Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan modern tentang genetika berawal dari penemuan Gregor

Mendel tentang ciri ciri faktor keturunan yang ditentukan oleh unit dasar yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, yang disebut unit genetik atau gen, yaitu bahan yang mempunyai persyaratan : a. Diwariskan dari generasi ke generasi dimana keturunannya

mempunyai persamaan fisik dari materi tersebut. b. Membawa informasi yang berkaitan dengan struktur, fungsi dan sifatsifat biologi yang lain. Sebelum Mendel melakukan percobaan penyilangan pada tanaman kapri (Pisum sativum) para ahli telah mempunyai pemikiran tentang adanya kehidupan yang berkesinambungan, yang membawa faktor keturunan dari generasi ke generasi. Tetapi mereka tidak melakukan percobaan seperti yang dilakukan oleh Mendel dan disampig itu peralatan ilmiah yang dapat dipakai untuk membuktikan pemikiran mereka belum ada. Sebelum abad ke 17, orang percaya bahwa kehidupan itu muncul secara spontan. Pendapat ini dikenal dengan istilah generatio spontanea, namun dibantah oleh Francesco Redi (1621-1697), Lazzaro Spallanzani (1729-1799), dan Louis Pasteur (1822-1895). Para pemeliti tersebut menganggap bahwa organisme hidup berasal dari organisme sebelumnya. Peneliti lainnya seperti de Graaf, Malpighi dari Itali dan Swammerdam dari Belanda pada tahun 1673, mengamati sel telur pada beberapa hewan dan menganggap bahwa sel telur yang terdapat pada

organisme betina mempunyai peranan penting sebagai pembawa faktor keturunan yang akan diteruskan ke generasi berikutnya. Pada 1866, karya ilmiah Mendel disebarluaskan ke Eropa dan Amerika. Pada tahun 1900, penelitian yang dilakukan oleh Mendel diuji coba oleh Hugo de Vries, Carl Correns dan Erich von Tschermark. Mereka semua mengakui kebenaran penelitian Mendel. Dari tahun 1879-1885 setelah ditemukannya kromosom oleh C.von Nageli (1842), W.Flemming mengemukakan tentang perilaku kromosam saat

pembelahan mitosis. August Weisman mengemukakan bahwa faktor keturunan

terdapat pada nukleus dan mengalami pembelahan reduksi selama proses pembelahan yang disebut pembelahan meiosis. Dari tahun 1900-1944 pengetahuan genetika modern berkembang lebih pesat sejak berkembangnya teori tentang kromosom yang menyebutkan bahwa gen yang membawa faktor keturunan terdapat pada kromosom. Tahun 1944-sekarang merupakan era genetika molekuler, yaitu sejak diketahui bahwa DNA merupakan materi genetik dan kemudian berkembang pesat teknologi DNA rekombinan. Pada tahun 1953 James Watson dan Francis Crick mengungkapkan sturktur DNA.

II.

TINJAUAN PUSTAKA Dasar manipulasi genetik secara tradisional adalah mutasi dan

rekombinasi. Dalam industri fermentasi, pengembangan strain baru untuk mendapatkan daya hasil yang lebih tinggi didapatkan melalui mutagenesis, yang kemudian diikuti dengan seleksi. Dalam industri pertanian dan peternakan sistem pemuliaan dan seleksi dimaksudkan untuk memperbaiki mutu hasil pertanian dan peternakan. Beberapa tekhnik telah dikembangkan untuk memodifikasi genetik organisme secara langsung dan jelas. Alternatif ini disebut tekhnik rekombinasi DNA, rekayasa genetik atau kloning gen. Pada penelitian dasar banyak dilakukan percobaan-percobaan yang menggunakan mikroorganisme yang mempunyai arti komersial yang tinggi dan daya hasil yang tinggi pula. Prinsip rekayasa genetika adalah penyematan segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentk rekombinan DNA baru. Sebagai sel inang, molekul baru ini dapat berupa sel prokariotik atau sel eukariotik, tergantung dari titik awal replikasi yang ada pada vektor. Enzim endonuklease restriksi memungkinkan pemotongan rantai DNA yang

menghasilkan ujung-ujung bersifat lekat atau kohesif dan dapat digabung lagi dengan perantara enzim ligase DNA. A. Rekayasa genetika pada Manusia Dalam tekhnik kloning, plasmid dan bakteriofage dapat bertindak sebagai vektor dalam transfer gen. Vektor-vektor yang digunakan untuk membawa potongan DNA asing berupa bakteriofag yang transduktif atau plasmid F. Tekhnik kloning DNA E. Coli sebagai inang. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh vektor sebelum digunakan untuk transfer gen, yaitu: 1. Setiap vektor harus memiliki replikan sendiri sehingga mampu melakukan replikasi diri secara mandiri di dalam sel inang. 2. Vektor harus memiliki satu atau beberapa penanda untuk mengenal sel-sel inang yang mengandung bentuk parental atau rekombinan antara vektor dan DNA asing. 3. Vektor harus memiliki lokasi tertentu yang dikenal oleh endonuklease restriksi sebagai lokasi pemotongan.

Pemotongan oleh endonuklease restriksi dapat terjadi pada satu tempat atau beberapa tempat non-essential, dengan demikian DNA asing dapat disematkan atau digunakan untuk mengganti segmen vektor yang terpotong. Langkah dasar dalam percobaan kloning gen sebagai berikut : 1. Fragment DNA berisi gen yang akan di klon disisipkan ke dalam molekul DNA sirkuler yang disebut vektor, untuk menghasilkan Chimaera atau molekul DNA rekombinan. 2. Vektor sebagai mesin yang membawa gen ke dalam sel inang, biasanya bakteri juga tipe sel hidup lain dapat digunakan. 3. Dalam sel inang vektor memperbanyak diri, menghasilkan sejumlah molekul DNA rekombinan yang identik. 4. Ketika sel inang membelah, molekul DNA rekombinan yang telah diperbanyak ikut ke dalam sel anakan dan nantinya replikasi vektor akan terjadi. 5. Setelah sejumlah besar sel membelah, dihasilkan koloni atau klon sel inang yang identik. Masing-masing sel dalam klon berisi satu atau lebih molekul DNA rekombinan. Aplikasi Rekayasa Genetika saat ini digunakan untuk : 1. Efisiensi produksi protein yang lebih bermanfaat Diantara aplikasi rekayasa genetik yang sangat penting adalah produksi sejumlah besar protein tertentu yang sulit diperoleh (protein yang hanya beberapa molekul per sel atau ada hanya dalam sejumlah kecil sel atau hanya di sel manusia). Beberapa tahun terakhir manusia menggunakan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur sebagai faktor hidup untuk menghasilkan komponen yang bermanfaat. Pemanfaatan mikroba dalam bioteknologi adalah untuk menghasilkan antibiotik, seperti penicillin yang disintesis oleh fungi Penicillium, dan streptomycin dihasilkan oleh bakteri Streptomyces griseus. Beberapa kelainan pada manusia dapat dilacak dengan tidak adanya atau tidak berfungsinya sintesis protein secara normal dalam tubuh. Penyakit diabetes melitus terjadi karena hormon insulin tidak disintesis dalam jumlah yang cukup oleh sel pulau-pulau

Langerhans dalam pankreas. Insulin mengontrol tingkat gula darah, dan kekurangan insulin menunjukkan gejala yang kompleks. Diabetes dapat diatasi dengan program injeksi insulin. Contoh klasik rekayasa genetika dalam bidang kesehatan adalah produksi hormon insulin manusia oleh bakteri E.col. Insulin dapat diproduksi dengan tekhnik DNA rekombinan. Secara sederhana apabila kita ingin merekayasa suatu bakteri agar dapat menghasilkan insulin manusia maka kita harus memiliki gen yang mengkode insulin manusia. Selanjutnya menyisipkan gen tersebut pada suatu molekul vektor (plasmid) dan kemudian memasukkan plasmid rekombinan tersebut ke dalam sel bakteri sehingga gen insulin tersebut dapat diekspresikan. Melalui tekhnik DNA rekombinan atau rekayasa genetika dapat dihasilkan insulin manusia dalam jumlah yang besar oleh sel bakteri. Hormon manusia yang lain, yang sekarang sedang diproduksi secara komersial adalah somastotatin. Pada masa itu untuk membuat 5 mg somatostatin hewan dibutuhkan 500 ribu otak domba. Pada masa sekarang dengan berkembangnya tekhnik rekombinan DNA, maka hanya diperlukan 8 liter kultur bakteri yang sudah direkayasa utuk menghasilkan 5 mg hormon somatostatin. 2. Pembuatan sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara ekonomi Aplikasi bioteknologi dalam bidang industri meliputi rekayasa bakteri untuk memecah limbah berbahaya, penggunaan selulosa oleh yeast untuk menghasilkan glukosa dan alkohol untuk bahan bakar, penggunaan alga laut untuk bahan makanan bersubstansi lain yang bermanfaat, menghasilkan biodegradable plastic yang dibuat dari bahan dasar polyhydroxy butirate (PHB) yang dihasilkan. 3. Sebagai alat penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA Teknologi rekombinasi DNA menjadi alat penelitian yang esensial pada genetika molekul modern. Mutasi dihasilkan dalam klon gen dan memungkinkan mengisolasi suatu gen dan memasukkan kembali dalam sel hidup atau bahkan dalam sel germinal. Disamping

menghemat waktu dan tenaga, mutasi genetik mampu mengkonstruksi muatan secara praktis tidak dapat dibuat dengan berbagi cara. Revolusi tekhnik atau prosedur kedua terjadi pada tahun 1980-an dengan ditemukannya teknologi PCR (Polimerase Chain Reaction). Dengan tekhnik ini kita dapat memperbanyak DNA dalam tabung reaksi sehingga memberikan kemudahan aplikasi di berbagai bidang, misalnya memperbanyak gen tertentu untuk sequencing cloning, fingerprinting dan medeteksi patogen. Salah satu aplikasi PCR yang mencengangkan dalah dalam bidang kedokteran forensik. Teknik PCR dapat digunakan untuk memperbanyak DNA dari suatu sample yang jumlahnya sangat sedikit, misalnya sehelai rambut, cairan tubuh seperti sperma atau darah bahkan dari tulang manusia yang sudah berumur ratusan tahun. Hasil perbanyakan tersebut selanjutnya dapat dianalisis dengan DNA (fingerprinting atau sidik jari DNA) sehingga dapat dijadikan sebagai bukti dalam menentukan pelaku penjahatan misalnya pembunuhan. B. Rekayasa genetika pada Tumbuhan Pada dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama, yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan. Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan dengan mata tertutup sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di samping sifat yang diharapkan. Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan

dikembangkannya metode-metode DNA rekombinan. Varietas baru Para ahli genetika memasukkan gen-gen spesifik tunggal ke dalam

varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi. Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. Tidak mudah untuk

mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifat-sifat seperti hasil produksi tanaman. Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun, tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya. Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran. Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan, kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini. Kapas transgenik Tanaman hasil rekayasa genetika atau sering kita sebut sebagai tanaman transgenik melangkah dari eksperimen laboratorium ke uji

lapangan dan akhirnya komersialisasi hampir tanpa hambatan yang berarti. Memang, kadang ada eksperimen yang gagal, tetapi tidak sampai menimbulkan kecelakaan. Tahun 1989 untuk pertama kalinya uji lapangan dilakukan pada kapas transgenik yang tahan terhadap serangga (Bt cotton) dan pada tahun yang sama dimulai proses pemetaan gen pada tanaman (Plant Genome Project). Pada tahun 1992 sebuah perusahaan penyedia benih memasukkan gen dari kacang Brasil ke kacang kedelai dengan tujuan agar kacang kedelai tersebut lebih sehat dengan mengoreksi defisiensi alami kacang kedelai untuk bahan kimia metionin. Meskipun sedikit, ada orang yang alergi terhadap kacang Brasil dan kacang kedelai transgenik tersebut menimbulkan efek alaergi pada orang yang sama. C. Rekayasa genetika pada Hewan Kelahiran domba Dolly berkat kemajuan teknologi rekayasa genetika yang disebut kloning dengan mentransplantasikan gen dari sel ambing susu domba ke ovum (sel telur domba) dari induknya sendiri. Sel telur yang sudah ditransplantasi ditumbuhkembangkan di dalam

kandungan domba, sesudah masa kebuntingan tercapai maka sang domba lahir yang diberi nama Dolly. Sehingga domba Dolly lahir tanpa kehadiran sang jantan domba, seolah-olah seperti sepotong batang ubi kayu ditanam di tanah yang kemudian tumbuh disebut mencangkok. Domba Dolly dihasilkan dari hasil transplantasi gen atau gen yang satu dipindahkan ke gen yang lain. Diasosiasikan perpindahan gen. Dapat antarjenis maupun lintas jenis yang kemudian ditumbuhkembangkan. D. Dampak Positif dan Negatif dari rekayasa genetika Teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetika telah melahirkan revolusi baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia, yang dikenal sebagai revolusi gen. Produk teknologi tersebut berupa organisme transgenik atau organisme hasil modifikasi genetik (OHMG), yang dalam bahasa Inggris disebut dengan genetically modified organism (GMO). Namun, sering kali pula aplikasi teknologi DNA rekombinan bukan berupa pemanfaatan langsung organisme transgeniknya, melainkan

produk yang dihasilkan oleh organisme transgenik. Dewasa ini cukup banyak organisme transgenik atau pun produknya yang dikenal oleh kalangan masyarakat luas. Beberapa di antaranya bahkan telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh pemanfaatan organisme transgenik dan produk yang dihasilkannya dalam berbagai bidang kehidupan manusia. 1. Pertanian Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertanian berkembang pesat dengan dimungkinkannya transfer gen asing ke dalam tanaman dengan bantuan bakteri Agrobacterium

tumefaciens. Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah tanaman transgenik seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama dan penyakit tertentu. Di bidang peternakan hampir seluruh faktor produksi telah tersentuh oleh teknologi DNA rekombinan, misalnya penurunan morbiditas penyakit ternak serta perbaikan kualitas pakan dan bibit. Vaksinvaksin untuk penyakit mulut dan kuku pada sapi, rabies pada anjing, blue tongue pada domba, white-diarrhea pada babi, dan fish-fibrosis pada ikan telah diproduksi menggunakan teknologi DNA rekombinan. Di samping itu, juga telah dihasilkan hormon pertumbuhan untuk sapi (recombinant bovine somatotropine atau rBST), babi (recombinant porcine somatotropine atau rPST), dan ayam (chicken growth hormone). Penemuan ternak transgenik yang paling menggegerkan dunia adalah ketika keberhasilan kloning domba Dolly diumumkan pada tanggal 23 Februari 1997. Pada dasarnya rekayasa genetika di bidang pertanian bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan suatu negara dengan cara meningkatkan produksi, kualitas, dan upaya penanganan pascapanen serta prosesing hasil pertanian.

Peningkatkan produksi pangan melalui revolusi gen ini ternyata memperlihatkan hasil yang jauh melampaui produksi pangan yang

dicapai dalam era revolusi hijau. Di samping itu, kualitas gizi serta daya simpan produk pertanian juga dapat ditingkatkan sehingga secara ekonomi memberikan keuntungan yang cukup nyata. Adapun dampak positif yang sebenarnya diharapkan akan menyertai penemuan produk pangan hasil rekayasa genetika adalah terciptanya keanekaragaman hayati yang lebih tinggi. 2. Perkebunan, kehutanan, dan florikultur Perkebunan kelapa sawit transgenik dengan minyak sawit yang kadar karotennya lebih tinggi saat ini mulai dirintis pengembangannya. Begitu pula, telah dikembangkan perkebunan karet transgenik dengan kadar protein lateks yang lebih tinggi dan perkebunan kapas transgenik yang mampu menghasilkan serat kapas berwarna yang lebih kuat. Di bidang kehutanan telah dikembangkan tanaman jati transgenik, yang memiliki struktur kayu lebih baik. Sementara itu, di bidang florikultur antara lain telah diperoleh tanaman anggrek transgenik dengan masa kesegaran bunga yang lama. Demikian pula, telah dapat dihasilkan beberapa jenis tanaman bunga transgenik lainnya dengan warna bunga yang diinginkan dan masa kesegaran bunga yang lebih panjang. Sentuhan teknologi DNA rekombinan pada florikultur antara lain dilakukan dengan mengisolasi dan memanipulasi gen biru dan gen etilen biru sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Di Amerika Serikat dan Eropa bibit violet carnation akan diproduksi melalui teknik rekayasa genetika. Bibit violet carnation transgenik ini disebut dengan moonshadow. Bunga moonshadow memiliki sangat sedikit benang sari, dan bahkan sesudah dipotong bunga tidak mempunyai benang sari lagi sehingga kemungkinan perpindahan gen ke tanaman lain dapat dicegah. 3. Kesehatan Di bidang kesehatan, rekayasa genetika terbukti mampu menghasilkan berbagai jenis obat dengan kualitas yang lebih baik

sehingga memberikan harapan dalam upaya penyembuhan sejumlah penyakit di masa mendatang. Bahan-bahan untuk mendiagnosis berbagai macam penyakit dengan lebih akurat juga telah dapat dihasilkan. Teknik rekayasa genetika memungkinkan diperolehnya berbagai produk industri farmasi penting seperti insulin, interferon, dan beberapa hormon pertumbuhan dengan cara yang lebih efisien. Hal ini karena gen yang bertanggung jawab atas sintesis produkproduk tersebut diklon ke dalam sel inang bakteri tertentu yang sangat cepat pertumbuhannya dan hanya memerlukan cara kultivasi biasa. Berbagai macam vaksin juga telah diproduksi

menggunakan teknik rekayasa genetika, misalnya vaksin herpes, vaksin hepatitis B, vaksin lepra, vaksin malaria, dan vaksin kolera. Kecuali vaksin kolera, vaksin-vaksin tersebut dapat diproduksi dengan lebih efisien dan dalam jumlah yang lebih besar daripada produksi secara konvensional. Penggunaan vaksin malaria sangat diperlukan karena banyak nyamuk malaria yang saat ini sudah resisten terhadap DDT. Contoh lain kontribusi potensial rekayasa genetika di bidang kesehatan yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi para peneliti dari kalangan kedokteran dan ahli biologi molekuler adalah upaya terapi gen untuk mengatasi penyakitpenyakit seperti kanker dan sindrom hilangnya kekebalan bawaan atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Begitu juga, berkembangnya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotik masih membuka peluang penelitian rekayasa genetika di bidang kesehatan. 4. Lingkungan Rekayasa genetika ternyata sangat berpotensi untuk diaplikasikan dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati, bahkan dalam bioremidiasi lingkungan yang sudah terlanjur rusak.

Dewasa ini berbagai strain bakteri yang dapat digunakan untuk membersihkan lingkungan dari bermacam-macam faktor

pencemaran telah ditemukan dan diproduksi dalam skala industri. Sebagai contoh, sejumlah pantai di salah satu negara industri dilaporkan telah tercemari oleh metilmerkuri yang bersifat racun keras baik bagi hewan maupun manusia meskipun dalam konsentrasi yang kecil sekali. Detoksifikasi logam air raksa (merkuri) organik ini dilakukan menggunakan tanaman

Arabidopsis thaliana transgenik yang membawa gen bakteri tertentu yang dapat menghasilkan produk untuk mendetoksifikasi air raksa organik. 5. Industri Pada industri pengolahan pangan, misalnya pada

pembuatan keju, enzim renet yang digunakan juga merupakan produk organisme transgenik. Hampir 40% keju keras (hard cheese) yang diproduksi di Amerika Serikat menggunakan enzim yang berasal dari organisme transgenik. Demikian pula, bahanbahan food additive seperti penambah cita rasa makanan, pengawet makanan, pewarna pangan, pengental pangan, dan sebagainya saat ini banyak menggunakan produk organisme transgenik. Kontroversi pemanfaatan produk rekayasa genetika antara lain dapat dilihat dari ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Aspek ekonomi Berbagai komoditas pertanian hasil rekayasa genetika telah memberikan ancaman persaingan serius terhadap komoditas serupa yang dihasilkan secara konvensional. Penggunaan tebu transgenik mampu menghasilkan gula dengan derajad kemanisan jauh lebih tinggi daripada gula dari tebu atau bit biasa. Hal ini jelas menimbulkan kekhawatiran bagi masa depan pabrik-pabrik gula yang menggunakan bahan alami. Begitu juga, produksi minyak goreng canola dari tanaman rapeseeds transgenik dapat berpuluh kali lipat bila dibandingkan dengan produksi dari kelapa atau

kelapa sawit sehingga mengancam eksistensi industri minyak goreng konvensional. Di bidang peternakan, enzim yang dihasilkan oleh organisme transgenik dapat memberikan kandungan protein hewani yang lebih tinggi pada pakan ternak sehingga mengancam keberadaan pabrik-pabrik tepung ikan, tepung daging, dan tepung tulang. Aspek kesehatan 1. Potensi toksisitas bahan pangan Dengan terjadinya transfer genetik di dalam tubuh organisme transgenik akan muncul bahan kimia baru yang berpotensi menimbulkan pengaruh toksisitas pada bahan pangan. Sebagai contoh, transfer gen tertentu dari ikan ke dalam tomat, yang tidak pernah berlangsung secara alami, berpotensi

menimbulkan risiko toksisitas yang membahayakan kesehatan. Rekayasa genetika bahan pangan dikhawatirkan dapat

mengintroduksi alergen atau toksin baru yang semula tidak pernah dijumpai pada bahan pangan konvensional. Di antara kedelai transgenik, misalnya, pernah dilaporkan adanya kasus reaksi alergi yang serius. Begitu pula, pernah ditemukan kontaminan toksik dari bakteri transgenik yang digunakan untuk menghasilkan pelengkap makanan (food supplement) triptofan. Kemungkinan timbulnya risiko yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan terkait dengan akumulasi hasil metabolisme tanaman, hewan, atau

mikroorganisme yang dapat memberikan kontribusi toksin, alergen, dan bahaya genetik lainnya di dalam pangan manusia. Beberapa organisme transgenik telah ditarik dari peredaran karena terjadinya peningkatan kadar bahan toksik. Kentang Lenape (Amerika Serikat dan Kanada) dan kentang Magnum Bonum (Swedia) diketahui mempunyai kadar glikoalkaloid yang tinggi di dalam umbinya. Demikian pula, tanaman seleri transgenik (Amerika Serikat) yang resisten terhadap serangga ternyata memiliki kadar psoralen, suatu karsinogen, yang tinggi.

2.

Potensi menimbulkan penyakit/gangguan kesehatan WHO pada tahun 1996 menyatakan bahwa munculnya

berbagai jenis bahan kimia baru, baik yang terdapat di dalam organisme transgenik maupun produknya, berpotensi menimbulkan penyakit baru atau pun menjadi faktor pemicu bagi penyakit lain. Sebagai contoh, gen aad yang terdapat di dalam kapas transgenik dapat berpindah ke bakteri penyebab kencing nanah (GO), Neisseria gonorrhoeae. Akibatnya, bakteri ini menjadi kebal terhadap antibiotik streptomisin dan spektinomisin. Padahal, selama ini hanya dua macam antibiotik itulah yang dapat mematikan bakteri tersebut. Oleh karena itu, penyakit GO dikhawatirkan tidak dapat diobati lagi dengan adanya kapas transgenik. Dianjurkan pada wanita penderita GO untuk tidak memakai pembalut dari bahan kapas transgenik. Contoh lainnya adalah karet transgenik yang diketahui menghasilkan lateks dengan kadar protein tinggi sehingga apabila digunakan dalam pembuatan sarung tangan dan kondom, dapat diperoleh kualitas yang sangat baik. Namun, di Amerika Serikat pada tahun 1999 dilaporkan ada sekitar 20 juta penderita alergi akibat pemakaian sarung tangan dan kondom dari bahan karet transgenik. Selain pada manusia, organisme transgenik juga diketahui dapat menimbulkan penyakit pada hewan. A. Putzai di Inggris pada tahun 1998 melaporkan bahwa tikus percobaan yang diberi pakan kentang transgenik memperlihatkan gejala kekerdilan dan

imunodepresi. Fenomena yang serupa dijumpai pada ternak unggas di Indonesia, yang diberi pakan jagung pipil dan bungkil kedelai impor. Jagung dan bungkil kedelai tersebut diimpor dari negaranegara yang telah mengembangkan berbagai tanaman transgenik sehingga diduga kuat bahwa kedua tanaman tersebut merupakan tanaman transgenik.

Aspek lingkungan 1. Potensi erosi plasma nutfah Penggunaan tembakau transgenik telah memupus

kebanggaan Indonesia akan tembakau Deli yang telah ditanam sejak tahun 1864. Tidak hanya plasma nutfah tanaman, plasma nutfah hewan pun mengalami ancaman erosi serupa. Sebagai contoh, dikembangkannya tanaman transgenik yang mempunyai gen dengan efek pestisida, misalnya jagung Bt, ternyata dapat menyebabkan kematian larva spesies kupu-kupu raja (Danaus plexippus) sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan keseimbangan ekosistem akibat musnahnya plasma nutfah kupukupu tersebut. Hal ini terjadi karena gen resisten pestisida yang terdapat di dalam jagung Bt dapat dipindahkan kepada gulma milkweed (Asclepia curassavica) yang berada pada jarak hingga 60 m darinya. Daun gulma ini merupakan pakan bagi larva kupu-kupu raja sehingga larva kupu-kupu raja yang memakan daun gulma milkweed yang telah kemasukan gen resisten pestisida tersebut akan mengalami kematian. Dengan demikian, telah terjadi kematian organisme nontarget, yang cepat atau lambat dapat memberikan ancaman bagi eksistensi plasma nutfahnya. 2. Potensi pergeseran gen Daun tanaman tomat transgenik yang resisten terhadap serangga Lepidoptera setelah 10 tahun ternyata mempunyai akar yang dapat mematikan mikroorganisme dan organisme tanah, misalnya cacing tanah. Tanaman tomat transgenik ini dikatakan telah mengalami pergeseran gen karena semula hanya mematikan Lepidoptera tetapi kemudian dapat juga mematikan organisme lainnya. Pergeseran gen pada tanaman tomat transgenik semacam ini dapat mengakibatkan perubahan struktur dan tekstur tanah di areal pertanamannya. 3. Potensi pergeseran ekologi Organisme transgenik dapat pula mengalami pergeseran

ekologi. Organisme yang pada mulanya tidak tahan terhadap suhu tinggi, asam atau garam, serta tidak dapat memecah selulosa atau lignin, setelah direkayasa berubah menjadi tahan terhadap faktorfaktor lingkungan tersebut. Pergeseran ekologi organisme

transgenik dapat menimbulkan gangguan lingkungan yang dikenal sebagai gangguan adaptasi. Tanaman transgenik dapat menghasilkan protease inhibitor di dalam sari bunga sehingga lebah madu tidak dapat membedakan bau berbagai sari bunga. Hal ini akan mengakibatkan gangguan ekosistem lebah madu di samping juga terjadi gangguan terhadap madu yang diproduksi. 4. Potensi terbentuknya barrier species Adanya mutasi pada mikroorganisme transgenik

menyebabkan terbentuknya

barrier species

yang memiliki

kekhususan tersendiri. Salah satu akibat yang dapat ditimbulkan adalah terbentuknya superpatogenitas pada mikroorganisme. 5. Potensi mudah diserang penyakit Tanaman transgenik di alam pada umumnya mengalami kekalahan kompetisi dengan gulma liar yang memang telah lama beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan yang buruk. Hal ini mengakibatkan tanaman transgenik berpotensi mudah diserang penyakit dan lebih disukai oleh serangga. Sebagai contoh, penggunaan tanaman transgenik yang resisten terhadap herbisida akan mengakibatkan peningkatan kadar gula di dalam akar. Akibatnya, akan makin banyak cendawan dan bakteri yang datang menyerang akar tanaman tersebut. Dengan perkataan lain, terjadi peningkatan jumlah dan jenis

mikroorganisme yang menyerang tanaman transgenik tahan herbisida. Jadi, tanaman transgenik tahan herbisida justru memerlukan penggunaan pestisida yang lebih banyak, yang dengan sendirinya akan menimbulkan masalah tersendiri bagi lingkungan.

III.

KESIMPULAN Rekayasa genetika dalam arti paling luas adalah penerapan genetika

untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu. Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak berinvestasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing. Perkembangan Ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap, awal mulanya adalah dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkap material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan terwariskan itu (disebut gen ) maka itulah awal mula ilmu ini. Tentu saja, penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang adalah suatu polimer bervariasi. Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari penemuan operon laktosa pada prokariota ), perakitan teknik PCR , transformasi genetik , teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA ), dan teknik mutasi terarah (seperti Tilling).

IV.

TINJAUAN PUSTAKA

Sulilowarno, gunawan dkk.2007.Biologi.Jakarta:PT Grasindo Nasir,M.2002.Bioteknologi Potensi dan Keberhasilannya dalam Bidang Pertanian.Jakarta:Fajar Interpratama Offset Henuhili,victoria dan Suratsih.2003.Rekayasa Genetika.Yogyakarta:Jica Agorsiloku,2006,Dampak Penggunaan Rekayasa Genetika,www.google.com.online,03-12-2009c

REKAYASA GENETIKA

MAKALAH Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Yang dibimbing oleh Ibu Sitoresmi

KELOMPOK V: FESY MINTANIA WIDHAR DWI U IKE NURIVA ARISA NUR (109331417154) (109331417157) (109331417161) (109331417169)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN KIMIA Desember 2009