Staphylococcus aureus (S.

aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier. Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang. Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits. Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu bakteri ini disebut piogenik. S. aureus juga menghasilkan katalase, yaitu enzim yang mengkonversi H2O2 menjadi H2O dan O2, dan koagulase, enzim yang menyebabkan fibrin berkoagulasi dan menggumpal. Koagulase diasosiasikan dengan patogenitas karena penggumpalan fibrin yang disebabkan oleh enzim ini terakumulasi di sekitar bakteri sehingga agen pelindung inang kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis terhambat.

Mikrobiologi
S. aureus termasuk bakteri osmotoleran, yaitu bakteri yang dapat hidup di lingkungan dengan rentang konsentrasi zat terlarut (contohnya garam) yang luas, dan dapat hidup pada konsentrasi NaCl sekitar 3 Molar. Habitat alami S aureus pada manusia adalah di daerah kulit, hidung, mulut, dan usus besar, di mana pada keadaan sistem imun normal, S. aureus tidak bersifat patogen (mikroflora normal manusia).

Quorum Sensing
S. aureus memiliki kemampuan Quorum sensing menggunakan sinyal oligopeptida untuk memproduksi toksin dan faktor virulensi.

Faktor Virulensi
Koagulase
S. aureus produksi enzim koagulase yang berfungsi unuk menggumpalkan fibrinogen di dalam plasma darah sehingga S. aureus terlindung dari fagositosis dan respon imun lain dari inang.

Protein A
Letak protein A ada pada dinding sel S. aureus dan dapat mengganggu sistem imun inang dengan mengikat antibodi immunoglobin G (IgG).

Eksotoksin sitolitik

enterotoksin (A. D. γ-toksin menyebabkan terbunuhnya sel inang. menyebabkan sindrom kulit melepuh pada anakanak. Resistensi Resisten penisilin Hampir semua isolat S.α-toksin. dapat digunakan penisilin yang bersifat resisten β-laktamase. Untuk mengatasi hal ini. Salah satu contoh antibiotik yang digunakan terhadap MRSA adalah vankomisin. muntah dan shock. Exfoliatin Exfoliatin termasuk dalam superantigen juga. β-toksin. . sehingga terapi β-laktam tidak responsif. Sementara itu. B. aureus. Hal ini disebabkan oleh keberadaan enzim β-laktamase yang dapat merusak struktur β-laktam pada penisilin. Leukocidin Toksin ini memusnahkan leukosit sel inang. α-toksin. contohnya nafcillin atau oksasilin. Resisten Metisilin (Methicillin-resistant S. dan E) menginduksi diare. aureus resisten terhadap methisilin karena adanya modifikasi protein pengikat penisilin. β-toksin. aureus resisten terhadap penisilin G. dan δ-toksin dapat menyebabkan hemolisis. dan δ-toksin menyerang membran sel mamalia. Protein ini mengkode peptidoglikan transpeptidase baru yang mempunyai afinitas rendah terhadap antibiotic β-laktam. Enterotoksin Enterotoksin menyebabkan keracunan makanan. δ-toksin juga menyebabkan leukolisis sel inang. aureus/MRSA) Sebagian isolat S. γ-toksin. C. Enterotoksin merupakan superantigen yang lebih stabil pada suhu panas jika dibandingkan dengan S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful