Anda di halaman 1dari 8

GAMBARAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM GRADE II PADA IBU BERSALIN DI RSPAD GATOT SOEBROTO TAHUN 2011

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Akhir Program Diploma III Kebidanan

DISUSUN OLEH RAHMAWATI 150081004

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN M.H THAMRIN PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses yang fisiologis dan alamiah yang dialami oleh semua wanita, namun terkadang ibu-ibu yang akan bersalin cenderung mengalami ketakutan dan cemas dalam menghadapi proses persalinan tersebut. Semua ibu bersalin menginginkan proses persalinannya berakhir dengan normal.( http://suheimi, episiotomi). Menurut teori ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum atau vagina saat bayi dilahirkan kepala dan bahu, kejadian ini akan meningkat jika bayi lahir terlalu cepat dan tidak terkendali, hal ini dapat menyebabkan kehilangan darah yang banyak, infeksi, jaringan parut dan gangguan dalam hubungan seksual. Kelahiran kepala yang terkendali dan perlahan memberikan waktu pada jaringan vagina dan perineum untuk penyesuaian dan akan mengurangi kemungkinan terjadinya robekan jalan lahir. (Asuhan Persalinan Normal, 2007). Salah satu penyebab perdarahan post partum yang cukup tinggi adalah rupture perineum yang terjadi hamper 60 persen pada seluruh persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Ruptur perineum dapat dikurangi atau dicegah dengan melakukan tindakan sesuati prosedur dan tetap menjaga persalinan bersih dan aman sehingga komplikasi rupture perineum dapat dicegah (APN, 2007).

Kejadian ruptur perineum di ASEAN sekitar 85 persen khususnya Indonesia yang menurut peneliti Andrew V, dkk dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, menyatakan ruptur perineum terjadi pada primipara sekitar 59 (25persen) dari 241 primipara. Menurut penelitian Albers dkk (Juli 2005), Sedler dkk (Juni 2006), Andrew V dkk (Juni 2006), dan Poen AC dkk (Mei 2004) menyatakan bahwa berat bayi baru lahir merupakan salah satu faktor resiko yang meningkatkan kejadian perlukaan perineum selama kelahiran. (www. ncbi. nlm. nih. gov/Pub/Med/Departement of Health and Human Sevices). Di Indonesia perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40 persen jumlah kematian ibu. Jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Pada seorang primipara atau orang yang baru pertama kali melahirkan ketika terjadi peristiwa 'kepala keluar pintu'. Pada saat ini seorang primipara biasanya tidak dapat tegangan yang kuat ini sehingga robek pada pinggir depannya. Luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Sebagai akibat persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak (Prawirohardjo, 2009). Berdasarkan Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, angka kematian ibu melahirkan yang semula 41 per 100.000 kelahiran pada 2007 turun menjadi 39 per 100.000 kelahiran pada tahun 2008. Kondisi ini otomatis membuat angka

usia harapan hidup meningkat dari 75,8 tahun pada tahun 2007 menjadi 75,9 tahun pada tahun 2008. Pada tahun 2008 kasus persalinan di Rumah Sakit Cipto

Mangunkusumo (RSCM) kejadian ruptur perineum pada saat persalinan normal sekitar 80 persen sedangkan di Yogyakarta pada Rumah Sakit Panti Rapih perbandingan kejadian ruptur perineum yang merupakan penyebab kedua tersering dari pendarahan berkisar rata-rata 70 pada persalinan normal perbulannya. Angka kejadian ruptur perineum khususnya di Puskesmas Mergangsan di Yogyakarta mengalami peningkatan menjadi 79,40 persen survey yang telah diteliti oleh mahasiswa di Yogyakarta pada tahun 2008. (http://wvyw.Arivantiblogarchive.com/2008) maka berdasarkan teori bahwa robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dan pendarahan pasca persalinan. Pendarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi naik biasanya disebabkan oleh robekan serviks maupun vagina. (Buku Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal). Persalinan sering kai mengakibatkan perlukaan jalan lahir, luka-luka biasanya ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Penatalaksanaannya setelah persalinan harus selalu dilakukan

pemeriksaan vulva dan perineum. Jika ada robekan harus segera dijahit agar tidak terjadi perdarahan yang terus menerus. (Depkes RI, 2004). Adapun faktor-faktor Ruptur Perineum dapat terjadi karena adanya ruptur spontan maupun episiotomi. perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku,

persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan. Telah dilakukan penelitian oleh Mahasiswi Akbid YPR yang berjudul Gambaran Tentang Ruptur perineum di BPS. A. Yulita dengan hasil pencatatannya pada tahun 2007 terdapat 148 orang (54,6 persen) ibu mengalami ruptur perineum dari 271 persalinan dan pada tahun 2008 terdapat 153 orang (71,8 persen) ibu yang mengalami kejadian ruptur perineum dari 213 persalinan. Jika dibandingkan dengan angka kejadian pada tahun 2006 angka kejadian ruptur perineum meningkat sebesar 17,8 persen. Sedangkan di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad pada Tahun 2009, angka kejadian ruptur perineum grade II pada ibu bersalin sebanyak......kasus (.....persen) dari ....persalinan. Berdasarkan angka kejadian ruptur perinum yang meningkat maka diharapkan semua wanita yang akan bersalin ditolong oleh nakes ( making pregnancy Safer). untuk meningkatkan keselamatan ibu dan bayi dan untuk menurunkan AKI karena perdarahan post partum akibat perlukaan jalan lahir. Dari latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk membuat penelitian yang berjudul Gambaran Kejadian Ruptur perineum grade II Pada ibu Bersalin di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad Tahun 2011.

1.2 Perumusan Masalah Dari data tersebut penulis ingin mengetahui seberapa banyak kejadian Ruptur Perineum Grade II pada ibu bersalin di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad Tahun 2011. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran kejadian rupture perineum Grade II pada ibu bersalin di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad Tahun 2011. 1.3.2 Tujan Khusus 1.3.2.1 Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian

Ruptur Perineum Grade II pada ibu bersalin berdasarkan usia ibu di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad Tahun 2011. 1.3.2.2 Mengetahui gambaran kejadian ruptur perineum

Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari paritas di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. 1.3.2.3 Mengetahui gambaran kejadian ruptur perineum

Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari tingkat pendidikan di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. 1.3.2.4 Mengetahui gambaran kejadian ruptur perineum

Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari tingkat ruptur perineum di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. 1.3.2.5 Mengetahui gambaran kejadian ruptur perineum

Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari terjadinya ruptur

perineum di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. 1.3.2.6 Mengetahui gambaran kejadian ruptur perineum

Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari faktor penyebab di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2011. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi RSPAD Gatot Soebroto Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan bagi RSPAD Gatot Soebroto jakarta sebagai RS yang menangani 24 jam persalinan untuk mengantisipasi masalah kejadian rupture perineum pada ibu bersalin dalam rangka menurunkan angka morbiditas pada ibu bersalin dan meningkatkan pelayanan kesehatan seoptimal mungkin. 1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan sangat menambah informasi dan kepustakaan serta sebagai bahan acuan untuk pengembangan dan peningkatan pengetahuan dan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya. 1.4.3 Bagi Penulis Dapat menambah pengetahuan dan wawasan terutama yang berkaitan dengan penelitian khususnya perdarahan post partum yang salah satu penyebabnya adalah rupture perineum dan merupakan suatu kesempatan yang baik untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah diperoleh selama pendidikan.

1.4.3 Ruang Lingkup Sehubungan dengan keterbatasan waktu maka penelitian dibatasi pada gambaran kejadian rupture perineum Grade II pada ibu bersalin ditinjau dari umur, paritas, pendidikan, sumber robekan, jenis persalinan, dan faktor penyebab rupture perineum Grade II di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Tahun 2011.