Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskuler, tak berwarna dan hampir transparan sempurna.

Lensa memiliki ukuran tebal sekitar 4 mm dan diameter 9 mm pada mata manusia. Lensa terdiri dari tiga bagian, yaitu nucleus, kortek dan kapsul. Kapsul lensa adalah membran semipermeabel yang menyebabkan air dan elektrolit dapat masuk, dimana nucleus lensa lebih tebal dari korteksnya. Semakin bertambahnya usia, laminar epitel supkapsuler terus diproduksi sehingga lensa semakin besar dan kehilangan elastisitasnya.1,3,4 Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina melalui kemampuan akomodasinya. Lewat kemampuan ini, kita mampu melihat benda yang jauh ataupun yang dekat. Namun seiring dengan bertambahnya usia, lensa dapat mengalami berbagai gangguan seperti kekeruhan, gangguan akomodasi, distorsi dan dislokasi.1,2 Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies), Inggris (Cataract ), danLatin (Cataracta) yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa ataupun akibat keduanya.1 Katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi biasanya berkaitan dengan proses degenatif. 2,3 Kekeruhan lensa pada katarak dapat mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa tidak transparan sehingga pupil akan berwarna putih atau abu-abu. Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan yang menurun secara progresif.1 Suatu studi yang dilakukan oleh Walmer Eye Institute pada tahun 2004 mencatat sekitar 20,5 juta penduduk usia lebih dari 40 tahun di Amerika menderita katarak pada kedua matanya dan sekitar 6,1 juta diantaranya merupakan pseudofaki

atau afaki. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 30,1 juta kasus katarak dan 9,1 juta kasus dengan pseudofaki atau afaki pada tahun 2020.4 Berdasarkan usia penderitanya, katarak dapat diklasifikasikan menjadi katarak kongenital yang sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun, katarak juvenile yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan katarak senilis yang mengenai orang-orang berusia diatas 50 tahun. Diantara ketiganya, katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling sering terjadi.1 Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Katarak senilis dapat dibagi kedalam 4 stadium, yaitu katarak insipien, katak imatur, katarak matur dan katarak hipermatur. Katarak insipient merupakan stadium katarak yang paling awal dan belum menimbulkan gangguan visus. Pada katarak imatur, kekeruhan belum mengenai seluruh bagian lensa sedangkan pada katarak matur, kekeruhan telah mengenai seluruh bagian lensa. Sementara katarak hipermatur adalah katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata. Katarak terjadi karena faktor usia, namun juga dapat terjadi pada anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma, inflamasi atau penyakit lainnya. Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. 1 Katarak senilis imatur merupakan salah satu stadium katarak senilis, dimana pada stadium ini kekeruhan lensa belum terjadi disemua bagian lensa. Kekeruhan pada stadium ini utamanya terjadi di bagian posterior dan belakang nukleus lensa, dimana pada katarak imatur volume lensa dapat bertambah akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan degeneratif lensa yang menyebabkan lensa akan mencembung dan dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma sekunder.1,2

Gambar 1. Kekeruhan lensa

2.2 Etiologi Terdapat beberapa teori konsep penuaan menurut Ilyas (2005) sebagai berikut1:
-

Putaran biologik ( A biologic clock) Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali mati
3

Imunologis; dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yang mengakibatkan kerusakan sel Teori mutasi spontan Teori A free radical Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat Free radicaldengan molekul normal mengakibatkan degenerasi Free radical dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E

Teori A Cross-link Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi.

Penyebab katarak senilis sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti dan diduga multifaktorial. Beberapa penyebab katarak diantaranya adalah:5 -

Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuat sehingga mempunyai efek buruk terhadap serabu-serabut lensa Faktor imunologik Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya matahari Gangguan metabolisme umum

2.3 Patofisiologi Perubahan lensa pada usia lanjut menurut Ilyas (2005): 1.Kapsul - Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak) - Mulai presbiopia - Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur - Terlihat bahan granular 2. Epitel makin tipis - Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat - Bengkak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata
4

3. Serat lensa: - Lebih irregular


- Pada korteks jelas kerusakan serat sel - Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah proteinnukleus (histidin,

triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warnacoklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding normal. - Korteks tidak berwarna karena: o Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.
o

Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun

Kekeruhan lensa dapat terjadi akibat hidrasi dan denaturasi protein lensa. Dengan bertambahnya usia, ketebalan dan berat lensa akan meningkat sementara daya akomodasinya akan menurun. Dengan terbentuknya lapisan konsentris baru dari kortek, inti nucleus akan mengalami penekanan dan pengerasan. Proses ini dikenal sebagai sklerosis nuclear. Selain itu terjadi pula proses kristalisasi pada lensa yang terjadi akibat modifikasi kimia dan agregasi protein menjadi high-molecularweight-protein. Hasil dari agregasi protein secara tiba tiba ini mengalami fluktuasi refraktif index pada lensa sehingga menyebabkan cahaya menyebar dan penurunan pandangan. Modifiaksi kimia dari protein nukleus lensa juga menghasilkan pigmentasi progresif yang akan menyebabkan warna lensa menjadi keruh. Perubahan lain pada katarak terkait usia juga menggambarkan penurunan konsentrasi glutatin dan potassium serta meningkatnya konsentrasi sodium dan kalsium.2 Terdapat berbagai faktor yang ikut berperan dalam hilangnya transparasi lensa. Sel epithelium lensa akan mengalami proses degeneratif sehingga densitasnya akan berkurang dan terjadi penyimpangan diferensiasi dari sel-sel fiber. Akumulasi dari sel-sel epitel yang hilang akan meningkatkan pembentukan serat-serat lensa yang akan menyebabkan penurunan transparasi lensa. Selain itu, proses degeneratif pada epithelium lensa akan menurunkan permeabilitas lensa terhadap air dan molekulmolekul larut air sehingga transportasi air, nutrisi dan antioksidan kedalam lensa
5

menjadi berkurang. Peningkatan produk oksidasi dan penurunan antioksidan seperti vitamin dan enzim-enzim superoxide memiliki peran penting pada proses pembentukan katarak.6 2.4 Gejala Klinis Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat kemunduran secara progesif dan gangguan penglihatan. Penyimpangan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak ketika pasien datang.2 -

Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien dengan katarak senilis. Silau, dimana keluhan ini termasuk seluruh spektrum dari penurunan sensitivitas kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang hari hingga silau ketika mendekat ke lampu pada malam hari.

Perubahan miopik, progesifitas katarak sering meningkatkan kekuatan dioptrik lensa yang menimbulkan myopia derajat sedang hingga berat. Sebagai akibatnya, pasien presbiopi melaporkan peningkatan penglihatan dekat mereka dan kurang membutuhkan kacamata baca, keadaan ini disebut dengan second sight. Secara khas, perubahan miopik dan second sight tidak terlihat pada katarak subkortikal posterior atau anterior.

Diplopia monocular, dimana perubahan nuclear yang terkonsentrasi pada bagian dalam lapisan lensa menghasilkan area refraktil pada bagian tengah dari lensa, yang sering memberikan gambaran terbaik pada reflek merah dengan retinoskopi atau ophtalmoskopi langsung. Fenomena seperti ini menimbulkan diplopia monocular yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, prisma, atau lensa kontak.

Noda, dimana pasien mengeluhkan berkabut pada lapangan pandang. Ukuran kaca mata sering berubah

Gambar 2. Manifestasi klinis katarak senilis imatur

2.5 Diagnosis Diagnosis katarak senilis imatur dapat diperoleh dari gejala-gejala klinis yang dialami serta pemeriksaan oftalmologi.1,3,4 Pasien pada katarak senilis imatur biasanya datang dengan keluhan mata kabur serta silau. Sementara pemeriksaan oftalmologi dapat dilakukan dengan menggunakan senter, slitlamp, funduskopi, keratometri, retinometri, dan biometri. Berikut merupakan hasil temuan pemeriksaan oftalmologi pada katarak senilis dan katarak stadium lainnya.1,3 Kekeruhan lensa Cairan Lensa Iris Bilik Insipien Ringan Normal Imatur Matur Sebagian Komplit Bertambah (air Normal masuk) Terdorong Dangkal Sempit Positif < Glaukoma Normal Normal Normal Negatif << Hipermatur Masif Berkurang (air+masa lensa keluar) Tremulans Dalam Terbuka Pseudopos <<< Uveitis+glaucoma

Normal Mata Normal

Depan Sudut Bilik Mata Normal Shadow Test Negatif Visus (+) Penyulit -

Pada katarak senilis imatur, terdapat kekeruhan pada sebagaian lensa yang dapat menimbulkan gangguan visus. Dengan koreksi, visus masih dapat mencapai 1/60-6/6. Pada stadium ini, kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Pada lensa normal yang tidak terdapat kekeruhan, sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan.3,4 Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar obliq yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi,
7

sehingga pada pemeriksaan, terlihat pada pupil adanya daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+).3

Gambar 3. Katarak yang tampak pada pemeriksaan slitlamp

2.6 Diagnosis Banding Diagnosis Banding Katarak Senillis Imatur : Kekeruhan badan kaca Endopthalmitis Ablasio retina

2.7 Penatalaksanaan Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata sehingga didapatkan penglihatan maksimal. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh.3,4,5 Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol dan sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathioneraising, dan antioksidan vitamin C dan E.4,5

Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Terdapat 2 tipe ekstraksi lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE). ECCE sendiri terdiri dari dua teknik yaitu Small Incision Cataract Surgery (SICS) dan Phakoemulsifikasi.7 Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE) Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan dipindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksasi dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sudah sangat lama populer. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glaukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.

Phakoemulsifikasi Phakoemulsifikasi merupakan suatu teknik ekstraksi lensa dengan memecah dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phako akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan dan irisan akan pulih dengan sendirinya sehingga memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Teknik ini kurang efektif pada katarak senilis padat.

Small Incision Cataract Surgery (SICS) Small Incisi Cataract Surgery adalah teknik. Irisan tersebut dijahit dan biasanya hanya memerlukan 1 jahitan. Teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih murah dan proses penyembuhannya lebih cepat.

2.8 Komplikasi Komplikasi Intra Operatif Edema kornea, bilik mata depan dangkal, ruptur kapsul posterior, pendarahan atau efusi suprakoroid, pendarahan suprakoroid ekspulsif, disrupsi vitreus, incacerata kedalam luka serta retinal light toxicity.1,6,7

Komplikasi dini pasca operatif Bilik mata depan dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara cairan yang keluar dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil dan siliar, edema stroma dan epitel, hipotonus, brown-McLean
10

syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sentral yang bersih paling sering) Ruptur kapsul posterior, yang akan mengakibatkan prolaps vitreus Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi yang tidak adekuat yang dapat menimbulkan komplikasi seperti penyembuhan luka yang tidak sempurna, astigmatismus, uveitis anterior kronik dan endoftalmitis. Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan insisi Komplikasi lambat pasca operatif Ablasio retina 2.9 Prognosis Dengan teknik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak risiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.6,7 Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah Malformasi lensa intraokuler, yang paling jarang terjadi. virulensi rendah yang terperangkap dalam kantong kapsuler

BAB III LAPORAN KASUS 3.1 Identitas Pasien


11

Nama Umur Alamat Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Suku Bangsa 3.2 Anamnesa
-

: NMY : 62 tahun : Br. Kauh Getasan : Perempuan : Tidak bekerja : Hindu : Indonesia

Keluhan Utama : Kedua mata kabur Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan kedua mata kabur sejak 2 tahun yang lalu. Kabur dirasa perlahan-lahan dan semakin lama semakin memberat hingga mengganggu aktivitas pasien. Pasien merasa lebih sulit melihat benda-benda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh silau dan nyeri pada kedua mata serta seperti melihat kabut atau asap. Pasien juga mengeluhkan matanya sering berair dan keluar kotoran.

Riwayat Penyakit Terdahulu : Pasien tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Pasien menjalani operasi katarak pada tanggal 15 Agustus 2012. Riwayat alergi, trauma, penggunaan kaca mata dan penyakit sistemik seperti hipertensi dan diabetes mellitus disangkal oleh pasien. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa.

Riwayat Sosial : Pasien sehari-harinya merupakan seorang ibu rumah tangga. Pasien tidak pernah sekolah.

3.3 Pemeriksaan Fisik Kesadaran : Compos mentis


12

Tekanan darah

: 130/90 mmHg

3.4 Pemeriksaan Fisik Khusus / Status Oftalmologi Visus Refraksi/Pin Hole Supra cilia Madarosis Sikatriks Palpebra superior Edema Hiperemi Enteropion Ekteropion Benjolan Palpebra inferior Edema Hiperemi Enteropion Ekteropion Benjolan Pungtum lakrimalis Sumbatan Hiperemis Benjolan Konjungtiva palpebra superior Sekret mata Hiperemi Folikel Papil Sikatriks Benjolan Okuli Dekstra (OD) 3/60 PH 6/60 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Okuli Sinistra 2/60 PH 6/60 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
13

Lain-lain Konjungtiva palpebra inferior Sekret mata Hipermi Folikel Papil Sikatriks Benjolan Konjungtiva bulbi Kemosis Hiperemi Konjungtiva Silier Perdarahan di bawah konjungtiva Pterigium Pingueculae Sklera Arkus senilis Lain-lain Kornea Sikatriks Infiltrat Ulkus Keratik presifitat Bilik Mata Depan Kedalaman Hypema Hipopion Iris/Pupil Bentuk

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Jahitan(+) 1 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Normal Tidak ada Tidak ada Bulat, reguler

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Normal Tidak ada Tidak ada Bulat, reguler
14

Refleks cahaya langsung Refleks cahaya konsensuil Lensa Subluksasi Dislokasi Tes bayangan iris 3.5 Resume

+ + IOL (+), PCO Tidak ada Tidak ada +

+ + Keruh Tidak ada Tidak ada +

Pasien perempuan 62 tahun, datang dengan keluhan kabur di kedua mata. Keluhan ini dirasa perlahan-lahan sejak 2 tahun yang lalu dan semakin lama semakin memberat. Kabur dirasa perlahan-lahan dan semakin lama semakin memberat hingga mengganggu aktivitas pasien. Pasien merasa lebih sulit melihat benda-benda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh silau dan nyeri pada kedua mata serta seperti melihat kabut atau asap. Pasien juga mengeluhkan matanya sering berair dan keluar kotoran. Pasien menjalani operasi katarak pada tanggal 15 Agustus 2012. Riwayat alergi, trauma dan penyakit sistemik disangkal oleh pasien. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal yang serupa. Pemeriksaan lokal OD 3/60 PH 6/60 Normal Sub conjunctiva bleeding (+), hecting expose Tenang Jernih Normal Bulat, reguler, bayangan iris positif Rp (+) IOL(+), PCO(+) (+) 17,3 Sklera Kornea BMD Iris Pupil Lensa Reflek fundus TIO Tenang Jernih Normal Bulat, reguler, bayangan iris positif Rp (+) Keruh (+) 14,6
15

Visus Palpebra Konjungtiva

OS 2/60 PH 6/60 Normal Tenang

3.6 Diagnosis Banding


-

Kekeruhan badan kaca OS Endopthalmitis OD Glaukoma kronis ODS OD Pseudofakia + PCO

3.7 Diagnosis Kerja OS Katarak senilis imatur 3.8 Usulan Pemeriksaan -

Funduskopi Slit lamp Laboratorium (DL, BT/CT, GDS) Keratometri Biometri Retinometri

3.9 Usulan Terapi OS Ekstraksi Lensa 3.10 Prognosis Dubius ad bonam

16

BAB IV PEMBAHASAN Pasien perempuan 62 tahun, datang dengan keluhan kabur di kedua mata. Keluhan ini dirasa perlahan-lahan sejak 2 tahun yang lalu dan semakin lama semakin memberat. Kabur dirasa perlahan-lahan dan semakin lama semakin memberat hingga mengganggu aktivitas pasien. Pasien merasa lebih sulit melihat benda-benda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh silau dan nyeri pada kedua mata serta seperti melihat kabut atau asap. Pasien juga mengeluhkan matanya sering berair dan keluar kotoran. Pasien menjalani operasi katarak pada tanggal 15 Agustus 2012. Gejala-gejala yang dialami pasien ini sesuai dengan kepustakaan yang menuju kearah katarak. Usia pasien yang lebih dari 50 tahun merupakan salah satu penentu jenis katarak. Jenis katarak yang sesuai adalah katarak senilis. Katarak merupakan kekeruhan pada lensa sehingga mengakibatkan penurunan tajam penglihatan. Tingkat kekaburan yang dialami pasien bervariasi tergantung dari tingkat kekeruhan lensa. Lensa pasien katarak akan semakin cembung akibat proses
17

sklerosis nucleus yang meningkatkan ketebalan lensa. Hal ini menyebabkan kekuatan dioptri lensa pasien menjadi semakin kuat sehingga pasien menjadi lebih jelas melihat dekat dibandingkan melihat jauh. Berbeda dengan pasien pasien usia tua yang umumnya mengalami presbiopi sehingga lebih jelas ketika melihat jauh dibandingkan dengan melihat dekat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus pasien kurang dari 6/6, terdapat kekeruhan pada kedua lensa yang jika disinari dengan menggunakan senter pada kemiringan 45o menimbulkan bayangan iris. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada lensa normal yang tidak terdapat kekeruhan, sinar dapat masuk kedalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Jika kekeruhan lensa hanya sebagian saja, maka sinar obliq yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat dipupil, ada daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut bayangan iris (+). Pada pemeriksaan opthalmologi, ditemukan adanya hiperemi pada konjungtiva serta rasa nyeri pada mata. Pada funduskopi, didapatkan reflex fundus yang (+). Adanya bayangan iris dan reflek fundus yang (+) mengarah kepada katarak senilis imatur. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis yang sesuai adalah katarak senilis imatur. Usulan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan funduskopi dan slit lamp untuk lebih memastikan kekeruhan yang terjadi pada lensa dan segmen posterior bola mata serta menilai keadaan retina pasien. Penatalaksanaan pada katarak imatur adalah penggunaan kaca mata sehingga pasien mampu beraktivitas dengan baik. Pada pasien telah dilakukan ekstraksi lensa pada mata kanan. Sedangkan untuk mata kiri pasien, dapat dilakukan ekstraksi lensa dengan metode SICS + IOL atau Fakoemulsifikasi + IOL. Dimana pemilihan teknik operasi ini juga diserahkan pada pasien, namun sebelumnya kita harus memberikan edukasi mengenai kelebihan ataupun kekurangan dari masing-masing teknik tersebut. Pada SICS + IOL, pembedahan yang dilakukan lebih lebar dibandingkan dengan teknik fakoemulsifikasi sehingga proses penyembuhan akan berlangsung lebih lama dan
18

kemungkinan

terjadinya

astigmatisma

juga

lebih

besar.

Sementara

teknik

fakoemulsifikasi memiliki komplikasi astigmatisma yang lebih kecil hanya saja biayanya lebih mahal dibandingkan dengan SICS. Prognosis pasien ini baik, hal ini disebabkan karena katarak merupakan suatu kekeruhan pada lensa yang dapat diperbaiki. Sehingga tajam penglihatan pasien setelah dioperasi akan lebih baik dibandingkan dengan sebelum dioperasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Khalilullah, Said Alvin. 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis.
3. Vaughan, Daniel G; Asbury, Taylor and Eva, Paul Riordan. 2000. Oftalmologi

Umum. 14th ed. Jakarta : Widya Medika.


4. Victor, Vicente. 2012. Senile Cataract. Available from : www.medscape.com.

5. Faradila, Nova. 2009. Glaukoma dan Katarak Senilis. Riau: Fakultas Kedokteran Universitas Riau
6. Zulkifli, MS. 2009. Katarak Senilis. Available from : www.blogsehat.com

7. Riordan-Eva, P, Whitcher, J P : Vaughan & Asburys General Ophthalmology, Sixteenth edition, Mc Graw Hill Companies, Inc, Boston, Singapore, International Edition 2004.

19

Beri Nilai