Anda di halaman 1dari 11

Unit Pembelajaran 2 A. 1. 2. 3. 4. 5. Learning Objective Jelaskan tahap-tahap estrus pada sistem reproduksi betina! Jelaskan tahap-tahap perkembangan embrio!

Jelaskan tahap-tahap kelahiran! Sebutkan parasit pada sistem reproduksi betina! Sebutkan patologi pada sistem reproduksi betina!

B. Pembahasan Learning Objective 1. Tahap-tahap estrus Apabila pubertas telah tercapai, estrus terjadi pada hewan betina tidak bunting menurut suatu siklus ritmik. Interval antara timbulnya satu periode estrus ke permulaan periode estrus berikutnya dikenal sebagai suatu siklus estrus. Interval-interval ini disertai oleh suatu seri perubahan fisiologic di dalam saluran kelamin betina. Siklus estrus Umumnya terbagi atas 4 fase yaitu proestrus, estrus, matestrus, dan diestrus. a. Proestrus Merupakan fase sebelum estrus yaitu periode di mana folikel de Graaf tumbuh di bawah pengaruh FSH dan menghasilkan sejumlah estradiol yang makin bertambah. Sistem reproduksi memulai persiapan untuk pelepasan ovum dari ovarium. Folikel berkembang dan terisi dengan cairan folikuler. Pada periode ini terjadi peningkatan dalam pertumbuhan sel-sel dan lapisan bersilia pada oviduct, dalam vaskularisasi mucosa uteri. Dan dalam penebalan vaskularisasi epitel vagina dan kornifikasi pada beberapa spesies (misal, anjing dan kucing). Pada anjing kenaikan vaskularisasi endometrium ditandai dengan pendarahan. Pada anjing dan babai vulva menjadi sangat oedematous dan membengkak. Cervix mengalami relaksasi gradual dan makin banyak mensekresikan mucus yang tebal dan berlendir dari sel-sel goblet pada cervix dan vagina anterior dari kelenjar uterus. Pada periode ini sekresi esterogen ke dalam urine meninggi dan mulai terjadi penurunan konsentrasi progesteron di dalam darah. Corpus luteum dari periode terdahulu mengalami vakuolisasi degenerasi dan pengecilan secara cepat. Pada akhir periode proestrus hewanbetina biasanya memperlihatkan perhatiannya pada hewan jantan. b. Estrus Merupakan periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode ini

umumnya hewan betina akan mencari dan menerima pejantan untuk berkopulasi. Folikel de Graaf membesar dan menjadi matang begitupun ovum yang yang mengalami perubahan menuju pematangan. Estradiol dari folikel de Graaf yang matang menyebabkan perubahan pada saluran reproduksi tubuler yang maksimal. Oviduct menegang, epitel matang dan cilia aktif sehingga terjadi kontraksi oviduct dan ujungnya (infundibulum) yang berfimbria merapat ke folikel de Graaf. Sekresi cairan oviduct juga bertambah. Uterus bereaksi, tegang dan pada beberapa spesies oedamatous. Suplai darah ke uterus bertambah sehingga mucosa bertambah banyak dan lendir disekresikan. Lendir cervix dan vagina bertambah. Cervix dan vulva mengendor dan oedematous. Mucosa vagina menebal dan pada beberapa spesies banyak sel-sel epitel berkornifikasi menghilang. Menjelang akhir estrus kemungkinan terjadi kenaikan jumlah leukosit yang berpindah ke dalam lumen uterus. Pada kebanyakn spesies ovulasi terjadi menjelang akhir periode estrus. c. Matestrus atau postestrus Periode sesudah estrus di mana corpus luteum tumbuh cepat dari sel-sel granulosa folikel yang sudah pecah karena pengaruh LH dari adenohypophysa. Pada periode ini sebagian besar dipengaruhi oleh hormon progesteron yang dihasilkan oleh corpus luteum. Progesteron menghambat sekresi FSH sehingga mengahmbat pembentukan folikel de Graaf dan mencegah terjadinya estrus. Selama matestrus uterus mengadakan persiapan untuk menerima dan menutrisi embrio. Pada sapi pendarahan matestrus, epitelium pada karunkula uterus sangat hiperaemis dan terjadi hemorrhagia kapiler, yang disebut sebagai pendarahan matestrus. Hal tersebut berbeda dengan menstruasi yang terjadi pada primata yang terjadi sewaktu berkurangnya progesteron sehingga lapisan superficial endometrium luruh. Tetapi pendarahan tersebut berhubungan dengan mengurangnya esterogen. Sekresi mucus menurun dan kelenjar-kelenjar pada endometrium tumbuh dengan cepat. Menjelang pertengahan sampai akhir matestrus, uterus menjadi agak lebih lunak karena pengendoran otot uterus. Apabila kebuntingan tidak terjadi, uterus dan saluran reproduksi selebihnya beregresi ke keadaan kurang aktif yang sama sebelum proestrus. d. Diestrus Merupakan periode terakhir dan terlama siklus estrus. Corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron terhadap saluran reproduksi terlighat. Endometrium menjadi lebih tebal dan kelenjar-kelenjarnya berhypertrophy. Cervix menutup dan lendir vagina berkurang dan lebih lengket. Selaput mucosa vagina pucat

dan otot uterus mengendor. Pada akhir periode ini corpus luteum memperlihatkan perubahan-perubahan retrogesif dan vacuolisasi secara gradual. Endometrium dan kelenjarnya beratrophy atau beregresi ke ukuran semula. Mulai terjadi perkembangan folikel primer dan sekunder dan akhirnya kembali ke proestrus. Namun pada beberapa spesies disebut sebagai anestrus, umumnya ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tidak berfungsi. Di negeri yang mempunyai 4 musim anestrus fisiologic dapat diobservasi pada kuda selama musim dingin dan pada domba selama musim semi dan musim panas. Selama anestrus ini uterus kecil dan mengendor, dan lendir vaginajarang dan lengket. Mucosa vagina dan cervix pucat, selain itu cervix juga tertutup rapat. Beberapa aktifitas folikuler dan pada ovarium dapat berkembang tetapi pematangan folikel dan ovulasi jarang terjadi selama periode anestrus. (Mc Donald, 1980; Toelihere, 1977) 2. Tahap-tahap perkembangan embrio (mulai dari fertilisasi) Tahap Fertilisasi a. Sperma diejakulasikan dari penis, lalu sebelum menuju ke ampula tubae uterinae, harus melewati beberapa tahap, yaitu: 1) Kanalis servikalis Selama daur haid berlangsung, mukus servikalis terlalu tebal untuk dilewati oleh sperma. Hal ini dikarenakan kadar estrogen yang rendah sedangkan kadar progesteron yang tinggi. Ketika folikel ovum matang, maka kadar estrogen akan menjadi tinggi. Hal ini mengakibatkan mukus servikalis tersebut menjadi tipis dan encer, sehingga sperma dapat melewati kanalis servikalis. 2) Uterus Kontraksi dari miometrium akan mengaduk sperma ke segala arah, yang mengakibatkan sperma tersebar ke lumen uterus. 3) Tubae uterinae Ketika sperma sampai di ampula tubae uterinae, sperma harus melawan gerakan

silia yang gerakannya berlawanan dengan gerakan sperma. Sperma bisa sampai di ampula tubae uterinae karena kadar estrogen yang tinggi, hal ini menyebabkan gerakan silia tubae uterinae yang sebelumnya berlawanan menjadi searah dengan gerakan sperma menuju ke ovum di ampula tubae uterinae. b. Sperma sampai di ampula tubae uterinae c. Ketika sperma akan bergabung dengan ovum, sperma harus menembus dinding korona radiata dan zona pelusida dari ovum. d. Kepala sperma dilapisi dengan enzim akrosom, hal inilah yang membuat sperma dapat menembus dinding korona radiata. e. Ketika sperma menembus membran plasma ovum, ovum akan melakukan serangkaian reaksi kimia yang membuat suatu lapisan pelindung di dinding ovum. Hal ini menyebabkan sperma lain tidak dapat menembus ovum lagi. (Sherwood, 2001) Tahap Implantasi a. Selama 3-4 hari setelah pembuahan, zigot tetap berada di ampula tubae uterinae dan terus melakukan pembelahan, sampai terbentuk massa bola padat yang disebut morula. b. Sementara itu, dinding endometrium akan mengeluarkan glikogen ke lumen uterus, yang nantinya glikogen ini akan digunakan sebagai cadangan makanan bagi morula. c. Ketika kadar progesteron semakin meningkat, dinding tubae uterinae akan melemas dan mengakibatkan morula terdorong menuju lumen uterus. d. Ketika morula sampai di lumen uterus, morula akan terapung bebas dan terus melakukan pembelahan. Morula pada tahap ini memperoleh energi dari glikogen yang disekresikan endometrium ke lumen uterus. e. Sementara itu endometrium mendapat pengaruh progestreon fase luteal yang mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi dan meningkatnya

f.

g.

h.

i.

j.

timbunan zat gizi di dinding endometrium. Pada saat endometrium siap di implantasikan, morula akan mengalami proliferasi dan berdiferensiasi menjadi blastokista. Blastokista melalui sel-sel trofoblastiknya akan mensekeresikan enzim-enzim proteolitik yang berguna untuk membuat lubang ke dinding endometrium. Sebagai responnya endometrium akan mensekeresikan prostaglandin. Hal ini mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi, meningkatnya timbunan zat gizi, dan menyebabkan edema. Prostaglandin juga mengakibatkan dinding endometrium mengalami modifikasi, yang disebut desidua, dimana desidua merupakan tempat tertanamnya blastokista pada akhirnya. Lapisan trofoblas akan terus mencerna sel-sel desidua di sekitarnya untuk cadangan energi dari calon janin, sampai terbentuknya plasenta. (Sherwood, 2001)

Embryogenesis Periode pertumbuhan embryo terdiri atas 5 periode : a. Periode persiapan Kedua orangtua siap untuk melakukan perkawinan atau pembiakkan. Gamet mengalami proses pematangan sehingga mampu melakukan pembuahan. b. Periode pembuahan Kedua orangtua kawin, gamet melakukan perjalanan ke temapt pembuahan, kemudian kedua jenis gamet pun melakukan pembuahan. c. Periode pertumbuhan awal Pertumbuhan sejak zigot mengalami pembelahan berulang kali sampai saat embryo memiliki bentuk primitif. Bentuk primitif adalah bentuk dan susunan tubuh embryo yang masih sederhana dan kasar. Bentuk dan susunan embryo itu umumnya terdapat pada berbagai jenis hewan vertebrata. Periode ini terdiri atas empat tingkat : - Tingkat pembelahan - Tingkat blastula - Tingkat gastrula - Tingkat tubulasi d. Periode antara

Perantaraan periode awal dan akhir. Di sini embryo mengalami transformasi bentuk dan susunan tubuh secara berangsur sehingga akhirnya mencapai bentuk definitif. Bentuk definitif adalah embryo yang sudah seperti bentuk dewasa. Bentuk dan susunan tubuh merupakan ciri setiap species hewan. Bagian-bagian tubuh embryo dari bentuk primitif mengalami diferensiasi terperinci dan lengkap. Periode antara disebut tingkat berudu, terdapat pada Avertebrata, Pisces, dan Amphibia. Pada Metatheria (Marsupialia), ketika bayi lahir lalu secara naluri merayap ke marsupium induk dan langsung melekat ke puting susu disebut dalam tingkat berudu pula. e. Periode pertumbuhan akhir Pertumbuhan penyempurnaan bentuk definitif sampai kelahiran. Pada Anura berlangsung menjelang dan setelah metamorphosis. Pada Aves beberapa hari sampai seminggu sebelum menetas. Pada Mamalia periode ini jauh lebih lama. Pada orang beberapa bulan sebelum kelahiran (Yatim, 1994) 3. Tahap-tahap kelahiran Kelahiran adalah proses lahir, yang dimulai dengan pelunakan dan dilatasi cervix bersamaan dengan kontraksi uterus, dan berakhir ketika fetus dan plasentanya dikeluarkan. Kelahiran dapat dibagi menjadi tiga stadium : a) Stadium pertama kelahiran berakhir dengan tuntasnya dilatasi cervix dan masuknya fetus ke dalam cervix. Stadium ini biasanya berlangsung dari dua atau enam jam pada sapi dan domba. Lebih lama waktu yang diperlukan pada babi dan lebih pendek pada kuda. b) Stadium kedua berakhir dengan keluarnya fetus. Pada semua spesies lebih sedikit waktu yang diperlukan untuk stadium ini daripada untuk stadium pertama, biasanya memakan waktu tidak lebih dari dua jam pada sapi dan domba. Waktu yang sama diperlukan pada babi, tetapi waktu bervariasi dengan banyaknya anak. Stadium kedua diselesaikan dalam waktu 15 sampai 20 menit pada kuda. Pada kuda pengeluaran fetus harus cepat. Membrane placenta menjadi terpisah dari uterus dan anaknya akan menjadi lemas jika lebih lama waktu yang diperlukan. c) Stadium ketiga terjadi pengeluaran placenta. Perubahan-perubahan relatif dalam konsentrasi hormone mendekati waktu kelahiran : a) Cortisol fetus dilepaskan, menghasilkan suatu konsentrasi estrogen yang tinggi (pada semua spesies) dan suatu

konsentrasi progesterone yang rendah (domba) b) Estrogen merangsang sintesis dan pelepasan PGF2 yang lebih besar dari endometrium, sehingga mengurangi sekresi progesterone pada babi, kambing, dan sapi c) Relaxin pada babi meningkat tajam, mencapai puncak kirakira 14 hari prepartum dan kemudian merosot d) Pelepasan oxytocin meningkat cenderung paralel dengan peningkatan PGF2 dan mencapai puncak selama pengeluaran fetus e) Lonjakan cortisol dan prolactin induk tidak terkait langsung dengan proses kelahiran (Anonim, 2003) 4. Parasit pada sistem reproduksi betina No Hewan Nama parasit Menyebabkan 1 Sapi Di dinding vesica urinaria dan Schistosoma matthei 2 Kambing Tritricomonas Menyerang peritoneum, menyebabkan blackleg pada fetus Penyekit kelamin Ada dalam ren Ada di ren Di vesica urinaria, di ren Di ren Peradangan oviduct pembuluh darah Menyebabkan abortus

foetus Oesophagostomum columbianum

Kuda

Tripanosoma equiperdum Klossiella equi

4 5

Babi Karnivora

Stephanurus dentatus Capillaria plica Dioctophyma renale Prossmogonimus

Unggas

5. Patologi pada sistem reproduksi betina a. Metrorrhagia atau perdarahan di dalam uterus Perdarahan ini dapat terjadi sesudah hewan melahirkan. Bila perdarahan hebat maka hewan dapat mati karena kehabisan darah. b. Tumor uterus

Pada hewan tumor-tumor uterus jarang ditemukan. Hanya sapi sesekali memperlihatkan karsinoma pada dinding uterusnya. Tumor ini terbentuk pada dinding corpus uteri atau pada cervix. c. Radang uterus Radang uterus yang ringan membentuk sedikit eksudat biasanya sulit didiagnosa. Pembagian radang uterus : 1)Endometritis : radang uterus yang dangkal. Memperlihatkan radang pada daerah mukosa dan propria mukosa (uterus tidak mempunyai submukosa). Umumnya terlihat pada sapi, anjing, dan kucing. 2)Metritis : radang meluas hingga lapisan muskularis. Sehingga perubahan-perubahan hanya terlihat hingga di daerah lebih dalam 3)Perimetritis : serosa dan subserosa mengalami perubahan. Biasanya uterus membesar, sedangkan serosanya berwarna merah yang disebabkan oleh radang 4)Parametris : yang mengalami radang bukan hanya bagian uterus saja, tetapi sekitarnya terutama alat-alat penggantungnya d. Salphingitis: inflamasi pada oviduct Makroskopik: kebengkaan pada oviduct dan lumen berisi eksudat radang Mikroskopik: infiltrasi sel radang netrofil pada lumen oviduct dan tunika submukosa e. Mastitis Radang ini sangat penting dan disebabkan oleh trauma, toksin, dan kuman-kuman (contoh : mikrokok, streptokok, Eschericia coli, Brucella abortus). Mastitis traumatic terjadi karena ambing diinjak atau ditendang oleh sapi sekandang atau karena sapi jatuh. Mastitis karena infeksi dapat terjadi melalui luka-luka. Mastitis karena toksik, misal pada endometritis, pada lubang putting susu terjadi luka sehingga kuman-kuman normal yang hidup di dalam ambing berubah sifat dan menjadikan mastitis . f. Pyometra Gangguan di dalam uterus yang tertimbun oleh nanah. Banyak terjadi pada anjing dan sapi. Kuman-kuman yang dalam keadaan hidup di dalam uterus dapat menjadi patogen dan menimbulkan endometritis atau pyometra oleh pengaruh hormonal. Salah satunya disebabkan oleh Trichomonas foetus.

(Ressang, 1984) g. Brucellosis (penyakit Bang) Disebabkan oleh suatu kuman kecil berbentuk batang dan bersifat gam-negatif, Brucella abortus yang tumbuh di dalam sel. Bakteri ini berjangkit pada sapi di seluruh dunia. Brucella abortus menyebabkan keguguran pada trimester terakhir masa kebuntingan dan diikuti oleh suatu periode infertilitas. Bakteri ini menyebabkan demam undulans . Bakteri ini ditemukan di dalam chorion placenta di mana ia menyebabkan perubahan-perubahan patologik yang parah termasuk nekrosa dan oedema. Ia juga ditemukan pada saluran pencenaan dan paru-paru foetus. h. Leptospirosis Pada sapi disebabkan oleh spirochete yang kecil dan berbentuk filament dengan kurang lebih 40 serotipe. Abortus dalam tengahan kedua masa kebuntingan dapat terjadi 1 samapai 3 minggu sesudah penghentian fase demam akut. Tidak semua sapi yang terjangkit mengalami mati. i. Campylobacteriosis Disebabkan oleh Campylobacter foetus venerealis adalah suatu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan dan ditandai dengan infertilitas dengan jumlah perkawinan yang makin tinggi untuk konsepsi. Umumnya ditemukan kematian embrio dini dan abortus pada bulan keempat sampai akhir masa kebuntingan (Mozez,T., 2006) keguguran, kadang-kadang seekor induk dapat melahirkan anak yang hidup, lemah dan beberapa hari kemudian

Daftar Pustaka Anonim. 2003. Fisiologi Reproduksi Ternak I. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta

Mc Donald, L.E. 1980. Veterinary Edocrinologyand Reproduction. Lea and Febriger: Philadelphia Mozez T. 2006. Ilmu Kebidanan Pada Ternak Sapid an Kerbau. UI Press : Jakarta Levine, N.D.1994.Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner.Yogayakarta:UGM Press.

Ressang, Abdul Aziz. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Percetakan Bali

Denpasar : N. V.

Sherwood, L., 2001, Fisiologi Manusia, Cetakan 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Toilihere, M. R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa: Bandung Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Bandung : Tarsito

UNIT PEMBELAJARAN 2

Perkawinan yang Membuahkan Hasil

Oleh: Fifi Hindhiscaningrum 09/284124/KH/06284

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA 2010