Anda di halaman 1dari 15

1.

KASUS PELANGGARAN HAM YANG TERJADI DI MALUKU

Konflik dan kekerasan yang terjadi di Kepulauan Maluku sekarang telah berusia 2 tahun 5 bulan; untuk Maluku Utara 80% relatif aman, Maluku Tenggara 100% aman dan relatif stabil, sementara di kawasan Maluku Tengah (Pulau Ambon, Saparua, Haruku, Seram dan Buru) sampai saat ini masih belum aman dan khusus untuk Kota Ambon sangat sulit diprediksikan, beberapa waktu yang lalu sempat tenang tetapi sekitar 1 bulan yang lalu sampai sekarang telah terjadi aksi kekerasan lagi dengan modus yang baru ala ninja/penyusup yang melakukan operasinya di daerah daerah perbatasan kawasan Islam dan Kristen (ada indikasi tentara dan masyarakat biasa). Penyusup masuk ke wilayah perbatasan dan melakukan pembunuhan serta pembakaran rumah. Saat ini masyarakat telah membuat sistem pengamanan swadaya untuk wilayah pemukimannya dengan membuat barikade-barikade dan membuat aturan orang dapat masuk/keluar dibatasi sampai jam 20.00, suasana kota sampai saat ini masih tegang, juga masih terdengar suara tembakan atau bom di sekitar kota. Akibat konflik/kekerasan ini tercatat 8000 orang tewas, sekitar 4000 orang luka luka, ribuan rumah, perkantoran dan pasar dibakar, ratusan sekolah hancur serta terdapat 692.000 jiwa sebagai korban konflik yang sekarang telah menjadi pengungsi di dalam/luar Maluku. Masyarakat kini semakin tidak percaya dengan dengan upaya upaya penyelesaian konflik yang dilakukan karena ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyelesaian konflik, ada ketakutan di masyarakat akan diberlakukannya Daerah Operasi Militer di Ambon dan juga ada pemahaman bahwa umat Islam dan Kristen akan saling menyerang bila Darurat Sipil dicabut. Banyak orang sudah putus asa, bingung dan trauma terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di Ambon ditambah dengan ketidak-jelasan proses penyelesaian konflik serta ketegangan yang terjadi saat ini. Komunikasi sosial masyarakat tidak jalan dengan baik, sehingga perasaan saling curiga antar kawasan terus ada dan selalu bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang menginginkan konmflik jalan terus. Perkembangan situasi dan kondisis yang terakhir tidak ada pihak yang menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehingga masyrakat mencari jawaban sendiri dan membuat antisipasi sendiri.

Wilayah pemukiman di Kota Ambon sudah terbagi 2 (Islam dan Kristen), masyarakat dalam melakukan aktifitasnya selalu dilakukan dilakukan dalam kawasannya hal ini terlihat pada aktifitas ekonomi seperti pasar sekarang dikenal dengan sebutan pasar kaget yaitu pasar yang muncul mendadak di suatu daerah yang dulunya bukan pasar hal ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan riil masyarakat; transportasi menggunakan jalur laut tetapi sekarang sering terjadi penembakan yang mengakibatkan korban luka dan tewas; serta jalur jalur distribusi barang ini biasa dilakukan diperbatasan antara supir Islam dan Kristen tetapi sejak 1 bulan lalu sekarang tidak lagi juga sekarang sudah ada penguasa penguasa ekonomi baru pasca konflik. Pendidikan sangat sulit didapat oleh anak anak korban langsung/tidak langsung dari konflik karena banyak diantara mereka sudah sulit untuk mengakses sekolah, masih dalam keadaan trauma, program Pendidikan Alternatif Maluku sangat tidak membantu proses perbaikan mental anak malah menimbulkan masalah baru di tingkat anak (beban belajar bertambah) selain itu masyarakat membuat penilaian negatif terhadap aktifitas NGO (PAM dilakukan oleh NGO). Masyarakat Maluku sangat sulit mengakses pelayanan kesehatan, dokter dan obat obatan tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan harus diperoleh dengan harga yang mahal; puskesmas yang ada banyak yang tidak berfungsi. Belum ada media informasi yang dianggap independent oleh kedua pihak, yang diberitakan oleh media cetak masih dominan berita untuk kepentingan kawasannya (sesuai lokasi media), ada media yang selama ini melakukan banyak provokasi tidak pernah ditindak oleh Penguasa Darurat Sipil Daerah (radio yang selama ini digunakan oleh Laskar Jihad (radio SPMM/Suara Pembaruan Muslim Maluku). 2. PELANGGARAN HAM ATAS NAMA AGAMA

Kita memiliki banyak sejarah gelap agamawi, entah itu dari kalangan gereja Protestan maupun gereja Katolik, entah dari aliran lainnya. Bahwa kadang justru dengan simbol agamawi, kita melupakan kasih, yaitu kasih yang menjadi atribut Tuhan kita Yesus Kristus. Hal-hal ini dicatat dalam buku sejarah dan beberapa kali kisah-kisah tentang kekejaman gereja difilmkan. Salah satu contohnya dalam film The Scarlet Letter, film tentang hyprocricy Gereja Potestan yang menghakimi seorang pezinah dan kelompok-kelompok yang dianggap bidat, adalagi filmThe Magdalene Sisters, juga film A Song for A Raggy Boy, The Headman, The Name of the Rose , dan masih banyak lainnya. Kini, telah hadir film yang lumayan

baru, yang diproduksi oleh Saul Zaentz dan disutradarai oleh Milos Forman, dua nama ini cukup memberi jaminan bahwa film yang dibuat mereka selalu bagus yaitu film GOYAs GOST. Mungkin saja film GOYAs GOST ini akan membuat marah sebagian kelompok, namun apa yang dikemukakan oleh Zaentz dan Forman, sebagaimana kekejaman Inkuisisi telah tercatat dalam sejarah hitam Gereja. Kisah-kisah kekejamannya juga terekam dalam lukisanlukisan karya Seniman Spanyol Francisco Goya (17461828 ), yang menjadi tokoh sentral dari film GOYAs GOST ini. Kita telah mengenal banyak sekelompok manusia dengan atribut agama, berlindung dalam lembaga agama, mereka justru melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) entah itu Kristen, Islam atau agama apapun. Atas nama agama yang suci mereka melakukan pelecehan yang tidak suci kepada sesamanya manusia. Akhir abad 20 atau awal abad 21, akhir-akhir ini kita disuguhi sajian-sajian berita akan kebobrokan manusia yang beragama melanggar hak asasi manusia, misalnya kelompok Al-Qaeda dan sejenisnya menteror dengan bom, dan olehnya mungkin sebagian dari kita telah prejudice menempatkan orang-orang Muslim di sekitar kita sama jahatnya dengan kelompok Al-Qaeda. Di sisi lain Amerika Serikat (AS) sebagai polisi dunia sering memakai isu terorisme yang dilakukan Al-Qaeda untuk melancarkan macam-macam agendanya. Invasi AS ke Iraq, penyerangan ke Afganistan dan negara-negara lain yang disinyalir ada terorisnya. Namun kehadiran pasukan AS dan sekutunya di Iraq tidak berdampak baik, mungkin pada awalnya terlihat AS dengan sejatanya yang super-canggih menguasai Iraq dalam sekejap, namun pasukan mereka babak-belur dalam perang-kota, ini mengingatkan kembali sejarah buruk, dimana mereka juga kalah dalam perang gerilya di Vietnam. Kegagalan pasukan AS mendapat kecaman dari dalam negeri, bahkan sekutunya, Inggris misalnya. Tekanan-tekanan ini membuat PM Inggris Tony Blair memilih mengakhiri karirnya sebelum waktunya baru-baru ini. Karena ia berada dalam posisi yang sulit : menuruti tuntutan dalam negeri ataukah menuruti tuan Bush. Memang kita akui banyak kebrutalan yang dilakukan oleh para teroris kalangan Islam Fundamentalis, contoh Bom Bali dan sejenisnya di seluruh dunia. Tapi tidak menutup kemungkinan Presiden Amerika Serikat, George Bush adalah juga seorang Fundamenalis dalam Agama yang dianutnya, karena gaya Bush yang sering secara implisit terbaca dimana ia menempakan dirinya sebagai penganut Kristiani yang memerangi terorisme dari para teroris Muslim Fundamentalis. Tentu saja apa-apa yang mengandung fundamentalis entah itu Islam/ Kristen/ agama yang lain, bermakna tidak baik. Sebelumnya, ditengah-tengah isu anti terorisme (Islam), sutradara Inggris, Ridley Scott memproduksi film The Kingdom of Heaven, barangkali bisa juga digunakan untuk menyindir Presiden Bush yang sering menggunakan katacrusades dalam pidatonya. Film The Kingdom of Heaven adalah sebuah otokritik bagi Kekristenan, dan sajian ironisme dari ajaran Kristus yang penuh kasih. Bahwa perang Salib yang telah terjadi selama 4 abad itu bukanlah suatu kesaksian yang baik, tetapi lebih merupakan sejarah hitam.

Dibawah ini review dari sebuah film, tentang kejahatan dibawah payung Agama, bukan berniat melecehkan suatu Agama/ Aliran tertentu, melainkan sebagai perenungan apakah perlakuan seseorang melawan/menindas orang lain yang tidak seagama itu tujuannya membela Allah? membela tradisi? membela doktrin, ataukah membela diri sendiri? 3. HAMIL 6 DIBANTAI 7 LIANG SIANTAR- Siti Nurcahaya br Siagian alias Ester (38), ibu yang tengah mengandung 6 bulan ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Tujuh bekas tusukan ditemukan di tubuhnya. Jasad korban ditemukan di dapur rumahnya di Jalan Aman, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Rabu (18/4) pukul 10:30 WIB. Jasad ibu 5 anak ini pertama ditemukan anak ketiganya bernama Cinta (3). Melihat ibunya terkapar di lantai dapur bersimbah darah, Cinta berlari ke warung bakso milik neneknya, Kulkul (72), sekitar 50 meter dari rumahnya. Cinta menberitahu neneknya bahwa ibunya terkapar di dapur. Korban ditusuk benda tajam sebanyak 7 liang. Tiga tusukan di leher, dua tusukan di tangan kiri, satu tusukan di pinggang kanan dan perut. Dari kondisinya, diduga korban sempat melakukan perlawanan. Hanya hitungan menit, warga sekitar berbondong-bondong berdatangan ke rumah berdinding papan berukuran 3 meter kali 6 meter tersebut. Tak berapa lama, polisi dari Polsek Siantar Timur tiba di lokasi dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kepada Metro Siantar (Grup JPNN), Cinta menceritakan, saat itu dia sedang bermain di ruang tamu. Sedangkan ibunya memasak di dapur dan mencuci pakaian. Saat itu datang seorang pria berjaket hitam, kulit hitam, tak berkumis dan tak berjenggot, masuk ke rumah. Diduga pria itu berinisial ES yang sering datang ke rumah korban yang berada tepat di belakang PT STTC itu. Om itu mengasih saya uang Rp1000 untuk jajan. Saya disuruhnya jajan ke warung tempat nenek. Pulang saya membeli roti, saya lihat Om itu sudah tidak ada lagi. Tapi ibu sudah berdarah-darah di dapur, ujar bocah berambut lurus pendek itu. Lebih lanjut Cinta bercerita, melihat ibunya terkapar di dapur bersimbah darah, dia ke tempat neneknya yang sedang jual miso, memberitahukan ibunya terkapar di dapur. Saya lihat ibu berdarah-darah di dapur dan tidak bisa diajak bicara. Saya panggil nenek ke warung miso. Datang lagi saya ke rumah sama-sama dengan nenek. Mau sampai ke rumah, saya lihat Bang Rangga sudah pulang dari sekolah dan mau masuk ke rumah. Tapi saya tidak lihat Om yang tadi memberi uang jajan itu lagi, ungkapnya. Sesuai pengakuan Cinta, saat AS memberikan uang jajan, hal itu tidak diketahui ibunya. Namun Cinta mengaku, ES sebelumnya pernah datang ke rumah mereka. Om itu sudah pernah datang ke rumah. Tapi saya tidak tau nama Om itu siapa. Waktu Om itu memberikan uang jajan, ibu sedang mencuci di kamar mandi, kata Cinta sambil melalap roti. Di tengah keramaian warga yang datang hendak melihat kejadian itu, Cinta mengatakan sudah mengetahui ibunya meninggal karena dibunuh. Ibu sudah mati (meninggal) dibunuh. Saya tidak tau siapa yang membunuh Ibu. Nggak ada lagi Ibu. Ibu baik, tidak suka memukul, katanya sambil duduk di samping rumahnya. Sementara itu, Ponijo (38), suami korban, mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah ditelepon keluarganya. Saat kejadian itu, dia mengaku bekerja di Yayasan USI sebagai supir.

Saya dapat telepon dari keluarga, katanya istriku dibunuh dan berdarah-darah di dapur. Saya permisi dari kantor pulang ke rumah. Sampai di rumah, saya lihat istri saya sudah terkapar di lantai bersimbah darah dalam kondisi tidak bernyawa. Dia bercerita, sekitar pukul 8:00 WIB, seperti biasa dia mengantarkan dua anaknya ke sekolah, Kiki kelas 5 SD dan Rangga sekolag TK Stadion. Usai mengantarkan anaknya, dia langsung berangkat kerja ke USI. Tadi pagi waktu saya tinggalkan masih sehat-sehat saja. Kondisi ruang tamu dan barangbarang rumah pun masih begini, belum ada yang dirubah. Kalau pelakunya perampok, pasti sudah ada yang hilang barang-barang. Tapi sampai detik ini belum ada barang-barang yang diketahui hilang, katanya. Masih kata Ponijo, istrinya sedang mengandung 6 bulan anak keenamnya. Sementara lima anaknya, yakni anak pertama Rizki alias Kiki kelas 5 SD, anak kedua Reja (9) kelas 3 SD tinggal dengan oppungnya di Kisaran, anak ketiga Rangga (5) TK, anak keempat Cinta (3) dan anak kelima, Cindy (2) tinggal dengan oppungnya juga di Kisaran. Sopir Yayasan USI ini mengaku tidak ada masalah dengan istrinya, demikian juga kepada orang lain. Selama belasan tahun mereka berkeluarga, akur-akur saja. Dia berharap polisi dapat mengungkap kasus itu dan mengungkap pembunuh istrinya. Dia mengaku ingin sekali tau apa maksud pelaku membunuh istrinya. Sementara, Andi Siahaan (49), tetangga satu dinding dengan rumah korban, mengatakan, tidak mengetahui kejadian tersebut. Guru salah satu SMP di Bangun ini setiap hari keluar rumah pukul 08:00 WIB dan pulang pada malam hari. Saat kejadian itu saya ngajar di Bangun. Kalau saya tau, keluarga mereka akur-akur saja. Namun utang sewa rumah kontrakan mereka sudah menunggak 2 tahun tidak dibayar, janjinya selalu nanti-nanti. Setiap tahunn mereka membayar sewa kontrak rumah Rp1,3 juta. Selama 4 tahun mereka tinggal di rumah kontrakan saya ini, masih 2 tahun bayar kontrakannya, ujarnya. Kapolresta Siantar AKBP Alberd TB Sianipar melalui Kasat Reskrim AKP Azaruddin membenarkan kejadian tersebut. Diduga korban dibunuh menggunakan benda tajam.

Janin Meninggal dr Reinhard Hutahaean, dokter Forensik RSUD dr Djasamen Saragih mengatakan, Siti br Siagian kena tusukan benda tajam sebanyak tujuh liang, dengan rincian, 3 tusukan pada leher, 2 tusukan pada tangan kiri, 1 tusukan pinggang kanan, 1 tusukan pada perut. Diduga korban sempat melakukan perlawanan. Sebab, bekas tusukan sangat banyak di tubuh korban. Masih menurut dr Reinhard, anak dalam kandungan korban juga ikut meninggal. Karena tali pusatnya nyaris putus. "Anak yang di kandungan korban meninggal setelah tali pusatnya nyaris putus terkena tusukan benda tajam. Setelah diotopsi, sekitar pukul 16:30 WIB, korban disemayamkan di rumahnya," ujarnya. Posisi Telentang Amatan METRO, korban pertama kali ditemukan dalam posisi telentang di lantai dapur tepatnya di samping meja tempat kompor masak. Kedua tangan korban diletakkan di bagian dada dan wajah korban menghadap ke pintu ruang tamu. Korban saat itu memakai baju kaos warna putih dan celana pendek berwarna putih.

Di kamar mandi, polisi menemukan sebilah pisau runcing, tetapi tidak ada darah di pisau itu. Di atas meja kompor juga ada pisau dapur warna putih terletak. Saat penemuan mayat, darah dari leher korban masih mengalir kencang. Rumah korban tidak memiliki pintu belakang, hanya memiliki ventilasi ukuran 20 cm terbuat dari papan. Diduga usai menghabisi nyawa korban, tersangka kabur dari pintu depan dan melewati jemuran. Di bawah jemuran sekitar 5 meter dari pintu rumah korban ditemukan sarung pisau yang terbuat dari kayu. Dekat sarung pisau tersebut ditemui sarung tangan warna merah kotakkotak. (MS/sam/jpnn)

4. PELANGGARAN HAM OLEH MANTAN GUBERNUR TIM-TIM

Abilio Jose Osorio Soares, mantan Gubernur Timtim, yang diadili oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc di Jakarta atas dakwaan pelanggaran HAM berat di Timtim dan dijatuhi vonis 3 tahun penjara. Sebuah keputusan majelis hakim yang bukan saja meragukan tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar apakah vonis hakim tersebut benar-benar berdasarkan rasa keadilan atau hanya sebuah pengadilan untuk mengamankan suatu keputusan politik yang dibuat Pemerintah Indonesia waktu itu dengan mencari kambing hitam atau tumbal politik. Beberapa hal yang dapat disimak dari keputusan pengadilan tersebut adalah sebagai berikut ini. Pertama, vonis hakim terhadap terdakwa Abilio sangat meragukan karena dalam UndangUndang (UU) No 26/2000 tentang Pengadilan HAM Pasal 37 (untuk dakwaan primer) disebutkan bahwa pelaku pelanggaran berat HAM hukuman minimalnya adalah 10 tahun sedangkan menurut pasal 40 (dakwaan subsider) hukuman minimalnya juga 10 tahun, sama dengan tuntutan jaksa. Padahal Majelis Hakim yang diketuai Marni Emmy Mustafa menjatuhkan vonis 3 tahun penjara dengan denda Rp 5.000 kepada terdakwa Abilio Soares.

Bagi orang yang awam dalam bidang hukum, dapat diartikan bahwa hakim ragu-ragu dalam mengeluarkan keputusannya. Sebab alternatifnya adalah apabila terdakwa terbukti bersalah melakukan pelanggaran HAM berat hukumannya minimal 10 tahun dan apabila terdakwa tidak terbukti bersalah ia dibebaskan dari segala tuduhan. Kedua, publik dapat merasakan suatu perlakuan diskriminatif dengan keputusan terhadap terdakwa Abilio tersebut karena

terdakwa lain dalam kasus pelanggaran HAM berat Timtim dari anggota TNI dan Polri divonis bebas oleh hakim. Komentar atas itu justru datang dari Jose Ramos Horta, yang mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kemungkinan hanya rakyat Timor Timur yang akan dihukum di Indonesia yang mendukung berbagai aksi kekerasan selama jajak pendapat tahun 1999 dan yang mengakibatkan sekitar 1.000 tewas. Horta mengatakan, Bagi saya bukan fair atau tidaknya keputusan tersebut. Saya hanya khawatir rakyat Timor Timur yang akan membayar semua dosa yang dilakukan oleh orang Indonesia 5. DUA PULUH TIGA TAHUN PERISTIWA TANJUNG PRIOK 1984:PELAKU DIBEBASKAN, KORBAN TERUS MENJADI KORBAN Dua puluh tiga tahun sudah kasus Tanjung Priok terjadi. Hampir 10 tahun Soeharto berhenti menjadi Presiden RI. Namun hari ini tak ada keadilan yang diberikan bagi korban yang dulunya ditembaki, ditangkap semena-mena, ditahan secara sewenang-wenang, disiksa, dihilangkan, distigma dan harta bendanya dirampas serta hak atas pekerjaan dan pendidikannya dirampas. Masih terang diingatan korban, bagaimana pada tahun 2006 Mahkamah Agung memperagakan parade pembebasan hukum (Impunitas secara De Jure) terhadap sejumlah nama yang seharusnya bertanggung jawab; Sriyanto, Pranowo, Sutrisno Mascung dan RA. Butar-Butar. Kegagalan Peradilan HAM untuk menghukum sesungguhnya telah tergambar dari buruknya kinerja Penuntut Umum. Selain menghapus nama (Alm.) LB Moerdani dan Try Sutrisno dalam proses penyidikan, Kejaksaan Agung justru membuktikan kejahatan luar biasa (Extra Ordinary Crime) pada kasus Tanjung Priok dengan sistem pidana umum (Ordinary Crime) yang berbasis pada KUHAP. Kegagalan lain diakibatkan oleh persoalan politik bahwa tidak adanya jaminan dari otoritas negara dalam mendukung administratif atas kerja Pengadilan HAM atas kasus Tanjung Priok. Selain itu Pemerintah tidak menyiapkan sistem perlindungan saksi yang memadai. Sementara, di pengadilan, Hakim membiarkan upaya sogok-menyogok terjadi antara pelaku dengan sejumlah saksi untuk mencabut kesaksian.

Pengadilan HAM bukan hanya gagal memberikan kepastian hukum berupa penghukuman terhadap para pelaku dalam kasus Tanjung Priok, Pengadilan Juga gagal memberikan kebenaran yang sejati atas kasus Tanjung Priok serta gagal menjamin kepastian reparasi (Perbaikan) atas penderitaan dan kerugian para korban Kasus Tanjung Priok 1984. Banyak diantara para Korban yang masih mempertanyakan Keberadaan keluarganya yang masih hilang. Banyak diantara para korban yang sampai hari ini harus menanggung biaya jika sedang ada uangpengobatan akibat atau efek dari kekerasan yang dialami pada 12 September 1984 atau kekerasan-kekerasan berikutnya. Banyak diantara para korban yang harus kehilangan tempat usaha atau pekerjaannya akibat dirampas atau distigmatisasi sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Demikian pula para korban yang masih anak-

anak, tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Atau anak-anak korban yang kehilangan ayah atau kakaknya yang diharapkan menjadi penopang ekonomi. Usaha pun tetap dilakukan oleh para korban lewat Pengadilan Negeri pada 28 Februari 2007 menuntut Pemerintah mengeluarkan dana Kompensasi bagi korban. Namun, lagi-lagi, Hakim tunggal Martini Marjan menolak mentah-mentah permohonan Penetapan Kompensasi para Korban dengan alasan tidak ada Pelanggaran berat HAM dalam kasus Tanjung Priok 1984. Jelas bahwa Hakim tunggal Martini Marjan Menegasikan fakta, penderitaan dan kerugian yang telah dihadirkan dalam persidangan Penetapan di PN Jakarta Pusat. Sampai saat ini Mahkamah Agung belum memutuskan kasasi yang telah diajukan sejak 5 Maret 2007. Pada 1984 korban jelas dikorban oleh kebijakan anti kritik Soeharto dan brutalitas aparat keamanan. Pada era transisi politik, setelah belas... bahkan puluhan tahun upaya koreksi pun tetap didominasi oleh pelaku. Tidak ada yang dihukum, tidak ada perbaikan kondisi korban bahkan tidak diakui adanya pelanggaran berat HAM. Masyarakat terus dikorban dari perilaku kekerasan menjadi korban sistem peradilan yang tidak fair dan jujur. Transisi politik tidak digunakan untuk mengambil pelajaran dari kegagalan dimasa lalu, sebagaimana yang terjadi pada kasus Tanjung Priok. Akan tetapi keluarga korban tidak pernah lupa dan akan tetap menuntut pertanggung jawaban pemerintah atas keadilan, kebenaran, maupun reparasi. Kami yakin bahwa sesuatu yang buruk bisa dikoreksi. Demikian pula putusan-putusan pengadilan HAM atas kasus Tanjung Priok harus bisa dikoreksi demi kebenaran dan keadilan. 6. SALING SINDIR DI FB,GENG MTSN KEROYOK SISWI SIGLI - Tindak kekerasan melibatkan pelajar sepertinya sudah mewabah. Seperti kejadian di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsn) Sigli, seorang siswi mengaku dikeroyok lima temannya. Peristiwa ini dipicu akibat saling sindir di facebook, kemudian berlanjut usai bubaran sekolah. Bahkan adegan aksi direkam lewat ponsel, kemudian disebar lewat MMS kepada rekan-rekan se-MTsN Sigli. Adalah NF (13) menjadi korban pengeroyokan, kemarin siang. Saat ditemui Metro Aceh (Grup JPNN), Rabu (18/4), orang tua korban Armayanti membenarkan insiden yang menimpa sang anak. Berikut runut cerita dihimpun wartawan melalui sumber dan saksi-saksi tersebut. Awal kejadian ini bermula kala NF pulang sekolah, di Jalan Prof. A. Majid Ibrahim, Pidie pada dua hari lalu. Korban lalu menjemput adiknya yang duduk di bangku SD. Kebetulan sekolah mereka saling berhadapan, sehingga pergi dan pulang selalu bersama-sama. Ketika hendak menghidupkan sepmor, tiba-tiba ia didatangi lima orang perempuan sebaya. Tiga diantaranya adalah siswi MTsn Sigli yakni Nurleli, Nurmala dan Irawati. Sedangkan dua lainnya adalah murid SMP yaitu Sapridawati dan Erni. Salah seorang diantara pelaku lantas mencabut kunci sepmor dari stop kontak.

Selanjutnya mengajak Nf pergi dari lokasi, menuju belakang Rutan Sigli di Kampung Benteng, Kecamatan Kota Sigli. Tempat ini berjarak sekitar 500 meter dari sekolah korban. Karena dibawah ancaman geng siswi tersebut, NF pun tak bisa menolak. Ia dibonceng pelaku bersama adiknya tersebut, berangkat ke areal sepi dan berada di tepi pantai. Setiba di lokasi kejadian, sepmor berhenti. Kemudian NF dipaksa turun lalu ditolak dan dimaki-maki. Merasa kalah jumlah, siswi MTsn ini tak mampu melawan. Ia pasrah tubuhnya didorong-dorong oleh kawanan geng tersebut, bahkan sampai tersungkur mencium tanah pasir. Saat pengeroyokan berlangsung, salah seorang diantara pelaku merekam adegan itu dengan ponsel untuk divideokan. Puas melampiaskan amarah, kelima siswi lawan korban bergegas meninggalkan TKP. Sedangkan NF dan adiknya kemudian pulang ke rumah. Ternyata kejadian tersebut tak dilaporkan kepada orang tuanya. "Dia tak ada melapor sama saya. Tau kejadian ini melalui sepupu kami, yang mendapat kabar bahwa NF sudah dikeroyok teman-temannya. Ada saksi mata melihat, tapi tak mau melerai," ujar Armayanti. Merasa anak perempuannya sudah jadi bulan-bulanan, Armayanti pun naik pitam. "Kutanya kemarin awalnya tak mau mengaku, bahkan dibilang NF sudah damai. Dia takut karena mendapat ancaman akan dipukuli lagi , makanya tak bilang kejadian itu. Tapi belakangan ada sampai ke tangan kami, rekaman video ponsel soal pengeroyokan tersebut," papar Armayanti sambil menahan amarah. Takut masalah ini jadi berlarut-larut, kasus selanjutnya dilaporkan ke Polres Pidie dengan nomor lapor TBL/65/IV/2012/Aceh/SPKT Pidie. "Saya tidak terima anak saya dapat perlakuan seperti itu. INi akan jadi pelajaran bagi mereka," tegas Armayanti. Pasca aksi kejadian pengeroyokan yang dialami NF, orang tua korban mendadak berang. Tak terima atas perlakuan tak wajar tersebut, Armayanti pun melapor kepada Kepala Sekolah MTsn Sigli, Mustafa S.Ag. Naasnya bukan mendapat pembelaan, malah NF terancam dipecat karena sudah berulang kali membuat kesalahan, serta disebut memicu pertengkaran sesama siswi di sekolah itu. "Apa rupanya kesalahan anak saya. Dia kan termasuk korban, dikeroyok rame-rame. Bahkan kini trauma karena kejadian kemarin. Bukan cuma NF yang mengalami konflik batin, adiknya pun sekarang sudah shock dan sering mengurung diri dalam kamar," kata Armayanti. Sementara itu, Kepala MTsN Sigli Mustafa.S.Ag kepada Metro Aceh pada Rabu (18/4) siang, mengaku kasus itu terjadi di luar sekolah dan bukan tanggung jawab pihaknya. Namun informasi yang diterima perkara sudah berdamai. Bahkan pihaknya mengancam yang terlibat dalam masalah itu akan dikeluarkan dari sekolahnya. Sebab kata Mustafa, hal itu sudah terjadi berulang kali dan bukan kali ini saja. "Kita sudah konsultasi dengan dewan guru bagaimana tingkah mereka," jelasnya. (mir)

7. KONTROVERSI G30S

Di antara kasus-kasus pelanggaran berat HAM, perkara seputar peristiwa G30S bagi KKR bakal menjadi kasus kontroversial. Dilema bisa muncul dengan terlibatnya KKR untuk memangani kasus pembersihan para aktivis PKI. Peneliti LIPI Asvi Marwan Adam melihat, kalau pembantaian sebelum 1 Oktober 1965 yang memakan banyak korban dari pihak Islam, karena pelakunya sama-sama sipil, lebih mudah rekonsiliasi. Anggaplah kasus ini selesai, jelasnya. Persoalan muncul ketika KKR mencoba menyesaikan pembantaian yang terjadi pasca G30S. Asvi menjelaskan, begitu Soeharto pada 1 Oktober 1965 berhasil menguasai keadaan, sore harinya keluar pengumuman Peperalda Jaya yang melarang semua surat kabar terbit kecuali Angkatan Bersenjata (AB) dan Berita Yudha. Dengan begitu, seluruh informasi dikuasai tentara. Berita yang terbit oleh kedua koran itu kemudian direkayasa untuk mengkambinghitamkan PKI sebagai dalang G30S yang didukung Gerwani sebagai simbol kebejatan moral. Informasi itu kemudian diserap oleh koran-koran lain yang baru boleh terbit 6 Oktober 1965. Percobaan kudeta 1 Oktober, kemudian diikuti pembantaian massal di Indonesia. Banyak sumber yang memberitakan perihal jumlah korban pembantaian pada 1965/1966 itu tidak mudah diketahui secara persis. Dari 39 artikel yang dikumpulkan Robert Cribb (1990:12) jumlah korban berkisar antara 78.000 sampai dua juta jiwa, atau rata-rata 432.590 orang. Cribb mengatakan, pembantaian itu dilakukan dengan cara sederhana. Mereka menggunakan alat pisau atau golok, urai Cribb. Tidak ada kamar gas seperti Nazi. Orang yang dieksekusi juga tidak dibawa ke tempat jauh sebelum dibantai. Biasanya mereka terbunuh di dekat rumahnya. Ciri lain, menurutnya, Kejadian itu biasanya malam. Proses pembunuhan berlangsung cepat, hanya beberapa bulan. Nazi memerlukan waktu bertahuntahun dan Khmer Merah melakukannya dalam tempo empat tahun. Cribb menambahkan, ada empat faktor yang menyulut pembantaian masal itu. Pertama, budaya amuk massa, sebagai unsur penopang kekerasan. Kedua, konflik antara golongan komunis dengan para pemuka agama islam yang sudah berlangsung sejak 1960-an. Ketiga, militer yang diduga berperan dalam menggerakkan massa. Keempat, faktor provokasi media yang menyebabkan masyarakat geram.

Peran media militer, koran AB dan Berita Yudha, juga sangat krusial. Media inilah yang semula menyebarkan berita sadis tentang Gerwani yang menyilet kemaluan para Jenderal. Padahal, menurut Cribb, berdasarkan visum, seperti diungkap Ben Anderson (1987) para jenazah itu hanya mengalami luka tembak dan memar terkena popor senjata atau terbentur dinding tembok sumur. Berita tentang kekejaman Gerwani itu memicu kemarahan massa. Karena itu, Asvi mengingatkan bahwa peristiwa pembunuhan massal pada 1965/66 perlu dipisahkan antara konflik antar masyarakat dengan kejahatan yang dilakukan oleh negara. Pertikaian antar masyarakat, meski memakan banyak korban bisa diselesaikan. Yang lebih parah adalah kejahatan yang dilakukan negara terhadap masyarakat, menyangkut dugaan keterlibatan militer (terutama di Jawa Tengah) dalam berbagai bentuk penyiksaan dan pembunuhan. Menurut Cribb, dalam banyak kasus, pembunuhan baru dimulai setelah datangnya kesatuan elit militer di tempat kejadian yang memerintahkan tindakan kekerasan. Atau militer setidaknya memberi contoh, ujarnya. Ini perlu diusut. Keterlibatan militer ini, masih kata Cribb, untuk menciptakan kerumitan permasalahan. Semakin banyak tangan yang berlumuran darah dalam penghancuran komunisme, semakin banyak tangan yang akan menentang kebangkitan kembali PKI dan dengan demikian tidak ada yang bisa dituduh sebagai sponsor pembantaian. Sebuah sarasehan Generasi Muda Indonesia yang diselenggarakan di Univesitas Leuwen Belgia 23 September 2000 dengan tema Mawas Diri Peristiwa 1965: Sebuah Tinjauan Ulang Sejarah, secara tegas menyimpulkan agar dalam memandang peristiwa G30S harus dibedakan antara peristiwa 1 Oktober dan sesudahnya, yaitu berupa pembantaian massal yang dikatakan tiada taranya dalam sejarah modern Indonesia, bahkan mungkin dunia, sampai hari ini. Peritiwa inilah, simpul pertemuan itu, merupakan kenyataan gamblang yang pernah disaksikan banyak orang dan masih menjadi memoar kolektif sebagian mereka yang masih hidup. Hardoyo, seorang mantan anggota DPRGR/MPRS dari Fraksi Golongan Karya Muda, satu ide dengan hasil pertemuan Belgia. Biar adil mestinya langkah itu yang kita lakukan. Mantan tahanan politik 1966-1979 ini kemudian bercerita. saya pernah mewawancarai seorang putera dari sepasang suami-isteri guru SD di sebuah kota di Jawa Tengah. Sang ayah yang anggota PGRI itu dibunuh awal November 1965. Sang ibu yang masih hamil tua sembilan bulan dibiarkan melahirkan putera terakhirnya, dan tiga hari setelah sang anak lahir ia diambil dari rumah sakit persalinan dan langsung dibunuh. Menurut pengakuan sang putera yang pada 1965 berusia 14 tahun, keluarga dari pelaku pembunuhan orang tuanya itu mengirim pengakuan bahwa mereka itu terpaksa melakukan pembunuhan karena diperintah atasannya. Sedangkan Ormas tertentu yang menggeroyok dan menangkap orang tuanya mengatakan bahwa mereka diperintah oleh pimpinannya karena jika tidak merekalah yang akan dibunuh. Pimpinannya itu kemudian mengakui bahwa mereka hanya meneruskan perintah yang berwajib. Hardoyo menambahkan: kemudian saya tanya, Apakah Anda menyimpan dendam? Sang anak menjawab, Semula Ya. Tapi setelah kami mempelajari masalahnya, dendam saya

hilang. Mereka hanyalah pelaksana yang sebenarnya tak tahu menahu masalahnya. Mereka, tambah Hardoyo, juga bagian dari korban sejarah dalam berbagai bentuk dan sisinya. Bisa jadi memang benar, dalam soal G30S atau soal PKI pada umumnya, peran KKR kelak harus memilah secara tegas, pasca 1 Oktober versus sebelum 1 Oktober. 8. KASUS PEMBUNUHAN OPINUS TABUNI

Result kronologis wamena berdarah Banyak kasus Pelanggaran HAM yang terjadi di Papua yang masih menunggu giliran untuk diproses di pengadilan tinggi yaitu kasus Wasior dan Wamena Berdarah. Kedua kasus ini masih tarik ulur oleh Kejaksaan Agugn dan Komnas HAM Jakarta. ... Kronologi KAsus Pelanggaran HAM Berat Abepura 2000. Posted on 26/08/2010 by bukpapua. Peta Taragedi Abepura Berdarah, 7 Desember 2000. 7 Desember 2000 Sekitar Pukul 01.30 Wit: Terjadi penyerangan massa terhadap mapolsekta ... Begitu pula penjiksaan dan penagkapan terjadi di asrama IMI (ikatan mahasiswa Ilaga), penagkapan dan penyiksaan (Persecution) berulang-ulang terjadi juga di pemingkuman penduduk sipil kampung Wamena di Abepantai dan suku lani asal Mamberamo di kota ... Peringatan 4 April Wamena Berdarah. Posted on 26/08/2010 by bukpapua. Kronologi Singkat. Peristiwa Wamena, 4 April 2003 pukul 01.00 WP. Sekelompok massa tak dikenal membobol gudang senjata Markas Kodim 1702/Wamena. ... Beberapa kasus Pelanggaran HAM Berat di Papua yakni: Biak berdarah, 6 Juli 1998; Abepura berdarah, 7 desember 2000; Wasior berarah, 13 Juni 2001; Wamena berdarah, 6 Oktober 2000 dan 4 April 2003; Penculikan dan Pembunuhan TheyEdit Lamans Hiyo ... Yakni: Peristiwa 1977, peristiwa 6 Oktober 2000 dan peristiwa Wamena, 4 April 2003. B. Kronologi Singkat dan tuntutan. Peristiwa Wamena, 4 April 2003 pukul 01.00 wit. Sekelompok massa tak dikenal membobol gudang senjata Markas Kodim ... Kronologi penyerangan ini disampaikan oleh Komandan Kodim 1702/Wamena Letkol. TNIAD Kav. Masrumsyah kepada Tim Koalisi LSM dalam pertemuan di Markas Kodim Wamena hari Sabtu, 19 April 2003. Setelah pertemuan, Tim diajak meninjau lokasi gudang ..... Desakan masyarakat didasarkan pada pertimbangan utama dimana mereka sudah tidak ingin lagi hidup dalam suasana perang setelah peristiwa Wamena Berdarah 6 Oktober 2000; keberadaan Posko TPN/OPM hanya akan mengundang tindakan ... Berikut Kronolis Wamena Berdarah, 9 Agustus 2008, mulai dari persiapan hingga penguburan jenasah Opinus Tabuni yang ditembak aparat polisi Republik Indonesia saat perayaan hari Pribumi Internasional di Wamena, Papua Barat

9. KASUS PENYIKSAAN TKW (SUMIATI)

JAKARTA - Penganiyaan sadis yang dilakukan warga Arab Saudi terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Sumiati Binti Salam Mustafa tergolong pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar menegaskan hal ini usai melakukan pelepasan relawan untuk korban Merapi, di kantornya, Rabu (17/11), siang ini. "Di dunia ini, penganiayaan seperti itu tergolong pelanggaran HAM berat," tegas Patrialis. Pemerintah, menurutnya, telah bertemu pihak keduataan besar Arab Saudi di Indonesia. Mereka berjanji menindaklanjuti kasus tersebut dan akan memproses majikan Sumiati sesuai hukum yang berlaku. "Kita sudah ketemu dengan Dubes Arab Saudi di sini. Dubes Arab Saudi mengutuk habis perbuatan kejam dan zalim itu. Kita bersyukur pemerintah Arab Saudi berjanji akan menindaklanjuti proses hukum," papar Patrialis. Sebagaimana diberitakan, TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat itu dibawa ke RS King Fahad pada 8 November 2010 setelah mengalami penyiksaan oleh majikannya. Kondisi TKI malang tersebut sangat memprihatinkan dan sangat lemah. Seorang petugas rumah sakit itu mengungkapkan, kedua kaki Sumiati nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepalanya terkelupas, jari tengah retak, alis matanya rusak. Yang lebih parah, bibir bagian atasnya hilang. Diduga majikan wanita Sumiati kerap kali melakukan kekerasan terhadapnya, sebab terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya. Antara lain luka bekas setrika panas. Sumiati diketahui tidak bisa berbahasa Arab maupun Inggris. 10. KOMNAS HAM SAYANGKAN UCAPAN PANGLIMA TNI SOAL KEKERASAN TERHADAP WARGA PAPUA Komnas HAM menyayangkan ucapan Panglima TNI yang menyatakan kekerasan terhadap warga di Puncak Jaya, Papua bukanlah pelanggaran HAM berat. Ada tidaknya indikasi sebuah pelanggaran berat HAM, yang menentukan adalah Komnas HAM Dalam konteks penegakan hak asasi manusia perlu dipahami bahwa untuk memastikan ada atau tidak adanya indikasi pelanggaran HAM yang berat dalam suatu peristiwa, sepenuhnya menjadi kewenangan penuh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, jadi tidak boleh instansi

atau pejabat lain memastikan sendiri, kata Komisioner Komnas HAM Syafruddin Ngulma Simeuleu, Sabtu (1/1/2011). Syafruddin menjelaskan, dalam Pasal Ayat (1) Pasal 18 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, sangat tegas dijelaskan: Penyelidikan terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sedang di ayat (2) disebutkan: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dalam melakukan penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri atas Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat. Oleh karena itu semua pihak diharapkan menahan diri. Semua pihak termasuk TNI, harus tunduk pada peraturan perundang-undangan, ujarnya. Saat ini, imbuhnya, Komnas HAM memang belum membentuk Tim Adhoc Penyelidikan Projustisia terhadap kekerasan yang terjadi di Puncak Jaya. Namun jika ada pihak yang menilai peristiwa itu adalah pelanggaran HAM yang berat, sebaik pihak TNI tidak perlu terlalu reaktif. Karena sekali lagi apakah dalam peristiwa tersebut ada atau tidak ada indikasi pelangggaran HAM yang berat, siapapun tidak bisa memastikan sendiri secara sepihak, semua harus menunggu penyelidikan oleh Komnas HAM. Jadi lebih baik semua pihak mendorong agar Komnas HAM segera membentuk tim penyidik, ujarnya. Sebelumnya, Mabes TNI mengaku telah menjatuhkan vonis terhadap anggota TNI kesatuan 753 AVT/NABIRE Kodam XVII Cendrawasih yang terekam tengah melakukan kekerasan terhadap warga di Puncak Jaya, Papua. Namun, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyatakan, tindakan tersebut bukan pelanggaran HAM berat. Yang harus dipahami, situasi disana mencekam, tidak seperti di Jakarta. Tidak ada perintah dari atasan untuk melakukan penyiksaan. Itu tidak bisa dikatakan pelanggaran HAM berat. Itu hanya melampaui batas kewenangan yang diberikan pimpinan, ujar Agus dalam acara Refleksi Pelaksanaan Kegiatan TNI Selama Tahun 2010, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (31/12/2010). Menurut Agus, pengadilan militer memutuskan anggota TNI yang terekam dalam video you tube pertama dinyatakan bersalah. Namun, para terdakwa menyatakan banding. Sedangkan untuk kasus video you tube kedua belum disidangkan