Anda di halaman 1dari 3

Hasil Notulasi Sambutan dari Bapak Nous Soumokil:

Ari Sujito: Pelatihan ini adalah suatu rangkaian kegiatan hasil kerjasama antara Mercy Corps, IRE Ire adalah suatu lembaga riset dan pemberdayaan di Yogyakarta yang memiliki kepedulian terhadap reformasi pemerintahan dan isu2 perdamaian Dalam rentang waktu satu sampai dua tahun di ambon dan beberapa daerah di rancang utk mendorong pembaruan kebijakan yang pro-IDPs bagian dari upaya kita melakukan pelembagaan dalam proses perdamaian Tantangan terpenting dalam upaya membangun perdamaian adalah mengatasi kerentanan masalah-masalah yang muncul di lingkungan civil society dan policy maker sehingga usahausaha tadi menimbulkan trust and engagement Kunci keberhasilan dalam upaya pelembagaan damai adalah tingkat partisipasi masyarakat yg tinggi dan dapat bersenyawa dengan kemauan politik pemerintah. Harapannya adalah setelah pelatihan ini, terbangun komitmen bersama atau persenyawaan antara pemerintah sebagai pemangku kepentingan strategis dengan inisiatif-inisiatif yang muncul dari masyarakat sipil. Alasan kenapa kegiatan ini dibutuhkan adalah agar upaya-upaya damai ini dapat terawat melalui partisipasi sipil dan kebijakan strategis.

Sambutan Bupati Maluku Tengah disampaikan oleh Assisten 2 Setda Maluku Tengah Semua Pemerintah Kabupaten pasti meras terpanggil untuk menyukseskan kegiatan ini karena berkaitan dengan upaya peningkatan kapasitas aparatur pemerintah menuntaskan berbagai tugas kemanusiaan yang dihadapi masing-masing Pemerintah Kabupaten bahkan bersentuhan langsung dengan penanganan masyarakat pasca konflik termasuk kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Melalui diskusi yang intensif, kita diminta menemu-kenali karakteristik kondisi masyarakat dan potensi negeri secara detail sehingga Mercy Corps, IRE Yogyakarta dan forum ini dapat menghasilkan metode terbaik yang secara faktual mampu mengurangi penderitaan dan kemiskinan, menuju masyarakat berbudaya kerja tinggi, produktif dan berkeadilan Diakui kebijakan Pemerintah Kabupaten Malteng selama ini lebih fokus pada pendekatan keamanan. Sebagai input bagi mercy corps dan IRE Yogyakarta bahwa kepentingan Maluku Tengah kedepan diprioritaskan pada pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan, mendorong peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menyadari bahwa akumulasi berbagai krisi selama ini, meninggalkan dilema yang sulit ditanggulangi dalam waktu singkat, namun tetap perlu ditangani secara simultan, berkelanjutan dan terprogram. Dalam kerangka itu pula, Pemerintah

Kabupaten Maluku Tengah senantiasa membuka peluang bagi semua kalangan berkiprah membangun Maluku Tengah ke depan. Karena itu forum diminta menghasilkan metode yang ideal yaitu bertumpu pada semangat kekeluargaan, menyuburkan budaya kerja, ketersediaan lapangan dan kesempatan kerja serta terbangunnya rasa percaya diri menyongsong masa depan yang lebih berkualitas.

Materi I Pengantar IDPs oleh Eric Hiariej

IDPs atau Internally Displaced Person(s) adalah istilah yang diperkenalkan oleh PBB pada awal 90-an melalui UNHCR dan sampai sekarang belum ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. IDPs dan Peace building adalah istilah yang akan dibahas di sesi ini. Peserta yang berjumlah 21 orang diminta membagi diri menjadi 7 kelompok beranggotakan masing-masing tiga orang. Setiap kelompok diberi tugas untuk mencoba menjelaskan apa itu IDPs sejauh pengertian mereka dan sebagai orang yang berada di dalam instansi masing-masing, apa yg bisa anda lakukan terhadap IDPs. Masing-masing kelompok diberikan waktu lima menit. Salah satu cara yang paling mudah untuk memahami IDPs adalah dengan membandingkan IDPs dengan refugee atau pengungsi: Refugee o Orang yg meninggalkan daerah asalnya dalam bentuk melarikan diri karena mereka terancam dan terancamnya itu sangat serius dalam pengertian mereka tidak bisa minta tolong kepada pemerintah di negaranya karena pemerintahnya sendiri ikut mengancam mereka. Kata kunci pertama pengungsi adalah TERANCAM (being threat). Sering kali keterancaman itu muncul secara kolektif. Itu berarti, hanya dengan menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu, mereka terancam jiwanya. Contohnya adalah perang Vietnam. Ketika itu, masyarakat Vietnam Selatan akan dibunuh oleh tentara Vietnam Utara hanya karena mereka adalah bagian dari masyarakat Vietnam Selatan. o Selalu pergi ke tempat di mana pemerintah mereka tidak mampu mengintervensi mereka karena di banyak kejadian, justru pemerintah mereka sendiri lah yang menjadi ancaman. Dalam kasus pengungsi Vietnam, mereka memilih menggunakan jalur laut, karena menurut hukum Internasional, 12 mil dari pulau terluar suatu negara merupakan perairan Internasional dan tidak ada yg berhak menyentuh mereka. o Umumnya pergi melintas batas negara IDPS o

Orang yg pergi dari daerah asalnya bukan karena terancam melainkan TERPAKSA. Contoh yang paling dekat adalah saat letusan gunung Merapi terjadi. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi sesungguhnya menolak untuk pergi meninggalkan tanah-tanah mereka. Namun karena pada saat itu pemerintah melihat akibat yang ditimbulkan dari

letusan Merapi dapat membahayakan jiwa penduduk, maka petugas keamanan MEMAKSA rakyat untuk pergi ke tempat yang aman. o IDPs tetap menjadi tanggung jawab pemerintah setempat dan hanya pemerintah setempat yang bisa mengurus mereka. Jika pemerintahnya tidak mampu mengurus mereka, maka pemerintah tersebut akan dihukum oleh dunia internasional dengan apa yang disebut dengan responsibility to protect atau kewajiban untuk melindungi yang berangkat dari etika sederhana kewajiban menolong ketika melihat ada seseorang yang berada dalam kesulitan. Namun harus diingat bahwa R to P baru muncul ketika pemerintah tidak mampu mengurus IDPs. o Perpindahan IDPs tidak melintas batas negara. Ada pertanyaan dari Saudara Firdaus Lewenussa dari Bappeda Maluku Tengah mengenai payung hukum yang menaungi birokrasi dalam memasukkan program-program yang bernuansa IDPs ke dalam rencana pembangunan kabupaten. Tanggapan dari pembicara adalah sesungguhnya belum ada payung hukum yang secara jelas menyebut IDPs dan lembaga yang pertama kali harus melihat masalah ini adalah Bappenas. Namun demikian, pemerintah daerah dapat menggunakan dasar hukum yang lain untuk bekerja sama dengan lembaga semacam IRE dan Mercy Corps. Ditambahkan oleh Bapak Arie Sujito bahwa ketika terjadi gempa di Yogyakarta, terjadi kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan oleh birokrat. Belajar dari pengalaman tersebut, Yogyakarta menerbitkan Perda mengenai penanggulangan bencana. Poin pentingnya adalah, pemerintah biasanya menunggu ada kejadian dulu baru kemudian menyadari adanya kerentanan tatakelola bencana. Terkadang partisipasi sipil jauh lebih cepat ketimbang reaksi pemerintah karena birokrat terikat dengan aturan-aturan yang berlaku. Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Yogyakarta dirasa sangat perlu untuk dilakukan sebelum bencan terjadi. Di