d) Kehamilan aterm e) Kepala janin fleksi f) Pemeriksaan USG untuk mengestimasi berat badan janin, fleksi kepala janin dan kelainan kongenital g) Tidak ada lilitan tali pusat di leher janin (1,2,3) Syarat Pimpinan Kala II Pada Persalinan Letak Sungsang : a) Pembukaan lengkap b) Bokong di Hodge III atau lebih c) Ketuban ditunggu pecah sendiri, atau dipecahkan bila pembukaan lengkap d) Hati-hati prolaps tali pusat e) Hati-hati "aftercoming head f) Tersedia forcep (cunam) Piper g) Operator yang kompeten dalam menolong persalinan sungsang dan dapat melakukan penanganan komplikasi.(1) Persalinan pervaginam dibagi atas : 1. Persalinan spontan (Spontaneus Breech) Yang dimaksud persalinan spontan adalah lahirnya janin seluruhnya dengan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara BRACHT. Tahap Pertama : Fase Lambat, lahirnya bokong sampai dengan umbilikus Tahap Kedua : Fase cepat, lahirnya umbilikus sampai mulut bayi, dimana harus dilahirkan cepat karena umbilikus dapat terjepit. Tahap Ketiga : Fase lambat, lahirnya mulut sampai seluruh kepala.

10

Setelah bokong lahir, umbilikus dikendorkan terlebih dahulu, kemudian bokong dicengkeram dan melakukan hiperlordosis pada punggung janin guna mengikuti gerakan rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong hanya mengarahkan gerakan tanpa melakukan tarikan pada bayi.(1)

2.

Ekstraksi Parsial (Partial Breech Extraction/Assisted Breech Delivery/Manual Aid )

Adalah lahirnya anak secara spontan sampai batas umbilikus ( pasif ). Kemudian seluruh tubuh bayi dilahirkan dengan pertolongan aktif. Pada fase pasif kita harus menunggu dengan sabar sampai lahir tubuh bayi sebatas umbilikus. (1)

A.

Cara melahirkan bahu dan lengan ada beberapa cara :(1,2,3) Cara Klasik (Deventer) Adalah melahirkan bahu dan lengan belakang lebih dahulu, karena lengan belakang berada di ruangan yang lebih luas (sakrum), baru kemudian melahirkan lengan depan yang berada dibawah simfisis.

11

Cara Lovset Setelah sumbu bayi berada dalam ukuran muka belakang, tubuh bayi ditarik ke bawah lalu dilahirkan bahu dan lengan belakang, setelah itu bayi diputar 900 sehingga bahu depan menjadi bahu belakang, lalu dilahirkan.

Cara Muller Tarik bayi vertikal ke bawah lalu dilahirkan bahu dan lengan depan. Cara melahirkan bahu-lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari menyapu muka. Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki ke atas, lalu bahu-lengan belakang dikait dengan menyapu muka.

12

B.

Cara Melahirkan Kepala (1,2,3) Cara Mauriceau (Veit Smellie) Masukkan jari-jari penolong ke dalam mulut bayi (muka mengarah ke kiri, gunakan jari kiri, mengarah ke kanan, gunakan jari kanan). Kegunaan jari dalam mulut untuk menambah fleksi kepala bayi. Selanjutnya, Letakkan tubuh bayi dengan menunggang pada lengan penolong, sementara tangan lain memegang pada tengkuk bayi sambil menundukkan kepala bayi agar tetap fleksi.

Cara Naujoks Satu tangan memegang leher bayi dari depan, tangan lain memegang leher dari belakang pada bahu, tarik bayi ke bawah dengan bantuan penolong lain menekan dari atas simfisis.

13

Cara Prague terbalik Cara ini dipakai bila ubun-ubun kecil berada di belakang dekat sakrum dan muka bayi menghadap simfisis. Satu tangan memegang bahu bayi dari belakang/bawah dan punggung bayi diletakkan pada telapak tangan penolong. Tangan lain memegang kedua pergelangan kaki, lalu menarik bayi ke arah atas bersamaan dengan tarikan paada bahu bayi. Sehingga perut bayi mendekati perut ibu. Dalam hal ini laring sebagai sumbu (hipomoklion).

3. Ekstraksi Totalis (Total Breech Extraction ) (1,2,3) Dilakukan dimana seluruh badan anak masih berada di dalam jalan lahir. Hampir seluruh ahli kebidanan menyetujui bahwa tindakan ini hanya dilakukan bila ada indikasi darurat. Misalnya indikasi untuk anak adalah gawat janin.

14

Sedangkan indikasi untuk ibu adalah penyakit penyakit ibu yang tidak boleh mengedan. Mortalitas anak dengan tindakan ini sangat tinggi, oleh karena itu semua ahli sependapat untuk melakukan seksio sesaria dari pada melakukan ekstraksi totalis. Ada 2 cara melakukan Ekstraksi Totalis, yaitu : a. Ekstraksi kaki (Perasat Pinard) Jika kaki yang turun maka dilakukan tarikan dengan memegang kaki yang turun.

b. Ekstraksi bokong Dilakukan jika bokong telah turun memasuki rongga panggul. (1,2,3,4) Cara Reposisi Lengan Menunjuk (Nuchal Arms) Lengan menunjuk adalah bila salah satu lengan janin melingkar di belakang leher dan menunjuk ke suatu arah. Cara reposisinya adalah sebagai berikut : 1. Satu tangan menunjuk Janin diputar 90 ke arah mana tangan menunjuk, sehingga tangan akan terlepas dengan gerakan menyapu kepala. 2. Kedua tangan menunjuk Untuk tangan pertama seperti diatas, dan untuk tangan kedua diputar berlawanan arah 180.

15

Cara Melahirkan Lengan Menjungkit Lengan menjungkit adalah lengan dalam posisi lurus keatas di samping kepala. Cara terbaik untuk melahirkan lengan menjungkit adalah dengan cara Lovset. Cara melahirkan kepala yang sulit lahir (Aftercoming Head) 1. Bila janin masih hidup, lahirkan kepala dengan ekstraksi forcep (Cunam Piper). Cunam Piper memiliki lengkung kepala dan lengkung panggul yang sesuai dan panjang, dapat dipergunakan untuk melahirkan kepala pada keadaan After Coming Head. Langkah 1 : Tubuh janin disanggah keatas menggunakan kain/handuk yang hangat.

16

Langkah 2 : dilakukan pemasangan cunam piper pada kepala janin yang after coming head.

Langkah 3 : dilakukan tarikan kepala searah sumbu lahir dan ke arah atas, sementara penolong lain memegang kain/ handuk yang menyanggah tubuh bayi mengikuti arah tarikan kepala oleh cunam piper yang dilakukan penolong pertama. Indikasi Cunam Piper ini setara dengan pertolongan pengeluaran kepala cara Mauriceau.

2. Bila janin sudah meninggal, dilakukan embriotomi Penyulit atau komplikasi yang Mungkin Terjadi a) Sufokasi : aspirasi darah, lendir, mekonium, air ketuban terhisap ke jalan napas

b) Prolaps tali pusat c) Asfiksia

17

d) Kerusakan jaringan otak e) Fraktur pada tulang-tulang bayi : humerus, klavikula, femur, dislokasi bahu, tulang kepala f) Cedera pleksus brakialis, hematoma otot-otot. (1,3)

2. Persalinan perabdominal Pritchard menganjurkan untuk memperkecil morbiditas dan mortalitas pada bayi, seksio sesaria dilakukan dalam keadaan-keadaan berikut (1) 1. 2. Presentasi bokong dengan bayi besar > 4000 gram Presentasi bokong dengan bayi besar dengan panggul sempit serta beberapa kelainan bentuk panggul 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Presentasi bokong dengan kepala hiperekstensi Presentasi bokong belum inpartu dan keadaan Ketuban pecah dini. Presentasi bokong dengan disfungsi uterus Presentasi kaki atau Incomplete Breech Janin Prematur yang Viable Severe IUGR Presentasi bokong dengan kematian perinatal sebelumnya atau riwayat trauma lahir pada persalinan sebelumnya dan nilai sosial anak yang tinggi (anak sangat berharga). 10. Penolong yang kurang kompeten(2,3)

2.1.7 Zatuchni dan Andros Scoring Zatuchni dan Andros telah melakukan suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominal, sebagai berikut :

18

Kriteria Paritas Umur Kehamilan Taksiran Berat

Skor 0 Primigravida >39 minggu

Skor 1 Multigravida <38 minggu

Skor 2

>3650 gr Janin Riwayat letak Tidak ada sungsang Pembukaan <2 cm Serviks Station Skor : <-3 3 : Persalinan per abdominal

3176 - 3649 gr

<3176 gr

1 kali

>2 kali

3 cm

>4cm

-2

-1 atau lebih rendah

4 : Evaluasi kembali secara cermat, khususnya taksiran berat janin, bila tidak yakin/alat diagnosa penunjang tidak ada, dapat dilakukan persalinan perabdominal. 5 : Dilahirkan pervaginam 2.1.8 Prognosis Resiko persalinan pervaginam pada presentasi bokong lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan presentasi kepala, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. After coming head Nuchal arm ( tangan menjungkit ) Prolaps tali pusat Perdarahan intracranial, robeknya selaput otak Asfiksia janin karena terjepit tali pusat Robekan pada pleksus brachialis sehingga menyebabkan parese lengan Pada ibu dapat timbul laserasi luas jalan lahir. (1)
19

BAB III LAPORAN KASUS ANAMNESA PRIBADI NAMA UMUR PEKERJAAN SUKU AGAMA TGL MASUK ANAMNESA PENYAKIT Keluhan Utama Telaah : Rencana SC elektif : Pasien telah melakukan pemeriksaan kehamilan di Poliklinik Ibu Hamil RSUPM sejak bulan September 2011 dan didiagnosa panggul sempit sehingga telah direncanakan untuk Sectio Cesarea. Mules-mules mau melahirkan tidak dijumpai, keluar lendir darah tidak dijumpai, keluar air dari kemaluan tidak dijumpai, BAB (+) normal, BAK (+) normal. RPT RPO : oophorectomy tahun 2008 ec ? : (-) : Ny. S : 35 tahun : IRT : Jawa : Islam : 18 Oktober 2011 PUKUL 10.22 WIB

BOH : Panggul Sempit Gravida 7, Paritas 2, Abortus 4 Periksa hamil pada : bidan sebanyak 4 kali dan dokter sebanyak 2 kali Trimester I : 2x Trimester II : 2x Trimester III : 2x
20

Haid : HPHT TTP Lama siklus Siklus : ? 01 2011 : ? 10 2011 : 28 hari : Teratur

Tanda-tanda Inpartu : Show (tanda) keluar His teratur mulai Rasa mengedan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak pernah : Tidak ada

Komplikasi kehamilan Penyakit-penyakit dalam kehamilan ini Keluarga Berencana Riwayat Infertilitas

RIWAYAT KEHAMILAN / PERSALINAN 1. Abortus 2. Laki-laki, 3200 gr, SC, Dokter, RS, 13 tahun, hidup 3. Abortus 4. Abortus 5. Perempuan, 3100 gr, SC, Dokter, RS, 7 tahun, hidup 6. Abortus 7. Hamil ini

21

PEMERIKSAAN FISIK Status Present Sens TD HR RR : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 80 x/i : 20 x/i Anemis Ikterus Dispnoe Sianosis Edema : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) Refleks KPR : (+) Normal

Temp : 36,5 C

Status Obstetri Abdomen Tinggi Fundus Uteri Teregang Bagian terbawah Turunnya bagian terbawah Gerak janin His DJJ PEMERIKSAAN DALAM Tidak dilakukan pemeriksaan LABORATORIUM: Hb Ht : 13,1 gr% : 38,8 % : 11.930 /mm3 : 378.000 /mm3 : membesar asimetris : 2 jari bpx : kiri : bokong : 5/5 : (+) : (-) : 140 x/menit, reguler

Leukosit Trombosit

22

LFT Bilirubin total Bilirubin direk SGOT SGPT Alkali fosfatase : 0,33 mg/dl : 0,09 mg/dl : 22 U/I : 13 U/I : 133 U/I

RFT Ureum Kreatinin Uric Acid : 11 mg/dl : 0,63 mg/dl : 4,1 mg/dl : 432 U/I

LDH Elektrolit Natrium Kalium Klorida

: 142 mmol/dl : 3,9 mmol/dl : 111 mmol/dl : 95 mg/dl

KGD ad random KESIMPULAN :

Umur kehamilan Letak Anak Panggul Kehamilan resiko tinggi Perdarahan ante partum Inpartu Keadaan janin

: 39-40 minggu : Sungsang : Sempit : Tidak ada : Tidak ada : Tidak dijumpai : Hidup

23

Tanda-tanda ruptur uteri mengancam : Tidak ada Pecah ketuban His Komplikasi Diagnosa : Tidak dijumpai : Tidak ada : Tidak ada : Prev. SC 2x a/i Panggul Sempit + GMG + KDR (39-40 minggu) + Presentasi Bokong + AH + Belum Inpartu Prognosa Rencana : Sedang : Persalinan SC dan sterilisasi

LAPORAN SC : Ibu dibaringkan dimeja operasi dengan infus dan keteter terpasang dengan baik Dilakukan spinal anestesi, kemudian dilakukan tindakan aseptik dengan larutan betadine dan alkohol 70 % pada dinding abdomen lalu ditutup dengan doek steril kecuali lapangan operasi Dilakukan insisi pada bekas operasi lama secara midline mulai dari kutis, subkutis sampai fascia sepanjang 10 cm. Dengan menyisipkan pinset anatomis dibawahnya, fascia digunting keatas dan bawah, otot disisihkan kekiri dan kanan, peritoneum di klem di dua tempat lalu di gunting diantaranya kemudian dilebarkan ke atas dan bawah. Lalu plika digunting kekiri dan kekanan dan dipisahkan ke arah kaudal, dilakukan insisi pada daerah SBR secara konkaf sampai subendometrium dan ditembus secara tumpul, kemudian dilebarkan ke kiri dan kanan. Selaput ketuban dipecahkan, dengan meluksir kepala, lahir bayi perempuan, BB 2850 gr, PB 46 cm, A/S=9/10, Anus (+) Tali pusat diklem pada 2 tempat dan digunting diantaranya. Plasenta dikeluarkan dengan traksi tali pusat dan masase pada fundus uteri. Kesan : lengkap.
24

Kavum uteri dibersihkan dari sisa-sisa selaput ketuban dengan kasa steril terbuka sampai tidak ada sisa selaput/ plasenta yang tertinggal. Kesan : Bersih

Uterus dijahit dengan vicryl no 2 secara kontinuous interlocking, lalu dilakukan penjahitan hemostasis.

Kemudian tuba kanan dan kiri dievaluasi, diklem dan digunting dan dilakukan sterilisasi Pomeroy

Evaluasi ovarium, pada ovarium kiri tampak adanya massa berukuran 8x6 cm dengan konsistensi kistik, diputuskan untuk dilakukan kistektomi sinistra, ovarium kanan (-)

Evaluasi cavum abdomen dan dibersihkan dari sisa-sisa cairan ketuban dan darah, kesan bersih.

Lalu peritoneum dijahit dengan plain cat gut no. 2.0 secara kontinuous, fascia dijahit dengan vicryl no.1 secara kontinuous, sub kutis dijahit secara simple dengan cat gut no 2.0, sub cutis dijahit dengan vicryl no 2/0 secara sub kutikuler.

Evaluasi perdarahan, kesan: tidak ada apa-apa KU ibu post operasi : stabil

Pengawasan pasca operasi : Awasi vital sign, kontraksi, balance cairan dan tanda-tanda perdarahan Cek HB 2 jam post SC, jika < 8 gr% dilakukan transfusi sesuai kebutuhan Rencana : Jaringan kista ovarium dilakukan pemeriksaan histopatologi Terapi : IVFD RL + oksitosin 10-5-5 IU 20 gtt/i Inj. Viccilin SX 1,5gr/8jam Drip Farmadol/8 jam

25

NEONATUS 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jenis Kelahiran Lahir Tanggal Jam Keadaan Lahir Nilai Apgar Bantuan Pernafasan Jenis Kelamin Berat Badan Panjang Badan : Tunggal : 19 Oktober 2011 : 11.00 WIB : Lahir hidup : 9/10 : Tidak ada : Perempuan : 2850 gr : 46 cm : tidak ada : tidak ada : Perinatologi 1 2 3 4 Jam Nadi/menit TD Pernafasan/ menit 5 6 7 Kontraksi Perdarahan Terapi Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat 13.00 72 140/90 20 13.30 72 130/90 20 14.00 80 130/90 20 14.30 80 130/90 20 15.00 80 120/80 20

10. Kelainan bawaan 11. Trauma 12. Konsul KALA IV :

IVFD RL 20 gtt/I Inj. Viccilin 1,5 gr/ 8 jam Farmadol drips / 8 jam

26

LABORATORIUM 2 JAM POST SC : Hb Ht Leukosit Trombosit : 13,6 gr% : 41 % : 16.200/mm3 : 309.000/mm3

FOLLOW UP DI RUANGAN Tanggal 20 Oktober 2011 KU Sensorium TD HR RR Temp : Nyeri luka operasi : Compos Mentis :130/80 mmHg : 76 x/i : 16 x/i : 36,2C Anemia Ikterik Dispnoe Sianosis Oedem : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

Status Lokalisata : Abdomen TFU P/V : Soepel, Peristaltik (+) : 2 jari di bawah pusat , kontraksi : (+) kuat : (-), lochia rubra (+)

Luka operasi : kering, tertutup verband BAK BAB Flatus ASI Diagnosa : (+) volume 100 cc/ 3 jam, urine jernih : (-), flatus: (+) : (+) : (-) : Post SC a/I Prev. SC 2x a/I Panggul Sempit + Kontap + Kistektomi sinistra + NH1 Terapi : - Inj. Viccilin SX 1,5 gr/ 8 jam - Asam mefenamat 3x500 mg - Vitamin B complex 2x1

27

Tanggal 21 Oktober 2011 KU Sensorium TD HR RR Temp : (-) : Compos mentis : 120/80 mmHg : 74 x/i : 20 x/i : 36.7C

Status Lokalisata : Abdomen TFU P/V : Soepel, Peristaltik (+) : 2 jari dibawah pusat , kontraksi : (+) kuat : (-), lochia rubra (+)

Luka operasi : tertutup verband BAK BAB Flatus ASI Diagnosa : (+) : (+) : (+) : (-) : Post SC a/i Prev. SC 2x a/I Panggul Sempit + Kontap + Kistektomi sinistra + NH 2 Terapi : - Amoxicillin 3x500 mg - Asam mefenamat 3x500 mg - Vitamin B complex 2x1

Tanggal 22 Oktober 2011 KU Sensorium TD HR RR Temp : (-) : Compos mentis : 130/90 mmHg : 80 x/i : 16 x/i : 36,6C

Status Lokalisata : Abdomen TFU P/V : Soepel, Peristaltik (+) : 2 jari dibawah pusat , kontraksi : (+) kuat : (-), lochia rubra (+)

Luka operasi : tertutup verband


28

BAK BAB Flatus ASI Diagnosa

: (+) : (+) : (+) : (-) : Post SC a/i Prev. SC 2x a/I Panggul Sempit + Kontap + Kistektomi sinistra + NH 3

Terapi

: - Amoxicillin 3x500 mg - Asam mefenamat 3x500 mg - Vitamin B complex 2x1

Rencana pasien berobat jalan tanggal 22 Oktober 2011 dan kontrol ulang pada tanggal 25 Oktober 2011.

29

BAB IV ANALISA KASUS TEORI KASUS

Salah satu faktor predisposisi terjadinya Pada kasus ini dijumpai ibu memiliki presentasi bokong adalah bila dijumpai kelainan panggul sempit di mana hal ini kelainan dari panggul ibu yang terlalu sempit menjadi faktor predisposisi terjadinya

untuk terjadinya fiksasi kepala janin pada presentasi bokong pada hamil ini. pintu atas panggul. Pada diagnosis presentasi bokong, Pada kasus, dengan pemeriksaan palpasi

pemeriksaan palpasi dengan Leopold I akan dengan Leopold I dijumpai kepala di mendapati kepala biasanya terletak di daerah hypochondrium kiri, dengan Leopold II hypochondrium, disebabkan fleksi tulang dijumpai bagian teregang pada abdomen kiri, panggul, kadang-kadang kepala teraba di dengan Leopold III dijumpai bagian yang daerah epigastrium, dengan Leopold II lunak yaitu bagian bokong, dan dengan dijumpai punggung di satu sisi abdomen, Leopold IV belum dijumpai bagian bokong dengan Leopold III teraba bagian bokong mapan di bawah simfisis. yang lebih lunak dari kepala, dan dengan Leopold IV untuk memastikan posisi bokong yang mapan di bawah simfisis. Zatuchni dan Andros telah melakukan suatu Pada kasus ini didapati skor Zatuchni dan indeks prognosis untuk menilai lebih tepat Andros sebesar 3 yang berasal dari data apakah persalinan dapat dilahirkan kehamilan : Multigravida (skor 1), usia

30

pervaginam atau perabdominal dengan skor kehamilan >39 minggu (skor 0), taksiran 3 maka dilahirkan secara perabdominal, berat badan janin <3176 gr (skor 2), riwayat skor 4 perlu dievaluasi lagi taksiran berat sungsang tidak ada (skor 0), pembukaan badan janin, dan skor 5 dapat dilahirkan serviks <2 cm (skor 0), station <-3 (skor 0) secara pervaginam. Indikasi persalinan perabdominal pada Pada kasus ini dijumpai indikasi untuk

presentasi bokong salah satunya adalah bila dilakukan persalinan perabdominal yaitu janin terlalu besar atau adanya panggul panggul sempit / inadekuat. sempit dan kelainan bentuk panggul lainnya.

Permasalahan : 1. Pada riwayat kehamilan pasien ini dijumpai riwayat abortus sebanyak 4 kali. Apakah penyebab yang mungkin dapat mengakibatkan abortus hingga 4 kali tersebut? 2. Apakah prosedur kistektomi yang dilakukan durante sectio caesarea sudah pada tempatnya?

31

RUJUKAN 1. Cuningham G, Leveno JK, William Obstetrics 22nd Edition, McGraw Hill, 2005 2. Prawirohardjo S, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Edisi kelima, Jakarta, 2011. 3. Mochtar R, Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Penerbit Buku EGC, Jakarta, 1998. 4. Fischer R, Breech Persentation, Witlin A, Talavera F, Legro RS, Gaupp FB, Shulman LP, eds, last update Juli 2006, available from http://emedicine.medscape.com/article/262159-overview#showall 5. Terey A, Brecch Presentation, On January 2007, available at : http://medlinux.blogspot.com/2007/11/presentasi-bokong.html

32