Anda di halaman 1dari 10

BAB V BEA METERAI

LATAR BELAKANG
Pembaharuan perpajakan nasional dilaksanakan dalam rangka menegakkan kemandirian dalam membiayai pengeluaran negara dan pembangunan nasional dengan mewujudkan keikutsertaan dan kegotong royongan masyarakat dalam membiayai pembangunan nasional tersebut. Perwujudan dari pembaharuan tersebut adalah adanya penyederhanaan dalam sistem pemungutan pajak dan/atau merombak secara mendasar peraturan perundang-undangan perpajakan yang merupakan warisan kolonial, dan menggantinya dengan Undang-undang baru yang merupakan Undang-undang Pajak Nasional. Salah satu undang-undang yang diganti adalah aturan bea meterai (ABM) 1921 yang telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan UU No. 2 PRP tahun 1965 menjadi Undangundang No. 13 tahun 1985, yang berlaku sejak 1 Januari 1986. Bea Meterai merupakan pajak yang dikenakan atas dokumen dan tujuan pemungutannya adalah sebagai salah satu sumber pembiayaan negara yang berasal dari sektor pajak. UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai disamping memberikan kepercayaan kepada masyarakat yang lebih luas untuk memenuhi sendiri kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan, juga memuat unsur kesederhanaan dan kemudahan bagi masyarakat dalam membayar maupun bagi petugas pajak dalam melaksanakan pemungutan pajak. Karena UU ini hanya terdiri dari 7 bab dan 18 pasal dan hanya mengenal satu jenis bea meterai tetap, yaitu Rp 3.000,- dan Rp 6.000,- (Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000). Disamping itu undang-undang ini juga memiliki objek pajak yang lebih luas dibanding ABM 1921.

DASAR HUKUM BEA METERAI


UU No. 13 tahun 1985 atau disebut juga Undang-undang Bea Meterai 1985 yang berlaku efektif sejak 1 Januari 1986,. Untuk pelaksanaannya dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000 tentang perubahan Tarif Bea Meterai dan besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal yang dikenakan Bea Meterai.

OBJEK BEA METERAI


Objek Bea Meterai adalah Dokumen Dokumen : adalah kertas berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau kenyataan seseorang, dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan Bea Meterai dikenakan atas dokumen (Bea Meterai merupakan pajak atas dokumen). Satu dokumen hanya terutang satu meterai. Rangkap/tindasan yang ditandantangani dengan tanda tangan asli terutang bea meterai sama dengan aslinya

TARIF BEA METERAI (Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000)


1. Rp 6.000,2. Rp 3.000,TARIF Rp 6.000.- DIKENAKAN ATAS DOKUMEN 1. a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (antara lain : Surat Kuasa, Surat Hibah dan Surat Pernyataan): 1. Dibuat dengan tujuan digunakan sebagai alat pembuktian 2. Mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan 3. Bersifat perdata b. Akta-akta notaris termasuk salinannya c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkaprangkapnya d. Surat-surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000.000,1. Yang menyebutkan penerimaan uang 2. Yang menyatakan pembukuan atau penyimpanan uang dalam rekening bank 3. Yang berisi pemberitahuan saldo rekening bank Buku I Perpajakan Indonesia 155

4. Yang berisi pengakuan bahwa utang uang sebagian atau seluruhnya telah dilunasi atau diperhitungkan e. Surat-surat berharga seperti : wesel, promes dan aksep yang harga nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,f. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,2. Dokumen-dokumen yang akan digunakan sebagai bukti di pengadilan : a. Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan b. Surat-surat yang semula tidak dikenakan bea meterai berdasarkan tujuannnya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan untuk orang lain, selain dari maksud semula TARIF BEA METERAI Rp 3.000,- DIKENAKAN ATAS DOKUMEN 1. Surat yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 250.000,- tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000,a. Yang menyebutkan penerimaan uang b. Yang menyatakan pembukuan atau penyimpanan uang dalam rekening bank c. Yang berisi pemberitahuan saldo rekening bank d. Yang berisi pengakuan bahwa utang uang sebagian atau seluruhnya telah dilunasi atau diperhitungkan 2. Surat-surat berharga seperti : wesel, promes dan aksep yang harga nominalnya lebih dari Rp 250.000,- tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000,3. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,4. Cek dan Bilyet Giro dengan harga nominal berapapun Catatan Apabila dokumen (kecuali cek dan bilyet giro) mempunyai nominal tidak lebih dari Rp 250.000,- tidak terutang bea meterai Contoh 1. Seseorang membuat kuitansi tanda penerimaan uang sebesar Rp 250.000,- maka kuitansi tersebut tidak perlu dibubuhi meterai 2. Seseorang membuat kuitansi tanda penerimaan uang sebesar Rp 1.000.000,- maka kuitansi tersebut harus dibubuhi meterai Rp 3.000,3. Dua pihak membuat perjanjian sewa menyewa rumah dengan nilai sewa Rp 15.000.000,- untuk jangka waktu 5 tahun. Masing-masing pihak memperoleh satu berkas (dokumen) perjanjian yang ditandatangani diatas meterai. Maka dokumen tersebut masing-masing harus dibubuhi meterai Rp 6.000,- . Sehingga total bea meterai untuk surat perjanjian tersebut adalah Rp 6.000,- x 2 = Rp 12.000,4. Akte pendirian suatu badan, dibuat rangkap 6, maka semua akte pendirian tersebut masingmasing harus dibubuhi meterai Rp 6.000,-. Sehingga total bea meterai untuk akte pendirian tersebut adalah Rp 6.000,- x 6 = Rp 36.000,-

DOKUMEN YANG TIDAK DIKENAKAN BEA METERAI


1. Dokumen yang berupa antara lain a. Surat penyimpanan barang b. Konosemen c. Surat angkutan penumpang dan barang d. Bukti pengiriman dan penerimaan barang 2. Segala ijazah : Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), Tanda Lulus, Surat Keterangan Telah Mengikuti suatu Pendidikan, Latihan, Kursus dan Penataran, termasuk pula surat-surat yang bersifat hukum publik misalnya Akta Kelahiran dan Surat Nikah 3. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja, serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapat pembayaran 4. Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas pemda dan bank 5. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi 6. Kuitansi untuk semua jenis pajak 7. Surat gadai yang diberikan oleh PT. Pegadaian (Persero) Buku I Perpajakan Indonesia 156

8. Kupon/tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek dengan nama dan dalam bentuk apapun

SAAT TERUTANG BEA METERAI


1. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, ditentukan pada saat dokumen diserahkan dan diterima oleh pihak untuk siapa dokumen tersebut dibuat, jadi bukan pada saat ditandatangani contoh : kuitansi, cek 2. Dokumen yang dibuat lebih dari satu pihak, ditentukan pada saat selesainya dokumen itu dibuat, yaitu ditutup dengan tanda tangan dari yang bersangkutan contoh : Surat perjanjian jual beli 3. Dokumen yang dibuat di Luar negeri, ditentukan pada saat digunakan di Indonesia

PIHAK YANG TERUTANG BEA METERAI


Pihak yang terutang bea meterai adalah pihak yang menerima atau memperoleh manfaat dari dokumen, kecuali ditentukan lain oleh pihak-pihak yang bersangkutan Catatan Bila terjadi sesuatu dikemudian hari (pelanggaran administrasi) maka yang bertanggungjawab atas pelunasan bea meterai adalah pemegang dokumen.

CARA PELUNASAN BEA METERAI


1. Dengan menggunakan benda meterai, yaitu : a. Meterai Tempel b. Kertas Meterai 2. Dengan cara lain yang ditetapkan Menteri Keuangan, yaitu dengan : a. Dengan Mesin Teraan Meterai b. Dengan Teknologi Percetakan c. Dengan Sistem Komputerisasi 3. Melalui Pemeteraian Kemudian

PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN BENDA METERAI


Benda Meterai : adalah meterai tempel dan kertas meterai yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MENGGUNAKAN BENDA METERAI 1. Pelunasan dokumen yang terutang Bea Materai dapat dilakukan dengan menggunakan Benda Meteral yang dikeluarkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 133/KMK.04/2000 tanggal 28 April 2000 tentang Bentuk, Ukuran dan Warna Benda Meterai Desain Tahun 2000, atau 2. Penggunaan Benda Meterai Desain Tahun 2000 untuk melunasi dokumen yang terutang Bea Meterai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2000 dapat dilakukan dengan membubuhkan Meterai Tempel kopur Rp 3.000,- (tiga ribu rupiah) atau kopur Rp 6.000 (enarn ribu rupiah), atau menggunakan kertas meterai ukuran A3 kopur Rp 6.000,- (enam ribu rupiah) atau ukuran A4 kopur Ro 6.000,- (enam ribu rupiah). 3. Penggunaan Meterai Tempel cetak tindih tahun 2000 untuk melunasi dokumen yang terutang Bea Meterai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2000, dilakukan dengan membubuhkan beberapa Meterai Tempel cetak tindih tahun 2000 kopur Rp 1.000-(seribu rupiah) dan/atau kopur Rp 2.000,- (dua ribu rupiah). 4. Pembubuhan beberapa Meterai Tempel tersebut dilakukan pada tempat tanda tangan akan dibubuhkan, dan tanda tangan tersebut harus dibubuhkan sebagian di atas semua Meterai Tempel dan sebagian di atas dokumen. 5. Pelunasan Bea Metera kurang bayar atas penggunaan Kertas Meterai cetak tindih tahun 2000 dilakukan dengan membubuhkan beberapa Meterai Tempel cetak tindih tahun 2000 kopur Rp 1.000,- (seribu rupiah) dan/atau kopur Rp 2.000,- (dua ribu rupiah). 6. Pembubuhan beberapa Meterai Tempel tersebut dilakukan pada tempat tanda tangan akan dibubuhkan, dan tanda tangan tersebut harus dibubuhkan sebagian di atas semua Meterai Tempel dan sebagian di atas kerta Meterai. Buku I Perpajakan Indonesia 157

Tanda tangan : adalah tanda tangan sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk pula paraf, teraan, atau cap paraf, teraan cap nama atau tanda lainnya sebagai pengganti tanda tangan Catatan 1. a. Untuk pelunasan dengan meterai tempel 1. Direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak, 2. Dietempelkan ditempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan dan tahun, 3. Ditandatangani dengan tinta atau sejenisnya b. Untuk pelunasan dengan kertas meterai 1. Dokumen ditulis diatas kertas meterai, apabila tidak cukup satu kertas meterai karena terlalu panjang, maka lanjutannya boleh, menggunakan kertas biasa yang tidak bermeterai 2. Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi 2. Tanggal yang tercantum di meterai lebih sah dibandingkan tanggal dokumen 3. Warna tinta yang berbeda dalam satu dokumen diperbolehkan dan tulisan yang ada dalam dokumen tidak bolek di tipe-ex. Bila ada kesalahan dicoret saja dan dituliskan yang benar. 4. Pelanggaran atas ketentuan-ketentuan diatas dianggap tidak bermeterai

KETENTUAN TENTANG PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MEMBUBUHKAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN MESIN TERAAN METERAI
1. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai hanya dipergunakan kepada penerbit dokumen yang melakukan pemeteraian dengan jumlah rata2 setiap hari minimal sebanyak 50 dokumen. 2. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan mesin teraan meterai harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan meterai yang akan digunakan, melampirkan surat pernyataan tentang jumlah rata2 dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari. 3. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai harus melakukan penyetoran Bea Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (KP PDIP.5.1-98) ke Kas Negara melalui Bank Presepsi. 4. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin penggunaan mesin teraan meterai mempunyai kewajiban sebagai berikut: a. Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan meterai kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat tanggal 15 setiap bulan. b. Menyampaikan laporan Kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat satu bulan setelah mesin teraan meterai tidak pergunakan lagi atau terjadi, perubahan alamat/tempat kedudukan pemilik/pemegang ijin penggunaan mesin teraan meterai. 5. Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan. 6. Bea Meterai yang belum dipergunakan karena mesin teraan meterai rusak atau tidak dipergunakan lagi, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai lain atau percetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan ataupun dengan sistem komputerisasi. 7. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud angka 6, harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencatumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan. Sanksi 1. Penggunaan mesin teraan meterai tanpa ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan sangsi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang No 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai. 2. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dan deposit yang disetor dikenakan sanksi ini denda administrasi 200% dari Bea Meterai kurang bayar, dan pencabutan Ijin penggunaan mesinteraan meterai. 3. Penggunaan mesin teraan meterai yang melewati rnasa berlakunya ijin yang diberikan, dikenakan sanksi pencabutan ijin.

Buku I Perpajakan Indonesia

158

4. Penyampaian laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat yang melewati batas waktu yang telah dltentukan dikenakan sangsi pencabutan ijin.

KETENTUAN TENTANG TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MEMBUBUHKAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN TEKNOLOGI PERCETAKAN
1. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan hanya diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun. 2. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi pencetakan harus melakukan pembayaran Bea Meterai di muka sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (KP PDIP.5.1-98) ke Kas Negara melalui Bank Persepsi. 3. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan, harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar. 4. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) dan perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, atau efek dengan nama dan dalam bentuk apapun harus menyampaikan laporan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat tanggal 10 setiap bulan. 5. Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sebelum tanggal 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan rnenggunakan meterai tempel. 6. Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sejak tanggal 1 Me 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan menggunakan meterai tempel dengan ditambah denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai kurang bayar tersebut. 7. Pelunasan denda administrasi seperti tersebut pada angka 6 di atas dilakukan dengan penyetoran ke Kas Negara melalui Bank Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (KP PDIP 5.1-98). 8. Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang belum dipergunakan dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai, pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas laimya dengan teknologi percetakan atau pembubuhan tanda Bea Metera Lunas dengan sistem komputerisasi. 9. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud angka 8, harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktorat Jenderal Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan. Sanksi 1. Penerbit dokumen yang melakukan pelunasan Bea Meterai dengan rnembubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan tanpa ijin tertulis Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 14 Undang-undang No.13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai. 2. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) atau perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas tanpa adanya ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan pasal 14 Undang-undang No.13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai dan pencabutan ijin penunjukan sebagai peIaksana pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan. 3. Penyampaian laporan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak yang melewati batas waktu yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan.

KETENTUAN TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN MEMBUBUHKAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN SISTEM KOMPUTERISASI
1. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi hanya diperlukan untuk dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah uang sebagaimana dimaksud Pasal 1 huruf d Peraturan Permerintah No.24 Tahun 2000 dengan jumlah rata2 pemeteraian setiap hari minimal sebanyak 100 dokumen. Buku I Perpajakan Indonesia

159

2. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi, harus mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata2 dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari; 3. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus melakukan pembayaran Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan, dengan menggunakan Surat setoran Pajak (KP.PDIP.5.1-98) ke Kas Negara melalui Bank Persepsi 4. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan saldo Bea Meterai kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat tanggal 15 setiap bulan. 5. Ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi berlaku selama saldo Bea Meterai yang telah dibayar pada saat mengajukan ijin masih mencukupi kebutuhan pemeteraian 1 (satu) bulan berikutnya 6. Penerbit dokumen yang mempunyai saldo Bea Materai kurang dari estimasi kebutuhan satu bulan, harus mengajukan permohonan ijin baru dengan terlebih dahulu melakukan pembayaran Bea Meterai di muka minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk mencukupi 1 (satu) bulan. 7. Bea Meterai yang belum dipergunakan karena sesuatu hal, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai, atau pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan . 8. Penerbit dokumen yang akan meIakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud angka 7 harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan. Sanksi 1. Pelunasan Baa Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi tanpa ijin tertulis Direktur JenderaI Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang No.13 tahun 1985 tentang Bea Meterai. 2. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dan pembayaran di muka yang dilakukan, dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai kurang bayar. 3. Pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi yang melewati masa berlakunya ijin yang diberikan, dikenakan sangsi pencabutan ijin. 4. Penyampaian laporan kepada Direktur JenderaI Pajak yang melewati batas waktu yang telah ditentukan dikenakan sangsi pencabutan ijin.

PEMETERAIAN KEMUDIAN
Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan bea meterai yang dilakukan oleh pejabat pos atas permintaan pemegang dokumen yang bea meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya Pejabat Pos : adalah pejabat perusahaan umum pos dan giro yang diserahi tugas melayani permintaan pemeteraian kemudian DOKUMEN YANG DIKENAKAN PEMETERAIAN KEMUDIAN Pemeteraian kemudian dilakukan atas: a. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan. b. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya. c. Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia. CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN Pemeteraian kemudian wajib dilakukan oleh pemegang dokumen-dokumen dengan menggunakan: a. Meterai Tempel, atau b. Surat Setoran Pajak.

Buku I Perpajakan Indonesia

160

Catatan 1. Pemeteraian kemudian dengan menggunakan Meterai Tempel atau Surat Setoran Pajak harus disahkan oleh Pejabat Pos. 2. Lembar kesatu dan lembar ketiga Surat Setoran Pajak yang digunakan untuk pemeteraian kemudian harus dilampiri dengan daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan daftar dokumen tsb. merupakan lampiran dari lembar kesatu dan lembar ketiga Surat Setoran Pajak yang tak terpisahkan. 3. Bila atas dokumen yang dimeteraikan kemudian dikenakan denda, maka Pengesahan atas pemeteraian kemudian dapat dilakukan setelah pemegang dokumen membayar denda. BESARNYA BEA METERAI YANG HARUS DILUNASI DENGAN CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN a. Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan adalah. sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan. b. Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya adalah sebesar Bea Meterai yang terutang. c. Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan. KETENTUAN TENTANG SANKSI PEMETERAIAN KEMUDIAN 1. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi. 2. Dalam hal pemeteraian kemudian atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia baru dilakukan setelah dokumen digunakan, pemegang dokumen wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang terutang. 3. Denda sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan angka 2 dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak. TATACARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN MENGGUNAKAN METERAI TEMPEL 1. Pemegang dokumen membawa dokumen yang akan dilunasi dengan Cara pemeteraian kemudian kepada Pejabat pos pada Kantor Pos terdekat. 2. Pemegang dokumen melunasi Bea Meterai vang terutang atas dokumen yanq dimeteraikan kemudian tsb dengan cara menempelkan Meterai Tempel pada dokumen yang akan dimeteraikan kemudian. 3. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau Kurang dilunasi Sebagaimana mestinya Wajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dengan kode jenis MAP 0174. 4. Dokumen telah dimeteraikan kemudian dan SSP dicap "TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur lebih lanjut dengan KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pos yang bersangkutan. TATACARA PEMETERAIAN KEMUDIAN DENGAN MENGGUNAKAN SURAT SETORAN PAJAK (SSP) 1. Membuat daftar dokumen yang akan dimeteraikan kemudian. 2. Membayar Bea Meterai yang terutang berdasarkan daftar tsb dengan menggunakan SSP. 3. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagairnana mestinya wajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan menggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan untuk memeteraikan kemudian. 4. Cara pengisian SSP adalah sebagai berikut: a. SSP yang digunakan untuk melunasi pemeteraian kemudian, diisi dengan Kode Jenis Pajak (MAP) 0171. b. SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi, diisi dengan Kode Jenis (MAP) 0174.

Buku I Perpajakan Indonesia

161

5. Daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan SSP yang telah digunakan untuk membayar pemeteraian kemudian dicap "TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur lebih lanjut dengan KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002 oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pejabat Pos yang bersangkutan. Contoh Pemeteraian Kemudian atas Dokumen yang dibuat diluar negeri Dokumen yang dibuat di Malaysia, akan dipergunakan sebagai dokumen di Indonesia, bila : a. Belum ada meterainya Dimeteraikan dulu di Indonesia dengan cara pemeteraian kemudian b. Sudah ada meterainya Diberi meterai lagi dengan cara pemeteraian kemudian (jadi (meterai Malaysia) ada 2 meterai)

DALUWARSA
Daluwarsa dari kewajiban memenuhi bea meterai ditetapkan 5 tahun, terhitung sejak tanggal dokumen dibuat. Dengan demikian, bila ada dokumen yang kurang/tidak bermeterai, yang dibuat sudah lebih dari 5 tahun (sudah daluwarsa), dan diguanakan untuk tujuan tertentu, misalnya sebagai alat pembuktian dipengadilan, maka tidak perlu diberi meterai, karena sudah sah menurut hukum.

KETENTUAN TENTANG SANKSI-SANKSI DI DALAM ATURAN BEA METERAI


1. Sanksi Administrasi Apabila dokumen tidak atau kurang meterainya dari yang seharusnya dikenakan denda administrasi sebesar 200% dari bea meterai yang tidak atau kurang bayar. Pihak yang bertanggung jawab untuk sanksi administrasi adalah Pemegang Dokumen 2. Sanksi Pidana a. Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) : 1. Barang siapa meniru atau memalsukan meterai tempel/kertas meterai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan meterai. 2. Dengan sengaja menyimpan bahan-bahan/perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai. 3. Barang siapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke Negara Indonesia meterai yang mereknya, capnya, tanda tangannya, tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakannya dengan melawan hak. 4. Barang siapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan, atau memasukkan ke negara Indonesia dengan meterai palsu, yang dipalsukan atau dibuat yang dibuat dengan melawan hak. b. Dengan sengaja menggunakan cara lain untuk pelunasan bea meterai yang tidak seijin Menteri Keuangan/Dirjen Pajak dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 tahun Contoh 1. Dokumen yang menurut UU No. 13 tahun 1985 terutang bea meterai Rp 3.000,- tetapi dokumen tersebut ternyata tidak diberi meterai. Maka perhitungan pajaknya adalah : Bea Meterai yang tidak dibayar Rp 3.000,Denda administrasi 200% x Rp 3.000,Rp 6.000,- + Jumlah pemeteraian kemudian Rp 9.000,2. Dokumen yang menurut UU No. 13 tahun 1985 terutang bea meterai Rp 6.000,- tetapi dokumen tersebut ternyata tidak diberi meterai. Maka perhitungan pajaknya adalah : Bea meterai yang tidak dibayar Rp 6.000,Denda administrasi 200% x Rp 6.000,Rp 12.000,- + Jumlah pemeteraian kemudian Rp 18.000,-

Buku I Perpajakan Indonesia

162

DOKUMEN PERBANKAN YANG DIKENAKAN BEA METERAI


Jenisjenis dokumen perbankan yang dikenakan Bea Meterai dan besarnya Bea Meterai adalah sebagai berikut: (SE-29/PJ.5/2000)
Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Jenis Dokumen Perjanjian pembukaan rekening giro Rekening koran bulanan khusus giro Surat Kuasa Sertifikat Deposito Deposito Berjangka Bukti pencairan deposito (baik tunai ataupun pemindahbukuan ) Deposito on call (dalam bentuk sertifikat) Pencairan kiriman uang masuk untuk nasabah Stop Payment Order (baik atas cek/bilyet giro atau bentuk perintah pembayaran lainnya oleh nasabah) Cek/bilyet giro Penarikan kuitansi (selain untuk tabungan ) Bank Draft yang dibayarkan di dalam negeri Penegasan Pemegang SBI Sertifikat Bank Indonesia (SBI ) Bukti Pelunasan SBI Pencairan deposito antar Bank Kontrak jual/beli forward Kwitansi Penarikan Giro Valas Aplikasi Pembelian Divisa Umum Surat pengikatan perjanjian transaksi derivative Aplikasi pembelian Traveller Check Draft (ekspor,negosiasi L/C,dan Bank Garansi) Indemnity/pelunasan pakai copy Airway Bill (surat pernyataan guarantee) Jaminan (counter guarantee ) Perjanjian permohonan plafon untuk pengeluaran Bank Garansi Aplikasi permohonan pengeluaran / perubahan Bank Garansi (yang disertakan dengan suatu perjanjian) Garansi Bank Penerbitan shipping Guarantee Perjanjian Kredit Tanda Terima pencairan kredit secara tunai Pengakuan Hutang Surat sanggup bayar (promes) Cessie dibawah tangan FEO/fidusia di bawah tangan Laporan stock dari debitur Borgtocht di bawah tangan Tarif Bea Meterai Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.3000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Berdasarkan harga nominal Keterangan Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal

Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harha nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal

Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal Berdasarkan harga nominal

Buku I Perpajakan Indonesia

163

37 38 39 40 41

Akta pemberi tanggungan (personal guarantee) Surat pernyataan tidak menyewakan barang jaminan Perjanjian Risk Sharing Surat Perjanjian elektronic Banking Perjanjian pembukaan sewa deposit box

Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,Rp.6000,-

Catatan 1. Dalam hal dokumen perbankan syariah mempunyai nama yang tidak sama dengan dokumen pada butir 1, maka untuk menentukan dokumen tersebut dikenakan Bea Meterai atau tidak adalah dengan cara mencocokan isi dan makna dari dokumen dimaksud dengan dokumen yang tercantum diatas. 2. Pada dasarnya Bea Meterai atas seluruh dokumen perbankan yang tercantum diatas dapat dilunasi dengan menggunakan Benda Meterai atau dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai. 3. Untuk kemudahan dalam cara pelunasan, maka Bea Meterai atas dokumen perbankan tertentu dapat dilunasi dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan atau sistem komputerisasi.Adapun dokumen perbankan dimaksud adalah sebagai berikut: 4. Cek bilyet giro, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Bea Meterai dilunasi dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan. 5. Rekening koran bulanan khusus giro, Bea Meterainya dilunasi dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem kompurisasi.

Buku I Perpajakan Indonesia

164

Anda mungkin juga menyukai