Anda di halaman 1dari 1

Badan Otonom Economica Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Universitas Indonesia, Di Mata Saya


Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan juga petinggi Universitas Indonesia yang hidup serba mapan. Saya bukan pula orang yang hidup bermewah-mewahan. Nama saya Tono. Saya adalah seorang penjual ketoprak di daerah padat penduduk, Beji, yang mereguk keuntungan dengan berdirinya UI. Saya sudah tinggal di daerah Beji sejak 1982, tentu sedikit banyak saya tahu akan perkembangan UI dari zaman dulu sampai sekarang. Kata orang bijak, pengetahuan akan semakin bertambah ketika kita membaginya dengan orang lain. Oleh sebab itu, saya juga tidak segansegan memberikan pengetahuan saya tentang perkembangan UI serta pengaruh keberadaaan UI terhadap masyarakat sekitar, tentu dalam perspektif saya sebagai saksi mata sejarah. Universitas Indonesia di Awal Masa Dahulu tempat di mana UI berdiri saat ini adalah kawasan hutan karet dan di sekitarnya terdapat perkampungan penduduk. Semenjak kepindahan beberapa fakultas UI ke Depok, penduduk asli yang telah lama menempati kawasan ini digusur. Oleh pihak UI, penduduk asli yang menempati daerah tersebut dipindahkan ke area sekitarnya, seperti daerah Beji. Sebagai bentuk kompensasinya, UI memberikan ganti rugi kepada penduduk, berupa ganti rugi lahan seluas 200 meter persegi sedangkan tanah milik penduduk asli, dibeli oleh pihak UI. Sekitar tahun 1980-an, UI mulai dibangun, dan dimulai dengan pembangunan jalan. Saya juga ikut serta dalam pembangunan ini. Jalanan yang pertama dibangun yaitu sekitar UI bagian depan kemudian berlanjut ke daerah rektorat. Saya juga turut serta membersihkan duri-duri dan semaksemak di sekitar danau UI yang sekarang. Saya dulu dibayar sebesar Rp 2.000,00/hari ketika ikut bekerja untuk persiapan pembangunan UI. Bagi saya itu sangat berarti daripada saya menganggur. Zaman dahulu kan semua barang masih murah. Konflik Pendatang-Penduduk Asli: Itu Tidak Benar! Seiring dengan kedatangan warga pendatang ke sini, maka penduduk asli yang merupakan orang Betawi asli semakin terdesak. Sekarang, lahan-lahan di sekitar UI juga bukan dimiliki oleh penduduk asliorang Betawi. Profesi penduduk asli juga kini beralih menjadi tukang ojek atau pekerja bangunan. Kalau pekerjaan sebagai penjual makanan itu biasanya dilakukan oleh pendatang. Sebagian besar pemilik asli lahan-lahan yang ada kawasan sekitar sini juga lebih memilih untuk menjual tanah mereka. Saya pernah mendengar kabar burung yang menyatakan bahwa penduduk asli daerah ini kurang suka dengan keberadaaan pendatang dan mahasiswa. Rasa-rasanya, itu merupakan hal yang tidak masuk akal dan perkataan yang tidak sehat. Justru penduduk asli daerah sini merasa beruntung dengan adanya mereka dan UI. Coba bayangkan, kalau tidak ada UI di sini, bagaimana daerah ini akan berkembang sepesat ini? Kalau UI tidak dibangun, akankah masyarakat sekitar ikut menikmati eksternalitas positif? Tidak dapat dipungkiri, dengan adanya UI ini, masyarakat sekitar juga kecipratan rejeki. Universitas Indonesia, Amankah? Kalau saya lihat, kawasan UI tidak terlalu aman. Misalnya saja yang paling sering terjadi adalah pencurian kendaraan ketika sedang parkir di sekitar UI. Modus penipuan juga sering terjadi. Menjelang malam, UI menjadi lebih tidak aman lagi. Dicegat orang tak dikenal, kejahatan, dan pembunuhan pernah terjadi di sini. Biasanya, saya berangkat ketika subuh, tapi tidak berani jalan sendirian. Kalau masih terlalu pagi, jarang ada motor lewat, mengerikan, dan berbahaya. Pada akhirnya, menurut saya, perkembangan UI sejauh ini sangat pesat dan juga membawa banyak keuntungan bagi warga sekitar. Kalau misalnya tidak ada UI disini, daerah ini tidak mungkin maju, kumuh, dan tidak ada pembangunan.

(Afin Afini dan Eriza Hanif)

COPYRIGHT BOE FEUI. DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION