P. 1
Penyakit Kelamin (Aids)

Penyakit Kelamin (Aids)

|Views: 26|Likes:
Dipublikasikan oleh Andi Fadhlurrahman

More info:

Published by: Andi Fadhlurrahman on Sep 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2013

pdf

text

original

AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6] Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Gejala dan komplikasi
Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik. ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). hati. kanker leher rahim. merasa lemah. yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) . resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini. namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya. TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada individu yang terinfeksi HIV. tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. Penyakit saluran pencernaan utama Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus). saluran kemih dan saluran pencernaan. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL. dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. kedinginan. kelenjar getah bening (nodus limfa regional). Di negara-negara berkembang. seperti demam. berkeringat (terutama pada malam hari).TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang. penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites. Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi. penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner. dan sistem syaraf pusat. Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Pada stadium lanjut infeksi HIV. dapat muncul pada stadium awal HIV.[8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS. tulang. pembengkakan kelenjar.biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. perawatan. dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi.[11] Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV. Sebelum adanya diagnosis. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL). Namun demikian. Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat. serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Penyakit paru-paru utama Pneumonia pneumocystis (PCP)[10] jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik.[7] HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. serta penurunan berat badan.[12] Dengan demikian.

dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV.[17] Kerusakan syaraf yang spesifik. perilaku. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal). sehingga mengeluarkan neurotoksin. dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah. yang disebut Toxoplasma gondii. Pada beberapa kasus. Mycobacterium avium complex. yang jika tidak ditangani dapat mematikan. Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu. yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan. Ia disebabkan oleh virus JC.[13] Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab. Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi. sehingga merusak penghantaran impuls syaraf.[16] Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. meskipun kasusnya langka. mikrosporidiosis. Pada stadium akhir infeksi HIV. serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis. Shigella.[14] Penyakit syaraf dan kejiwaan utama Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae). yang muncul bertahun-tahun setelah . dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis). atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson). Selain itu. Listeria. diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi. sakit kepala. sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. Hal ini dapat menyebabkan demam. namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru. lelah. yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten. dan motorik. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis). tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif. diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri. diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV. mual. dan muntah. Kampilobakter. antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella. dan Escherichia coli). serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV. Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria.atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS.

Kanker dan tumor ganas (malignan) Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%. tetapi dapat menyerang organ lain. Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan.[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV. lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. dan kanker anus. Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik. banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon). Namun demikian. dan paru-paru. Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening.[23] Infeksi oportunistik lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium aviumintracellulare dan virus sitomegalo. kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara. dan virus papiloma manusia (HPV). terutama mulut. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi. dan limfoma sistem syaraf pusat primer. limfoma adalah tanda utama AIDS.[24] . yaitu virus herpes manusia8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. yang dapat menyebabkan kebutaan. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia. dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus). terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. saluran pencernaan.infeksi HIV terjadi. misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma). diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL). Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas. seperti limfoma Hodgkin.[21][22] Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun. namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV. atau disebut Penisiliosis.[19][20] Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India. Pada beberapa kasus. yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV). Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS. kanker usus besar bawah (rectum).

diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Banyak faktor yang memengaruhinya. Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang .Penyebab AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda. maka kekebalan di tingkat sel akan hilang.[46] Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Namun demikian. rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis. laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi. World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1. banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang ratarata waktu berkembangannya AIDS. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung. padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik.2 bulan. serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.[25] Namun demikian.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Sistem tahapan infeksi WHO Pada tahun 1990. dan sel dendritik. dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9. yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia. Diagnosis Sejak tanggal 5 Juni 1981. yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu. dan akhirnya AIDS. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. makrofaga. seperti sel T CD4+ (sejenis sel T). karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Di negara-negara berkembang. Tanpa terapi antiretrovirus. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda. kemudian timbul gejala infeksi HIV awal. juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien. sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat. seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium. sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat.

Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak. Pencegahan Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual. [sunting] Sistem klasifikasi CDC Terdapat dua definisi tentang AIDS. CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap positif HIV. plasma. [sunting] Tes HIV Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV. atau menerima hasil tes mereka. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV. menjalani pemeriksaan.5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS. Namun demikian. persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi. darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis. Tes HIV umum. dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum. walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah perawatan ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. hanya 0. Selain itu. periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan. baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. trakea.[49] Tahun 1993. termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot.[51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September tahun 1982. dan tuberkulosis. cairan mulut. atau urin pasien. bronkus atau paru-paru. HIV-RNA. dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur. kandidiasis esofagus.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi tersebut. dan sarkoma kaposi. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya. serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). dan HIV-DNA. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan. darah kering. contohnya ialah limfadenopati. harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya. air mata dan .[51] Dengan demikian. yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. dan mendefinisikan penyakit ini. sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya. Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut. tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju. infeksi bakteri parah. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

5§ * tanpa penggunaan kondom § sumber merujuk kepada seks oral yang dilakukan kepada laki-laki Hubungan seksual Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antarindividu yang salah satunya terkena HIV. adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi transmisi HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. mentega. hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan.500 67 50 30 10 6. dan lemak babi tidak . Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia.[60] Selama hubungan seksual.[61] Kondom laki-laki berbahan lateks.000 2. Bukti terbaik saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim mengurangi risiko penularan HIV sampai kira-kira 80% dalam jangka panjang.[59] Perkiraan risiko masuknya HIV per aksi.urin orang yang terinfeksi. namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut. Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin. dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan. menurut rute paparan Rute paparan Transfusi darah Persalinan Penggunaan jarum suntik bersama-sama Hubungan seks anal reseptif* Jarum pada kulit Hubungan seksual reseptif* Hubungan seks anal insertif* Hubungan seksual insertif* Seks oral reseptif* Seks oral insertif* Perkiraan infeksi per 10.000 paparan dengan sumber yang terinfeksi 9.5 5 1§ 0. jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak.

Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan tersedianya kondom wanita. laju infeksi HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi adalah di bawah 1% per tahun.[65] Namun demikian. budaya.[63] Penelitian terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten. Semua organisasi pencegahan AIDS menyarankan pengguna narkoba untuk tidak berbagi jarum dan bahan lainnya yang diperlukan untuk mempersiapkan dan mengambil narkoba (termasuk alat suntik. cincin ini harus ditekan. sedotan. di penukaran jarum atau tempat penyuntikan yang aman. penelitian atas perilaku dan epidemiologis di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan keberadaan kelompok minoritas anak muda yang tetap melakukan kegiatan berisiko tinggi meskipun telah mengetahui tentang HIV/AIDS. dapat membantu mencegah infeksi HIV. jarum bersih terdapat gratis di sejumlah kota. yang memungkinkannya untuk digunakan dengan pelumas berbahan dasar minyak. walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan. kapas bola. Pelumas berbahan dasar minyak digunakan dengan kondom poliuretan. Informasi tentang membersihkan jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan dan program penukaran jarum. dan transmisi HIV oleh transfusi darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.[62] Kondom wanita adalah alternatif selain kondom laki-laki dan terbuat dari poliuretan. dan perilaku masyarakat.[64] Strategi pencegahan telah dikenal dengan baik di negara-negara maju. Kendalanya ialah bahwa kini kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sejumlah besar wanita. Kondom wanita lebih besar daripada kondom laki-laki dan memiliki sebuah ujung terbuka keras berbentuk cincin. seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan selalu mencuci tangan. penelitian yang menggunakan uji acak terkendali mengkonfirmasi bahwa sunat laki-laki menurunkan risiko infeksi HIV pada pria heteroseksual Afrika sampai sekitar 50%. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa persepsi kurangnya kerentanan HIV pada laki-laki bersunat. Kondom wanita memiliki cincin bagian dalam yang membuat kondom tetap di dalam vagina — untuk memasukkan kondom wanita. Di sejumlah negara maju.digunakan dengan kondom lateks karena bahan-bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang. dan lain-lain). dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. air pengencer obat. . Orang perlu menggunakan jarum yang baru dan disterilisasi untuk tiap suntikan. hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga kondom wanita merupakan strategi pencegahan HIV yang penting. sendok. Namun. Pada bulan Desember tahun 2006.[66] Kontaminasi Pekerja kedokteran yang mengikuti kewaspadaan universal. Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah. Jika diperlukan. pihak produsen menyarankan menggunakan pelumas berbahan dasar air. sehingga mengabaikan risiko yang mereka hadapi atas infeksi HIV. dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko sehingga mengurangi dampak dari usaha pencegahan ini. transmisi HIV antarpengguna narkoba telah menurun.

sekitar 700. disebut post-exposure prophylaxis (PEP). yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.Banyak negara telah melegalkan kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter. disingkat HAART). seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus.[77] Meskipun demikian. dan aman. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau. tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya.[69] Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima. Namun demikian.[72] Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996.000 anak di bawah umur 15 tahun terkena HIV.[75][76] Lagi pula.000 infeksi di antaranya terjadi di Afrika. perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan. pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.[40] PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. 630. saat memilih waktu memulai perawatan awal. dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak (mother-to-child transmission. dapat dikerjakan dengan mudah.[71] Terapi antivirus Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy.[70] Dari semua anak yang diduga kini hidup dengan HIV. mual. bedah caesar.[5] Penanganan Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa. atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). tidak enak badan. jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi. MTCT). berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahan antiretrovirus.[5] Pada tahun 2005. kecepatan berkurangnya CD4. serta kesiapan mental pasien. berkelanjutan. terjangkau. Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa.cairan tubuh terinfeksi Penularan dari ibu ke anak Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus.[6] Pilihan terbaik HAART saat ini. ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka. banyak pengidap HIV . Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor. 2 juta anak (hampir 90%) tinggal di Afrika Sub Sahara. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan.[73] Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART. dan lelah. jika gagal. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare.[74] Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien. terutama melalui penularan ibu ke anak.

[89] Penanganan eksperimental dan saran Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya.[84][85][86] Berbagai efek samping yang juga menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART.[87][88] Obat anti-retrovirus berharga mahal. Perawatan HAART juga kompleks. demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut. dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.[81][82] Bagi beberapa pasien lainnya. karena adanya beragam kombinasi jumlah pil. terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif. dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. antara lain lipodistrofi. penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk memudahkan pemakaian.[89] Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian. dan selanjutnya waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.[90] Pasien yang mengalami penekanan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis. dislipidaemia. penolakan insulin. peningkatan risiko sistem kardiovaskular. Beberapa penelitian menunjukan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik dapat menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV. penyakit kejiwaan. Hal ini karena adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir. HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin. dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin . serta penyalahgunaan obat. frekuensi dosis.[71] Pengobatan alternatif Berbagai bentuk pengobatan alternatif digunakan untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit.mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka. misalnya . berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART.[83] Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya akses atas fasilitas kesehatan. kurangnya dukungan sosial.[91] Akupunktur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala. dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.2 bulan.[78][79][80] Tanpa perawatan HAART. pembatasan makan. sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam berisiko terinfeksi.[25] Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun.[89] Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk usaha mengurangi efek samping obat. dan penentuan urutan kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat. yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen.

Science 217 (4560): 618–621. PubMed DOI:10. 6.[94] Pemakaian selenium dengan dosis rutin harian dapat menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. C. L. D. L. G. A. L. Moorman. B. Diakses pada 23 Mei 2006.[96] Namun oleh penelitian yang mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita AIDS yang terjangkit virus HIV-1..1038/17130.[97] Hormon tiroksin dikenal dapat meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariota[98] dan memperbaiki gradien pH pada mitokondria. J. B. "How HIV is spread".. D. "HIV and Its Transmission". F... Holmberg. Loveless.[95] Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa terapi pengobatan alteratif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini. (1998). J. PubMed. "New disease baffles medical community".[94] Suplemen vitamin A pada anak-anak kemungkinan juga memiliki beberapa manfaat. Selenium dapat digunakan sebagai terapi pendamping terhadap berbagai penanganan antivirus yang standar. tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas. 2006 Report on the global AIDS epidemic. G. J. O. Y. C. S. M.. M. P. kesemutan atau nyeri.. beberapa pakar menyarankan terapi dengan asupan hormon tiroksin... namun tidak menyembuhkan infeksi HIV. Diakses pada 8 Juni 2006. 3. Diakses pada 23 Mei 2006. M. namun dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. K. 4..kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram. (1999). Michael.. (1982). "Origin of HIV-1 in the Chimpanzee Pan troglodytes troglodytes". ^ a b Palella. M. tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius. "Declining morbidity and mortality among patients . ^ Marx.. F. Sharp.. "Overview of the global AIDS epidemic" (PDF). ^ San Francisco AIDS Foundation (2006-04-14). Arthur. H. Fuhrer.[99] Referensi 1. A. Satten. M.. ^ Gao. Rodenburg. ^ Divisions of HIV/AIDS Prevention (2003). 5. and Hahn.[92] Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini. M. J.. F.. Centers for Disease Control & Prevention. Cummins. Delaney. 2.[93] Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa. Manfaat-manfaat psikologis dari beragam terapi alternatif tersebut sesungguhnya adalah manfaat paling penting dari pemakaiannya. Shaw. Nature 397 (6718): 436–441. Bailes. Chen. Aschman and D. ^ a b c d e f g h i UNAIDS (2006). E. L. meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat kematian (mortalitas) akan berkurang pada orang-orang yang memiliki status nutrisi yang baik. O.. Peeters. Robertson. S. Jr.

Nat. Int. 36 (5): 656–662. Lorin de la Grandmaison. Infect. ISBN 0-19-852610-5..) (PDF). Chandramuki. (2003). P.. Neuropathol. J. UK: Oxford University Press. 14.. Gendelman. Emerg. A. Rep.. S. "Central Nervous System Toxoplasmosis in HIV Pathogenesis. C. 65–68. V. S.. How to safely treat both disorders concurrently". E. Infect. Keohane. (2002). ^ Feldman. J. Assoc. Lipton... Physicians India 49: 343–348. P. 12 (Suppl 1): S41–S50. 357–373.. R. "Review of human immunodeficiency virus type 1-related opportunistic infections in sub-Saharan Africa". and Lazarus. ^ Guerrant. P.. HIV Outpatient Study Investigators". R. "Profile of neurologic disorders associated with HIV/AIDS from Bangalore. Yazdanpanah. PubMed. C. STD AIDS 8 (6): 351–357. correlations with HIV-associated disorders and modifications according to treatments". 12. L. S. (2001). V. M. Lima. S. Part 2". PubMed. 11: 14– 23. di dalam H. (2000). J. Freedberg. C. Physicians AIDS Care (Chic Ill) 1 (2): 53–62. ^ Sadler. M. 20 (4): 146–155... J. Swindells. Curr. ^ Guss.. N. Khanna. 18 (2): 165–170. PubMed. B. "Progressive multifocal leukoencephalopathy in HIV". Infect. Losina.. C. Curr. "Neuropathology and neurodegeneration in human immunodeficiency virus infection. 18. ^ Holmes. and Chua. A. R. Cancer 2 (5): 373–382.. J. Jayakumar. Hughes. and Nelson. London. Int. J. (1994). PubMed.. Desai. and etiologies". South India (1989–1996)". "Diarrhea in developed and developing countries: magnitude. S. Walensky. Med. 21. J. (2000). 13. Dis. (1994). F. Everall. S. 17. 11. Sacktor... ^ Luft. Dis. special settings. PubMed. ^ Satishchandra. ^ Dahulu pernah dinamakan Pneumocystis carinii pneumonia (PCP). Assoc. F.. and Shankar. Med. ^ Zaidi. ^ Decker. "Tuberculosis and HIV infection. Clin. J. Force.. Med 338 (13): 853–860. 15. R. K. Dis. 10.. "Diagnosis and management of infectious esophagitis associated with human immunodeficiency virus infection". Pathogenesis of HIV-induced lesions of the brain. Infect. S. Dis. 8. J. D. C. 20. A. Diagnosis. (1990). "Pneumonia associated with HIV infection". & Cervia. Kulkarni. G. 19. and Therapy". K. Part 1". G. Santosh. PubMed. 9. 16. PubMed.. (ed. M. and McArthur. B. and Nanivadekar. L. "HIV neurocognitive disorders". M. "The acquired immune deficiency syndrome: an overview for the emergency physician. 12 (4): 491–497. Rev. "The acquired immune deficiency syndrome: an overview for the emergency physician. D. Bhagat. ^ Guss. H.. I. Kothari. J.. J. S. Med. ^ Gray. R. N. (1997). . A. The Neurology of AIDS (edisi ke-2nd). "Neurological manifestations of HIV disease". Crane. Chrétien. N. F.. (2002). PubMed. Nalini. (2001). Ravi. A. PubMed. E. A. M. N. and Weiss.7. Res. Gourie-Devi. 12 (3): 375–384. Grant. 2 (4): 358–362. Clin. dan sekarang singkatannya masih digunakan tetapi merupakan kependekan dari Pneumocystis pneumonia. PubMed. A. Y. ^ Wadia. (2005). Udhar. Postgrad Med... "AIDS-related malignancies". A. with advanced human immunodeficiency virus infection. PubMed. Engl. Emerg. 108 (2): 57–60. hlm. (2000). A. and S. A. (2005). PubMed. Rev. I. A. Indian J. S. ^ Grant. PubMed. PubMed.. N. Opin. I. ^ Boshoff. Pujari. H. Adle-Biassette...

A. E. 23. H. "Penicillium marneffei: a pathogen on our doorstep?". Chene. PubMed. PubMed. Infect.Tang. M. Virus Research 57 (1): 11–20. Acad. 30. A. C. J. Lewden.. A. PubMed.. . Costagliola.. PubMed. Jougla. P. A. P. E. Mahe... D. A. Mayanja.. Rutebemberwa A. M. Whitworth J. and Kaslow. Braguer. Mayanja. Retroviruses. Feigenbaum. C. Okongo. PubMed. AIDS 17 (Suppl 4): S51–S60. Dis... Pasquier. J. E. Salmon. M. G. and Weisman. V. J. L. ^ Bonnet. 12 (11): 1053–1061. ^ Clerici. Nat. Ferrario. AIDS Res.". and Littlem R. F. D.. D. E. Shearer. and Whitworth. Morgan. 32. Proc. M. S. "LTR and tat variability of HIV-1 isolates from patients with divergent rates of disease progression". P. "Malignancy-related causes of death in human immunodeficiency virus-infected patients in the era of highly active antiretroviral therapy". G.. C. 33. PubMed.. Natl. (2003). Ostrove. Khoury. Soc. BMJ 324 (7331): 193–196.. T. J. Meroni. Lain de Lera. ^ Contohnya adalah orang dengan mutasi CCR5-Δ32 (delesi 32 nukleotida pada gen penyandi reseptor chemokine CCR5 yang memengaruhi fungsi sel T) yang kebal terhadap beberapa galur HIV. Watkins. PubMed. Today 16 (4): 187–191. J.. F. Kalinkovich. (2004). Barbier. 29. Pract... Mahe C. J.. M. D.. H. B. May.. A. G.22.. Villa.. and Whitworth. Z. J. "Type 1 cytokine production and low prevalence of viral isolation correlate with long-term non progression in HIV infection". "Effect of human immunodeficiency virus (HIV) type 1 envelope subtypes A and D on disease progression in a large cohort of HIV-1-positive persons in Uganda". "The glutamine-rich region of the HIV-1 Tat protein is involved in T-cell apoptosis".. Lederman. (1996). (1998). and Loret E. Yirrell D. Phelps. D. (2005)... Immunol. M... 24. 26. ^ Gendelman. PubMed.. Bourgarel-Rey. ^ Bentwich. M. (1995). and Galli. (2004). Mas. D. and Martin. G. L. ^ Skoulidis. (2004). T.. C. M. R. A. P.. PubMed. 97 (2): 394–396. M. V. de Mareuil.... ^ Yarchoan. R. Chem. W. S. Trabattoni. Mahe. ^ Kaleebu P. 28. E. (2002).. M. Clin. B. R. Z. Adachi. 83 (24): 9759–9763. Med. Cancer 101 (2): 317–324. AIDS 16 (4): 597–632. Biol. K. and Domingo. "Therapy insight: AIDS-related malignancies — the influence of antiviral therapy on pathogenesis and management". Peyrot. "HIV-1 infection in rural Africa: is there a difference in median time to AIDS and survival compared with that in industrialized countries?".. 25. M.. P. Riva. ^ Quiñones-Mateu. ^ Morgan. A. "Progression to symptomatic disease in people infected with HIV-1 in rural Uganda: prospective cohort study". J. 185 (9): 1244–1250. Lubega. Watera C. C. Gilks C.. Alcami. and Morlat. Hum.... L. J. PubMed. Tosatom G... R. L. D. U. Esquieu... V. (2002). 279 (46): 48197– 48204. M.. Soriano. Kaleebu. and MacLeod.. Nakiyingi J.. Morgan D.. (2002). S. R.M. Weber J. "Transactivation of the human immunodeficiency virus long terminal repeat sequences by DNA viruses". "The impact of host genetics on HIV infection and disease progression in the era of highly active antiretroviral therapy". Howley. Ridolfo. D. Sci. F. 2 (8): 406–415.. J.. ^ a b c Morgan. A. J. S. French N. Lyagoba F.. (1986). Yirrell. PubMed. Bevilacqua. M. Oncol. Balotta. PubMed. Moroni. 27. Heripret. "Immune activation is a dominant factor in the pathogenesis of African AIDS. Ginsberg. ^ Campbell.. 31. E.

for too few".34. ^ World Health Organization (1990). Science 220 (4599): 868–871. AIDS 12 (16): 2095–2105. ^ CDC (1992). Michael et al (2004).. W. PubMed. Immune. Gruest. PubMed. AIDS 18 (4): 615–619. J. Nugeyre... S. C. H.. "Update on acquired immune deficiency syndrome (AIDS)—United States. and Villarreal. Mandaliya. "Blood safety. "Persistent. Kawichai. Rec. ISBN 0-7637-0086-X. "Identification of modifiable factors that affect the genetic diversity of the transmitted HIV-1 population". PubMed. Acquir. 39. Sennum. Scarlett. 65 (29): 221–228. and Kreiss. Ndinya-Achola. ^ Physicians for Human Rights (2003-03-13). L.. 46. 44. Reznik. Lavreys. CDC.. "Hormonal contraception and risk of HIV-1 acquisition: results of a 10-year prospective study". . O'Daniels. MA: Jones and Bartlett Publishers. Nelson. L... Overbaugh. Baeten. P. PubMed. S. and Montagnier. WHO Wkly Epidem. 50. Rouzioux. Dauguet. 12 (9): 1116–1133.. J. N. 37. "Oral transmission of HIV". (1991). ^ Sagar. International Family Planning Perspectives 30 (4:156): 156. Fan. "Interim proposal for a WHO staging system for HIV infection and disease". "HIV Transmission in the Medical Setting: A White Paper by Physicians for Human Rights". Med. "Antiretroviral agents—how best to protect infants from HIV and save their mothers from AIDS". PubMed. Baeten. Martin. Syndr. 513–514.. (2004).. K. L. "WHO. Defic. UNAIDS Reaffirm HIV as a Sexually Transmitted Disease". H. ^ a b Laga... Vezinet-Brun. ^ Barré-Sinoussi. Boston. L. N. 29 (3): 275–283. 35. Health. J. M. T.. ^ WHO (2001). ^ Coovadia HM. (2004). MMWR Morb Mortal Wkly Rep.. Wongtrakul. PubMed.. D.". C. R. 47. M. B. ^ Centers for Disease Control (CDC) (1982). C. (1983). Rozenbaum. eds. S. J.. B. Trop. K. Overbaugh. J. 48. Duerr. Rey. J. J... C. ^ Tovanabutra.. A. 36. F. Uganda". "1993 Revised Classification System for HIV Infection and Expanded Surveillance Case Definition for AIDS Among Adolescents and Adults". ed. PubMed. E. Diakses pada 17 Januari 2006. 43. Ndinya-Achola.. Mandaliya. Tanan. Richardson. PubMed. ^ Rothenberg. 42.. 31 (37): 507–508. AIDS 5 (Suppl 1): S55–S63. Diakses pada 9 Februari 2006. AIDS 18 (4): 695–697... Diakses pada 17 Januari 2006. Kreiss.. O. 38. K.. Med. C. generalized lymphadenopathy among homosexual males. J.". P. Conner. Partners in Health. Chamaret.. Nzila. H... PubMed. Goeman.. J. ^ a b Coovadia. 351 (3): 289–292. Engl. Kingkeow. H. M. J. F.. J. ^ Koenig. (1998). (2002). MMWR Morb Mortal Wkly Rep. D... ^ Lavreys. A. J. V. (2004).. 40. Jr. M. R. ^ a b Fan.. 45. 49... (2005). 31 (19): 249–251. S. ^ Centers for Disease Control (CDC) (1982).. L. "Preserving breastfeeding practice through the HIV pandemic". M. Robison. Int. AIDS: science and society (edisi ke-4th)... K. "The interrelationship of sexually transmitted diseases and HIV infection: implications for the control of both epidemics in Africa". Chermann. "Male viral load and heterosexual transmission of HIV-1 subtype E in northern Thailand". "Coerced first intercourse and reproductive health among adolescent women in Rakai.. del Rio. M. F. PubMed. Bland RM (2007). 41. Diakses pada 1 Maret 2006. K. V. PMID 17714431. J. C. "Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS)". Suriyanon. ^ WHO (2003-03-17). Axler-Blin.. J. F.

PubMed. Veronese.. "Preventing HIV transmission in adolescents: an analysis of the Portuguese data from the Health Behaviour School-aged Children study and focus groups". Operskalski. 2(suppl. Eur.. E. (2004). M. J. A. ^ a b Kumaranayake. (2005). A. or Other Nonoccupational Exposure to HIV in the United States". Stuart. 113 (10): 733–739. Diakses pada 17 April 2006. ^ WHO (August. "Antiretroviral Postexposure Prophylaxis After Sexual. ^ Cayley. 58. "Resource allocation and priority setting of HIV/AIDS interventions: addressing the generalized epidemic in sub-Saharan Africa". "Infection with human immunodeficiency virus type 1 (HIV-1) among recipients of antibody-positive blood donations". "Condom Facts and Figures". Immune Defic. Auerbach. F. R. J. Am. 59. L. A. "Module 5/Guidelines for Educators" (Microsoft Word). J. Transm. 65. Diakses pada 17 Januari 2006. 61. Maher. ^ Dias. Diakses pada 15 Desember 2006.. ^ Bell. 66. A.. 102 (5B): 9–15. Physician 70 (7): 1268–1269.. ^ Johnson AM & Laga M. D. M. E. Am. C. Heterosexual transmission of HIV. Azen. S.. Ann. 63. Niland. ^ Donegan. Public Health 15 (3): 300–304. 64. ^ Smith. Diakses pada 14 Desember 2006. B. M. sex act.798. Heterosexual transmission of HIV in Haiti. A. Sex. Syndr. M. Annals of Internal Medicine. Dev.. PubMed. PubMed. Int. N'Galy B & Ryder RW. D. K. A. L. E.. I. Outlook 22 (2). 56. M.. et al.. B. 125(4):324-330. M. J. (2005). Intern. ^ Leynaert. 1988. Fam. Struble. Paxton. W. G. Acquir.. A. 54. 53. Hum. 29 (1): 38–43.. A.. 13 (4): 451–466. Branson.". Dis. A. and Heimer. PubMed. and Watts. K. 60. (1995). "Adult Male Circumcision Significantly Reduces Risk of Acquiring HIV: Trials Kenya and Uganda Stopped Early". Onorato.. Greenberg. (1997). J. E. ^ a b c d e f Varghese. PubMed.. R. I. Black. L. S. L. S. 1):S49-S56. "Reducing the risk of sexual HIV transmission: quantifying the per-act risk for HIV on the basis of choice of partner. doi:10. "Effectiveness of condoms in reducing heterosexual transmission of HIV". Peterman. Cheever. R. Sacks. S. H. ^ Durex. S. Retrovirol. and Goncalves. T. PubMed. E. Am. ^ NIAID (2006-12-13). Injection-Drug Use. 1988. 57. D. Dietrich. Med. "The female condom: significant potential for STI and pregnancy prevention". J. 10 (2): 175–176. (2001). ^ PATH (2006). C. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes. "HIV incidence among New Haven needle exchange participants: updated estimates from syringe tracking and testing data". M. and de Vincenzi. Fletcher. (1998). 55. 2003). 52.51... "Occupational risk of human immunodeficiency virus infection in healthcare workers: an overview.. ^ "Facts about AIDS & HIV"... "Heterosexual transmission of human immunodeficiency virus: variability of infectivity throughout the course of infection. J.1002/jid. Downs. PubMed. Epidemiology of HIV infection in Africa. C. Matos. (1990).. (2002). Jr. C. 1996. W. H. Epidemiol.. B. 1(6):551-558. L. dan Deschamps M et al. J... H. 148 (1): 88–96. Faucett. "Comparison of female to male and male to female transmission of HIV in 563 stable couples". AIDS. European Study Group on Heterosexual Transmission of HIV". BMJ.. 62. and Steketee. Med. P. Grohskopf.. E. 304 (6830): 809–813. J. Johnson. . A. and condom use". MMWR 54 (RR02): 1–20. PubMed. F. Kleinman. ^ a b c d European Study Group on Heterosexual Transmission of HIV (1992). ^ Kaplan.

N. A. Petropoulos. S. F. terutama bagi orang yang sudah memiliki pasangan). ^ Department of Health and Human Services (February. F.. Fuhrer.. Bartlett. H. Loveless. B. 338 (13): 853–860. D. Wong.. J. A. avert. Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV. Hanna. Med. ^ Berry. and D'Aquila.. P. D. "The challenge of viral reservoirs in HIV-1 infection".. 53: 557–593. N. J.. . R. 79. PubMed. F. Engl. (2006-06-08). L. Finzi. M. N. and Montaner. ^ Department of Health and Human Services Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV Infection (October 6. A. A. 137 (5 Pt 2): 381–433.. R. J.. PubMed. ^ Blankson. J.. B. McSherry. (2002). HIV and AIDS". Todd. 2006). Diakses pada 15 Juni 2006. 97 (20): 10948–10953. S. Being faithful. 2006). Annu. J. 2005). 76. J. Rev. Sutton. J.. Hellmann. Rosenberg. 2 Desember 2003 69. Engl. Diakses pada 1 September 2006. D. terutama bagi remaja). M.. "Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Pediatric HIV Infection" (PDF). Savara. 78. ^ Dybul... K. PubMed. B. ^ Department of Health and Human Services Working Group on Antiretroviral Therapy and Medical Management of HIV-Infected Children (3 November. Acad. D. ^ Wood. E. A. J. "Children. S. Proc.. PubMed. E. J. 74. J.. S. D. Satten. Diakses pada 1 September 2006. O. Aschman. D. PubMed. Richman.. J. "A Pocket Guide to Adult HIV/AIDS Treatment February 2006 edition". ^ Sperling. K. R. G. Pau. C.. R. J. T.. ^ Pendekatan ABC oleh Pemerintah Amerika Serikat: Abstinence or delay of sexual activity. S. C.. 2005)... 70. Sci. E. 73. Walker. Ann. DePasquale. "Declining morbidity and mortality among patients with advanced human immunodeficiency virus infection". (1998). and the risk of transmission of human immunodeficiency virus type 1 from mother to infant". especially for those in committed relationships (setia pada pasangan. 75. Diakses pada 17 Januari 2006. Gunthard. "A Pocket Guide to Adult HIV/AIDS Treatment February 2006 edition". Flynn. A. M. ^ Palella. P. V. M. J... 72. zidovudine treatment. Siliciano. Van Dyke.. N. Rouzioux. S. for those who engage in risky behavior (penggunaan kondom. S. C. Moorman. Delaney.. "Is there a baseline CD4 cell count that precludes a survival response to modern antiretroviral therapy?". ^ Martinez-Picado.. A. Hogg. Bali Post. Sullivan. M... Med. (2000). PubMed. G. Condom use. S. E.. Coombsm R. L. E. Jimenez. 71.. ^ "Yayasan Bhakti Gelar Orasi Panggung". AIDS 17 (5): 711–720. N. Med..67. Herman. Shapirom D. especially for youth (berpantang atau menunda kegiatan seksual. M. "Maternal viral load. J. J. Persaud. A. Siliciano. D. "Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents" (PDF). M. G. D. (2003).. Natl. Harrigan. Yip. "Guidelines for using antiretroviral agents among HIV-infected adults and adolescents". Kaplan. 68. R. Med.. bagi orang yang melakukan perilaku berisiko). P. R.. O'Sullivan. 77. (2002).. W. and Holmberg.org.. U.. Intern. R. "Antiretroviral resistance during successful therapy of human immunodeficiency virus type 1 infection"... O'Shaughnessy. (1996).. J. G. ^ a b Department of Health and Human Services (February. Kartsonis.. 335 (22): 1621–1629. Diakses pada 17 Januari 2006. Fauci..

M.. A. "Prognostic importance of initial response in HIV-1 infected patients starting potent antiretroviral therapy: analysis of prospective studies". L. Dezii CM. S. Meenhorst. AIDS Care 19 (2): 179–89. . J. Med. Egger. "Time to AIDS from 1992 to 1999 in HIV-1-infected subjects with known date of infection". A. C. 81. Roberts. (2001). Burtcel B. "Long-Term HIV/AIDS Survival Estimation in the Highly Active Antiretroviral Therapy Era". S.. "Nonstructural HIV proteins as targets for prophylactic or therapeutic vaccines". J. Gill. Grabar. Yang M (2005). Leport. CMAJ 170 (2): 229–238. Jambroes. Diakses pada 28 April 2008.. and Jacobson. B. 83. PubMed. ^ Liu JP. P. Sprenger. 82. Danner. J.. P. "Myelomeningocele in an infant with intrauterine exposure to efavirenz". V. Perinatol. Ensoli B. Singer. J. P. PMID 17364396. S. P. J. L. Phillips.. ^ Heath. 88. (2005). P. AIDS Reader 16 (1): 15–17. PubMed. ^ a b c Ferrantelli F. Bentata. 90.. S. 161 (16): 1962–1968. M. A.. 92.. Lundgren. "Hepatitis A and B virus immunization in HIV-infected persons". R. ^ Tassie.. M. M.. N.. (2004). "Symptom management and self-care for peripheral neuropathy in HIV/AIDS".80... C. M. Journal of acquired immune deficiency syndromes 30 (1): 81–7. Hogg.. Fusco. M. E. doi:10. R. Burger. Lancar. (2002). 15 (6): 543–556. J. A.. Hoetelmans. Fatkenheuer. 91.. F. Syndr. et al (February 2007). H. L. 4 (3): 21. 25 (8): 555–556. 89. PubMed. R. C. ^ King. 31 (2): 211–217. Curr Opin Biotechnol.. F. PMID 16034917. Schrey. ^ Becker SL. Medical Decision Making 23 (1): 9–20. de Wolf.1002/14651858. M. and the ATHENA Project.. Lange. Schneider. L. S. Franklin... S. 84.pub2. ^ Chene. 87.. D. M. G. A. Ledergerber. "Intentional Nonadherence Due to Adverse Symptoms Associated With Antiretroviral Therapy". Detels. and the Clinical Epidemiology Group from the French Hospital Database on HIV. 86. (2005). (2003). 26 (1): 82–92. MedGenMed. D. Immune Defic. V. S. PubMed. Manheimer E.. M. ^ Nicholas PK. PubMed. E. K. S.1080/09540120600971083. ^ Laurence J. D. Montaner. M. H. ^ Kleeberger. V.. ^ Saltmarsh. Costagliola. Acquir. PubMed.. A. "Determinants of Heterogeneous Adherence to HIV-Antiretroviral Therapies in the Multicenter AIDS Cohort Study". C. D'Arminio Monforte. Cochrane Database Syst Rev (3): CD003937. de Wolf.M. "Herbal medicines for treating HIV infection and AIDS"... R. (2002). (2003). O'Shaughnessy.. J.. A. Syndr... Immune Defic. Hull. Kauffmann. (2001). S.. Canaval GE.CD003937.. Justice.. J. Chang. ^ Nieuwkerk. ^ Montessori.. "Limited Patient Adherence to Highly Active Antiretroviral Therapy for HIV-1 Infection in an Observational Cohort Study". PubMed... PubMed... G. M.. Kemppainen JK. R.". Intern... J. "Young HIV-infected adults are at greater risk for medication nonadherence". and the Antiretroviral Therapy Cohort Collaboration. Chesney. Sprangers. Acquir. P. Positively Aware 3 (16): 46. PubMed. (2002). Strathdee. PubMed. Staszewski. Arch. Press. doi:10. Deloumeaux. J. and Spector. G. (2004). and the CHORUS Program Team. Dabis. J. A. J. G. Hugen. "Voodoo or valid? Alternative therapies benefit those living with HIV". H.. PubMed... R. Sterne. Kawabata H. "Adverse effects of antiretroviral therapy for HIV infection. D. Costagliola. Lancet 362 (9385): 679– 686. Montaner. (2006). M.. M. S. 85. PubMed. Akagi. A. Cafaro A... J. N. A.. M. Kingsley. Harris. Hodder S. 93.... S. W. Phair. J. and Hogg. Reiss. J. ^ Saitoh. Justice. F. van Der Ende.. May.. T..

Diakses pada 18 Juli 2010. J. Wood D. M. Y. Bibollet-Ruche. University of Cambridge. Martin J. ^ (Inggris)"Hypothyroxinemia in acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Diakses pada 17 Januari 2006. Department of Radiation Medicine. J. CDC. E. Boston. (1999). 101.. Bottiger M..2. E.. Ndjango JB. 109.CD003650. Sharp.. Y. M. Delaporte. P.167. Sharp PM. Holmes H. Med. "Suppression of human immunodeficiency virus type 1 viral load with selenium supplementation: a randomized controlled trial". Peeters. Y. "The origin of AIDS".. 83 (Pt 6): 1253–1265. "HIV: effectiveness of complementary and alternative medicine". Gen. doi:10.1002/14651858. Spiegel D (June 2002). Intern. 167 (2): 148–54. Labama BL. L.. ISBN 0-316-37261-7. G. Schild G. "Chimpanzee Reservoirs of Pandemic and Nonpandemic HIV-1". Li. (2000). Almond N (2005). 106. "Vaccine Theory of AIDS Origins Disputed at Royal Society". Mpoudi Ngole. Chen. University of Nigeria Teaching Hospital. Llabre MM..". F. "Special Session of the General Assembly on HIV/AIDS Round table 3 Socio-economic impact of the epidemic and the strengthening of national capacities to combat HIV/AIDS" (PDF). 108. Y. MA: Little Brown & Co. Davis C.94.. Siegfried N (2005). Rice University. Minor P. Diakses pada 15 Juni 2006. Department of Biochemistry. ^ Worobey M. ^ Curtis. Shaw. J. PubMed. 104. Gore-Felton C. Brand MD. 107. Hahn.. PMID 17242315.. van Heuverswyn. Wain. doi:10.. Brookfield. F. Hahn BH (2004). Science Online 2006-05-25. "Mitochondrial DNA and retroviral RNA analyses of archival oral polio vaccine . H. M. PubMed. 99. R.. "Annex 2: HIV/AIDS estimates and data.. Harper ME. "Pneumocystis Pneumonia — Los Angeles". ^ Berry N. 1–1070. 100. Nature 428 (6985): 820. Vosvick M. Dhed'A BD. 97. 105. ^ a b Irlam JH. B. Klaus JR. Diakses pada 18 Juli 2010. Rollins N. Takehisa. J. J. Arch. D. ^ CDC (1981). PubMed. ^ (Inggris)"Hyperthyroidism stimulates mitochondrial proton leak and ATP turnover in rat hepatocytes but does not change the overall kinetics of substrate oxidation reactions". Liegois. Bienvenue. E. PMID 12391716. 2006 Report on the global AIDS epidemic. ^ UNAIDS (2006).. 2005" (PDF). ^ Keele. 96.148. Ezeala CC. ^ Reeves.. Israelski DM. Diakses pada 8 Juni 2006. V. Chukwurah E. 102. B. 108. 61. Prim. "Micronutrient supplementation in children and adults with HIV infection". F.. Science 289 (5486): 1850–1851. Y. "Origin of AIDS: contaminated polio vaccine theory refuted". E. 95. Rambaut A.1126531.1001/archinte. The River : A Journey to the Source of HIV and AIDS (edisi ke-1st). and Doms. "Human Immunodeficiency Virus Type 2". T. Loul. Department of Biochemistry & Cell Biology. PubMeddoi:10. L. Jenkins A.pub2. S. M. Keele BF. (1992). W (2002). Visser ME. Bailes. Shaw GM. ^ Hurwitz BE. ^ Hooper.. PMID 16235333. Virol. Care 29 (2): 361–78. Santiago. Joy JB. ^ Power R. 98.... (2006). hlm. ^ (Inggris)"Chemiosmotic Gradient: Generation and Maintenance". Santiago ML. Diakses pada 18 Juli 2010. Rolling Stone (626): 54–59. F. et al (January 2007). 106.1126/science. F. Cochrane Database Syst Rev (4): CD003650. ^ UNAIDS (2001). ^ Cohen. 103.

(2002). "AIDS Stigma and sexual prejudice" (PDF). "Oral Polio Vaccine and HIV / AIDS: Questions and Answers". Behav.. ^ Snyder M. "S Africa's AIDS activists accuse government of murder". Science 241 (4865): 514. Causer. "South Africa's new enemy". hlm. National Institute of Allergy and Infectious Diseases. P. H. 121. J. Science 288 (5474): 2168-70. Genetica 104 (2): 133-42. ^ Over. "AIDS and macroeconomic impact". R. 8 (5): 613-8. A. Nature 406 (6791): 15-6. ^ Watson J (2006).. S. Omoto AM. Med. Maniotis. lihat: "The Durban Declaration". J. American Behavioral Scientist 42 (7): 1175–1192.) (PDF). .. Miller. Nat.. F. J.. M. M. Population and Human Resources Department". (1999). di dalam S. ^ Ogden.1038/35017662. ^ UNAIDS (2006). "The Controversy over HIV and AIDS". 122. Curr. doi:10. The World Bank. Lancet 361 (9363): 1105. ^ a b Greener. and Nyblade. Immunol. Med Hypotheses 63 (4): 597–601. E. 112. Various. PubMed.full text here. activists sue South Africa's AIDS 'denialists'". 92 (3): 371– 377.. Cohen. ^ Centers for Disease Control and Prevention (2004-03-23). Diakses pada 7 September 2006. (2005). 114. State of The Art: AIDS and Economics. PMID 10894520. Public Health. "HIV-related stigma and knowledge in the United States: prevalence and trends. 517. ^ Untuk bukti konsensis ilmu pengetahuan bahwa HIV menyebabkan AIDS. "Scientists. Opin. J. Diakses pada 14 Juni 2006. Forsyth (ed. 116. P. and Capitanio. 111. (2004). Goedert JJ (1996).(OPV CHAT) materials: evidence of macaque nuclear sequences confirms substrate identity". Crain AL. "The macroeconomic impact of AIDS in Sub-Saharan Africa. and Fiala. 2006 Report on the global AIDS epidemic. PMID 10896606. 119. International Center for Research on Women. Turner. PMID 12672319. D. PMID 8902385.1038/nm0106-6a.. PubMed. Diakses pada 15 Februari 2007. IAEN. ^ Duesberg. PMID 10220906. 118. (1992). "Focus on the HIV-AIDS Connection: Resource links". "HIV is not the cause of AIDS". ^ Cohen J (2000). 123. ^ a b c Herek. Science 266 (5191): 1642–1649. G. 115.. V. (1988). "Punished for their good deeds: stigmatization for AIDS volunteers". Scientist. 113. "Common at its core: HIV-related stigma across contexts" (PDF). doi:10. O'Brien SJ. Diakses pada 27 Maret 2006. 120. 26 September 2000. (2002). PubMed. . Vaccine 23: 1639–1648. Am. Diakses pada 20 November 2006. L. ^ Baleta A (2003). Widaman KF. J. Page. "The impact of AIDS on people and societies" (PDF). "HIV as the cause of AIDS and associated diseases". Am. H. Alfonso. Mhlongo. ^ Papadopulos-Eleopulos. Galéa P. 12 (1): 6. B. PMID 16397537. Capitanio JP. C. "A critique of the Montagnier evidence for the HIV/AIDS hypothesis". 110. 49–55. 1991–1999" (PDF). 117. Chermann JC (1998). Papadimitriou. ^ Herek GM. "HIV causes AIDS: Koch's postulates fulfilled". (1994). T. (1999).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->