Anda di halaman 1dari 36

lampiran APLIKASI TERAPI AIR

A. KOMPRES PANAS DAN DINGIN Dalam penatalaksanaan hidroterapi kompres panas dan dingin, tahaptahap penatalaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan dengan tanya jawab antara terapis dengan pasien. Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien antara lain: a. Kondisi patologis pasien berkaitan dengan tingkat keparahan kondisi patologis pasien ( akut atau kronis ). Di samping itu juga apakah kondisi patologis pasien indikatif atau kontra indikatif dengan terapi yang akan diberikan. b. Gangguan sensibilitas yang dimaksud adalah sensibilitas panas-dingin. Untuk mengetahui keadaan sensibilitas pasien maka perlu dilakukan tes sensibilitas panasdingin, seperti berikut: 1) Sediakan 2 buah tabung / kantung plastik kecil. Sebuah tabung berisi air panas (hangat) yang lain berisi air dingin (air es). 2) Kedua tabung tersebut diujikan satu per satu ke bagian tubuh pasien yang normal sambil mengenalkan rasa / sensasi yang dirasakan oleh pasien ( pasien diminta untuk melihat pengujian / pengenalan ini). 3) Setelah pengenalan sensasi dilakukan, pengujian sensasi yang sebenarnya dilakukan. Pasien diminta untuk tidak melihat pengujian pada daerah yang abnormal. Pasien bisa diminta untuk memejamkan matanya ataupun dengan cara yang lain, misalnya dengan menghalangi pandangannya. 2. Pemilihan metode terapi Metode terapi ditentukan sesuai hasil pemeriksaan pada pasien ( tahap 1 ). Apakah pasien akan diterapi dengan kompres panas atau dengan kompres dingin. 3. Persiapan alat Alat yang digunakan untuk terapi harus tersedia sesuai dengan metode terapi. Berikut alat-alat yang digunakan untuk metode terapi kompres panas dan kompres dingin: a. Kompres panas 1) Plastik lembaran + 1 m2 2) Baskom / tempat penampungan air panas 3) 2 buah handuk kecil

4) 1 buah handuk besar ( tipis) 5) Selimut

b. Kompres dingin 1) Plastik lembaran + 1 m2 2) Baskom / tempat penampungan air dingin dan es 3) Plastik 1 kiloan + 4 buah 4) 1 buah handuk besar ( tipis) 5) Selimut 4. Persiapan penderita Pasien diberikan pengetahuan / diberi tahu tentang perlakuan-perlakuan apa saja yang akan diberikan oleh terapis kepada pasien. 5. Teknik pelaksanaan Pelaksanaan terapi terkait dengan pemilihan metode terapi. Teknik pelaksanaan terapi dengan kompres panas tentunya berbeda dengan kompres dingin. Akan tetapi yang perlu diperhatikan juga ( baik kompres panas maupun dingin ) adalah pengaturan dosis dan juga pengaturan posisi pasien. Posisi pasien adalah sebagai berikut: Pasien diposisikan telentang jika daerah tubuh yang akan diterapi berada di anterior. Sebaliknya, pasien diposisikan tengkurap bila bagian tubuh yang akan diterapi di posterior. Pada posisi telentang, tungkai pasien diangkat kemudian diganjal dengan guling dibawah lututnya. Pada posisi tengkurap yang diganjal adalah pergelangan kaki bagian anterior. Pada posisi telentang, pasien diselimuti dari bawah ( ujung kaki tertutup selimut ) ke atas sampai ke dada, sisa selimut dilipat ke bawah lalu ke atas. Pada posisi tengkurap, pasien diselimuti dari bawah ( ujung kaki tertutup selimut ) ke atas sampai ke leher ( bagian bawah ) sisa selimut dilipat ke bawah lalu ke atas. Pada posisi telentang, salah satu tangan pasien diposisikan di atas perut. Pada posisi tengkurap, kedua lengan pasien diposisikan abduksi 90o dengan siku fleksi 90o. Kompres Panas Misalkan daerah yang akan diterapi pada bagian anterior pasien, misalnya

perut.

Pasien diposisikan telentang seperti yang telah dijabarkan di atas, tetapi selimut hanya sebatas pelvic. Plastik lembaran dilipat kemudian diselimutkan ke bagian tubuh pasien

yang belum diselimuti ( daerah pelvic ke atas sampai dada ). Sisa plastik tersebut dilipatkan ke arah bawah. Letakkan handuk tipis pada daerah yang akan dikompres di atas plastik yang menyelimuti pasien. Handuk kecil dilipat 2 lipatan sehingga berbentuk segi empat, lalu dicelupkan ke dalam air hangat. Handuk yang sudah basah diangkat dan diperas dengan perkiraan masih ada sedikit air yang tertinggal dalam handuk tersebut. Handuk kecil yang sudah diperas tadi kemudian diletakkan di atas handuk tipis yang sudah diletakkan pada bagian tubuh pasien Handuk kecil tersebut kemudian dibungkus (masih pada tubuh pasien) dengan handuk besar dibawahnya. Bungkusan kompres tadi kemudian ditutup dengan plastik lembaran yang menyelimuti pasien. Pasien diselimuti dengan selimut lagi hingga ke dada. Jika kompresan terasa panas sehingga pasien tidak nyaman, maka suhu disesuaikan. Bila suhu kompresan sudah turun sehingga pasien sudah tidak merasakan panas dari kompres tersebut, segera ganti dengan kompres yang baru tetapi sebelum kompres yang baru siap untuk diletakkan, kompres yang lama jangan diangkat terlebih dahulu. Lakukan pengompresan selama 15 hingga 30 menit. Perhatikan kenyamanan pasien. Setelah selesai, selimut dibuka selebar pelvic. Plastik dibuka, bungkusan handuk juga dibuka Handuk yang digunakan untuk mengompres diambil. Rapikan peralatan

B. Kompres Dingin Misalkan daerah yang akan diterapi pada bagian posterior pasien, misalnya punggung bawah. Pasien diposisikan tengkurap seperti yang telah dijabarkan di atas, tetapi selimut hanya sebatas pelvic. Plastik lembaran dilipat kemudian diselimutkan ke bagian tubuh pasien yang belum diselimuti ( daerah pelvic ke atas sampai leher ). Sisa plastik tersebut dilipatkan ke arah bawah. Letakkan handuk tipis pada daerah yang akan dikompres di atas plastik yang menyelimuti pasien. Es yang sudah dihancurkan dimasukkan ke dalam plastik 1 kiloan kemudian dilipat ( pipih-lebar ), lalu lipatan es dimasukkan lagi ke dalam plastik berukuran sama. Lipat lagi sehingga berbentuk segi empat pipih. Bungkusan es diletakkan di atas handuk tipis di tubuh pasien. Sisa handuk dilipatkan untuk menutup bungkusan es. Tutupkan plastik lembaran ke lipatan handuk berisi kompres es tadi. Selimut ditutupkan ke tubuh pasien hingga seluruh punggung tertutup. Pengompresan dilakukan selama 5 hingga 10 menit. Perhatikan kenyamanan pasien. Setelah selesai, selimut dibuka selebar pelvic. Plastik dibuka, lipatan handuk juga dibuka Es diambil, handuk diambil.

Rapikan peralatan. 6. Evaluasi dan dokumentasi Evaluasi dan dokumentasi bertujuan untuk: b Melihat / mengetahui efek hasil terapi b Membandingkan kondisi patologis sebelum dan sesudah diberikan terapi b Menentukan tindakan / terapi selanjutnya.

ICE MASSAGE Ice massage atau massage dengan es adalah semacam terapi yang menggunakan es sebagai mediatornya. Es yang telah dipecahkan dimasukkan kedalam kantong plastic agar air tidak merembes keluar. Ice massage sangat tepat digunakan pada daerah atau anggota tubuh ynag datar. Misalnya pada puggung, shoulder , group otot quadriceps dan group otot hamstring, karena keuntungan daripada penggunaan ice massage ialah pengaruh terapi lebih terlokalisir. Terapi ice massage ini dapat diberikan dalam kurun waktu antara 20-30 menit dalam sekali terapi. Bentuk pecahan es yang digunakan dalam terapi ini adalah pecahan es yang berbentuk silinder atau kubus, arah gerakan dapat berupa sirkuler (memutar) atau merupakan garis lurus. Dari arah proximal ke distal. Ataupun sebaliknya. Namun hal ini tidak berlaku pada kasus tertentu seperti pada kasus frozen shoulder. Pemberian terapi ice massage harus segera dihentikan apabila terjadi anesthesia pada kulit saat es mengenai kulit. Awaln penerapan terapi ini (2-3 menit pertama) akan timbul perasaan dingin

sampai nyeri seperti nyeri terbakar. Setelah tiga menit pertama , akan timbul perasaan kaku, tebal, dan anesthesia relative (tidak merasa nyeri). Lima sampai sepuluh menit kemudian, akan timbul hyperemia (kemerah-merahan) pada daerah yang bersangkutan. Setelah timbul anesthesia relative, maka segera dilakukan exercise. Apabila saat melakukan exercise pasien merasa sakit lagi didaerah yang bersangkutan, maka terapi ice massage diberikan lagi sampai timbul anesthesia relative. Setelah itu diberikan exercise lagi dan seterusnya sampai waktu terapi habis. Adapun fungsi dari penekanan pada ice massage ini adalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pada saat massage dilakukan dan selain

itu juga agar infiltrasi dingin lebih dalam. Bila kita memberikan rangsang dingin, maka jaringan yang terkena rangsangan tadi akan mengalami penurunan temperature, yang akan diikuti dengan terjadinya penurunan nutrient serta pagositosis, hal ini menyebakan dingin lebih mudah penetrasi kedalam jaringan tubuh dibandingkan dengan panas. Apabila tubuh terkena sesuatu yang sangat dingin (es), maka akan terjadi suatu peristiwa yang disebut dengan hunting reaction, yaitu suatu peristiwa dimana pembuluh darah yang semula mengalami vasokontriksi akan mengadakan vasodilatasi secara tiba-tiba dengan interval teratur. Hal ini sebetulnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk memelihara jaringan yang mendapatkan rangsang dingin tersebut, agar tidak mengalami ischemia berkepanjangan. Dengan vasodilatasipembuluh darah demikian, maka kegagalan mekanisme

atau tidak mampunya pembuluh darah atau tidak mampunya pembuluh darah mengadaptasi stimulus dingin, dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan/injury jaringan (infark/gangrene)a akibat pengaruh dingin,di klinik dikenal sebagai Frostbite. ICE MASSAGE Dalam penatalaksanaan hidroterapi ice massage, tahap penatalaksanaannya adalah sebagai

berikut: 7. Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan dengan tanya jawab antara terapis dengan pasien. Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien antara lain:

b Kondisi patologis pasien. Hal ini berkaitan dengan tingkat keparahan kondisi patologis pasien ( akut atau kronis ). Di samping itu juga apakah kondisi patologis pasien indikatif atau kontra indikatif dengan terapi yang akan diberikan. b Gangguan sensibilitas. Yang dimaksud disini adalah sensibilitas terhadap rasa panasdingin. Untuk mengetahui keadaan sensibilitas pasien maka perlu dilakukan tes sensibilitas panas-dingin, seperti berikut: a. Sediakan 2 buah tabung / kantung plastik kecil. Sebuah tabung berisi air panas (hangat) yang lain berisi air dingin (air es). b. Kedua tabung tersebut diujikan satu per satu ke bagian tubuh pasien yang normal sambil mengenalkan rasa / sensasi yang dirasakan oleh pasien (pasien diminta untuk melihat pengujian / pengenalan ini). c. Setelah pengenalan sensasi dilakukan, pengujuan sensasi yang sebenarnya dilakukan. Pasien diminta untuk tidak melihat pengujian pada daerah yang abnormal. Pasien bisa diminta untuk memejamkan matanya ataupun dengan cara yang lain, misalnya dengan menghalangi pandangannya.

8. Pemilihan metode terapi Metode terapi ditentukan sesuai hasil pemeriksaan pada pasien. Dalam hal ini adalah ice massage. 9. Persiapan alat Alat yang digunakan untuk terapi harus tersedia sesuai dengan metode terapi. Berikut alat-alat yang digunakan untuk metode terapi ice massage :

b 1 buah ember b Es batu b 2 buah handuk besar b Plastic lembaran b Plastic kiloan 2 buah b Selimut b Cold pack b Handuk tipis 10. Persiapan penderita Pasien diberikan pengetahuan / diberi tahu tentang perlakuan-perlakuan apa saja yang akan diberikan oleh terapis kepada pasien. 11. Teknik pelaksanaan Pelaksanaan terapi terkait dengan pemilihan metode terapi. Teknik pelaksanaan terapi ice massage adalah sebagai berikut: Siapkan ember untuk meletakkan es batu. Sebelumnya es batu dihancurkan terlebih dahulu hingga benar-benar hancur. Lebih kecil dan lebih banyak hancuran es, lebih baik hasil yang akan didapat.

Masukkan hancuran es kedalam kedalam kantung plastic kiloan dan dibentuk kotak. Setelah itu lapisi lagi dengan kantung plastic kiloan. Lapisan yang tebal pada plastic dipergunakan sebagai pegangan, sedangkan yang tipis dipergunakan untuk massage.

Sementara itu asisten terapis mempersiapkan pasien dengan cara memposisikan pasien dalam keadaan tengkurap dan senyaman mungkin. Pada pedis diberi support. Pasien diselimuti sebatas bahu. Bagian punggung pasien dilapisi dengan plastic lembaran dan diletakkan handuk tipis. Dan disisi-sisi tubuh pasien diberi handuk untuk menghambat agar air dari lelehan es yang digunakan untuk terapi tidak merembes dan membasahi tubuh pasien maupun bed. Letakkan cold pack pada daerah yang akan diterapi. Setelah itu tutupi cold pack dengan handuk tipis tersebut lalu ditutup lagi dengan plastic lembaran dan pasien diselimuti. Terapi ini dilakukan selam 15 menit. Setelah itu terapis siap memberikan ice massage. Cold pack dikembalikan pada hidrokolator. Perhatikan kenyamanan pasien. Setelah selesai, selimut dibuka selebar pelvic.

Plastik dibuka, bungkusan handuk juga dibuka Handuk yang digunakan untuk mengompres diambil. Terapis siap memberikan massage yaitu dengan cara menekankan es pada bagian tubuh yang akan diterapi (pada praktikum mengedepankan kasus Low Back Pain) sambil dilakukan anamnese terhadap pasien.

Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah dengan menekan es pada bagian yang diterapi secara Efflaorage. Efflaorage adalah teknik penekanan secara tegak lurus dan sirkuler dengan menggunakan es. Atau dapat juga dilakukan penekanan dari distal ke proximal selama 30menit. Namun pada kasus Frozen shoulder, teknik penekanan yang digunakan adalah dengan menyamping. Setelah selesai, keringkan bagian tubuh pasien yang diterapi. Bersihkan dan rapikan peralatan. 12. Evaluasi dan dokumentasi Evaluasi dan dokumentasi bertujuan untuk: b Melihat / mengetahui efek hasil terapi b Membandingkan kondisi patologis sebelum dan sesudah diberikan terapi b Menentukan tindakan / terapi selanjutnya.

PARAFIN BATH A. DASAR TEORI

Pengobatan ini terdiri dari beberapa cara, antara lain : a. Rendaman anggota badan yang diobati ke dalam paraffin yang telah meleleh. b. Menggunakan kuas/sikat dicelupkan pada paraffin yang meleleh, kemudian dioleskan pada anggota yang diobati.

c. Parafin pack. Parafin yang digunakan adalah paraffin biasa ditambah paraffin oil, kemudian dipanaskan sampai meleleh (cair) kurang lebih 55 C. Anggota tubuh setelah direndam dalam paraffin cair tersebut akan menjadi kemerah-merahan (eritema), lemas (supel) dan berkeringat. Hal ini memungkinkan untuk diberikan massage, stretching dan manipulasi yang lunak. Oleh karena itu, toleransi seseorang terhadap paraffin bath berkisar antara 47,8 54 C, sehingga sebelum digunakan temperatur parafin diturunkan hingga kira kira 47 C. Paraffin cair dapat digunakan untuk termoterrapi. Paraffin yang digunakan adalah paraffin biasa yang ditambah mineral oil dengan perbandingan 6:1 atau 7:1, kemudian dilelehkan sampai suhunya menjadi 40o-50o C. Parafin bath aman diaplikasikan langsung pada kulit pada temperatur ini karena panas yang spesifik yang terkandung di dalamnya dan konduktor panas. Aplikasi paraffin bath tidak menimbulkan luka bakar. Parafin bath sama dengan modalitas panas yang lain dalam hal penurunan rasa nyeri dan peningkatan range of motion. Dalam treatment ini, terjadi peningkatan dalam 7 obyek yaitu : kekuatan pegangan, ukuran sendi, articular indek, range of motion, waktu kontraksi, aktivitas fungsional, dan nyeri B. TUJUAN 1. Untuk mengetahui efek terapeutik yang ditimbulkan pada pemberian paraffin bath pada

bagian tubuh yang diterapi. 2. Untuk mengetahui teknik aplikasi parafin bath dengan benar. C. PEMBAHASAN 1. Alat dan Bahan Alat : C Handuk 2. Cara Kerja Bahan : C Parafin

a. Menyiapkan alat dan bahan.

- memanaskan parafin sampai mencair sekitar suhu <> b. Melakukan tes sensibilitas dengan cara : - menyediakan air hangat dan dingin beserta tabungnya. - mengisi tabung dengan air hangat dan dingin. - mengenalkan rasa panas dan dingin pada tubuh pasien yang tidak sakit. - kantung air yang sudah terisi air hangat dan dingin, diletakkan diatas tubuh pasien yang akan diterapi secara bergantian (pasien tidak boleh melihat). - jika pasien bisa membedakan rasa panas dan dingin berarti tidak ada gangguan sensibilitas pada bagian tubuh yang akan diterapi sehingga terapi bisa diberikan. - jika pasien tidak bisa membedakan rasa panas dan dingin berarti ada gangguan sensibilitas pada bagian tubuh yang akan diterapi sehingga terapi tidak bisa diberikan. c. Menyuruh pasien memasukkan tangan ke dalam paraffin yang sudah mencair kemudian diangkat dari paraffin dan dimasukan lagi ke dalam paraffin secara berulang-ulang sampai tangan pasien terlapisi paraffin yang tebal. Jari tangan pasien tidak boleh rapat melainkan harus dibuka semaksimal mungkin agar seluruh bagian tangan tertutup paraffin. d. Setelah tangan pasien terlapisi paraffin yang tebal, tangan pasien diangkat dan

diselimuti handuk selama 15 menit. Ini bertujuan agar paraffin yang menempel pada tangan menjadi dingin dan mudah dikelupas. f. Melakukan tahap akhir - membersihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan ke tempat semula. - mengevaluasi terapi dan mencatat hasil terapi.

3. Hasil Tangan pasien menjadi kemerah-merahan, lemas, dan berkeringat. D. KESIMPULAN Dalam terapi paraffin bath yang digunakan dalam terapi adalah temperatur atau suhu paraffin bukan parafinnya. Setelah dilakukan terapi paraffin bath memungkinkan untuk diberikan massage, stretching dan manipulasi yang lunak. Indikasi parafin bath adalah pasca trauma seperti bengkak, kekakuan, pasca fraktur, sprain/strain, dan arthritis kronis. Kontra indikasi parafin bath adalah luka terbuka dan gangguan sensibilitas kulit. KONTRAS BATH Dalam penatalaksanaan penatalaksanaannya adalah sebagai berikut: 13. Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan dengan tanya jawab antara terapis dengan pasien. Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien antara lain: b Kondisi patologis pasien berkaitan dengan tingkat keparahan kondisi patologis pasien ( akut atau kronis ). Di samping itu juga apakah kondisi patologis pasien indikatif atau kontra indikatif dengan terapi yang akan diberikan. b Gangguan sensibilitas yang dimaksud adalah sensibilitas panas-dingin. Untuk mengetahui keadaan sensibilitas pasien maka perlu dilakukan tes sensibilitas panasdingin, seperti berikut: hidroterapi kontras bath, tahap-tahap

a. Sediakan 2 buah tabung / kantung plastik kecil. Sebuah tabung berisi air panas (hangat) yang lain berisi air dingin (air es). b. Kedua tabung tersebut diujikan satu per satu ke bagian tubuh pasien yang normal sambil mengenalkan rasa / sensasi yang dirasakan oleh pasien (pasien diminta untuk melihat pengujian / pengenalan ini). c. Setelah pengenalan sensasi dilakukan, pengujuan sensasi yang sebenarnya dilakukan. Pasien diminta untuk tidak melihat pengujian pada daerah yang abnormal. Pasien bisa diminta untuk memejamkan matanya ataupun dengan cara yang lain, misalnya dengan menghalangi pandangannya.

14. Pemilihan metode terapi Metode terapi ditentukan sesuai hasil pemeriksaan pada pasien. Dalam hal ini adalah kontras bath. 15. Persiapan alat Alat yang digunakan untuk terapi harus tersedia sesuai dengan metode terapi. Berikut alat-alat yang digunakan untuk metode terapi kontras bath : b 2 buah ember b air es b air panas b air netral b handuk b selimut Peralatan tersebut di atas diposisikan seperti gambar berikut;

16. Persiapan penderita Pasien diberikan pengetahuan / diberi tahu tentang perlakuan-perlakuan apa saja yang akan diberikan oleh terapis kepada pasien. 17. Teknik pelaksanaan Pelaksanaan terapi terkait dengan pemilihan metode terapi. Teknik pelaksanaan terapi kontras bath adalah sebagai berikut: b Letakkan 2 buah ember di samping pasien. b Salah satu ember diisi dengan air netral dan air es (es), jaga suhunya agar tetap berada di antara 10o-20o C. b Ember yang lain diisi dengan air panas dengan air netral, jaga suhunya agar

tetap berada di antara 36o-50o C. b Masukkan bagian tubuh pasien yang akan diberikan terapi kontras bath ke dalam air hangat selama 2-3 menit. Setelah 2-3 menit, angkat dan keringkan bagian tubuh pasien yang direndam tadi, lalu masukkan bagian tubuh pasien ke dalam air dingin selam 1 menit. Perbandingan waktu yang dapat dilakukan adalah 2:1 atau 3:1 ( 3 menit dalam air hangat, 1 menit dalam air dingin). b Lakukan langkah di atas sebanyak 5 kali. Perendaman diawali dengan air hangat dan diakhiri dengan air hangat. Keringkan bagian tubuh pasien yang diterapi setiap kali setelah diangkat dari air. b Setelah selesai, keringkan bagian tubuh pasien yang diterapi.

b Bersihkan dan rapikan peralatan. 18. Evaluasi dan dokumentasi Evaluasi dan dokumentasi bertujuan untuk: b Melihat / mengetahui efek hasil terapi b Membandingkan kondisi patologis sebelum dan sesudah diberikan terapi b Menentukan tindakan / terapi selanjutnya. Terapi dengan metode kontras bath beguna untukmerangsang sirkulasi darah perifer anggota tubuh yang bersangkutan. Terapi kontras bath indkasi digunakan untuk kondisi sebagai berikut: o Pasca fractur pada daerah tangan atau kaki o Arthritis kronis o Penyakit vaskuler perifer yang ringan o Sebagai tindakan permulaan sebelum dilakukan massage ataupun terapi latihan pada kasus sprain atau contusio Sedangkan kontra indikasinya adalah sebagai berikut: o Penyakit buerger o Gangguan sirkulasi darah yang berat ( karena ada bahaya timbul luka bakar dan timbul gangrene ) Ice Therapy

Therapy es pada permukaan tubuh merupakan suatu bentuk pemindahan energi dinggin ke suatu jaringan yang tujuannya adalah sebagai penurunan temperature jaringan lokal dan menimbulkan thermoregulatory. Penuruna temperature pada jaringan tergantung pada :

1. Perbedaan temperature antara es dan jaringan yang lebih dingin akan memberikan informasi pada reseptor untuk apliaksi yang lebih besar dari jaringan. 2. lain. Secara umum, otot dengan jaringan lunak dari jaringan mempunyai kemapuan thermal yang tinggi dan halini dipengaruhi pada hantaran kulit. Dengan demikian pendinginan pada jaringan yang dalam tergantung pada sifat alami suatu jaringan, dimana lapisan normal subcutaneous pada obesitas akan menjadi isolator/penghambat yang berhubungan dengan panas sehingga daapt mengurangi penghantaran melalui jaringan lemak tersebut untuk sampai pada jaringan yang dituju, dimana hal yang sama tergantung pada peredaran darah. 3. waktu yang diperlukan pada terapi dinggin, jumlah energi yang terbuang waktu. Kenaikan temperature merupakan salah satu factor yang yang dapat mengurangi penggunaan energi dinggin pada permukaan. Semakin dalam suatu jaringan maka semakin lama waktu yang dibutuhkan, begitu juga sebaliknya. Hal ini ditunjukkan oleh seorang peneliti Palastanga (1988) yang hasilnya adalah sekitar 30 menit untuk menurunkan temperature otot pada suatu kedalaman 4cm dengan suhu 3,5oC. Jaringan otot pada 2,5cm daapt mencapai 20menit/dapat lebih lama untuk dapat menurunkan suhu sebesar 5oC. Penelitian juga dilakukan oleh Oosterveld, et all(1992)yang menemukan bahwa penurunan temperature intraarticulare sendi tergantung Penghantaran thermal dalam jaringan. Berbeda antara satu area dengan area

besar mencapai 9,4oC dalam waktu 30menit dengan aplikasi 3kg kantong es. 4. yang hilang. Efek therapy. Efek pendinginan jaringan adalah untuk mengurangi tingkat metabolisme didalam jaringan, sehingga akan mempengaruhi aktivitas dari semua jaringan. Kebutuhan O2 menurun terjadinya erythema merupakan vasodilatasi oleh rangsangan dingin dengan pemanasan, sebab lebih sedikit jumlah hemoglobin untuk memenuhi kebutuhan fisiologis jaringan. Dengan penyenbuhan lagi. Adapun efek terapi es pada jaringan sebagai berikut : 1. Sistem syaraf. Dingin akan berdampak pada kulit untuk menghasilkan suatu stimulus yang berhubungan dengan rangsangan sel yang peka terhadap rangsangan pada dingin. Hal tersebut mungkin digunakan untuk terapi pengurangan nyeri karena transmisi synaptic berkurang. Semua serat syaraf tidaklah sama jika terjadi dingin. Dingin diharapkan demikian pendinginan tidak bermanfaat bagi proses ukuran area, semakin luas area yang diberikan terapi semakin banyak energi

terjadi serabut tipis tak bermyelin tipe IV/C yang merupakan kelompok syaraf yang paling sedikit berpengaruh, serat syaraf B juga memiliki unsure yang kecil tetapi sebagian besar bersifat autonomic preganlionic dan terbungkus myelin juga berukuran kecil dan sedikit terpengaruh oleh dingin , myelin ini berukuran tipis, kecil, penghantar rasa sakit dan pengangkut temperature kemudian bersatu yang diikuti oleh serat beta () dan serat gamma (K). 1. Sistem Motorik. Pada otot, kekuatan system motor dapat dikurangi dengan pendinginan pada otot atau anggota tubuh dalam air pada 10o-150oC, karena dampak pada tingkatan yang berhubungan dengan metabolisme dan sifat merekat. Penerapan dingin selama 5 menit dengan ice massage menunjukkan peningkatan kekuatan isometric. Ketrampilan motor akan berkurang sebagai konskuensi dari pendinginan lokal. Efek ini terjadi pada temperature atas dimana kekuatan otot berkurang. Kauranen dan Vanhanrata (1997) sudah menunjukkan bahwa kantong es diaplikasikan selama 15 menit pada lengan bawah menyebabkan pengurangan yang penting pada percepatan pergerakan. Hal tersebut biasa terjadi dalam kaitan dengan pengurangan penghantaran syaraf. Hipotahlamus bertindak sebagai suatu aalt pengatur panas untuk memalihara temperature inti. Hypothalamus mempunyai kaitan dengan body, terpengaruh

dari reseptor dari kulit dan mungkin sel lain yang paka terhadap rangsangan seperti temperature darah. Untuk memelihara panas yang menyertai, melalui vasomotor pusat vasokontriksi yang berhubungan dengan kulit. Derajat vasokontriksi yagn umum terjadi tergantung pada tingkat pendinginan. 2. Muscle. Dingin pada permukaan kulit dapat meningkatkan kekuatan otot, Rajahyaksha et al (1982) menemukan suatu peningkatan sekitar 17% pada kekuatan Quadricep setealh 30 menit es yang diberikan pada depan paha dibandingkan pada suatu kelompok control. Peningkatan kekuatan otot terjadi karena aktifnya L motor neuron pada rangsang system terminal simpatik yang singkat dan menghasilkan suatu mekanisme otot berupa peningkatan kekuatan dan tekanan dingin mempunyai efek yang kuat dimana system simpatik dan chatecholamine terlepas sehingga dapat menurunkan spasme. 3. Oedema. Dingin dapat mengurangi bengkak kronis,suatu studi oleh Moon dan Gragnani (1989)

telah mencoba mengukur efek ini pada sembilan pasien hemiplegic dengan bengkak pada tangan dengan berendam dalam air pada suhu sekitar 10o selama 30 menit dimana terjadi pengurangan volume pembengkakkan pada delapan pasien. Aplikasi dingin untuk oedema bersifat menghalangi ketika dalam kaitan dengan trombosa pembuluh darah. 4. Radang kronis. Terapi dingin telah banyak diaplikasikan pada kondisi-kondisi OsteoArthrosis, Rheumatoid, tendonitis, dan radang sendi yang kronis karena adanya efek painrelieving. Menurut proses jaringan memelihara fisiologis sendi. 5. Kulit. Aplikasi es pada kulit mengakibatkan terjadinya perubahan lokal dibagian yang didinginkan dan perubahan systemic umum ketika panas mengatur mekanisme tubuh diaktifkanoleh jaringan lokal apda pembuluih darah yang berhubungan dengan kulit. Terjadi vasokontriksi pada pembuluh darah pada lapisan kulit mengakibatkan terjadinya perubahan lokal dibagian yang didinginkan dan perubahan sistemik umum ketika panas mengatur mekanisme tubuh diaktifkan oleh jaringan lokal pada pembuluh darah yang berhubungan dengan kulit. Terjadi vasokontriksi sendi oleh aktifitas enzim hyaluronidase dan

pembuluhd arah pada lapisan kulit yang ditandai dengan adanya kepucatan atau pengerutan. Hal ini akan mengurangi darah yang mengalir dikulit sehingga peredaran berkurang. Kecepatan vasokontriksi menunjukkan suatu refleks pada system syaraf otonom yang dihasilkan oleh rangsangan sel peka yang berhubungan dengan panas pada kulit. Secara tidak langsung terapi dingin juga akan memperlancar otot yang arterioles yagn dipengaruhi oleh hormone lokal seperti serotonin dan bradykinin sebagai bagian dari thermoregulasi lokal. Vasokontriksi ini mengakibatkan pengurangan aliran darah sepanjang kulit yagn membatasi hantaran pada permukaan badan. Dalam beberapa menit pembuluh darah akan melebar atau vasodilatasi yang berlangsung selama 15 menit. Mekanisme ini disebut Lewis Hunting Reaction (Lewis 1930). Vasodilatasi ini terjadi secara terbatas pada area tubuh terutama di hidung dan telinga, tetapi juga dapat terjadi pada tangan, kaki, patella, olecranon, gluteal, dan beberapa bagian dinding dada (Rubah and Wyatt1962).

Tujuan mekanisme diatas adalah untuk melindungi jaringan dari kerusakan dalam kaitan dengan ischemia yang relative dan pendinginan diperpanjang. Gagasan ini diperpanjang oleh fakta bahwa Area didaerah vasodialtasi akan terjadi arteriovenous anastomosis pada kulit dimana mula-mula suatu axon mekanisme reflek menghasilkan unsure H(Histamine) yang menyebabakan vasodilatasi lokal (Lewis 1930), ketika aliran darah meningkat akan mempengaruhi unsur ini sehingga terjadi kontraksi. Ketika temperature turun akan memperlancar aktivitas otot menjadi berkurang kontraksi tidak terjadi lagi. Vasodlatasi sebagai akibat hangatnya kembali dari suatu bagian, memperlancar pemulihan otot dan terjadi kontraksi lagi. Es menekan aktivitas stimulus ujung syaraf perasa nyeri A delta/C. nyeri dapat dikurangi oleh aplikasi es. Dinding memberi efek yang dimulai dari sel yang peka rangsang nyeri dan mengurangi percepatan serta jumlah dorongan atau gerakan molekul. Myelinated adalah suatu serat delta yang membawa impuls sakit dari kulit yangsangat peka. Nyeri pada kerusakan jaringan akan dibawa oleh serat C dan ini akan menghantar sakit. Aplikasi denigin akan mendorong pelepasan endorphins dan encephalins. Fakta bahwa dingin secara efektif mengurangi nyeri didukung oleh benyak peneliti antara lain oleh (Benson dan Copp 1974).

Air hangat adalah satu media terapi yang bisa menyembuhkan penyakit stroke. Efek

hidrostatik, hidrodinamik dan hangatnya membuat tubuh bisa bergerak lancar, memperlancar peredaran darah dan memberikan ketenangan. Itulah hidropterapi. Bagaimanakah proses terapi ini? Menurut dr Peni Kusumastuti SpRM, spesialis rehabilitasi medik dari Klinik Dharma Daya Lestari Jakarta, menyembuhkan stroke memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesadaran dan kedisiplinan. Salah satu terapi yang dapat memulihkan otot dan sendi yang kaku adalah hidroterapi. Hidroterapi, kata dr Peni merrupakan salah satu bentuk terapi latihan dengan menggunakan modalitas air hangat. Terapi yang ditawarkan adalah therapeutical pool (terapi latihan di kolam). Mungkin kita juga mengenal terapi stroke yang lain tapi mungkin ini lebih sederhana. Air, lanjutnya, adalah media terapi yang tepat untuk pemulihan cedera. Pengaruh gaya apung air membuat beban terhadap sendi tubuh seorang pasien berkurang.

Air yang digunakan memiliki suhu 31 derajat celsius. Kisaran suhu ini cukup aman dan memberikan efek relaksasi bagi pasien, melancarkan sirkulasi darah, menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan kemampuan alat gerak, katanya. Dasar utama penggunaan air hangat untuk pengobatan adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik. Secara ilmiah, jelas dr Peni, air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh. Pertama, berdampak pada pembuluhdarah. Hangatnya air membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Kedua, faktor pembebanan di dalam air akan menguatkan otot-otot dan ligament yang mempengaruhi sendi-sendi tubuh. Tak heran, pasien dengan menggunakan encok dan rematik sangat baik bila diterapi dengan air hangat. Ketiga latihan di dalam air berdampak positif terhadap otot jantung dan paru-paru. Latihan di dalam air membuat sirkulasi pernapasan menjadi lebih baik. Efek hidrostatik dan hidrodinamik pada terapi ini juga membantu menopang berat badan saat latihan jalan, ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Indonesia (PERDOSRI) ini. Selain hal-hal positif di atas, air bersuhu 31 derajat Celsius mempengaruhi oksigenisasi jaringan sehingga dapat mencegah kekakuan otot, menghilangkan rasa nyeri, menenangkan jiwa dan merilekskan tubuh. Barangkali lebih sederhana daripada terapi stroke dengan media lain. terapi air hangat banyak memiliki keunggulan, yakni menurunkan rasa nyeri, memperbaiki bentuk tubuh dan meningkatkan kemampuan alat gerak, pungkasnya.