Anda di halaman 1dari 55
Penyusunan Kajian dan Pemetaan Rupabumi Kota Tangerang Tiar Pandapotan Purba, Heru Sunarko
Penyusunan Kajian dan Pemetaan
Rupabumi Kota Tangerang
Tiar Pandapotan Purba, Heru Sunarko

[Type the company name] [Type the company address] [Type the phone number] [Type the fax number]

Sebagai salah satu anggota persatuan bangsa-bangsa (PBB) adalah sebuah kehormatan bangsa dan kewajiban bagi bangsa Indonesia untuk turut serta dalam kelompok kerja United Nations Conferenes on Standardization of Geographical Names (UNCSGN) di bawah UN-ECOSOC yang bertugas untuk melakukan pembakuan nama rupabumi terutama untuk wilayah Indonesia- Asia Pasifik. Dokumen ini adalah bentuk peranserta dari Kota Tangerang untuk menjalankan fungsi dari PPNR (Panitia Pembakuan Nama Rupabumi) dalam skala nasional. Semoga bermanfaat.

Kata Pengantar

Kata Pengantar Puji syukur kepada TUHAN, oleh karena hikmat dan kuasaNya Laporan Draft Akhir Penyusunan Kajian

Puji syukur kepada TUHAN, oleh karena hikmat dan kuasaNya Laporan Draft Akhir Penyusunan Kajian Dan Pemetaan Rupabumi Wilayah Kota Tangerang dapat disusun sesuai dengan syarat kerangka acuan kerja.

Laporan Draft Akhir Pekerjaan Kajian dan Pemetaan Rupabumi Wilayah Kota Tangerang berisi mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi pemerintah kota Tangerang dalam perkembangan otonomi daerah. Pemekaran-pemekaran yang terjadi berdampak terhadap permasalahan administrasi di wilayah kota. Untuk itu pekerjaan ini menjadi penting untuk dilaksanakan guna mencapai tertib administrasi di pemerintahan. Selain itu isu utama yang sangat penting adalah pembakuan nama rupabumi yang telah dikaji untuk ditetapkan oleh Panitia Pembakuan Nama Rupabumi (PPNR) yang dibentuk ditingkat wilayah kota, provinsi, nasional hingga di UN-CSGN-ECOSOC.

Kegiatan ini penting dilakukan agar integrasi wilayah baik itu dalam skala lokal, nasional dan internasional semakin kuat dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun. Dengan melakukan kegiatan pembakuan nama rupabumi dengan pendekatan gazeetir maka diharapkan kegiatan ini dapat terus dilakukan kepada semua unsur rupabumi lainnya yang prioritas.

Gazetir dapat dilakukan pengkinian informasinya secara berkala, untuk itu diharapkan laporan ini menjadi sebuah awal pijakan bagi dinas/SKPD terkait untuk terus melakukan kegiatan penamaan dan pembakuan unsur rupabumi.

Kota Tangerang,

Juli 2012

Ketua Panitia Penamaan Rupabumi /PPNR Kota Tangerang

Daftar Isi Bab 1 Pendahuluan   5 1.1 Latar Belakang 5 1.2 Tujuan Dan Sasaran

Daftar Isi

Bab 1 Pendahuluan

 

5

1.1

Latar Belakang

5

1.2

Tujuan Dan Sasaran Pekerjaan

5

1.3

Sasaran Kegiatan

6

1.4

Produk Akhir

6

1.5

Ruang Lingkup Pekerjaan

6

1.5.1

Ruang Lingkup

Substansi

7

1.5.2

Ruang Lingkup Wilayah Pekerjaan

7

1.6

Metodologi Pekerjaan

8

1.7

Kerangka Berfikir

Pekerjaan

10

1.8

Kerangka Berfikir Mikro Pekerjaan

11

1.9

Kerangka Berfikir Makro Pekerjaan

12

1.10

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

13

Bab 2 Profil Wilayah Kota Tangerang

16

2.1. Sejarah Tangerang

 

16

2.2. Asal Mula Penduduk Kota Tangerang

18

2.3. Profil Kota Tangerang

20

Bab 3 Rupabumi Kota Tangerang

32

3.1. Unsur Alami

 

33

3.2. Unsur Buatan

33

Bab 4 Gazetir Instansi Kota Tangerang

38

4.1 Gazetir Instansi Pusat Pemerintah Kota Tangerang

38

3.2 Gazetir Lokasi Instansi Pemerintah Kecamatan

43

3.3 Gazetir Lokasi Instansi Pemerintah Kelurahan

44

Bab 5 Penutup 50 Lampiran Daftar Unsur Rupabumi 52 Daftar Unsur Rupabumi Skala 1:25.000 Dan

Bab 5 Penutup

50

Lampiran Daftar Unsur Rupabumi

52

Daftar Unsur Rupabumi Skala 1:25.000 Dan 1:50.000

52

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sejalan dengan perkembangan Otonomi daerah dimana dimungkinkannya pemekaran wilayah

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sejalan dengan perkembangan Otonomi daerah dimana dimungkinkannya pemekaran wilayah guna efektifitas pelayanan publik secara maksimal, akan berimbas kepada berubahnya pola dan nama pengadministrasian wilayah yang merupakan dampak langsung dari pergantian administrasi kepemerintahan daerah beserta jajaran dibawahnya, dalam hal pemekaran wilayah di kabupaten kota, dengan terbentuknya wilayah administratif kecamatan dan kelurahan baru misalnya, tentu akan memerlukan pola dan nama pengadministrasian wilayah kecamatan dan kelurahan yang baru pula. Pemberian dan pembakuan nama unsur geografis di wilayah kabupaten dan kota ini menjadi suatu pekerjaan yang sangat penting untuk dilaksanakan karena merupakan suatu titik akses langsung dan intuitif terhadap sumber informasi lain, yang dapat membantu untuk pengambilan keputusan bagi para pembuat kebijakan serta membantu kerjasama diantara organisasi di tingkat kabupaten dan kota maupun tingkat nasional. Penamaan rupabumi suatu daerah kabupaten kota harus memiliki keunikan yang menunjukan identitas daerah, letak geografis yang pasti dan memiliki batas wilayah yang jelas. Tanpa adanya pembakuan dalam penggunaan nama rupabumi, akan terjadi kerancuan dan kekacauan pada alur sistem kepemerintahan di daerah dan pada kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat.

1.2 TUJUAN DAN SASARAN PEKERJAAN

Kegiatan pembakuan nama rupabumi bertujuan untuk menciptakan sinergitas, kesinambungan dan koordinasi yang berkelanjutan antara Pemerintah, Propinsi dan Kabupaten/Kota guna memantapkan data dan informasi akurat mengenai nama rupabumi baik untuk kepentingan daerah, propinsi, dan pembangunan nasional.

Pembakuan nama rupabumi dilakukan dengan tujuan : a) Mewujudkan tertib administrasi di bidang pembakuan nama

Pembakuan nama rupabumi dilakukan dengan tujuan :

a) Mewujudkan tertib administrasi di bidang pembakuan nama rupabumi di Kota Tangerang;

b) Menjamin tertib administrasi di Kota Tangerang;

c) Mewujudkan data dan informasi akurat mengenai nama rupabumi di di Kota Tangerang, baik untuk kepentingan pembangunan daerah maupun pembangunan tingkat nasional.

d) Menunjang adanya gasetir nasional sehingga ada kesamaan pengertian mengenai nama rupabumi di Kota Tangerang dan di lndonesia pada umumnya;

1.3 SASARAN KEGIATAN

Adapun sasaran yang akan dicapai dalam pekerjaan ini, untuk mencapai empat (4) tujuan diatas adalah sebagai berikut :

a) Teridentifikasinya unsur-unsur rupa bumi di wilayah kota Tangerang

b) Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan pemetaan di wilayah kota Tangerang terhadapa pedoman pembakuan nama rupa bumi

c) Teridentifikasinya nama, sejarah dan lokasi rupa bumi di wilayah kota tangerang

1.4 PRODUK AKHIR

Gezetir lokasi instansi di wilayah Kota Tangerang

1.5 RUANG LINGKUP PEKERJAAN

Adapun ruang lingkup pekerjaan terbagi atas dua (2), yang pertama ruang lingkup substansi pekerjaan yang berisi cakupan substansi pembahasan yang dikaji dan dipaparkan dalam pelaporan. Yang kedua adalah ruang lingkup wilayah pekerjaan yaitu lokasi dimana pekerjaan dilakukan.

1.5.1 RUANG LINGKUP SUBSTANSI Ruang lingkup susbtansi pekerjaan terdiri atas ; (i) rupabumi Kota Tangerang,

1.5.1 RUANG LINGKUP SUBSTANSI

Ruang lingkup susbtansi pekerjaan terdiri atas ; (i) rupabumi Kota Tangerang, yaitu keseluruhan topomini yang ada di Kota Tangerang lengkap dengan elemen, posisi, lokasi dan berbagai informasi yang diperlukan. (ii) Gazetir atau yang disebut dengan Gazetteer, daftar nama unsur rupabumi baku yang dilengkapi dengan informasi tentang jenis elemen, posisi geografis, lokasi wilayah administrasi, dan berbagai informasi lain yang diperlukan didalam pekerjaan ini dibatasi hanya : LOKASI INSTANSI PEMERINTAHAN KOTA TANGERANG. (iii) Kajian Genealogi adalah kajian nama lokasi sejarahnya, turunannya, asalnya. Baik itu menggunakan teknik dari mulut ke mulut atau rekaman lain yang menunjukkan adanya hubungan yang ditampilkan dalam bentuk bagan atau juga narasi yang baik.

1.5.2 RUANG LINGKUP WILAYAH PEKERJAAN

Ruang lingkup wilayah pekerjaan dibatas oleh administrasi wilayah pemerintahan Kota Tangerang.

1.6 METODOLOGI PEKERJAAN Metodologi pekerjaan terdiri atas ; a) Pengumpulan data dasar Data dasar yang

1.6 METODOLOGI PEKERJAAN

Metodologi pekerjaan terdiri atas ;

a) Pengumpulan data dasar Data dasar yang digunakan adalah Peta Rupabumi dijital skala 1:25.000 s/d 1:50.000 yang diterbitkan oleh Badan Geospasial Indonesia/Bakosurtanal, dan atau yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Kota Tangerang mencakup wilayah (1) Kecamatan Tangerang, (2) Kecamatan Karawaci, (3) Kecamatan Jatiuwung, (4) Kecamatan Cibodas, (5) Kecamatan Periuk, (6) Kecamatan Neglasari, (7) Kecamatan Batu Ceper, (8) Kecamatan Benda, (9) Kecamatan Cipondoh, (10) Kecamatan Pinang, (11) Kecamatan Ciledug, (12) Kecamatan Larangan, (13) Kecamatan Karangtengah. Peta ini digunakan sebagai data dasar dalam pengumpulan nama-nama jalan di kedua wilayah kecamatan tersebut.

b) Pengumpulan data penunjang

Pengumpulan data penunjang berupa peta-peta dari Bakosurtanal, dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan sumber lain

Pengumpulan data penunjang berupa peta-peta dari Bakosurtanal, dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan sumber lain yang dapat menjadi acuan.

c) Kajian sejarah,asal kata, asal bahasa, pengucapan dan genealogi

d) Penyusunan basis data Penyusunan basis data gazetir lokasi instansi pemerintahan kota tangerang, dari level kota, kecamatan, kelurahan, hingga desa. Disimpan dalam basis data digital yang dapat dilakukan pemutakhiran kapan saja.

e) Input data Setelah dilakukan penyusunan basis data digital, maka dilakukan input atau pemasukan data dan pengintegrasian dengan peta yang ada. Dan melakukan proses verifikasi dan valid.

1.7 KERANGKA BERFIKIR PEKERJAAN

1.7 KERANGKA BERFIKIR PEKERJAAN

INPUT PROSES OUTPUT Kajian Kebijakan dan Pedoman : 1. Resolusi PBB no 4 tahun 1967
INPUT
PROSES
OUTPUT
Kajian Kebijakan dan Pedoman :
1. Resolusi PBB no 4 tahun 1967 tentang
Pembakuan Nama Unsur Geografi di
Negara-negara anggota PBB.
2. Resolusi PBB no 15 tahun 1987 tentang
otoritas pembentukan dan pembakuan
A.
nama unsur geografi nasional bagi
negara-negara anggota PBB yang belum
memiliki/melakukannya.
Analisis perubahan batas
unsur geografis;
1.
Proses tumpang tindih
(overlay).
LAPORAN KAJIAN DAN
PEMETAAN RUPA BUMI KOTA
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
TANGERANG
B.
Analisis unsur dan
pembakuan nama ;
4. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun
2006 tentang Tim Nasional Pembakuan
Nama Rupabumi;
1. PENDAHULUAN;
1.
Kajian Genealogi, Asal bahasa,
pengucapan, dll
2. GAMBARAN UMUM KOTA
TANGERANG;
2.
Prinsip pemberian nama;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
3.
Kebijakan pemberian nama;
3. UNSUR UNSUR RUPA BUMI
KOTA TANGERANG;
39
Tahun 2008 tentang Pedoman Umum
4.
Pembakuan Nama Rupa Bumi;
Perkembangan pendapatan
asli daerah;
4. GAZETIR LOKASI INSTANSI
KOTA TANGERANG
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
5.
Prosedur pemberian nama;
35
Tahun 2009 tentang Pedoman
5. PEMBAKUAN NAMA UNSUR
RUPA BUMI DAN GAZETIR
LOKASI INSTANSI
Pembentukan Panitia Pembakuan Nama
Rupabumi.
7. UU No 4/2011 Geospasial dan PP Tingkat
Ketelitian Peta PP No 10/2000
8. PERDA no 36 Tahun 2002 tentang RTRW
Provinsi Banten
Alat analisis/metoda;
9. PERDA No 23 Tahun 2000 tentang RTRW
Kota Tangerang
1. Peta Bakosurtanal;
10. Pedoman Prinsip, Kebijakan, dan
Prosedur Pemberian Nama Rupabumi
2. Perangkat lunak
ArcGIS/Mapinfo;
3. Perangkat keras komputer;
Data dan Informasi :
4. Rapat (Conterpart Meeting)
antara pemberi pekerjaan,
PPNR dan Pelaksana
Pekerjaan;
5. Survey Lapangan;
1. Peta Bakosurtanal terupdate skala 1 juta
s/d 10.000;
2. Peta sejarah masa kerajaan/kesultanan
Banten
3. Peta sejarah colonial belanda
4. Peta RTRW Provinsi dan RTRW Kota
Tangerang
5. Sejarah Banten, Tangerang, dan lainnya
yang memiliki nilai budaya dunia, nasional
local terkait secara
spasial/keruangan/unsur geografis.
1.8 KERANGKA BERFIKIR MIKRO PEKERJAAN

1.8 KERANGKA BERFIKIR MIKRO PEKERJAAN

TUJUAN KEGIATAN

Menjawab Tujuan 1 Pekerjaan;

1. Kajian Genealogi

2. Kajian dan Analisis menggunakan pedoman prinsip, kebijakan dan prosedur

Menjawab Tujuan 2 Pekerjaan;

1. Kajian dan Analisis menggunakan pedoman prinsip, kebijakan dan prosedur pembakuan nama;

2. Proses verifikasi lapangan mendapatkan bukti lapangan dan permasalahan.

Menjawab Tujuan 3 Pekerjaan;

1. Kajian dan analisis teknokratis dengan Sistem Informasi Geografis;

2. Proses verifikasi lapangan mendapatkan bukti lapangan dan permasalahan;

Menjawab Tujuan 4 Pekerjaan;

1. Melakuan rapat counterpart dengan Pemberi Pekerjaan, PPNR dan Konsultan Pelaksana;

2. Pembakuan nama rupabumi wilayah Kota Tangerang;

3. Memberikan rekomendasi kepada PPNR Nasional.;

KAJIAN DAN PEMETAAN RUPABUMI KOTA TANGERANG

1.

PENDAHULUAN;

2.

GAMBARAN UMUM KOTA TANGERANG;

3.

UNSUR UNSUR RUPA BUMI KOTA TANGERANG;

4.

GAZETIR LOKASI INSTANSI KOTA TANGERANG

5.

PEMBAKUAN NAMA UNSUR RUPA BUMI GAZETIR LOKASI INSTANSI

LOKASI INSTANSI KOTA TANGERANG 5. PEMBAKUAN NAMA UNSUR RUPA BUMI GAZETIR LOKASI INSTANSI Halaman 11 dari
1.9 KERANGKA BERFIKIR MAKRO PEKERJAAN

1.9 KERANGKA BERFIKIR MAKRO PEKERJAAN

1.9 KERANGKA BERFIKIR MAKRO PEKERJAAN Halaman 12 dari 55
1.10 JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN Minggu ke - No Uraian Bulan Ke -1 Bulan Ke -2
1.10
JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
Minggu ke -
No
Uraian
Bulan Ke -1
Bulan Ke -2
Bulan Ke -3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
I
TAHAP PERSIAPAN
1.1
Penyiapan Administrasi Proyek
1.2
Pemantapan Metodologi dan
Rencana Kerja
1.3
Pengumpulan data-data spasial
dan non spasial
1.4
Persiapan Penyusunan Daftar
List Nama Unsur Rupabumi
II
TAHAP SURVEY
2.1
Survey di Kecamatan Tangerang
dan Karawaci
2.2
Survey di Kecamatan Jatiuwung
dan Cibodas
2.3
Survey di Kecamatan Periuk dan
Neglasari
2.4
Survey di Kecamatan Batu Ceper
dan Benda
2.5
Survey di Kecamatan Cipondoh
dan Pinang
2.6
Survey di Kecamatan Ciledug
dan Larangan, Karangtengah
Minggu ke - No Uraian Bulan Ke -1 Bulan Ke -2 Bulan Ke -3 1
Minggu ke -
No
Uraian
Bulan Ke -1
Bulan Ke -2
Bulan Ke -3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
III
TAHAP ANALISIS
Analisis berdasarkan pedoman
3.1
Prinsip, Kebijakan dan Prosedur
Pembakuan Nama Rupabumi.
Analisis Sosiologi/budaya sejarah
3.2
pemberian nama, pengucapan,
asal kata.
3.3
Analisis Tumpang tindih/overlay.
IV
TAHAP AKHIR dan PEMBAKUAN
UNSUR
4.1
Penetapan definitive batas
administrasi wilayah desa,
kelurahan, kecamatan dan
wilayah kota.
4.2
Gasetir rupabumi kota
tangerang.
4.3
Gasetir lokasi instansi kota
tangerang.
4.4
Pembakuan nama unsur dan
lainnya.
V
PELAPORAN & SEMINAR
7.1
Laporan Pendahuluan
7.2
Laporan Akhir
      Minggu ke -   No Uraian Bulan Ke -1 Bulan Ke -2
     

Minggu ke -

 

No

Uraian

Bulan Ke -1

Bulan Ke -2

Bulan Ke -3

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

7.3

Rapat Koordinasi & Counterpart

     
7.3 Rapat Koordinasi & Counterpart                  
     
7.3 Rapat Koordinasi & Counterpart                  
   
7.3 Rapat Koordinasi & Counterpart                  
 
BAB 2 PROFIL WILAYAH KOTA TANGERANG 2.1. SEJARAH TANGERANG Dulu bernama Tanggeran Menurut tradisi lisan

BAB 2 PROFIL WILAYAH KOTA TANGERANG

2.1. SEJARAH TANGERANG

Dulu bernama Tanggeran Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g maupun dobel g). Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut:

Bismillah peget Ingkang Gusti Diningsun juput parenah kala Sabtu Ping Gasal Sapar Tahun Wau Rengsena Perang nelek Nangeran Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu Tanggal 5 Sapar Tahun Wau Sesudah perang kita memancangkan Tugu

Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas (Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian Semua menjaga tanah kaum Parahyang

dan Barat yaitu Cidurian Semua menjaga tanah kaum Parahyang Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa

Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng.Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten.Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.

Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda.Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di

antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati,

antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.

Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken seperti termuat dalam Po No. 34/2604.Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943.Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober

1984.

2.2. ASAL MULA PENDUDUK KOTA TANGERANG

Latar belakang penduduk yang mendiami Tangerang dalam sejarahnya dapat diketahui dari berbagai sumber antara lain sejumlah prasasti, berita-berita Cina, maupun laporan perjalanan bangsa kulit putih di Nusantara.

“Pada mulanya, penduduk Tangeran boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor, dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangeran sebelah barat”.

Orang Banten yang menetap di daerah Tangerang diduga merupakan warga campuran etnis Sunda, Jawa, Cina, yang merupakan pengikut Fatahillah dari Demak yang

menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun

menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun 1526 tatkala pasukan Mataram menyerbu VOC. Tatkala pasukan Mataram gagal menghancurkan VOC di Batavia, sebagian dari mereka menetap di wilayah Tangeran.

Orang Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara sejak sekitar abad 7 M, diduga juga banyak yang kemudian menetap di Tangeran seiring berkembangnya Tionghoa-muslim dari Demak. Di antara mereka kemudian banyak yang beranak-pinak dan melahirkan warga keturunan. Jumlah mereka juga kian bertambah sekitar tahun 1740. Orang Tionghoa kala itu diisukan akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Konon sekitar 10.000 orang Tionghoa kemudian ditumpas dan ribuan lainnya direlokasi oleh VOC ke daerah sekitar Pandok Jagung, Pondok Kacang, dan sejumlah daerah lain di Tangeran. Di kemudian hari, di antara mereka banyak yang menjadi tuan-tuan tanah yang menguasai tanah-tanah partikelir.

Penduduk berikutnya adalah orang-orang Betawi yang kini banyak tinggal di perbatasan Tangerang-Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang di masa kolonial tinggal di Batavia dan mulai berdatangan sekitar tahun 1680. Diduga mereka pindah ke Tangeran karena bencana banjir yang selalu melanda Batavia.

Menurut sebuah sumber, pada tahun 1846, daerah Tangeran juga didatangi oleh orang- orang dari Lampung. Mereka menempati daerah Tangeran Utara dan membentuk pemukiman yang kini disebut daerah Kampung Melayu (Thahiruddin, 1971).

Di jaman kemerdekaan dan Orde Baru, penduduk Tangerang makin beragam etnis. Berkembangnya industri di sana, mengakibatkan banyak pendatang baik dari Jawa maupun luar Jawa yang akhirnya menjadi warga baru. Menurut sensus penduduk tahun 1971, penduduk Tangerang berjumlah 1.066.695, kemudian di tahun 1980 meningkat

menjadi 1.815.229 dan hingga tahun 1996 tercatat mencapai 2.548.200 jiwa. Rata-rata pertumbuhan per-tahunnya mencapai

menjadi 1.815.229 dan hingga tahun 1996 tercatat mencapai 2.548.200 jiwa. Rata-rata pertumbuhan per-tahunnya mencapai 5,23% per tahun.

Untuk sekedar memetakan persebaran etnis-etnis di Tangerang, dapat disebutkan di sini bahwa daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cina serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi.Daerah Tangeran Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangeran Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa. Persebaran penduduk tersebut di masa kini tidak lagi bisa mudah dibaca mengingat banyaknya pendatang baru dari berbagai daerah. Maka, apabila ingin mengetahui persebaran etnis di Tangerang, tentunya dibutuhkan studi yang lebih mendalam.

2.3. PROFIL KOTA TANGERANG

a)

Kondisi Geografis

Kota Tangerang yang terbentuk pada tanggal 28 Februari 1993 berdasarkan Undang- Undang No. 2 Tahun 1993, secara geografis terletak pada 106’36 – 106’42 Bujur Timur (BT) dan 6’6 - 6 Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah 183,78 Km2 (termasuk luas Bandara Soekarno-Hatta sebesar 19,69 km2). Secara administrasi Kota Tangerang terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan (Gambar 3.3).

Kota Tangerang berada pada ketinggian 10 - 30 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan bagian utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter dpl seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda. Sedangkan bagian selatan memiliki ketinggian 30 meter dpl seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Adapun batas administrasi Kota Tangerang adalah sebagai berikut:

Sebelah utara Kabupaten Tangerang.

:

Kecamatan

Teluknaga

dan

Kecamatan

Sepatan,

 Sebelah selatan : Kecamatan Curug, Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Sebelah selatan : Kecamatan Curug, Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Sebelah timur : DKI Jakarta.

: Kecamatan Pasar Kemis dan Cikupa, Kabupaten

Sebelah Barat

Tangerang.

Memperhatikan posisi geografis, maka Kota Tangerang memiliki letak strategis karena berada di antara DKI Jakarta, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sesuai

Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang

dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga Ibukota Negara DKI Jakarta.

Posisi strategis tersebut menjadikan perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada satu sisi, menjadi daerah

Posisi strategis tersebut menjadikan perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada satu sisi, menjadi daerah limpahan dari berbagai kegiatan di Kota Jakarta, di sisi lainnya Kota Tangerang menjadi daerah kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang, didukung pula dari tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan wilayah Jabodetabek, serta aksesibilitas dan konektivitas berskala nasional dan internasional yang baik sebagaimana tercermin dari keberadaan Bandara International Soekarno-Hatta, Pelabuhan International Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara sebagai gerbang maupun outlet nasional. Kedudukan geostrategis Kota Tangerang tersebut telah mendorong bertumbuhkembangnya aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis perekonomian Kota Tangerang saat ini.

b) Kondisi Kondisi Topografis

Secara topografi, Kota Tangerang sebagian besar berada pada ketinggian 10-30 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan bagian utaranya (meliputi sebagian besar Kecamatan Benda) ketinggiannya rata-rata 10 m dpl, sedang bagian selatan memiliki ketinggian 30 m dpl. Selanjutnya Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-3% dan sebagian kecil (yaitu di bagian selatan kota) kemiringan tanahnya antara 3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan Kelurahan Cipadu Jaya.

Disamping itu wilayah Kota Tangerang dilalui oleh 3 (tiga) aliran sungai yaitu sungai Cisadane, kali Angke dan kali Cirarab dengan panjang daerah yang dilalui 32 kilometer ditambah dengan rata-rata curah hujan yang tinggi yaitu 2.494,60 mm per bulan selama 210 hari, hal ini mengakibatkan hampir setiap tahun terdapat daerah-daerah yang dilalui aliran sungai tersebut mengalami genangan air dengan luas 180,5 ha tersebar di 49 lokasi

pada kawasan pemukiman dan jalan. Daerah genangan air tersebut antara lain di Kecamatan Larangan, Kecamatan

pada kawasan pemukiman dan jalan. Daerah genangan air tersebut antara lain di Kecamatan Larangan, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Cipondoh, Kecamatan Pinang dan Kecamatan Periuk. Dari aspek penggunaan lahan memperlihatkan bahwa Kota Tangerang merupakan daerah perkotaan (urbanized area). Hal ini ditunjukkan dengan luas wilayah yang sudah terbangun mencapai 48 % ( 8. 510 Ha), sedangkan sisanya sekitar 52 % ( 9.220 Ha) belum terbangun. Lahan yang telah terbangun tersebut pemanfaatannya meliputi: permukiman, industri, perdagangan dan perkantoran.

c) Profil Demografi

Karakteristik penduduk yang meliputi usia, tempat tinggal dan tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kebijakan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Kota Tangerang dan wilayah sekitarnya menjadikan pertumbuhan penduduk tidak hanya dipengaruhi dari kelahiran (fertilitas), tetapi juga dari perpindahan (migrasi). Hal ini tidak terlepas dari posisi Kota Tangerang sebagai hinterland DKI Jakarta.

Jumlah penduduk/sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan modal pembangunan yang berharga, namun demikian bila kualitasnya kurang baik ditambah dengan pertumbuhan yang tidak terkendali maka akan menjadikan permasalahan dalam pelaksanaan pembangunan. Jumlah penduduk Kota Tangerang adalah Pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu tahun 2000-2007 cukup fluktuatif antara 0,64 % sampai dengan 4,62%. Seiring dengan pertambahan penduduk dengan luas wilayah yang tetap maka tingkat kepadatan akan semakin bertambah.

Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan dan lain-lain, penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lainnya, yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Grafik Jumlah, Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010 Berdasarkan grafik terlihat

Grafik Jumlah, Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Grafik Jumlah, Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010 Berdasarkan grafik terlihat bahwa

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010

Berdasarkan grafik terlihat bahwa kepadatan penduduk Kota Tangerang mengalami kecenderungan meningkat pada periode tahun 2001 hingga 2008 dengan total jumlah penduduk pada tahun 2008 adalah 1.531.666 jiwa.

Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Tangerang Tahun 2000-2007

jiwa. Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Tangerang Tahun 2000-2007 Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010 Halaman 24

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010

Perhitungan kepadatan penduduk per km² dilakukan pada area Kota Tangerang dengan luas cakupan 164.55 km²

Perhitungan kepadatan penduduk per km² dilakukan pada area Kota Tangerang dengan luas cakupan 164.55 km² (tahun 2000 2007) yang sudah dikurangi dengan luas bandara.

Grafik Kepadatan Penduduk Per Km² Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Kepadatan Penduduk Per Km² Kota Tangerang Tahun 2000-2007 Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010 d) Jumlah

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010

d) Jumlah Rumah Tangga

Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi, sedangkan keluarga lebih mengacu pada hubungan kekerabatan, fungsi sosial dan lain sebagainya.

Grafik Jumlah Rumah Tangga Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Grafik Jumlah Rumah Tangga Kota Tangerang Tahun 2000-2007 Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010 Halaman 25

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, 2010

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah tangga juga ikut berkembang seperti halnya jumlah

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah tangga juga ikut berkembang seperti halnya jumlah penduduk Kota Tangerang. Pada tahun 2000 jumlah rumah tangga sebesar 348.234 dan pada tahun 2007 menjadi 398.626.

tangga sebesar 348.234 dan pada tahun 2007 menjadi 398.626. Kepadatan penduduk Kota Tangerang cenderung mengalami

Kepadatan penduduk Kota Tangerang cenderung mengalami peningkatan selama periode tahun 2000 hingga 2007. Pada tahun 2007, total jumlah penduduk mencapai 1.575.140 jiwa, dengan komposisi 790.404 jiwa (50,18%) penduduk laki-laki dan 784.736 jiwa (49,82%) perempuan. Selama kurun waktu 2000-2007, rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,62% per tahun. Capaian rata-rata laju pertumbuhan penduduk tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan capaian Provinsi Banten 2,20%, DKI Jakarta 1,20%, maupun Nasional 1,30% pada periode yang sama. Pertambahan jumlah penduduk ini disebabkan karena beberapa hal seperti natalitas (kelahiran) dan migrasi (perpindahan) dari luar wilayah Kota Tangerang ke dalam wilayah Kota Tangerang. Selama periode 2002-2007, pertumbuhan penduduk Kota Tangerang, ditandai oleh rata- rata kelahiran bayi hidup sebesar 29.428 jiwa per tahun, rata-rata kematian 778 jiwa per tahun, rata-rata migrasi masuk 16.300 jiwa per tahun, serta rata-rata migrasi keluar 230

jiwa per tahun. Dari kondisi diatas menunjukkan, bahwa tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang mendorong

jiwa per tahun. Dari kondisi diatas menunjukkan, bahwa tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang mendorong tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang, disusul oleh faktor migrasi masuk.

Terkait dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 2007, Kecamatan Larangan dengan luas wilayah 9,40 Km2, merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terbesar, mencapai 14.902 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Karawaci yaitu 171.966 jiwa.

e) Ruang Terbuka Hijau

Lokasi RTH di Kota Tangerang tidak tersebar secara menyeluruh di dalam kota, hanya didominasi pada kecamatan tertentu. Jumlah RTH paling banyak berada di Kecamatan Tangerang sebanyak 55 buah, selebihnya berada di Kecamatan Karawaci (3 buah), Kecamatan Neglasari (2 buah), Kecamatan Benda (1 buah).

     

TAHUN

 

LUAS RTH

2004

2005

2006

2007

2008

Luas ruang ter-buka hijau (m 2 )

18.063.302

18.063.302

18.063.302

18.063.302

18.063.302

Luas

taman

kota

(

17.798.729

17.840.973

17.850.093

17.862.693

18.050.702

m

2 )

Luas hutan kota ( m 2 )

12.600

12.600

12.600

12.600

12.600

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, tahun 2010.

f) Perumahan

Selama periode tahun 2004-2008, Jumlah rumah layak huni di Kota Tangerang semakin meningkat setiap tahunnya, yang mengindikasikan bahwa pembangunan perumahan di Kota Tangerang cukup berhasil. Hingga tahun 2008 sebesar 99,3% rumah di Kota Tangerang telah tergolong layak huni.

KONDISI 2004 2005 2006 2007 2008 Luas Perumahan Tertata (Km2) 6.067 6.089 6.122,8 6.163,8

KONDISI

2004

2005

2006

2007

2008

Luas Perumahan Tertata (Km2)

6.067

6.089

6.122,8

6.163,8

6.163,8

Rumah Layak Huni (unit)

246.009

254.619

264.803

275.395

286.411

Rumah Tidak Layak Huni (unit)

2.102

2.102

2.057

2.047

2.037

Sumber : RPIJM Kota Tangerang, tahun 2010.

g) Air bersih

Pelayanan air bersih melalui sistem perpipaan diperoleh dari pelayanan PDAM Kabupaten Tangerang dengan kapasitas 740 l/det dan 42.546 sambungan, PDAM Kota Tangerang dengan kapasitas 235 l/det dan 12.528 sambungan dan sebagian oleh swasta (21.850). Hingga tahun 2008 sebesar 79,88% penduduk Kota Tangerang telah menggunakan air bersih. Dari persentase tersebut sarana air bersih yang paling banyak digunakan penduduk adalah sumur pompa (54,92%) dan sambungan langsung PDAM (21,92%).

h) Pemakaman

Hingga tahun 2008, jumlah tempat pemakaman umum di Kota Tangerang mencapai 148 unit. Pengembangan yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang lebih kepada upaya pembangunan fisik dan pengembangan administratif. Pembangunan kegiatan fisik berupa pematangan lahan TPU, pembangunan saluran drainase, WC Umum, peningkatan jalan lingkungan dan jalan setapak di lingkungan pemakaman serta pemagaran batas pemisah antara TPU Muslim dan TPU Non Muslim. Luas wilayah pemakaman di Kota Tangerang mencapai …Ha.

i) Jaringan jalan

Jalan merupakan sarana transportasi utama di Kota Tangerang, selain kereta api. Berdasarkan klasifikasinya, sebagian besar jalan di Kota Tangerang merupakan jalan yang

dikelola oleh pemerintah kota, selain itu terdapat pula jalan negara dan jalan provinsi. Apabila dilihat

dikelola oleh pemerintah kota, selain itu terdapat pula jalan negara dan jalan provinsi. Apabila dilihat dari tipe perkerasannya, maka sebagian besar jalan yang terdapat di Kota Tangerang sudah dalam kondisi beraspal. Meskipun masih dijumpai jalan dengan perkerasan paving block, beton, tanah, dan penetrasi, namun jumlahnya tidak terlalu besar dan letaknya tidak pada jalan-jalan utama.

Panjang jalan

2004

2005

2006

2007

2008

- Jalan Utama

88.012,10

95.513,95

101.636,20

116.661,66

118.067

- Jalan Kolektor

44.006,05

46.256,97

50.818,10

62.948,06

62.948

- Jalan Lingkungan

220.030,25

231.284,87

254.090,20

361.747,08

361.747

- Jalan perumahan

528.072,60

555.083,68

609.817,20

782.895,36

829.921,56

j)

Drainase

Sistem jaringan drainase di Kota Tangerang dibagi menjadi 2 (dua), yaitu sistem drainase makro/drainase alam, yaitu sungai yang berfungsi sebagai badan air penerima dan sistem drainase mikro meliputi saluran primer, sekunder, dan tersier dengan total panjang saluran sekitar 192.763 m.

Sistem drainase makro Kota Tangerang meliputi 4 (empat) buah sungai yaitu: Sungai Cisadane, Sungai Angke, Sungai Cirarab dan Sungai Sabi. Keempat sungai tersebut mempunyai daerah tangkapan air yang cukup luas dengan muara ke sebelah Utara dan berakhir di Laut Jawa. Selain sungai yang berfungsi sebagai badan air penerima, terdapat juga Situ Cipondoh yang berfungsi sebagai tandon air seluas 120 Ha.

k) Tempat Pembuangan Sampah Akhir

k) Tempat Pembuangan Sampah Akhir Terkait dengan penanganan sampah, Kota Tangerang mempunyai 2 buah TPA, yaitu

Terkait dengan penanganan sampah, Kota Tangerang mempunyai 2 buah TPA, yaitu TPA Rawa Kucing yang merupakan TPA eksisting, dan TPA Jatiwaringin yang sedang dalam tahap persiapan untuk dioperasionalkan. Luas area kawasan TPA di Rawakucing seluas …Ha. Sedangkan di TPA Jatiwaringin seluas…Ha.

Peta Kota Tangerang

Peta Kota Tangerang Halaman 31 dari 55
Peta Kota Tangerang Halaman 31 dari 55
BAB 3 RUPABUMI KOTA TANGERANG Unsur Rupabumi adalah bagian permukaan bumi yang berada di atas

BAB 3 RUPABUMI KOTA TANGERANG

Unsur Rupabumi adalah bagian permukaan bumi yang berada di atas yang dapat dikenali identitasnya sebagai unsur alam dan/atau unsur buatan manusia. Unsur rupabumi terdiri dari tiga unsur yaitu unsur fisik, unsur buatan, dan unsur administrasi.

Unsur fisik adalah unsur yang berada di permukaan daratan, lautan dan di bawah permukaan laut yang identitasnya dapat dikenali. Contoh, antara lain: gunung, pegunungan, bukit, dataran tinggi, gua, lembah, danau, sungai, muara, samudera, laut, selat, teluk, pulau, kepulauan, tanjung, semenanjung, gunung bawah laut (seamount), palung. Unsur buatan manusia adalah unsur berupa infrastruktur yang merupakan fasilitas umum, sosial, ekonomi dan budaya. Contoh, antara lain: bandara, bendungan, waduk, jembatan, terowongan, mercu suar, kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan hutan, candi, tugu. Unsur administrasi adalah wilayah fungsional dari instansi pemerintahan, dengan batas administrasi yang jelas. Contoh, antara lain: desa, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi.

Setiap tempat di dalam rupabumi mempunyai nama tersendiri. Nama Rupabumi adalah nama diri dari unsur rupabumi. Nama Unsur Rupabumi terdiri dari 2 elemen, yaitu elemen generik dan elemen spesifik. Elemen generik adalah nama yang menerangkan dan/atau menggambarkan bentuk umum suatu unsur rupabumi dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah, sebagai contoh: sungai (dalam Bahasa Indonesia), krueng (sungai dalam bahasa Aceh), bulu (gunung dalam bahasa Bugis), dolok ( gunung dalam bahasa Batak).

Elemen spesifik adalah nama diri dari elemen generik yang sudah disebutkan sebelumnya, sebagai contoh: Merapi adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa gunung, Bogor adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa wilayah administrasi kota. Endonim adalah nama diri unsur rupabumi dalam bahasa resminya. Contoh : Nederland, New Zealand , Jakarta, Bandung, Wina. Sedangkan Eksonim adalah nama diri unsur rupabumi dalam bahasa Indonesia untuk sebuah nama diri unsur rupabumi yang berada di luar

Indonesia. Contoh: Negeri Belanda adalah eksonim Bahasa Indonesia untuk Nederland dan Selandia Baru eksonim dalam

Indonesia. Contoh: Negeri Belanda adalah eksonim Bahasa Indonesia untuk Nederland dan Selandia Baru eksonim dalam Bahasa Indonesia uuntuk New Zealand.

Rupabumi Kota Tangerang dibentuk oleh unsur alami dan buatan. Yang dimaksud denganunsur alami adalah unsur-unsur bentuk bumi yang telah ada tanpa adanya campur tangan manusia dalam terbentuknya unsur tersebut. Sebagai contoh adalah gunung, sungai, danau/waduk alami, pulau, laut, tanjung. Sedangkan unsur buatan dapat terdiri atas jalan, jembatan, dll.

3.1.UNSUR ALAMI

Sungai yang melintasi di Kota Tangerang adalah sungai sungai Cidurian, Cisadane, Cirarap, Sabi dan Angke, serta beberapa situ, yakni Situ Cipondoh, Situ Bubulak dan Situ Cangkringan Sungai ini memiliki panjang…… KM. Dengan anak sungai yang bercabang sebanyak buah. Sungai Cisadane berasal dari kata Ci Sadane yang merupakan salah satu sungai besar di Pulau Jawa yang bermuara ke Laut Jawa. Hulu sungai ini berada di Gunung Salak, melintas di sisi barat Kabupaten Bogor, terus ke arah Kabupaten Tangerang. Ci Sadane pada bagian hilir cukup lebar dan dapat dilayari oleh kapal kecil. Pada abad ke-16 Tangerang telah menjadi salah satu pelabuhan yang berada di tepi sungai ini (disebut oleh Tome Pires sebagai Tamgaram), namun kemudian kalah oleh perkembangan Banten dan Batavia. Dalam tata bahasanya Ci disebut dengan Sungai. Ci adalah penggunaan bahasa lokal/budaya setempat. Memiliki makna yang sama namun asal bahasa yang berbeda seperti Air, Ai, Kali, Batang, Wai, Brang, Jeh, Nanga, Krueung, Ie, dll.

3.2. UNSUR BUATAN

Unsur buatan didalam pembentukan rupa bumi sangat berperan, terutama di wilayah Kota Tangerang. Dengan perkembangan penduduk yang sangat tinggi kepadatan penduduknya sudah mencapai 9572/km2 pada tahun 2007 dengan jumlah penduduk pada tahun 2008

mencapai 1.531.666 jiwa. Dengan bertambahnya penduduk tentu kebutuhan terhadap sarana dan prasarana kota Tangerang juga

mencapai 1.531.666 jiwa. Dengan bertambahnya penduduk tentu kebutuhan terhadap sarana dan prasarana kota Tangerang juga bertambah dan merubah bentuk rupabumi Kota Tangerang. Apalagi dengan fungsi dan peran Kota Tangerang dalam konstelasi pengembangan Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi (JABODETABEK).

Unsur-unsur

yang

membentuk

rupabumi

Kota

Tangerang

terdiri

atas

berbagai

unsur

diantaranya ;

 

1)

Garis pantai;

 

t.

Bending/bendungan

 

2)

Laut;

u.

Penahan ombak

a.

Kontur laut

 

v.

Pelabuhan internasional

b.

Batu karang

w.

Pelabuhan nasional

 

c.

Terumbu

x.

Pelabuhan lokal

d.

Beting karang

 

3)

Permukiman;

e.

Penahan ombak

 

a. Daerah permukiman

f.

Dermaga

b. Ibukota Negara

g.

Menara suar

c. Ibukota provinsi

h.

Stasiun pasang surut

d. Ibukota kabupaten

i.

Sungai

e. Kota lainnya

 

j.

Terusan, saluran air

 

4)

Bangunan;

 

k.

Danau

5)

Kantor Pemerintahan;

 

l.

Waduk atau bendungan

 

a. Provinsi

 

m.

Mata air

 

b. Kabupaten/Kota

 

n.

Sungai musiman

c. Kecamatan

 

o.

Air terjun

d. Kelurahan

p.

Jeram

6)

Fasilitas umum;

q.

Rawa

a. Pendidikan

r.

Empang/tambak

 

b. Rumah sakit

s.

Penggaraman

c. Polisi

 
  d. Pasar 17) Kawat tegangan tinggi e. Pelayanan pos 18) Pipa bahan bakar 7)
 

d. Pasar

17) Kawat tegangan tinggi

e. Pelayanan pos

18) Pipa bahan bakar

7)

Tempat peribadatan;

19) Pipa gas

a. Masjid

20) Jaringan penghubung;

b. Gereja

a. Jalan tol

c. Vihara

b. Jalan arteri

d. Pura

c. Jalan kolektor

8)

Tempat Pemakaman;

d. Jalan local

a. Tempat pemakaman umum

e. Jalan lain

b. Taman makam pahlawan

f. Jalan setapak

c. Islam

g. Jalan kereta api

d. Kristern

h. Bandar udara

e. Cina

i. Pelabuhan

9)

Pembangkit Listrik;

j. Terowongan

a. PLTA

b. PLTU

c. PLTD

d. PLTN

10) Bangunan bersejarah 11) Menara 12) Tempat menarik (pariwisataa) 13) Tambang 14) Menara air

15) Tangki bahan bakar 16) Sumber/sumur;

a. Sumber alam gas

b. Sumber air panas

c. Sumber bahan bakar

k. Bandar udara perintis

21) Batas administrasi;

a. Batas Negara

b. Batas provinsi

c. Batas kabupaten/kota

d. Batas kecamatan

e. Batas desa

f. Batas landasan kontinen, belum diratifikasi

g. Maksimum batas landasan kontinen

h. Batas ZEE

i. Batas ZEE Indonesia

j. Batas laut territorial

k. Batas

laut

territorial

kesepakatan

l. Batas

laut

territorial perlu

22) Relief;

kesepakatan

a. Titik tinggi

b. Kontur

c. Tebing

d. Bukit/gundukan

e. tanggul

23) Sawah irigasi

a). Bandara Internasional Soekarno Hatta (SOETTA)

24) Sawah tadah hujan 25) Kebun/perkebunan 26) Hutan 27) Semak belukar 28) Tegal/lading 29) Rumput/tanah kosong 30) Hutan rawa 31) Galian 32) Pasir 33) Pasir pasut

kosong 30) Hutan rawa 31) Galian 32) Pasir 33) Pasir pasut Bandara Internasional Soekarno Hatta, merupakan

Bandara Internasional Soekarno Hatta, merupakan unsur pembentuk wilayah rupabumi Kota Tangerang. Didalam gazetirnya unsur pelabuhan udara ini memiliki kode 11938 yang dikategorikan sebagai lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang dan atau bongkar muat pos, serta dilengkapi dengan fasilitas penerbangan Bandar udara. Bandar Udara Soekarno Hatta memiliki luas 18 km 2 hampir sama dengan luas kecamatan yang ada di Kota Tangerang.

b). Jalan

Jalan merupakan pembentuk rupabumi unsur buatan, ada banyak klasifikasi jalan pembentuk rupabumi di wilayah Kota Tangerang. Diantaranya jalan Nasional dan Propinsi. Jalan Tol Sukarno-Hatta, Jalan Daan Mogot, Jalan Gatot Subroto, Jalan Thamrin dan Jalan Jendral Sudirman merupakan jalan negara yang menghubungkan Kota Tangerang dengan Kota Jakarta dan Kabupaten Tangerang dan diklasifikasikan sebagai jalan arteri primer. Jalan Cokroaminoto, Jalan M. Toha, Jalan Maulana Hasanudin, Jalan Kisamaun, Jalan Perintis

Kemerdekaan, Jalan Raden Saleh dan Jalan Raden Patah yang menghubungkan Kota Tangerang dan Jakarta diklasifikasikan

Kemerdekaan, Jalan Raden Saleh dan Jalan Raden Patah yang menghubungkan Kota Tangerang dan Jakarta diklasifikasikan sebagai jalan arteri sekunder. Panjang jalan Kota Tangerang sekitar 555,6 km yang statusnya terdiri dari jalan negara, jalan propinsi dan jalan kota. Adapun panjang jalan berdasarkan klasifikasi fungsi jalan yang ada meliputi:

1)

Arteri primer : 30,35 km

2)

Kolektor primer : 71,65 km

3)

Arteri sekunder : 27,46 km

4)

Kolektor sekunder : 102,77 km

5)

Lokal : 323,36 km

BAB 4 GAZETIR INSTANSI KOTA TANGERANG Gazetir instansi kota tangerang yang disampaikan pada bab IV

BAB 4 GAZETIR INSTANSI KOTA TANGERANG

Gazetir instansi kota tangerang yang disampaikan pada bab IV adalah detail mengenai informasi lengkap tentang nama, kode/jenis unsure, posisi/koordinat, informasi nama, dan nomor peta, pengucapan, asal bahasa, genealogi/sejarah, aksessibilitas.

4.1 GAZETIR INSTANSI PUSAT PEMERINTAH KOTA TANGERANG

Tabel Gazetir Lokasi Instansi Pusat Pemerintah Kota Tangerang

           

Posisi

       

No

Nama Gedung

Pemerintah

Alamat

Kecamatan/

Kelurahan

Kode

Pos

Kode/Jenis

Unsur

Koordinat

Geografis

Kajian

Genealogi

No

Peta

Pengucapan

Asal

bahasa

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

 

Kantor Dinas

Jl. Nyi Mas Melati, Sukarasa, Tangerang

               

1

Kesbanglinmas

Tangerang

15111

   

Jl. Perintis

               

Kemerdekaan

2

Dinas Ketenagakerjaan

No.1 Cikokol

Tangerang

3

Sekretariat DPRD

                 

4

Dinas Kebersihan Dan Pertamanan

                 

5

Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata Dan

Jl. KS Tubun No.1 Gd

               
            Posisi         No Nama Gedung Pemerintah
           

Posisi

       

No

Nama Gedung

Pemerintah

 

Alamat

Kecamatan/

Kelurahan

Kode

Pos

Kode/Jenis

Unsur

Koordinat

Geografis

Kajian

Genealogi

No

Peta

Pengucapan

Asal

bahasa

a

b

 

c

d

e

f

g

h

i

j

k

 

Kebudayaan

Cisadane

               

Lantai IV

6

Sekretariat Kpu Kota Tangerang

Jl. Nyimas Melati NO. 16 Kota Tangerang

Tangerang

15111

           
   

Gd. Puspem

               

7

Sekretariat Korpri Kota Tangerang

lantai V Jl. Satria Sudirman No.

Tangerang

15111

1

Kota

Tangerang

   

Gd. Puspem

               

Kantor Litbang Dan Statistik

lantai IV Jl. Satria Sudirman No.

Tangerang/

8

Suka Asih

15111

 

1

Kota

Tangerang

 

Badan Pemberdayaan

Gd. Cisadane Lt. IV Jl. KS.

               

9

Masyarakat Dan Keluarga Berencana (BPMKB )

Tubun No. 1 Kota Tangerang

Karawaci

15112

   

Jl. KS Tubun

               

10

Dinas Pemadam

Kebakaran

No.96 A Kota Tangerang

Karawaci

15112

   

Jl. Jend Ahmad Yani No. 7 Kota Tangeang

Tangerang/

             

11

Kantor Arsip Daerah

Suka Asih

15111

12

Kantor Perpustakaan Umum Daerah

Jl. Perintis

Tangerang/

15117

           

Kemerdekaan

Cikokol

            Posisi         No Nama Gedung Pemerintah
           

Posisi

       

No

Nama Gedung

Pemerintah

Alamat

Kecamatan/

Kelurahan

Kode

Pos

Kode/Jenis

Unsur

Koordinat

Geografis

Kajian

Genealogi

No

Peta

Pengucapan

Asal

bahasa

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

   

No. 1 Cikokol - Tangerang

               

13

Badan Pelayanan

Gd. Puspem Lt I Jln.Satria

Tangerang/

15111

           

Perijinan Terpadu (BPPT)

Sudirman No. 1 Kota Tangerang

Suka Asih

   

Jl. KS.Tubun No. 1 Gd.

               

14

Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil

Cisadane Lt. 2 Kota Tangerang

Karawaci

15112

   

Jl. Daan

               

Satuan Polisi Pamong Praja

Mogot No.67

Tangerang/

15

Kota

Suka Asih

15111

 

Tangerang

   

Jl. Satria

               

Sudirman.n0

16

Dinas Informasi Dan Komunikasi

1.Gedung

Tangerang/

Puspem Lt.IV

Suka Asih

15111

   

Kota

Tangerang

   

Jl.Sintanala

               

17

Dinas Perhubungan

No. 1 Kota Tangerng

Neglasari

15121

18

Dinas Sosial

Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1 Cikokol - Tangerang

               
 

Dinas Perindustrian,

Gd. Puspem

Tangerang/

Suka Asih

             

19

Perdagangan, Dan Koperasi

Lt III

Jln.Satria

15111

            Posisi         No Nama Gedung Pemerintah
           

Posisi

       

No

Nama Gedung

Pemerintah

 

Alamat

Kecamatan/

Kelurahan

Kode

Pos

Kode/Jenis

Unsur

Koordinat

Geografis

Kajian

Genealogi

No

Peta

Pengucapan

Asal

bahasa

a

b

 

c

d

e

f

g

h

i

j

k

   

Sudirman No.

               

1

Kota

Tangerang

 

Badan Pengelolaan

Gd. Puspem lantai IV Jl. Satria Sudirman No.

Tangerang/

             

20

Lingkungan Hidup (Bplh )

Suka Asih

15111

1

Kota

Tangerang

   

Jl. Daan

               

Dinas Kesehatan

Mogot No.

Tangerang/

21

69 Kota

Suka Asih

15111

 

Tangerang

22

Dinas Pendidikan

Jl. KS Tubun No 1 Gd. Cisadane Lt 2 Tangerang

Karawaci

15112

           
   

Jl. KS Tubun

               

23

Dinas Pertanian

No.1 Kota Tangerang

Karawaci

15112

   

Gd. Puspem Lt 3 Jln.Satria

               

24

Dinas Tata Kota

Sudirman No.

Benda

15123

1

Kota

Tangerang

   

Jl. KS. Tubun No. 96 Rt.

               

25

Dinas Pekerjaan Umum

(PU)

01/04 Kel. Koang Jaya - Karawaci.

Karawaci

15112

26

Sekretariat Daerah

Gd. Puspem

               

Jl. Satria

Tangerang

15111

            Posisi         No Nama Gedung Pemerintah
           

Posisi

       

No

Nama Gedung

Pemerintah

Alamat

Kecamatan/

Kelurahan

Kode

Pos

Kode/Jenis

Unsur

Koordinat

Geografis

Kajian

Genealogi

No

Peta

Pengucapan

Asal

bahasa

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

   

Sudirman No.

               

1

   

Gd. Puspem lantai IV Jl.

               

27

Bappeda

Satria Sudirman No.

Tangerang

15111

1

   

Jl. Satria

               

28

Dinas Pengelolaan

Keuangan Dan Aset Daerah (DPKAD)

Sudirman No.

1 Gedung

Tangerang

15111

Puspem Lt.1

 

Badan Kepegawaian

Jl. KS Tubun No.1 Gd Cisadane Lantai III

               

29

Pendidikan Dan Pelatihan (BKPP)

Karawaci

15112

30

Inspektorat

Jl. KS Tubun No. 40 Pintu Air 10, Kel. Koang Jaya, Kec. Karawaci

Karawaci

15112

           
3.2 GAZETIR LOKASI INSTANSI PEMERINTAH KECAMATAN

3.2 GAZETIR LOKASI INSTANSI PEMERINTAH KECAMATAN

Tabel Gazetir Lokasi Instansi Pemerintah Kecamatan Kota Tangerang

         

Posisi

     

No

Nama

Kecamatan

Nama Kantor

Kecamatan

Kode/Jenis

Unsur

Kajian

Genealogi

Koordinat

Geografis

No Peta

Pengucapan

Asal

Bahasa

a

b

c

d

e

f

g

h

i

1

Tangerang

             

2

Karawaci

             

3

Jatiuwung

             

4

Cibodas

             

5

Periuk

             

6

Neglasari

             

7

Batu Ceper

             

8

Benda

             

9

Cipondoh

             

10

Pinang

             

11

Ciledug

             

12

Larangan

             

13

Larantengah

             
3.3 GAZETIR LOKASI INSTANSI PEMERINTAH KELURAHAN

3.3 GAZETIR LOKASI INSTANSI PEMERINTAH KELURAHAN

Tabel Gazetir Lokasi Instansi Pemerintah Kelurahan Kota Tangerang

No

Nama Kecamatan

Nama Kelurahan

Nama

Kajian Genealogi

Posisi

Kode

Kode/

No

Pengu

Asal

Kantor

Koordinat

Pos

Jenis

Peta

capan

Bahasa

Kelurahan

Geografis

Unsu

r

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

1

Tangerang

Suka Asih

 

suka mengasihi

 

15111

     

Indonesia

1.1

 

Sukarasa

     

15111

     

Indonesia

1.2

 

Cikokol

 

Cikokol adalah air tempat tumbuhan pakis tumbuh

 

15117

     

Sunda

1.3

 

Kelapa Indah

 

Gabungan dari nama buah dan sifat

 

15117

     

Indonesia

1.4

 

Babakan

 

Berasal dari kata "Ngebabakan" membuka kampung baru

 

15118

     

Sunda

1.5

 

Sukasari

     

15118

     

Indonesia

1.6

 

Buaran Indah

 

nama daerah

 

15119

     

Tidak

diketahui

1.7

 

Tanah Tinggi

 

Nama permukaan bumi dan nama sifat

 

15119

     

Indonesia

2

Karawaci

Koang Jaya

 

Koang adalah layang-layang hias

 

15112

     

Betawi

2.1

 

Nambo Jaya

 

Nambo berarti dasar sungai tua yang sudah ditinggalkan. Artinya sungainya sudah berpindah Artinya, sungainya sudah berpindah aliran. Jadi nama tempat yang memakai kata

 

15112

     

Sunda

No Nama Kecamatan Nama Kelurahan Nama Kajian Genealogi Posisi Kode Kode/ No Pengu Asal

No

Nama Kecamatan

Nama Kelurahan

Nama

Kajian Genealogi

Posisi

Kode

Kode/

No

Pengu

Asal

Kantor

Koordinat

Pos

Jenis

Peta

capan

Bahasa

Kelurahan

Geografis

Unsu

r

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

       

nambo, pastilah daerahnya lebih rendah dari tempat di sekitarnya

           

2.2

 

Pabuaran Tumpeng

     

15112

       

2.3

 

Pasar Baru

     

15112

       

2.4

 

Bugel

     

15113

       

2.5

 

Gerendeng

     

15113

       

2.6

 

Marga Sari

 

Marga adalah sekumpulan dusun

 

15113

       

2.7

 

Suka Jadi

     

15113

       

2.8

 

Cimone

     

15114

       

2.9

 

Pabuaran

     

15114

       

2.10

 

Sumur Pancing

     

15114

       

(Pacing)

2.11

 

Bojong Jaya

 

Bojong bkn bhs ind

 

15115

       

2.12

 

Karawaci

 

Karawaci bkn bhs ind

 

15115

       

2.13

 

Cimone Jaya

     

15116

       

2.14

 

Karawaci Baru

     

15116

       

2.15

 

Nusa Jaya

     

15116

       

3

Jatiuwung

Alam Jaya

     

15133

       

3.1

 

Keroncong

     

15134

       

3.2

 

Pasir Jaya

     

15135

       

3.3

 

Jatake

     

15136

       

3.4

 

Manis Jaya

     

15136

       

3.5

 

Gandasari

     

15137

       

4

Cibodas

Jatiuwung

     

15134

       

4.1

 

Cibodas

     

15138

       

4.2

 

Cibodas Baru

     

15138

       

4.3

 

Cibodas Sari

     

15138

       

4.4

 

Uwung Jaya

     

15138

       
No Nama Kecamatan Nama Kelurahan Nama Kajian Genealogi Posisi Kode Kode/ No Pengu Asal

No

Nama Kecamatan

Nama Kelurahan

Nama

Kajian Genealogi

Posisi

Kode

Kode/

No

Pengu

Asal

Kantor

Koordinat

Pos

Jenis

Peta

capan

Bahasa

Kelurahan

Geografis

Unsu

r

a

b

c

d

e

f

g

h

i

j

k

4.5

 

Panunggangan

     

15139

       

Barat

5

Periuk

Periuk

 

Periuk adalah alat untuk menanak nasi, dibuat dr tanah atau logam

 

15131

       

5.1

 

Periuk Jaya

     

15131

       

5.2

 

Gebang Raya

 

Gebang adalah jenis palem yg tingginya dapat mencapai 15-20 m, hati batangnya dapat digunakan untuk makanan babi; Corypha utan

 

15132

       

5.3

 

Sangiang Jaya

     

15132

       

5.4

 

Gembor

     

15133

       

6

Neglasari

Karang Anyar

     

15121

       

6.1

 

Karang Sari

     

15121

       

6.2

 

Selapajang Jaya

     

15127

       

6.3

 

Kedaung Baru

     

15128

       

6.4

 

Kedaung Wetan

     

15128

       

6.5

 

Mekar Sari

     

15129

       

6.6

 

Neglasari

     

15129

       

7

Batu Ceper

Batu Jaya

     

15121

       

7.1

 

Batu Sari

     

15121

       

7.2

 

Batu Ceper

     

15122

       

7.3

 

Kebon Besar

     

15122

       

7.4

 

Poris Gaga

     

15122

       

7.5

 

Poris Gaga Baru

     

15122

       

7.6

 

Poris Jaya

     

15122

       

8

Benda

Belendung