Anda di halaman 1dari 9

235

Bahan Bacaan - 8
MENYUSUI ANAK (AR-RADHAH)
Marzuki Wahid
A
jaran penyusuan anak [ar-radhah] secara eksplisit dan tegas dikemukakan
di dalam Kitab Suci al-Qurn dan kemudian mendapatkan penjelasan dari
hadits Nabi SAW. Namun sebagaimana umumnya ayat dalam al-Qurn,
ajaran itu masih membuka ruang interpretasi [tafsir] yang luas. Hampir semua kitab
fqh dari pelbagai madzhab membahas topik ar-radhah dalam pasal tersendiri di bawah
pembahasan bab nikh. Namun, pembahasan mereka umumnya berkisar pada dua
hal pokok. Pertama, pembahasan tentang teknis penyusuan yang menyebabkan menjadi
mahram [haram dinikahi]. Kedua, pembahasan mengenai hubungan upah penyusuan di
antara pihak-pihak terkait. Sementara posisi persusuan sebagai hak anak [haqq ar-radh]
untuk menjamin kesehatan dan cara hidup yang baik, serta perlindungan kesehatan
bagi ibu yang menyusui [haqq al-murdhiah] belum banyak disinggung, bahkan terkesan
tak dipikirkan [all mufakkira fh, limpens].
Secara etimologis, ar-radhah atau ar-ridhah adalah sebuah istilah bagi isapan
susu, baik isapan susu manusia maupun susu binatang. Dalam pengertian etimologis
tidak dipersyaratkan bahwa yang disusui itu [ar-radh] berupa anak kecil [bayi] atau
bukan.
1
Adapun dalam pengertian terminologis, sebagian ulama fqh mendefnisikan
ar-radhah sebagai berikut:
Sampainya [masuknya] air susu manusia [perempuan] ke dalam perut seorang anak
[bayi] yang belum berusia dua tahun, 24 bulan.
2

Mencermati pengertian ini, ada tiga unsur batasan untuk bisa disebut ar-radhah
asy-syariyyah [persusuan yang berlandaskan etika Islam]. Yaitu, pertama, adanya
air susu
3
manusia [labanu adamiyyatin]. Kedua, air susu itu masuk ke dalam perut

Abdurrahman al-Jaziri, Kitb al-Fiqh al al-Madzhib al-Arbaah, Juz IV, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987], hlm.
250-25.
2
Ibid.
3
Ulama Hanafyyah mengajukan syarat bagi air susu ini. Bagi mereka, air susu harus berbentuk benda cair. Kalau
yang disusukan itu sudah berbentuk benda padat, seperti keju dan sebagainya, tidak menyebabkan adanya hubungan
kemahraman. Baca al-Jaziri, Ibid., Juz IV, hlm. 254.
236
8 - Bahan Bacaan
seorang bayi [wushluhu il jawf thifin]. Dan ketiga, bayi tersebut belum berusia dua
tahun [dna al-hawlayni]. Dengan demikian, rukun ar-radhah asy-syariyyah ada tiga
unsur: pertama, anak yang menyusu [ar-radh]; kedua, perempuan yang menyusui
[al-murdhiah]; dan ketiga, kadar air susu [miqdr al-laban] yang memenuhi batas
minimal. Suatu kasus [qadhiyyah] bisa disebut ar-radhah asy-syariyyah, dan karenanya
mengandung konsekuensi-konsekuensi hukum yang harus berlaku, apabila tiga unsur
ini bisa ditemukan padanya. Apabila salah satu unsur saja tidak ditemukan, maka ar-
radhah dalam kasus itu tidak bisa disebut ar-radhah asy-syariyyah, yang karenanya
konsekuensi-konsekuensi hukum syara tidak berlaku padanya.
Adapun perempuan yang menyusui itu disepakati oleh para ulama [mujma
alayh] bisa perempuan yang sudah baligh atau juga belum, sudah menopause atau juga
belum, gadis atau sudah nikah, hamil atau tidak hamil. Semua air susu mereka bisa
menyebabkan ar-radhah asy-syariyyah, yang berimplikasi pada kemahraman bagi
anak yang disusuinya.
4
Landasan Hukum
Setidak-tidaknya ada enam buah ayat dalam al-Qurn yang membicarakan perihal
penyusuan anak [ar-radhah]. Enam ayat ini terpisah ke dalam lima surat, dengan
topik pembicaraan yang berbeda-beda. Namun, enam ayat ini mempunyai keterkaitan
[munsabah] hukum yang saling melengkapi dalam pembentukan hukum. Selain enam
ayat ini, ar-radhah juga mendapatkan perhatian dari Nabi Muhammad SAW dalam
menjelaskan ayat-ayat tersebut. Baik al-Qurn maupun al-Hadits, kedua-duanya
sangat berarti bagi kekokohan landasan hukum dan etika menyusui.
Enam ayat al-Qurn yang dimaksud adalah sebagai berikut: pertama, ayat 233
Surat al-Baqarah [2]: Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara yang marf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut
kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan
juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya
ingin menyapih [sebelum dua tahun] dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka
tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Secara umum, ayat ini berisi tentang empat hal: pertama, petunjuk Allah SWT
kepada para ibu [wlidt] agar senantiasa menyusui anak-anaknya secara sempurna,
4
Ibn ar-Rusyd al-Qurthubiy al-Andulusiy, Bidyat al-Mujtahid wa Nihyat al-Muqtashid, Juz I, [t.tp.: t.p., t.t.], hlm. 30. Baca
juga Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Jilid II, hlm. 92.
237
Bahan Bacaan - 8
yakni selama dua tahun sejak kelahiran sang anak. Kedua, kewajiban suami memberi
makan dan pakaian kepada istrinya yang sedang menyusui dengan cara yang marf.
Ketiga, diperbolehkannya menyapih anak [sebelum dua tahun] asalkan dengan kerelaan
dan permusyawaratan suami dan istri. Keempat, adanya kebolehan menyusukan anak
kepada perempuan lain [al-murdhiah].
Kedua, ayat 23 surat An-Nis [4]: Diharamkan atas kamu [mengawini] ibu-ibumu,
anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara
bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan
dari saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan,
ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan ....
Ayat ini menjelaskan satu hal bahwa penyusuan anak [ar-radhah] dapat
menyebabkan ikatan kemahraman, yakni perempuan yang menyusui [al-murdhiah]
dan garis keturunannya haram dinikahi oleh anak yang disusuinya [ar-radh].
Ketiga, ayat 2 al-Hajj [22]: [Ingatlah] pada hari [ketika] kamu melihat kegoncangan
itu, lalailah semua perempuan yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah
kandungan segala perempuan yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk,
padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.
Keempat, ayat 7 surat al-Qashash [28]: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa;
Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai [Nil].
Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah [pula] bersedih hati, karena sesungguhnya Kami
akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya [salah seorang] dari para rasul.

Kelima, ayat 12 surat al-Qashash [28]: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada
perempuan-perempuan yang mau menyusui[nya] sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:
Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan
mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Tiga ayat terakhir ini menjelaskan kisah para perempuan yang menyusui anaknya
dalam sejarah, terutama berkaitan dengan masa kecil Nabi Musa. Dielaskan betapa
pentingnya air susu ibu [kandung] untuk anaknya, hingga Nabi Musa kecil dicegah
oleh Allah untuk menyusu kepada perempuan lain. Dan dielaskan pula kedahsyatan
goncangan hari kiamat, bahwa semua perempuan yang tengah menyusui anaknya
akan lalai tatkala terjadi kegoncangan hari kiamat tersebut.
Keenam, ayat 6 surat ath-Thalaq [65]: Tempatkanlah mereka [para istri] di mana
kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka
untuk menyempitkan [hati] mereka. Dan jika mereka [istri-istri yang sudah ditalak] itu
sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafahnya hingga mereka bersalin, kemudian
jika mereka menyusukan [anak-anak]mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya;
dan musyawarahkanlah di antara kamu [segala sesuatu] dengan baik; dan jika kamu menemui
238
8 - Bahan Bacaan
kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan [anak itu] untuknya.

Sementara ayat ini menjelaskan dua hal penting berkaitan dengan penyusuan
anak. Pertama, dalam ayat ini ditekankan adanya jaminan hak upah dari sang suami
bagi sang istri muthallaqah [yang sudah ditalak] jika ia menyusukan anak-anaknya, di
luar kewajiban nafah yang memang harus diberikan selama belum habis masa iddah.
Kedua, adanya kebolehan dan sekaligus hak upah bagi seorang perempuan yang
menyusukan anak orang lain, asalkan dimusyawarahkan secara baik dan adil.
Hak Upah susuan
Jika seorang perempuan menyusui anaknya sendiri, apakah ia berhak menuntut
upah atas susuannya itu? Kepada siapakah sang perempuan itu menuntut upahnya?
Jawabannya, tentu tergantung dari kondisi sang perempuan itu sendiri dalam
hubungannya dengan suami. Wahbah az-Zuhaily dalam konteks ini menjelaskan tiga
kondisi sang perempuan ketika menyusui, dan masing-masing terdapat hukumnya,
yang semuanya berkaitan dengan kewajiban nafah.
5
Kondisi pertama, menurut ulama Hanafyyah, Syafiyyah, dan Hanabilah, jika
sang perempuan yang menyusui itu masih dalam ikatan perkawinan atau di tengah-
tengah iddah dari talak rajiy, maka ia tidak berhak menuntut upah secara spesifk dari
susuannya. Karena dalam kondisi ini, sang suami masih berkewajiban memberikan
nafah kepada sang istri, maka istri tidak boleh menuntut upah [ujrah] yang lain
meskipun sebagai imbangan menyusui. Kebutuhan menyusui bisa dimasukkan ke
dalam jumlah besarnya nafaqah sehari-hari.
Akan tetapi, pada kondisi kedua, jika sang perempuan yang menyusui sudah ditalak
dan selesai dari iddah, atau dalam iddah wafat, disepakati oleh para ulama bahwa
sang perempuan boleh menuntut upah atas susuannya itu, dan ayah dari anak yang
disusuinya wajib memberikan upah itu secara adil. Sebab, bagi istri yang sudah ditalak
dan habis iddahnya atau dalam iddah wafat dalam ketentuan fqh sudah tidak ada lagi
nafah yang harus diterimanya dari sang suami. Hal ini didasarkan pada Surat ath-
Thalq [65] ayat 6, [ fa`in ardhana la kum fa `thunna ujrahunna watamir baynakum
bi marfn ] [ kemudian jika mereka menyusukan [anak-anak]mu untukmu, maka
berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu [segala
sesuatu] dengan baik ].
Menurut sebagian ulama Hanafyah, pada kondisi ketiga, jika sang perempuan
yang menyusui itu masih dalam iddah talak b`in, maka ia berhak menuntut upah dari
susuannya. Ini didasarkan pada kenyataan hukum bahwa status perempuan yang
ditalak bin sama dengan perempuan yang tidak memiliki hubungan perkawinan
5
Ibid., hlm. 700-70.
23
Bahan Bacaan - 8
[al-ajnabiyyah]: ia tidak lagi memperoleh hak nafah. Pendapat yang sama juga
dikemukakan oleh ulama Malikiyyah. Alasan mereka, surat ath-Thalq [65] ayat 6 [fa`in
ardhana la kum fa `thunna ujrahunna] adalah pernyataan yang tegas tentang tuntutan
hak upah atas susuan bagi perempuan yang ditolak b`in.
Dalam ayat yang sama, terutama pada lafadz [ wa in tasartum fa saturdliu lah
ukhr] [ dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan
[anak itu] untuknya], sang ayah juga wajib memberikan upah yang adil kepadanya,
apabila mereka memang istirdh [meminta bantuan orang lain untuk menyusukan
anaknya].
Sampai kapan hak upah susuan itu berlaku? Mengenai batasan waktu
pemberlakuan hak upah susuan, para ahli hukum Islam bersepakat hanya dua tahun
saja dari usia anak. Tidak adanya perbedaan ini karena ketegasan [sharh al-lafdhi wa
al-man] surat al-Baqarah [2] ayat 233. Ayat ini menegaskan bahwa seorang ayah wajib
memberikan upah susuan kepada perempuan yang menyusuinya sampai dengan usia
anak dua tahun. Ini dibebankan karena sang ayah berkewajiban memberikan nafah
kepada anak dan istrinya.
Sedangkan mengenai besar upah susuan, fqh tidak mengaturnya secara rinci
dalam bentuk angka atau prosentase. Ditentukan bahwa upah susuan yang harus
diberikan adalah upah mitsil, yakni upah kepatutan-sosial yang pada umumnya
diterima oleh perempuan lain ketika ia menyusui seorang bayi di tempat dan di mana
upah itu diberikan. Keputusan tentang jumlah besar soal ini agaknya diserahkan
pada keputusan masyarakat sendiri dengan mempertimbangkan keadilan sosial
yang berlaku pada masanya dan saatnya. Tentu saja ukuran keadilan menurut satu
masyarakat dengan masyarakat lain berbeda-beda, karena itu besar upah pun dapat
berbeda-beda asalkan memenuhi rasa keadilan di antara pihak yang terlibat.
Waktu Penyapihan
Dalam tradisi kita, dikenal luas istilah penyapihan anak. Yakni, masa pemutusan
atau pemberhentian penyusuan anak dari ibunya. Oleh masyarakat, cara ini dilakukan
dengan berbagai bentuk. Di antaranya adalah dengan memisahkan [paksa] anak dari
pergaulan ibunya sehari-hari, atau sang ibu memakan makanan yang membuat rasa
air susunya tidak disukai oleh anak, sehingga sang anak tidak lagi mau menyusu. Ini
dilakukan dengan berbagai motif. Di antaranya adalah karena memang sudah tiba
saatnya anak untuk disapih, akibat ada masalah dengan payudara ibu, atau karena
keengganan ibu untuk menyusui anaknya.
Berkaitan dengan kasus ini, al-Qurn tegas menyatakan bahwa batas waktu
boleh menyapih sebaiknya adalah ketika anak telah berusia dua tahun. Batas waktu
240
8 - Bahan Bacaan
ini berkait dengan batas maksimum kesempurnaan menyusui. Karena itu, sifat batas
waktu ini tidak imperatif [ghairu mulzimun bih], tetapi lebih sebagai keutamaan dan
kesempurnaan. Apabila memang hendak disapih sebelum batas maksimum ini, maka
sebaiknya dimusyawarahkan dan dipertimbangkan secara matang antara bapak
dan ibunya. Musyawarah penting dilakukan untuk menjamin hak-hak anak dalam
memperoleh kehidupan dan kesehatan yang layak, dan jangan sampai penyusuannya
membuat kesengsaraan [madlarat] bapak maupun ibu anak itu. Ini ditegaskan dalam
surat al-Baqarah (2) ayat 233, surat Luqmn (31) ayat 14, dan surat al-Ahqf (46) ayat
15.
Padahal boleh jadi penyapihan ini, terutama apabila kurang dari dua tahun, bisa
berdampak negatif bagi anak. Oleh karena itu, ketentuan Allah di atas menjadi penting
baik dalam konteks pemeliharaan hak-hak anak untuk memperoleh susuan maupun
dalam konteks penghargaan hak-hak ibu untuk menikmati kesehatan dan kenyamanan
dalam kehidupannya.
Atas dua pertimbangan ini, Allah memberikan keringanan [rukhshah] bisa
menyapih anak kurang dari usia dua tahun, asalkan telah dimusyawarahkan di antara
bapak dan ibu. Sebab diakui dalam kenyataan kehidupan anak-anak ada di antara
mereka yang sudah mampu memakan makanan yang keras [taghaddi] sebelum berusia
dua tahun. Akan tetapi, dalam konteks ini diperlukan pertimbangan yang masak dan
kehati-hatian yang tinggi dari orang tua. Karena merekalah yang paling menyayangi
dan mengetahui rahasia anak. Orang tua dilarang melakukan hal-hal yang me-
madharat-kan anak. Demikian juga anak tidak boleh menjadi madlarat bagi kehidupan
orang tuanya.
Menyusui: Hak Anak atau Kewajiban Ibu?
Dielaskan oleh Ahmad Mushthafa al-Maraghiy, dalam kitab tafsirnya, para ahli hukum
Islam [Islamic jurists] bersepakat bahwa menyusui dalam pandangan syara hukumnya
wajib bagi seorang ibu kandung. Kelak sang ibu dimintai pertanggunganjawab [al-
masliyyah] di hadapan Allah atas kehidupan anaknya.
6
Oleh Wahbah az-Zuhaily
diperjelas, kewajiban ini terkena baik bagi ibu yang masih menjadi istri dari bapak
anak yang disusui [ar-radh] maupun istri yang sudah ditalak [al-muthallaqah] dalam
masa iddah.
7
Ibnu Abi Hatim dan Said Ibn Zubair ketika membicarakan surat al-
Baqarah [2] ayat 233 juga mengatakan hal yang sama bahwa laki-laki yang menceraikan
istrinya dan memiliki seorang anak, maka ibu anak itulah yang lebih berhak untuk
6
Ahmad Mushthafa al-Maraghiy, Tafsr al-Marghiy, Juz I, [Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabiy, t.t.], hlm. 185.
7
Wahbah az-Zuhayli, Op. Cit., hlm. 698. Baca juga Muhammad Husain adz-Dzahabiy, asy-syarah al-Islmiyyah, [Mesir: Dar
al-Kutub al-Haditsah, 968], hlm. 398. Bandingkan juga dengan Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Op. Cit., hlm. 85.
241
Bahan Bacaan - 8
menyusukan anaknya.
8
Demikian juga Waliyullah ad-Dihlawy, dengan pertimbangan
rasional menyatakan bahwa ibu adalah orang yang diberi otoritas untuk memelihara
bayi dan lebih menyayangi anak.
Dari sejumlah pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa menyusui dianggap
sebagai kewajiban syara yang harus dipenuhi oleh setiap perempuan (ibu kandung).
Pendapat ini tentu mengagetkan karena dari sejumlah ayat al-Qurn yang berbicara
tentang persusuan tak satu pun yang menunjukkan kewajiban ini. Karena itu, perlu
klarifkasi tentang bentuk kewajiban itu: apakah itu kewajiban legal-formal normatif
ataukah kewajiban moral-kemanusiaan? Dan dalam posisi tersebut, apakah hakim
bisa memaksa kaum ibu atau tidak untuk memenuhi kewajiban itu?
Pada tataran ini, para ulama juga masih berbeda pendapat. Madzhab Malikiyah,
misalnya, berpendapat bahwa hakim boleh memaksa sang ibu untuk menyusui
anaknya. Akan tetapi, berdasarkan surat ath-Thalq [65] ayat 6, terutama pada diktum
[fa`in ardhana la kum fa`thunna ujrahunna], madzhab Malikiyyah bersikap bahwa
hukum menyusui tidak wajib bagi sang ibu yang sudah ditalak b`in oleh sang suami.
Sementara jumhur ulama mempunyai pendapat lain, bahwa hakim tidak
boleh memaksakannya, kecuali dalam kondisi dharrat.
9
Dalam pandangan jumhur
ulama, kewajiban menyusui anak bagi seorang ibu lebih merupakan kewajiban moral
kemanusiaan [diynatan] ketimbang legal-formal [qadh`an].
10
Maksudnya, kalau si ibu
tidak mau melakukannya, suami atau pengadilan sekalipun tidak berhak memaksanya
untuk menyusui. Menurut mereka, surat al-Baqarah [2] ayat 233 adalah perintah
anjuran [mandb] bagi sang ibu untuk meyusui anaknya. Dengan kata lain, menyusui
anak adalah hak bagi ibu, tetapi juga hak bagi anak untuk memperoleh susuan yang
memadai. Kecuali kalau si anak tidak mau menerima air susu selain ibunya, atau si
ayah tidak sanggup membayar upah ibu susuan, maka baru menjadi wajib bagi ibu
untuk menyusuinya. Argumentasi bahwa menyusui adalah hak bagi ibu sekaligus juga
hak bagi anak terdapat dalam surat ath-Thalq [65] ayat 6: [wa in tasartum fa saturdhi
lahu ukhr].
11
Dalam ayat itu dinyatakan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan
lain boleh menyusukan [anak itu] untuknya.
Memperkuat pendapatnya, yang oleh ulama lain diadikan landasan hukum
wajib menyusui, jumhur ulama menafsiri ayat [yurdhina awldahunna], ke dalam dua
pengertian yang berkaitan. Pertama, sebagian mereka menyatakan bahwa kendatipun
8
Jalaluddin as-Suyuthi, Op. Cit., hlm. 687.
9
Menurut al-Hamawy, darurat merupakan limit akhir keterpaksaan yang jika tidak menerjang sesuatu meski dilarang ia
terancam jiwanya. Baca Hsyiyah al-Hamawy al al-Asybah wa an-Nadhir li Ibn Nujaym, hlm. 08. Pendapat ini juga selaras
dengan sebagian pendapat dari kalangan ulama Malikiyyah, Syafiyyah, dan Hanabilah.
0
Muhammad Ali as-Shabuniy, at-Tibyn fy Ulm al-Qurn, (Makkah: t.p., 980), hlm. 46.

Wahbah az-Zuhayli, Op. Cit., hlm. 699. Baca juga Muhammad Ali as-Shabuniy, Raw`i al-Bayn: Tafsr Ayt al-Ahkm min
al-Qur`n, [Makkah al-Mukarramah: t.p., t.t.], hlm. 353.
242
8 - Bahan Bacaan
kalimat tersebut berbentuk kalm khabar, tetapi bermakna insy`. Artinya, meski ayat
tersebut memiliki arti perintah, namun, kedua, arti perintah yang terkandung dalam
kalimat tersebut tidak termasuk perintah wajib.
12
Dengan demikian, meskipun
menyusui diperintahkan oleh Allah SWT, tetapi perintah itu menunjukkan pada
dorongan moral kemanusiaan untuk menyelamatkan dan memberikan perlindungan
kesehatan bagi sang anak.
Meski begitu, para ahli hukum Islam memberikan ketegasan lain. Mereka
bersepakat bahwa pekerjaan menyusui bisa menjadi wajib bagi seorang ibu kandung
secara pasti jika terjadi dalam tiga keadaan berikut. Pertama, jika si anak tidak mau
menerima air susu selain air susu ibunya sendiri. Kewajiban ini tentu lebih untuk
menyelamatkan kehidupan anak dari kerusakan jasmani maupun rohani. Kedua, jika
tidak ditemukan perempuan lain yang bisa meyusui, maka wajib bagi ibu kandung
untuk menyusui anaknya agar kehidupan dan kesehatan anak terjamin. Dan ketiga,
jika tidak diketahui bapak anak itu, dan si anak itu tak memiliki biaya untuk membayar
perempuan yang menyusuinya, maka ibu kandung wajib menyusuinya agar si anak
tersebut tidak meninggal dunia.
13
Ketegasan preferensial ini dikuatkan oleh pendapat ulama Syafiyyah. Menurut
mereka, sang ibu kandung justru wajib memberikan air susunya kepada sang bayi,
terutama, pada masa awal keluarnya dari rahim. Sebab, sang bayi yang baru lahir
biasanya tidak bisa hidup tanpa air susu ibunya.
14

Dari perbincangan para ulama di sini jelaslah bahwa tugas menyusui adalah
tugas para ibu [kaum perempuan], karena secara biologis merekalah yang dapat
mengalirkan air susu sebagai minuman atau makanan bagi para bayi [anak].
15
Namun,
apakah tugas ini semata-mata tugas kemanusiaan yang didorong oleh kesadaran
regenerasi umat manusia atau kewajiban legal-normatif kodrati selaku orang yang
melahirkannya, ternyata para ulama bersilang pendapat. Dari kompilasi pendapat
yang terlacak, ada benang merah yang bisa kita tarik atas perbedaan pandang ini. Kita
bisa memahami bahwa meskipun dikatakan wajib syariy, tetapi kewajiban ini dalam
kerangka moralitas kemanusiaan. Demikian juga kita bisa memahami, meskipun
2
Sebagai perbandingan, asy-syarbiniy memasukkan tugas menyusui ke dalam pembahasan al-hadlnah [pengurusan
dan pemeliharaan anak]. Di situ disebutkan, jika al-hdlinah [orang yang mengurus dan memelihara] tidak mempunyai air
susu atau tercegah untuk menyusui karena suatu sebab, maka ia tidak terkena keharusan hadlnah. Bahkan kata al-Bulqiniy
meskipun mempunyai air susu tetapi ada halangan menyusui, juga tidak ada keharusan hadlnah. Baca Muhammad asy-
syarbiniy al-Khathib, al-Iqn fy Hill Alfdh Ab Syuj, Juz I, [Mesir: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, t.t.], hlm. 96.
3
Muhammad Husain ad-Dzahabiy, asy-syarah al-Islmiyyah, [Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, 968], hlm. 398.
4
Wahbah az-Zuhayli, Op. Cit., Juz VII, hlm. 699.
5
Ini berkaitan dengan sabab an-nuzl ayat 233 Surat al-Baqarah [2]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jubair,
bahwa frman Allah wal wlidtu yurdlina awldahunna hawlayni kmilayni berkaitan dengan seorang laki-laki yang mentalak
istrinya, sementara ia memiliki seorang anak dari istri tersebut. Dalam posisi ini, maka sang istri lebih berhak dengan anak
tersebut karena ia menyusuinya. Jalal ad-Din as-Suyuthiy, Op. Cit, Juz I, hlm. 687.
243
Bahan Bacaan - 8
dinyatakan sebagai tugas kemanusiaan, tetapi mempertimbangkan kebutuhan dlarry
bagi sang anak untuk mempertahankan kehidupannya, tugas moral ini bisa menjadi
kewajiban legal bagi perempuan [bukan ibu kandung].
Tetapi di atas semua itu, adalah suatu kebajikan yang patut dilakukan oleh
kaum perempuan untuk menyusui seorang anak. Dan adalah pemaksaan yang tidak
manusiawi jika ibu kandung serta merta dikenai kewajiban legal menyusui anaknya,
tanpa ada keseimbangan kewajiban pertanggungan dengan sang bapak. Al-Qurn
menjelaskan bahwa penyusuan tidak boleh menjadi sumber kesusahan bagi kedua
orang tua. Asalkan suami isteri mempunyai keinginan yang sama dengan cukup
tersedianya perbekalan (jaminan) untuk si ibu dalam menyusui, mereka bisa memungut
perempuan lain untuk menyusui anaknya.
Mempertegas konteks hukum di atas, di manakah posisi anak dan bapak kandung
dalam tugas penyusuan ini? Seperti telah disebutkan berkali-kali di muka, tidak ada
makanan atau minuman yang tepat bagi seorang anak yang baru lahir selain air susu
ibu. Dengan begitu, kebutuhan air susu ibu betul-betul mempertaruhkan kehidupan
sang anak. Maka, adalah menjadi hak [asasi] bagi seorang anak untuk memperoleh air
susu ibu secara memadai. Posisi ini haruslah disesuaikan dengan penempatan radhah
pada konteks hak-hak anak dalam literatur fqh.
Sementara posisi bapak [suami]--yang secara biologis tidak mungkin bisa
menyusui--adalah memberikan perlindungan kepada keduanya (ibu dan anak), baik
yang bersifat ekonomi maupun non-ekonomi, sehingga penyusuan ini dapat berjalan
sesuai dengan kebutuhan anak. Bapak [suami] secara ekonomi wajib memberikan
nafah baik kepada ibu [istrinya] maupun kepada anaknya.
16
Kepada anaknya, bapak
mempunyai lima kewajiban nafah, yaitu [1] upah susuan, [2] upah pemeliharaan, [3]
nafah kehidupan sehari-hari, [4] upah tempat pemeliharaan, dan [5] upah pembantu
jika membutuhkannya.
17
Lima hal ini diberikan kepada siapa saja yang melakukan
kerja menyusui dan memelihara anak, termasuk kepada istrinya sendiri.[]
6
Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsr al-Marghi, Juz I [Beirut: Dar Ihya` at-Turats al-Arabiy, t.t.], hlm. 185
7
Wahbah az-Zuhayli, Op. Cit., Juz VII, hlm. 704.